Thursday, May 27, 2021

Boneka Batu

(Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi)


Liburan kali ini aku habiskan untuk berlibur di rumah paman di Magelang. Pamanku tinggal di perkampungan dimana di daerah itu merupakan pusat aneka kerajinan yang terbuat dari batu. Pamanku sendiri adalah seorang pemahat batu yang banyak dikenal orang karena hasil karyanya yang rapi dan mengagumkan.

Sore itu aku berjalan-jalan bersama keponakanku ke toko-toko aneka kerajinan khas Magelang. Pada saat jalan-jalan, aku dan keponakannku melihat boneka lucu yang terpajang di etalase salah satu toko kerajinan tersebut. Karena kami tertarik, maka kami mencoba memasuki toko itu dan mulai melihat-lihat boneka itu. Ternyata boneka itu terbuat dari batu, namun diolah sedemikian rupa sehingga mirip boneka kayu. Rambutnya panjang dan matanya sipit, mirip boneka okiku dari Jepang. Karena harganya tidak begitu mahal, akhirnya boneka itu kami beli.

Sesampainya di rumah, boneka tersebut kami taruh diatas meja belajar yang terletak di kamar tidur keponakannku. Boneka itu kami beri nama Okiku karena memang mirip dengan boneka Okiku.

Suatu malam aku terbangun karena perasaan yang tidak enak. Aku mencoba membuka mataku tapi mataku terasa berat sekali. Ketika aku berhasil membuka mata, aku melihat ada yang aneh di atas tempat tidurku. Aku melihat Okiku sedang menari di atas tempat tidurku. Tiba-tiba Okiku menghentikan tariannya setelah aku memperhatikannya. Kemudian Okiku menatapku dengan tajam (meskipun matanya sipit, tapi tatapannya sangat menyeramkan) kemudian Okiku itu tertawa. Tampak gigi-giginya yang runcing dan berwana merah tidak rata seperti habis meminum darah. 

Aku ingin berteriak tapi susah sekali. Esoknya aku baru memberanikan diri bercerita kepada keponakanku. Karena sama-sama merasa ada yang aneh, akhirnya boneka itu kami buang di sungai.

Aku mulai merasa tenang dan tidak takut lagi karena setelah boneka itu dibuang, tidak ada yang mengganggu kami lagi.

Malam ini adalah malam terakhir aku menginap di rumah paman. Oleh karenanya, malam ini aku gunakan untuk mengemasi barang-barangku yang akan aku bawa pulang besok pagi. Jam 22.00 aku baru selesai berkemas dan langsung tertidur dengan pulas karena kecapekan. Di dalam tidurku aku bermimpi boneka Okiku mendatangiku dan menangis ingin kembali kepada kami. Namun, aku tidak begitu menghiraukan. Dan akhirnya boneka Okiku itu pun tiba-tiba lenyap.

Esok paginya aku bangun agak kesiangan. Setelah melihat jam sudah menunjukkan pada pukul 07.05 aku buru-buru bergegas mandi, karena jam 08.30 aku harus sudah sampai di agen travel. Selesai mandi dan bersiap-siap aku menuju meja belajar keponakanku untuk mengambil hp dan dompetku. Tapi betapa terkejutnya aku melihat boneka Okiku yang sudah kami buang di sungai kemarin kini berada di atas meja belajar tersebut.


Dihamili Makhluk Halus

(Gambar Hanya Ilustrasi)


Kisah misteri ini dialami sepasang kekasih di daerah Ciliwung. Ketika itu, Dadang dan kekasihnya, Nurul sedang melakukan perjalanan dari kota menuju kampung halaman dimana Nurul tinggal. Seminggu sekali Nurul pulang ke kampung diantar Dadang, setelah seminggu penuh Nurul bekerja di kota.

Nurul dan Dadang adalah sepasang kekasih yang sudah satu tahun ini menjalin cinta. Meski jalinan cinta mereka berdua dari hari ke hari kian akrab dan mesra, tapi keduanya telah sepakat untuk saling menghormati. Keduanya telah berjanji untuk tidak melakukan hal-hal di luar batas sebelum pernikahan.

Seperti biasa, Sabtu siang itu Dadang sengaja datang ke tempat kerja Nurul untuk menjemput dan mengantarkannya pulang ke kampung. Seperti biasanya, dalam perjalanan menuju kampung halaman keduanya selalu menyempatkan makan siang di Saung Mang Ujang. Sebuah restoran dengan suasana alam pegunungan yang sejuk. 

Dalam perjalanan menuju Saung Mang Ujang, tiba-tiba turun hujan begitu deras. Jalan aspal yang mereka lalui tampak pekat oleh guyuran air hujan bercampur kabut.

“Sebaiknya kita berhenti saja dulu, Mas!” pinta Nurul, khawatir. Hujan memang turun semakin deras. Dan jalanan pun terlihat sangat licin. 

“Iya, tapi kita berhenti dimana? Di sekitar sini jauh dari rumah pendududk. Sisi kiri kanan jalan hanyalah hamparan pepohonan!” komentar Dadang seperti bingung.

Tak lama kemudian Dadang menghentikan mobilnya di bawah sebuah pohon beringin besar yang tumbuh menjulang di sisi kiri jalan. Meski tampak samar oleh guyuran hujan berbaur kabut, tapi Nurul masih bisa melihat bahwa pohon beringin itu berada di samping gundukan tanah mirip kuburan. Di sekeliling gundukan tanah itu tumbuh beberapa jenis tanaman liar.

“Untung saja ada pohon beringin besar ini. Lumayanlah, berhenti di bawah pohon beringin ini. Mobil agak terlindung dari guyuran hujan!” Ucap Dadang lega setelah mematikan mesin mobilnya.

“Tapi aku merasa tak nyaman kita berhenti di sini, Mas. Kesannya di sini angker,” ucap Nurul meringis dengan bulu kuduk yang tiba-tiba meremang.

Sementara Nurul memperhatikan guyuran hujan dan angin yang menyapu daun dan ranting-ranting pohon raksasa itu, entah mengapa tiba-tiba saja Nurul melihat ranting dan dahan-dahan pohon beringin itu seperti memancarkan suatu kekuatan aneh yang membuatnya bergidik takut.

