Friday, July 19, 2019

Angkot Siluman (Banten)

Kulihat Ani masih berkutat dengan pekerjaannya, tumpukan file dan kertas kerja menumpuk di mejanya. Kasihan juga dia sebenarnya, tapi memang karakter dia seperti itu, suka menunda-nunda pekerjaan jadinya pas waktu tenggat hampir habis kelabakan lah dia. Tapi dia itu teman yang baik menurutku, selain selera humornya, dia itu bisa dipegang, maksudnya kalau kita mau curhat atau cerita yang agak pribadi dia pasti bisa menjaga, tidak bocor kemana-mana.

“Ani, wah mejamu ruarr biasaaa...” ledekku sambil duduk di depannya.

Ani cengar-cengir, “Bantuin dong... jangan cuma meledek!” pintanya dengan wajah memelas.

“Kamu sudah selesai kan? Takut nih sendirian di kantor.”

“Heeh... no lunch for free!” balasku.

“Huuu... ok deh, mau minta apa nih? Nganterin jalan-jalan… nganterin shopping… atau apa nih?” gantian Ani yang meledekku. Dia tahu aku ini jarang sekali beli barang yang tidak sesuai kebutuhan, bukan apa-apa memang kondisi keuanganku cekak aja.

“Nganterin window shopping aja lah, jangan sering-sering shopping… berat diongkos...!” sergahku kalem tapi sedikit menyindirnya.

“Bisa aja kamu, iyalah ntar tanggal muda kita jalan-jalan. Aku yang traktir makan minumnya!” jawab Ani.

“Nah itu baru ok!” kataku sambil menyorongkan dua jempol jariku ke arah dia. Kamipun tertawa bersama.

Sesasat kemudian kami tenggelam menyelesaikan tugas Ani. Tugasku sudah selesai sejak tadi tapi nggak sampai hati rasanya meninggalkan Ani sendiri di kantor. Dia itu teman baikku di kantor dan di kota ini. Ia masih tinggal dengan orang tuanya, sedangkan aku mesti kost. Makanya uang gaji dia utuh... hehehe... dia bisa kredit motor, belanja ini itu selepas terima gaji. 

Sedang aku? Sebelum terima uang saja daftar kebutuhan sudah nongol duluan, ada sih sisa sedikit tapi... huh aku jadi teringat bunda di kampung yang suka sms, yang isinya selalu sama... minta bantuan dana buat ini itu. Ah sudahlah... kok jadi ngelantur begini. Ntar nggak bisa konsentrasi malah makin lama menyelesaikan tugasnya.

Akhirnya selesai juga... setelah merapikan meja, kami berdua keluar ruangan menuju area parkir.

“Wah lembur ya, Mbak!” sapa pak Tito, satpam kantor kami.

“Yoi... tapi sudah selesai kok.” jawabku 

“Iya tinggal Pak Tito yang masih lembur… heheheh.” sambung Ani setengah bercanda.

Pak Tito hanya tersenyum mendengar celotehan Ani, dia sudah lama kerja di sini jadi dia sudah hafal dengan karakter orang-orang di kantor ini. Apalagi para pekerja di sini biasanya cukup lama bisa bertahan. 

Sesampai di ruang parkir hanya ada beberapa motor dan mobil yang tersisa, sebagian sudah pada pulang jadi area itu terasa cukup lengang. Paling itu motor dan mobil karyawan yang lembur seperti kami ini... heheheh.

“Masih jam tujuh malam... mampir mall yuk? Window shopping aja… kan tanggal tua!” ajak Ani.

“Mmmhmm...” Aku sebenarnya enggan untuk menanggapinya. Kalau sudah masuk toko, aku cuma bisa ngiler melihat barang-barang yang terpajang di situ. Nggak sanggup beli hanya bisa melihat-lihat saja.

“Ayolah, bentar aja. Nanti jam delapan tepat cabut deh!” rajuk dia.

“Terserah kamu ajalah!” jawabku pendek. Mau tak mau aku mesti ikut nih, namanya juga numpang membonceng motornya. Tapi Ani tahu diri juga kok, dia mengerti kalau gerbang kostku ditutup jam setengah sepuluh malam, maklum kost putri, jadi ada aturan aturan tak tertulis yang mesti diikuti. 

Sesampai di mall, Ani berubah acara, dia tidak jadi window shopping, tapi dia mengajakku makan minum di sebuah gerai makanan. Katanya lapar... padahal tadi jam lima sore sudah diberi nasi box oleh pihak kantor. Ooh... ternyata hanya ingin ngemil saja dia. Setelah memesan orange juice dan dua potong kue kami duduk di salah satu kursi di gerai itu.

“Wah aku nggak enak nih, selalu kamu traktir!” ucapku sesaat setelah duduk.

“Siapa juga yang bilang aku selalu traktir kamu? Sudahlah nggak usah dipikirin, santai aja.” jawab Ani ringan. Dia lalu menyeruput orange juicenya.

“Eh kayaknya, kamu dapat surat kan minggu kemaren? Dari siapa sih? Hari gini masih kirim kirim surat via pos? Pacar dari kampung ya?” gurau Ani.

“Ah bukan, dari bundaku dari kampung!” jawabku pendek. Malas rasanya membicarakan masalah keluarga sudah beberapa hari ini aku terima sms dari bunda tapi sengaja tidak aku balas. Eeh... sekarang malah kirim surat.

“Oops... sorry!” kata Ani, dia mengerti permasalahanku. 

Saat minum orange juice, pikiranku melayang, membandingkan hidupku dengan Ani memang berbeda, meski gaji yang kami terima sama tapi aku mesti rajin menyisihkan sebagian penghasilanku untuk membantu bunda di kampung. Sebenarnya aku ikhlas loh bisa membantu, apalagi ayah juga sudah berpulang semenjak aku masih balita. Aku tidak ingat sama sekali figure ayah, hanya lewat foto-foto saja aku mengenalnya, jadi aku memahami betul beratnya bunda menghidupi kami sekeluarga.

Dan sekarang setelah kami semua dewasa, ternyata beban hidup bunda juga terus berlanjut, bagaimana tidak? Anak-anaknya tidak ada yang dibilang sukses. Kakak lelaki tertua bernama Yudi, dia sudah menikah dan bekerja di Jakarta. Tapi sebagai pegawai rendahan di sebuah kantor tentu sudah berat untuk menghidupi keluarganya sendiri. Lalu kakak yang kedua bernama Wawan, dia juga sudah bekerja dan menikah. Setali tiga uang dengan kakak tertua, kak Wawan juga dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. 

Sedang kakak ketigaku, kak Adi... wah payah dia. Belum menikah sih tapi dia tidak mau bekerja, jadilah bunda terbebani dengan kondisi ini. Sedang Doni, kakak keempat sudah berpulang ke padaNya sekitar dua tahun lalu karena sakit keras. Akhirnya aku jugalah yang jadi tumpuan bunda untuk sering-sering membantunya. Untuk Bunda aku tidak masalah, tapi untuk kak Adi? Dia kan lelaki dan sudah dewasa pula, mestinya harus bisa menghidupi diri sendiri. Masak selamanya mau begini terus?

“Hayooo... ngelamun ya? Jangan suka melamun ntar dimasukin...”

“Setan ya?” potongku.

“Bukan... tapi dimasukin lalat... hahahahah” jawab Ani sambil tertawa keras.

Aku ikutan tertawa. Lalu kami asyik mengobrol ringan ini itu sambil makan dan minum. Di saat kami asyik menghabiskan waktu tiba-tiba handphone Ani berbunyi.

“Hallo... Ma...!” sapa Ani begitu dia membuka handphone. 

Wah dari mamanya rupanya, biasa kalau Ani ditelpon keluarga kalau sampai malam belum pulang, dan Ani selalu bilang lembur... padahal sedang bersantai ria menghabiskan waktu. Namun tiba-tiba raut muka Ani berubah, wajahnya kelihatan tegang dan cemas. Telepon dari seberang seperti menjelaskan sesuatu yang tidak dia perkirakan sebelumnya.

