Wednesday, January 20, 2021

RUMAH TUA PENINGGALAN KAKEK BUYUT

(Foto hanya ilustrasi)


Setelah SK pensiun ayah turun, satu bulan kemudian kami meninggalkan rumah dinas yang sudah berpuluh puluh tahun kami tempati. Kami sekeluarga kemudian pindah ke sebuah rumah tua yang tak lain adalah rumah almarhum kakek buyut saya. Rumah itu sudah diwariskan secara turun-temurun dari kakek buyut keluarga kami. Rumah dengan arsitektur Belanda yang ukurannya cukup besar bahkan sampai sekarang. Namun karena hanya di tempati oleh nenek dan kakek saya saja, rumah ini menjadi agak tidak terawat dan menimbulkan berbagai sisi menyeramkan di setiap sudutnya.

Rumah dua lantai dengan ruang tengah seperti sebuah ballroom ini setiap harinya hanya di tempati dua orang renta yang sudah semakin menua usianya. Rumah itu telah menjadi saksi meninggalnya sanak saudara sejak kakek buyut saya. Jadi tidaklah heran jika suasana aneh kadang bermunculan di tempat ini.

Suatu malam sekitar pukul 02.30 dinihari aku terbangun dari tidurku karena merasa ingin buang air kecil. Di rumah itu, kamar mandinya berada di luar rumah inti di bagian belakang tapi masih dalam satu halaman yang dikelilingi pagar tembok yang tinggi. Di halaman belakang tersebut terdapat 3 buah kamar mandi yang berderet serta sebuah sumur tua di sampingnya. Di samping sumur, terdapat pohon asam yang besar karena usianya yang sudah tua. Selain itu, di halaman belakang tersebut juga terdapat dua pohon mangga dan satu buah pohon sawo yang sama besarnya karena usianya yang juga sudah tua.

 Ketika aku berjalan di depan deretan kamar mandi tersebut, dari dalam sumur seperti terdengar suara aneh yang mengepak-ngepak. 

“Waduh... jangan-jangan ada kucing atau tikus yang tercebur ke dalam sumur nih...” Pikirku. Kemudian aku berjalan menuju samping sumur untuk menyalakan lampu agar terlihat jelas. Begitu aku menyalakan lampu, suara kepakan tersebut tiba-tiba hilang dan lenyap. Aku melongok ke dalam sumur, tapi tidak terdapat apa-apa. Akhirnya aku kembali mematikan lampu dan menuju ke salah satu kamar mandi untuk buang air kecil yang sudah sedari tadi aku tahan.

Setelah selesai buang air, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Namun aku mendengar suara orang yang sedang mandi di kamar mandi sebelahku tempat aku bauang air kecil tadi.

“Siapa nih malam-malam begini mandi.... nggak dingin apa?“ Teriakku. Namun tak ada jawaban dari kamar mandi tersebut.

“Ayah... Ibu.... atau Agus nih...” Lanjutku mencoba menebak siapa yang ada di dalam kamar mandi sambil aku mengetuk pintu kamar mandi tersebut. Namun tak ada jawaban juga.

“Ah.. paling tidak dengar, karena suara air kran yang begitu keras.” Pikirku sambil meninggalkan tempat itu menuju ke kamarku.

Hingga pagi harinya, saat kami semua sarapan pagi bersama di ruang makan aku menanyakan kepada seluruh keluargaku siapa yang dini hari tadi mandi. Tapi tidak ada yang mengaku. Termasuk juga mbok Inem, pembantu kami juga aku tanyai. Tapi mbok Inem juga menyatakan bahwa semalam dia tidak keluar ke kamar mandi. Sontak kejadian ini membuat semuanya ramai membicarakannya.

“Mimpi kalee.... kakak...” Ledek Agus, adikku

“Mungkin karena kakak masih ngantuk, jadi seperti mendengar suara-suara...” Lanjut ibuku

Malam selanjutnya, tepat jam 2 pagi aku kembali merasa ingin buang air kecil. Kemudian aku memberanikan diri kembali ke kamar mandi tersebut. Dan seperti malam-malam sebelumnya, aku selalu mendengar suara orang sedang mandi. Karena rasa penasaran, aku berjalan mengendap-ngendap, hingga akhirnya berusaha mengintip ke dalam kamar mandi tersebut. Dalam jarak 1 meter sebelumnya, suara itu masih terdengar. Namun, begitu terkejutnya aku saat aku mengintip ke dalam. Tidak ada satupun orang di dalamnya! Dan suara gemericik air pun tiba-tiba berhenti. Beberapa menit kemudian, bau yang sangat harum menyengat tercium di sekitar deretan kamar mandi tersebut. Dalam keadaan gelap gulita, kamar mandi itu semakin terlihat menyeramkan. Bulu kudukku spontan berdiri karena ketakutan. Akhirnya aku berlari kembali masuk rumah inti dan menuju ke kamarku.

Esoknya, aku meminta ayah agar di dalam rumah inti diberi satu buah kamar mandi agar kalau malam hari terasa ingin buang air kecil tidak perlu ke luar dari rumah inti lagi. Untunglah ayahku menyetujui usulku tadi karena merasa kasihan melihatku setiap malam harus merasa ketakutan.


Tuesday, January 19, 2021

NEK IMAH PENJUAL KACANG

(Gambar ini hanya ilustrasi)

Sore itu, Aku, Melly, Zaskia, dan adikku -Irene- sedang asyik bermain petak umpet di rumah tua Nek Imah. Sebuah rumah tua dan kosong yang sudah tidak dihuni lagi. Konon, rumah itu ditinggali oleh Nek Imah sebatang kara. Nek Imah memang tidak punya keluarga dan untuk membiayai hidupnya, Nek Imah berjualan kacang rebus di bawah pohon beringin di perempatan jalan desa.

Saking asyiknya kami bermain, hingga tak terasa waktu sudah menjelang maghrib. Beberapa saat kemudian terdengar suara kumandang azan magrib, namun kami belum terlihat tanda-tanda ingin pulang ke rumah masing-masing (namanya juga anak-anak, hehehe). 

“Wah udah maghrib nih... udahan yuuk... besok dilanjut lagi.”  Teriak Melly.

“Iya udahan aja yuk.” Sahut Zaskia. “Dita, kamu jadi singgah ke rumahku tidak, buku yang mau kau pinjam sudah aku siapin tadi siang.” Lanjut Zaskia padaku.

“Oke... yuk kita udahan. Aku jadi pinjam bukunya ya...” Jawabku.

Kemudian aku membujuk adikku Irene untuk ikut denganku ke rumah Zaskia yang berada tidak jauh dari rumah Nek Imah dimana tempat kami bermain.

“De’ ikut yuk ke rumah kak Zaskia ambil buku.” Bujukku pada adikku, Irene.

“Nggak ah kak, aku capek. Aku tunggu sini saja ya.” Jawab adikku.

“Beneran? Ga’ takut kamu sendirian?“ Tanyaku

“Enggak sama sekali...” Lanjutnya.

“Ya udah. Jangan kemana-mana ya. Tunggu kakak disini.” Pesanku pada Irene.

“Oke....” Jawab adikku singkat.

Kemudian sepeninggal aku, Irene duduk sendirian di teras rumah Nek Imah. Tiba-tiba datang seorang nenek tua dengan membawa barang dagangan mendekati Irene. Dia berniat mengajak Irene ikut dengannya dan membantu membawakan barang dagangannya ke perempatan desa.

“Nak... bisa bantuin nenek bawa barang dagangan ini ke perempatan situ tidak?“Kata nenek itu. “Nanti nenek kasih sebungkus kacang rebus hangat.” Lanjut nenek.

“Oh iya nek.... mari saya bantu.” Jawab Irene.

Dan mereka pun pergi tanpa ada yang melihat dikarenakan hari sudah menjelang malam dan orang kampung sebagian besar melaksanakan ibadah sholat magrib. Beberapa saat kemudian aku kembali ke rumah Nek Imah, dimana tempat kami dan adikku bermain tadi. Namun, sesampainya di rumah Nek Imah tidak aku temukan Irene disana. 

“Ir... Irene... dimana kamu... ayo kita pulang...” Teriakku memanggil-manggil adikku, tapi tidak ada jawaban sama sekali.

“Ayolah de’... hari dah mulai gelap nih.” Teriakku lagi.

Setelah beberapa saat aku menunggu dan adikku tidak muncul juga, akhirnya aku putuskan untuk pulang. “Ah paling adek sudah pulang duluan..” Pikirku saat itu.

Sesampai di rumah, betapa terkejutnya aku saat ibuku bertanya dimana adikku, Irene.

“Lho Dit, mana Irene?“ Tanya ibu.

“Bukannya sudah pulang bu, tadi ku lihat dia sudah tidak ada di rumah Nek Imah. Pikirku adek sudah pulang duluan.” Jawabku.

“Irene belum pulang dari tadi, makanya Ibu tanya sama kamu. Kenapa kamu tidak menjaga adikmu.” Lanjut ibu dengan nada agak kesal dan marah.

Kemudian aku menceritakan semuanya kepada Ibu bahwa Irine ditinggalnya sendirian di rumah Nek Imah karena aku harus mengambil buku di rumah Zaskia. Dengan cemas ibu segera memberitahukan kepada para tetangganya. Tak berselang waktu lama seluruh warga kampung langsung mencari Irene. Para penduduk yakin Irene dibawa dan disembunyikan makhluk halus.

Setelah beberapa jam mencari, akhirnya para warga menemukan Irine yang sedang tertidur di bawah pohon di perempatan desa yang berjarak sekitar 2 km dari rumah Nek Imah dimana Irene bermain tadi. Para warga langsung membangunkan Irene. Kemudian Irene ditanyai oleh Ibu siapa yang membawanya kesana. 