“Kamu tak perlu takut, Rul! Ketakutanmu mungkin karena pengaruh cuaca buruk di sekitar sini. Sebentar lagi juga hujan reda. Santai saja!” Ucap Dadang enteng sambil menggeser duduknya lebih dekat pada Nurul.

“Aku siap jadi pelindungmu, Sayang! Jangankan manusia, hantu atau makhluk halus yang berani mengganggumu akan aku labrak,” celoteh Dadang tertawa sambil mengelus-elus pipi Nurul.

Aneh, ucapan Dadang itu seperti langsung dijawab oleh suatu kekuatan yang membuat hujan mendadak turun semakin deras. Angin pun tiba-tiba bergemuruh kencang seperti hendak meruntuhkan pohon beringin itu.

Bersamaan dengan itulah, samar-samar terlihat sesosok bayangan hitam meloncat dari ketinggian pohon itu dan turun tepat di depan mobil yang mereka tumpangi. Satu detik kemudian bayangan itu berubah wujud menjadi seekor kera raksasa yang menyeringai seram.

Tapi detik berikutnya makhluk aneh itu tiba-tiba menghilang seperti di telan guyuran hujan. Anehnya, Dadang yang duduk di samping Nurul seperti tak melihat apa-apa. Malah bersamaan dengan menghilangnya makhluk itu, Dadang menjadi begitu agresif terhadap Nurul. Dadang menghujani wajah Nurul dengan ciuman dan kecupan liar, bahkan hingga di bibir dan lehernya.

Nurul pun tak mampu mengelaknya. Keduanya hanyut dalam permainan cinta. Namun Nurul merasa aneh dengan sikap Dadang yang begitu bernafsu seperti sedang kerasukan sesuatu. Tidak biasanya Dadang bersikap kasar dan liar dalam bermesraan. Dan yang lebih mengherankan, sorot matanya tiba-tiba terkesan aneh. Sorot mata yang menyala menahan gairah!

“Mas, sudahlah! Aku takut... tadi aku melihat...” ucap Nurul setengah memohon.

 Karena hari sudah mulai Maghrib, akhirnya keduanyapun membatalkan rencana makan malam di restoran Saung Mang Ujang. Keduanya lalu memutuskan untuk pulang.

Sesampainya di kampung halaman Nurul, hari sudah terlalu malam. Dadang pun diminta Ayah ibu Nurul untuk menginap. Akhirnya, malam itu Dadang pun menginap di rumah Nurul. Esoknya, suatu keanehan terjadi pada Nurul. Tiba-tiba saja perutnya membesar seperti orang yang sedang hamil 9 bulan. Dan benar juga, ketika Nurul dibawa ke dokter, sang dokter menyatakan bahwa nurul memang sedang hamil. Alangkah terkejutnya Dadang dan juga ayah ibu Nurul. Begitu juga dengan Nurul, ia langsung jatuh pingsan mendengar pernyataan dokter tersebut.

Akhirnya, Nurul pun dibawa ke pondok Kyai Ahmad untuk mendapatkan pencerahan dan pengobatan.

“Neng Nurul memang tengah hamil besar. Tapi kehamilan Neng Nurul ini tak wajar, karena pengaruh jahat makhluk halus. Makhluk halus jenis ini memang pada kesempatan tertentu bisa berbuat jahat, terlebih pada orang yang bicara sombong dan berani melakukan perbuatan tak senonoh di tempat angker di mana makhluk itu berada,” jelas Kyai Ahmad sambil menoleh ke arah Dadang.

“Apa Nak Dadang ini kekasihnya Neng Nurul?” tanyanya dengan suara bijak, sambil menatap Dadang.

“Iy... iya... saya kekasihnya Nurul. Bahkan bulan depan saya akan tunangan. Memangnya kenapa, Pak Kyai?” Jawab Dadang terkejut menerima pertanyaan yang tiba-tiba dari Kyai Ahmad itu.

Kyai Ahmad menarik nafas panjang. Mengulum senyum. Lalu berkata,

“Maaf, menurut peneropongan mata batin saya, Nak Dadang dan Neng Nurul pernah melakukan hubungan intim di tempat angker. Kalian tahu, sewaktu kalian melakukan hubungan itulah makhluk halus itu datang dan menyusup ke dalam jiwa Nak Dadang dan ikut merasakan kenikmatan hubungan yang dirasakan Nak Dadang. Sekali lagi maaf kalau terawangan batin saya ini salah!”

Kontan ayah dan ibu Nurul saling tatap mendengarnya. Ada ketidaksukaan di wajah mereka mendengar bahwa anak gadisnya, Nurul dan Dadang telah berbuat sejauh itu. Sementara Nurul dan Dadang tertunduk mendengarnya.

Penjelasan Kyai Ahmad itu bukan hanya membuat keduanya malu dan makin membuat mereka ketakutan, tetapi juga telah menghantar ingatan Nurul pada kejadian-kejadian aneh sewaktu Nurul dan Dadang hendak pergi ke restoran Saung Mang Ujang itu. Bukankah ketika itu mobil Dadang berhenti di bawah pohon beringin besar yang terkesan angker? Ketika itu juga Nurul sempat melihat sesosok makhluk aneh mirip kera raksasa, dan merasakan keganjilan pada diri Dadang saat keduanya melakukan hubungan seks. Diam-diam Nurul membenarkan penjelasan Kyai Ahmad yang panjang lebar itu.

“Lalu apa yang harus kami lakukan, Pak Kyai? Apapun syaratnya, saya akan siap! Yang penting perut kekasih saya ini bisa kempis seperti sedia kala,” ucap Dadang seolah tak sabar. Wajah tampannya bersemu merah karena menahan malu.

Kyai Ahmad tidak menjawab. Laki-laki berusia 70 tahun itu lalu mengambil suatu bungkusan dari atas lemari di pojok kamar dan berkata,

“Taburkan serbuk panyinglar ini di tempat kalian berhubungan intim waktu itu. Tapi sebelumnya, kalian harus melakoni beberapa syarat. Pertama, kalian harus bertobat dengan melakukan shalat sunnah taubatan nasuha. Lalu berpuasa selama tiga hari berturut-turut dan setiap malamnya kalian harus mewiridkan sholawat sebanyak 333 kali. Insya Allah perut Neng Nurul akan mengempis seperti semula!” Jelas Kyai Ahmad panjang lebar.

