Sunday, November 14, 2021

Pengalaman Menyeramkan di Gunung Merapi



Cerita Serem kali ini akan menceritakan sebuah pengalaman serem mengunjungi pasar setan di gunung Merapi. Cerita serem ini datang dari seseorang dan memang cerita ini sungguh lumayan serem, unik dan mengagumkan. Misteri Gunung Merapi, mengingatkan kita pada yang ditayangkan sebuah stasiun TV swasta. Kisahnya dilatarbelakangi oleh keangkeran Gunung Merapi yang dihuni oleh Mak Lampir, tokoh jahat yang setengah manusia dan setengah jin. 

Ternyata, banyak orang yang tidak tahu bahwa kisah tersebut bukanlah fisik belaka, tapi memang diambil dari cerita atau mitos yang dipercayai oleh masyarakat sekitarnya. Perbedaannya hanya pada tokoh dan alur ceritanya. Seperti dikatakan Mbah Marijan, kuncen Merapi, “Sesungguhnya Gunung Merapi adalah sebuah kerajaan para makhluk halus. Namun, tidak sembarang orang yang dapat melihatnya, hanya mereka yang memiliki kelebihan atau sang penguasa alam gaib itu yang sengaja menampakkan keberadaannya.”

Si Mbah juga mengatakan, selain terdapat sebuah kerajaan gaib, keangkeran lainnya adalah pasar dedemit yang bernama Pasar Bubrah. Tempat ini merupakan pasarnya para makhluk halus, yang dapat dilihat pada setiap malam Jum’at. Pada saat itu, jangan heran bila akan terdengar keramaian layaknya sebuah pasar malam di puncak gunung ini.

Awalnya Misteri dan dua orang teman tidak begitu yakin tentang semua yang dikatakan oleh Mbah Marijan. Tapi, ketika kami bertiga mendapat izin dari Mbah Marijan untuk mendaki puncak Garuda, kami pun merasakan dan mengakui kebenaran kisah itu yang membuat kami gemetar ketakutan.

Kebenaran kisah itu terbukti saat kami melakukan pendakian melalui jalur kaliurang yang terdapat di Desa Kinahrejo, dengan ditemani Mas Budi, anak angkat Mbah Marijan. Medan berbatu yang terjal dan juga sangat rapuh harus dilalui sehari penuh. Rasa penat bertambah lagi ketika harus melintasi kawah mati, karena uap belerang membuat napas semakin sesak.  Sesampai di Pasar Bubrah, kami sepakat berkemah dan bermalam di sana, untuk merasakan keanehan yang kerap dibicarakan orang itu. Bukannya sombong, tapi sekedar membuktikan bahwa semua itu adalah sebuah kebenaran dan bukan mitos. Selain itu, tempat ini merupakan lokasi ideal berkemah karena letaknya sudah mendekati puncak. 

Tak lama, ketika mata kami mulai terpejam karena rasa penat setelah seharian berjalan, kisah pasar setan yang diceritakan oleh Mbah Marijan menunjukkan kebenaran. Suara-suara gamelan dan gending Jawa mulai mengalun di telinga kami, keramaian sebuah pasar pun menyusul. Bersamaan dengan itu deru angin semakin besar dan menambah gaduh suasana. 

Seperti terhenyak dari mimpi buruk, kami langsung terjaga dengan wajah pucat dan keringat dingin. Tanpa sepatah kata, mata kami saling memandang dan berusaha menjawab pertanyaan yang ada dalam hati masing-masing. Sebuah pertanyaan yang baru akan terjawab bila mentari telah menampakkan dirinya.

Dalam keadaan demikian, teringatlah semua dosa yang pernah dilakukan. Doa dan harapan kepada Tuhan terus terucap dari bibir kami dengan terpatah-patah. “Semoga Allah masih mengizinkan untuk menebus kesalahanku. Dan tidak membiarkan para dedemit itu membawa kami ke alam gaib. 

Dari ketinggian 2919 Dpl, keramaian pasar setan itu terus berlangsung hingga larut malam. Rasa penat yang tak tertahankan akhirnya membuat kami terlelap saat hari menjelang pagi. Saat sinar mentari membangunkan kami, rasa syukur pun spontan keluar dari mulut kami. Mesti sempat terlintas tidak melanjutkan pendakian, tetapi akhirnya pada pukul 08.00 WIB. Kami melanjutkan pendakian menuju puncak Garuda. Karena untuk mencapai puncak tinggi membutuhkan waktu sekitar satu jam. 

Suasana puncak Garuda memang sangat mengerikan, apalagi bila teringat pada tragedi 1994 lalu, yang letusannya mengakibatkan 66 jiwa melayang. Dan pada awal 2001, material letusan melambung ke angkasa sejauh 4 Km dan menyebabkan hujan petir serem banget. Coba bayangkan bila gunung itu kembali meletus, harus ke mana kami melarikan diri? Sehingga wajar saja, rasa takut terus menghantui kami. Belum lagi ketika salah seorang teman, sempat melihat bangunan candi tua yang berada di sebelah timur puncak Garuda. Hal itu jelas menimbulkan ketakutan yang luar biasa waktu itu. Terlebih mengingat kejadian semalam yang baru kami alami. 

Kemudian kami pun langsung turun meninggalkan puncak serta pemandangan alam yang belum puas kami nikmati karena kejadian serem itu. Perjalanan turun membutuhkan konsentrasi yang tinggi, karena kondisi medan hingga 90 derajat. Kalau terpeleset, kami dapat kehilangan nyawa atau lebih bila beruntung mungkin hanya patah tulang serta memar. 

Setibanya di pasar Bubrah, kami menyempatkan diri beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah sambil memandangi lautan awan yang mengelilingi puncak Merbabu dan Puncak gunung Sindoro Sumbing di Wonosobo. Pemandangan dan udara yang sejuk itu membuat mata ini akhirnya terpejam. Baru pada pukul 13.00 WIB, kami terbangun oleh teriakan Mas Budi. Dengan wajah seputih kertas, ia lalu mengajak kami untuk segera turun.

Dalam perjalanan turun, Mas Budi terus berada di depan. Tanpa bicara ia melaju dengan cepat seperti dikejar–kejar setan. Melihat keanehan itu, tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak kami. Apalagi, ketika ditegur ia seolah–olah tidak peduli dan terus menerus mengayukan kakinya, bahkan semakin cepat. Begitu hampir tiba di Desa Kinahrejo, ia mulai memperlambat langkahnya. Tapi, tetap saja ia tidak menceritakan apa yang telah terjadi.

“Nanti kalau sudah sampai di rumah Simbah aku ceritakan!” jawabnya, singkat. Sesampainya di Desa Kinahrejo, terlihat Mbah Marijan sudah berdiri di depan halaman rumahnya seakan memang sengaja menyambut kehadiran kami. Dengan ramah ia tersenyum dan mempersilakan kami masuk untuk beristirahat. Tak lama tanpa basa–basi lagi kami langsung mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi, kepada Mas Budi.

