Monday, December 9, 2019

Misteri Rumah Orang Bunuh Diri (Malang)


Aku tinggal di kota Malang di sebuah perumahan yang lumayan jauh dari pusat kota, namanya juga perumahan untuk kalangan rakyat pada umumnya jadi ukurannya kecil-kecil rata-rata tipe 36 dan 45. Itu pun kebanyakan dari penghuninya membeli dengan cara menyicil melalui bank, istilahnya kredit kepemilikan rumah... hehehe. Suamiku bekerja sebagai pegawai negeri sipil jadi lumayan tidak sulit baginya untuk mengajukan kredit. Sedang aku karyawan perusahaan swasta yang belum terbilang besar, dan seperti karyawan swasta lainnya jam kerjaku dari pagi pukul delapan sampai sore jam empat, itu pun kadang ada lembur sehingga aku bisa pulang selepas Maghrib atau bahkan setelah Isya. Tapi lumayan juga uang lemburnya, jadi kami para karyawan senang-senang saja kerja lembur. Tentu saja itu diberlakukan saat padat pekerjaan dan batas penyelesaian yang mepet. Bila tidak, ya tentu saja perusahaan tidak mau rugi. 

Setiap hari aku selalu melewati sebuah rumah kosong dan menyeramkan, pagi hari saat berangkat kerja dan tiap sore atau petang tiap kali pulang. Rumah kosong itu terletak di tengah-tengah antara jalan utama dan jalan yang menghubungkan ke perumahan kami. Rumah itu berdiri di sebuah pekarangan yang cukup luas, sebelahnya kanan, kiri dan belakang rumah itu terbentang persawahan. Rumah itu selalu dalam keadaan terkunci, hanya saja kondisi rumah dilihat dari luar sudah menakutkan. Catnya sudah mengelupas disana-sini, gentingnya juga sudah ada sebagian yang melorot. Tidak ada cahaya lampu sedikit pun di rumah itu, kalau siang sih tidak terlalu terasa tapi kalau petang menjelang malam... wah... kegelapan menaunginya sehingga suasana horror semakin lengkap. 

Di depan rumah dan pekarangan depannya ada jalan kecil yang merupakan satu satunya jalan menuju perumahan kami. Jalan itu tidak terlalu besar, jadi kalau ada mobil berpapasan dari arah berlawanan, keduanya mesti sedikit menyorong ke samping agar tidak berserempetan, jadinya kami yang menggunakan motor harus menunggu.

Kembali ke rumah kosong itu, menurut kabar yang aku dengar, rumah itu bekas orang bunuh diri sehingga ketika mau dijual tidak ada yang tertarik untuk membelinya, bahkan di saat harganya sudah dititik terendah tetap saja tidak ada yang bersedia. Karena sudah bertahun-tahun tidak ada yang menempati dan rumah itu juga dibiarkan saja alias tidak ada yang membersihkan dan merawatnya jadilah rumah itu terbengkelai dan memancarkan aura horror.

Pagi itu aku berangkat ke kantor dengan mengendarai motor, aku memakai jas hujan untuk melindungi diri dari hujan. Aku paling sebal kalau hujan turun saat aku pergi atau pulang kantor, selain mesti berganti sandal –sepatu aku masukkan ke tas plastik agar tidak basah, juga dandanan di wajah jadi berantakan. Sebenarnya aku bisa naik angkutan yang melewati perumahan menghubungkan kota, tapi aku tidak sabar menunggu apalagi jamnya juga tidak bisa dipastikan. Kadang berhenti menunggu penumpang penuh... wah bisa terlambat dong. Saat melewati rumah itu kulihat beberapa pelajar pria yang duduk-duduk di teras. Motor mereka parkir di sampingnya jadi tidak kehujanan, aku yakin mereka pasti tidak berbekal jas hujan. Musim hujan begini... kok ya tidak bawa jas hujan. Atau bisa jadi itu untuk alasan mereka terlambat masuk sekolah ya? Kulihat sekilas mereka ngobrol dan tertawa.

Sesampai kantor, aku memarkir motor di tempat parkir yang sudah disediakan, lalu menutupi motor dengan jas hujan yang aku pakai tadi agar jas hujan itu kering. Kuambil sepatu dari dalam tas plastik dan kutukar dengan sandal, selanjutnya aku memakai sepatu. Setelah merapikan rambut dan mengelap wajahku yang sedikit terkena air hujan, aku berjalan menuju ruang kantor. 

Di dalam, aku duduk di ruang kerjaku. Sebenarnya bukan ruang sih, karena meja kami para karyawan berjejer memanjang, tapi ada sekat yang membatasi masing-masing karyawan, ya semacam bilik kecil-kecil, dan masing-masing juga ada pintu sorongnya –hanya sebuah papan yang bisa didorong, semacam pintu koboi itu loh. 

“Kehujanan ya?” suara yang sudah sangat aku kenal terdengar dari balik bilik, aku mendongakkan wajah ke arah suara itu, kulihat kepala Ririn nongol di atas, kedua tangannya berpegang sekat kayu bilik. 

“Kamu juga kan?” balasku begitu melihat rambutnya yang sedikit basah.

“Namanya juga musim hujan!” jawabnya kalem, sambungnya, “Aku mau dandan dulu, nih lihat riasanku berantakan... kayak kamu... hehehehh.”

Aku ikutan tertawa, setelah kepala Ririn turun dari sekat, aku membuka laci kecil di meja kerjaku, kukeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi peralatan dandan. Tidak lengkap-lengkap amat sih... cuma kebutuhan riasan dasar saja, utamanya bisa membuat wajah tidak terlalu polos. Selanjutnya aku tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Hari ini ternyata ada lembur, jadi selepas Maghrib baru bisa pulang. Aku dan beberapa temanku menyempatkan shalat Maghrib di kantor, kalau makan malam sudah tadi disediakan nasi kotak oleh kantor, lumayanlah buat mengganjal perut. Hujan-hujan begini membuat perut selalu kelaparan.

“Wah, hujannya kok bertambah deras sih?” protes Ririn cemberut.

“Iya nih... payah, padahal mau pulang!” tambah Ulia temanku yang lain.

Ririn, Ulia dan aku sendiri baru berada di tempat parkir untuk mengambil motor masing-masing dan bermaksud pulang. Tapi melihat hujan yang sedemikian deras kami mengurungkan niat. Bukan apa-apa, kami takut saja mesin motor kami mati karena kadang air meluap menutup jalan. Bila masuk mesin kadang bisa membuat macet.

“Kita tunggu aja sampai sedikit reda,” kataku pada mereka, “Hujan deras begini kadang-kadang bisa bikin mesin motor mati,”

“Iya, dua hari lalu aku terpaksa menuntun sampai bengkel terdekat, businya kali!” sambung Ririn.

“Betul, daripada kerepotan menuntun mendingan menunggu sebentar!” tambah Ulia.

Kami bertiga lalu berjalan menuju depan, disitu ada semacam ruang runggu. Sudah ada beberapa orang yang duduk menunggu, kami bertiga lalu bergabung dengan mereka. Kami duduk dekat ruang satpam.

“Menunggu reda ya Mbak?” tanya Pak Dono –satpam kantor kami.

“Iya nih...!” jawabku

“Silakan deh, banyak juga kok yang menunggu!” katanya lagi tanpa bermaksud berbasa-basi.

“Terimakasih Pak!” jawab kami.

Cukup lama kami menunggu, aku lalu kirim sms ke mas Budi –suamiku– kalau aku pulang terlambat karena ada lembur dan terjebak hujan, jadi ini masih menunggu di kantor. Mas Budi menjawab tidak apa-apa, dia bisa mempersiapkan makan malam sendiri. Kami berdua sama-sama bekerja jadi saling memahami satu sama lain, tidak ada pembagian pekerjaan rumah tangga, siapa yang longgar dan ada waktu ya dia yang mengerjakan. Baru menjelang pukul delapan malam hujan mulai reda. Aku dan karyawan lain yang tadi menunggu menghambur keluar menuju tempat parkir.

“Pulang dulu ya!” seruku kepada Ulia dan Ririn.

“Yoi, ketemu besok!” jawab Ulia pendek.

“Daaah...” balas Ririn sambil melambaikan tangan.

Kami memang ingin segera pulang, badan sudah pegal-pegal rasanaya. Apalagi hari sudah malam, maunya langsung sampai rumah dan istirahat. Kulepaskan jas hujan dari motor dan kupakai, meski hanya gerimis kecil lebih baik akau mengenakan jas hujan, siapa tahu hujan tiba-tiba turun dengan deras lagi? Kan malah kerepotan sendiri nanti. Sepatu juga aku lepas untuk selanjutnya aku ganti dengan sandal. Setelah aku menstarter motor aku pun melenggang keluar ruang parkir. 

Sepanjang jalan dari kantor meninggalkan pusat kota, banyak pengendara motor yang juga masih memakai jas hujan. Kulihat toko-toko yang berjajar di kedua sisi jalan tampak sepi, yah hujan-hujan begini siapa juga yang mau keluar rumah? Entah mengapa ketika aku melihat warung bakso di ujung jalan perutku tiba-tiba tidak bisa diajak kompromi, padahal tadi sudah mendapat jatah nasi kotak dari kantor, kok sekarang lapar lagi? Mungkin karena aku melihat cukup banyak orang yang jajan di warung bakso itu, apalagi hujan-hujan begini... makan yang hangat hangat tentu asyik. Bayangan makanan bakso yang hangat sungguh menggoda selera, aku pun tidak jadi melanjutkan pulang ke rumah, aku berbelok dulu ke warung itu.

Setelah memarkir dan melepas jas hujan, aku berjalan menuju ke dalam warung, aku memesan satu mangkok bakso komplit dan satu gelas teh panas. Selanjutnya aku celingak-celinguk mencari kursi yang kosong.

“Hai Nana... sini...” teriak seorang perempuan menyebut namaku. 

Kucari arah suara itu, ternyata bu Wal –tetanggaku di perumahan- sedang duduk menikmati bakso. Aku bergerak menemuinya. Kulihat ada sedikit bangku yang kosong, cukup lah buat aku duduk.

“Duduk sini saja Na, cukup kok!” begitu kata bu Wal sambil sedikit bergeser.

“Terima kasih Bu!” jawabku seraya duduk di sampingnya.

Bu Wal itu beberapa tahun lebih tua dariku, dia bekerja di sebuah pabrik makanan terkemuka di kota ini. Sebenarnya satu kota sih dengan kantorku, tapi karena berbeda tempat kerja kami jarang bertemu bahkan saat berangkat dan pulang kerja. Apalagi jam kerja bu Wal yang tidak tentu karena menggunakan sistem shift. Hanya saat pertemuan warga dan kadang pas libur saja kami bertemu.

“Ini mau pulang kerja atau gimana Bu?” sapaku.

“Wah ini sih mau masuk kerja Na, aku shift malam. Nana mau pulang ya?” balasnya, sambil menghentikan sementara makan baksonya.

“Oooh... sift malam ya? Kalau aku mau pulang Bu, tapi nggak tahu kok pingin makan basko dulu,” jawabku. 

“Hehehe... tidak apa-apa makan bakso dulu, tidak terlalu malam juga kok, memang sih jalan menuju perumahan agak sepi, tapi sebelum jam sepuluh malam biasanya juga masih banyak kok yang lalu lalang, kan banyak tuh yang baru pulang kerja,” kata bu Wal panjang lebar.

