Sunday, July 25, 2021

3. Duwende

(Sumber Gambar : data:image/jpeg;base64,/9j)


Duwende merupakan makhluk seperti manusia kecil yang hidup di bawah tanah. Ada dua jenis Duwende. Pertama, Duwende Putih yang diduga jenis makhluk yang membawa keberuntungan tentang kebaikan, dan Duwende Hitam yang merupakan Duwende yang ingin bermain dengan manusia. Konon mereka sering tinggal di rumah, di pohon-pohon, tanah, gundukan atau bukit, dan di daerah pedesaan. Mereka dikenal baik dan nakal, tergantung pada bagaimana pemilik rumah memperlakukan mereka. Mereka biasanya keluar pukul 12 siang selama satu jam dan pada malam hari. 

Pada umumnya mereka hanya berinteraksi dengan manusia ketika rumah mereka terganggu. Sebagai contoh, seorang petani baik yang merawat lahannya mungkin dihargai oleh Duwende Putih dengan kelimpahan yang lebih besar tanaman dari biasanya. Namun, seseorang yang menendang sebuah sarang semut dekat rumah, mungkin Duwende Hitam akan menghukum dengan berbagai penyakit, dari bibir sumbing sampai testis membengkak. Cara terbaik untuk menghindari Duwende adalah mengatakan “tabi-tabi po” keras sebelum memasuki ruangan mereka.


2. Kapre

(Sumber Gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images)


Kapre adalah raksasa seperti genderuwo atau buto ijo dengan mata yang bersinar. Biasanya mereka ditemukan sering duduk di atas pohon menunggu malam tiba, untuk menakuti anak-anak yang berada di luar rumahnya larut malam. Kapre adalah raksasa Filipina unik karena ia tidak mencuri janin, makan orang atau memotong mereka. Kapre hanya suka menakut-nakuti anak-anak dan menertawakan mereka karena ketakutan. 

Beberapa cerita mengklaim mereka benar-benar makhluk yang sangat ramah yang dapat memberikan harapan jika Anda menemukan batu ajaib di sekitarnya. Salah satu pertanda kehadiran sosok Kapre adalah di dekatnya segala sesuatu akan bergoyang meski tidak ada angin atau Anda akan melihat asap samar-samar dari atas pohon. 


1. Aswang

Biasanya cerita tentang hantu didapatkan secara turun-temurun ke anak cucu mereka hingga sekarang dan tak menutup kemungkinan juga disaksikan secara langsung oleh orang yang melihatnya. Sejumlah makhluk mitologi menyeramkan memang sangat menarik untuk dibahas, begitu pula dengan hantu-hantu menyeramkan dan mengerikan yang populer di Filipina ini.

Meskipun tak semua orang dapat meyakini tentang adanya hantu di dunia ini, namun tak ada salahnya juga untuk memantau hantu seram yang telah sejak lama populer di negara Filipina.

Lantas seperti apa saja seramnya hantu-hantu yang bergentayangan tersebut? Berdasarkan pantauan dari Wikipedia, ada beberapa diantaranya yang akan membuat Anda merinding seketika. Mari kita simak kisah selengkapnya berikut ini.



(Sumber Gambar : https://statics.indozone.news)


Aswang merupakan makhluk mirip vampir dalam mitologi Filipina. Penjajah dari Spanyol menyebutkan bahwa Aswang adalah makhluk yang paling ditakuti oleh rakyat Filipina. Mitos Aswang dikenal di seluruh wilayah Filipina, kecuali di daerah Ilocos. 

Mitos ini sangat populer di daerah-daerah Visaya barat seperti Capiz, Iloilo dan Antique. Aswang kadang-kadang digambarkan sebagai campuran vampir dan penyihir dan hampir selalu berwujud perempuan. Mereka kadang-kadang diceritakan sebagai monster dengan sayap yang mengepak keras. 

Secara umum, mereka membentuk manusia di siang hari dan kemudian saat malam hari mereka berubah menjadi anjing, babi, kelelawar, kucing, ular, dan jenis hewan lain, tergantung pada pengetahuan regional. Mereka masuk ke rumah duka dan mencuri mayat-mayat baru. Mereka juga suka masuk rumah untuk minum darah manusia dan bisa membuat orang menjadi Aswang dan membuat manusia untuk menggigit mereka kembali. 

Menurut cerita masyarakat, Aswang yang lapar sangat suka dengan janin manusia. Bahkan banyak yang selalu menjaga atau berpatroli di depan rumah wanita hamil untuk melindunginya dari binatang liar yang berkeliaran (karena Aswang kerap kali menyamar sebagai binatang).


Thursday, July 15, 2021

Moloch di Wahana Ghost Train

(Foto Tragedi Ghost Train di Australia)


Pada sekitar bulan Juni 1979, keluarga Godson pergi rekreasi ke taman bermain bernama Luna Park. Kedua anaknya ingin sekali naik wahana Ghost Train, semacam wahana roller coaster anak yang bertema hantu. Akhirnya, ayah dan kedua anaknya mengunjungi wahana Ghost Train tersebut. Jenny, sang ibu, memutuskan untuk membeli es krim sambil menunggu suami dan anak-anaknya.