“Irene... kenapa tidur disini?“ Tanya ibuku kepada Irene.

Menurut Irene, tadi ia diminta membantu seorang nenek membawa dagangannya ke perempatan ini. Dan menurutnya kemudian ia juga membantu nenek itu menata dagangannya hingga serta membantunya menunggui dagangan hingga tak terasa ia tertidur.

“Saya diminta bantu nenek jualan kacang disini bu, hingga aku tertidur disini. Tadi tuh Irene mau pulang, tapi banyak pembeli jadi nenek itu memintaku untuk membantunya sebentar bu, dan memberiku imbalan sebungkus kacang rebus ini.” Cerita adikku sambil menunjukkan sebuah bungkusan yang katanya isinya kacang rebus.

Kemudian ibu mengambil bungkusan tersebut dan membukanya...

”Astaga... apa ini??“ Teriak ibu dengan heran.

Ternyata bungkusan tersebut tidak berisi kacang rebus melainkan beberapa kerikil. Para warga kampung pun merasa sangat yakin kalau Irene sedang dibawa oleh makhluk halus yang menyerupai nenek-nenek penjual kacang yang tidak lain adalah arwah Nek Imah. 


MISTERI KAMAR NOMOR 213

(Gambar ini hanya ilustrasi)


Aku sebenarnya tidak bermaksud menginap di hotel ini, karena hanya akan menambah pengeluaran saja, tapi mau bagaimana lagi? Rencana yang aku siapkan sebelumnya ternyata berubah haluan, mobil yang kubawa sebagai alat transportasi mengalami kerusakan dan harus dibawa ke bengkel di kota ini. Karena hari sudah sore dan akupun kelelahan terpaksa aku memutuskan untuk menginap saja barang semalam, pikirku itu akan lebih baik mengingat kalau mau memaksakan diri melanjutkan perjalanan dengan kondisi fisik yang terbatas akan sangat beresiko.

Aku baru sadar kalau hari itu adalah musim libur anak sekolah, pantas saja beberapa hotel yang aku datangi menyatakan penuh, tidak ada kamar yang kosong. Setelah kesana kemari mencari akhirnya aku dapat juga kamar di sebuah hotel dekat bekas terminal. Dulu wilayah itu ada terminal bus sehingga banyak hotel yang berdiri di sekitarnya, tapi karena pemerintah merelokasi terminal itu ke tempat lain yang lebih luas dan berada di pinggiran kota, jadilah hotel-hotel kesulitan untuk bertahan. Sudah banyak hotel yang berdiri di sepanjang jalan dekat terminal itu berhenti beroperasi. Aku menemukan satu yang masih buka dari beberapa saja yang tersisa.

“Ada kamar kosong mbak?”  Tanyaku pada resepsionis kala itu.

“Ada pak, tapi hanya yang di lantai dua. Lantai satu sudah penuh!” Jawab resepsionis itu dengan ramah.

“Nggak apa-apa lah.” Jawabku pendek, menurutku tidak masalah untuk naik tangga lebih dahulu, yang penting aku dapat kamar dan bisa untuk istirahat.

“Maaf sebelumnya pak, lantai dua baru ada sedikit perbaikan, mungkin membuat bapak kurang nyaman, tapi hanya siang hari saja kok, kalau malam tidak ada kegiatan perbaikan” Terangnya sopan, memang seharusnya begitu memberi tahu keadaan sebenarnya daripada nanti dikomplain penyewa. Melihatku mengangguk tanda aku tidak berkeberatan, ia lalu bertanya, “Baru ada dua kamar yang bisa di tempati yaitu nomor 211 yang di dekat tangga dan yang nomor 212 yang terletak di sebelahnya. Bapak mau memilih yang mana?”

“Nomor 212 saja mbak!” Jawabku cepat, aku memang kurang suka menginap di kamar yang dekat tangga karena biasanya berisik, maklum untuk lalu lalang orang-orang. Suara-suara sepatu kadang terdengar dari kamar. Maklum ini bukan hotel besar, hanya masuk kategori hotel kelas melati. Setelah menyerahkan kartu pengenal diri dan mengisi daftar semacam formulir, aku mendapat kunci kamar.

“Perlu dibantu membawa barang?” Tanyanya lagi. Tapi ketika melihatku menggelengkan kepala, ia lalu tersenyum sambil berucap selamat beristirahat kepadaku.

Kubawa satu satunya koper kecil itu. Aku lalu berjalan perlahan meninggalkan meja resepsionis menuju ke lantai dua, tapi sebelumnya aku harus melewati kamar-kamar yang terletak di lantai satu, memang seluruh kamar telah terisi, suara berisik anak-anak terdengar dari luar. Musim liburan, pastinya banyak orang yang bepergian dengan keluarganya. Aku tidak tahu kalau hari itu sudah memasuki musim liburan, maklum aku belum berkeluarga dan waktuku habis untuk bekerja. Saat ini aku baru mengambil cuti dan aku gunakan untuk pulang mudik untuk mengikuti acara pernikahan adik perempuanku yang akan dilangsungkan di kampung, sekalian nyekar ke makam leluhur.

Di ujung kamar di lantai satu terdapat tangga yang menghubungkan lantai dua. Aku berjalan menaikinya, sesampai di lantai dua aku memandang sekeliling, deretan kamar saling berhadapan dengan nomor ganjil dideretan sebelah kiri dan nomor genap di sebelah kanan. Karena hari sudah menjelang petang, tidak terlihat kesibukan perbaikan kamar-kamar seperti yang resepsionis bilang tadi. Kulihat nomor 211 dan nomor 212 yang saling berhadapan itu, lalu aku segera beranjak menuju kamar 212, kubuka pintunya lalu kututup kembali.

Setelah aku masuk aku segera meletakkan koper kecil itu di atas meja, lalu aku rebahan di tempat tidur. Kulihat kondisi kamar ini, tidak terlalu bagus. Hanya ada satu tempat tidur ukuran double, lalu sebuah almari kayu di sisi kiri kamar dan sebuah meja kursi di sebelahnya. Terus di depan tempat tidur terdapat sebuah televisi kecil yang tertanam di kotak besi yang menempel tembok, aku jadi bisa melihat televisi itu sambil tiduran. Di sebelah kiri terdapat ruang kosong, hanya ada sebuah rak besi kecil tempat menaruh handuk yang berhadapan dengan pintu kamar mandi. Belum selesai aku memandang sekeliling, suara ketukan di pintu terdengar. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu, ternyata seorang room boy yang membawakan handuk dan baki berisi gelas kosong dan satu teko minuman.

“Terimakasih mas.” Ucapku begitu aku menerimanya. Room boy itu tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Mas, di lantai dua ini apa hanya kamar ini yang terisi?” Tanyaku berbasa basi.

“Iya mas, hanya ada dua kamar tapi baru satu yang terisi, ya kamar ini. Kamar lainnya masih dalam proses perbaikan ringan.“ Jawabnya sambil permisi mau kembali ke tempat kerjanya.

Setelah aku meletakkan baki minuman di atas meja dan handuk di rak besi di depan kamar mandi aku membuka pintu kamar untuk melihat sekeliling. Suasana sepi melingkupi lantai dua, maklum hanya satu kamar saja yang terisi yaitu kamar tempat aku menginap. Kebetulan begitu pikirku, aku jadi bisa tidur dengan tenang, aku bisa membayangkan bila suasana kamar di lantai dua seperti yang ada di lantai satu, pasti berisik sekali, karena banyak yang menginap dengan keluarga dan anak-anak kecil. 

Kututup kembali pintunya, setelah aku kunci, aku ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Aku berencana meluangkan waktu untuk ke pusat kota mencari oleh-oleh bagi sanak saudara di kampung. Khusus adikku yang mau menikah lebih baik aku memberi hadiah uang tunai saja, lebih bermanfaat dan flexible.

Selepas sholat Isya aku beranjak meninggalkan kamar untuk menuju kota. Kutitipkan kunci kamar ke resepsionis lalu aku berjalan ke arah mobil yang aku parkir di depan hotel. Kunyalakan mesinnya lalu aku membawanya ke pusat kota.

Ternyata di kota suasananya sangat padat, mall yang aku kunjungi ramai dengan orang-orang yang berwisata. Momen itu dimanfaatkan oleh Mall dengan memberi diskon barang gede-gedean. Aku memutuskan membeli beberapa pasang kaos untuk oleh-oleh kemenakanku nanti, selanjutnya aku pergi ke gerai makanan untuk menikmati makan malam. Jadi nanti aku bisa langsung pulang tanpa perlu mampir dulu ke warung makan.

Sekembali dari mall di pusat kota, aku langsung menuju kamar. Setelah memarkir mobil di depan hotel dan meminta kunci kamar aku berlalu menuju tangga. Di lantai satu masih berisik dengan aktivitas para penghuninya, terutama yang membawa keluarga. Kulangkahkan kakiku setingkat demi setingkat dianak tangga, dan akhirnya sampailah di lantai dua. Suasana hening langsung menyergapku, berbeda sekali jika dibandingkan suasana di lantai satu. Kamar-kamar yang saling berhadapan seakan membisu mengikuti keheningan yang ada. Tidak ada seorangpun di lantai ini kecuali diriku. Kubuka pintunya lalu aku kunci dari dalam. 

Setelah berganti pakaian dan membasuh muka serta menggosok gigi, kurebahkan diriku di atas tempat tidur. Remote televisi yang ada di atas meja aku ambil, lalu kuhidupkan televisi dan mencari saluran yang sekiranya menyajikan acara yang menarik bagiku. Aku mencari saluran yang menayangkan berita atau olah raga. Saat aku melihat acara berita di televisi mendadak handphone berbunyi. Aku segera mengecilkan suara televisi dan meraih handphone, sebuah nomor yang sudah sangat aku hapal muncul dilayar.