Begitulah, usai melaksanakan syarat yang disebutkan itu, Nurul dan Dadang lalu pergi ke tempat di mana pohon beringin besar itu berada. Sambil membaca shalawat keduanya lalu menaburkan apa yang disebut Kyai Ahmad sebagai serbuk penyinglar, yang bentuknya mirip tep ung putih itu di tanah sekeliling pohon beringin. 

Setelah serbuk gaib itu mereka taburkan, suatu keajaiban pun berlangsung. Bersamaan dengan selesainya Nurul dan Dadang menaburkan serbuk itu, tiba-tiba dari ranting-ranting bagian atas pohon beringin itu mengepul asap hitam yang kemudian membentuk suatu gulungan besar. Sesaat gulungan asap hitam itu bergerak-gerak ke sana ke mari, namun kemudian membumbung ke angkasa dan akhirnya menghilang di telan mega. Aneh, bersamaan dengan menghilangnya gulungan asap hitam itu, tiba-tiba perut Nurul yang masih menggelembung besar itu mengempis seperti sedia kala.

“Alhamdulillah...!” ucap Nurul dan Dadang sambil berpelukan dalam suasana haru dan bahagia.


Wednesday, May 26, 2021

Gadis Kecil Penunggu Villa

(Gambar Hanya Ilustrasi, Bukan Lokasi Sebenarnya)



Kisah tak terlupakan ini adalah kisah seram yang aku alami ketika aku masih duduk di bangku SMP. Kejadiannya terjadi ketika aku dan beberapa temanku pergi berlibur ke Dieng, Wonosobo. Kebetulan salah satu dari temanku ada yang memiliki villa di sana, namanya Andi.

Kita sampai di villa milik Andi sekitar jam 10 pagi. Dan ketika aku masuk, wuss... entah mengapa tiba-tiba semilir angin menerpa tubuhku dan hawanya tidak begitu enak. Padahal di halaman tadi hawanya begitu segar. Aku pun bertanya kepada teman-teman, apakah mereka juga merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Dan mereka semua ternyata tidak merasakan apa yang aku rasakan. Seketika aku pun menjadi merinding sendiri. Tapi kemudian kami langsung disibukkan dengan kegiatan beres-beres, masak, makan, dan main-main di halaman. Sehingga perasaan takut yang aku alami tadi bisa aku lupakan.

Hari menjelang petang, sebelum benar-benar gelap, kami kembali ke villa. Begitu masuk, perasaan itu kembali lagi menderaku. Auranya langsung berbeda, tapi aku berusaha santai seperti teman-temanku yang lain yang tidak merasakan hal-hal aneh.

Tepat jam 8 malam, kami kembali ke halaman untuk menyalakan api unggun. Memang, yang namanya liburan di puncak rasanya tidak akan lengkap tanpa ada acara api unggun. Namun, aku kembali merasakan hal yang aneh. Ketika api unggun mulai dinyalakan, aku merasa ada seseorang yang mengawasiku. 

Namun lama-lama aku kebawa suasana seru kumpul bareng teman-teman ku dan akhirnya perasaan aneh itu terlupakan.

Jam 11 malam, kami menyudahi acara api unggun. Tapi, sebelum tidur kami semua membereskan dahulu bekas-bekas sampah makanan dan serbuk-serbuk kayu sisa pembakaran. Pada saat beres-beres, tidak sengaja aku melihat ke arah sebuah pohon. Di bawah pohon itu berdiri seorang gadis kecil yang melihat ke arahku dengan tatapan kosong. Wajahnya pucat pasi, berbaju putih panjang, pokoknya seram sekali. Wajahnya seperti boneka dan matanya bulat kosong seperti orang sedang melamun dan juga terlihat sangat pucat.

Aku pun langsung membatu seketika itu. Tidak sanggup untuk bergerak apalagi berteriak. Seolah-olah aku sedang terhipnotis, aku hanya bisa memandangi anak itu. Teman-temanku yang melihat keanehanku langsung mendekatiku. Dalam hati aku ingin sekali berteriak dan memeberitahu mereka semua bahwa ada hantu di bawah pohon besar itu. Aku ingin semua temanku mengetahui apa yang sedang aku alami dan apa yang sedang aku lihat. Tapi mereka biasa saja, tidak bisa melihat anak itu dan aku pun masih terdiam tak bisa bergerak. 

Lama-lama badanku terasa melayang dan pandangan ku kabur. Ya, aku hampir pingsan, tapi aku masih bisa merasakan aku dibopong teman-teman dan dibawa ke kursi panjang di teras villa. Di sana aku bisa mendengar perkataan mereka. Aku ingin sekali bangun dan berkata pada semua temanku bahwa kita sedang diawasi seorang gadis kecil. Tapi aku benar-benar tidak kuat untuk bangun. 

Tapi lama-kelamaan akhirnya aku bisa bangun dan berhasil duduk. Teman-temanku langsung bertanya padaku apa yang sedang aku alami dan aku lihat.

Begitu aku mau memulai cerita, tiba-tiba gadis kecil itu muncul lagi di antara teman-teman yang sedang mengerumuni ku. Seakan melarangku untuk menceritakan keberadaannya kepada teman-temanku. Aku pun terkejut dan langsung tidak bergerak. Seketika itu pula aku jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Paginya aku sadar dan sudah berada di kamar villa. Perasaan takutku hilang sama sekali. Cuma sedikit pusing yang aku rasakan. Kami pun memutuskan untuk pulang hari itu juga. Setiap temanku bertanya tentang kejadian semalam, aku enggan untuk menjawabnya karena aku masih terbayang dan takut jika gadis kecil itu tiba-tiba kembali muncul.

Tapi sepertinya Andi tahu, dia pun meminta maaf padaku dan berkata kalau gadis kecil itu memang penunggu villa sejak lama. Mungkin karena aku dan teman-temanku baru pertama ke sana, gadis kecil itu merasa asing dan terus mengawasi kami. Dan Andi juga berkata karena aku kurang beruntung, maka hanya akulah yang bisa melihat dia. 


Wednesday, May 19, 2021

Mayat Berasap

(Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi, Bukan Kejadian Sebenarnya)


Kisah seram ini aku alami ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas lima. Aku tinggal di kampung yang penduduknya tidak begitu padat, di daerah Cimahi. Kejadian yang tak akan pernah aku lupakan ini terjadi ketika aku selesai mengaji di rumah bapak Mahfud, seorang guru yang kesehariannya mengajarkan pendidikan agama di sekolahku. 