“Saat tidur, saya mendapatkan pesan dari Simbah untuk segera meninggalkan tempat itu. Karena akan ada penumbalan oleh penguasa Merapi. Dan korbanya akan dijadikan pengikutnya,” ucapnya. Menurutnya, hal semacam itu memang sering terjadi. Korbanya pun tak pandang bulu, bila sang penguasa menyukainya maka dia akan dijadikan sasaran. Biasanya sang penguasa memilih orang–orang yang memang kurang baik dari segi moral, agama, atau telah berbuat sesuatu yang membuatnya murka. Keesokan harinya, terdengar kabar dari si Mbah bahwa Merapi kembali menelan korban jiwa. Kali ini, korbannya berasal dari kewarganegaraan asing, yaitu asal Jerman. Pendaki itu tewas ketika hendak melakukan penelitian aktivitas Merapi bersama beberapa rekannya. Kejadian itu berlangsung tak lama setelah kami turun, dan ternyata masih ada kaitannya dengan semua yang telah kami alami.

Setelah mengalami dan menyaksikan sendiri keberadaan kerajaan gaib dan pasar setan di puncak Merapi, baru kami percaya bahwa sesuatu yang gaib itu memang ada. Dan harus diakui kalau gunung Merapi memanglah bukan sembarang gunung. Bahkan, kepercayaan itu diperkuat lagi dengan adanya upacara ritual Labuhan yang diadakan oleh pihak keraton dan penguasa Merapi, karena telah membantu melindungi dari malapetaka.

Berdasarkan cerita rakyat, asal muasal upacara ritual ini berawal dari zaman Sultan Agung. Ketika itu, kerajaan tengah tertimpa sebuah malapetaka yang membuat Negara kacau balau. Sultan Agung melakukan semedi dan meminta bantuan pada penguasa alam halus yang merupakan penjelmaan dari Nawang Wulan, seorang bidadari cantik yang diturunkan dari kayangan atau dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai Nyi Roro kidul, penguasa laut selatan.

Kemudian, sang ratu memberikan bantuan dengan mengirimkan ribuan anak buahnya untuk menyelesaikan malapetaka itu. Tapi bantuan itu bukan tanpa syarat, sang sultan beserta seluruh keturunannya harus bersedia menjadi suami dan memberikan persembahan yang kemudian dikenal dengan nama labuhan. 

Hingga saat ini, pada masa kesultanan Hamengkubuono X, perjanjian itu masih berlaku dan akan terus berlanjut pada keturunan Sultan Agung yang berikutnya.

Konon, bila perjanjian itu dilanggar, maka akan mengakibatkan kehancuran kesultanan Yogyakarta. “Jika perjanjian dilanggar, akan terjadi malapetaka seperti yang terjadi pada masa Sultan Agung,” demikian penurutan Mbah Marijan yang telah menjadi juru kunci Merapi selama 30 tahun. 

Sementara itu, selain kerajaan para dedemit dan pasar setan, di desa Kinahrejo juga banyak terdapat tempat–tempat yang kental bernuansa gaib. Seperti watu gajah, merupakan sebuah batu besar yang dipercaya dapat menahan aliran lahar bila gunung Merapi meletus. Batu ini dilingkari oleh pagar tembok, dan memiliki satu buah pintu masuk. Di dalamnya terdapat tempat persembahan yang biasanya dilakukan pada malam Jum’at Kliwon. 

Tak jauh dari sini, ada sebuah pohon beringin satu-satunya yang ada di desa, sehingga disakralkan oleh warga sebagai tempat keramat. Menurut penuturan Mbah Marijan, tempat ini dulunya merupakan tempat bersemedi seorang petapa sakti.

Friday, October 15, 2021

Pengalaman Bertemu Hantu



Pengalamanku melihat hantu pertama kali, aku alami ketika aku masih balita. Ketika masih kecil aku sering menginap di rumah kakekku di desa. Rumah kakekku terbuat dari gedhek (ayaman bambu) dan papan. Belum ada listrik di desa, penerangan menggunakan lampu teplok (lampu tempel) minyak tanah. Jika akan bepergian keluar rumah, kakek menggunakan obor untuk menerangi jalan. Obor ini dibuat dari bambu yang diisi minyak tanah, kemudian disumbat dan diberi sumbu dari kain. Suasana di desa sangat sepi, masih banyak pohon-pohon besar, dan rumpun-rumpun bambu di sekeliling desa. 

Waktu kecil aku agak bandel dan sering rewel. Kalau sedang rewel aku susah sekali dikendalikan. Suatu malam aku rewel, lalu kakek membawaku ke luar rumah menuju halaman yang luas dan gelap. Suasana desa sepi, di kejauhan terdengan banyak suara binatang, entah suara binatang apa aku juga tidak tahu. 

Kakek menakut-nakuti aku dengan mengatakan,

“Tuh... dengar ada suara rijal!!!” kata kakek.

“Apa itu rijal?” tanyaku dengan takut dan penasaran.

Kemudian kami diam, Kakek menunjuk pada suara binatang yang terdengar nyaring: “Ngreekkk… ngreekkkk…ngreekkk…” suaranya riuh sekali.

“Rijal itu setan yang suka sama anak yang rewel terus,” jelas kakek. Aku merasa takut dan lama-lama menjadi tenang. Setelah aku tenang aku dibawa kembali masuk rumah. Sejak itu kalau aku rewel, kakek selalu menakuti aku dengan rijal.

Waktu aku kecil aku bukan anak yang penakut, tapi juga bukan anak yang sangat pemberani. Wajar-wajar saja. Aku berani berangkat mengaji ke rumah bu Nyai lewat gang sempit dan gelap. Gang itu lebarnya cuma 1,5 m, di salah satu sisanya tembok setinggi 3 meter dan di sisi lainnya tanaman teh-tehan (tanaman yang biasa digunakan untuk pagar) dengan tinggi 2 meter. Hanya ada satu lampu kecil 5 watt di ujung gang sempit itu. Aku juga sering main petak umpet atau patangan (semacam permainan perang-perangan dengan sasaran kaki atau kepala lawan untuk dipegang dengan tangan). Ketika bermain dengan teman-teman selepas mengaji aku sering sembunyi di tempat-tempat gelap dan sepi. Sejauh ini aku belum pernah ketemu hantu. Memang kadang-kadang ada yang menakut-nakuti kami, terutama ketika lewat di tempat-tempat gelap dan katanya angker, lalu ada yang teriak,

“Seeeetaaaaaan…!!!!!!!” Dan kami pun lari tunggang langgang. Meskipun begitu tak pernah sekalipun kami benar-benar bertemu dan melihat setan.