“Hallo, malam!” Aku membuka percakapan.

“Malam juga mas Nono!” Suara seseorang diseberang terdengar suka cita.

“Nina ya?” Seruku, aku hapal betul dengan suara itu. Itu suara Nina adikku yang akan menikah itu.

“Iya mas, dimana nih? Katanya petang tadi sampai rumah?” Tanyanya penuh harap.

“Oh maaf Nin, aku lupa memberi tahu, mobilku mengalami kerusakan terpaksa aku membawanya ke bengkel dan sore tadi baru selesai. Aku lelah sekali jadi kuputuskan menginap dulu buat semalam, besok pagi aku melanjutkan perjalanan, mungkin sore aku sudah nyampai kok. Nggak apa-apa kan? Belum terlambat kan?” Terangku panjang lebar.

“Oh, tidak apa apa mas, upacara pernikahannya kan juga masih tiga hari lagi. Nggak terlambat lah. Aku senang sekali mas Nono bisa hadir di pernikahanku!” Seru adikku itu tampak gembira, lalu lanjutnya. ” Ya sudah mas kalau masih capai, istirahat saja dulu jadi besok pagi bisa langsung jalan.”

“Ok deh, daaaa... Nina!” Aku lalu menutup handphoneku, selanjutnya aku kembali mengeraskan volume televisi dan melihat berita. 

Pelan tapi pasti rasa kantuk mulai menyerangku, aku matikan televisi dan berusaha untuk tidur, dengan kondisi badan lelah dan keheningan yang ada cukuplah membuatku segera tertidur. 

Entah jam berapa aku kurang begitu tahu pasti, dalam rasa kantuk yang masih menggelanyut aku seperti mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar luar. Ah mungkin ada penghuni di kamar depanku, begitu pikirku. Biasa lah kalau baru masuk kamar, pasti bikin keributan. Makanya aku acuh saja dan melanjutkan tidurku. 

Tapi kemudian aku dikejutkan dengan suara yang menggedor gedor pintu kamarku, aku segera terbangun dan mataku langsung mengarah ke pintu, kulihat gagang pintu yang seperti mau dibuka dari luar. Belum lepas rasa terkejutku tiba-tiba suara suara gaduh itu menghilang. Gagang pintu juga kembali seperti semula. Apa mungkin orang itu mengira kamar ini yang kosong dan mau menempati? Tapi kayaknya tidak mungkin, aku yakin tiap kamar cuma ada ada dua kunci, satu untuk kunci para penghuni dan satu lagi kunci utama yang disimpan. Karena suasana kembali hening, akupun berusaha melanjutkan tidurku. Pasti tadi orang yang keliru kamar, tidak melihat nomor yang tertera, begitu aku menyimpulkan. Karena masih mengantuk akupun dengan cepat kembali tertidur. Tapi belum lama aku memejamkan mata, kejadian tadi terulang kembali, aku mendengar suara gaduh dari kamar lain, juga gagang pintu yang digerak gerakkan dari luar bermaksud mau membuka paksa pintu kamarku.

“Wah ini tidak bisa dibiarkan!” Aku berkata dalam hati. Lalu aku mengambil kunci kamar yang tadi aku letakkan di atas meja dan berusaha membukanya, aku akan mengatakan pada orang itu bahwa kamar ini sudah ada yang menempati, dan aku sangat terganggu dengan kegaduhan yang telah dibuatnya. Tapi sesaat kemudian aku berpikir tentu tidak pantas bagiku untuk menegurnya karena kita sama-sama penyewa. Yang lebih berhak untuk mengatakan itu tentu pengelola hotel ini lewat karyawan yang bekerja.

Keluar dari kamar aku bermaksud langsung turun ke bawah menuju bagian resepsionis untuk melaporkan hal itu, namun aku terhenyak ketika tanpa sengaja mataku menoleh ke arah kamar depan samping nomor 211 yaitu yang bernomor 213 itu, kamar itu tampak sedikit terbuka dan suara gaduh kembali aku dengar. Hati yang jengkel karena sejak tadi diganggu, aku langsung melangkah ke kamar itu dan membuka pintunya lebih lebar, aku akan bilang kalau aku terganggu dengan kegaduhan yang mereka bikin, bila mereka tidak peduli dengan keluhanku... ya terpaksa aku harus mengadu ke resepsionis.

Tapi ketika pintu itu terbuka lebar, aku melihat pemandangan yang sangat mengagetkan dan sangat mengenaskan. Di hadapanku kulihat seorang lelaki yang menghajar seorang perempuan. Darah bercucuran membasahi tubuh si perempuan.

“Hai pak.... tolong hentikan!” Hardikku keras. Aku tidak tega melihat perempuan itu.

Lelaki itu menoleh ke arahku begitu aku berkata dengan keras tadi, kulihat matanya yang merah laksana api yang menyala karena kemarahan yang meluap luap, dia tampak sangat mengerikan. Ternyata dia membawa pisau yang berlumuran darah di tangan kanannya. Melihat gelagat yang kurang baik aku segera mengambil langkah seribu untuk meminta pertolongan.

Kuturuni tangga itu dengan tergesa, begitu sampai lantai satu aku bergegas berlari ke meja resepsionis untuk melaporkan kejadian tadi.

“Pak... pak... tolong... tolong...!”  Teriakku.

“Ada apa pak?” Tanya resepsionis pria yang ada di depanku dengan wajah bingung.

“Ada... ada.... ada penganiayaan...... di kamar depan.... di sebelahnya.... bahkan sampai... sampai berdarah darah! Kita mesti lapor polisi!” Seruku terbata bata.

“Maaf pak.... mmhmm... mari bapak duduk dulu!” Kata pria itu sambil menuntunku duduk di kursi, lalu dia mengambilkanku segelas air putih.

“Sebentar ya pak!” Katanya seraya menyerahkan gelas itu kepadaku. Kulihat ia tergesa berjalan ke arah security di depan, lalu mereka datang menghampiriku.

“Maaf pak, bisa menceritakan lagi kejadiannya seperti apa?” Tanyanya sambil duduk di hadapanku berdampingan dengan satpam.

“Aku melihat orang dianiaya di kamar 213! Seorang perempuan dihajar lelaki!” Begitu aku menjawab dengan lugas. Kulihat mereka melongo mendengar penjelasanku, lalu mereka saling menatap penuh keheranan.

“Maaf pak... di lantai dua cuma kamar bapak yang dihuni... lainnya masih kosong!” Ucapnya terkesan hati-hati.

“Tapi.....” Aku berhenti sebentar, “Aku tadi benar-benar melihatnya!”

Kali ini aku melihat mereka seperti ketakutan, maka aku segera melanjutkan kata kataku, “Tolong.... mari kita keatas segera. Kasihan perempuan itu. Atau kalau perlu aku akan telpon kantor polisi saja agar....”

Belum selesai aku berkata, satpam segera memotongnya, “Iya pak.... kita lihat saja langsung! Bila memang ada penganiayaan tentu kita akan mencoba menghentikannya, kalau perlu kita lapor polisi!” Resepsionis tampak ragu-ragu mengikuti ucapan si satpam, tapi kemudian ia mengikuti kami berdiri dan berjalan menuju lantai dua. Ia juga membawa kunci cadangan seperti permintaan si satpam.

Sesampai di lantai dua kami mendapati kamar 213 tertutup rapat, aku mencoba membukanya tapi tampaknya terkunci. Lalu si satpam meminta kunci yang dibawa temannya tadi dan membukanya. Setelah terbuka dan lampu dinyalakan aku melihat situasi dalam kamar yang benar-benar berbeda. Kamar itu tampak rapi dan bersih, tidak ada bekas-bekas telah terjadi penganiayaan di kamar itu. Aku heran campur bingung dengan apa yang di hadapanku.

“Bapak lihat sendiri... tidak ada apa-apa kan disini?” Ucap si satpam sopan. Aku tergagap mendengar ucapannya, karena aku benar-benar yakin dengan apa yang kulihat sebelumnya karena aku dalam kondisi terjaga. Aku melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri.

“Mmhmmm...... maaf tadi..... aduh... aku... ach.. maaf!” Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Maaf pak, kalau memang tidak ada masalah kami mau kembali ke tempat kerja kami!” Kata si pria resepsionis diikuti anggukan kepala si satpam.

“Mmh.. tunggu sebentar! Kita ke bawah sama-sama!” Seruku sambil segera masuk ke kamar mengambil dompet. Lalu kami berjalan bersama menuju lantai satu.

“Bapak mau kemana?” Tanyanya heran ketika aku menyerahkan kunci kamar.

“Ah cuma mau mencari angin saja dan menjernihkan pikiran. Mungkin tadi aku bermimpi atau berhalusinasi!” Jawabku tidak bersemangat. Kulihat dia tampak sedikit gugup, aku menduga ada sesuatu yang dia sembunyikan tapi aku tidak terlalu peduli, aku hanya ingin keluar menenangkan pikiran dan menunggu pagi datang. Keluar dari hotel aku berjalan menuju warung angkringan di pinggiran jalan yang tidak terlalu jauh dari hotel. Aku mendapati ada dua pria lainnya yang juga sedang jajan disitu. Mereka tampak asyik menikmati nasi yang dibungkus kecil-kecil itu.

“Jahe hangat satu pak!” Ucapku memesan jenis minuman hangat itu.