Ketika itu akulah salah satu santri yang terakhir menyelesaikan pelajaran pada hari itu. Oleh karenanya, aku terpaksa kembali ke rumah sendirian karena teman-temanku sudah pulang mendahuluiku. Usai berpamitan dan mengucapkan salam kepada pak Mahfud, aku pun berjalan pulang. 

Malam itu suasananya agak mendung sehingga tidak tampak bulan dan bintang di langit. Hanya lampu penerangan rumah dan jalan saja yang menyinari. Itu pun tidak begitu terang karena antara rumah satu dengan rumah lainnya letaknya berjauhan. 

Entah mengapa suasana malam itu terasa lain bagiku. Bulu kudukku mulai berdiri ketika aku mulai melewati kawasan pekuburan yang konon kabarnya merupakan kawasan berhantu. Hatiku mulai berdegup kencang mengingat cerita-cerita yang digembar gemborkan oleh penduduk kampung mengenai cerita-cerita seram yang terjadi di daerah pekuburan ini.

Di tengah-tengah lamunanku, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh salah satu kuburan yang mengeluarkan asap. Aku pun mulai berkeringat dingin. Aku melihat satu mayat berasap keluar dari kuburan tersebut. Spontan aku berteriak dan dengan sekuat tenaga aku berusaha lari, tapi entah mengapa aku tak dapat menggerakkan anggota tubuhku. Tubuhku seperti terpaku di bumi di mana tempat aku berpijak. 

Mayat berasap itu pun mulai mengeluarkan suara-suara yang menyeramkan. Dan dalam keremangan malam, samar-samar aku dapat melihat wajah mayat berasap tersebut. Wajahnya sungguh menyeramkan dengan anggota tubuhnya dibaluti kain kafan dan wajahnya yang menyeringai memandang tepat ke arahku.

Pelan tapi pasti, mayat berasap itu mulai mendekatiku. Aku pun mulai mengumpulkan seluruh tenaga untuk berlari meninggalkan kawasan pekuburan tersebut. Aku seperti mendapat kekuatan dan sejurus aku pun berlari meninggalkan daerah pekuburan tersebut. Dari kejauhan aku masih mendengar suara mayat berasap tersebut tertawa seolah menertawakanku yang lari tunggang langgang karena ketakutan. 

Aku berlari begitu kencangnya hinga tubuhku terasa begitu capek hingga akhirnya aku berhenti di bawah pohon untuk beristirahat. Karena begitu capeknya tak terasa aku pun tertidur di bawah pohon tersebut. Di saat aku tertidur, aku merasa ada sesuatu berwujud cair yang menetes dari atas dan mengenai tubuhku. Setetes demi setetes jatuh mengenai tubuhku. Ku pikir itu adalah rintik hujan dan entah mengapa bau anyir pun mulai mengganggu nafasku. Aku pun spontan terbangun dan begitu terkejutnya aku mendapati baju yang aku pakai sudah penuh darah. Rupanya rintik air tadi bukanlah air hujan melainkan tetesan darah segar. 

Aku mulai melihat ke kiri, dan ke kanan untuk mencari asal darah tersebut. Dalam keadaan ketakutan yang teramat sangat, aku memberanikan diri melihat ke atas pohon. Dan alangkah terkejutnya aku ternyata mayat berasap tadi telah bertengger di atas pohon. Dalam kegelapan malam itu aku dapat melihat dua biji mata merah memandang tepat ke arahku. Tangannya mulai menjalar kebawah hendak meraih tubuhku. Seketika itu juga aku menjerit ketakutan dan spontan aku jatuh tak sadarkan diri. 


Thursday, April 22, 2021

Hantu Pengiring Orang Meninggal

Sumber Gambar : https://s.kaskus.id/r540x540


Aku tinggal di sebuah kampung, tepatnya di daerah Cimahi. Letak desaku yang masih jarang rumah, boleh dibilang membuat orang kadang merasa takut bila keluar malam.

Kejadian yang aku alami ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Suatu hari ada berita yang cukup menggemparkan. Salah satu warga dari desaku meninggal dunia karena kecelakaan kendaraan di Jakarta dan langsung di bawa pulang ke kampung halaman yaitu di desaku ini.

Sejak ada kabar itu rasanya suasana di desaku berubah menjadi mencekam dan pada sore harinya jenazah tersebut datang di rumah kediaman dan jenazah diinapkan karena suatu alasan.

Banyak warga yang datang melayat dan menunggu jenazah itu sambil mengirim doa, dan sampailah pada siang harinya yaitu setelah selesai persiapan sebelum jenazah dikuburkan.

Jenazah digotong oleh empat orang, dua di depan dan dua di belakang. Mereka saling bergantian dengan yang lainnya dan banyak yang mengiringi jenazah tersebut sampai ke pemakaman.

Usai upacara pemakaman selesai, aku pun segera pulang ke rumah karena sudah janji dengan pakdhe mau ke rumah saudara yang sedang punya hajat. Sampai di rumah ternyata pakdhe sudah menungguku.

“Lho, Pakhde sudah siap... tadi tidak ikut upacara pemakaman ya?” tanyaku.

“Tadi pakdhe tidak ikut sampai pemakaman, pakdhe sudah sejak dari pagi bantu-bantu di rumah duka, jadi begitu usai upacara di kediaman rumah duka, pakdhe langsung pulang.” jawab pakdhe.

“Sudah segera mandi dan siap-siap terus berangkat, nanti keburu sore.” lanjut pakdhe menyuruhku segera mandi bersiap-siap.

“Siap, Pakdhe...” jawabku sambil bergegas ke kamar mandi.

Siang itu aku dan pakdhe segera berangkat ke rumah saudara yang sedang punya hajat, agar pulangnya nanti tidak kemalaman. 

Pada malam harinya suasana terasa sepi, tidak seperti malam-malam sebelumnya, sekitar jam dua malam aku dan pakdhe baru pulang dari rumah saudara kami yang punya hajat pernikahan, dan kebetulan tapi lebih tepatnya bukan kebetulan karena memang jalannya harus lewat depan rumah tempat orang meninggal yang tadi siang dikuburkan. Ketika itu, aku dan pakdhe hanya berjalan kaki.