Ketika menjelang SMP aku berjualan rokok di warung gerobak kecil di pinggir jalan. Waktu itu jalanan masih sepi dan hanya ada warungku saja. Aku berjualan sendirian. Karena masih sekolah aku biasa menjaga warung selepas Maghrib sampai jam 9 malam. Menjelang jam 9 malam aku sudah dijemput untuk pulang. Ada dua jalan pulang menuju rumah yang jaraknya tidak lebih dari 150 meter. Alternatif pertama lewat jalan raya, jalannya lebih terang dan ramai. Alternatif ke dua, lewat jalan setapak menurun di pinggir kali. Kemudian lewat dam (semacam bendungan kecil) Kali Bening yang letaknya tepat di belakang rumahku, lalu naik lewat tangga menuju rumah. Jalan ini gelap dan banyak pohon-pohon dan tanaman perdu lainnya. Jalan setapak ini lebih dekat daripada jalan alternatif pertama. Ada pohon waru cukup besar di dekat dam dan di bawahnya ada bilik kecil tempat orang buang hajat.Sebenarnya aku takut lewat jalan itu, karena gelap dan takut bertemu setan. Kata penduduk kampung, dam Kali Bening itu angker sekali. 

Suatu ketika aku capek sekali dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Jalan paling cepat untuk sampai rumah adalah lewat jalan setapak itu. Aku nekat ingin lewat jalan itu. Penjemputku mengatakan, “Nggak takut??? Coba kalau berani akan aku beri hadiah,” katanya menantangku. 

Aku merasa tertantang dan nekat lewat jalan itu. Aku berjalan pelan-pelan, ketika akan lewat dam aku mulai gelisah. Dari kejauhan aku lihat ada orang yang sedang jongkok di pinggir dam sambil merokok. Biasanya kalau sudah malam orang akan buang hajat langsung ke kali dan tidak di dalam bilik.

“Asyik… ada teman,” pikirku. 

Ketika aku semakin dekat, bulu kudukku mulai merinding. Orang itu agak aneh, kok besar sekali. Rasanya tidak ada orang yang sebesar itu di kampungku. Rokoknya besar juga, terlihat dari bara dan bayangan asapnya yang mengepul tebal. Aku tetap memberanikan diri untuk terus berjalan. Ketika jarakku semakin dekat aku tetap tidak bisa mengenali orang itu, padahal aku hampir kenal semua orang di kampung ini. Orang itu berjongkok di bawah bayangan pohon waru. Suasananya gelap, jadi hanya terlihat siluetnya saja. Aku agak ragu-ragu apakah itu orang atau bayangan tumbuhan yang memang banyak tumbuh di sekitar dam. Rasa takutku menjadi memuncak, tanpa pikir panjang aku berbalik arah dan lari kembali ke warung menuju jalan besar. Penjemputku heran dan geli melihat aku lari ketakutan. Dia tertawa terbahak-bahak.

Tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi pengalaman dengan hantu sampai aku dewasa. Sampai ketika aku KKN di Pagentan, Banjarnegara, Jawa Tengah. Waktu itu aku menginap di rumah pak Camat. Pak Camat menyukai hal-hal yang berbau klenik dan mistis. Pak Camat dengan bersemangat menceritakan hal-hal mistis, pengalaman-pengalaman gaibnya, termasuk pusaka-pusaka yang dia miliki. Dia menunjukkan padaku salah satu pusakanya yang berbentuk keris. Kata pak Camat, keris itu ada isinya.

Pak Camat membuka keris itu dengan cara ritual khusus. Pertama dia tempelkan gagang keris ke keningnya sambil membaca mantera. Lalu dengan perlahan dan hati-hati keris mulai ditarik dari sarungnya dengan penuh hormat dan khidmat. Sekali lagi ujung keris diletakkan ke kening. Lalu sarung keris itu diletakkan di atas meja kaca. Selanjutnya dia menaruh ujung keris di sisi sarungnya. Tegak lurus ke atas. Setelah membenarkan posisi dan menstabilkannya, keris itu mulai dilepas perlahan-lahan. Aneh bin ajaib, keris itu bisa berdiri tegak dengan ujung runcing menempel di atas meja kaca. Aku takjub sekali. Dengan rasa penasaran aku lihat, kalau-kalau ada rekayasa. Dan ternyata memang nyata, tidak ada rekayasa sama sekali. “Ini salah satu tanda kalau keris ada ‘isinya’,” kata pak Camat menjelaskan. Isinya adalah jin yang bisa memberi kesaktian pada keris itu. Dengan wajah yang masih keheranan aku manggut-manggut saja. Sampai di sini aku belum pernah ketemu dengan hantu-hantu menakutkan seperti yang ditampilkan di layar kaca.

Pengalaman lainnya adalah ketika di awal-awal pernikahanku. Aku tinggal di Bogor dan mengontrak sebuah rumah kecil dengan satu kamar tidur. Aku tinggal di rumah paling ujung, paling belakang dan paling kecil. Dulu tanah tempat rumah ini adalah kolam ikan, yang kemudian ditutup dan dibangun rumah di atasnya. Di sebelah kanan rumah masih disisakan sepetak kecil kolam berukuran 1,5 x 2 m yang masih ada ikannya. Persis di emperan rumah kami masih disisakan sebuah sumur yang ditutup atasnya. Kota Bogor hampir setiap hari hujan, dan kalau sedang hujan biasanya listrik di daerah kami mati. Waktu itu hujan sangat deras menjelang Maghrib. Seperti yang diduga listrik mati. Istriku sedang hamil muda, hamilnya Angga, anak pertama kami. Karena hujan dan gelap aku shalat di rumah, apalagi istriku takut ditinggal sendirian dalam kondisi gelap dan hujan. Seperti biasa selesai shalat aku dzikir rutin pagi dan sore. Aku membaca al ma’surat dengan suara agak keras.

Ada yang aneh setelah aku selesai membaca berdzikir. Tiba-tiba tercium bau menyengat seperti ada yang kebakar. Istriku teriak, “Ada yang terbakar, Mas.”

Aku pikir ada listrik konsleting. Aku segera mengambil senter dan mencari sumber bau itu. Aku cek seluruh ruangan tetapi tidak ada yang kebakar. Sama sekali tidak ada yang terbakar.

Kami mulai agak curiga. Bau itu seperti rambut atau tanduk yang dibakar. Menyengat sekali baunya dan sumbernya dekat sekali. “Ini bukan bau biasa,” pikirku. Segera aku ke kamar dan mendatangi istriku. Aku segera membaca beberapa surat yang aku hafal dengan suara keras. Lama-kelamaan bau itu menghilang.

 Kadang-kadang aku mengisi pengajian di salah satu sekolah tinggi pertanian di kotaku. Pengajiannya seminggu sekali dan bertempat di mushola kecil di sekolah itu. Gedung sekolah ini sudah cukup kuno, sepertinya dibangun sejak jaman Belanda atau di awal-awal kemerdekaan negeri ini. Ini terlihat dari kontruksi bangunan dan bentuk kusen jendela dan pintu. Mushola itu letakknya di bagian belakang dan tempatnya agak tinggi. Entah tidak diberi lampu atau memang lampunya mati, jalan menuju mushola itu gelap sekali. Demikian pula di bagian luar mushola, suasana remang-remang karena cuma ada satu lampu 15 watt di luar.