“Iya... Ma... aku segera pulang!” Ani mematikan handphone, lalu menarik napas panjang.

“Ada apa, An? kayaknya berita berat!” seruku ikut ikutan cemas.

Ani terdiam sesaat lalu katanya, “Kakakku Anton mengalami kecelakaan... sekarang ada di rumah sakit. Mama memintaku segera pulang agar di rumah ada yang jaga!” urai Ani dengan nada sedih.

Aku termangu sebentar mendengar ceritanya, lalu ucapku, “Ya sudah... kamu pulang sekarang saja!”

Tapi belum selesai aku bicara Ani sudah memotongnya, “Tapi aku kan janji mau mengantarkanmu pulang ke kost?”

“Aduh kamu tuh... kasihan mamamu dong! Santai sajalah... aku bisa naik angkot, biasanya angkot sampai jam sembilan kok, jadi masih bisa!” terangku. 

Sebenarnya aku dan Ani searah jalan pulang tapi cuma setengahnya, sampai perempatan ujung kota kami mesti berpisah, Ani berbelok arah ke selatan sedang aku menuju kost ke arah utara. Kalaupun aku nebeng dia sampai perempatan, risiko buat mencari angkutan lanjutan, apalagi malam-malam begini, mendingan aku mencari angkot di tempat mangkalnya... tidak jauh dari sini, atau bisa juga aku menghentikan di depan mall ini, jalur angkot ada yang lewat sini dan kebetulan langsung bisa ke kost tanpa mesti ganti angkutan lagi.

“Salam buat keluarga ya, An? Semoga kakakmu cepat sembuh!” ucapku kepadanya saat kami hendak berpisah.

Ani tersenyum dan mengangguk, “Sampai besok, ya?” jawabnya.

Kami lalu berpisah. Ani pergi ke parkiran sedang aku berdiri di depan mall menunggu angkot datang. Tak seberapa lama angkot yang aku tunggu datang, aku segera naik ke dalamnya, tidak banyak penumpang saat itu, hanya sekitar empat orang saja, maklum sudah malam... dan saat ini sudah banyak orang yang berganti armada motor. Sebenarnya aku sudah berencana membeli motor secara kredit, tapi aku masih ragu karena kondisi keuanganku sungguh mepet. Aku belum lama bekerja jadi tabunganku juga belum cukup, perhitunganku sih mesti ada dana cadangan tiga bulan buat hidup baru berani ambil kredit motor. Aku takut kalau sampai kredit macet motor bisa diambil kembali... lah rugi dong.

Angkot yang aku tumpangi berjalan dengan lambat dan santai karena sekalian mencari tambahan penumpang. Para penumpang kulihat terkantuk-kantuk karena kelelahan. Kalau dari pakaian yang dikenakan rata-rata mereka seperti aku, karyawan swasta.

Pelan tapi pasti, angkot meninggalkan pusat perkotaan menuju pinggiran. Suasana yang tadinya ramai berganti sepi, memang sih ada beberapa motor atau mobil yang lewat tapi itu cuma beberapa saja. Aku memang mencari kost yang ada di pingggiran karena harganya miring. 

“Loh... ada apa ini?” teriak seorang penumpang. 

Aku jadi tersadar dari lamunanku, ternyata angkot berhenti mendadak dan ada asap tipis keluar dari arah depan. Kami semua keluar termasuk sopir dan kernet.

“Wah... maaf... mobilnya mogok!” seru pak sopir.

“Yaaaah... gimana nih!” kami para penumpang bersungut-sungut.

Mungkin karena nggak enak hati dan takut diomeli, sopir itu minta kernet mengembalikan uang kami, terpaksalah kami berpencar mencari jalan pulang sendiri sendiri.

Aku mencoba mencari bantuan, kuambil handphone dari dalam tas dan kucoba menelpon teman kostku, siapa tahu ada yang bisa menjemputku di sini. Sudah malam begini agak sulit mencari angkutan karena jarang ada yang lewat. Untuk ikutan nebeng motor atau mobil yang lewat aku malah takut sendiri.

“Sial... sial...!” gerutuku, ketika kulihat layar handphone meredup... ternyata batrenya habis.

Terpaksa aku berjalan kaki menuju kost, belum begitu malam sih... baru jam delapan lebih lima belas menit. Aku perkirakan kurang dari satu jam aku bisa sampai kost jadi pintu gerbang belum ditutup.

Suasana malam begitu sepi, angin juga sepoi sepoi menerpa diriku dan mempermainkan rambutku. Hawa dingin mulai menusuk tubuhku karena aku tidak memakai jaket. Entah berapa lama aku berjalan tapi dari belakang kulihat nyala mobil… ah paling hanya mobil yang lewat begitu pikirku.

Eh... ternyata bukan mobil tapi angkot... aku segera melambaikan tanganku sebagai tanda aku bermaksud naik. Angkot itu lalu berhenti di depanku, aku segera masuk ke dalamnya. Cukup banyak penumpangnya, kulihat tiap deret kursi ada paling tidak satu atau dua orang. Aku duduk di salah satu kursi yang berisi satu orang. Setelah membayar ke kernet aku segera duduk dengan santai. Untunglah ada angkot yang lewat jadi aku tidak perlu berjalan kaki jauh, maklum aku sudah capek sekali setelah seharian kerja dan lembur pula.

Angin yang berhembus dari arah pintu membuatku semakin mengantuk. Ya aku duduk di kursi persis di samping pintu masuk.

“Pak, saya turun di perumahan Lembayung Asri ya!” seruku kepada kernet.

Kernet itu mengangguk lalu kembali mengalihkan pandangan keluar mencari penumpang lain. Sebenarnya aku agak heran dengan suasana angkot ini, karena tidak ada suara keriuhan yang kudengar baik dari para penumpang maupun sopir dan kernet. Mereka tampak diam membisu. Ataukah karena sudah malam sehingga mereka merasa lelah? Kernet yang biasa teriak-teriak mencari penumpang juga tampak berdiri diam saja bergelantung di pintu, para penumpang juga seakan di dunianya sendiri sendiri, diam tanpa ada interaksi satu sama lain. Kalau sopir sih aku paham... dia mesti konsentrasi menjalankan mesin.

“Pulang kerja, Pak?” kucoba membuka percakapan dengan bapak tua yang duduk di sampingku.

Bapak itu memalingkan wajahnya sebentar ke arahku, lalu mengangguk cepat dan kembali menghadap kedepan. Aneh... kenapa wajah bapak itu terlihat pucat dan tidak ada sinar kehidupan? Ah mungkin karena sudah tua dan sedang sakit... begitu aku menghibur diri. Aku jadi malas mengajaknya bicara, mendingan aku tiduran aja melepas lelah... tidur-tidur ayam begitu istilahnya, toh aku sudah bilang ke kernet untuk menurunkanku di perumahan Lembayung Asri. Nyaman dan enak sekali rasanya, sudah badan dalam kondisi capek, ditemani angin yang menerpaku serta suasana angkot yang sunyi tanpa suara… klop deh.

“Aduh... ada apa ini!” teriakku saat kepalaku membentur sesuatu yang keras. Kuraba kepalaku? Terasa sedikit mengeras dan menyembul... Aku mencoba membuka mata, meski terasa begitu berat karena rasa kantuk masih menggelayuti. Semburat tipis cahaya matahari terlihat dari ufuk timur, pertanda pagi sudah menjelang, kugosok-gosok kelopak mataku dengan tangan karena aku merasa ada yang aneh: benarkah ini kenyataan ataukah hanya mimpi? 

Kulirik jam yang melingkar di tanganku... jam enam pagi lebih beberapa menit. Aku belum sepenuhnya sadar... kulihat sekeliling seperti masih samar-samar.

Aku segera bangkit dari dudukku karena aku merasa pemandangan sekelilingku sungguh aneh, aku merasa tidak ada di kamar kostku tapi juga tidak di dalam angkot. Terakhir kuingat aku masih di angkot, tapi kini aku dimana ya? Kutajamkan mataku dan aku terbelalak... kenapa aku bisa ada di tengah areal pekuburan? Aku benar-benar tidak percaya, aku bahkan sampai mencubit pipiku berkali kali sambil terus mengucap istigfhar... ya ternyata benar! Aku memang ada di pekuburan. 