“Iya Bu, lumayan sepi... apalagi sepanjang jalan hanya persawahan ya? Cuma ada satu rumah saja yaitu rumah kosong!” timpalku, bayangan rumah itu muncul di benakku. Kalau sudah petang rumah itu gelap gulita dan terasa sangat sepi, aku pernah lewat saat petang... memang sungguh senyap, hanya deru motor atau mobil yang sesekali saja terdengar. 

“Iya, rumah itu menakutkan juga ya? Apalagi pas malam hari. Sudah dikelilingi persawahan, kosong pula. Kata orang sih rumah itu...”

“Bekas orang bunuh diri ya?” potongku, aku jadi tertarik untuk mendengar ceritanya lebih lanjut, karena aku belum begitu lama tinggal di perumahan itu, beda dengan bu Wal.

Kulihat wajah bu Wal yang berubah menjadi tegang, “Menurut kabar,” dia diam sejenak, “katanya ada tragedi di rumah itu, seseorang meninggal di rumah itu dengan cara bunuh diri, katanya sih gantung diri...”

“Haahh?” aku terkejut bukan kepalang.

“Tidak perlu takut Na! Itu sudah lama kok...!” lanjutnya.

“Oohh...!” aku merasa lega. Kalau kejadian sudah lama biasanya tidak terlalu seram.

“Kenapa dibiarkan kosong ya? Kan sayang tuh rumah sebesar itu dibiarkan begitu saja,” tambahku.

“Pada takut kali!” bu Wal menjawab sekenanya.

Aku manggut-manggut, “Iya... bangunan kosong lama dan bekas orang bunuh diri... hiiiiii seraaammmm!”

Kulihat bakso pesananku sudah datang, pelayan meletakkan mangkok bakso dan gelas air teh di mejaku. Lalu kami berdua sibuk makan bakso, aku baru mulai mau makan sedang bu Wal sudah hampir habis.

“Maaf Na, aku duluan ya? Hampir jam sembilan nih...!” ucap bu Wal berpamitan seraya bangkit dari kursi.

“Oooh... iya Bu, silakan,” jawabku.

“Selamat pulang, dan hati-hati ya,” kata bu Wal lagi sambil menepuk bahuku.

Dari tempatku duduk, kulihat bu Wal keluar dan dengan motornya ia meninggalkan warung ini menuju tempat kerjanya. Akupun lalu melanjutkan makan.

Setelah selesai makan, aku membayar ke kasir dan berlalu pulang. Sepanjang perjalanan pulang memang masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan utama di kota ini. Kebanyakan naik sepeda motor menandakan para karyawan baru pulang. Mungkin mereka seperti aku yang baru bisa pulang karena terjebak hujan deras tadi.

Aku sampai di pertigaan jalan yang menghubungkan jalan menuju perumahan, ada papan kecil yang dipasang di ujung pertigaan yang menunjukkan arah perumahan kami. Aku berbelok mengikuti arah itu dan dari jalan utama menuju perumahan aku merasakan sepi yang mencekam. Hujan masih turun meski tidak deras, sesekali petir dan guntur bergantian menghias langit. Memang sesekali ada motor dan mobil yang lewat tapi mereka menjalankan lajunya dengan kencang, sedang aku tidak berani. Jalan ini tidak terlalu mulus, meski sudah diaspal tapi kerusakan ada disana-sini. Banyak lubang di sekujur badan jalan. Kalau tidak hati-hati bisa jatuh. Apalagi belum juga ada penerangan di sepanjang sisi jalan, kita para pengendara cuma bisa mengandalkan sorot lampu kendaraan masing-masing.

Aku memilih menjalankan motor dengan pelan-pelan, lebih baik terlambat asal selamat, begitu kira-kira semboyanku... hehehe. Entah mengapa semakin jauh dari jalan utama, jalan juga semakin senyap saja. Sudah ada sekitar lima menit tidak ada kendaraan lain yang lewat, aku jadi ketakutan sendiri. Aku berharap aku selamat sampai rumah. Aku khawatir ada orang jahat seperti berita di televisi yang mencegat dan merampas motor.

Dari jauh aku melihat rumah kosong itu meski samar, karena selain hanya lewat penerangan sorot lampu motor depan, derai hujan yang turun cukup menganggu pandangan. Sudah separuh jalan, sebentar lagi akan sampai gerbang perumahan, begitu aku menghibur diri. Tapi aku terhenyak begitu melihat pemandangan di rumah itu, meski tidak begitu jelas, mataku bisa menangkap sesosok lelaki tua duduk bersandar di salah satu tembok rumah itu. Aku menghentikan motorku sejenak dengan kondisi mesin masih hidup. Kuamati dengan seksama, benarkah yang kulihat? 

“Hey... ternyata ada orang di dalam rumah itu!” begitu aku berkata dalam hati, karena kulihat suasana rumah itu tampak terang, jendela rumah juga terlihat terbuka. 

“Ya syukurlah kalau sudah ada yang menempati!” kataku lagi dalam hati.”Jadi aku tidak perlu ketakutan lagi kalau mesti melewati jalan ini!”

Aku tersenyum sendiri, dan bermaksud akan melanjutkan perjalanan. Namun mendadak mataku seperti mau keluar karena tiba-tiba saja lelaki tua itu menggeser sebuah meja dan naik ke atasnya... lalu... lalu dia mengalungkan seutas tampar di lehernya.

“Akhk... akhk...!” suara orang yang kesulitan bernapas terdengar sangat jelas di telingaku, padahal air hujan masih mengguyur. Bahkan kedua matanya yang melotot itu seakan tertuju kepadaku.

Namun itu tidak berlangsung lama... dalam hitungan detik lelaki itu begitu saja menghilang dari pandangan dan rumah itu kembali menjadi gelap gulita. Gugup campur gemetaran aku segera memacu gas dengan kencang, aku tak peduli dengan lubang yang mengganggu jalan. Tujuanku hanya satu, segera sampai rumah.

Sunday, December 8, 2019

Cerita Hantu di Kampung Dadang


Kisah ini terjadi sewaktu Dadang duduk di kelas 2 SD... ketika itu Dadang masih bersekolah di kampung. Kampung tempat Dadang tinggal waktu kecil dulu tidak terlalu masuk pelosok, tetapi sangat mistis. Banyak peristiwa aneh terjadi di kampungnya dulu. Dan sekarang Dadang ingin berbagi pengalaman aneh yang pernah ia dengar dan alami semasa kecil dulu.

Di kampungnya dulu ada satu keluarga yang rumahnya menjadi semacam ‘perlintasan’ bagi makhluk-makhluk ghaib. Siapa yang pertama kali bilang seperti itu, Dadang sendiri pun tak tahu, tapi yang jelas banyak orang yang bicara seperti itu. Pada masa itu pula, pernah suatu ketika salah seorang kawannya yang usianya setahun lebih tua dari Dadang, kesurupan makhluk halus. Ketika itu umur Dadang baru 8 tahun. Jangan bingung ya, walaupun ketika itu Dadang masih kecil, tetapi bisa mengingat detail kisahnya karena peristiwa ini cukup terkenal di kampungnya. 

“Boleh tanya kepada siapa pun di kampungku, semua pasti tahu tentang cerita itu...!” tantang Dadang. 

Dan memang sebenarnya Dadang tahu cerita ini juga dari mulut mereka. Yang hebatnya lagi, rumah Dadang benar-benar bersebelahan dengan rumah yang menjadi Perlintasan para makhluk ghaib itu. Jadi, peristiwa itu semakin menguatkan tuduhan orang tentang perlintasan makhluk-makhluk ghaib di rumah tadi. 

Semasa kejadian itu, teman Dadang yang juga menjadi tetangganya itu mengikuti ibunya ke belakang rumah yang ingin memastikan bahwa semua ayam yang dipeliharanya sudah masuk ke dalam kandang. Ketika itu sudah mendekati senja. Dia bilang telah melihat seorang perempuan yang wajahnya mirip sekali dengan ibundanya. Jadi, singkat cerita dia pun mengikuti perempuan itu, walaupun perempuan yang sangat mirip dengan ibunya itu tidak berkata apapun kepadanya (Dadang tidak begitu ingat berapa hari temannya itu kesurupan).

Menurut temannya itu, ketika warga kampung berpencar mencari-cari dirinya, dia melihat orang-orang itu sedang melintas di depannya, tapi dia seperti tidak mampu untuk bersuara. Dan mereka pun seperti tidak bisa melihat dirinya, walaupun dia benar-benar ada di hadapan mereka.

Singkat cerita, orang-orang di kampung Dadang pun memanggil mbah dukun yang orang pedalaman asli. Kata mbah dukun itu, tak ada yang luar biasa, makhluk itu saja yang ingin bermain-main dengan teman Dadang. Besok pagi atau lusa, dimanapun, dan kapanpun, warga pasti akan menemukan teman Dadang itu asalkan mengikuti petunjuknya. 

Dan memang benar seperti apa yang dikatakan oleh mbah dukun itu, mereka pun menemukan teman Dadang tersebut. Tetapi ketika ditemukan, mata kawannya itu dalam keadaan terbelalak. Sampai hari ini, setiap kali melihat mata kawannya ini, Dadang pasti teringat akan cerita orang-orang di kampung tentang dia.

Satu lagi peristiwa aneh di kampung Dadang adalah yang terjadi kepada seorang perempuan penghuni rumah yang juga merupakan tetangga dari temannya yang kesurupan itu. Di suatu senja, perempuan itu kerasukan oleh makhluk halus. Entah jin mana yang datang, Dadang pun tak tahu. Tapi yang pasti, ketika peristiwa itu terjadi, rumahnya langsung dipenuhi dengan orang yang berdatangan dari seluruh penjuru kampung, dan hari itu banyak laki-laki berotot yang memeganginya. Yang mengherankan, tak seorang pun mampu mengendalikan si perempuan yang kesurupan itu. Benar-benar kuat perempuan itu, bahkan para pria itupun terpelanting dihempas olehnya. 

Singkat cerita, suami perempuan itu kemudian dijemput oleh mbah dukun, dan diminta untuk membantu mengendalikannya. Mbah dukun ini ternyata nyentrik juga. Dari apa yang didengar oleh Dadang, dia ini memang tidak seperti dukun-dukun lainnya. Setiap kali diminta mengobati orang, dia selalu berkata bahwa yang dia lakukan hanya berusaha saja, yang menentukan hasilnya adalah Allah. 

Kembali ke kisah tadi, mbah dukun pun kemudian berkomunikasi dengan perempuan yang kesurupan itu. Ada yang mengherankan, suara dan bahasa perempuan itu berubah menjadi kasar sekali. Mengalahkan garangnya suara laki-laki. Mbah dukun menyuruh makhluk itu keluar dari tubuh perempuan itu dan kembali ke tempat asalnya. Tapi makhluk itu tidak mau. 

“Benar-benar keras kepala makhluk ini...!” gerutu mbah dukun dengan kesal.

Terpaksalah mbah dukun itu menggunakan cara kasar. Dia segera mengambil bubuk lada hitam yang kemudian ia balurkan di ibu jari kaki kanan perempuan itu, dan... 

Benar-benar mengherankan...!

Perempuan itu langsung meraung-raung kesakitan. Kemudian ia menangis sambil berteriak-teriak, tapi yang jelas bukan si perempuan, tetapi makhluk itulah yang merasa kesakitan. Sesaat kemudian makhluk halus yang bersembunyi di dalam tubuh perempuan itu pun berjanji akan keluar dan pergi dari tubuh perempuan itu dan takkan datang lagi mengganggunya. 