Suatu hari aku mengisi kajian dengan tema surga dan neraka. Seperti biasa peserta yang hadir mendengarkan dengan tenang. Saya perhatikan ada satu anak yang memperhatikan dengan penuh seksama, terlihat dari caranya memadangku dan posisi duduknya. Tiba-tiba anak itu seperti mengantuk dan terjatuh. Teman-temannya segera menolongnya. Aku bertanya, “Kenapa Dia?”

“Dia agak sakit, Ustad,” jawab salah satu temannya.

Kemudian aku mencoba memeriksanya. Anak itu seperti pingsan atau tertidur. Menurut keterangan temannya, memang dia sering mengalami hal ini. Kadang-kadang tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri seperti kesurupan.

“Hah… kesurupan, masa?” sahutku tidak percaya.

 Aku belum pernah berhadapan langsung dengan orang kesurupan atau dengan jin seperti ini. Tetapi aku tetap mencoba mengatasi ‘gangguan jin’ ini berdasarkan keterangan dari ustad-ustad yang pernah aku ikuti. Aku duduk di sisi atas kepalanya, kemudian aku mencoba membaca beberapa ayat. Tiba-tiba anak itu mulai meronta, tetapi tidak bisa bergerak karena teman-temannya memegangi tangan dan kakinya. Dia meronta semakin keras. Lalu tiba-tiba dia berbicara dengan logat dan suara aneh. Suaranya seperti suara perempuan dan berbicara dengan bahasa Jawa. Saya tinggal di tanah Sunda, jadi aneh sekali kalau ada jin yang berbicara dengan bahasa Jawa. Untungnya saya orang Jawa, jadi mengerti dan bisa berkomunikasi dengan jin itu.

Sedikit aku berbicara dengan dia, bertanya siapa dia, dan memintanya untuk keluar dari tubuh anak itu. Jin itu mau keluar tetapi dengan minta syarat, yaitu minta minum. Aku tidak mau memenuhi persyaratannya. Lalu dia minta dibacakan surat tertentu karena dia suka aku membacanya. Aku tetap tidak mau dan aku meneruskan dengan membaca ayat dan surat yang lain. Dia terus meronta-rota. Setelah beberapa lama dia mulai lemah dan dia mengancam akan memanggil kakaknya. 

Tiba-tiba anak itu mengejang, sampai badannya melengkung. Lalu dia terjatuh dengan keras. Anehnya setelah terjatuh suaranya berubah menjadi seperti suara laki-laki. Suaranya berat dan bargumam tidak jelas. Aku tetap membaca ayat-ayat yang aku hafal. Anak itu terus meronta-ronta dan akhirnya tersadar setelah berlangsung kira-kira satu sampai dua jam.

Rupanya kasus ini tidak sekali terjadi. Paling tidak setelah peristiwa itu sudah tiga kali dia mengalami kesurupan ketika mengikuti pengajian yang aku lakukan. Kata teman-temannya, kalau dengan ustad-ustad lain dia biasa-biasa saja. Aku mencoba mendekati anak itu dan mencoba mengorek keterangan tentang awal mulanya dia bisa kesurupan.

Pengalaman berikutnya ketika aku pindah rumah. Aku pindah ke rumah yang agak besar, tidak jauh dari rumah kontrakanku yang lama. Aku pindah kontrakan karena istriku sedang hamil anak kedua, Imran, dan kami perlu kamar satu lagi. Imran lahir ketika kami tinggal di rumah itu. Suatu hari aku pulang larut malam selesai acara pengajian rutin. Kira-kira jam 1 malam aku sampai rumah. Ketika aku masuk rumah, tiba-tiba Imran yang waktu itu masih berumur beberapa bulan menangis. Istriku berusaha menenangkannya dengan memberinya ASI. Biasanya setelah diberi ASI, Imran menjadi tenang dan tidur kembali. Anehnya, kali ini tidak. Justru menangisnya semakin menjadi-jadi. Segala cara aku coba untuk menenangkannya, tetapi tidak bisa juga. Ada yang sedikit janggal waktu itu. Aku dengar banyak sekali anjing menggonggong di belakang rumah. Kebetulan di belakang rumah kami ada kebun kosong yang dipisahkan dengan tembok batas. Suara anjing itu keras dan dekat sekali.

Aku merasa ada sesuatu yang menganggu Imran. Sesuatu yang tidak biasa. Lalu aku gendong Imran, tapi kali ini aku tidak bernyanyi untuk menenangkannya. Aku membaca beberapa surat Al Qur’an yang aku hafal. Imran pun berangsur-angsur tenang dan kembali tertidur. Dan suara anjing itu menghilang.

Berikutnya ketika aku pindah ke rumah kontrakan berikutnya. Rumah ini jauh lebih besar dari rumah sebelumnya. Luas rumahnya saja 125 m2 dan lahanya 535 m2. Di bagian depan dan belakang masih ada sisa halaman yang cukup luas. Ada beberapa pohon jambu yang cukup besar di sisi kanan rumah. Di halaman belakang ada pohon jambu air dan pohon kelor yang besar. Rumah itu dikelilingi dengan tanaman pagar yang cukup lebat dan sudah lama tidak pernah dipotong. Di belakang rumah itu ada kebun kosong dengan alang-alang setinggi 2 m. Tidak pernah dirawat. Hari pertama kami pindah tidak terjadi apa-apa. 

Waktu itu aku sedang asik-asiknya menulis buku komputer. Aku biasa tidur sampai larut malam. Suatu malam istriku terbangun dan mengatakan kalau dia mendengar ada suara perempuan menangis di sisi kanan rumah. Aku coba dengarkan. Memang sayup-sayup terdengar suara perempuan menangis. Aku coba perhatikan dengan lebih seksama dari mana asal suara itu. Malam berikutnya terdengar lagi suara itu. Kadang-kadang tidak terdengar, tetapi kadang-kadang terdengar jelas sekali. Kami jadi khawatir kalau terjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), karena penasaran aku coba keluar rumah dan mencari sumber suara itu. Suara itu seperti bersumber di salah satu pojok halaman rumah kami sebelah kanan. Ada sisa tonggak pohon jambu biji yang sudah ditebang. Cukup besar ukuran tonggak pohon jambu itu. Di sebelahnya lagi rumah tetangga kami. Aku ragu-ragu, apakah suara itu berasal dari rumah sebelah atau dari sekitar tonggak pohon itu.

Sama sekali tidak ada perasaan apa-apa padaku. Tidak pernah terbesit sama sekali di pikiranku bahwa itu suara hantu atau setan. Waktu aku keluar rumah pun aku keluar dengan tenang. Dan tidak ada sesuatu pun yang berbentuk menyeramkan, seperti hantu atau setan. Aku mencoba mencari informasi ke tetangga, kira-kira suara siapa itu. Tetapi tetangga-tetanggaku tidak ada yang menanggapinya, bahkan jawabannya pun tidak jelas. Suara tangisan itu kadang-kadang terdengar sampai beberapa lama, sampai akhirnya menghilang sendiri. Entah berapa lama, saya juga lupa.