Masya Allah... jadi semalam aku naik angkot siluman? Dan kepalaku terbentur salah satu batu nisan yang ada di situ. Gemetaran aku segara berdiri... Kulihat pemukiman penduduk berada tidak terlalu jauh dari sini... aku harus segera mencapainya. Sambil terus berdoa dalam hati aku berlari terbirit-birit meninggalkan areal pekuburan itu.

Thursday, July 18, 2019

AKIK KAKEK (Kudus)

Cincin akik ini dulu punya kakek, warna batu akik yang biru tua dan bening sangat kontras dengan rangkanya yang terbuat dari emas, membuatnya tampak mewah dan elegan. Jauh sebelum booming akik seperti saat ini ternyata kakek sudah tertarik untuk memilikinya. Aku kurang tahu berapa jumlah yang beliau punya, tapi menurut ibuku ada banyak karena kakek termasuk kolektor akik, namun sepeninggal beliau cincin-cincin itu dijual satu demi satu dan pada akhirnya hanya tinggal beberapa, salah satunya yang berwarna biru itu yang sekarang dimiliki oleh ibu. Menurut cerita ibu, nenek terpaksa menjualnya untuk menyambung hidup, kakek meninggal saat anak-anaknya masih di usia belia dan butuh biaya banyak untuk sekolah. Sayang aku tidak mengenal kakekku itu. Aku hanya tahu dari foto dan cerita ibu serta nenek. 

Aku ingat saat masih balita aku sering dibawa ibu berkunjung ke rumah nenek, meski berlainan kota tapi rumah ibu tidak begitu jauh dari rumah nenek, jadi bila pagi main ke sana sorenya bisa langsung pulang. Nenek senang sekali dengan kedatangan kami, maklum aku ini cucu pertama saat itu, adik-adik ibu yang semua lelaki belum ada yang berkeluarga. Aku sendiri juga gembira kalau diajak ibu mengunjunginya sebab aku jadi pusat perhatian dan kesayangannya, apa yang aku minta pasti dikasihnya. Aku masih kecil kala itu jadi yang kuminta juga tidak jauh dari makanan dan mainan karena hanya dua hal itu yang ada di pikiranku. 

“Putri main sendiri dulu, ya? Ibu mau bantu nenek memasak!” begitu kata ibu.

Ibu mendudukkanku di bangku panjang dan meninggalkan beberapa mainan di sampingku lalu dia masuk ke dalam rumah. Bangku itu oleh nenek ditempatkan di beranda belakang menghadap kebun. Rumah jaman dulu sebagian besar memang punya halaman yang luas. Begitupun punya nenek. Di kebun itu ditanami aneka tanaman bunga dan buah. Dari tempat aku duduk aku bisa melempar pandangan sekeliling menikmati alam, ditambah hembusan angin yang semilir membuat suasana bertambah elok dan menyegarkan.

Kata ibu, nenek juga suka menghabiskan waktu dengan duduk di bangku panjang itu sambil tiduran dan menikmati alam. Pantas ada sebuah bantal di situ, sebenarnya nenek tinggal sendirian di sini, memang sih ada pak Sonto dan istri yang membantunya, tapi mereka cuma kerja paruh waktu. Pagi-pagi mereka datang untuk membersihkan rumah dan halaman, mencuci pakaian serta pekerjaan rumah tangga lainnya, lalu setelah semua selesai mereka kembali ke rumah. Sorenya mereka datang lagi untuk melihat nenek serta melakukan pekerjaan lainnya. Untuk makanan nenek memilih memasak sendiri karena dia suka sekali memasak. Masakannya sangat enak. Ibu sering membawanya pulang.

Tapi namanya anak-anak, aku sering merasa bosan bila bermain sendirian. Kalau aku ngantuk aku biasanya langsung tertidur di situ dengan memakai bantal yang ada, namun bila masih terjaga aku sering kali naik bangku dan mencuri pandangan ruangan itu yang dulu punya kakek, tepatnya ruang kerja pribadi dimana beliau mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaannya dan di situ pula menempatkan barang-barang pribadinya seperti koleksi akiknya itu. Oleh nenek, ruangan itu selalu dikunci, aku bisa main dimanapun di dalam rumah kecuali ruangan itu, mungkin karena ada barang-barang peninggalan kakek di situ sehingga nenek takut kalau aku berantakin... heheh… namanya juga anak kecil. Kamar pribadi kakek terletak di belakang. Karena itu aku sering mencuri pandangan lewat kaca jendela. Ya bangku itu ditempatkan di bawah jendela. Makanya dengan berdiri di atasnya aku bisa melayangkan pandangan atas ruangan itu dari balik kaca. Jaman dulu memang tidak biasa dengan namanya teralis besi, jadi dengaan jendela yang lebar segala seuatu yang ada di dalam ruangan bisa terlihat dengan jelas. Di dalam ruangan ada almari kaca besar, di dalamnya kulihat ada beberapa keris, patung-patung, dan koleksi akik kakek. Batu akik itu bermacam-macam warna, dari yang berwarna cerah semacam biru, merah, kuning, hijau juga ada yang bermotif dan berwarna gelap seperti coklat, hitam, hijau tua dan masih banyak lagi. Namun satu yang mencuri perhatianku adalah yang berwarnaa biru itu dengan rangka emasnya.

“Putri sudah lapar? Makan dulu yuk!” ajak ibu sesaat kemudian.

Aku masih tertarik melihat suasana ruangan di balik kaca jendela sebenarnya, maka ibu terpaksa mengambilku dari bangku itu dan menggendongnya. Dia membawaku masuk ke ruang makan.

“Kalau masih belum lapar ya biar bermain dulu saja!” begitu kata nenek melihat aku cemberut di balik gendongan ibu.

“Kalau dipaksa makan juga Putri pasti tidak selera.” tambah nenek lagi.

Ibu menggeleng, “Putri ini susah makan Bu, kalau tidak dipaksa makan dan tidak ada teman yang menemani makan dia lebih tidak selera. Nanti yang repot aku juga!” begitu kata ibu.

“Tapi kan makanan juga belum siap benar, biar saja Putri main dulu di belakang!” dalih nenek, aku tersenyum senang mendengar ucapan nenek sedang ibu terlihat sedikit cemberut.

“Iya deh, Putri bisa main dulu. Tapi nanti kalau makanan sudah siap, harus ke sini bila ibu panggil!”

“Iya... iya!” jawabku senang. Turun dari gendongan aku segera berlari menuju belakang rumah.

Aku kembali naik bangku dan melihat ruangan kakek dari balik kaca jendela, jendela besar model arsitektur jaman Belanda dimana bangunan, pintu dan jendela berukuran besar besar jadi bila saja jendela itu terbuka maka pemandangan di luar langsung menyambutnya, selain udara yang lepas keluar masuk tanpa halangan, sinar matahari juga leluasa menyinari ruang. Dan bila dalam kondisi tertutup pun, bisa terlihat isi ruangan. Aku tidak lama menikmati pandangan isi ruangaan kakek karena kudengar ibu memanggilku untuk segera makan.

Tahun berganti, aku juga beranjak dewasa. Aku mulai jarang diajak ibu mengunjungi nenek karena kami pindah rumah mengikuti tugas ayah ke luar pulau, jarak yang jauh serta biaya hidup yang semakin tinggi membuat kami paling beberapa tahun sekali baru bisa pergi ke kota dimana nenek tinggal. Hingga suatu ketika aku diberitahu ibu sebuah berita yang mengagetkanku. Nenek sudah berpulang di saat usiaku belasan tahun dan masih duduk di kelas tiga sekolah menengah atas.

“Ibu besok akan pulang ke Kudus untuk menghadiri pemakaman nenek!” ujar ibu dengan nada sedih.

“Putri dan ayah bagaimana?” tanyaku penasaran. Sebenarnya aku ingin ikut serta.