Dadang juga ingat akan kisah mengenai rumah yang jadi perlintasan makhluk halus itu. Jadi, cerita yang di atas itu merupakan beberapa kasus sebagai bukti bahwa tanah tempat tinggal orang itu agak ‘panas’. Perlintasan makhluk halus itu bermula di sepanjang parit kecil di belakang rumah tetangganya itu. Perlintasan itu juga melalui kawasan rumah Dadang. Tapi selama Dadang tinggal dan tumbuh besar dalam lingkungan rumahnya, tak pernah ia mengalami masalah yang aneh-aneh. Berbeda dengan adik perempuan Dadang yang pernah sampai tiga kali terkena histeria. Tapi untungnya ayah Dadang tahu sedikit-sedikit tentang ilmu ghaib, jadi dia dapat menyembuhkan adiknya itu. 

Dadang teringat kembali akan kejadian itu, ayahnya menggunakan lada yang sudah diberi doa-doa dengan ayat-ayat suci (Dadang tak ingat pasti ayat apa saja yang dibaca pada waktu itu), kemudian lada itu dikepitkan di ketiak adiknya. Ayahnya memaksa makhluk itu keluar, sedangkan adiknya terus-terusan menangis dan kemudian jatuh pingsan. Ketika dia sadar, dia bilang ada bayangan hitam yang datang mengganggunya. Yang ia maksud dengan ‘mengganggu’ itu seperti apa, Dadang pun tak tahu. Pada waktu itu, adiknya ini memang sedang sedikit lemah iman. Tapi, itu adalah terakhir kalinya adik Dadang diganggu oleh makhluk halus tersebut. Sedangkan Dadang sendiri, belum pernah sekalipun mengalami gangguan-gangguan yang seperti itu. Ia hanya berharap tidak akan pernah diganggu oleh mereka.

Haaa... penakut juga Dadang ini.

Kembali pada kisah tentang perlintasan makhluk halus tadi. Menurut cerita teman-teman Dadang yang memang punya hobi bergadang sampai pagi, mereka pernah melihat bayangan berpakaian putih berjalan-jalan di sepanjang perlintasan parit itu (sebenarnya parit itu merintangi jalan di kampung mereka). Ketika itu mereka tengah berjalan kaki hendak pulang ke rumah masing-masing. Yang membuat Dadang merinding, makhluk yang dilihat oleh mereka itu berada di kawasan parit yang bersebelahan dengan rumah Dadang (rumah Dadang memang terletak di tepi jalan). Mulanya teman-teman Dadang tidak begitu yakin dengan makhluk yang dilihatnya itu. Tetapi ketika mereka perhatikan betul-betul...

“Waduuh, gila...!” teriak mereka serempak.

Karena tiba-tiba makhluk itu berhenti lalu berpaling ke arah mereka. Walaupun muka dari makhluk tersebut tidak terlihat jelas, namun teman-teman Dadang tetap merasa ketakutan dengan sosok itu.

Sambil menjerit ketakutan, mereka lari tunggang-langgang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah badan mereka basah kuyub oleh keringat. Untunglah teman-teman Dadang ini masih memiliki sedikit rasa optimis. Kalau tidak, wah... bisa demam, panas tinggi selama seminggu penuh.

Tentang bayangan putih tadi, kakaknya sendiri yaitu bang Dudung, mengakui kalau dia sendiri pun pernah melihat makhluk seperti itu. Waktu itu masih di pagi buta, sekitar pukul 02.00 dini hari. Ketika itu dia keluar untuk buang air kecil (di kampung, biasanya toilet berada di luar rumah). Namun ketika ia hendak masuk kembali ke dalam rumah. Sekilas ia seperti melihat seseorang di kawasan parit itu. Seperti bayangan putih, mirip perempuan, berambut panjang, wajahnya tak begitu jelas terlihat. Tapi, bang Dudung ini orangnya pemberani. Dan dia terus saja memperhatikan makhluk itu bergerak sampai ke belakang rumah mereka. Sampai disitu makhluk itu pun menghilang. Dudung tak melihat dengan jelas muka makhluk itu, tapi yang pasti makhluk itu tidak menginjak tanah dan seperti melayang-layang. Setelah makhluk itu menghilang, Dudung bergegas masuk ke dalam rumah dan melanjutkan tidurnya. 

Esok paginya, dia bercerita kepada Dadang perihal makhluk yang dilihatnya tadi malam.

“Hii... takut aku... kalau jauh dari kawasan rumah sih tidak apa-apa. Tetapi yang ini dekat sekali dengan rumah kita...!” teriak Dadang ketakutan.

Yang membuat Dadang merasa tak nyaman adalah, setelah kakaknya bercerita tentang makhluk itu, setiap kali mau buang air kecil Dadang mesti mengajak ibu untuk menemaninya dan menunggu di luar toilet. 

Begitulah kisah yang Dadang ketahui dan ia ingat sampai kini. Dadang sendiri tidak mengalami langsung perihal peristiwa-peristiwa seram tadi. Tetapi ia turut berada dalam ruang dan waktu yang sama pada saat kejadian-kejadian aneh tersebut terjadi di kampungnya semasa masih kecil dulu.

Kisah Seram di Sebuah Pabrik Angker di Padalarang, Bandung Barat


Kisah ini aku alami ketika aku masih kerja di sebuah pabrik di Padalarang, Bandung Barat. Ketika itu aku baru 2 minggu kerja di pabrik tersebut. Jam kerjaku dibagi menjadi 3 shift. Waktu itu aku kebagian masuk di shift 2, yang artinya aku masuk jam 2 siang dan keluar jam 10 malam. Dari pertama masuk aku tidak merasakan hal yang aneh, biasa aja. Tapi aku dengar dari beberapa teman senior kalau di pabrik ini banyak hantunya karena dulunya merupakan bekas kuburan yang diratakan dan dijadikan pabrik. 

Ketika istirahat Maghrib kita semua makan bersama. Aku bersama dengan dua temanku makan sambil mulai cerita-cerita sampai tertawa keras. Saking hebohnya aku dan teman-temanku sempat ditegur oleh senior.

“Nanti ada kejadian aneh loh,” katanya. 

Tapi kita semua tidak ada yang percaya. Akhirnya saat istirahat pun berakhir.

Aku pun kembali bekerja, saking asyiknya bekerja sambil mendengarkan musik aku tidak menghiraukan sekitar, malah aku masih sempat bercanda dengan teman sebelahku. Saat itu mungkin sekitar jam 8, tiba-tiba aku mencium bunga melati yang sangat wangi, seperti baru ada yang menyemprotkan parfum. Aku sih cuek saja, mungkin saja itu teman di sebelahku yang memang suka memakai parfum. 

Tiba-tiba... ada sosok yang lewat di belakangku. Aku liat bagian bawahnya saja sekilas, kaki melayang memakai gaun putih. Aku langsung menegur Uci,

“Uci jangan becanda donk takut tauuu,” teriakku. 

Si Uci yang ada di depan agak jauh dari tempatku juga ikut berteriak.

“Naooon?” (Apaaa?)

Aku pun kaget dan langsung lari ke arah Uci. “Lah yang tadi lewat siapa donk?” tanyaku dalam hati. 

Aku pun baru sadar kalau semua anak baru memakai baju hitam putih, atasnya putih bawahnya hitam dan celana juga. Sedangkan yang senior memakai coklat. Langsung seisi pabrik panik juga, dan katanya sih memang banyak kejadian aneh disana. 

Hantu Itu Mengikuti Dari Jalan Soekarno-Hatta (Bandung)


Namaku Dadang. Aku baru saja mendapatkan pekerjaan di bidang event organizer. Malam itu kebetulan ada satu event di daerah Jatinangor, sebuah acara besar yang berlangsung berhari-hari. Kantorku sendiri berada di tengah Kota Bandung. Jadi, beberapa hari ini aku membawa mobil hilir-mudik untuk membawa peralatan, konsumsi, atau mengantar jemput bosku. Kegiatan ini bisa berlangsung sangat pagi, dan baru berakhir ketika malam tiba.

Dalam perjalanan itu... sebenarnya ada yang sedikit membuat bulu kudukku merinding. Bila melewati Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di jalan menuju ke arah Cibiru. Setiap melewati daerah itu di malam hari pasti saja tercium bau menyan yang menyengat! Tapi, namanya juga tugas, aku jalani saja semuanya.

Di malam terakhir event itu, bosku dari Jakarta datang untuk mengawasi. la menginap di salah satu hotel yang cukup ternama di Bandung. Sekitar Maghrib aku mengantarkannya menuju lokasi event. Sampai disana kami pun melaksanakan kegiatan.

Syukurlah, acara berlangsung lancar. Namun, karena sering pulang malam, kondisi badanku saat itu mulai terasa tidak enak. Badanku pegal dan merasa sangat lelah. Selesai acara kami beres-beres dan kira-kira pukul satu dini hari kami pulang.

Aku kembali mengantarkan bosku menuju hotel. Mobilku masuk ke Jalan Soekarno-Hatta. Tak lama kemudian bau yang senantiasa muncul itu kembali tercium, kali ini sangat menusuk! Bau kemenyan yang entah dari mana asalnya itu tercium sangat tajam kali ini. Aku pikir hanya aku saja yang menciumnya, namun ternyata bosku pun bertanya,

 “Apa kamu mencium bau kemenyan ini?” 

Dengan sangat yakin aku mengiyakan, dan mengatakan hal ini memang sudah biasa. Kami pun melupakan hal itu dan terus melanjutkan perjalanan.

Aku terus berkonsentrasi pada jalanan, sementara mataku mulai terasa berat akibat tubuh yang kecapekan. Tiba-tiba... dari kejauhan—di tengah jalan tepat di depan mobilku—terlihat sekelebat bayangan putih. Aku pikir itu hanya bias cahaya lampu jalanan, namun bayangan putih itu semakin jelas, bukan sebuah cahaya melainkan sebuah sosok! Aku tidak yakin apakah bosku melihatnya juga, tapi semakin dekat mobilku dengan sosok putih itu, semakin terlihat utuh juga bentuknya. Ada warna hitam legam menggantung! lya, warna hitam itu terlihat seperti rambut yang memanjang sampai ke lutut. Mataku dengan cepat menangkap sosok itu... yang ternyata melayang tanpa terlihat kakinya!

“Ya Tuhaan...!” 

Aku langsung membuang setir ke arah kanan jalan sambil terus menancap gas! Aku terdiam. Ternyata bukan hanya aku saja yang melihatnya tapi bosku juga melihatnya! Dia menggambarkan sosok seperti wanita dengan rambut panjang baju putih yang melayang itu sambil terbata-bata! Kami pun setuju untuk mempercepat laju mobil agar segera sampai di hotel.

Sesampainya di hotel, bosku merasa khawatir melihatku yang terlihat kelelahan. Aku pun tidak diperbolehkan pulang dan diberikan sebuah kamar di hotel itu. Setelah memakirkan mobil, aku mengambil kunci kamar dan bergegas menuju kamarku. Saat itu kepala ini sudah berat sekali.

Ketika masuk, terlihatlah sebuah kamar besar yang terang oleh lampu-lampu. Aku melihat dua buah tempat tidur yang terpisah. Ya, ini adalah kamar tipe standar twin bed. Aku langsung melemparkan diri ke salah satu ranjang itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. 