Setelah melintasi rumah almarhum itu, pakdhe seperti mendengar suara orang di belakangnya dan jumlahnya banyak serta mengucapkan lafal laillahaillallah.

“Ssst. kau dengar suara itu?” tanya pakdhe sambil menoleh ke belakang

“Tidak Pakdhe... suara apa?” jawabku kebingungan dan spontan aku juga ikut menoleh ke belakang. Tapi tidak ada apa-apa sama sekali.

“Suara lafal laillahaillallah... sudah... sudah... ikuti pakdhe saja, nanti aku ceritakan.” jawab pakdhe sambil menggandengku agar mengikuti langkahnya.

Begitu sampai di depan rumah kami (rumahku dan rumah pakdhe saling berdampingan), aku mau berbelok menuju rumah. Tapi aneh, pakdhe tetap menggandengku untuk terus berjalan ke arah penghujung perbatasan desa.

“Pakdhe... kita mau...” tanyaku belum selesai dan sudah dipotong pakdhe

“Ssst... sudah... sudah ikuti pakdhe saja, nanti pakde cerita.” jawab pakdhe

Aku pun mengikuti kemana pakdhe melangkahkan kaki. Setelah sampai di penghujung perbatasan desa, Pakdhe pun membelokkan langkahnya dan berjalan menuju arah rumah kami.

Di dalam perjalanan menuju rumah kami, pakdhe pun menceritakan kenapa kami harus berjalan dulu hingga sampai perbatasan desa. Ternyata ketika pakdhe mendengar lafal laillahaillallah dalam perjalanan tadi, dan setelah pakdhe menengok ke belakang terlihat sejumlah orang sedang menggotong keranda jenazah dan yang mengiringinya.

Namun kata pakdhe, beliau teruskan perjalanan pulang dengan jantung yang terus berdebar kencang. Rasa takut yang mengiringi beliau mungkin sangat memberatkan langkah kakinya. Hal ini dikarenakan pakdhe melihat hantu pengiring jenazah. Dan konon kabarnya bahwa jika ada kejadian melihat hantu pengiring jenazah harus diantar ke penghujung atau perbatasan desa. Alasannya adalah biar tidak ada yang meninggal di desa itu.

Dan ternyata benar dengan langkah yang berat pakdhe terus berjalan menghantarkan rombongan jenazah itu sampai ke batas desa. Padahal rumah kami sudah terlewati. Setelah sampai di batas desa tepatnya di perempatan, kami pun membelokkan langkah menuju rumah kami dengan melewati jalan lain. Sedangkan, rombongan hantu pengiring jenazah itu pun terus berjalan menuju desa tetanggaku

Dan yang membuat misteri ini terbukti kebenarannya yaitu keesokan harinya ada orang meninggal di desa tetanggaku yang di tuju rombongan hantu pengiring jenazah itu.


Wednesday, April 21, 2021

Hantu Tanpa Kepala Penghuni Villa

Sumber Gambar : data:image/jpeg;base64 (Gambar Hanya Ilustrasi)


Aku adalah anak tunggal dari keluarga Joyokusumo. Sejak kecil aku tinggal di Bogor. Ayahku sendiri seorang pengusaha sukses yang lumayan cukup dikenal dan disegani didaerahku. Ayahku juga mengelola perkebunan teh dan kopi. Dua minggu sebelum ayah meninggal, ia sempat membeli sebuah villa di puncak. Sehingga ayah belum sempat mengajak aku dan ibuku mengunjungi villa tersebut. Baru kali ini lah aku dan ibuku bisa mengunjungi villa tersebut dengan diantar pak Anwar, seorang notaris yang juga karyawan ayahku. 

Sebuah villa megah yang dibangun pada abad 19 dan digambarkan sebagai warisan pemerintahan kolonial Belanda. Sebuah villa yang pernah ditinggali oleh seorang direktur perkebunan milik kolonial yang sangat berpengaruh di zaman itu. Villa yang berukuran besar itu berada di atas ketinggian 1900 meter dari permukaan laut.

Luas tanah villa itu sekitar dua hektar dengan tanaman lengkeng di sekelilingnya. Lengkeng itu secara rutin berbuah dan dimanfaatkan oleh kang Cecep, perawat villa sebagai mata pencarian sampingan.

Kang Cecep sudah berkerja di villa itu sejak dia berusia 10 tahun. Hingga villa dibeli ayahku, kang Cecep tetap bekerja mengurusi villa itu. Kini kang Cecep sudah berusia 78 tahun dan masih tetap setia menjaga villa itu. Berdasarkan cerita dari pak Anwar, kang Cecep itu adalah seorang yang menguasai ilmu keparanormalan secara turun temurun.

Ayah dan kakeknya sangat dikenal di daerah itu sebagai ahli pengobatan tradisional dan punya daya linuwih. Begitupun dia. Oleh karena itu, pak Anwar menyarankan agar aku tetap mempekerjakan kang Cecep di villa peninggalan ayahku itu.

“Selain merawat Villa, kang Cecep juga merawat seluruh tanaman yang ada dan akan memberikan sebagian hasilnya kepada pemilik villa!” kata pak Anwar.

Sesuai saran pak Anwar, sebagai ahli waris sah pemilik villa itu, aku menyutujuinya. Kang Cecep kami panggil ke ruang tamu dan membicarakan tentang niat kami itu. Kang Cecep nampaknya sangat senang mendengar keputusan itu dan dia berjanji akan merawat villa dan kebun kami dengan baik.

Bahkan aku meminta kang Cecep membuka lahan baru untuk tanaman jeruk siam yang bibitnya sudah kami miliki. Kang Cecep berjanji akan merawat jeruk hingga berbuah lebat.

“Saya punya pengalaman cukup bertanam jeruk!” kata kang Cecep, sambil menggambarkan bahwa dia sempat belajar pertanian jeruk di Tebinggerinting Ogan Ilir, Sumatera Selatan selama tiga bulan.

Kang Cecep ternyata tidak sendirian bekerja di villa itu. Lelaki tua tapi tetap kelihatan segar itu dibantu oleh tiga anak dan dua orang menantunya. Setiap hari secara bergiliran mereka membersihkan villa dan menyiangi rumput di perkebunan villa itu.

Suatu hari, mang Udin, 41 tahun, menantu kang Cecep mengantarkan saya keluar villa menuju mobil. Mang Udin membawakan mesin Jet pump yang rusak dan akan kami betulkan di kota. Sebelum mobil Nissan Terrano aku hidupkan, mang Udin memberanikan diri bicara kepadaku.