 Beberapa bulan atau setahun kemudian ada seorang tetangga yang bercerita kalau tempat itu dulu seram sekali. Terutama di bekas batang pohon jambu di sudut kanan rumah yang ukuranya cukup besar. Dulu sering terdengar ada orang yang menangis, katanya. Nah.. lho… berarti apa dong suara tangisan yang aku dengar setahun yang lalu?

Beberapa tahun kemudian aku pindah rumah lagi. Kali ini di rumah sendiri yang aku kredit. Uang mukanya berasal dari royalty buku-bukuku. Rumahnya memang tidak sebesar rumah sebelumnya. Aku tinggal di sebuah perumahan kecil di pingiran kota bogor. Kecil tetapi nyaman. Beberapa minggu setelah pindah aku mendengar suara perempuan minta tolong. Kali ini bukan malam-malam, tetapi menjelang subuh. Saya biasanya sudah bangun sebelum shalat Subuh di masjid. Suaranya sayup-sayup seperti perempuan yang sedang kesakitan dan minta tolong ke ibunya. Aku coba cari dari mana suara itu. Sepertinya dari rumah belakang. Karena penasaran aku mencoba naik tangga dan melihat ke belakang rumah. Nihil, tidak ada apa-apa.


Thursday, October 7, 2021

Misteri Sebuah Resor yang Ditinggal Pemiliknya



Kamboja tidak hanya mempunyai objek wisata sejarah yang sedap dipandang macam Angkor Wat. Ada juga di sini destinasi horror yaitu Bokor Hill Station, sebuah resor mewah yang kini terbengkalai. Konon, tempat ini sangat angker dan berhantu.

Bokor Hill Station punya sejarah yang membuat traveler bergidik. Resor yang terletak di Kampot, selatan Kamboja ini dibangun pada masa penjajahan Prancis. Bokor Hill Station dibangun untuk tempat liburan orang Eropa dari panasnya Phnom Penh.

Namun sebelum rampung pada tahun 1925, konon hampir 1.000 pekerja meninggal saat pembangunan Bokor Hill Station. Inilah yang membuat resor tersebut konon berhantu.

Pada tahun 1940-an, orang Eropa kemudian meninggalkan Bokor Hill Station. Tahun 1950-1960, resor ini dibeli orang kaya setempat namun kembali ditinggalkan pada tahun 1970.

Saat ini, Bokor Hill Station terbengkalai total, namun jadi perhatian wisatawan. Bangunan utamanya adalah Bokor Palace Hotel & Casino, selain juga pertokoan, kantor pos dan apartemen.

Bokor Hill Station pun jadi tujuan wisata terutama untuk fotografer. Lokasinya berada di Taman Nasional, sehingga agak sulit mencapainya. Namun tak sedikit turis yang menyewa motor dan menyambangi Bokor Hill Station untuk memotret keindahan sekaligus merasakan sendiri keangkerannya.

Roh Penasaran Korban Khmer Merah

(Ilustrasi Kekejaman Khmer Merah)


Adanya rezim yang telah menyiksa dan membunuh jutaan orang di Kamboja, muncullah cerita tak terhitung tentang roh gelap yang menghantui masyarakat Kamboja. Saat malam hari di ibukota Kamboja, penjaga keamanan berkumpul karena takut.

 “Pada malam hari, kita sering melihat bayangan hitam berjalan,” kata Kim Sok, penjaga berusia 25-tahun di museum, yang berfungsi sebagai penjara utama rezim Khmer Merah tahun 1975-1979. 

“Kami harus berdekatan sehingga kita bisa menjaga satu sama lain.” lanjutnya.

Di penjara yang berkode S-21 di bawah pengawasan mantan guru matematika Kaing Guek Eav, alias Duch, lebih dari 15.000 tahanan disiksa sebelum diangkut ke ladang pembantaian di pinggiran Phnom Penh. Kepercayaan terhadap hantu korban rezim Khmer ini tersebar luas di seluruh Kamboja dan ada ketakutan tertentu kepada mereka yang telah meninggal karena kekerasan tanpa pemakaman Buddhis yang tepat.

“Banyak orang, termasuk turis, mengatakan mereka telah melihat roh menyamar sebagai seorang biarawan, seorang tahanan dan anak-anak,” kata Simorn Ith, 48 tahun, yang tinggal di sebuah rumah di seberang museum tua tersebut.

Chey Sopheara, direktur museum Tuol Sleng, mengatakan ia melihat roh narapidana di sana tak lama setelah Khmer Merah digulingkan pada Januari 1979.

“Suatu sore sekitar pukul 18.30, saya sedang duduk di bangku di dekat salah satu bangunan dan perwujudan roh yang sangat besar muncul dan dua tangannya memegang paha saya begitu erat sehingga saya tidak bisa bergerak. Saya melihat hantu itu mengenakan celana merah.” Keesokan paginya, menurut cerita, penjaga menemukan mayat seorang gadis berbalut celana merah.

Tiga dekade setelah ia selamat dari sengatan listrik dan pemukulan yang sering dilakukan oleh rezim Khmer di penjara, mantan tahanan Chum Mey, Tuol Sleng mengatakan ia sering bangun tengah malam dan menangis.

“Kadang-kadang, roh-roh penasaran itu membuat saya bermimpi tentang mereka dan mereka meminta bantuan saya,” kata lelaki tua berusia 79 tahun tersebut, yang dibiarkan hidup oleh rezim Kmer karena ia dianggap sebagai seorang mekanik yang berguna.


Misteri Arwah Tentara yang Gentayangan

    (Gambar Hanya Ilustrasi, Bukan Kejadian Sebenarnya)


Entah ini sebuah sejarah atau kisah nyata. Tetapi yang jelas kisah ini makin lama makin dirasakan menghilang oleh Syamsul Bahri, karena sikap seenaknya para generasi muda masa kini yang enggan mempelajari sejarah negara.

Kisah tentang harta karun tentara Jepang dan tentang arwah para tentara ini sebenarnya telah diceritakan secara turun temurun selama hampir 70 tahun, dan juga merupakan kisah yang didapat dari kawan-kawan Syamsul Bahri yang telah cukup lama melakukan studi mengenai masa penjajahan Jepang.

Banyak hal yang timbul berkaitan dengan kisah-kisah ini, tetapi apa yang Syamsul Bahri ingin tegaskan sebenarnya adalah mengenai beberapa lokasi terakhir para pendatang dari timur yang tidak diundang ini dan dimanakah sebenarnya lokasi harta rampasan yang mereka sembunyikan. Syamsul Bahri merasa terpanggil untuk berbagi kisah-kisah ini dengan semua orang agar sejarah dan beberapa kisah mistik yang patut dikaji kebenarannya tidak hilang dan musnah begitu saja.

Memang, tulisan-tulisan yang ada selama ini bercampur antara sejarah dan kisah mistik. Namun yang pasti ada beberapa fakta di sini yang bisa dirasakan, didengar, dan juga berdasarkan beberapa pengalaman yang pernah diceritakan.