Si penjual melayaninya dengan cekatan. Aku meneguk minuman itu pelan-pelan sambil membayangkan kejadian yang tadi aku alami. Agaknya si penjual tahu kalau aku lagi gundah.

“Tinggal dimana mas? Kok tidak pernah terlihat!” Tanyanya memancing.

“Ooh.... aku tinggal di hotel itu... tuh!” Jawabku sambil menunjukkan jari ke arah hotel yang dari tempat aku minum ini terlihat jelas.

“Oh.. hotel yang direnovasi itu ya?” Sambung pembeli di sebelahku. Aku mengangguk pelan.

“Hati-hati mas, disitu ada hantunya!”  Terang pria satunya lagi. Aku terkejut mendengar ucapannya, lalu aku berkata, “Masa sih? Kayaknya tenang-tenang saja tuh!” 

“Beneran mas.“ Timpal si penjual, tanpa aku minta dia lalu bercerita. ”Beberapa bulan yang lalu ada pembunuhan di kamar atas di hotel itu, kabarnya seorang perempuan dihabisi oleh pria yang jadi pacarnya. Katanya sih cemburu! Lalu pria itu juga ikutan mati bunuh diri.”

“Gila... cinta sampai segitunya!” Seru salah satu pembeli sambil geleng-geleng kepala.

“Bukan cinta.. tapi cemburunya itu yang bikin masalah!” Sambung teman di sebelahnya.

“Makanya roh mereka tidak tenang..... jadi hantu... hiiiiii!”  Tambah si penjual.

Aku terpana mendengar perkataan mereka. Kalau memang benar yang di katakan..... mungkin yang aku lihat itu hantu kedua orang itu yang mati nelangsa karena belum waktunya. Tak terasa keringat dingin mengucur membasahi mukaku, badanku pun menggigil karena ngeri. Dalam hati aku berucap aku akan menunggu pagi menjelang dan aku akan langsung check out segera.


HANTU KORBAN TABRAK LARI


(Gambar ini hanya ilustrasi)


Jam menunjuk angka enam, aku segera keluar untuk memanasi motor yang ada di depan kamar kostku, selanjutnya aku masuk kembali untuk mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, aku tidak perlu khawatir meninggalkan motor disitu karena tempat kostku ini terlindung pagar tembok keliling, di depan ada satu pagar besi sebagai satu satunya pintu keluar masuk, setiap penghuni kost mendapat satu kunci kamar dan satu kunci pagar depan. Dan sesuai kesepakatan, setiap kali keluar masuk pagar harus dalam kondisi terkunci, untuk menjaga keamanan saja.

“Belum berangkat?”  Tanya Lisa, teman kost yang tinggal di sebelah kamarku.

“Tanggung, lagi pakai lipstick nih.... hahaha...” Jawabku dengan bercanda, aku memang lagi merias diri tapi aku tidak pernah pakai lipstick cukup lipgloss saja agar bibirku tetap lembab. Aku ini kerja lapangan, jadi kalau mau berdandan lengkap kayak Lisa kurang sesuai karena bisa jadi bedaknya malah luntur kena keringat...

“Ah bercanda kamu!” Seru Lisa sambil mencibirkan bibir, dia itu tahu kebiasaanku yang nggak pernah pakai pemerah bibir bila mau berangkat kerja. Lain dengan dirinya, dia itu selalu berdandan lengkap dan sangat fasionable, maklum dia kerja di sebuah butik terkenal yang menjual barang-barang branded, jadilah Lisa yang seorang costumer service mesti mengikuti aturan kantor yang mewajibkan memakai pakaian fasionable dan selalu tampil cantik dan rapi.

“Enak ya kamu, bisa pakai apa saja!” Seru Lisa melihatku memakai pakaian celana jeans dan kaos t-shirt warna putih dengan lengan pendek.

“Enakan kamu, bisa tampil cantik..... siapa tahu bisa jadi artis!” Sergahku meledeknya. Lisa cengar cengir saja mendengar nya.

“Kamu tuh......” Ucapnya kemudian, lanjutnya lagi dengan bertanya, “Eh ntar malam ada acara nggak nih?”

“Ada apa emang?” Tanyaku, meski sebenarnya aku sudah bisa menebak permintaan Lisa, dia itu kalau minta aku menemaninya pasti acaranya tidak jauh-jauh dari shopping dan party. Tapi aku lebih suka ikutan yang shopping, meski jarang membeli, tapi kan bisa cuci mata. Juga aku bisa memakai pakaian santai tidak perlu berganti pakaian formal dan berdandan segala kayak menghadiri party.

“Nanti malam kan ada midnight sale di mall ternama di kota ini. Temenin aku ya?” Pintanya.

Nah benar tebakanku? Hehehe..... gak apalah ikutan jalan nanti malam.

“Wah kalau itu sih mudah... bisa diatur... asal....” Aku sengaja menghentikan omonganku.

“Iya.. iya, makan malam gratis kan?” Lanjut Lisa pasti.

“Yoi...” Ucapku sambil mengacungkan jempol.

“Kalau gitu, mending kita berangkat bareng saja. Nanti setelah jam kantor selesai aku jemput kamu, kita kan sejalur?” Lisa memberi usul, kami memang sejalur, kantor tempatku kerja dan butik tempat Lisa kerja masih dalam satu kawasan.

“Wah.. lumayan bisa nebeng mobilmu!” Seruku senang, kalau nebeng mobil Lisa aku tidak perlu berpanas panas karena mengendarai motor, juga bisa irit bensin. Tapi aku gak mau nebeng kecuali diminta sama yang punya mobil. 

Karena kulihat Lisa mengangguk anggukkan kepala tanda setuju, aku segera berujar. ”Ok lah, kalau gitu aku masukkan motor dulu di garasi ya?” Aku lalu keluar kamar, mematikan mesin motor dan menuntunnya ke dalam garasi yang disediakan oleh pemilik kost. Garasi itu terletak di ujung kamar-kamar kost. Garasi kecil saja khusus motor, bila ada yang membawa mobil disediakan juga garasi khusus, tapi ya itu... ada biayanya. Beda dengan garasi motor, tidak ada ongkos apapun.

Setelah memarkir motor, aku segera kembali ke kamar.

“Sudah siap?” Ucap Lisa begitu melihatku.

“Yup, kita bisa berangkat sekarang.” Aku lalu mengambil tas kerjaku dan mengikuti langkah Lisa keluar kamar, aku menguncinya dan menyusul dia menuju mobil di depan halaman. Aku membuka pagar depan, setelah mobil Lisa keluar aku segera menutupnya kembali dan menguncinya. Setelah itu aku bergabung dengannya untuk bersama sama berangkat kerja.

Kami akhirnya sampai di kantor, Lisa menepikan mobilnya di sisi kiri jalan, aku pun turun.

“Sampai nanti ya?” Teriakku ku kepada Lisa sambil melambaikan tangan, Lisa membunyikan klakson sebagai balasan, lalu ia melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya. 

Hari itu tidak banyak pekerjaan luar di lapangan, aku lebih banyak ada di dalam kantor, menyusun laporan. Dan akhirnya alarm pulang jam kantor berbunyi, setelah membereskan tugas-tugas kantor, aku segera mengemasi tas kerjaku dan keluar ruang menuju lobby, di lobby aku duduk di sofa yang menghadap luar, ada kaca besar yang membingkai depan lobby sehingga aku bisa melihat suasana luar. Kukeluarkan handphone dari tas dan aku menelpon Lisa.

“Sore Lisa..... aku sudah di lobby nih!” Aku menginformasikan kalau jam kerja ku sudah habis dan aku menunggunya di lobby.

“Ok Meli.... tunggu ya? Aku dalam perjalanan pulang nih, sebentar juga nyampai situ kok!” Jawab Lisa dari seberang, kami lalu menutup handphone agar Lisa tidak terganggu saat menyetir mobil.

Tak seberapa lama, Lisa sudah terlihat. Dari balik kaca aku melihatnya berbelok masuk menuju depan lobby, aku segara bangkit dari duduk dan keluar menemuinya.

“Gimana kalau kita nonton film dulu sambil menunggu acara sale-nya dimulai?” Tanya Lisa sambil tetap mengemudikan mobilnya.

“Terserah kamu aja, kamu kan yang punya hajat.” Jawabku santai. Diantara kami berdua memang tidak ada basa basi lagi, kami sudah berteman cukup lama semenjak kami kost di tempat yang sama, seperti sebuah peraturan yang tidak tertulis bahwa siapa yang mengajak dialah yang bertanggung jawab untuk urusan finansialnya, terkecuali sudah ada pembicaraan sebelumnya. 

“Sip lah” Serunya sambil menepuk bahuku.

Malam itu kami benar-benar menikmati kebersamaan kami, selain nonton film, makan minum di cafe lalu berlanjut ke berburu barang obral di tengah malam. 

“Gila kamu Lisa, belanja sebegitu banyak buat apa?” Seruku sambil geleng-geleng kepala melihat Lisa menenteng banyak tas belanjaan di tangan kanan dan kirinya. 

“Mumpung discount lah yaouww!” Jawabnya enteng. Memang enak jadi anak orang kaya, uang seperti air saja.. selalu mengalir. Lisa mendapat dua sumber penghasilan, dari transfer orang tuanya setiap bulan dan juga dari gajinya di butik tempat dia bekerja. Konon kabarnya uang pemberian orang tuanya jauh lebih banyak, kerja pun cuma buat isi waktu luang... ckckckc..... beda dengan aku yang hidup dari penghasilanku sendiri, tidak ada bantuan finansial dari orang tua lagi. Mau tak mau aku harus bisa mengatur arus masuk dan arus keluar jangan sampai tekor, bila tidak mau merana di tanggal tua. Akhirnya tanpa paksaaan pun aku tidak membeli barang-barang yang sekiranya kurang perlu.