“Pak, boleh saya menginformasikan sesuatu?” tanya mang Udin sangat santun. 

Setelah terkesima sedikit, aku pun memperbolehkan mang Udin bicara. Dengan agak gugup sedikit menantu kang Cecep itu menyebut bahwa apakah aku telah tahu banyak mengenai villa ini. 

“Tahu tentang apa, Mang?” tanyaku penasaran. 

“Maaf Pak, Bapak bukan seorang yang penakut terhadap hal-hal yang ganjil kan?” tanya mang Udin lagi.

Setelah kujawab tidak takut, mang Udin pun menceritakan bahwa villa itu terkenal sangat angker dan mengerikan bagi warga di daerah itu. Sebab, telah ratusan kali terjadi penampakan makhluk gaib yang ditemui warga. Bahkan ada salah seorang warga yang sampai meninggal mendadak karena ketakutan. Wafatnya warga bernama Sukiman itu, kata mang Udin, memang bukan karena dicekik atau dianiaya oleh makhluk gaib itu. Tapi meninggal setelah kaget dan ketakutan melihat hantu tanpa kepala yang keluar dari halaman villa. 

“Hantu tanpa kepala keluar dari halaman villa?” desakku, makin penasaran. 

“Iya Pak, hantu tanpa kepala itu adalah hantu penghuni villa milik Bapak ini, yang muncul setiap kali bulan purnama ke 14. Yaitu di saat bulan sangat terang dan besar!” katanya.

Aku tertawa terpingkal mendengar cerita Mang Udin itu. Jujur saja, batinku sangat geli ketika siapapun mengambarkan makhluk gaib yang menampakkan diri, termasuk cerita mang Udin itu. Sebab, aku sangat tidak percaya adanya hantu. Apalagi bila dikatakan bahwa hantu itu berwujud dan memperlihatkan rupanya kepada manusia yang hidup.

Sebagai pemeluk agama yang kuat, aku percaya bahwa ada makhluk halus seperti malaikat atau jin. Alkitab yang kami percayai memang menyebutkan bahwa adanya makhluk halus seperti itu, termasuk iblis yang juga tak pernah terlihat oleh mata telanjang. Untuk hantu yang terlihat, aku sangat tidak percaya dan sangat tidak yakin bahwa hal itu bisa terjadi.

Maka itu, ketika aku mendengar cerita mang Udin aku tidak bisa menahan tawaku. Mang Udin jadi terlihat malu dan menundukkan kepalanya. 

“Mang Udin, mana ada hantu menampakkan diri, apalagi hantu berkepala buntung. He... he... he! Ada-ada saja kamu ini Udin!” candaku.

Mendengar ucapanku itu, Mang Udin terdiam dan dia tidak lagi melanjutkan ocehannya. 

“Maaf Pak, saya barangkali telah melakukan sesuatu kesalahan terhadap Bapak. Maksud saya bukan untuk menakut-nakuti Bapak, tapi ingin agar Bapak tidak kaget bila selama tinggal di villa ini ada hal yang aneh-aneh!” tukas mang Udin, lirih.

Kukatakan pada Mang Udin bahwa aku tidak terpengaruh dengan ceritanya itu sama sekali. Bahkan kukatakan pada mang Udin, bahwa aku bukan cuma tidak takut, tapi aku sangat tidak yakin bahwa makhluk itu ada dan sering menampakkan diri. 

“Bahwa ada orang yang melihat sesuatu yang aneh, orang yang melihat itu pastilah halusinasi. Melihat daun pisang bergoyang, eh... dikira hantu! Begitulah kira-kira!” ucapku pada mang Udin, yang akhirnya aku menstarter mobil dan melesat ke turunan 80 derajat di depan villa. 

Satu bulan kemudian, aku mengajak ibuku, istri, dan kedua anakku pergi ke villa itu. Erica dan Erico, kedua anak kembarku kebetulan libur kuliah dan mereka mau nginap di Villa peninggalan kakeknya. Karena banyak teman-temannya mau ikut, maka kuperbolehkan Erica dan Erico mengajak teman-temannya.

Dengan lima kendaraan, kami berangkat beriringan menuju Puncak, Bogor. Erica dan Erico memilih mobil lain, sedangkan aku menyetir sendirian membawa mobil Nissan Terrano. 

Pukul 11:30 menjelang tengah hari, kami semua sudah sampai di villa. Lima mobil diparkir berjejer dan kami membawa perlengkapan masuk. Hari itu aku memerintahkan semua teman-teman Erica dan Erico termasuk mereka untuk bahu membahu memasak. Ikan, daging serta sayuran dan beras telah tersedia lengkap di Terrano yang aku bawa.

Kompor gas semua penuh dan kami siap memasak untuk santap siang. Pukul 14:00 kami makan siang. Semua bersemangat karena perut sudah pada keroncongan. Semua teman Erica dan Erico sangat lahap makan dengan sambal dan lalapan khas. Kang Cecep dan anak mantunya kami sediakan makanan di tempat yang lain. Mereka juga makan bersama dengan kami walau tidak semeja.

Habis makan, Monica, teman kuliah Erica bermain piano. Piano merek Hansneil buatan Austria itu aku kirim ke villa setelah aku beli di Bursa Alat Musik Melawai, Blok M. Aku memang senang bermain piano, walau aku tidak piawai memainkannya. Di rumah, bahkan ada tiga piano beragam merek, jadi koleksiku sejak masih muda.

Karena suara piano dan semua bernyanyi, villa kami jadi semarak. Habis bernyanyi-nyanyi rombongan main di kolam renang. Dalam cuaca yang dingin itu, mereka berenang dan bercanda gila-gilaan di kolam.

Selepas makan malam, anak-anak bernyanyi lagi. Mereka juga menyalakan api tungku sebagai pemanas udara yang sangat dingin. Sementara anak mantu kang Cecep, semuanya pulang ke rumah masing-masing. Pukul 24:00, semua masuk ke kamar tidur.

Sedangkan aku, yang mengambil kamar balkon, tidur bersama istriku. Namun entah mengapa aku tak dapat memejamkan mata. Entah karena malam Jum’at Pon yang sedang bulan purnama 14 itu, mataku tak dapat terpejam. 