Namun, setelah ia kembali dari membeli es krim, ia melihat wahana itu mengeluarkan asap yang menandakan bahwa Ghost Train kebakaran. Suami dan kedua anak Jenny tidak selamat dalam kejadian itu. Beberapa waktu setelah kejadian, Jenny melihat foto yang diambil dari wahana Ghost Train saat insiden tragis itu berlangsung. Ia melihat sosok menyeramkan dengan wajah seperti iblis bertanduk duduk di sebelah anak kecil. Diduga sosok iblis bertanduk itu adalah Moloch, iblis jahat yang senang membakar anak kecil sebagai tumbal.


Tuesday, July 13, 2021

Hantu Korban Amuk Massa



Aku baru saja pindah kost, karena aku diterima kerja disalah satu department store terkemuka di  kota ini. Aku mencari tempat kost disekitar  tempat aku kerja agar bisa berhemat, meski sebenarnya agak mahalan dibanding tempat kost yang terletak di pinggiran tapi biaya transportasinya termasuk mahal, bila dihitung hitung kost di pinggiran ditambah ongkos bus pergi pulang malahan lebih tinggi, apalagi bila nanti aku mendapat shift malam, wah bisa tekor karena jenis angkutan menjadi lebih terbatas. Kost di tengah kota juga kurasa lebih aman apalagi bila mesti pulang malam, bukan takut hantu atau sejenisnya tapi lebih khawatir pada kejahatan saja. Kalau soal hantu mah dilawan pakai doa-doa juga bakalan kalah, kalau orang? Tentu sebagai perempuan tenagaku kalah jauh.

“Wah, baru jam segini kok sudah mandi?” Tanya  Sari teman  satu kamarku. Yah kami memang berbagi kamar agar lebih berhemat uang kost.

“Iya nih, kan mau kerja, aku mendapat jadwal shift kedua untuk seminggu ini!” Jelasku sambil  mengeringkan ujung-ujung rambut  yang basah terkena air dengan handuk.

“Oh iya.... Aku lupa, minggu kemarin kan kamu dapat shift pagi.“ Seru  Sari sambil menggaruk garuk  kepalanya yang tidak gatal.

Sari masih kuliah di sebuah universitas di kota ini, dia sudah melebihi  jatah semesterannya, tapi karena ada yang mesti dia ulang untuk memperbaiki nilai, dia terpaksa menambahnya. Jadi tidak banyak jadwal kuliah yang mesti diikuti, hanya saja dia banyak tugas dan mesti mempersiapkan skripsi.

“Nggak ada kuliah hari ini?” Tanyaku sambil duduk disudut ranjang. Kulihat Sari  tiduran di tempat tidurnya.

“Nggak ada, cuma ada tugas yang harus dikerjakan... Tapi rasanya kok malas banget, ntar malam aja deh!” Jawab dia tampak ogah ogahan.

Aku tersenyum, “Ya, terserah kamu aja.” Ucapku pendek sambil beringsut ke meja rias untuk mempersiapkan diri.

Wah enak dia itu, tidak perlu memikirkan bagaimana mencari uang, setiap bulan orang tuanya sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Tidak seperti aku, selepas lulus sekolah menengah atas aku harus berjibaku mencari peluang kerja. Orang tuaku bukan termasuk orang yang berpunya, dengan anak yang  banyak sejumlah lima orang, terpaksa kami semua hanya berhenti di SMU saja. Untuk bisa kuliah harus bisa mencari dana sendiri. Aku mengikuti jejak kak Eka, kakakku yang pertama. Dia kuliah sambil bekerja. 

Memang berat untuk membagi waktu, tapi karena tergolong anak yang cerdas kakakku itu berhasil juga. Dia bisa lulus diploma tiga sekertaris tepat waktu, sekarang dia menikmati hasil jerih payahnya. Dia sekarang bekerja di sebuah perusahaan asing yang cukup besar di kota. Kak Eka juga sanggup untuk kost sendiri tidak mesti berbagi dengan orang lain. Bahkan dia bisa membantu ibu di kampung dengan mengirim sejumlah uang secara rutin tiap bulannya.  

Rencanaku dalam setahun ini aku bekerja dulu dan uangnya ditabung buat persediaan biaya kuliah yang katanya besar, selanjutnya aku akan mencari  sekolah yang bisa selaras dengan jadwal pekerjaanku. Pokoknya kerja dan kuliah harus berjalan seiring, aku juga akan mengambil jurusan yang cepat dan mudah untuk bekal mencari kerja kelak. Mungkin aku akan ambil program diploma seperti kak Eka.