“Ya, sebentar...” 

Aku beranjak lalu membuka pintu dan... tidak menemukan siapa pun disana? Hah! Aku tengok keluar, melihat ke kiri dan kanan, tapi tetap tidak ada siapa-siapa. Apa mungkin aku salah dengar? Aku pun menutup pintu dan kembali masuk.

Saat itu, lampu kamar tiba-tiba saja meredup seperti hampir mati lalu menyala lagi. “Hotel sekelas ini kok listriknya jelek, sih?” pikirku. Tanpa pikir panjang, aku kembali ke tempat tidur, masuk ke dalam selimut, dan mulai memejamkan mata.

Suhu di dalam kamar semakin lama semakin dingin dan dingin dari AC ini terasa tidak wajar. Aku mengambil remote AC, ternyata suhu ruangan sudah menunjukkan 28 derajat. “Apa mungkin rusak juga nih AC-nya? Ah, jelek banget nih hotel,” pikirku. Aku pun menarik selimutku, tapi... kenapa susah? Aku tarik selimutku sekali lagi untuk menutupi badanku, tapi seperti ada sesuatu yang menahannya. Lalu, ketika aku coba menariknya lagi... aku bisa merasakan ada yang balas menarik selimut ini dari bawah! Aku seperti tarik menarik dengan seseorang!

Aku langsung bangun dan melihat ke kolong kasur, tapi tidak melihat siapa-siapa disana. Ah, pastilah aku sangat kelelahan. Aku kembali tiduran di tempat tidur. Dan... kali ini aku mendengar suara napas seseorang terdengar jelas di sebelahku. Dari sudut mata... aku melihat ada seseorang sedang tersujud di atas tempat tidur sebelah! Badannya bergerak seperti menggigil. Aku bisa melihat rambut yang panjang terurai, ya... itu adalah sosok wanita! Wanita itu merunduk dan tangannya mencengkeram keras ke tempat tidur! Dia terus bergerak-gerak sambil menggigil... semakin lama semakin cepat!

Semua itu hanya terlihat dari sudut mataku, aku tidak berani untuk benar-benar menengoknya. Aku coba untuk bersuara, tapi rasa takut menghalangiku. Aku hanya bisa diam dan mengawasinya dari sudut mata. Air mata pun tanpa kusadari luruh. Tiba-tiba... wanita itu berhenti dan terdiam. Sampai akhirnya... dia merayap perlahan menuju arahku! Aku tidak bisa bergerak! Badanku terasa kaku! Aku bisa merasakan ia semakin lama semakin dekat! Dan...

ASTAGA! Dia memelukku! 

“AAAAHH!” Kontan aku langsung bangkit dan berlari keluar kamar!

Malam itu aku habiskan dengan tidur di lobi hotel. Sungguh pengalaman yang membuatku takut untuk tidur di hotel sendirian, apalagi di kamar dengan dua tempat tidur. Setelah menceritakan ke teman-teman, aku jadi tahu bahwa sosok wanita yang aku lihat itu berasal dari Jalan Soekarno-Hatta yang ikut naik ke dalam mobilku!

Konon, wanita dari Jalan Soekarno-Hatta akan menampakan diri dan ikut jika ada mobil lewat dan mobil itu sama seperti mobil yang menabraknya dulu sampai meninggal. Semua itu benar-benar terjadi... aku tidak akan memberitahu mobil apa yang aku gunakan, agar tidak ada orang yang sengaja mencobanya. Yang pasti, berhati-hatilah di Jalan Soekarno-Hatta, karena... mungkin saja mobilmu sama seperti mobilku.

Hantu Bayi di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung


Banyak cerita tentang penampakan hantu yang terjadi di rumah sakit. Di Bandung saja ada beberapa rumah sakit yang diduga banyak hantunya, misalnya di RS Hasan Sadikin Bandung.

Saya sendiri pernah mengalami kejadian aneh yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Waktu itu, saya menunggu ayah saya yang sedang diopname di RS Hasan Sadikin. Ruang opname ayah saya kebetulan di sebelah kamar VVIP yang waktu itu kosong tidak ada pasien.

Sekitar pukul 1 malam, ketika tidur-tiduran di kursi panjang di teras, saya terkesiap ketika mendengar suara tangisan bayi. Suaranya terdengar jelas dari dalam kamar VVIP yang kosong dan lampunya dimatikan. Ayah saya juga di kamar sendirian, tidak ada pasien lain. Begitu juga di kamar yang lain, saya yakin tidak ada penunggu pasien yang membawa bayi dan tentu saja pasti tidak akan diijinkan oleh perawat jaga.

Bulu kuduk pun langsung berdiri. Wah, jangan-jangan ini suara dari dunia lain. Saya pun bergegas masuk ke kamar ayah dirawat dan mencoba tidur. Untungnya suara bayi dari dalam kamar VVIP itu tidak terdengar lagi.

Nah, hantu bayi pun (kalau benar) ada yang berhasil memotretnya dengan kamera dari handphone. Foto-foto hantu bayi ini sekarang sedang ramai dibicarakan. Penampakan hantu bayi yang berhasil difoto ini terjadi di Ciamis, Jawa Barat. Warga disana banyak yang penasaran dengan foto penampakan hantu bayi di RSUD Ciamis hasil jepretan petugas keamanan RS tersebut.

Petugas keamanan RSUD Ciamis ini memotretnya pada malam hari di lorong RS bekas ruang Intensif Gawat Darurat (IGD). Dalam foto tersebut, terlihat jejeran kursi dan dua sepeda motor. Nah, yang uniknya di bagian lantai ada wujud sesosok bayi yang diyakini sebagai hantu.

Hasil foto inipun dalam waktu singkat menyebar melalui bluetooth. Bahkan banyak warga yang penasaran datang langsung ke RSUD Ciamis untuk sekedar melihat lorong tempat penampakan hantu bayi tersebut.

Friday, December 6, 2019

Hantu di Tempat Perkemahan (Bandung)

Kisah hantu kali ini terinspirasi dari cerita sahabat saya yang tinggal di Kota Bandung. Peristiwa itu terjadi ketika dia ada kegiatan kemah di Bumi Perkemahan Gunung Puntang Kabupaten Bandung. Letaknya dekat dengan Pangalengan tempat penghasil susu yang sudah terkenal di Indonesia. Meskipun kejadian mistis itu dialami oleh salah seorang temannya, tapi ia dan teman yang lain merasakan ketakutan juga. Menurut ceritanya, Bumi Perkemahan Gunung Putang memiliki kaitan yang erat dan merupakan saksi kebesaran bangsa Belanda. Di tempat tersebut pernah dilakukan pembangunan gedung radio terbesar se-Asia Tenggara.

Konon, sosok tersebut sudah tinggal di daerah Gunung Puntang sejak lama. Lokasi perkemahan teman saya tepat berada di sekitar Goa Belanda. Yang lebih menyeramkanya lagi, di malam hari teman saya melihat penampakan kepala yang bergeletakan serta kumpulan potongan kaki dan tangan yang bersimbah darah. lokasi penampakan itu berada di sekitar bekas reruntuhan rumah para warga Belanda.

 Selain wujud kepala dan potongan tubuh manusia, teman saya juga melihat sosok manusia bertubuh kurus kering seperti tidak diberikan makanan. Dan sosok hantu itu terdengar merintih kesakitan serta sedang meminta tolong. Untuk membuktikan rasa penasarannya dia menuju ke Goa Belanda. Di depan goa ternyata muncul penampakan sosok bertubuh besar atau masyarakat sekitar sering menyebutnya sebagai sosok genderuwo.

 Karena merasa terganggu dan menghindari hal yang tidak diinginkan, akhirnya teman saya pergi meninggalkan goa tersebut dan kembali ke perkemahan. Cerita nyata tersebut juga dibenarkan adanya oleh pemilik warung yang berjualan di sekitar perkemahan. Si pemilik warung juga berpesan agar tidak sembarangan berbicara. Karena sebenarnya apabila tidak ada yang menganggu, maka hantu seram penunggu Gunung Puntang itu juga tidak akan menghantui. 

Dan inilah cerita versi lain dari hantu yang terjadi di bumi perkemahan. Pagi itu kami sudah siap di depan sekolah, Kami dengan nama kelompok “Padi” duduk bergerombol di ujung halaman sekolah. Ada enam orang anak di setiap kelompok yang nantinya akan mendapat jatah satu tenda. Annisa, ketua kelompok, kami duduk di tengah-tengah. Kulihat kelompok-kelompok yang lain juga duduk bergerombol sendiri-sendiri, kami semua saling bercakap dan bersenda gurau. Saat ini kami masih menunggu truk yang akan mengangkut kami menuju bumi perkemahan. Para guru pembimbing juga duduk santai di bangku, beberapa dari mereka telepon dengan handphone, dan lainnya bercakap sesama guru. Seperti kami, para guru juga sedang menunggu truk, tapi mereka tidak naik truk, ada dua buah mobil jenis kijang yang akan membawa mereka. Mobil itu akan stand by di tempat perkemahan. Kalau truk hanya akan mengantar kami sampai sana, lalu akan datang lagi untuk menjemput saat acara kemah selesai.

Tak seberapa lama, tiga buah truk datang ke sekolah kami, truk-truk itu lalu menepi. Para sopir dan kernet turun untuk kemudian mendatangi para guru guna melapor. Setelah itu para guru menyuruh kami berbaris, ketua kelompok berdiri paling depan,dan para anggotanya berbaris di belakangnya. Total ada sepuluh kelompok dengan empat kelompok anak perempuan dan sisanya enam kelompok anak laki-laki. Memang acara kemah ini hanya untuk anak-anak kelas dua saja. Anak kelas satu belum boleh, sedang anak kelas tiga sudah harus berkonsentrasi untuk ujian dan persiapan masuk perguruan tinggi.

Setelah diberi sedikit wejangan dan nasihat dari salah seorang guru yang merupakan pemimpin acara berkemah, kami lalu naik truk yang sudah disediakan. Setelah semua masuk berikut barang-barang yang kami bawa, pak sopir dan kernet menutup pintu atau papan belakang dan menguncinya. Seperti wejangan sebelumnya kami tidak boleh bergelantungan di atas bibir truk, berbahaya karena bisa jatuh. Kami cuma duduk atau berdiri di balik bibir truk sambil berpegangan. Lalu iring-iringan truk pun berjalan diikuti dua mobil para guru.

Sesampai di perkemahan, hari sudah menjelang siang. Kami turun dari truk dan membawa barang-barang menuju lahan perkemahan itu. Tempatnya terletak di kaki gunung, jadi udara dingin cukup terasa meski siang hari. Rerumputan menutupi lahan perkemahan laksana permadani, di sekelilingnya ada pohon-pohon besar yang mirip pagar saja. Di bagian depan ada bangunan tembok memanjang, itu nanti untuk tempat para guru. Dan di sampingnya berjejer kamar mandi buat kami semua.

Setelah dikumpulkan sebentar dan diberi nasihat-nasihat, kami mulai membangun tenda, tiap kelompok ada yang diberi tugas mendirikan tenda tapi sebagian lagi kebagian mempersiapkan masakan untuk santap siang. Setelah itu ada jam bebas bagi kami sampai saat Ashar, karena jam empat kami harus berkumpul untuk melakukan acara selanjutnya.

“Bertha, Cici, Dinda... kalian membantu aku mendirikan tenda,” Annisa sang ketua kelompok mulai membagi tugas, sambungnya, “Eki dan Fifi, kalian bertugas mempersiapkan makan siang.”