Dini hari kami keluar area parkir mall tempat kami berburu barang sale.... maksudku Lisa yang berburu, aku cuma sebagai penggembira saja. Lisa mengendarai mobilnya pelan-pelan keluar area parkir karena banyak orang yang juga mau meninggalkan mall tersebut. Sampai di jalan utama suasana jalan yang biasanya ramai dan padat tampak kontradiksi sekali, meski tidak bisa dibilang sepi tapi kendaraan tidak terlalu banyak, apalagi saat kami mulai meninggalkan pusat kota, suasana sepi mulai menggelayuti perjalanan pulang kami. Kost kami memang terletak di pinggiran kota.

“Gila... sepi banget!” Seruku, mataku bergerak kekanan kekiri memandang arah depan. Meski mobil dalam keadaan terkunci kami tentu tetap was-was, maklum dini hari dan kami berdua perempuan.

“Makanya berdoa biar cepat sampai kost dengan selamat!” Sergah Lisa.

“Siap bu komandan.” Ledekku meladeni candaanya, kami berdua lalu tertawa.

Lisa menjalankan mobilnya dengan tidak terlalu kencang, meski jalanan cukup sepi tapi dia lebih memilih untuk tetap hati-hati dan tidak ngebut, katanya kadang - kadang suasana sepi membuat kita lalai karena menggampangkan. Kita jadi tidak waspada, padahal bisa saja ada seseorang yang menyeberang jalan, karena sepi orang tidak menengok kiri kanan dulu, di bagian lain si pengemudi juga merasa tidak ada orang di pagi buta begini... nah akhirnya..... kecelakaan tidak terhindarkan.

“Lisaaaaa... awaaaaaassss!!!!” Teriakku kencang, aku melihat tiba-tiba ada seorang perempuan yang begitu saja muncul di hadapan mobil ini dan Lisa telah menabraknya.

“Eh... eh.... kenapa kamu?” Tanya Lisa panik, dia segera menepikan mobil di kiri jalan.

“Tadi.... tadi.... tadi.... menabrak..... orang!” Seruku terbata bata.

“Menabrak orang?” Sergah Lisa dengan raut muka bingung.” Perasaan tidak ada apa-apa, kamu jangan nakut nakutin dong! Aku tidak lihat seorangpun tuh!” Ucapnya lagi dengan suara bernada ketakutan. Dia menatap ke depan lalu ke samping, dan lalu dari spion dia melihat ke belakang, aku juga ikut-ikutan melihat, tapi memang tidak ada apa-apa.

“Kamu berkhayal kali...!” Sergahnya lagi.

Aku terdiam sesaat sambil mengatur napas, rasa deg-degan di dalam hati masih terasa. Aku begitu yakin dengan yang aku lihat tadi.

“Menurutmu......” Aku berhenti sebentar, tidak tahu harus berkata apa.

“Apa... ada apa?” Tanya Lisa tidak sabar campur cemas.

“Kita perlu melihat keluar nggak ya?” Aku mengerti bahwa hal itu sangat berbahaya karena siapa tahu ada orang jahat yang mengintai kami, begitu kami keluar mobil habislah kita, tapi aku juga khawatir bila Lisa benar-benar telah menabrak seseorang, kalau tidak segera ditolong kan lebih beresiko lagi.

“Aduh.. gimana yaaa...!” Ujar Lisa kebingungan. 

“Gini aja... aku keluar melihat, kamu tetap di mobil dengan kondisi terkunci dan mesin masih menyala, jadi kalau ada apa-apa kamu bisa langsung tancap gas dan meminta pertolongan!” Aku mencoba mencari jalan keluar.

Lisa memalingkan muka ke arahku dan menatapku dengan heran, “Apa kamu yakin kalau aku tadi telah menabrak seseorang? Aku merasa tidak ada apa-apa selama aku mengemudi!”

“Aku kurang tahu sih... tapi... entahlah aku ingin sekali melihat keluar untuk memastikan.!” Ucapku menggaris bawahi keinginanku itu. “Tolong Lisa, daripada batinku tidak tenang!” Pintaku lagi.

“Tapi hati-hati ya. Beneran lho ya kalau ada apa-apa aku langsung tancap gas......”

“Yup, kamu cari pertolongan segera!” Potongku cepat.

Akhirnya seperti kesepakatan kami, aku keluar mobil sendirian sedang Lisa tetap di depan kemudi dengan kondisi mobil masih menyala dan semua pintu terkunci. Setelah aku keluar aku segera berjalan ke depan untuk meneliti bagian depan mobil, aku tidak menemukan apa-apa disitu, bahkan kondisi mobil juga mulus seperti tidak ada yang terjadi. Kemudian aku berjalan ke arah samping dan belakang mobil, juga tidak ada yang ganjil, semua tampak normal-normal saja, mungkinkah tadi cuma khayalanku saja? Aku bermaksud kembali ke dalam mobil ketika tiba-tiba ada sebuah sorot mobil menghalangi pandanganku, ternyata ada mobil patroli polisi. Mereka menepikan mobil, lalu seorang polisi datang menghampiri kami.

“Malam mbak, bisa kami melihat surat suratnya?” Tanya polisi itu kepada kami.

Lisa segera mengeluarkan surat-surat mobil dari dalam tasnya dan menyerahkan ke polisi itu, setelah diteliti, surat–surat itupun dikembalikan.

“Maaf, malam-malam begini kok menepikan mobil, ada apa ya? Mungkin ada yang bisa kami bantu?”  Tanya polisi itu dengan ramah.

“Ah enggak ada apa-apa kok Pak, cuma keluar sebentar mau buang angin!” Jawabku bohong, Lisa tersenyum mendengar alasanku yang sekenanya tapi tetap bisa dinalar itu.

“Ooh...!” Polisi itu tertawa kecil, lalu lanjutnya, “Ya sudah kalau begitu, tapi hati-hati sudah malam. Apalagi kemaren malam ada tabrak lari di lokasi ini......”

“Tabrak lari?” Aku dan Lisa menjerit bersamaan.

“Iya, korbannya seorang perempuan, penabraknya belum diketahui sampai sekarang. Maklum kalau kondisi sepi begini orang malah tidak hati-hati.”

“Oohh.... terima kasih infonya pak, kami juga mau segera pulang nih!” Ucap Lisa sedikit bergetar.

“Iya pak, kita mau pulang.” Tambahku menguatkan perkataan Lisa.

Setelah polisi itu kembali ke mobil patroli, Lisa mulai menjalankan mobilnya dengan pelan-pelan.

“Mungkin yang kamu lihat tadi hantu, Meli!” Kata Lisa tanpa bermaksud menakut nakuti diriku.

“Mungkin saja.... tapi beneran kamu tidak melihat atau merasakan apa-apa?”  Tanyaku balik ke dia.

“Enggak tuh.. makanya aku bingung saat kau bilang aku telah menabrak seseorang, untung tadi ada mobil patroli, aku sudah khawatir kalau terjadi apa-apa!” Sergah Lisa menarik napas lega.

“Ya sudahlah, yang penting kita selamat!” Lanjutnya lagi.

“Iya... pingin segera sampai kost nih!” Ucapku membenarkan.

Tapi mendadak kami mencium bau yang aneh, bukan hanya aku tapi Lisa juga.

“Kamu mencium bau aneh nggak Meli?” Tanya Lisa setengah tidak percaya.

“Iya nih, bau anyir!” Seruku sambil mendengus dengus mencari arah asal bau itu, tapi sepertinya bau itu melingkupi seluruh mobil. Kami lalu saling menatap, ada perasaan ngeri dan takut yang tiba-tiba menghinggapi kami berdua. Segera Lisa mengemudikan dengan sedikit lebih kencang, dan ketika kami sudah meninggalkan lokasi itu, bau-bau aneh itupun kemudian menghilang. Mungkinkah tadi yang kulihat adalah hantu perempuan tabrak lari seperti perkataan polisi itu? Dan bau aneh tadi adalah pertanda hantu itu masih ada dilokasi nya? Hiiii... kami bergidik bila mengingatnya.


KISAH PEDAGANG BAKSO KELILING KETEMU HANTU

(Gambar ini hanya ilustrasi)

Aku sedang sibuk menata dagangan bakso, saat Tarjo teman satu kost-ku pulang dari tempat kerjanya. Tarjo melihatku sejenak, kemudian ia masuk ke dalam kamar kost untuk berganti pakaian dan menaruh sepatu. Tak seberapa lama dia lalu keluar kamar menemaniku.

“Baru pulang Jo?” Sapaku melirik ke arahnya sebentar, lalu aku kembali melanjutkan menata dagangan bakso.

“Iya nih, tadi ada lembur!” Jawabnya pendek, sambil duduk di bangku kecil dekat gerobak baksoku.

“Wah enak ya kamu, tiap minggu dapat upah, apalagi bila lembur... wah duit ngumpul tuh!” Aku bercanda dengan sedikit iri. 

Tarjo itu seumuran anakku yang kutinggal di kampung, dia baru lulus sekolah menengah atas setahun yang lalu, masih muda. Tenaganya masih laku di dunia kerja. Meski sebagai buruh penghasilannya juga pas pasan, tapi tiap minggu masih ada yang bisa diharapkan. Beda dengan aku yang cuma penjual bakso keliling, penghasilan tidak pernah tentu, kadang sudah semalaman jalan tidak banyak pembeli, kalau sudah begini tabunganku yang aku simpan di almari terpaksa diambil buat modal selanjutnya. Kadang memang ramai juga sih, apalagi bila ada yang pesan untuk hajatan atau acara tertentu. Lumayanlah kalau itu.