Setelah selesai merias diri, aku pamitan kepada Sari  sambil melambaikan tangan. “Aku berangkat dulu ya!” 

“Pulang jam berapa nanti?”  seru Sari dari tempat tidurnya.

“Paling sekitar jam sepuluh.” Jawabku pendek sambil menutup pintu kamar kost.

Untung  kost ku ini agak longgar, kami masing-masing mempunyai kunci pagar dan pintu utama. Aku memang memilih yang demikian. Sebagian besar penghuni kost ini karyawati swasta dan mahasiswi tingkat akhir yang sering kali harus pulang malam karena mencari bahan untuk menyelesaikan tugas, lembur atau bahkan shift malam kayak aku ini.

Kubuka gerbang besi depan, lalu aku berjalan menyusuri trotoar. Aku cukup berjalan kaki beberapa ratus meter  untuk sampai ke department store tempat aku bekerja.

“Hai, Wulan... Tunggu!” Teriak seseorang dari belakang menyebut namaku. Aku menengok ke arah suara itu, ternyata  Ani teman kerjaku  baru saja turun dari bus kota dan berjalan cepat untuk menyusulku.

“Hai...” Jawabku sambil melambaikan tangan. Aku diam  berdiri menunggu dia datang kepadaku.

“Tumben naik bus kota?” Tanyaku membuka pembicaraan. Biasanya Ani diantar suaminya bila berangkat  kerja dan pulangnya pun dijemput.

“Iya nih..... Motor mas Ari lagi rusak, sekarang masih ada di bengkel!” Jawab Ani sambil terengah engah mengatur napas. Memang sore ini masih terasa sangat panas. Maklum musim kemarau jadi meski sudah sore, sinar matahari masih terpancar dengan garangnya.

“Tapi katanya nanti malam mau jemput kok.”  Lanjutnya.” Sekarang dia lagi di bengkel  buat mengecek motornya, kata yang servis sih sudah bagus dan bisa diambil.”

“Ya... Syukurlah!” Jawabku pendek.

Kami melanjutkan jalan sambil berbincang bincang mengenai hal-hal yang ringan di seputar keseharian kita saja. Tak terasa sampai juga di pintu masuk tempat kami bekerja. Seperti rutinitas biasanya, aku langsung menuju ke divisiku di bagian busana, sedang Ani ke bagian sepatu. Lalu kami larut dengan pekerjaan kami. Saat jam pulang kerja aku bergabung dengan kerumunan karyawati lainnya di pintu keluar khusus karyawan, kami bersiap meninggalkan gedung ini. Ada yang berjalan kaki seperti aku, ada juga yang menunggu  jemputan, sebagian lagi  membawa motor sendiri. Baru berjalan beberapa jengkal, tangan seseorang  menepuk bahuku. Ternyata Ani.

“Loh, belum dijemput?” Tanyaku melihatnya sendirian saja tidak ada suaminya.

“Wah payah.... Suamiku barusan telpon dia agak terlambat  menjemputku, karena motornya dipinjam Yoga adiknya dan baru saja dikembalikan.“ Ujar Ani  bersungut sungut.

“Temenin aku dong....” Pintanya sambil menahan tanganku.

“Tapi.....” Baru aku mulai akan bicara keenggananku dia sudah memotongnya.

“Sebentar saja kok, lagian kostmu kan lumayan dekat ditengah kota.... Aman deh. Kamu juga pernah cerita kan kalau kamu ada kunci gerbang plus kunci pintunya sendiri. So... Nggak apa-apa kan?” Bujuk nya seperti memaksa, lanjutnya, “Kita tidak menunggu disini kok, kita menunggu disana  tuh!”

Kuikuti arah tangannya, ternyata tangannya menunjuk ke sebuah cafe yang baru saja dibuka. Cafe itu buka sampai tengah malam begitu yang aku dengar.

“Tenang saja, aku yang traktir!” Rayunya lagi sambil merangkulku dan setengah memaksaku mengikuti langkahnya.

“Nggak sayang tuh uangnya?” Tanyaku dengan tujuan agar dia tidak jadi mampir ke cafe. Sudah malam dan capek rasanya.

“Sesekali menyenangkan diri apa salahnya sih?” Ucapnya mempertahankan pendapatnya dengan bercanda.

Aku tersenyum lalu mengangguk, kupikir nggak ada salahnya aku sesekali menyenangkan diri, selama ini aku sangat ketat menabung untuk bekal meraih cita-cita, jadinya aku jarang bahkan tidak pernah membelanjakan uang untuk hal-hal yang sekiranya kuanggap hanya memenghambur hamburkan semacam makan minum di cafe. Mending makan di warung... Jauh lebih murah... heheheh. 