Mendapat tugas dari ketua, kami segera bergerak mengerjakan, kami tidak mau nanti paling akhir selesai... kan malu dengan kelompok yang lain.

Kulihat Annisa dan empat orang teman kami mulai sibuk mendirikan tenda, sedang Fifi dan aku mulai meracik bumbu dan memotong-motong bahan makanan. Sebelumnya aku memasak nasi, jadi menunggu nasi matang, bahan makanan sudah siap untuk dimasak.

“Eki, tahu nggak? Kata teman-teman tempat perkemahan ini keramat lho!” ucap Fifi sembari memotong sayuran.

 “Siapa yang bilang? Buat nakut-nakutin saja kali!” kataku sambil terus saja meracik bumbu.

 Aku yakin itu cuma gosip yang dihembuskan para anak lelaki buat menakut-nakuti anak-anak perempuan.
“Yuda yang cerita, katanya kakaknya pernah kemah di tempat ini, terus ada yang kesurupan gitu... hiiii!” Fifi berbicara dengan mimik serius.

Aku menghentikan kegiatanku membuat bumbu, aku melihat sejenak ke arahnya.

“Kata orang sih, kita bisa kesurupan karena pikirannya kosong, makanya jangan berpikir yang tidak-tidak...!” jawabku santai, lagian ngapain pula membayangkan yang aneh-aneh? Mendingan menikmati suasana berkemah dengan teman-teman kan?

Fifi tertawa, “Eh, tadi kita melewati sungai ya? Kayaknya adem tuh. Kalau pas longgar nggak ada kegiatan main yuk ke sungai!” Fifi mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Boleh juga, tapi diijinkan guru nggak ya?” tanyaku.

“Nggak usah ijin segala nanti malah repot... heheheh...!” Fifi terkekeh.

“Maksudmu, kita curi-curi waktu gitu?” aku kurang mengerti dengan ucapan Fifi karena jadwal berkemah ini cukup padat, kapan pula bisa mencuri waktu?

“Yupp...!” dia mengangguk mantap.

“Kapan Neng bisa curi waktu? Tahu sendiri kan acaranya begitu padat?” aku geleng-geleng kepala.

“Yah kamu tuh... sepadat apapun itu nggak mungkinlah sampai seharian penuh! Iya kan?” dia balik bertanya.

“Iya... aku ngerti! Tapi kapan? Masa tengah malam saat orang tidur?” aku juga balik bertanya.

“Ya enggak lah kalau tengah malam, ngapain juga ke sungai tengah malam gitu! Takut juga dong kita...!”

“Terus?” potongku.

“Habis shalat Subuh aja... nanggung kalau tidur lagi... kan jam enam sudah mesti bersiap-siap? Jadi kita ada waktu sekitar satu jam buat mencuri waktu main ke sungai!” jawabnya kalem, tapi patut diancungi jempol juga.

“Kulihat tadi sungainya tidak deras. Paling juga tidak terlalu dalam. Tadi aku lihat ada anak-anak kecil bermain dan mandi di sungai itu,” tambahnya lagi.

Memang saat truk menuju ke tempat ini, kami melewati perkampungan penduduk yang berbatasan dengan sungai yang aliran airnya tampak tenang serta tampak tidak terlalu dalam karena kami melihat anak-anak yang masih seumuran anak SD bermain-main disitu, kaki mereka yang terendam air juga cuma sebatas lutut, jadi aku yakin sungai itu dangkal.

“Mmmhmmm... bisa juga nih!” seruku, kulihat Fifi tersenyum mendengar jawabanku. 

Kami berdua memang klop deh kalau urusan main... heheheh.

“Oke deh kalau gitu, sekarang kita konsentrasi bikin makanan,” lanjut Fifi.

Sesaat kemudian, Annisa dan teman-teman selesai mendirikan tenda, nasi juga sudah matang. Hanya sayuran dan lauk yang masih dalam proses.

“Gimana nih... sudah matang belum? Annisa bertanya kepada kami para petugas masak

“Iya nih... sudah lapar!” tambah Cici sambil memegang perut seperti orang kelaparan.

“Aduh baunya...!” Bertha menggerak-gerakkan hidung mencium bau masakan kami.

“Baru dimasak, sebentar lagi juga matang,” jawab Fifi sambil mengaduk-aduk sayuran yang kami masak.

“Aku mempersiapkan piranti makannya dulu deh, sebentar lagi kan semua matang!” seruku pada mereka semua.

Kemudian aku mengambil piring, sendok dan botol-botol minuman. Kutaruh berjejer di samping tenda dekat dapur darurat kami. Lalu kuambil nasinya dan kubagikan merata di atas piring. Setelah sayur dan lauk matang, aku dan Fifi mulai membaginya di atas piring piring itu.

“Nih, sudah matang... ayo makan ramai-ramai!” ajakku pada teman-teman semua. Kami lalu berebut duduk dan makan bersama.

“Ah masakan kalian memang enak!” puji Annisa. Dia makan dengan lahap. Kami senang melihatnya.

“Calon ibu rumah tangga yang baik tuh!” timpal Dinda kalem, dia menyendok makanan pelan-pelan dan memasukkan ke mulut dengan santai.

 Dinda memang anak yang tenang dan keibuan. Pantas saja meski teman yang lain tampak lahap dia tetap saja santai menikmati makanan.

“Atau mungkin karena nggak ada alternatif makananan yang lain tuh... jadi terasa nikmat!” gurau Cici sembari mengerling ke kami.

“Bisa jadi tuh... kalau perut sedang lapar, apa saja juga terasa enak!” tambah Bertha mengamini ucapan Cici.
“Sudahlah... nggak usah diperpanjang, kita nikmati makanan yang tersaji!” Annisa menengahi. Kamipun lalu menghentikan gurauan kami, dan melanjutkan melahap makanan itu.

“Eh nanti acara sore hari apa tuh?” tanyaku pada Annisa setelah selesai makan.

“Ah cuma upacara sore dan wejangan wejangan. Besok baru acara inti dilaksanakan. Paling nanti malam cuma acara hiburan bersama-sama,” jawab Annisa sambil menaruh piring kotor di tumpukan.

“Wah padahal kita ingin main-main di sungai di belakang perkemahan ini! Kayaknya asyik tuh buat mendinginkan kaki!” Fifi berbicara dengan antusias.

“Lebih baik nanti saja setelah acara inti selesai, biasanya di sela-sela acara yang sudah dijadwalkan pasti ada jeda waktu luang. Kita bisa pergunakan untuk bersenang senang,” Annisa mencoba menjelaskan kepada kami.

“Kata Fifi, tempat ini keramat ya?” tanyaku membuka topik pembicaraan yang lain.

“Keramat? Maksudnya?” ujar Dinda setengah bertanya.

“Iya, Yuda cerita, kakaknya pernah kemah disini, terus ada yang kesurupan gitu!” jelas Fifi dengan wajah serius.

“Yaaahh... itu kan akal-akalan si Yuda saja buat nakut-nakutin kamu?” seru Annisa dengan santai.

“Iya, masa nggak tahu sih kalau Yuda naksir kamu?” Cici menimpali dengan bercanda.

“Maksudmu apa?” Fifi seakan tidak terima dengan candaan Cici.

“Loh... kalau kamu ketakutan, Yuda kan siap jadi pangeran yang siap menolong kamu!” kelakar Cici diikuti derai tawa kami semua. Fifi cuma cemberut saja.

“Ah sudahlah, tidak usah diperpanjang. Ikuti saja program yang sudah ditentukan. Terus kalau ada waktu kosong bisa lah kita bergantian main ke sungai atau kemana sesuka kalian. Asal di jam yang yang sudah ditentukan kalian harus sudah hadir disini, jangan sampai bikin malu dan repot kita semua!” Annisa menengahi dengan panjang lebar. Kami semua cuma mengangkat bahu mengikuti kata Annisa. 

Sore itu kami melakukan upacara sore, dan malamnya kami mengisi acara hiburan dengan kelompok yang lain. Kami menampilkan tarian dan nyanyian semacam operet untuk menghibur. Setelah selesai dan malam menjelang kami kembali ke dalam tenda masing-masing untuk beristirahat.

“ Wah kelompok “Kelapa” bagus banget ya pentas hiburannya!” seru Bertha, tangan kanannya sibuk menyisir rambutnya yang panjang, sedang tangan kirinya memegang cermin kecil.

“Ya iyalah, si Jeki dan Anton kan orang seni, mereka yang sering ditunjuk sekolah untuk pentas seni atau lomba seni antar sekolah. Jadi ya wajar saja!” jelas Annisa, membesarkan hati kita semua.

“Lagipula besok masih ada kegiatan-kegiatan lain, bisa saja kita nanti masuk yang terbaik untuk salah satu kegiatan itu, jadi... tetap semangat saja!” sambung Annisa.

“Sekarang mendingan kita istirahat dulu, besok pagi kan Eki dan Fifi ada tugas menyiapkan sarapan. Kalau kita ngobrol terus... wah bisa kesiangan kan?” ujarnya lagi.

Kami mengangguk-angguk tanda menyetujui saran Annisa untuk beristirahat. Kemudian kami mengatur posisi kami agar bisa tidur dengan nyaman. Aku dan Fifi tidur bersebelahan.

“Eki...” bisik Fifi pelan di telingaku.

“Hmmm...” gumamku.

“Besok pagi sehabis shalat Subuh kita bisa main-main ke sungai itu, sebentar saja,” pintanya dengan suara lirih takut ketahuan teman yang lain. 

Bukan apa-apa, hanya saja nanti bila Annisa melarang, kami berdua jadi tidak enak hati untuk melanggarnya.
“Yoi, sampai besok pagi!” jawabku juga dengan suara pelan.

Lalu kami berdua menutup mulut kami menahan tawa. Malam itu kami semua tidur nyenyak, hawa pegunungan yang dingin dan angin yang bertiup membuat kami nyaman dalam tidur.

Pagi-pagi buta selepas shalat Subuh, kami berencana melaksanakan niat kami semalam.

“Aku dan Fifi mau mencuci sayuran nih!” aku ijin dulu ke Annisa, agar dia tidak mencari-cari kami. 

Untuk mencuci, kami harus ke bangunan “mck” yang sudah tersedia di samping bangunan ruang guru, dan itu agak jauh dari tenda kami. Maklum saja tenda kami ada di sisi lapangan paling selatan, sedang mck itu terletak di sisi utara. 

“Iya Nis, kami juga sudang memasak nasi. Belum matang sih! Nitip ya... teman lain suruh mengawasi ya, agar tidak gosong!” timpal Fifi mendukungku.

“Iya... nanti aku bilang teman yang lain!” jawab Annisa kurang hirau, mungkin dia masih mengantuk, atau mungkin dia sedang memikirkan aneka kegiatan yang mesti dijalani kelompok kami nanti. Sebagai ketua kelompok dia memang bertanggung jawab mengaturnya. 

Beringsut dari tenda, kami berdua membawa panci berisi sayuran. Setelah melewati beberapa tenda yang berjajar di lapangan itu kami berputar arah. Dengan berlari-lari kecil kami meninggalkan perkemahan menuju sungai dekat perkampungan desa. Hawa gunung yang dingin tidak menyurutkan niat kami. Kami sudah memakai jaket untuk mengurangi rasa dingin itu, juga topi wool yang melindungi kepala. Sebenarnya suasananya masih lumayan gelap karena matahari belum terbit, apalagi sepertinya langit juga sedikit mendung. Tapi semua itu sudah kami perhitungkan. Aku dan Fifi sudah membekali diri dengan senter kecil yang bisa membantu kami berjalan menuju arah sungai.