“Putri kan baru menjalani ujian akhir di sekolah? Ayahmu juga ada tugas luar kota. Jadi hanya ibu dulu, nanti kalau ada waktu longgar kita bisa sama-sama mengunjungi makam nenek!”.

Ibu lalu mengemasi barang-barang yang akan dibawa, sebuah tas koper siap menampungnya. Aku tahu ibu sangat sedih karena ditinggal orang yang sudah melahirkan dan merawatnya. Begitupun aku, kenangan masa lalu saat aku main ke sana berkelabat di kepala, aku ingat nenek yang memanjakanku. Beliau selalu menyambutku dengan riang, mengajakku bermain-main dan yang paling aku suka adalah aku bebas bermain di halaman belakang serta mengintip isi kamar kakek.

Ibu menepati janjinya, saat ada liburan sekolah yang panjang, dia mengajakku pulang ke Jawa. Ayah tidak bisa ikut karena ada pekerjaan. Rencana kami akan tinggal sekitar semingguan di sana.
“Kita akan tinggal di rumah nenek ya?” tanyaku kala itu. Ibu menggeleng. “Kenapa?”

“Rumah itu sudah dikontrakkan, jadi kita akan menginap di hotel!”

Ternyata sepeninggal nenek, oleh ibu dan adik-adiknya rumah itu berikut mebel mebelnya disewakan. Letaknya yang strategis dengan arsitekturnya yang apik ala Belanda, tidak sulit untuk mendapatkan pengontrak. Ada sebuah keluarga keturunan asing yang tertarik. Kami juga diuntungkan karena mendapat harga sewa yang lumayan tinggi, maklum orang yang menyewa itu sudah terlanjur jatuh cinta dengan bangunan kuno nan artistik itu.

Petang hari kami sampai di hotel tempat kami akan menginap. Ibu sudah reservasi sebelumnya jadi kami sudah pasti mendapat kamar, liburan panjang begini kalau tidak pesan tempat jauh jauh hari sebelumnya bisa kehabisan.

“Kapan kita akan ke makam nenek?” tanyaku sambil aku merebahkan badan di atas kasur. Capek juga ternyata seharian dalam perjalanan.

“Besok sore!” jawabnya pendek sambil menutup pintu kamar. Dia lalu menempatkan koper besar ke dalam almari.

“Kok tidak di pagi hari saja sih?”

“Nggak usah tergesa, toh kita semingguan di sini!”

Aku terdiam, entah mengapa aku begitu ingin segera sampai di makam nenek karena ini kali pertama bagiku.
“Besok pagi kita keliling kota dulu naik becak, siangnya mampir ke pasar gede di pusat kota untuk membeli bunga, nah sorenya kita ke makam nenek!”

 “Wah keliling kota naik becak? Asyik tuh...!” seruku senang, ibu tersenyum mendengar kataku.

Setelah keluar untuk makan malam, kami langsung kembali ke hotel untuk beristirahat... maklum lelah sekali. Malam pun berlalu dengan cepat, tahu-tahu saat membuka mata, sinar matahari sudah menerobos masuk lewat kisi kisi angin.

“Wah kesiangan nih!” gerutuku dalam hati.

Kuambil jam tangan yang aku taruh di meja dan melihatnya, ternyata sudah pukul delapan. Kualihkan pandangan ke tempat tidur satunya. Tidak ada, rupanya ibu sudah ada di kamar mandi, bunyi gemericik air terdengar. Kumbil remote dan kunyalakan televisi, menunggu ibu selesai mandi, aku menonton berita.

“Sudah bangun, Put? Gantian mandi sana!” ujarnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

“Oke...” seruku pendek, aku lalu bergegas ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian kami lalu keluar kamar, kunci kami titipkan di ruang resepsionis. Tidak sulit untuk mencari becak, karena di depan hotel sudah berderet becak yang mangkal. Ibu tawar menawar harga dengan salah satu tukang becak, selanjutnya kami berkeliling kota dengan naik becak.

“Wah, sudah banyak perubahan, ya!” seruku, seraya melihat-lihat pemandangan sekeliling. Beberapa bangunan besar yang dulu belum ada ketika aku masih kecil bermunculan.

“Kayaknya baru kemaren ya, Bu? Sudah banyak perubahan!”
“Mhmm…” gumamnya.

Siangnya kami mampir ke pasar untuk membeli bunga tabur. Pasar yang kami tuju itu terletak di pusat kota, dari luar terlihat bagus karena sudah direnovasi menjadi bangunan modern. Sedang bagian dalam meski sudah tertata pembagian area berjualan tapi kesan bersih dan rapi masih agak kurang. Mungkin dengan berjalannya waktu, pasar tradisional ini juga akan ikut berbenah mempercantik diri sehingga membuat para pengunjung nyaman dalam berbelanja.

Ibu membeli satu paket bunga di dalam keranjang bambu, bunga mawar warna merah dan putih berpadu dengan bunga kantil yang harum.

“Cuma beli satu keranjang saja, Bu?” tanyaku.

“Ah, bunga kan cuma sebagai simbol, yang utama kita mesti mendoakan nenek agar arwahnya diterima di sisi-Nya.” jawab ibu.

Aku jadi ingat pelajaran agama di sekolah bahwa tugas kita bagi anak dan keturunannya untuk memanjatkan doa bagi arwah orang tua kita, sebab kalau sudah meninggal yang dibutuhkan memang doa kita semua.

“Nanti kita mampir ke rumah nenek nggak Bu?” tanyaku ketika kami keluar dari area pasar menuju tukang becak yang setia menunggu di luar.

“Loh, kan rumah nenek sudah dikontrak orang, sampai jangka waktu tertentu yang sudah disepakati rumah itu sudah jadi hak orang yang menyewanya...”

“Tapi Putri kangen Bu, sudah lama sekali nggak nengok rumah nenek!” rengekku.

“Ya sudahlah, nanti kita lewat di depan rumahnya saja ya sebagai obat kangen!”

Akhirnya kami kembali dulu ke hotel untuk istirahat sejenak dan makan siang, kami sudah pesan ke tukang becak itu untuk datang lagi nanti sore selepas Ashar. Bunga dalam keranjang itu kami taruh di atas meja, semerbak wangi harum bunga seketika memenuhi ruangan.

“Putri pingin makan apa?” ibu menawariku.

“Makan soto Kudus pak Darto aja, Bu!” jawabku.

“Wow... kamu masih ingat juga ya dengan makanan kesukaanmu waktu kecil!” 

Aku mengangguk, soto Kudus pak Darto itu dulu kesukaanku. Saat menengok nenek, ibu sering mengajakku ke kota buat belanja kebutuhan nenek sekalian mampir makan soto itu.

“Ya sudah, kita makan siang di situ saja. Nanti kita bisa jalan kaki, kan tidak terlalu jauh dari Hotel tempat kita menginap!”

Warung soto itu ternyata masih sama seperti dulu, bentuk bangunan dan perabotannya tidak banyak perubahan, memang sih sebagian besar perabot sudah diganti tapi modelnya masih seperti dulu, meja panjang yang diapit dengan dua kursi panjang di kedua sisinya. Ada sekitar enam set meja kursi di warung itu. Bangunan warungnya juga masih sama, separuh berujud anyaman bambu dan sisanya dibiarkan tanpa penutup, membuat udara leluasa keluar masuk tidak perlu ada kipas angin apalagi AC. Katanya sih udara asli lebih baik daripada kipas dan AC.

Tidak banyak pengunjung kala itu, karena jam makan yang sudah lewat. Kami datang sekitar jam dua siang. Biasanya sih antara jam sebelas sampai jam satu warung itu penuh orang, kebanyakan para pekerja yang sedang istirahat makan siang.

“Gimana sotonya? Masih sama atau ada perubahan nih?” pancing ibu.

“Masih enak seperti dulu, Bu... suasananya juga masih sama!” jawabku puas. Ini bukan sekedar makan, tapi juga bernostalgia.

Puas menyantap makan siang, kami kembali ke hotel. Letaknya tidak terlalu jauh hanya sekitar seratus meteran saja. Kami berjalan dengan santai sambil menikmati suasana kota.