Tapi kali ini kan aku akan ditraktir Ani, jadi tidak ada salahnya mengiyakan ajakannya. Lumayan bisa makan minum gratis, Toh aku tidak perlu cemas, seperti kata Ani tadi aku kost ditengah kota, kunci pun aku bawa sendiri. Di kota ini malam hari pun masih terlihat banyak aktivitas, jalanan tetap ramai meski nggak seramai siangnya. Kostku juga tidak jauh dari jalan utama, banyak kost kostan di sekitarnya. Sering aku mendapati beberapa teman kostku pulang larut malam bahkan dini hari, mereka ok ok saja tidak masalah. Aman katanya.

Sesampai di cafe, kami sengaja mencari kursi yang berada di teras sehingga kami bisa melihat suasana jalan di depan kami duduk.

“Kita duduk disini saja, biar nanti kalau mas Ari datang menjemputku dia langsung tahu.” Kata Ani. Dia lalu mendorong kursi keluar dari kolong meja. Aku pun juga demikian. Tak lama kemudian pelayan cafe datang menghampiri meja kami, ia menyodorkan dua buku menu kepada kami.

“Tidak duduk di dalam mbak? Ada acara life music lho!” Sapa si pelayan ramah.

“Disini saja mas, mau cari angin nih... Gerah!” Tolak Ani halus, padahal sebenarnya dia duduk disini karena menunggu jemputan.

“Baiklah mbak, mau langsung pesan atau mau dibaca baca dulu?” Tanya pelayan itu lagi.

“Kami baca-baca dulu ya!” Jawab Ani.

Pelayan itu mengangguk lalu meninggalkan kami. Kuambil buku menu yang ada di hadapanku, ani juga mengambilnya. Aku membacanya dari halaman pertama sampai terakhir sekalian mengamati harga-harga yang tertera... Heheheh.... Buat pengetahuan standard harga cafe berapa.

“Kamu mau makan minum apa?” Tanya Ani sambil menutup buku menu.

“Terserah saja, aku ikut kamu!” Jawabku diplomatis, aku memang selalu mengikuti orang yang mentraktir aku, bukannya tidak mau memilih tapi aku mesti tahu diri.

“Kita pesan menu yang sama saja yach?” Ucap Ani sambil tangannya melambai ke arah pelayan.

“Pesan chocholate milkshake dua, bruchetta dua dan satu french fries.“

Pelayan itu segera mencatat pesanan Ani, kemudian ia membaca nya untuk memastikan pesanan kami itu. 

“Cafe ini baru beberapa hari buka lho.” Kata Ani setelah pelayan itu meninggalkan kami berdua.

“Tapi sudah lumayan ramai tuh!” Ucapku  sambil mataku melihat-lihat sekeliling, ada beberapa pasangan duduk di teras seperti kami, terus juga ada beberapa orang di dalam tapi aku kurang tahu pasti jumlahnya.

“Ya iyalah... Kan ini malam minggu!” Seru Ani. 

Melihat keterkejutanku Ani mulai meledek, “Makanya punya pacar biar tahu arti malam minggu.... Hahaha.”

“Yaach... Belum ada yang nembak nih..... Cariin dong!” Balasku dengan bercanda, sebenarnya aku belum begitu tertarik untuk memiliki pacar, prioritasku saat ini adalah melanjutkan kuliah dan merenda masa depan.

“Santai sajalah.... Kalau jodoh tak kan kemana. Ntar kalau sudah waktunya pasti akan datang sendiri!” Ucap Ani bijak.

Tidak begitu lama pesanan datang di meja, kamipun lalu makan minum sambil bercerita hal-hal ringan. Disela sela kami makan, handphone Ani berbunyi.

“Hallo mas.... Iya ini aku menunggu di cafe  cendawan.... Iya... Iya...!”  Lalu ia menutup HPnya.

“Sebentar lagi  mas Ari datang, tapi nggak usah terburu buru... Santai saja!” Kata dia kepadaku.

Benar saja, sesaat setelah kami selesai makan  dan membayar di kasir, mas Ari -suami Ani- datang menghampiri. Kamipun lalu keluar bersama. Sebenarnya aku ingin berjalan sendiri saja toh jalan juga masih ramai, tapi Ani bersikeras  mengantarku sampai kost. Akhirnya Aku dan Ani berjalan kaki menuju rumahku sedang mas Ari naik motor pelan-pelan mengikuti langkah kami.

“Akhirnya sampai juga!” Seruku begitu sampai pintu gerbang.

“Makasih ya sudah mau menemaniku!” Ucap Ani sambil menyodorkan tangan, aku langsung menyambut tangannya. Setelah aku berjabat tangan dengan suaminya juga, Ani kemudian naik boncengan. Lalu mereka menjalankaan motornya, kulihat Ani melambaikan tangan ke arahku, akupun membalasnya.

Kuambil  set kunci dari dalam tas, gembok yang melingkari  handle gerbang pagar besi itu aku buka, setelah aku masuk aku segera menggemboknya kembali. Aku cukup menjulurkan kedua tanganku dari balik jerujinya. Aku bermaksud  berbalik menuju pintu utama, tapi mendadak hidungku menangkap bau anyir yang teramat menusuk. Kulihat sekeliling, dari gerbang besi menuju pintu utama memang ada halaman yang cukup luas, dari luar orang tidak akan mengira ada kost-kostan disini karena sama pemiliknya memang dirancang demikian. 