Di dalam pencariannya mengenai emas dan harta rampasan tersebut, Syamsul Bahri tidak dapat menghindari berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya, seperti;

“Apakah ada yang tahu tentang emas Yamashita? Di mana pernah melihatnya? Apakah emas tersebut benar-benar ada? Kenapa tak pernah ada yang melihatnya walau sudah sering disebut-sebut? Siapa yang menjaga emas-emas tersebut?”, dan berbagai pertanyaan pelik lainnya yang datang silih berganti mengganggu pikirannya. 

Kebetulan Syamsul Bahri pernah membaca beberapa artikel yang ditulis oleh Tn Hj. Shah Paskal tentang “Penjaga-Penjaga Setia” yang menyebut-nyebut tentang pasukan tentara Jepang, dimana ada sebagian masyarakat yang pernah berjumpa secara tak sengaja dengan mereka ini.

Semasa tentera Jepang mendarat untuk pertama kalinya di Pantai Kuala Amat pukul empat dini hari pada tanggal 28 November 1941, berkekuatan 3 batalion tentara Jepang yang dikomandani oleh Letnan Kolonel Yamada menjejakkan kaki mereka di pantai tersebut. Diperkirakan sebanyak 5600 personil tentara Jepang berhasil dalam misi pendaratan tersebut walau mendapat perlawanan hebat dari pasukan Inggris-India yang berasal dari pasukan 3/17 th Dogras (Dogra Regiment)/Resimen Dogra.

Pasukan kedua mendarat dengan dikomandani oleh Kapten Yoshiteru Uramoto dan pasukan ketiga dikomandani oleh Mayor Jenderal Ryuzo Kagami dan Kolonel Osamu Ohara yang agak terhambat sedikit karena diserang oleh pesawat tempur Inggris-Australia jenis Hudson dari pasukan No. 1 Squadron RAAF (Royal Australian Air Force) dari bandara Kota Baharu Pangkalan Chepa dan jenis Vickers Vildebeeste yang tiba dari base Gong Kedak serta Base Lalangluas di Machang.

Dan sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, ada berapa banyak pasukan Jepang yang mendarat dan kemudian terbunuh, pernahkah ada yang mengetahui di mana lokasi mayat-mayat mereka ditemukan atau mungkin sudah dimakamkan di bunker-bunker yang mereka bangun? Diam-diam ada yang ciut nyalinya dan merasa seram bila mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai keberadaan mayat-mayat tersebut. 

Sebenarnya, adakah yang benar-benar pernah melihat atau secara tidak langsung mengetahui cerita tentang hantu tentara Jepang? Mengapa hantu-hantu ini sering kali dikaitkan dengan kawasan atau lokasi bekas tentera Jepang tinggal? Mungkin ada yang mengatakan bahwa semua ini adalah bohong, hanya tipu muslihat para pemburu harta rampasan penjajah Jepang, karena memang banyak yang tidak percaya. 

“...mana ada hantu tentara Jepang...?!!”

Kurang lebih begitulah komentar beberapa orang.

Tetapi ada satu rahasia yang tidak banyak orang mengetahuinya, bahwa sebenarnya orang Jepang yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang modern, intelek, dan tidak pernah bersentuhan dengan hal-hal yang sifatnya klenik dan mistik, ternyata juga amat percaya dengan kekuatan roh dan segala hal yang berbau mistik. 

Tidak percaya?

Ada bukti kuat yang menunjukkan sifat mistik dan klenik bangsa penjajah itu. Ini semua berkat ditemukannya sejenis batu yang disimpan di bawah reservoir di negara bagian selatan. 

Begini penjelasannya:

Pasukan penjajahan Jepang pada waktu itu dikenal sebagai pasukan yang amat kuat berpegang kepada spirit kerohanian mereka. Mereka percaya bahwa mereka pasti akan hidup kembali dan akan terlahir kembali di tempat mereka terbunuh. Karena itulah mereka sanggup melakukan “Harikiri”.

Dari penemuan itu juga membuktikan satu hal yang amat penting, yaitu bahwa mayat-mayat pasukan mereka yang jumlahnya sangat banyak itu sebenarnya tidak pernah dikuburkan. Karena mayat-mayat tersebut sebenarnya dibakar bersama dengan tanah-tanah liat dan dijadikan batu-bata untuk membangun bunker, benteng, dan juga markas mereka. Campuran batu-bata ini bisa dilihat di hampir setiap monumen atau bangunan yang diduduki oleh pasukan Jepang.

Kenapa? Karena bangsa penjajah itu percaya bahwa arwah para tentara ini akan senantiasa bersatu dan bersama menjaga bangunan dimana jasad mereka telah dilebur menjadi satu dengan bangunan yang dijaganya. Jadi tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa arwah mereka pula yang menjaga emas Yamashita, yaitu emas dan harta yang dirampas oleh pasukan tentara Jepang ini dari negara-negara jajahannya untuk dibawa pulang ke negara matahari terbit itu.

Itu sebabnya jika ada gedung sekolah, rumah sakit, atau bisa juga asrama pelajar, yang berasal dari bangunan peninggalan masa lalu, sering kali diganggu oleh munculnya pasukan tentara yang sedang berpatroli, membawa rantai, atau bahkan hantu tentara tanpa kepala yang hilir mudik setiap waktu... Hal-hal semacam itu membuat orang kampung banyak yang membicarakannya dan mengatakan bahwa dulunya kawasan itu adalah lokasi pendudukan tentara Jepang, kuburan tentara Jepang, kamp bangsa Jepang dan sebagainya.

Rumah sakit tempat Syamsul Bahri bertugas dahulu juga sering diganggu oleh arwah para tentara yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya tersebut. Itu adalah tempat peristirahatan terakhir mereka. Banyak yang mengatakan bahwa batu-bata yang digunakan untuk membangun gedung itu mengandung campuran darah dan tulang. Hal tersebut menjawab pertanyaan bagaimana darah dan tulang di dalam batu-bata itu berkaitan dengan arwah-arwah yang bergentayangan di dalam bangunan tersebut. 

Mengenai emas Yamashita, semasa penjajahan Jepang, semua harta dan emas ini dilebur dan dibawa pulang ke Jepang. Itulah sebabnya mengapa negara Jepang menjadi kaya, karena memiliki stok emas yang dirampasnya dari negara-negara jajahan. 

Tetapi bagaimana dengan nasib emas yang gagal dibawa pulang ke Jepang karena perang telah usai? Konon kabarnya, mereka menggali tergesa-gesa dan menanam semua emas tersebut di lokasi yang mereka duduki dan lokasi itu di “jaga” oleh “penjaga-penjaga” setia ini. 

Bagi orang biasa, cerita ini bisa jadi cukup mengejutkan, tapi bagi para pemburu harta, hal ini adalah perkara yang biasa saja.

Tentang penampakan hantu tentara Jepang, memang telah banyak dibicarakan orang. Ada yang pernah melihatnya langsung, ada yang pernah kerasukan dan sebagainya. Di mana lokasi kejadian itu? Tentulah di kawasan tempat mereka dilebur bersama dan dijadikan bangunan. Tapi di mana? Pecahkanlah sebuah batu bangunan, lalu ambil dan lihatlah kemungkinan ada tulang yang bercampur dengan batu-bata itu. Itulah penjaga setia mereka.