Tidak terasa, jam di meja sofa menunjukkan angka 01:20 dini hari. Tapi walau sudah menjelang pagi, mataku tak bisa terpejam juga. Sementara suasana sangat hening dan sepi menyelimuti malam di villa kami. Dengan langkah malas-malasan, aku berjalan menuju jendela. Kubuka daun jendela dan kulongokkan pandangan ke luar. Pemandangan luar malam itu begitu indah.

Bulan purnama 14 itu makin terlihat indah ketika semburan sinarnya menjilat dedaunan kapuk di sebelah Villa. Sementara udara malam begitu dingin. Rasa dingin itu terasa merasuk ke tulang belulangku dan mencubit-cubit. 

“Oh Tuhan, malam yang indah tapi malam yang sangat dingin hari ini,” kataku.

Dari balik pohon kapuk, aku melihat sesuatu pemandangan yang agak aneh. Di situ aku melihat seorang berdiri dengan sosok serba hitam. Tak salah lagi, pikirku, sosok itu adalah manusia dan dia sedang memandang kepadaku. Dengan suara agak parau karena terlalu malam, aku memanggil.

“Kang Cecep? Kang Cecep kah itu?” tanyaku. 

Sosok hitam itu tidak bergeming. Dia tetap berdiri di bawah pohon kapuk dan menatapku.

“Kang Cecep?” desakku. 

Dalam hitungan beberapa detik setelah aku memanggil, sosok itu tiba-tiba hilang bagaikan spiritus dilalap api. 

“Ah, kemana orang itu?” batinku.

Ada perasaan gundah bergelantung di balik kalbuku. Ada sembilu tipis menyayat relung batinku. Betulkah cerita mang Udin itu benar-benar terjadi? Atau betulkah sosok itu adalah hantu yang pernah dilihat oleh banyak warga? Ah, mana mungkin ada hantu, mana mungkin makhluk halus bisa menampakkan diri, pikirku. Tapi sosok itu bukanlah manusia biasa. Mana mungkin seseorang manusia bisa menghilang dalam hitungan detik. Sementara mataku terus mengarah padanya tanpa kedip.

Pada saat aku berpikir tentang apa yang baru saja kulihat, jantungku dikejutkan oleh suara teriakan Erica dari kamar bawah. 

“Tolong, tolong, tolong!!!” teriak Erica itu sangat keras. 

Belum sempat menutup jendela, aku menghambur ke bawah. Kulihat Erica pucat pasi ketakutan. Erica langsung memelukku dengan tubuh bergetar.

“Hantu, hantu ayah, ada hantu di kamar saya!” pekiknya. 

“Apa? Kamu mimpi Rica, mana ada hantu di kamar itu. Mana ada hantu menampakkan diri?” kataku. 

“Lihat, lihatlah Ayah, hantu itu masih dalam kamar!” ujarnya. 

“Mari ikut ayah mana ada hantu di kamar ini. Ayo, ikut ayah!” ajakku, sambil menarik tangannya. 

Tapi Erica ogah! Dia melepaskan tangannya karena takut masuk ke kamar itu lagi. Lalu aku sendiri yang masuk ke kamar. Tanpa rasa takut sedikitpun aku melangkahkan kaki dengan pasti mendekati pintu. Di dekat kaca rias, berdiri seorang bertubuh tinggi besar tanpa kepala. Sosok pria itu pastilah bukan manusia biasa.

Lampu kamar menyala terang dan dengan jelas aku melihat sosok pria memakai mantel warna hitam itu. Sementara di tangan kanannya terlihat jelas pula, kepala manusia dengan kusuran darah dan daging yang meleleh. Dua bola mata keluar, tercabut dari pangkal tempatnya.

“Oh Tuhan!” pekikku. 

Tapi aku masih mengucek-ucek mata dan mencubit pipiku. Benarkah aku sadar, bukankah aku sedang bermimpi? Atau sedang mengigaukah aku. Atau sedang berhalusinasikah aku. Tidak! Aku ternyata sadar dan tidak bermimpi. Ya, aku sedang berhadapan dengan hantu yang tak kupercayai dari cerita mang Udin itu. Mang Udin benar, mang Udin betul dan tidak membual. Hantu itu benar ada dan bisa menampakkan diri dan menakut-nakuti manusia yang hidup.

Semua penghuni villa pun terbangun. Pagi dini hari itu mereka semua melihat sosok pria memegang kepala dan muka tercabik-cabik itu. Ibu dan istriku, terjatuh ke lantai dan pingsan setelah melihat pemandangan mengerikan itu.

Dalam hitungan detik setelah beberapa orang tumbang, makhluk itu menghilang entah kemana. Aku berteriak keras memanggil kang Cecep di sebelah pagar Villa, tapi kang Cecep dan anak mantunya tidak mendengarkan suara kami.

Hingga pagi hari semua tak dapat tidur. Semua berkumpul di ruang tamu dan berpelukan dengan ketakutan. Teror itu tidak sampai di sini saja, tak lama kemudian, piano berbunyi sendiri memainkan lagu In Fancy Sezoprano. Semua mata kami serempak ke arah piano. Tak ada satupun manusia yang terlihat sedang memainkan alat musik itu. Kami makin ketakutan. Semua menutup dan berpelukan di permadani sambil menangis.

Suara piano itu makin lama makin keras dan mataku penasaran melihat lokasi itu. Kulihat dengan jelas sosok pria tanpa kepala itu duduk di bangku piano dan satu tangannya tetap memegang kepalanya yang terpotong. Aku kembali menutup mataku dan ibu, istri, dan kedua anakku.

Jujur saja, baru kali inilah aku takut. Ya, benar, kali ini pula aku gentar terhadap lingkungan. Kesombonganku yang selama ini kokoh, hancur lebur malam itu oleh makhluk aneh dan ajaib yang disebut hantu tanpa kepala itu.

Saat ayam berkokok, kami dikejutkan lagi oleh suara yang lain. Hantu tanpa kepala itu berbunyi ngorok seperti bunyi suara singa terluka. Batinku makin miris, nyaliku semakin ciut. Sementara jantung terus berdebar seakan detak lonceng kematian bertanda akhir hayat.