Setelah pagar jeruji besi, dibiarkannya halaman luas ini membentang, katanya sih kalau ada dana mau dibuat ruko dan akan disewakan pula. Selanjutnya ada tembok pembatas yang dipasangi pintu utama untuk memasuki  ruang-ruang kost kami. Jadi  tempat kami tinggal  kami ini dikelilingi pagar tembok yang cukup tinggi. Kembali ke bau anyir itu aku mencoba mencari tahu dengan cara mengelilingi halaman ini, tapi rupanya bau itu asalnya dari balik pagar besi, tepatnya di sisi sebelah pojok kiri pagar yang berbatasan dengan gang masuk  menuju pemukiman penduduk. Aku tidak berani keluar pagar, maklum jalanan mulai sepi. Dari dalam pagar aku mencoba mengamatinya, tapi aku tidak menemukan apa-apa. Cahaya yang temaram karena lampu jalan terletak di sebelah ujung kanan sisi pagar, membuatku kesulitan untuk melihat suasana disitu. Namun sesaat kemudian mataku dikejutkan dengan bayangan seseorang  yang duduk terpuruk di sudut gang. Kudengar dia merintih kesakitan. Sepertinya dia mau meminta pertolongan. Aku tidak berani keluar siapa tahu orang itu berpura pura saja?  Aku khawatir saja, sesaat aku terdiam memikirkan apa yang harus kuperbuat, bagaimana kalau orang itu benar-benar membutuhkan pertolongan? 

“Sebentar ya, aku cari pertolongan Pak Sastro!” Seruku kepada sosok itu. Kupikir lebih baik aku melapor ke Pak Sastro penjaga kost ini, itu akan lebih aman.

Aku bermaksud berlari menuju pintu utama untuk selanjutnya meminta pertolongan Pak Sastro, tapi suara rintihan itu mendadak menghilang tergantikan suara mobil yang tepat berhenti di depan pagar. Ternyata Anita penghuni kost yang lain datang, dia menumpang mobil travel. Ini kesempatanku keluar melihat apa yang tadi barusan aku lihat. Aku segera membuka gembok dan membukanya.

“Anita, tunggu aku sebentar ya....!” Seruku sambil berlari kecil menuju ujung pagar besi dekat gang itu.  Anita seperti bingung dengan tindakanku itu, tapi kemudian ia disibukkan dengan mengambil  barang dari bagasi mobil di belakang dengan dibantu sopir travel.

Namun aku tidak menemukan apa-apa. Di ujung gang ini aku hanya melihat jalanan yang tertutupi tanah, sepertinya ada yang menabur tanah di sekelilingnya. Akupun kembali, kupikir tadi mungkin cuma halusinasiku saja karena sudah malam dan sendirian pula.

“Ada apa sih?” Tanya Anita kebingungan campur ingin tahu.

“Oh... Kupikir tadi  ada kelebat apa gitu... Ternyata cuma kucing.” Jawabku berbohong. Malu ah... Ntar dikirain aku mengada-ada.

“Huuu... Kirain apa... Bikin jantungan aja!” Ujar Anita sambil tertawa kecil. 

Setelah membantu Anita memasukkan barang-barang bawaannya dan mengunci kembali pagar besi itu, kami berdua berjalan memasuki  kamar kami masing-masing.

Esoknya aku bangun agak kesiangan, maklum semalaman aku masih kepikiran dengan yang aku alami, aku merasa yakin kalau aku mendengar dan melihat orang yang merintih kesakitan. Meski tidak bisa melihat dengan jelas tapi aku bisa menangkap sosok bayangan orang itu.

Seusai mandi, aku bergegas mau masuk kembali ke kamar untuk merapikan diri, selanjutnya aku bermaksud keluar untuk  mencari sarapan. Tapi  langkahku terhenti begitu kulihat beberapa penghuni kost asyik di ruang tamu dekat pintu utama. Kuhampiri mereka.

“Ada apa sih... Serius amat? Ada gosip baru ya?” Tanyaku sambil ikut bergabung sebentar. Siapa tahu ada yang belum beli sarapan kan bisa berangkat sama-sama. 

“Ini mah bukan gosip... Tapi realita non... Realita!” Ucap Yuli salah satu dari mereka.

“Wowww.... Apaan tuh?” Aku penasaran, mereka pasti ngerumpi membicarakan salah satu anak kost, tapi ternyata perkiraanku salah.

“Kemarin petang ada orang mampus di depan kost kita. Dihajar masa  karena kedapatan mencopet . “  kata Lila berapi rapi.

“Benar, katanya saat polisi datang orang itu sudah jadi bulan bulanan massa.”  Tambah Yuli tak kalah sengit.