Kisah ini adalah kisah yang ditulis dari pengalaman Syamsul Bahri tentang arwah tentara yang gentayangan semasa ia bertugas di sebuah rumah sakit yang belakangan ia ketahui bahwa bangunan rumah sakit itu dulunya dibangun oleh pasukan tentara Jepang dan merupakan peninggalan bangsa penjajah tersebut. Selain itu, kisah ini juga dikutip dari para pengkaji sejarah Jepang di Malaysia.

Boleh percaya boleh tidak, tetapi kalau ada yang menyebut-nyebut tentang hantu tentara Jepang, semua orang yang mendengarnya pasti akan tahu.

Jadi kalau ada yang mencari-cari di mana kuburan para tentara Jepang di masa penjajahan dulu, tidak perlu repot. Cukup dengan menemukan bangunan peninggalan jaman Jepang, maka itulah kuburan mereka. 

Nah... ada yang berani tidur dalam bangunan seperti itu tengah malam? 

Jangankan tengah malam. Siang hari bolong pun para arwah gentayangan itu juga berpatroli di Memorial Perang Jepang di Batu Maung, Pulau Pinang. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa orang yang telah menyaksikan sendiri keberadaan para arwah tentara yang gentayangan tersebut. 


Tuesday, September 28, 2021

MOGOK DI TENGAH KUBURAN


(Gambar Hanya Ilustrasi, Bukan Tempat Kejadian Sebenarnya)


Malam itu, aku dan suami hendak berangkat ke resepsi pernikahan teman kami. Dalam undangan tersebut, kami dapat undangan yang jam 20.00 – 21.00. Jadi, dari rumah kami berangkat jam 19.30 dengan mengendarai mobil pribadi. Dalam perjalanan, tiba-tiba handphone-ku berbunyi...

“Halo... dik Rini ya?“Sapaku. 

Rini adalah anak tetanggaku yang malam itu aku mintai tolong untuk menjaga Dhoni, anakku satu-satunya yang baru berumur 5 tahun. Sebenarnya tadi mau aku ajak ke acara resepsi, tapi karena acaranya malam hari dan dia baru saja sembuh dari sakit panas makanya aku tinggal di rumah.

“Iya... tante, ini Rini... “Belum selesai Rini menjawab, aku sudah memotongnya.... 

“Ada apa dik Rini? Dhoni rewel ya?“ Tanyaku agak khawatir

“Enggak kok tante, Dhoni baik-baik aja. Dia sudah tidur di kamarnya tante...” Jawab Rini

“Oh iya syukurlah kalau begitu....” Lanjutku dengan perasaan lega.

“Begini tante.... ntar tante pulangnya jam berapa ya? Soalnya barusan ibu Rini kesini kasih kabar kalau bisa ntar sebelum jam 22.00 Rini bisa pulang, karena tadi ada kabar dari kampung kalau nenek meninggal. Dan rencana kami mau pulang kampung naik bis malam yang berangkat jam 22.00 malam ini tante....” Tanya Rini penuh harap

“Oh... iya dik Rini, tante usahakan. Ini dah nyampe kok di tempat resepsi. Ntar tante kasih ucapan selamat pada kedua mempelai terus langsung pamit pulang aja biar dik Rini punya waktu untuk bersiap-siap.” Jawabku.

Sesampai di pesta resepsi kami pun segera menuju ke tempat kedua mempelai dan mengucapkan selamat sekalian berpamitan untuk segera pulang dengan alasan Dhoni di rumah sendirian.

Di perjalanan pulang, agar cepat sampai rumah kami pun memilih lewat jalan pintas yang melalui dua pemakaman umum. Sebenarnya waktu pulang suamiku sudah putuskan ingin lewat jalan raya, tetapi aku membujuk suamiku agar lewat jalan pintas karena aku takut terlambat sampai rumah karena sudah janji dengan Rini. Jauh sebelum kami melewati kuburan itu mobil sudah mogok entah kenapa tapi syukurnya ada warga yang mau membantu mendorong mobil kami sehingga perjalanan pun dapat di teruskan.

Dalam perjalanan aku terus baca-baca doa dalam hati karena takut mobilku macet lagi dan terlambat sampai rumah. Namun, dalam jarak 50 meter dari arah kuburan tiba-tiba badanku terasa lemas banget pertanda ada kejadian yang tidak kami inginkan akan terjadi. Benar juga, sesampai di jalan yang ada kuburannya tiba-tiba mesin mobil pun mati mendadak. Tapi mobil tetap melaju karena suamiku sengaja meng-kopling agar melaju terus melawati jalan tersebut tanpa turun. Tapi apa yang terjadi? 

Mobil kami pun berhenti di tengah-tengah jalan yang di pinggirnya langsung kuburan. Aku pun merasa ketakutan, karena pemakaman disini memang terkenal angker. Tiba-tiba suamiku menyuruhku agar tetap berada dalam mobil, karena suami akan mendorong mobil ke pemukiman warga terdekat untuk minta bantuan.

Ketika suamiku turun dari mobil untuk mendorong mobil, pada saat membuka pintu mobil tiba-tiba tercium bau anyir campur aroma bunga-bunga kamboja dan kemenyan.

“Tunggu mas.... mas merasa mencium bau-bau aneh tidak?“ Tanyaku dengan penuh ketakutan

“Tidak tuh... ah sudahlah Ma. Jangan berpikiran yang bermacam-macam. Tidak ada apa-apa kok. Mama tunggu aja di dalam dan aku akan mendorong mobil sampai pemukiman situ...” Kata suamiku mencoba menenangkanku.

Kegiatan dorong mendorong mobilpun dilakukan suamiku sendirian dan aku di dalam mobil terus membaca baca doa, berharap tidak ada makhluk yang akan menampakkan diri. Perasaanku pun semakin takut teringat cerita-cerita seram tentang kuburan tersebut dari ayahku dan teman-temannya yang dulu sering lewat sini kalau malam. Keringat pun bercucuran kayak orang sedang mandi. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara-suara aneh, wah pikiranku jadi semakin tidak karuan. Aku mencoba melirik suamiku dari spion. Aku melihat suamiku sedang susah payah mendorong mobil. 

“Ah kasihan juga suamiku....” Pikirku.

Beberapa saat kemudian aku merasa mobil tidak bergerak lagi. Aku mencoba menengok ke belakang. 

“Lho mana suamiku.” Kataku dalam hati. “Apa mas Anto baru istirahat ya...” Lanjutku dalam hati. Kulihat sekeliling, sangat sepi. 

“Mas... mas.... dimana kamu.” Teriakku memanggil suamiku..

“Aku disini, di belakang... tunggu istirahat dulu bentar.” Teriak suamiku dari luar dengan suara yang agak terengah-engah.

“Syukurlah....” Kataku dalam hati. 