“Wah pak Pono ini.... aku cuma buruh pabrik pak, upah juga mepet!” Ucap Tarjo merendah, “Kalau lagi laris baksonya, duit Pak Pono juga banyak kan?” Gantian dia meledek aku.

“Hahaha...” Aku tertawa sambil geleng-geleng kepala.” Kalau laris manis ya duitnya ngumpul, tapi kalau sepi... ya... gitu deh!” Lanjutku.

“Kok jualan malam hari pak? Kalau siang kan banyak orang, kemungkinan orang beli juga tentu lebih banyak daripada malam hari?” Tanya Tarjo lagi.

“Wah kalau siang tuh banyak saingan, banyak pedagang makanan. Pernah dulu aku jualan siang, tapi ternyata hasilnya lebih banyak pas jualan malam hari.” Jawabku datar. 

Aku jadi ingat dulu waktu aku pertama kali datang ke kota ini, harapan membuncah untuk mencari rejeki, apalagi ada tanggungan di kampung yang mesti kuhidupi. Seumuran Tarjo, teman kost ku itu, aku diterima kerja di pabrik sepatu. Hari-hari kulalui dengan rutinitas yang pasti juga penghasilan yang pasti pula. Tapi itu tidak berlangsung lama, saat krisis melanda negara ini pabrik tempatku bernaung ternyata tidak mampu bertahan. Jadilah pemutusan kerja besar besaran. Bahkan pabrik kemudian ditutup. 

Banyak sekali pengangguran kala itu dengan kondisi kenaikan harga yang gila gilaan. Mau tak mau aku harus banting stir mencari lahan ekonomi yang lain, untuk mencari pekerjaan sudah sangat sulit. Di usia yang tidak lagi muda juga kondisi ekonomi negara yang tidak menentu lapangan kerja jadi seperti menciut. Terpaksalah aku kerja serabutan, apa saja asal halal dan menghasilkan. Dan jadilah aku pedagang bakso keliling. Awalnya aku jualan disiang hari, pikirku banyak orang yang beraktivitas dan membutuhkan makanan, tapi ternyata saingannya banyak sekali. Akhirnya aku memutuskan berdagang di malam hari, lumayanlah, saingan tidak banyak dan aku bisa memutar modal.

“Memang nggak takut sama hantu pak?” Tanya Tarjo dengan polosnya. 

Dia belum lama menginjakkan kaki di kota ini, katanya sih selepas SMA dia diajak kerabatnya untuk bekerja di pabrik mebel sebagai tenaga mengamplas.

“Kalau hantu sih.... dirapal doa juga ngacir!” Jawabku sekenanya.

“Emang pernah ketemu sama hantu ya?” Tanyanya lagi seperti tertarik.

“Ah itu sudah lama sekali..... aku juga sudah agak lupa!”

“Cerita dong....!”Pintanya serius.

“Tapi seingatku saja ya?” Kulihat Tarjo mengangguk setuju.

“Duluuuu sekaliiiii aku pernah jualan di dekat kuburan, terus ada perempuan membeli semangkok bakso. Dia itu cantik dan wangi sekali, cuma bajunya itu lho.... putih panjang kayak kuntilanak.... eh ternyata beneran. Setelah dia pergi uang yang tadi buat membayar bakso berubah jadi daun... ya rugilah aku!”

“Kok kayak cerita di film-film itu ya?” Ucap Tarjo sambil mengeryitkan dahi. Ternyata dia pintar juga. Sebenarnya aku belum pernah ketemu hantu, cuma mencuplik dari film yang pernah aku tonton dulu.

“Film kan juga idenya dari kejadian yang pernah terjadi.” Elakku dengan nada suara agak tinggi, maklum... kan malu kalau ketahuan bohong... hehhehe.

Tarjo mengangguk angguk, entah dia percaya omonganku atau dia menyerah untuk tidak berdebat denganku yang jauh lebih tua ini.

“Seperti yang aku katakan tadi Jo.... kalau hantu mah bisa diusir pakai rapalan doa -doa.... yang paling aku takutkan sebenarnya kalau ketemu orang jahat! Itu yang berbahaya.”

“Orang jahat?” Tarjo membelalakkan mata.” Padahal kita ini termasuk orang tidak mampu.....”

Belum selesai Tarjo bicara aku memotongnya. ”D. U. I. T.” Ejaku huruf per huruf.

“Duit tidak mengenal orang mampu atau tidak mampu. Duit bisa bikin orang silau. “Lanjutku

“Pak Pono pernah mengalami ya?” Tanya Tarjo lagi.

“Ya pernah...” Kali ini aku berkata jujur. ”Dulu aku pernah dipalak preman, udah minta bakso gratisan eh merampok uang pula.”

Kulihat Tarjo menggeleng gelengkan kepala.

“Makanya aku selalu menaruh uang nominal besar di tempat yang berbeda, jadi kalau ada kejadian seperti itu, masih ada yang buat modal besok.”

“Wah beresiko juga ya!” Seru Tarjo.

“Semua pekerjaan ada resikonya Jo... yang penting kita kerja di jalan yang direstui Tuhan alias halal, Insya Allah akan dimudahkan.” Ucapku setengah menasehati.

Tarjo mengangguk angguk lagi. 

“Aku mau mandi dulu Pak Pono, hampir Maghrib nih!” Ucapnya sambil bangkit dari kursi untuk selanjutnya menuju kamar mandi di ujung baris kamar kost ini. 

Sederet kamar kost berjumlah sepuluh dengan satu kamar mandi dan WC di ujungnya. Bisa dibayangkan kami mesti antri. Kamar kostku dan Tarjo berada di nomor empat, ruangan kecil saja ukuran dua setengah kali tiga meter. Untuk menyiasati agar tidak terlalu penuh, pemilik kost menempatkan sebuah tempat tidur tingkat. Tapi dengan jam kerja yang berbeda antara Aku dan Tarjo, ruang itu jadi lebih plong. Tarjo bekerja dari pagi sampai sore bahkan petang atau malam kalau pas lembur, sedang aku dari selepas Maghrib sampai dini hari. Kami berdua jadi jarang bertemu, layaknya punya kamar kost sendiri saja. Selepas Maghrib aku mulai menjajakan daganganku. Dimulai dari daerah sekitar tempatku tinggal lalu menjauh mengikuti rute yang biasa aku jalankan.

“Banggg... baksooooo!” Suara seorang ibu dengan kerasnya sambil bertepuk tangan dan lalu melambaikan tangan. Aku segera berbalik arah untuk menemui ibu itu. 

“Beli dua pak, nggak pakai irisan tahu dan seledri!” Pesan ibu itu.

Aku segera melayaninya, selanjutnya ibu itu membawa dua mangkok bakso ke dalam. Aku diam berdiri disitu menunggu mangkok itu dikembalikan. Aku membunyikan mangkok kosong untuk memberi tanda kepada orang-orang agar tahu kalau ada penjual bakso. Sesaat kemudian ibu itu keluar rumah dan menemuiku.

“Ini pak mangkok dan uangnya!” Seru ibu tadi sambil menyerahkan mangkok kosong dan beberapa lembar uang. 

“Di lapangan kampung Madusari ada acara pameran lho Pak!” Ucapnya sesaat aku menerima uang dan mangkok.

“Pameran apa bu?” Tanyaku, dalam hati aku berterima kasih karena ibu itu sudah memberitahuku.

“Pameran tanaman hias, ramai pak!” Jawabnya bersemangat, 

“Aku sudah lihat kemaren, penjual dadakan juga banyak tuh!” Lanjutnya tanpa bermaksud beriklan.

“Wah terima kasih bu, siapa tahu rejeki ya!” Aku berkata dengan suka cita, boleh juga tuh informasinya. 

Ibu itu mengangguk dan tersenyum, selanjutnya aku meninggalkan rumah itu menuju lapangan di kampung Madusari. Kampung itu tidak terlalu jauh, berbatasan dengan kompleks perumahan yang terhitung belum lama berdiri. Sesampai disana, kulihat suasana lapangan yang sangat ramai. Stan tanaman hias berdiri berjajar dengan aneka tanaman hias yang cantik, beberapa jenis tanaman hias yang baru populer di tengah masyarakat tampak ada disetiap stan. Lalu ada penjual dadakan seperti aku ini yang berbaris di sepanjang batas lapangan.

“Baksonya pak lima.” Ucap seorang pemuda sepantaran Tarjo.

”Yudi, kamu beli minuman sana!” Suruhnya kepada salah seorang temannya.

Aku segera melayani pesanan mereka.

“Pak, kita duduk disitu ya!” Ucap pemuda itu sambil menunjukkan jarinya ke arah rerumputan yang masih kosong.

“Silakan dik!” Jawabku pendek. 

Kulihat mereka duduk melingkar di rerumputan lapangan ini. Temannya yang tadi membeli minuman turut bergabung.

Sambil menunggu mereka, aku melayani pembeli lain. Di saat longgar tidak ada pembeli, aku melayangkan pandangan di sekitar pameran. Banyak orang berlalu lalang dan melihat lihat tanaman yang dipamerkan. Beberapa dari mereka membeli tanaman hias itu dan membawanya sambil berkeliling di stan yang lain. 

“Pameran tanaman ini berapa lama ya?” Tanyaku kepada seorang pembeli yang menenteng tanaman hias di tangannya. 

Dia membeli tiga porsi bakso dan minta dibungkus plastik untuk dibawa pulang.

“Ini hari terakhir pak!” Jawabnya pendek.

“Oh, pantas ramai sekali.” Selaku sambil menuang kuah bakso ke dalam plastik.