“Mampus tuh orang... Dasar pencopet!”  Teriak teman yang lain.

“Aku cuma melihat ceceran darah di dekat pagar, tapi kemudian orang-orang menaburkan tanah di atasnya.” Sela Fifi sambil  mendekap badannya sendiri, raut mukanya memancarkan kengerian.

Aku terdiam mendengar penjelasan teman temanku, jantungku pun seakan berhenti berdetak. Aku bergidik mengingat kejadian tadi malam. Jadi yang aku lihat semalam :  hantu korban amuk massa. Hiiii... Tiba-tiba aku merasa dingin dan gemetaran.


Thursday, July 1, 2021

Keranda Mayat Berjalan Sendiri

(Gambar hanya Ilustrasi, bukan tempat kejadian sebenarnya)


Kisah ini aku alami sepuluh tahun yang lalu, ketika aku sedang menjaga ibuku yang sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit Umum di Magelang. Ketika tengah malam tiba, aku sudah mulai merasa kelelahan dan tidak bisa tidur. Kemudian aku duduk-duduk di pinggir koridor rumah sakit sambil menyelonjorkan kaki. Ketika itulah aku mengalami hal aneh yang tidak pernah akan terlupakan, aku melihat sebuah keranda mayat yang berjalan sendiri di koridor itu. 

Berikut ini kisahnya.

Waktu itu, aku sedang menjaga ibuku yang dirawat di rumah sakit karena sakit liver. Saat tengah malam aku tidak bisa tidur, aku keluar kamar dan ke koridor utama Rumah Sakit Umum itu untuk menghirup udara segar. Karena tengah malam, suasana koridor sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat duduk-duduk di samping koridor. Lalu aku juga duduk di samping koridor utama itu.

Sambil duduk aku membaca buku cerita ko ping ho yang sengaja aku bawa untuk menemaniku di kala aku sendiri. Sesekali aku menoleh kiri kanan untuk sekedar melihat suasana, lalu meneruskan membaca cerita. Karena di koridor utama, sesekali aku melihat para perawat maupun dokter melintasi di depanku.

Satu jilid buku cerita ko ping ho telah kubaca habis. Beberapa saat kemudian, rasa kantuk mulai menghinggapiku. Kulihat jam tangan butut kesayanganku menunjukkan waktu 02.20 dini hari. Mataku sudah perih, sudah tak kuat melanjutkan untuk membaca sambungan cerita ko ping ho pada jilid berikutnya. Berkali-kali sudah aku menguap. Ingin rasanya aku merebahkan badan ini, tapi tak mungkin aku lakukan di koridor itu.

Karena kelelahan duduk menekuk kaki, tak sengaja aku menyelonjorkan kaki. Aku tak menyadari kalau kakiku akan menghalangi atau paling tidak mengganggu orang yang melintasi. Tiba-tiba aku melihat ada keranda mayat berjalan ke arahku. Aku tak memperdulikannya karena hal itu biasa terjadi di rumah sakit. Keranda mayat itupun melintasi di depanku. Aku cuek saja.

Setelah beberapa saat baru aku menyadari ada sesuatu yang aneh. 

“Mestinya kakiku yang terselonjor akan menghalangi jalannya keranda itu, dan orang yang mendorong keranda pasti menegurku,” kataku dalam hati. 

“Tapi kenapa keranda itu berjalan tanpa terganggu atau terhalangi kakiku?” tanyaku pada dirku sendiri.

Ya. Aku ingat, keranda mayat itu melintasi di depanku dan melindas kakiku tapi aku tidak merasakan terlindas apa-apa, dan keranda mayat itu berjalan sendiri tanpa ada orang yang mendorongnya. Mulai muncul rasa takutku, aku sedkit merinding sampai berdiri bulu kudukku. 

Lalu aku bediri dan berjalan mendekati dua orang yang juga duduk di pinggir koridor yang tak jauh diriku, lalu aku bertanya kepada mereka, 

“Maaf Pak, barusan melihat ada keranda mayat yang lewat di sini kan?”

“Nggak ada Mas, dari tadi yang lewat di sini cuma ada beberapa perawat saja, saya lihat dari tadi mas asyik baca buku sendirian di situ, kok tiba-tiba tanya keranda mayat. Memangnya ada apa Mas?” Orang yang terlihat lebih tua menjawab sambil bertanya kepadaku.

Sejenak aku bingung, “Kok mereka tidak melihat ada keranda mayat yang barusan lewat, aneh.” kataku dalam hati. 

Aku dikagetkan dengan pertanyaan orang yang lebih muda, ”Ada apa Mas, kok kelihatannya seperti orang kebingungan?” 

Akupun segera menjawab, “Nggak, nggak apa-apa, bener bapak tidak melihat keranda mayat tadi?” tanyaku kembali kepada mereka. 

“Bener Mas, saya tidak melihat, memangnya kenapa?” tanya orang yang lebih tua.