Dari jalan desa kami harus menerobos masuk ke rerimbunan tanaman-tanaman liar agar bisa cepat sampai di sungai itu. Beberapa kali kami merasakan ranting-ranting liar seperti mencubiti kaki, tapi itu tidak kami rasakan begitu mendengar gemericik suara air yang mengalir tidak jauh dari langkah kaki kami. Benar saja, akhirnya kami sampai di bibir sungai.

“Wah, kita sudah sampai nih!” Fifi berteriak senang. Dia lalu menurunkan panci dan mengangkat celana panjangnya sebatas lutut. 

“Tapi pancinya jangan ditaruh disitu, bisa kebawa air... siapa tahu air pasang... hahahah!” candaku kepada Fifi, aku juga ikutan menarik celana panjangnya ke atas sebatas lutut.

“Kayak air laut saja... tapi iya lah aku pindahkan dulu, takutnya terbawa arus!” ujarnya seraya mengambil panci itu kembali dan membawanya ke tanah yang lebih tinggi.

Selanjutnya kami berdua bermain-main air dengan riang, sebenarnya air sungai itu terasa sangat dingin di kaki, tapi tidak kami hiraukan. Sesekali kami saling mencipratkan air ke wajah dan badan, kami cekikikan bersama. Memang menyenangkan bisa mencuri waktu dan bermain sesuka hati. Tak terasa kami berdua asyik bermain sendiri-sendiri, aku dan Fifi tidak menyadari kalau jarak kami berdua semakin menjauh.

“Gila sudah duapuluh menit, harus segera kembali ke tenda nih!” teriakku saat kulihat jam yang melingkar di tanganku.

 Aku lalu berdiri dan memandang sekeliling untuk mencari Fifi, dan... tiba-tiba mataku menatap sesuatu yang tidak biasa, aneh... perasaan tadi hanya kami berdua yang bermain air di sungai ini, tapi kenapa sekarang ada beberapa orang? Kulihat Fifi sedang asyik bermain dengan tiga orang perempuan... yang berpakaian tidak umum. Perempuan-perempuan itu memakai pakaian dengan rok menggelembung yang diangkat ke atas. Setelah kuamati dengan seksama mereka ternyata perempuan bule. Meskipun suasana saat itu masih bisa dibilang gelap dan tidak ada lampu, tapi cahaya alam di ruangan terbuka cukup bisa menerangi. Apakah mereka itu noni-noni Belanda? Apa benar cerita orang-orang kalau dulunya tempat ini merupakan tempat favorit bagi mereka? Ah perduli amat... yang penting sekarang aku akan mengajak Fifi kembali ke tenda.

“Fifi... Fifi!” aku memanggil namanya.

“Ayo segera kembali!” aku melambaikan tangan ke arah Fifi, kulihat dia beberapa meter di depan dari tempatku berdiri sekarang. 

Tapi dia seakan tidak peduli, mungkin dia terlalu asyik bermain. Akupun lalu berjalan ke arahnya untuk menggapai tangannya dan memaksanya kembali ke tenda. Tapi aneh... semakin aku berjalan mendekatinya semakin dia tampak menjauh, dia juga tidak hirau dengan teriakanku. “Gila ini anak!” aku mengumpat dalam hati.

 Sebal rasanya diacuhkan teman. Padahal tadi kami sudah sepakat hanya bermain sekitar dua puluh menit saja lalu akan kembali ke tenda bersama-sama, tapi kini? Fifi malah keasyikan sendiri dengan perempuan bule itu. Aku terus mencoba mendekatinya sambil meneriakkan namanya, tapi sebuah tangan menarikku dari belakang, kupalingkan mukaku ke arah itu. Aku terkejut bukan kepalang... karena orang yang ada di belakangku adalah Fifi.

“Kamu tuh kenapa? Memanggil-manggil namaku tapi malah berjalan menjauh. Lihat nih sudah lebih duapuluh menit. Ayo kita cepat kembali ke tenda!” seru Fifi seperti menahan kesal.

Aku terdiam beberapa saat, aku memandangnya dengan perasaan seakan tidak percaya. Aku yakin bahwa tadi aku melihat sosok Fifi di depanku... kok ini ternyata ada di belakangku? Kualihkan kembali tatapan mataku ke arah depan, tapi sosok Fifi dan perempuan bule itu sudah menghilang.

“Ayooo...” Fifi menarik tanganku dan memaksaku mengikuti langkahnya.

“Eh... sebentar, kamu tadi melihat perempuan perempuan bule seusia kita nggak?” tanyaku penasaran, kupegangi tangannya agar berhenti sesaat.

“Perempuan bule? Ngapain juga mereka kelayapan sampai sini? Kamu tuh ada-ada aja...!” jawabnya sedikit ketus, dia lantas melepaskan pegangan tanganku dan gantian dia yang menarik tanganku.

Aku masih bengong dengan diriku sendiri, tapi aku mengikuti saja langkah Fifi.

Sepanjang perjalanan kembali ke tenda, aku masih diselimuti rasa tidak percaya. Aku bertanya tanya dalam hati... betulkah tadi yang kulihat? Apakah mungkin hanya halusinasiku saja? Ahh aku jadi merinding sendiri, aku ingin segera sampai di tenda.

Thursday, December 5, 2019

Hantu Anak Kecil di Rumah Sakit Bandung


Kejadian itu kualami saat aku kuliah di Bandung. Aku kost di Sukajadi, dan kuliah di UNPAD Jatinangor. Karena dari latar belakang keluarga yang sederhana, terpaksa aku mencari kost yang bisa ditempati untuk tiga orang. Meskipun mesti berbagi ruangan dan privasi pun berkurang tapi kost bertiga bisa menghemat biaya. Untuk urusan adaptasi tidak begitu bermasalah karena kami berasal dari daerah yang sama di Jawa Tengah, yaitu Kebumen. Aku bisa kost bertiga juga atas referensi kakakku, ya... salah satu teman kostku itu adalah teman kakakku yang bernama Ani, dia bekerja di Bandung di sebuah rumah makan, sedang satunya lagi adalah temanku saat sekolah menengah atas di Kebumen, namanya Wiwin, sama seperti kak Ani, dia juga bekerja. Sebenarnya Wiwin juga ingin kuliah, tapi karena tidak ada biaya terpaksa keinginan itu dia tunda dulu. Saat ini dia bekerja di sebuah toko Swalayan.

Peristiwa yang kualami ini berawal dari Wiwin yang merasakan sakit di bagian perutnya di suatu petang.

“Din, perutku kok sakit sekali ya?” keluh Wiwin sambil memegangi perutnya. 

Saat itu kak Ani tidak ada di kost karena kerja di shift kedua, biasanya dia akan sampai ke kost sekitar jam sepuluh malam. Dan aku baru pulang dari rumah salah satu teman kuliahku.

“Lagi diare ya?” tanyaku berbasa-basi, maklum Wiwin itu sudah sering kali sakit diare, setiap kali sakit perut ternyata hanya diare.

“Nggak tahu nih...!” keluhnya lagi. Kulihat dia tiduran di tempat tidur sambil terus memegangi perutnya.

“Udah minum obat kan?” tanyaku, dia menggeleng.

“Nanti aku belikan obat deh... tapi aku mandi dulu ya, gerah nih!” lanjutku.

Wiwin mengangguk, aku lalu menaruh tas di atas kursi dan mengambil peralatan mandi dan baju ganti. Bergegas aku keluar menuju kamar mandi yang ada di ujung lorong kost. Selesai mandi, akupun kembali ke kamar kost... eh ternyata Wiwin masih kesakitan.

“Din, anterin ke rumah sakit dong! Nggak tahu nih... rasanya kok sakit banget dan beda dari biasanya.

“Rumah sakit?” aku terperanjat.

“Ya... mau kan?” pintanya terdengar memelas.

“Tentu saja, aku ganti baju yang pantas dulu ya!” pintaku.

“Ya iyalah... masa pakai daster!” gurau temanku itu.

Aku tersenyum, dia masih bisa bergurau juga walaupun wajahnya agak pucat dan meringis karena kesakitan.
“Aku juga mau bersiap...” ucapnya sambil beranjak dari tempat tidur.

“Iya... terutama siap duit... heheheh!” candaku.

Dia hanya tertawa kecil menanggapi gurauanku.

Singkat cerita kami menuju rumah sakit dengan naik taksi, Wiwin sendiri yang minta karena sudah nggak tahan kalau mesti menunggu angkutan. Aku sih senang saja toh dia juga yang bayar... heheheh. Sesampai di UGD dan diperiksa dokter ternyata Wiwin mesti menginap di rumah sakit alias opname. Itu benar-benar di luar dugaan kami. Karena kondisi keuangan yang terbatas, Wiwin memutuskan mengambil ruangan kelas tiga.

“Maaf ya Din! Nggak nyangka nih kalau aku mesti opname!” kata Wiwin saat aku membantunya naik ke tempat tidur.

“Nggak apa-apa Win, kita mesti saling bantu. Toh bila aku yang sakit... tentu aku akan minta bantuan ke kamu juga!” aku mencoba memberi pengertian.

“Terima kasih Din. Ini kamu mau kembali ke kost ya?” tanya Wiwin.

“Iya, buat ambil barang-barang yang diperlukan. Aku akan catat dulu biar tidak ada yang kelupaan,” jawabku.

“Loh... kamu mau jagain aku?” serunya tidak percaya.

“Besok aku tidak ada jadwal kuliah. Kan besok hari raya Imlek. Jadi aku bebas!”

“Oh iya kalau besok tanggal merah... terima kasih sekali ya?”

“Sudah... kita sekarang catat dulu apa yang perlu dibawa!”

Akhirnya kami berdua berdiskusi barang apa saja yang mesti aku ambil. Untuk diriku sendiri aku hanya butuh air mineral, jaket dan selimut saja.

Selanjutnya akupun berpamitan kepada Wiwin untuk kembali ke kost sebentar buat mengambil barang-barang di catatan itu. Dia memintaku naik taksi saja untuk mempersingkat waktu sehingga bisa menemaninya di rumah sakit. Di benakku aku berharap kak Ani sudah pulang sehingga aku bisa meminjam motornya, karena kalau kemana-mana naik taksi tentu akan memberatkan, toh besok pagi aku bisa kembali ke kost dan mengembalikan motor. Tapi ternyata sesampai kost dia belum pulang, aku bergegas berkemas dan kembali ke rumah sakit dengan naik taksi lagi.

 Singkat cerita, aku menghabiskan malam itu di rumah sakit, tentu saja aku sudah mempersiapkan semuanya termasuk selimut, jaket dan minuman/makanan ringan. Maklum Wiwin berada di sal kelas tiga, jadi tidak disediakan tempat tidur bagi yang menjaga, makanya aku membawa selimut.

“Ini barang pesananmu tadi, aku masukkan ke dalam tas!” seruku sambil menunjukkan tas besar itu kepada Wiwin dan menaruhnya di dalam almari kecil di samping tempat tidur Wiwin.

“Terima kasih ya Din, kak Ani sudah pulang belum?” tanya Wiwin.