“Hehe.... iya pak, biasanya memang gitu, ramai nya ya pas hari terakhir.” Lanjutnya lagi.

Malam semakin larut, pameran sudah selesai sejak jam sebelas malam tadi, tapi karena masih ada orang yang berlalu lalang dan membeli makanan, kami para pedagang pun siap melayani. Sesaat setelah waktu menunjuk dini hari dan sebagian besar bakso sudah terjual, aku memutuskan untuk pulang, apalagi pembeli juga mulai menyurut. Aku sudah lelah dan uang yang ada juga sudah mencukupi 

 Tapi dalam perjalanan pulang aku lewat jalan tembus agar lebih cepat. Antara kompleks perumahan dan perkampungan penduduk ada jalan tembus. Kalau melalui jalan yang biasanya aku mesti jalan melingkar, tapi kalau melewati jalan tembus itu bisa hanya seperempat saja jaraknya. Dulu aku pernah melewatinya sih, tapi saat pembangunan kompleks perumahan ini, jalan tembus itu tertutup untuk sementara waktu. Sebetulnya itu bukanlah jalan umum, tapi lahan kosong yang sering dilalui karena memperpendek jarak. Konon kabarnya lahan itu milik seorang pengusaha kaya, meski dibangun sebuah kompleks perumahan, dia menyisakan sedikit untuk jalan tembus, makanya kadang orang menyebutnya dengan jalan belakang perumahan.

Aku berjalan perlahan menyusuri pagar tembok perumahan yang tinggi, jalan ini cukup sepi karena sebelahnya terhampar kebun kosong yang berdekatan dengan sungai, dipertengahan jalan ini ada jembatan kecil yang membentang di atas sungai yang menjorok itu. Jembatan itu sederhana saja, terbuat dari batang-batang kayu yang disusun berjajar dengan tali sebagai pegangan tangan, jembatan itu juga hanya muat untuk dua orang dewasa yang berjajar, saat aku berjalan melewatinya dulu, lebarnya cukup pas untuk gerobagku. Jembatan itulah yang memperpendek jarak tempuh. Dulu saat aku melewati jembatan itu belum selarut ini, masih banyak orang yang berlalu lalang, sebagian besar mereka para pekerja yang baru pulang dari kerja, mungkin lembur atau mendapat jatah shift kerja.

Entah mengapa malam ini suasana sekitar aku berjalan sangat sepi. Sejak meninggalkan ujung tembok kompleks ini aku tidak bertemu seorangpun. Mungkin karena sudah menjelang dini hari apa ya? Orang-orang pasti sudah tidur lelap.

“Bang... bakso bang!”

Aku mendengar seseorang memanggilku... pelan saja sampai aku nyaris tidak terlalu mendengar, tapi karena malam yang sepi suara itu cukup nyampai di telingaku, kuputar kepalaku mengikuti arah suara itu, kulihat seorang perempuan muda berdiri beberapa meter di belakangku. Dia sendirian saja. Aku agak tidak percaya juga, masak perempuan malam malam begini pergi sendirian? Apa mungkin dia perempuan nakal yang sering mangkal itu ya? Tapi aku coba enyahkan prasangkaku, tidak baiklah, siapapun dia tetaplah pembeli yang harus dilayani dengan baik. Lalu aku memutar arah gerobakku menuju perempuan itu.

“Dari pulang lihat pameran mbak?” Sapaku kepadanya sekedar berbasa basi.

Dia tersenyum saja tidak menjawabnya, lalu dia mengacungkan jarinya sebagai tanda dia memesan satu mangkok bakso.

“Dibungkus atau.....” Belum selesai aku mengucapkan kalimat, dia sudah memotongnya.

“Makan disini saja Bang!”

Aku segera melayaninya dan menyerahkan baki berisi semangkok bakso dan perlengkapannya semacam sambal, saus dan kecap. Dia menerima baki itu dan membawanya ke tembok perumahan, dia lalu berdiri bersandar sambil makan bakso itu. Kuamati perempuan itu, dia memakai celana panjang dan kaos yang tertutup jaket. Rambutnya tergerai melayang layang tertiup angin. Parasnya cukup manis dengan bibir tipis menghiasi bulat telor mukanya. Hanya saja aku tidak bisa menangkap matanya, dia selalu saja menunduk. Bahkan saat ia mengembalikan mangkok dan membayarnya, dia tetap saja menunduk.

“Hati-hati sudah malam!” Ucapku kepadanya tanpa maksud menggurui. 

Dia menganggukkan kepalanya saja lalu berbalik arah berjalan meninggalkanku. Akupun lalu berjalan berganti arah menuju jembatan. Sesampai di ujung jembatan aku sempat menengok ke arah dia yang mungkin masih berjalan, tapi sosok perempuan itu tidak terlihat, aneh... masak secepat itu ia meninggalkan jalan setapak ini? Tanyaku dalam hati. Tapi aku tidak terlalu peduli, yang kuinginkan sekarang adalah segera sampai kost dan tidur.

Aku terbangun ketika suara gaduh hinggap di telingaku, ternyata Tarjo sedang bersiap siap untuk berangkat kerja. Jam dinding yang ada di hadapanku menunjuk pukul tujuh lebih beberapa menit.

“Berangkat dulu pak Pono!” Ucapnya sambil melangkah menuju pintu kamar kost.

“Mmhmmm... yaa.. ya!!!” Jawabku masih mengantuk.

Sesaat aku diam tiduran di atas tempat tidur, setelah itu aku bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk cuci muka, selanjutnya aku kembali ke kamar untuk menghitung hasil jualanku semalam. Kututup pintu kamar itu dan kukunci dari dalam, aku tidak mau penghuni kamar kost yang lain melihatku menghitung uang, bukan apa-apa, cuma aku paling malas kalau ada yang mau meminjam uang. Kalau mau nggak dipinjami nyatanya aku ada uang, kalau aku meminjami aku sendiri bakalan yang repot apalagi bila orang itu tergolong bandel dan cuek, kalau nggak ditagih tidak mau membayar. 

Kusibakkan kasur tempat aku tidur semalam, lalu kuambil kantong kain yang aku simpan di bawah tikar alas kasur, aku biasanya memasukkan semua hasil berdagang ke dalam kantong itu lalu aku sembunyikan di bawah situ. Keesokan harinya saat Tarjo berangkat kerja barulah aku membongkar dan menghitungnya, setelah dikurangi pangkal modal untuk membeli bahan-bahan pembuatan bakso, sisanya aku simpan didompet dan kutaruh di dalam almari pakaian. Sebagian uang yang terkumpul nantinya akan aku kirim ke keluarga di kampung., sebagian lagi untuk membeli keperluanku sehari hari.

Lembar demi lembar, koin demi koin aku mulai menghitung. Tapi tiba-tiba mataku tertahan pada pemandangan yang tidak biasanya, aku melihat dua lembar daun ada diantara uang-uang itu. Kuambil daun-daun itu dan kuamati. Perasaan aku tidak pernah menaruh apapun di kantong ini kecuali uang hasil aku berdagang? Kok ini ada daun? Selanjutnya pikiranku kembali ke peristiwa tadi malam saat aku menerima pembayaran dari perempuan itu, dia menyerahkan dua lembar uang kertas, dan saat aku menerima, aku melihat itu benar-benar uang kertas. Aku tertegun, tidak mengerti dengan ini semua. Kalaupun aku nanti cerita ke Tarjo, mungkinkah dia percaya?


TUYUL PENJAGA KANTOR

(Gambar ini hanya ilustrasi)

Hari ini aku berencana lembur di kantor. Ini kali pertama aku lembur di kantor, itu pun karena aku lagi ketagihan main game online hehehe. Biasanya sih kerjaan aku bawa pulang. Aku bekerja sebagai editor di sebuah penerbit, jadi kerjaan kantor yang berupa naskah-naskah bisa aku kerjakan di rumah. Itu pun kalau pas aku tidak malas mengerjakannya atau pas tidak begitu di kejar-kejar dead line.

Saat itu, di ruanganku lumayan banyak temanku yang juga lembur. Hingga akhirnya waktu menunjukkan hampir pukul 20.00. Satu per satu teman-temanku mulai berkemas dan pulang. Tinggal aku dan Rudi saja di dalam ruangan itu. Beberapa saat kemudian, Rudi pun berkemas dan mau pulang.

“Gus, kamu nggak pulang nich...” Tanya Rudi

“Ntar lagi, tanggung nih.... pas seru-serunya...” Jawabku tanpa menoleh ke arah Rudi karena asyik maen game.

“Aku pulang duluan ya...” Lanjut Rudi.

“ Yo’i... hati – hati di jalan...” Jawabku singkat tanpa menoleh ke arah Rudi

“Ok.. sip.” Jawab Rudi sambil berlalu menuruni tangga.

Kini aku sendirian di ruanganku. Selang beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki menaiki tangga, dan berjalan menuju arah meja Rudi. Karena aku lagi asyik-asyiknya main game, aku pun tidak menoleh ke arah suara langkah kaki tersebut. Pikirku itu pasti Rudi.

“Balik lagi Rud, ada yang ketinggalan ya...?“ Tanyaku sambil asyik main game

“Iya... ada yang ketinggalan.” Jawabnya datar dan dingin

“Oooh...” Lanjutku singkat.

Kemudian terdengar suara langkah kaki dari meja Rudi menuju arah kamar mandi. Aku pikir Rudi mau pergi ke toilet. Bersamaan itu pula terdengar suara langkah kaki menaiki tangga. Aku sempatin melirik siapa gerangan yang datang, ternyata satpam kantor.

“Masih lembur nih pak Agus.? Tanya pak satpam.

“Nggak kok, sebentar lagi juga mau pulang.” Jawabku singkat sambil masih memainkan game.