Sore hari, kami dengan naik becak yang sudah dipesan sebelumnya menuju pemakaman. Arealnya terletak di perbatasan desa, agak jauh dari pemukiman penduduk. Berdampiungan dengan persawahan yang membentang di kanan kiri serta belakang, membuat areal pekuburan itu tampak asri, apalagi sejumlah pohon kamboja tumbuh subur dan bunganya bermekaran.

Ibu langsung membimbingku menuju makam nenek yang terletak di bagian tengah, makamnya tampak bersih dan terawat.

“Makam nenek bersih dan rapi ya Bu!” seruku takjub, karena melihat makam di sekitarnya yang sebagian kurang terawat, beda benar dengan makam nenek.

“Oh iyalah, aku sudah meminta pak Sonto untuk senantiasa menjaga kebersihannya. Dia tidak hanya merawat makam tapi juga bertugas mengawasi rumah peninggalan nenek. Aku sudah minta kepada penyewa agar pak Sonto bisa jadi tukang kebunnya. Untung mereka tidak keberatan. Tahu sendiri pak Sonto dan istrinya kan pekerja yang rajin dan baik. Banyak yang cocok!” jawab ibu panjang lebar.

“Oh iya, ini untukmu.” ucap Ibu seraya mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari tasnya. 

“Kata nenek, kamu suka sekali melihat barang ini.” lanjutnya sambil membuka bungkusan itu.

“Hah... itu kan cincin akik milik kakek!” seruku tidak percaya.

Ibu tersenyum, “Nenek pernah cerita ke Ibu, kalau waktu kecil dulu kamu suka berdiri di atas bangku dan mengintip ruang kerja kakek. Kamu suka menunjuk-nunjuk cincin akik itu terutama yang berwarna biru. Ini buktinya!”

Ibu menyerahkan cincin akik warna biru dan pembungkusnya yang ternyata hasil gambarku waktu kecil dulu.
“Ini gambarku ya, Bu?” tanyaku tak percaya.

Ibu mengangguk, “Iya, nenek bahkan menyimpannya dan memintaku untuk memberikannya kepadamu kelak!”

Kuamati gambar itu, gambar khas anak kecil. Tidak beraturan tapi jelas terlihat gambar sebentuk cincin akik dan diwarnai warna biru dengan pastel krayon.

Aku terharu, tidak kusangka nenek begitu memperhatikanku. Cincin akik warna biru itu langsung kusematkan di jariku, meski sedikit kebesaran tapi aku senang memakainya, ada nilai sentimental di situ.

Kemudian kami menabur bunga di atas makam nenek, dilanjutkan berdoa. Sekelebat bayangan nenek hadir di benakku. Dalam hati aku memohon kepada Tuhan agar arwah nenek diterima dan dilancarkan di dunia sana. 

Semakin sore makin banyak orang yang datang untuk menabur bunga. Setelah selesai kamipun berlalu. 

“Pak, nanti mampir dulu ke rumah loji dekat kelurahan itu, ya!” pinta Ibu.

“Oh rumah besar model Belanda yang disewa bule itu, ya?” timpal si tukang becak. 

Sepertinya dia tahu benar kalau penyewa rumah itu orang asing. Tapi kuduga dia tidak tahu kalau kami ini pemiliknya. Tentu saja karena kami jarang ke sini.

“Mister yang tinggal di situ juga sering naik becak kok, aku dan rekan-rekan yang lain sudah sering kali mengantar mereka sekeluarga.” tambahnya lagi.

Pelan tapi pasti, becak itu dikayuh menuju rumah nenek, kami tidak perlu memberi arahan karena dia sudah tahu dengan pasti letak rumah itu. Sebelum sampai, ibu sudah memberi pesan lewat sms ke pak Sonto bahwa kami akan mampir ke sana sebentar. Dari jawaban sms-nya kami tahu kalau pak Sonto sudah ada di sana sedang mengerjakan tugas membersihkan halaman rumah.

“Berhenti di sini dulu Pak, ini mau mampir sebentar, ditunggu ya!” seru ibu meminta tukang becak itu menghentikan becaknya.

Kami turun lalu berjalan menuju pagar. Kulihat pak Sonto sedang duduk di teras depan, begitu ia melihat kami, dia langsung menyambut.

“Sore, Bu Ningsih!” sapanya sambil membuka gerbang. Dia lalu menyalami ibu dan aku.

“Sore juga, kabar simbok gimana?” balas ibu menanyakan istri pak Sonto.

“Kami sekeluarga sehat sehat saja Bu, istri baru pergi ke rumah saudara di kampung, tapi katanya besok mau pulang, kan Bu Ningsih mau menengok kami besok!”

“Iya Pak, rencana sih besok baru mau ke sini, tapi Putri nya sudah kangen ingin lihat rumah tua ini!”

Pak Sonto tersenyum lalu pandangannya beralih kepadaku.

“Wah Nak Putri sudah besar, ya! Kangen dengan rumah nenek ya?”

Aku tersenyum malu.

“Maaf Bu Ningsih, mister bersama keluarga lagi pergi keluar kota. Jadi rumah juga terkunci, mungkin kalau...”

“Ah santai ajak Pak, kita juga cuma lihat sekeliling halaman, buat obat kangen saja. Lagipula rumah ini kan sudah disewa, jadi ya itu sudah hak pengontrak!”

“Nak Putri nggak apa-apa kan?” tanya Pak Sonto

Aku mengangguk, “Cuma pingin lihat sekilas saja kok, Pak!” jawabku membenarkan pernyataan ibu..

Akhirnya kami bertiga berjalan mengitari halaman rumah, pak Sonto menjelaskan ke ibu kondisi rumah itu.

“Semua terawat dengan rapi kok Bu, perabotan di dalam rumah juga terjaga. Kalau saja ibu memberitahu bakal mampir ke sini menengok rumah tentu aku akan bilang ke mister, jadi ada kesempatan buat lihat bagian dalam, kan sayang sudah dari jauh cuma lihat luarnya saja!”

“Ah, tidak apa-apa Pak. Seperti yang sudah aku bilang tadi, rumah ini sudah disewakan!”

Lalu mereka berbincang tentang segala hal mengenai rumah, perubahan kota dan lain lainnya. Aku jadi kurang tertarik dengan pembicaraan mereka. Rasa bosan mulai menghinggapiku.

“Bu, Pak Sonto... Putri mau main ke belakang dulu, ya?” selaku.

“Loh kenapa Put?” tanya Ibu.

“Putri mau lihat halaman belakang lagi, masih kangen sama kebun buah-buahan di belakang!”

“Silakan Nak Putri!” jawab pak Sonto.

Aku lalu berlari meninggalkan mereka, langsung menuju halaman belakang. Ternyata kebun itu tidak banyak perubahan, beberapa pohon buah-buahan masih berdiri di sana. Pohon sawo yang ada di samping kebun malah terlihat makin lebat, sedang pohon mangga di sisi satunya juga semakin tinggi. Namun mataku tentu saja tertuju dengan bangku panjang yang tetap ada di tempatnya. Kulihat bangku itu ada di teras belakang menghadap kebun sama seperti dulu. Dan tetap ditempatkan di bawah jendela besar itu. Aku jadi ingin duduk di situ untuk mengenang masa kecilku.

Kuamati bangku itu, masih terlihat kokoh. Hanya saja warna kayu berubah sedikit kusam, dan rasanya tidak puas hati ini kalau tidak mengintip ruang kerja kakek dari balik jendela. Kali ini aku tidak perlu berdiri di atasnya, cukup mendongakkan kepala saja.

 Aku duduk santai sambil pandangan mataku aku tebar di sekeliling ruangan itu. Sekelebat masa lalu pun hadir, aku ingat benar isi ruangan itu, meski mebel-mebel besar masih ada di tempatnya tapi isinya sudah berbeda. Kalau dulu almari kaca besar kakek berisi patung patung, keris dan koleksi akik, kini isinya berupa koleksi porselen. 