“Belum tuh, kan belum ada jam sepuluh malam, tapi tadi sudah aku sms memberitahu kalau kamu opname di rumah sakit,” jawabku sambil menarik kursi dan menempatkannya di sebelah tempat tidur, selanjutnya aku duduk.

“Iya, dia juga sudah sms aku, bilang minta maaf tidak bisa ke langsung ke rumah sakit, mungkin besok dia akan menjenguk,” ucap Wiwin.

“Kak Ani pasti lelah sekali setelah bekerja. Jadi dia perlu istirahat dulu,” tambahnya.

Aku juga meyakini kalau kak Ani baru besok bisa menjenguk, setelah kerja seharian tentu dia sangat kelelahan, kalau dipaksakan ke rumah sakit, wah dia bisa ikutan sakit nanti.

“Orang tuamu sudah dikabari?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Belum, aku takut mereka akan panik. Aku tadi sudah tanya dokter berapa lama aku mesti opname? Katanya sih paling dua atau tiga hari bisa boleh pulang kok!”

“Ya syukurlah...!”

“Iya lama-lama juga siapa yang mau... udah bikin repot... eh ngabisin duit pula!”

“Makanya jangan mau sakit...!”

“Heheheh... siapa pula yang mau sakit!”

“Eh Win, nanti malam aku bisa tidur di luar kan, kalau perlu apa-apa kamu bisa sms aku?”

Aku memandang sekliling ruangan ini, wah penuh dengan pasien dan penjaganya.

“Tentu Din, santai sajalah... aku tidak takut kok tidur sendirian disini... heheheh... tidak sendirian sih... kan banyak temannya tuh...!”

Wiwin itu penakut, dia tidak bisa tidur di kamar sendirian. Beda dengan aku, sulit untuk memejamkan mata bila mesti tidur dalam kondisi ramai. Di kost pun kalau kak Ani dan Wiwin masih terjaga dan ngobrol, aku tidak bisa tidur. Pokoknya aku bisa tidur kalau suasana hening dan sepi. Bayangkan saja... di sal ini berjajar tempat tidur, mungkin sekitar duabelas tempat tidur di satu ruangan. Pasien tidur di ranjang sedang para penjaga yang jumlahnya melebihi jumlah pasien tiduran di lorong jalan dan sisi samping tempat tidur, dan rata-rata mereka ngobrol meski dengan suara yang tidak keras.

Untuk mengisi waktu aku membaca koran yang tadi sempat aku beli, tapi menjelang tengah malam aku kelelahan dan ingin tidur. “Win... aku tinggal dulu ya, aku tidur di luar aja!” seruku pelan seraya kipas-kipas dengan koran, “Disini panas banget, sumpek!”

Ya, untuk ruangan kelas tiga para penunggu biasanya berjejalan di lantai lorong rumah sakit untuk tidur, bisa kebayang kan sumpeknya.

Wow... ternyata Wiwin sudah tertidur pulas. Kurapikan selimutnya.

“Adik mau tidur di luar ya?” tanya seorang ibu yang menunggui anaknya yang berada di samping ranjang Wiwin.

“Iya Bu!” jawabku.

“Nanti kalau ada apa-apa gimana?” tanyanya.

“Dia bisa telpon aku. Lagian malam-malam begini tidak mungkin ada kunjungan dokter kan Bu, juga ada perawat jaga di depan yang sesekali berkeliling melihat kondisi sal!”

“Oh iya sih...! Ya silakan Dik!”

Aku lalu keluar dari sal, berjalan menuju koridor rumah sakit di luar ruang. Jarak koridor dengan ruangan tempat Wiwin dirawat tidak terlalu jauh jadi tidak sulit bagi aku untuk sesekali menengoknya. Di sebelah kanan koridor tampak taman yang asri, sedang sebelah kiri pinggiran koridor ada bebarapa kursi panjang yang diletakkan disitu. Kalau jam besuk tiba, kursi-kursi itu selalu penuh terisi, biasanya ditempati oleh mereka yang mau antri menjenguk pasien, karena di dalam sudah penuh mereka duduk dulu di kursi panjang itu. Tapi kalau malam begini, kursi-kursi itu sebagian besar kosong, maklum para penjaga biasanya memilih tidur di lantai di sisi tempat tidur pasien.

“Aku tidur disini saja lah?” ucapku pada diriku sendiri ketika kulihat sebuah kursi panjang yang berada tidak jauh dari pintu utama sal kelas tiga itu.

Jaket aku lepas dan kulipat kubuat bantal, lalu aku naik kursi panjang dan menelentangkan badan di atasnya... wah rasanya enak sekali setelah hampir seharian duduk, kemudian kubentangkan selimut yang aku bawa dan kututupi tubuhku.

“Tidur dulu ah!” seruku ringan.

Sebelum mata ini terpejam, sempat kulihat beberapa orang yang tiduran di luar sepertiku. Namun ada juga yang hanya duduk di pinggir koridor sambil melipat tangannya di dada menahan dingin, kutangkap juga raut muka mereka yang tampak kelelahan, mereka pasti kecapaikan seperti aku. Namun aku mesti efisienkan waktu, dari pada mata jelalatan kemana-mana mendingan tidur, bisa ditebak... selanjutnya mataku ini seperti dilem sehingga aku cepat jatuh tertidur, aku tidak tahu lagi mereka sedang apa karena aku sudah terlelap. 

Saat asyik-asyiknya tidur, tiba-tiba badanku seperti ada yang mengguncang-guncang dengan keras. Meski sulit sekali untuk membuka mata tapi aku paksakan juga. Agak samar karena belum sepenuhnya terjaga kulihat wajah seorang anak kecil yang tampak sedih, dia menangis tersedu sedu, seketika mataku terbuka meski rasa kantuk masih menggelayutiku.

“Kenapa Dik? Kok menangis? Kenapa?” tanyaku bertubi-tubi.

“Aku... aku... sedih!” kata anak kecil itu terbata sambil tetap menangis.

“Sedih?” aku terkejut. Kulihat sekeliling siapa tahu orang tuanya ada di sekitar sini... tapi tampaknya tidak ada yang ganjil... hanya susana malam yang sepi dan dingin angin yang berhembus. Ah mana sih orang tuanya?

Aku lalu bangkit dari kursi panjang itu dan meminta anak kecil itu duduk di sebelahku.

“Sedih kenapa? Orang tuamu mana?” aku jadi penasaran kenapa anak sekecil ini dibiarkan kelayapan seorang diri di malam hari begini.

Ya meskipun masih di area rumah sakit, tapi sungguh teledor menurutku kalau anak kecil ini dibiarkan di luar pengawasan, kalau dibawa orang gimana coba? Tapi anak itu diam saja tidak menjawab pertanyaanku.

“Memang siapa yang sakit?” tanyaku lagi.

Eh dia tetap diam saja, dia malah menggelayut manja di pundakku, sesekali dia memainkan rambut bonekanya.

“Wah bonekanya cantik ya!” aku mencoba mengalihkan pertanyaan, nanti setelah beberapa pertanyaan dan dia tampak nyaman aku bisa mengajukan pertanyaan inti.

Dia mengangguk.

“Siapa yang membelikan?” 

“Mama...!” jawabnya pendek.

“Wow... hadiah ulang tahun ya?”

Dia tertawa, lalu menjawab, “Kok Kakak tahu?”

“Ya tahulah... waktu aku kecil dulu, ibu juga membelikanku boneka yang cantik ketika ulang tahun!” aku berbohong, dalam hati aku menertawakan diriku sendiri. 

Aku jadi ingat masa kecilku dulu, tidak pernah aku mendapatkan hadiah dari orang tua, maklum kami keluarga besar dan termasuk keluarga yang pas-pasan. Prioritas utama keuangan ya buat makan sehari-hari dan sekolah.

“Kakak bohong...!” seru anak itu lugas.

“Hah...!” aku terkejut setengah mati, kok dia tahu aku bohong ya?

“Kalau Kakak suka dengan boneka ini, Kakak boleh meminjamnya kok!” ucapnya seraya menyorongkan boneka itu di hadapanku.

Mata kamipun beradu, aneh... kenapa ya tidak ada sinar kehidupan di matanya? Mata yang bulat hitam hanya memancarkan kesedihan. Kualihkan pandangan ke boneka yang ditawarkan kepadaku, boneka itu berambut pirang dikucir kuda dan mengenakan pakaian warna merah bermotif polkadot.

“Ah, kakak sudah dewasa, masa main boneka sih. Sudah lewat!” jawabku, “Oh ya nama Adik ini siapa ya?” tanyaku lagi.

“Adinda! Biasa dipanggil Dinda,” jawabnya dengan suara khas anak kecil.

“Wow... namanya cantik sekali, kayak wajahnya!” pujiku.

Memang kuakui anak itu cantik dan lucu. Mukanya bulat, pipinya penuh, kulitnya putih bersih... pokoknya sungguh menggemaskan. Sepasang matanya bersinar bening dan hidung mancung, membuat dia tampak menawan. Dengan memakai baju merah nampak kontras dengan kulitnya yang putih... tapi pucat? Kenapa kulitnya pucat?

“Dinda mau kakak antar ke mama? Di ruangan mana ya?” tanyaku ke persoalan inti. 

Kupikir lebih baik aku mengembalikan ke orang tuanya saja, hari sudah malam mungkin orang tuanya ketiduran dan tidak menyadari kalau anaknya keluar kamar, bukankah anak seusia dia gampang bosan kalau melulu di ruangan yang sama? Aku saja yang besar begini sering bĂȘte kalau berdiam diri terus di kamar, apalagi anak itu.

“Enggak mau... Dinda mau main-main saja!” 

Jawaban itu sungguh di luar dugaanku, biasanya anak seusia dia selalu ingin nempel ke orang tuanya, lepas sedikit saja pasti menangis mencari-cari. Kok ini malah menolak sih?

“Loh... nanti mama sedih kalau...”

Belum selesai aku bicara, anak itu tiba-tiba turun dari kursi dan berlari meninggalkanku, langkahnya memang pendek karena masih kecil... tapi dia begitu gesit sehingga dalam hitungan detik dia lepas dari pandanganku.
“Ah dimana dia? Mengapa begitu cepat hilang dari pandangan?” tanyaku dalam hati sambil mataku melihat sekeliling. 

Hanya ada beberapa orang yang tiduran di atas kursi panjang seperti halnya diriku. Mereka tampak pulas, mungkin anak itu menghilang diantara tumbuhan perdu di sekitar koridor ini. Maklum anak kecil... sembunyi di balik pohon sudah tidak kelihatan, apalagi di malam hari begini yang notabene pencahayaan sinar lampu juga kurang maksimal. Penerangan juga hanya beberapa saja karena sudah malam.

Iseng-iseng kulihat handphoneku, eh... ternyata sudah jam dua dini hari. Tidak ada panggilan atau sms yang masuk. Entah mengapa aku jadi merinding sendiri. Meskipun ada beberapa orang di sekitarku tapi aku seperti merasa sendirian karena hanya aku saja yang terjaga.

“Ah mendingan aku balik ke ruangan Wiwin saja daripada bengong sendirian disini!” begitu kataku dalam hati. Terlanjur sudah bangun, susah untuk kembali tidur.

Akhirnya, kuambil jaket dan kukenakan. Selimut juga aku lipat agar rapi. Selanjutnya aku berjalan pelan menuju ruangan dimana Wiwin menginap.

Ketika kubuka pintu utama ruangan, kulihat beberapa perawat yang berjaga, untuk memasuki ruangan pasien, kami para penjaga pasien harus melewati ruang perawat dulu.