Tidak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara kaca mobil belakang diketuk-ketuk.

“Ah mungkin suamiku butuh sesuatu.” Pikirku sambil menengok ke arah belakang.

Begitu aku menengok ke belakang.... alangkah terkejutnya diriku...

Kulihat wajah suamiku rusak berat penuh darah, matanya melotot ke arahku dan bajunya terlihat compang camping... Saat itu pun juga aku tak sadarkan diri....


Wednesday, September 1, 2021

PEREMPUAN MISTERIUS ITU TERNYATA KUNTI



Malam itu, pikiranku lagi kosong dan merasa sangat jenuh karena siangnya bekerja cukup lelah di sebuah showroom mobil kemudian malamnya harus kuliah. Akhirnya, malam itu sepulang kuliah aku habiskan malam bersama teman-teman dengan kongkow–kongkow di rumah Rudi –teman kuliahku yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus.

“Weekend besok acara enaknya kemana coy...” Kata Rudi membuka obrolan.

“Bagaimana kalu kita berlibur ke puncak?“ Kata Sony memberi usul.

“Wahh... jangan... liburan pasti banyak yang kesana. Kita semua bisa stress karena macet.” Sergahku to the point.

Kemudian tiba-tiba Deni yang sedari tadi diam sambil menikmati rokoknya mencoba memberikan pendapat : “HHmmm bagaimana kalau kita mancing di danau... pasti asyiik..” 

“Waahh.... ide bagus tuh.... gimana teman-teman, setuju tidak.” Rudi langsung mengiyakan usulan Deni.

“Boleh juga ide Deni...” Lanjutku yang disertai anggukan Sony tanda setuju.

Akhirnya sepakat kami berempat –Aku, Rudi, Sony, dan Deni besok akan menghabiskan weekend dengan mancing di danau. Selanjutnya kami berempat melanjutkan dengan ngobrol sana sini sambil minum kopi menghabiskan malam serta membuat rencana apa-apa saja yang perlu di bawa untuk acara besok.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 dan aku bersiap-siap dan berpamitan pada teman-teman mau pulang sekarang karena memang rumahku paling jauh letaknya dibanding rumah teman-temanku yang lain. Biasanya aku pulang dengan menggunakan kereta api terakhir dari stasiun. Namun hari itu aku terpaksa membawa mobil karena siangnya aku ada meeting dengan customer. 

Saat jam tepat menunjukkan pukul 23.45 ketika aku pamit pulang dengan diiringi cemoohan dari teman-teman yang lain.

“Berani nich... pulang malam sendirian... ntar dicegat bencong loh...” Kata Deni menggoda. 

“Sori coy, aku capek berat, pengen segera istirahat nih.” Jawabku sambil menenteng tasku.

“Iya... iya, hati-hati di jalan. Sudah malam ntar ada yang numpang.” Canda Rudi.

“Ah... siapa tahu yang numpang cewek cantik.... kan bisa sekaligus aku pacarin...” Jawabku seenaknya diikuti tawa teman-temanku.

“OK... coy met malem semua... sampe besok ya...” Pamitku pada mereka sambil berlalu keluar menuju mobil.

Jam sudah menunjukkan pukul 00.25 ketika aku sampai di suatu jalan sepi yang kanan kirinya masih banyak pohon rimbun dan tanah persawahan yang luas. Hanya kurang sekitar 2 km lagi jaraknya sampai rumahku. Tiba-tiba aku merasakan angin dingin berhembus tepat di belakangku dan saat itu pula aku merasa bulu kuduk-ku merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki dan udara dalam mobilku pun menjadi terasa lebih dingin. 

Spontan aku raih tombol AC dan mengecilkannya untuk mengurangi dingin. Namun udara di dalam mobil masih saja terasa dingin, akhirnya aku mematikan AC mobil. Saat aku meraih tombol AC untuk mematikannya... tiba-tiba tercium bau aneh dan berubah menjadi bau wangi kembang kemboja dari arah belakang. Pada saat aku mengintip ke spion dalam.... begitu terkejutnya aku..... ada sesosok wanita berambut panjang berumur sekitar 20 tahunan dengan baju putih panjang compang-camping yang dipenuhi dengan bercak darah duduk di jok belakang mobil. Aku langsung istighfar dan membaca ayat-ayat Al Quran yang aku bisa, tetapi sosok wanita tersebut masih tetap disitu dan tidak beranjak pergi.

“Permisi.... numpang lewat. Maaf kalau saya mengganggu Mbak.... dan sekarang saya minta mbak turun dari mobil saya.” Kataku dalam hati sambil tetap berdoa.

Namun, sosok perempuan tersebut tetap saja tidak beranjak pergi hingga akhirnya perjalananku sampai di sebuah tikungan dimana disitu terdapat sebuah kuburan. Pada saat itulah, tiba-tiba seperti ada yang mengusap punggungku dari arah belakang. Bulu kudukku pun semakin berdiri dan spontan mobilku tiba-tiba berhenti seiring dengan munculnya suara wanita yang sedari tadi duduk di jok belakang mobilku.

“Saya berhenti disini saja mas.... trimakasih tumpangannya mas... hihihihihi.” Ucap wanita itu dengan diiringi suara tawa cekikikan dan aroma bunga kamboja yang lambat laun menghilang.

Seketika itu juga, kulihat spion dalam mobilku. Wanita tersebut sudah tidak ada lagi di jok belakang mobil. Segera kunyalakan mobilmu dan langsung aku tancap gas.

Beberapa saat kemudian sampailah aku di rumah. Segera saja kumasukkan mobil ke dalam garasi dan aku menuju dapur untuk memasak air buat mandi. Setelah mandi dan terasa segar aku segera menuju kamar tidur untuk beristirahat. Namun, susah sekali mata ini terpejam karena masih teringat dengan kejadian yang barusan aku alami. Ku mencoba nyalakan TV dengan harapan agar aku bisa segera tidur secepatnya. Dan akhirnya aku pun tertidur dengan pulas dengan TV masih menyala.

Aku mulai terbangun dari tidurku... kulirik jam yang ada dimeja sebelah tempat tidur...

“Waah... aku kesiangan. Sudah jam 05.30“Kataku dalam hati

Segera aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil air wudhu kemudian shalat subuh. 

Selang beberapa saat kemudian terdengar suara tukang koran.

“Koran... koran...” Teriak pak tukang koran.

Aku bergegas keluar rumah dan memanggil tukang korang tersebut.

“Pak... beli korannya pak...” Teriakku

“Oh iya pak... silakan mau koran apa pak.” Tanya tukang koran itu

“Sebentar pak, boleh lihat-lihat sebentar kan?“ Tanyaku

“Oh silakan pak....” Jawab tukang koran

Aku mulai melihat-lihat koran dan mencari yang kira-kira beritanya menarik bagiku. Pada saat aku memegang koran lokal, begitu terkejutnya aku dengan berita utama yang ada di koran lokal tersebut.

“SEORANG WANITA KORBAN TABRAK LARI TEWAS SEKETIKA.”


La Planchada