Sinar matahari mulai tenggelam, suasana pun menjadi berubah temaram karena lampu-lampu belum dihidupkan. Memang sih belum terlalu gelap karena bias sinar matahari masih terlihat di ufuk timur apalagi cuaca juga cerah. Tidak seberapa lama. Kudengar suara ibu dan pak Sonto dari arah samping rumah akupun segera bergegas berlari menuju mereka.

“Putri!” seru ibu, “Sudah puas kan lihat rumah nenek? Sudah petang nih, kita pulang sekarang ya?” ajak ibu.

“Iya, Bu!” jawabku pendek.

“Tidak banyak perubahan kan Nak Putri?” tanya pak Sonto.

“Iya, Pak... masih seperti dulu, pohon-pohon buahnya juga masih ada tuh!”

Kami lalu berjalan menuju gerbang depan tapi belum sampai sana tiba-tiba ibu berseru.
“Loh, tasmu mana?”

Baru aku ingat, aku tadi menaruh tas di teras belakang, aku menaruhnya di atas bangku panjang itu.

“Oh iya, masih ada di belakang, kelupaan… aku ambil dulu ya, Bu!”

“Awas jangan sampai ada yang tertinggal, aku tunggu di depan ya.”

Aku berlari cepat menuju belakang untuk mengambil tas yang tertinggal, dan benar, tas itu masih ada di bangku itu, aku segera mengambilnya dan bermaksud segera kembali menemui ibu di depan. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa ada sesuatu di dalam ruangan itu yang membuatku memalingkan muka kembali. Aku terkejut... di dalam ruangan itu kulihat sosok seorang pria tua berdiri memandang keluar tepatnya menatapku. Padahal rumah itu kata pak Sonto terkunci karena pemiliknya sedang keluar kota, penasaran akupun menghampiri kaca jendela, dengan seksama karena pencahayaan sangat minim kuamati sosok itu, eh... dia tersenyum ke arahku dan menunjuk ke jari tanganku yang mengenakan cincin... akupun jadi melongok ke akik warna biru yang aku kenakan, namun ketika kupalingkan pandangan ke orang tua itu lagi, sosok itu sudah menghilang. Aku terkesima dibuatnya, kucoba mengingat ingat, karena aku merasa pernah mengenalinya, beberapa saat kemudian baru aku sadar dan ingat. Ibu pernah menunjukkan foto kakek saat aku melihat-lihat album foto di rumah nenek. Lelaki tua yang barusan aku lihat... memang benar sosok kakek almarhum.

Wednesday, July 17, 2019

Bus Maut (Surabaya)

Aku memasukkan beberapa baju dan barang lain ke dalam koper dengan tergesa, di dalam pikiranku hanya ada satu yaitu ingin segera sampai rumah! Karena dalam keadaan mendadak aku jadi sembarangan saja memasukkan barang-barang itu, atau bisa disebut kujejalkan saja tanpa menatanya dengan rapi. Malam ini aku harus segera ke terminal Bungur Asih, setelah mendengar kabar dari Yogyakarta bahwa ayahku meninggal karena kecelakaan, aku terpaksa harus pulang malam ini juga untuk bisa menghadiri pemakaman beliau keesokan harinya. Sebenarnya aku bisa memilih naik angkutan lain bila tidak ingin tergesa seperti ini, misalnya saja pesawat, tapi itu tentu menguras kantongku. Sebagai seorang karyawan rendahan di sebuah pabrik, aku tidak mempunyai penghasilan yang memadai. Jadi naik angkutan darat semacam bis inilah satu satunya pilihanku, bis pun juga yang kelas ekonomi. 

“Loh... mau kemana kamu Yus? Kok mau bawa koper segala?” seru Arifin terkejut melihatku mengemasi barang.

 “Aku mesti balik ke Yogyakarta malam ini!” ucapku dengan suara sedih.

 “Wah... ada apa nih?” Arifin seperti mengerti kesedihanku, mungkin mendengar nada suaraku dia sudah bisa menangkapnya.

Kupalingkan sebentar mukaku kepadanya, kulihat wajah Arifin bingung campur was-was. 

Lalu kujawab pelan, “Ayahku meninggal!”

“Innalilahi Wa Inna Illahi Rojiun... turut berbela sungkawa! Pemakamannya besok ya?” tanya dia sembari menghampiriku, dia duduk di sudut tempat tidur tempatku mengemasi barang.

“Iya.” jawabku pendek sambil terus memasukkan barang lainnya.

Arifin mengangguk-angguk, dia tetap duduk di situ dalam diam dan melihatku dengan tatapan sedih. Dia itu teman kostku, agar hemat kami memilih sekamar berisi dua orang. Meski beda daerah, aku asli Jogja dan dia asal Medan namun kami cocok satu sama lain. Mungkin karena sama-sama pekerja dan perantau jadi merasa senasib.

“Sudah selesai, Yus?” tanyanya begitu melihatku menutup koper.

“Mmh…” aku mengangguk mengiyakan. 

“Eh... ke terminal naik apa? Aku antar ya pakai motor!” dia menawarkan diri untuk mengantarku, memang itu sih yang aku tunggu... tapi kan nggak enak kalau aku mendahului, aku sadar dia baru pulang kerja dan pasti lelah sekali karena lembur sampai malam begini.

“Makasih ya... ok deh kita berangkat sekarang aja!” pintaku.

Kami berdua lalu naik motor berboncengan menuju terminal. Setelah menurunkanku di terminal dia pun pulang. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan melambaikan tangan.

Aku segera membeli tiket lalu mencari kursi untuk beristirahat sambil menunggu bis datang. Di kursi terminal aku celingak-celinguk tidak tahu mau ngapain, maklum lah dengan hati yang tidak tenang kepikiran ayah yang telah berpulang, konsentrasiku terpecah. Tiba-tiba ada seorang perempuan tua dengan seorang anak kecil menghampiriku.

“Adik mau pulang ke Jogja ya? Kami berdua juga. Tuh bus nya.” kata perempuan itu sambil menunjuk sebuah bus yang tampak tidak terlalu penuh penumpang.

Aku menganguk, “Iya Bu, aku juga mau ke Yogyakarta.”

“Mari Dik..” ajaknya.

“Oh mari... mari...” jawabku tergesa-gesa mengikuti perempuan yang bergegas menuju bus kelas ekonomi itu.

Aku masuk bis dan mencari kursi, hanya ada beberapa orang di situ. Si ibu dan anak duduk berdampingan di tengah badan bus. Tersenyum aku menyapa mereka dan duduk di belakangnya. 

“Minum Dik?” ibu itu mendatangiku dan menawarkan minuman. Tiba-tiba saja dia dan anaknya berpindah tempat di sampingku.

“Maaf Bu, saya tidak haus!” tolakku halus, aku teringat modus penipuan dengan cara menawarkan minuman yang ternyata telah dicampur obat tidur, bukannya curiga tapi tak ada salahnya untuk waspada dan tidak terlalu mempercayai orang lain. Selain itu aku juga takut kena beser, minum di malam hari yang dingin begini sering kali membuatku cepat ingin ke kamar kecil. Naik bis kelas ekonomi seperti ini mesti menunggu pom bensin atau terminal pemberhentian selanjutnya karena bis tidak menyediakan fasilitas toilet.

“Kenapa ibu dan anaknya pindah duduk di sampingku ya?” tanyaku dalam hati, tapi aku tidak sampai hati untuk menanyakannya.

“Oh ya, kenalkan nama saya Rumiyati dan ini cucu saya Arini Putri!” Ibu itu memperkenalkan diri.

“Gayus Setiawan!” aku terpaksa membalasnya, padahal aku sudah capek sekali dan ingin tidur.

“Ayah mana, Eyang?” tiba-tiba si kecil Arini merengek menanyakan ayahnya kepada si nenek.

Ibu itu cuma diam dan mengelus elus rambut cucunya, “Kita terpisah sama ayah, Nak... ntar kita cari lagi ya!”