Matilah kami, matilah kami beramai-ramai pagi ini! Suara batinku berguncang. Saat matahari yang sinarnya terlihat masuk di balik kisi-kisi timur dinding villa, aku mendengar suara kang Cecep mengeluarkan kuda-kuda kami. Aku berteriak sekeras-kerasnya memanggil kang Cecep dan kang Cecep masuk dari pintu belakang yang kunci duplikatnya dia pegang. Kang Cecep kami peluk dan kami ceritakan apa yang kami temukan.

Kang Cecep langsung pucat pasi dan terbata-bata meminta maaf kepadaku. Dia meminta maaf karena sebelumnya tidak memberitahukan tentang sosok makhluk gaib itu kepadaku. Apalagi, saat kami menginap di bulan purnama ke 14. Sebab dia hanya muncul di bulan purnama 14 dan seharusnya, kata kang Cecep, menghindari villa di malam terang benderang itu.

“Karena Bapak baru memiliki villa ini, bila saya bercerita dan menyarankan jangan menginap di bulan purnama, takut Bapak salah sangka kepada kami. Dengan bertemunya secara langsung dengan makhluk itu, barangkali Bapak barulah percaya bahwa ada makhluk alam lain di sekitar hidup kita dan bisa berwujud. Bukankah mantu saya mang Udin sudah menggambarkan hal itu?” lirih kang Cecep.

Sejak itu, aku percaya adanya makhluk alam gaib yang sewaktu-waktu, bila Tuhan berkehendak, maka makhluk itu akan muncul, makhluk itu akan menampakkan diri dan dilihat secara kasat mata. Kekokohan pendirian, kekuatan rasa ketidakpercayaanku, kini pudar sudah. Dan aku harus mengakuinya, bahwa mereka memang ada dan bisa kontak dengan kita yang hidup.

Hantu tanpa kepala itu adalah sosok arwah direktur perkebunan milik kolonial, pemilik villa asal belanda yang mati dipotong lehernya oleh jawara Banteng. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1911, dua tahun setelah pak direktur menempati rumah perkebunan teh itu. Pak direktur yang duda tanpa anak, dibunuh dalam suatu perkelahian di kebun dengan mandor kebun pribumi yang diperlakukan dengan kasar olehnya.

Seminggu setelah jenazahnya dikirim ke Hilversum, Netherland, arwahnya selalu muncul dengan khasnya, mantel hitam dengan memegang kepalanya sendiri. Hantu pak direktur terus-terusan menampakkan diri setiap kali bulan purnama 14 di Villa tersebut.

“Hanya di malam itu dia muncul, malam lain tidak!” kata kang Cecep.

Kenapa hanya di bulan purnama 14 arwah itu muncul, dikatakan oleh kang Cecep, bahwa pembunuhan terhadap warga bangsa belanda itu terjadi di malam bulan purnama ke 14, saat desa-desa di daerahku begitu terang dan tenang. Ketenangan itu tiba-tiba gaduh karena pembunuhan mengerikan itu terjadi.

Jawara itu memotong kepala pak direktur hingga terlepas dari lehernya. Hingga sekarang, aku, ibu, istriku, dan anak-anak tidak pernah lagi datang ke villa untuk menginap. Kami hanya datang pagi dan pulang sore hari. Walau bukan di bulan purnama ke 14, kami tetap tidak berani bersantai di villa itu. Tempat itu hanya kami jadikan perkebunan dan tempat singgah di siang hari bila ke Puncak. Sedang untuk menginap, kami memilih hotel yang aman dari hantu-hantu.


Bertemu Sinden Ayu

Sumber Gambar : https://encrypted-tbn0.gstatic.com (Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi)



Malam itu, waktu sudah menunjukkan pukul 23.45. Saat itu aku berada didalam mobil dengan teman dekatku, Dewi. Seharian tadi aku menghabiskan waktuku bersama Dewi putar-putar ke Semarang, hingga tak terasa malam telah tiba. Kini saatnya aku mengantarnya pulang ke rumahnya di daerah Ungaran. 

Jarak antara Semarang ke Ungaran lumayan jauh. Malam itu jalanan ke Ungaran mulai agak sepi, hanya beberapa motor dan mobil yang berseliweran. Untuk mengurangi rasa sepi, aku nyalakan tape mobil dengan volume yang kencang. Setengah jam kemudian, aku melewati jalanan persawahan yang sepi. Sayup-sayup aku mendengar suara gamelan dan orang yang lagi nyinden. Semakin lama suara gamelan tersebut semakin keras aku dengar, padahal volume tape sengaja aku puter kencang hampir maksimal. 

“Dewi... kayaknya ada yang lagi punya hajatan ya,” tanyaku pada Dewi. 

Aneh, Dewi yang sedari tadi duduk disampingku sambil bernyanyi ngikutin suara tape mobil kok tiba-tiba diam, tidak merespon pertanyaanku. Aku mencoba mengulangi pertanyaanku pada Dewi.

“Dewi... dengar suara gamelan itu nggak??” tanyaku lagi. 

Tak ada jawaban dari Dewi. Karena penasaran Aku mencoba menengok ke arah Dewi.

“Ya ampuuun... ternyata Dewi dah tidur pulas, kecapekan kali seharian jalan,” gumamku dalam hati. Tiba-tiba... saat aku membalikkan mukaku ke arah depan... spontan langsung aku injak rem.

Cccciiiiiitttt... 

Hampir saja aku menabrak seorang perempuan yang tiba-tiba melintas. Perempuan dengan baju sinden lengkap dengan selendang merah... sekilas sinden perempuan itu menengok ke arahku dengan wajah ayunya. Namun, wajah ayu itu terlihat pucat pasi meskipun make upnya terlihat tebal.

Pada saat bersamaan, Dewi kaget dan terbangun.

“Ada apa, Mas... kok berhenti mendadak.” tanyanya padaku.

“Duh... hampir saja... hampir saja aku menabraknya...” jawabku.

“Siapa Mas? Nggak ada siapa-siapa gitu loh!!” kata Dewi

“Itu sinden... hhaa... kok hilang???” kataku.

Kemudian aku menceritakan suara gamelan dan sinden yang tadi aku dengar kepada Dewi.

“Ah masak sih Mas... di sini nggak ada kampung, mana ada orang ngadain hajatan di sini. Tuh di depan sana, baru perkampungan...” kata Dewi sambil mengajakku melanjutkan perjalanan.

“Aneh...” gumamku dalam hati sambil melanjutkan perjalanan...


La Planchada