“Berani nih sendirian?” Lanjut pak satpam

“Ada Rudi kok pak.” Jawabku tanpa menoleh ke arah pak satpam

“Lho tadi saya keliling kok sudah tidak ada orang?“ Jawab pak satpam sambil mendekatiku dan melihatku main game.

“Kayaknya lagi di toilet pak.” Jawabku singkat

“Ooo begitu... ya sudah saya lanjut keliling dulu pak Agus.” Lanjut pak satpam berlalu sambil menepuk bahuku

“Oh iya pak... silakan.” Jawabku

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah toilet dan berjalan menuju ke meja Toni. Aku pikir itu Rudi. Rudi memang suka maen di meja kerja Toni, sekedar numpang membaca buku-buku dan majalah kepunyaan Toni. Hal itu karena di meja Toni memang banyak buku-buku dan majalah lelaki dewasa kesukaan Toni. 

“Dah lega ya Rud... lama sekali kau di toiletnya.” Candaku sambil tetap main game.

Namun, tidak ada jawaban dari Rudi. Ah mungkin Rudi lagi keasyikan baca majalah Toni pikirku. Tiba-tiba terdengar suara telepon yang berdering dari meja kerja Doni, meja temanku yang berada di pojokan tepat bersebelahan dengan meja Toni. Telepon itu pun terus berbunyi karena tidak ada yang mengangkat. 

“Rud angkat dong teleponnya... kamu kan yang lebih dekat.” Teriakku

Namun tidak ada jawaban dari Rudi dan telepon pun terus berdering. Aku menengok ke arah meja Toni, disitu tidak terlihat Rudi. Begitu juga di meja Rudi, kosong. Dan telepon pun masih berdering. Akhirnya aku pun menghampiri meja Doni dimana telepon tersebut berdering. Begitu aku sampai di meja tersebut, telepon itu berhenti berdering.

“Aaah sialan! Ngerjain aja nih!" kataku sambil gerutu

Saat aku kembali main game tiba-tiba telepon kembali berdering dan kali ini dari meja Rudi. Aku pun lagi-lagi menghampirinya dan begitu aku angkat teleponnya

“Hallooo..."

Tidak terdengar suara apapun! Aku tutup teleponnya dengan agak keras sambil marah -marah.

“Aaah ini pasti ulah Rudi.... bikin kesel aja!" gerutuku lagi. 

Dalam keadaan kesal aku kembali main game. Tak lama kemudian, aku merasa ada sesuatu yang beberapa kali mencolek kakiku dan sesekali menarik-narik bahan celanaku dari kolong meja kerjaku! Agak kesal dan penasaran akupun melongok ke kolong meja dan aku sangat kaget ketika…

Aku melihat ada sesosok anak kecil sedang menatap ke arahku dengan sorotan matanya yang tajam dan merah menyala! Aku langsung kaget setengah mati dan lari pontang panting keluar ruangan. Di luar kantor aku pun berpapasan dengan satpam yang baru kembali dari keliling ruangan-ruangan.

Aku pun berteriak, “ADA TTUUYYUULLLL!!!!!!!!" 

Satpam itu pun menatapku heran dan kebingungan...


PENUMPANG MISTERIUS


(Gambar ini hanya ilustrasi)


Malam itu, pikiranku lagi kosong dan merasa sangat jenuh karena siangnya bekerja cukup lelah di sebuah showroom mobil kemudian malamnya harus kuliah. Akhirnya, malam itu sepulang kuliah aku habiskan malam bersama teman-teman dengan kongkow–kongkow di rumah Rudi –teman kuliahku yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus.

“Weekend besok acara enaknya kemana coy...” Kata Rudi membuka obrolan.

“Bagaimana kalu kita berlibur ke puncak?“ Kata Sony memberi usul.

“Wahh... jangan... liburan pasti banyak yang kesana. Kita semua bisa stress karena macet.” Sergahku to the point.

Kemudian tiba-tiba Deni yang sedari tadi diam sambil menikmati rokoknya mencoba memberikan pendapat : “HHmmm bagaimana kalau kita mancing di danau... pasti asyiik..” 

“Waahh.... ide bagus tuh.... gimana teman-teman, setuju tidak.” Rudi langsung mengiyakan usulan Deni.

“Boleh juga ide Deni...” Lanjutku yang disertai anggukan Sony tanda setuju.

Akhirnya sepakat kami berempat –Aku, Rudi, Sony, dan Deni besok akan menghabiskan weekend dengan mancing di danau. Selanjutnya kami berempat melanjutkan dengan ngobrol sana sini sambil minum kopi menghabiskan malam serta membuat rencana apa-apa saja yang perlu di bawa untuk acara besok.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 dan aku bersiap-siap dan berpamitan pada teman-teman mau pulang sekarang karena memang rumahku paling jauh letaknya dibanding rumah teman-temanku yang lain. Biasanya aku pulang dengan menggunakan kereta api terakhir dari stasiun. Namun hari itu aku terpaksa membawa mobil karena siangnya aku ada meeting dengan customer. 

Saat jam tepat menunjukkan pukul 23.45 ketika aku pamit pulang dengan diiringi cemoohan dari teman-teman yang lain.

“Berani nich... pulang malam sendirian... ntar dicegat bencong loh...” Kata Deni menggoda. 

“Sori coy, aku capek berat, pengen segera istirahat nih.” Jawabku sambil menenteng tasku.

“Iya... iya, hati-hati di jalan. Sudah malam ntar ada yang numpang.” Canda Rudi.

“Ah... siapa tahu yang numpang cewek cantik.... kan bisa sekaligus aku pacarin...” Jawabku seenaknya diikuti tawa teman-temanku.

“OK... coy met malem semua... sampe besok ya...” Pamitku pada mereka sambil berlalu keluar menuju mobil.

Jam sudah menunjukkan pukul 00.25 ketika aku sampai di suatu jalan sepi yang kanan kirinya masih banyak pohon rimbun dan tanah persawahan yang luas. Hanya kurang sekitar 2 km lagi jaraknya sampai rumahku. Tiba-tiba aku merasakan angin dingin berhembus tepat di belakangku dan saat itu pula aku merasa bulu kuduk-ku merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki dan udara dalam mobilku pun menjadi terasa lebih dingin. 

Spontan aku raih tombol AC dan mengecilkannya untuk mengurangi dingin. Namun udara di dalam mobil masih saja terasa dingin, akhirnya aku mematikan AC mobil. Saat aku meraih tombol AC untuk mematikannya... tiba-tiba tercium bau aneh dan berubah menjadi bau wangi kembang kemboja dari arah belakang. Pada saat aku mengintip ke spion dalam.... begitu terkejutnya aku..... ada sesosok wanita berambut panjang berumur sekitar 20 tahunan dengan baju putih panjang compang-camping yang dipenuhi dengan bercak darah duduk di jok belakang mobil. Aku langsung istighfar dan membaca ayat-ayat Al Quran yang aku bisa, tetapi sosok wanita tersebut masih tetap disitu dan tidak beranjak pergi.

“Permisi.... numpang lewat. Maaf kalau saya mengganggu Mbak.... dan sekarang saya minta mbak turun dari mobil saya.” Kataku dalam hati sambil tetap berdoa.

Namun, sosok perempuan tersebut tetap saja tidak beranjak pergi hingga akhirnya perjalananku sampai di sebuah tikungan dimana disitu terdapat sebuah kuburan. Pada saat itulah, tiba-tiba seperti ada yang mengusap punggungku dari arah belakang. Bulu kudukku pun semakin berdiri dan spontan mobilku tiba-tiba berhenti seiring dengan munculnya suara wanita yang sedari tadi duduk di jok belakang mobilku.

“Saya berhenti disini saja mas.... trimakasih tumpangannya mas... hihihihihi.” Ucap wanita itu dengan diiringi suara tawa cekikikan dan aroma bunga kamboja yang lambat laun menghilang.

Seketika itu juga, kulihat spion dalam mobilku. Wanita tersebut sudah tidak ada lagi di jok belakang mobil. Segera kunyalakan mobilmu dan langsung aku tancap gas.

Beberapa saat kemudian sampailah aku di rumah. Segera saja kumasukkan mobil ke dalam garasi dan aku menuju dapur untuk memasak air buat mandi. Setelah mandi dan terasa segar aku segera menuju kamar tidur untuk beristirahat. Namun, susah sekali mata ini terpejam karena masih teringat dengan kejadian yang barusan aku alami. Ku mencoba nyalakan TV dengan harapan agar aku bisa segera tidur secepatnya. Dan akhirnya aku pun tertidur dengan pulas dengan TV masih menyala.

Aku mulai terbangun dari tidurku... kulirik jam yang ada dimeja sebelah tempat tidur...

“Waah... aku kesiangan. Sudah jam 05.30“Kataku dalam hati

Segera aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil air wudhu kemudian shalat subuh. 

Selang beberapa saat kemudian terdengar suara tukang koran.

“Koran... koran...” Teriak pak tukang koran.

Aku bergegas keluar rumah dan memanggil tukang korang tersebut.

“Pak... beli korannya pak...” Teriakku

“Oh iya pak... silakan mau koran apa pak.” Tanya tukang koran itu

“Sebentar pak, boleh lihat-lihat sebentar kan?“ Tanyaku

“Oh silakan pak....” Jawab tukang koran

Aku mulai melihat-lihat koran dan mencari yang kira-kira beritanya menarik bagiku. Pada saat aku memegang koran lokal, begitu terkejutnya aku dengan berita utama yang ada di koran lokal tersebut.

“SEORANG WANITA KORBAN TABRAK LARI TEWAS SEKETIKA.”


La Planchada