Aku terkejut mendengar keterangan si ibu, terpisah? Apa mungkin si ayah ketinggalan bis? Sebenarnya aku ingin menanyakan bagaimana sampai terpisah tapi aku tahan, kupikir... kenapa mesti mengurusi urusan orang lain? Toh si anak kecil itu bersama neneknya dan ayahnya juga sudah dewasa. Mereka mestinya berhati-hati selama dalam perjalanan, kalau yang terpisah itu si anak kecil bagaimana? Lebih rumit kan?

Untuk menghindari persinggungan lebih jauh lagi, akupun pura-pura menguap berkali kali dan memejamkan mata. Itu cara yang paling mudah dan tepat untuk menghindari pembicaraan dengan orang lain. Namun karena badan memang benar-benar capek setelah seharian bekerja, akupun jatuh tertidur.

Kudengar walaupun samar-samar bus itu beranjak keluar terminal. Dengan mata yang lelah menahan kantuk aku melihat kondisi dalam bus yang tidak seperti biasanya. Para penumpang duduk manis di kursinya, tiada suara gaduh seperti bus pada umumnya. Tapi mataku benar-benar tidak bisa ditahan lagi, kantuk yang sedemikian mengelanyuti membuatku tertidur pulas.

Entah kenapa, dalam tidur aku bermimpi bertemu ayahku.

“Yus... bangun!” seru beliau.

Aku seperti terbangun, tapi tidak bisa berucap apapun. Aku tahu ayahku sudah meninggal. Aku mendengarnya dari adikku Yunita yang meneleponku. Saat itu aku baru saja pulang dari lembur kerja, selesai mandi aku melihat handphone ada panggilan tidak terjawab berulang kali dan ada pula sms yang masuk. Begitu kubaca ternyata kabar kalau ayah sudah berpulang. Aku telepon Yunita, dan tahulah aku kalau ayah meninggal karena kecelakaan.

Kulihat ayah tersenyum dan berkata, “Kamu naik bis yang lain saja!”

Seperti tersihir aku segera beranjak dari kursi untuk turun dari bis sesuai saran ayah. Namun tiba-tiba aku merasa semua menjadi berubah, ayah menghilang begitu saja padahal aku mengikuti langkah beliau menuju pintu bis. Pemandangan dalam bis juga memudar laksana kabut terkena sinar matahari. Orang-orang di dalam bis juga seperti menghilang bersamaan dengan menipisnya kabut. Kepalaku laksana gasing berputar putar membuatku menjadi pusing tujuh keliling. Mataku nanar... semua terlihat ganjil dan mustahil.

“Heh... bangun… bangun...!” 

Aku merasakan bahuku diguncang guncang seseorang. Dengan mata yang masih seperti lem karena lengket aku coba membuka mata, kulihat seseorang berdiri di depanku.

“Adik tadi kan beli tiket jurusan Jogjakarta, ayo segera naik bis...!” ajaknya.

Aku masih belum bisa sepenuhnya sadar, aku memang melihat seorang pria tua berdiri di hadapanku, tapi aku tidak mengerti kondisiku... mungkin aku seperti orang linglung.

 “Ucap Bismillah! Istigfar...!” pria itu memintaku mengucapkannya. Akupun mengikuti sarannya.

 “Loh... Bapak kan yang tadi beli tiket jurusan Jogjakarta?” tanyaku.

Barulah aku sadar, tadi saat aku mengantri membeli tiket, pria itu juga mengantri, dia ada di depanku. Saat mengeluarkan dompet dari saku celananya dia tidak sadar menjatuhkan kunci. Aku memungut kunci itu dan memberikan kepadanya. Karena masih menunggu bis yang datang aku duduk di kursi panjang, aku tidak melakukan apa-apa kecuali merenung, pikiranku melayang mengenang ayah. Dan aku tidak sadar kalau aku tertidur.

“Terima kasih Pak... sudah membangunkanku!” ucapku.

“Sama-sama Dik, ayo segera naik bis. Tuh sudah datang!” tunjuk pria itu ke arah bis berwarna kuning.

Segera kami berdua bergegas menuju pintu bis dan naik ke dalamnya. Ternyata bis sudah terisi banyak penumpang hanya sisa satu deret tiga kursi yang kosong. Kamipun duduk berdampingan di kursi itu, satu kursi di tengah yang kosong bisa buat menaruh koperku.

“Maaf Pak, kursi kosong ini bisa buat menaruh tas?” aku meminta ijin terlebih dulu kepadanya, siapa tahu dia juga mau menaruh barang di situ karena kulihat dia juga membawa tas tapi tidak terlalu besar.

“Silakan Dik... tas saya cuma kecil saja kok, bisa saya taruh di pangkuan.” jawabnya ramah, lanjutnya, “Tadi Adik tertidur ya?”

“Iya Pak... untung ada Bapak yang membangunkanku, kalau tidak bisa tertinggal bis nih!” jawabku dengan nada lega.

Bapak itu tersenyum, lalu katanya, “Tapi tidur Adik tidak tenang...!”

Aku menghela napas, “ Iya Pak... karena ayahku meninggal.” jawabku lirih.

Dia terkejut lalu menatapku, “Maaf... ikut berbela sungkawa! Jadi ini mudik ke Jogja buat menghadiri pemakaman ayahnya Adik?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk.

“Oh... pantas tidur Adik tidak tenang tadi!”

Aku tersenyum getir. Aku jadi teringat akan mimpiku tadi, meskipun cuma mimpi tapi terasa kejadian nyata.

“Maaf Dik! Silakan kalau mau beristirahat kembali. Kelihatannya tidur adik tadi terputus, saya juga sudah mengantuk kok!” 

“Terima kasih Pak!”

Aku mencoba memejamkan mata, bayangan rumah di Jogjakarta sudah di pelupuk mata. Dan tak terasa akupun jatuh tertidur.

Dini hari bis yang aku tumpangi sampai di terminal Yogjakarta. Karena angkutan kota belum mulai beraktivitas aku terpaksa menunggu sampai pagi menjelang. Kucari kursi panjang untuk beristirahat.

“Minum Mas?” seorang pedagang asongan menawari minum kepadaku. Tapi aku menggeleng, aku hanya ingin istirahat saja. 

“Perlu penginapan murah Mas? Bisa kami antar?” seorang yang lain datang lagi.

“Maaf, saya menunggu angkutan saja!” jawabku.

Wah aku mesti pura-pura tidur biar tidak dihampiri orang-orang... begitu pikirku. 

Di atas kursi panjang kuselonjorkan kakiku, ternyata ada sebuah koran bekas di atasnya, aku bermaksud mengambilnya dan akan kubuang, tapi seketika mataku tertuju di halaman koran yang tanpa sengaja aku lihat. Di situ terpampang berita kecelakaan bis jurusan Surabaya – Yogyakarta. Bis itu menewaskan sebagian penumpangnya. Ketika kulihat gambar bis yang terpampang besar di Koran itu, ingatanku kembali ke kejadian semalam. Bis itu sama persis dengan yang aku tumpangi bersama si ibu dan cucunya itu. 

Bahkan ketika kubaca dengan lebih seksama di situ juga tertlis daftar nama korban kecelakaan yang meninggal, ada dua nama yang membuatku terpana, yaitu: Rumiyati dan Arini Putri. Beberapa saat aku tercenung dan tidak percaya, bagaimana mungkin aku naik bis maut itu? Apa jadinya kalau aku tidak mengikuti petunjuk ayah untuk segera turun dari bis? Hiiiii... tiba-tiba aku bergidik.

Tuesday, July 16, 2019

Misteri Hantu Di Rumah Sakit [Gresik]

Sebuah rumah sakit di Gresik menyimpan segudang cerita hantu menyeramkan yang membuat bulu kuduk berdiri. Hal ini aku alami sendiri ketika aku menjadi satpam di rumah sakit tersebut. 

Kejadian yang menyeramkan ini aku alami ketika aku mendapat sift malam. Ketika itu, aku sedang melewati lorong-lorong rumah sakit untuk mengecek pintu dan pagar apakah sudah terkunci atau belum.