“Tadi saya melihat ada keranda mayat lewat di depan saya, kan kaki saya selonjor ke depan, mestinya kan kaki saya menghalangi rodanya, tapi keranda itu melintasi seperti tanpa terhalang apa-apa, dan kaki saya juga tidak merasa terlindas roda keranda itu. Dan lagi, keranda itu berjalan sendiri, tdak ada orang yang mendorong Pak,” kataku menjelaskan.

“Waduh, pasti hantu itu,” kata orang yang lebih muda sambil merapat ke orang yang lebih tua. 

“Ya sudahlah, nggak usah dipikir Mas, namanya juga di rumah sakit. Ada hantu di rumah sakit sudah jadi rahasia umum Mas, sudah biasa,” kata orang yang lebih tua.

“Ah, biasa bagaimana, aku nanti pagi pulang, nggak mau nginep di rumah sakit lagi, takut,” kata orang yang lebih muda. 

“Kamu ini kenapa takut, mas ini yang melihat saja tidak takut, kenapa kamu yang tidak melihat malah takut? Ya nggak Mas?” kata orang yang lebih tua.

“Ya sebenarnya agak merinding juga sih, tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga harus menjaga ibu.” jawabku.

Wednesday, June 16, 2021

Bertemu Hantu di Siang Bolong

(Gambar Hanya Ilustrasi)


Kisah nyata berikut ini benar-benar dialami oleh kakak sulungku, Romi. Kakakku adalah lulusan Fakultas Seni Rupa. Sudah lama dia tidak pulang ke kampung di Bantul. Sejak lulus kuliah dan diterima bekerja di sebuah perusahaan garmen terkemuka di Bandung, dia jarang pulang. Hal ini bisa dimaklumi mengingat posisinya sebagai seorang manajer desain yang super sibuk sehingga membuatnya kesulitan mencari waktu luang untuk berlibur.

Suatu hari kak Romi mendapat cuti dari kantornya. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mudik ke kampung halamannya di Bantul. Kak Romi yang pernah menyandang gelar juara melukis ketika dirinya masih duduk di bangku SMA itu pulang dengan mengendarai mobil inventaris kantornya. Saat tiba di Bantul, mobilnya melintas di depan rumah Pak Pardi, mantan guru dan Kepala SMA-nya dulu. 

Kebetulan tanpa sengaja, mantan gurunya itu sedang ada di halaman depan rumahnya. Kak Romi segera memperlambat laju kendaraannya, kemudian membuka kaca jendela mobilnya. Mereka lalu saling bertatap muka, dan terlihat senyum ramah dari bibir sang mantan guru. Kak Romi lalu menghentikan sejenak kendaraannya.

“Assalamu’alaikum… Apa kabar Pak?” sapa kak Romi dari dalam mobilnya.

“Wa’alaikum salam… kabar baik Rom. Mampir dulu, Bapak sudah kangen sama kamu,” jawabnya spontan.

“Maaf Pak, Saya mau main ke rumah saudara dan teman dulu, nanti pulangnya pasti mampir ke sini. Mari pak, saya permisi dulu…” kata kak Romi ramah, sambil kembali menginjak pedas gas mobilnya.

Kemudian kak Romi berkunjung ke beberapa rumah saudara dan sahabat lamanya. Usai bersilaturahmi, lalu kak Romi bermaksud memenuhi janjinya untuk berkunjung ke rumah Pak Pardi, mantan kepala SMA-nya itu. Setibanya di sana, tampak pria gendut berusia setengah abad lebih yang rambutnya sudah hampir semuanya beruban itu masih terlihat berdiri di bawah pohon mangga, di tengah halaman rumahnya, sambil matanya menatap kosong ke arah jalan.

Kak Romi segera memarkir mobilnya persis di depan pagar rumah pak Pardi. Tampak mantan gurunya itu terlihat sumringah melihat kedatangan kak Romi. Lelaki tua itu segera datang menghampiri kak Romi dengan jalan sedikit tertatih-tatih.

“Alhamdulillah akhirnya kamu mau mampir juga ke rumah Bapak ya Rom,” sambut Pak Pardi sambil menjulurkan tangannya mengajak kak Romi bersalaman.

Betapa terkejutnya kak Romi ketika tangannya menyentuh tangan pria tua itu. Tiba-tiba tangannya terasa dingin sekali, seperti terkena gumpalan batu es. Sampai-sampai badan kak Romi sedikit menggigil seperti orang demam. Anehnya lagi, tercium aroma tidak sedap yang bersumber dari badan mantan gurunya itu. Rasanya seperti bau bangkai tikus yang sangat menyengat. Terpaksa dia sedikit menahan nafas demi menjaga perasaan Pak Pardi.

“Maaf Pak, rumah ini kok sepi sekali. Keluarga Bapak ada dimana?” tanya kak Romi.