“Belum tidur Mbak?” sapa salah seorang perawat.

“Tadi sih sudah tidur, tapi terus terjaga karena dibangunin anak kecil!” jawabku sambil menghentikan langkah dan menghampiri perawat itu.

“Anak kecil?” perawat itu mengeryitkan dahi.

“Iya, mungkin bosan di ruangan terus... makanya keluar buat main-main!” tambahku lagi.

“Ooh...!” dia seakan tidak percaya dengan ucapanku, tapi tidak terlalu menghiraukannya.

“Tapi dia sudah kembali ke orang tuanya kok!” terpaksa aku berbohong, daripada nanti melantur dan jadi masalah.

“Ya syukurlah!” jawabnya lalu tersenyum.

“Masuk ke dalam dulu ya Mbak?” aku berpamitan.

Dia mengangguk kemudian mempersilakanku melanjutkan jalan.

Akupun sampai di tempat dimana Wiwin tidur, yah... dia tampak nyenyak sekali. Kuambil kursi dan kugeser sedikit karena kalau tidak bisa menganggu ibu yang tidur dibawah. Ibu itu juga tampak lelah dan nyenyak sekali, beliau tidur di bawah dengan beralaskan kasur lipat busa tipis. Anaknya yang sakit juga kelihatan tidur dengan nyenyak.

“Yah... sendirian lagi dong...!” gerutuku dalam hati.

Kulihat di sekeliling di dalam ruangan ini, banyak dari penjaga pasien yang tertidur pulas, ya mungkin mereka kelelehan setelah seharian menunggu sanak keluarga yang sakit.

Karena bingung tidak ada kegiatan, aku putuskan kembali ke depan ke ruang perawat, di depan ruang perawat ada kursi panjang yang menghadap televisi yang dipasang di dinding. Siapa tahu aku bisa menghabiskan waktu sambil nonton televisi saja. Akhirnya kuputuskan kembali ke depan.

“Numpang ikutan nonton tv ya Mbak!” sapaku kepada perawat tadi.

“Silakan Mbak! Nggak bisa tidur ya?” tanyanya.

Aku mengangguk. Kemudian aku duduk di kursi panjang dan menonton televisi.

“Aduh... kenapa acaranya pertandingan bola sih?” gerutuku. Kucari remote juga tidak ada, mungkin disimpan oleh perawat. 

“Pinjam remote nggak ya?” tanyaku dalam hati... tapi paling kalau malam begini tidak ada acara televisi yang bagus, bahkan sebagian saluran juga pasti sudah selesai.

“Ah mendingan main game sajalah!” seruku kepada diriku sendiri.

Entah jam berapa aku terbangun, wow ternyata aku ketiduran di ruang tunggu depan ruang perawat ini. Masih pagi sih... tapi suara langkah-langkah kaki membuatku terbangun. Terpaksa deh aku kembali ke tempat Wiwin. Nggak enaklah tidur di kelilingi orang yang terjaga dan sedang bekerja.

“Kamu tidur dimana Din?” sapa Wiwin.

Ternyata dia sudah bangun. Ibu yang di samping itu juga sudah bangun.

“Tadi malam aku tidur di luar, di kursi panjang yang ada di taman!” jawabku seraya duduk di kursi.

“Sendirian? Nggak takut Mbak?” tanya ibu itu ikutan nimbrung kami ngobrol.

“Banyak kok Bu yang tidur di luar kayak aku. Rata-rata mereka tidur di atas kursi panjang.”

“Oh... pantesan Mbak ini membawa selimut segala!” serunya.

Aku tersenyum, “Iya Bu... buat menahan dingin!”

“Kalau dingin kenapa nggak tidur disini saja?” tanya ibu itu lagi.

Wiwin yang mendengar celotehan si ibu itu hanya tersenyum tipis, dia sudah tahu kebiasaanku. Aku tidak bisa tidur di tempat yang ramai dan banyak orang begini.

“Disini sumpek dan panas, Bu!” jawabku sedikit ketus.

“Makanya Dina bawa selimut, di luar memang dingin tapi bisa dihalau dengan selimut kan!” terang Wiwin dengan nada manis. Mungkin dia tahu kalau aku sudah mulai tidak sabar menghadapi ucapan ibu itu.

Kulihat ibu itu mengangguk-angguk, semoga saja dia mengerti dan tidak cerewet lagi... heheheh.

“Win, nanti aku tinggal dulu sebentar buat balik ke kost!” kuutarakan maksudku. Aku mesti balik ke kost untuk mandi dan berganti baju.

“Aku nanti naik angkutan saja... biar tidak membuatmu bangkrut... heheheh!” lanjutku sambil bergaurau.

Wiwin ikutan tertawa, “Terima kasih deh pengertiannya untuk tidak membuatku bangkrut!” timpal dia, “Aku juga mau menitip baju kotor dan tolong dibawain baju ganti ya?” tambahnya.

“Beres deh...!” kataku, “Tapi masih entar nanti agak siangan... ini kan masih terlalu pagi!”

“Oh ya... kak Ani nanti juga mau kesini kok buat menjenguk kamu!” tambahku ketika kulihat ada sms masuk dari kak Ani. Isinya ternyata mengabarkan kalau nanti akan menjenguk Wiwin, dia minta informasi nama kamarnya.

“Loh... kalian ini masih kerabat atau...?” eh ibu itu ikutan nimbrung lagi.

“Bukan Bu, Dina ini teman kostku. Kami tinggal di kamar yang sama... berbagi ruangan biar irit!” urai Wiwin.
“Oooo... begitu ya. Lhah sudah kasih kabar ke orang tua belum?”

“Kata dokter, aku nggak lama opname disini paling tiga harian... jadi kuputuskan tidak memberitahu orang tua... takutnya mereka panik. Biaya buat ke Bandung juga tidak murah kan, mendingan kasih kabarnya setelah keluar dari rumah sakit,” jelas Wiwin panjang lebar.

“Aduh... nanti kalau ada apa-apa gimana? Kalau mesti operasi atau... ya apalah...”

“Ah Ibu ini terlalu jauh berpikirnya. Kata dokter nggak berat, hanya perlu beberapa hari saja kok. Kalau memang sakit berat tentu aku akan memberitahu ke orang tua untuk kesini, tapi karena ringan saja lebih baik tidak!” potong Wiwin.

“Doanya saja Bu, semoga Wiwin cepat sembuh dan bisa segera pulang!” aku menimpali ucapan Wiwin.

“Tentu... tentu... semoga cepat sembuh... jadi orang tua tidak repot kesini!”

Akhirnya ibu itu mengerti juga.

Menjelang siang aku segera mengemasi barang yang akan aku bawa ke kost, Wiwin sudah mandi dan berganti baju. Untuk jadwal makan dia bilang bisa dilakukan sendiri sehingga aku tidak perlu menunggu jadwal makan unutk menyuapinya, sehingga aku bisa pulang duluan.

“Bu, nitip teman saya ya!” pintaku kepadanya.

Ibu itu sedang mengganti baju anaknya, sehingga dia tidak banyak berkomentar ketika aku berpamitan, dia hanya bilang, “Hati-hati ya Mbak...!”

“Daaaa Win...!” aku melambaikan tangan.

Wiwin membalasnya sambil melambaikan tangan juga.

Dengan membawa buntalan berisi pakaian kotor aku keluar ruangan kelas tiga itu dan bergegas menuju koridor yang menghubungkan pintu keluar. Tidak ada hal-hal yang berbeda alias semua tampak biasa saja seperti biasanya di rumah sakit pada umunya. Beberapa pekerja mulai hilir mudik melakukan tugasnya, ada petugas kebersihan yang membawa peralatan untuk membersihkan kamar-kamar. Beberapa perawat juga berjalan-jalan di koridor. Terus ada orang-orang yang tampaknya seperti aku –penjaga pasien– yang hilir mudik di sekitarnya.

Namun dalam perjalanan di sekitar koridor itu tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang membuatku bertanya-tanya, kulihat sekumpulan orang yang berjalan tergesa menuju pintu keluar seperti halnya aku... tapi... salah satu dari mereka membawa boneka! Yup... boneka itu sama persis dengan yang dibawa Adinda yang menemuiku semalam. 

Kenapa boneka itu ada padanya? Dimana Dinda?

Karena penasaran kupaksa diriku untuk bertanya pada rombongan itu, walau sebenarnya aku merasa sungkan juga, takutnya dibilang rese alias sok mau tahu urusan orang, tapi kalau tidak dipaksakan untuk bertanya bisa bisa aku penasaran seumur umur.

“Maaf Bu!” aku menyapa seorang ibu yang membawa boneka itu.

Ibu itu menengok sebentar ke arahku dengan tatapan mata yang kurang senang, sekilas kulihat kesedihan yang terpancar di matanya.

“Kita bicara sambil jalan saja Bu! Mau keluar kan?” tanyaku lagi.

Ibu itu mengangguk, akupun akhirnya masuk ke rombongan dan melangkah bersama-sama menuju pintu keluar.

“Ada apa Mbak?” tanya beliau sambil terus berjalan.

“Boneka itu kepunyaan Adinda kan?” ucapku pelan.

Tiba-tiba ibu dan rombongannya menghentikan langkah, mereka kemudian mengalihkan pandangan ke arahku, semua mata menatapku dengan penuh tanda tanya.

“Mbak kenal Adinda, putri kecil adik saya?” tanya salah seorang dari mereka.

“Mmmhmm... bukan kenal, hanya tahu saja!” aku jadi gelagapan sendiri dan tidak enak hati, “Saya pernah bertemu di rumah sakit ini, dia membawa boneka ini... dia...”

 Aku tidak berani menyelesaikan ucapanku. Aku jadi semakin yakin tidak mungkin Adinda bisa keluyuran seorang diri di tengah malam begitu. Ada beberapa orang di rombongan itu dan rasanya tidak mungkin anak sekecil itu bisa lepas dari pandangan mereka.

“Maksud Mbak apa nih? Kita tidak mengerti...!” lanjut orang itu dengan mimik kurang senang.

“Mmmh... titip salam saja buat Adinda! Maaf... permisi... saya mau ke ruangan tempat pasien dulu... teman saya sedang sakit...!” melihat tatapan mereka yang seperti mencurigaiku, aku jadi gugup dan tidak bisa berbicara dengan runtut.

Aku bermaksud berbalik arah dan segera meninggalkan rombongan itu, namun ibu itu memegang pundakku dan berkata, 

“Adinda sudah meninggal... tadi malam!”

“Apaaa...?” aku terkejut setengah mati. Mataku sampai melotot mau keluar.

“Iya, Adinda memang sudah meninggal... tadi malam!” ulangnya.

“Mmmhmmm... ikut berbela sungkawa! Maaf, saya... saya...!” aku segera menepis pegangan ibu itu dan berlari ke lain arah. 

Ketika kulihat ada kursi panjang kosong di sepanjang koridor aku segera berhenti dan menghampiri kursi untuk duduk menenangkan diri. Dari jauh kulihat rombongan itu masih menatapku, tapi itu tidak lama, mereka lalu melanjutkan berjalan kembali menuju pintu keluar.

Sambil mengatur nafas aku mencoba mencerna kejadian tadi malam dimana seorang anak kecil membangunkanku. Dia bernama Adinda dan membawa boneka itu. Ah... ternyata aku sudah bertemu hantu di malam itu.

La Planchada