Bulu kudukku tiba-tiba berdiri ketika aku hendak ke ruang ICU. Untuk menuju ke ruang ICU aku terlebih dahulu melintasi sebuah lorong dimana terdapat kamar mayat rumah sakit tersebut. Entah kenapa aku ingin segera sampai ke ruang ICU. Aku pun mempercepat langkahku agar segera sampai ke ruang ICU. Dan akhirnya, sampai juga aku ke ruang ICU dengan selamat. Sesampainya di ujung lorong ruang ICU, aku bermaksud untuk santai sejenak. 

Suasananya begitu hening, angin malam berhembus sepoi-sepoi namun kondisi cuaca tergolong panas. Tiba-tiba dari ruang ICU keluar sesosok bayangan putih. 

“Aku penasaran, kok ada bayangan putih lewat,” bisikku dalam hati.

Jarak antara bayangan itu dengan diriku hanya sekitar 15 meter. Aku lantas terdiam, lalu aku perhatikan betul-betul bayangan tersebut adalah bayangan sosok seorang wanita dengan baju serba putih yang berhenti di lantai lorong rumah sakit. Wanita berambut panjang sampai ke punggung itu rupanya tidak jalan seperti orang normal, melainkan ngesot di lantai. Aku tidak begitu yakin itu suster atau bukan. Pokoknya pakai baju serba putih. Seketika itu pula badanku terasa dingin dan kaku. Kedua tangan dan kakiku bergetar dan bulu kudukku berdiri. 

Aku memastikan jika sosok wanita di lantai itu merupakan hantu kesot. Hal ini juga sering dialami sejumlah pengunjung rumah sakit, hantu kesot itu sering kali terlihat di sudut-sudut rumah sakit. Lokasi yang paling sering di tangga lama yang digunakan untuk mengangkut jenazah.

Aku juga sering mendengar gosip bahwa jika ada orang meninggal di rumah sakit, terdengar suara keras seekor burung. Jika ada suara burung di atas ruang ICU berarti ada yang akan meninggal di ruang itu, kalau di ruang rawat inap atau di UGD begitu juga sebentar lagi ada yang meninggal.

Setelah diteror hantu kesot, aku selalu minta ditemani sekuriti lain tiap kali patroli. Namun, walaupun berdua, tetap saja bayangan putih wanita dalam posisi ngesot tampak. 

Hantu Muka Rata [Malang]

Malam itu begitu sunyi. Seorang mahasiswi IKIP Negeri Malang berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong Asrama Putri kampus yang senyap. Tak ada suara lain yang bisa didengarnya kecuali langkahnya sendiri. Terhenyak dia mendengar ada suara pria yang menyapanya dari belakang: “Baru pulang dari rental komputer ya Mbak?” “Iya,” jawab dia sekenanya.

Mahasiswi ini bermaksud menoleh ke arah datangnya suara untuk mengetahui siapakah gerangan laki-laki yang menyapanya pada jam 11 malam, di Asrama Putri lagi. Namun, begitu dia menoleh, betapa terkejutnya dia, seolah berhenti detak jantungnya. Orang yang menyapanya ternyata laki-laki dengan pakaian hitam tanpa muka alias muka rata. Kedua kakinya seolah terhunjam ke perut bumi. Untuk beberapa saat dia hanya bisa mematung dan tak bisa menyadari apa yang terjadi.

Begitu kesadarannya mulai kembali, sekuat tenaga dia berlari menuju kamarnya. Tepat di depan kamarnya dia bertemu dengan Pak Karjo. Walaupun dari belakang, namun dia yakin sekali kalau laki-laki itu adalah Pak Karjo penjaga malam kampus ini. Pada jam-jam tengah malam, Pak Karjo melakukan ronda keliling area kampus tidak terkecuali Asrama Putri. 

Untuk sejenak ketenangan mulai dapat dirasakannya. Sambil mengatur napas dia menyapa Pak Karjo, “Ronda Pak ?” “Iya Neng, ada apa kok berlari-lari seperti dikejar-kejar setan?” “Aku tadi bertemu dengan pria, namun ternyata mukanya rata, aku kira dia hantu atau mungkin aku berhalusinasi karena ke-capekan habis ngetik skripsi,” jawabnya. 

Bayangan Pak Karjo mulai berjalan mendekatinya, dari temaram lorong Asrama Putri, mulai muncullah bayangan Pak Karjo yang berperawakan tinggi besar, “Apa seperti ini, Neng?” Menjeritlah mahasiswi ini, yang kontan membangunkan segenap penghuni Asrama Putri.

Inilah kisah seram yang diceritakan oleh Ririn kepadaku dan teman satu gengku yaitu Nadhir dan Yosi saat berkumpul di Perpustakaan Unibraw. Kami memang sekelompok mahasiswa Jurusan Fisika yang sangat berminat di bidang Fisika Teori. Oh ya, namaku Sakti. Aku adalah ketua geng ini. Kami memang sangat demen kumpul di perpustakaan. Di tempat inilah kami bisa dapat referensi buku Fisika Teori yang memang susah ditemukan di perpustakaan Jurusan Fisika maupun Fakultas MIPA. Kami mahasiswa Fisika Angkatan 1994. Kalau sudah kumpul di perpustakaan pusat, kami berempat bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar baca buku atau asyik mendiskusikan masalah-masalah Fisika Teori.

“Kalian percaya hantu?” tiba-tiba Yosi menanyakan sesuatu yang tak terduga oleh kami semua. “Itu hanya fenomena Quantum beda dimensi,” jawabku sekenanya. “Aku percaya, hantu adalah bagian dari yang ghoib yang harus kita Imani,” jawab Nadhir yang memang di antara kami berempat dia yang paling kuat agamanya. “Klo kamu, Rin?” tanya Yosi kepada Ririn yang paling penakut di antara kami, karena memang dia satu-satunya cewek. “Aku rasa hanya halusinasi, psikologis!” jawab Ririn yang segera ditimpali oleh Nadhir, “Dasar penakut!”

“Ngomong-ngomong, aku pernah dengar cerita ini tiga tahun yang lalu, sewaktu kita masih mahasiswa baru,” kataku melanjutkan obrolan yang mulai gayeng. “Ini memang kisah tiga tahun yang lalu,” jawab Ririn. “Kalian tahu nggak, kalau sekarang hantu muka rata itu sekarang sudah pindah ke ATM di depan perpustakaan pusat ini?” kata Ririn yang membuat kami bertiga terhenyak. “Berarti di sini?” tanya Yosi dengan gelisah, karena memang kami sedang ngobrol di bangku tunggu di depan perpustakaan pusat, tepat di sebelah timur ATM yang dibicarakan. “Kamu serius, Rin?” tanyaku yang hampir mirip terdengar seperti membentak. Ririn mengangguk dan kami semua terdiam. Walaupun belum malam, ini jam 7 malam yang berarti sebentar lagi perpustakaan akan tutup.

“Kalian belum pulang?” tanya Pak Alim, tukang bersih-bersih perpustakaan yang mulai menyapu teras perpustakaan seperti kebiasaanya menjelang perpustakaan tutup. “Iya Pak, sebentar lagi kami juga mau pulang,” jawabku sekenanya.

Sesampainya di kost Ririn, kami melanjutkan diskusi yang tadi terputus. “Bagaimana kalau kita coba buktikan keberadaan Hantu Muka Rata ini?” celetuk Nadhir. “Kamu gila ya? cari perkara saja,” timpal Ririn kesal. “Aku serius, gimana?” jawab Nadhir yang diiringi ajakan menempuh bahaya. 

Sejenak kami terdiam, hanyut pada pikiran masing-masing. Namun, tak berapa lama kemudian Yosi berkata, “Aku mau.” Cepat-cepat aku menimpali “Aku juga!” “Bagaimana dengan kamu, Rin?” tanya Nadhir membuyarkan lamunan Ririn. “Okelah, aku ikut,” jawab Ririn agak terpaksa. “Baiklah sekarang kita pulang ke kost masing-masing, besok seusai kuliah Teori Relativitas Umum, kita ngobrol lagi tentang persiapan kita. Tempat berkumpul di perpustakaan jurusan, bagaimana?” kataku mengakhiri pembicaraan di kost Ririn. Semua mengangguk setuju.

La Planchada