“Keluarga Bapak tidak ada di sini Rom, mereka ada kesibukan masing-masing. Bapak sendiri saja di rumah. Oh… ya, Bapak masih menyimpan lukisan yang dulu pernah kamu berikan. Lukisannya masih tersimpan di dalam. Ayo kita masuk ke rumah Rom,” jawab lelaki tua itu.

Mantan guru SMA itu berjalan mendahului kak Romi dengan badan sedikit membungkuk dan kaki kanan seperti agak pincang, sehingga jalannya terlihat miring tertatih-tatih. Anehnya, pria tua itu berbelok arah ke samping rumah, tidak masuk melalui pintu depan. Kak Romi segera mengikutinya sambil tangannya memegang hidungnya untuk menahan rasa bau yang sangat menusuk hidung.

Mereka lalu masuk lewat pintu samping yang tidak dikunci. Pria itu menunjukkan sebuah lukisan yang terpasang di dinding ruang tengah, hasil karya kak Romi yang pernah diberikannya sebagai kenang-kenangan kelulusan sekolah dulu. Ada juga beberapa foto keluarga dan berbagai patung yang menghiasi ruangan itu.

Pak Pardi mempersilahkan kak Romi untuk duduk, kemudian dia pergi begitu saja ke lantai atas. Beberapa saat lamanya kak Romi dibiarkan sendiri diruangan itu sendirian. Suasana terasa agak aneh, sepi dan semilir angin yang masuk terasa dingin sekali. Bau busuk masih menyengat hidung. Sambil menunggu pak Pardi, kak Romi hanya berdiri sambil memandang beberapa lukisan dan foto yang ada di dinding rumah tersebut.

Sudah setengah jam berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kalau pak Pardi akan turun ke bawah. Kak Romi mulai gelisah dan perasaan tidak enak mulai menghantui perasaannya, tapi dia berusaha menepisnya dengan berpikiran positif. Pertahanan kak Romi akhirnya mulai goyah, karena penghuni rumah itu lama tak muncul juga. Lalu kak Romi mengambil inisiatif mencoba memberanikan diri memanggil pak Pardi.

“Pak Pardiiiii! Pak Pardiiii! Maaf, Pak, saya tidak bisa lama-lama di sini, saya mau pulang,” teriak kak Romi sambil menatap ke arah lantai atas.

Beberapa kali kak Romi berteriak cukup keras, namun usahanya sia-sia belaka, tidak ada jawaban sama sekali dari lantai atas. Tentu saja hal ini membuat dia bertambah bingung. Akhirnya kak Romi memutuskan untuk pulang saja.

Keanehan kembali terjadi, ketika kak Romi bermaksud melangkahkan kakinya keluar rumah, tiba-tiba badannya seperti ditiup angin sehingga bulu kuduknya berdiri. Badannya mendadak tidak bisa digerakkan, seolah-olah kaku. Dalam kondisi tidak berdaya tersebut, dia teringat nasihat almarhum ayahnya agar selalu berzikir dan membaca ayat suci Al-Qur’an dimanapun dia berada, terutama jika tertimpa masalah.

Kak Romi mulai membaca dalam hati beberapa ayat suci Al-Qur’an yang dihafalnya. Ajaibnya, tiba-tiba badannya terasa enteng dan dia mulai bisa bergerak normal seperti biasa. Cepat-cepat dia keluar rumah itu menuju mobilnya, lalu tancap gas kembali ke Bandung.

Sejak kejadian ganjil tersebut, pikiran kak Romi selalu teringat kepada Pak Pardi. Dia tidak habis pikir, mengapa mantan gurunya itu tidak muncul juga saat itu. Dia bingung dan masih bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan sebenarnya yang terjadi?

Sebulan kemudian kak Romi berkesempatan kembali ke Bantul. Kali ini dia coba berkunjung ke salah seorang mantan guru kimia waktu di SMA dulu yaitu Pak Karno. Di sana dia menceritakan kejadian yang dialaminya tersebut dan menanyakan mengapa mantan kepala SMA-nya itu berperilaku seperti itu. Tentu saja mantan guru kimianya itu terperanjat. Kemudian Pak Karno menjelaskan kepada kak Romi kalau Pak Pardi sesungguhnya sudah lama meninggal dunia, sekitar 3 tahun yang lalu karena penyakit liver. Beberapa tahun pak Pardi menderita akibat penyakitnya tersebut sampai akhirnya meninggal dunia.

Badan kak Romi kembali menggigil mengingat kejadian sebulan yang lalu, ketika dirinya mampir ke rumah Pak Pardi. Kini dia baru menyadari kalau lelaki yang berbau busuk yang ditemuinya di rumah mantan kepala sekolahnya tersebut ternyata hantu.

Sepulang dari rumah mantan guru kimianya itu, kak Romi menyempatkan diri berziarah ke makam Pak Pardi untuk mendoakan, agar arwahnya diterima dengan baik di sisi Allah SWT.


La Planchada