Wednesday, August 14, 2019

Cerita Misteri Di Kawasan Akademi Militer Magelang

Dalam hidup, kita selalu berdampingan dengan alam yang bisa dibilang sebagai alam ghaib. Hal ini yang sering menjadi bahan kisah misteri yang menakutkan. Terlebih lagi hampir setiap orang mungkin mengalami cerita misteri nyata yang menakutkan. Bahkan kejadian aneh semacam ini tidak bisa dinalar dengan akal manusia. Cerita atau kisah mistis bisa terjadi dimana saja. Mulai dari bangunan atau tempat tertentu, hingga mungkin di tempat yang ramai juga. Oleh karena itu, dimana pun kita berada sebaiknya kita menjaga sikap agar terhindar dari hal-hal semacam ini. Kali ini cerita misteri datang dari kawasan Magelang, tepatnya di sebuah instansi pendidikan yang cukup ternama.

Bagi kalian yang tinggal di kawasan Kota Magelang, tentu tidak asing dengan sekolah taruna yang cukup ternama. Sekolah taruna ini merupakan sekolah yang banyak dipilih untuk membentuk calon militer yang berkualitas. Namun kalian mungkin tidak menyangka, bahwa kawasan akademi militer ini juga menyimpan cerita mistis yang pernah dialami sendiri oleh beberapa orang. Baik itu siswa dari akademi itu sendiri ataupun orang yang kebetulan masuk ke kawasan ini.

Cerita horor yang beredar disana adalah mengenai taruna merah, dan cerita ini sempat menggemparkan masyarakat beberapa tahun yang lalu. Apalagi taruna merah memang sudah menjadi buah bibir atau pembicaraan orang banyak. Hingga akhirnya beberapa orang mengaku pernah menyaksikan penampakan dari taruna merah ini saat berada di kawasan akademi militer taruna di Magelang ini.

Kisahnya dimulai ketika ada acara camping yang diadakan oleh salah satu SMA di Magelang. Camping ini memiliki salah satu acara yang ditakuti peserta, yaitu jurit malam. Saat itu 6 orang panitia ditugaskan untuk meninjau jalur yang akan dijadikan tempat kegiatan jurit malam. Mereka mengisi bensin di pom yang letaknya berada di pertigaan Pakelan dan rencananya akan mencari makan terlebih dahulu di kawasan Bayeman. Untuk ke daerah Bayeman ini harus melewati kawasan akmil yang dimaksud tadi.

Saat keenam orang ini melewati akmil, mereka memperlambat laju motor mereka. Hal ini dikarenakan gerbang akmil memang cukup mengagumkan. Terlebih lagi keenam orang ini mengaku ingin sekali masuk ke dalam akmil tersebut. Saat mereka melewati gerbang akmil, terdengar suara gemuruh nyanyian taruna yang dibawakan oleh para anggota taruna. Bukan hanya nyanyian saja yang terdengar, namun juga hentak kaki yang kompak. Disinilah cerita mistis nyata ini kemudian terjadi. Ketika itu salah seorang dari keenam orang ini melihat barisan berseragam loreng yang lari keluar dari gerbang akmil. Padahal jarang sekali ada anggota akmil yang keluar pada malam hari. Setelah itu salah satu keenam orang ini menjerit dan berteriak, “Setaaaaan….” 

Secara otomatis, yang lain kemudian menghidupkan starter motor untuk bisa kabur. Rombongan taruna yang tadi keluar tersebut konon katanya tampak dengan seragam robek-robek dan juga dengan wajah yang berlumuran darah. Senjata yang dibawa juga sudah rusak dan seragamnya tampak usang. Mereka mengaku menyaksikan pemandangan tersebut selama beberapa menit. Kemudian setelah motor bisa menyala, keenam orang ini langsung buru-buru kabur untuk kembali ke tempat camping. Setelah kejadian ini, keenam orang itu hanya bisa terdiam dan tidak berani keluar dari tenda hingga pagi hari. Mereka benar-benar ketakutan setelah melihat penampakan itu.

Monday, August 12, 2019

TELEPON TENGAH MALAM (SAMARINDA)


Rina baru saja pindah ke rumah ini, beberapa kotak berisi barang-barang masih teronggok di depan pintu, tidak banyak sih barang yang dibawa tapi cukup membuatnya kewalahan. Maklum dia sendirian dan itu cukup membebaninya.

“Perlu bantuan?” seorang pria di sampingnya bertanya. Dia menunjuk ke kotak-kotak itu.

Rina menengok ke arah pria itu, dia merasa tidak asing melihatnya. Sepertinya dia pernah bertemu... tapi dimana ya? Pria itu tersenyum kepadanya.

“Lupa ya? Nama saya Burhan!” tiba-tiba Pria itu menjulurkan tangan, Rina terpaksa menyambutnya. Meski ragu tapi hati kecilnya meyakinkan kalau pria yang mengaku bernama Burhan itu orang baik baik.

“Rina!” jawabnya pendek.

Tanpa diminta, Burhan segera mengangkat salah satu kotak miliknya dan membawanya menuju pintu, sedang ia sendiri merasa heran, pria itu tampak sangat terbiasa.

“Bisa membukakan pintu ini Rina?” pinta Burhan seraya menatapnya, Rina sendiri diam mematung menyaksikan kelakuan orang itu.

“Ooh...!” Rina tergagap, segera dia beranjak ke pintu itu, lalu merogoh tasnya untuk mengambil kunci. Begitu pintu terbuka Rina masuk diikuti Burhan, dengan sigap Burhan menaruh kotak itu lalu keluar lagi untuk mengambil kotak-kotak yang lainnya.

“Sudah beres, semua kotak sudah dimasukin!” ucap Burhan begitu semua kotak sudah berpindah ke dalam ruangan.

“Terima kasih Burhan, mmhmm... apa mau mampir dulu atau...!”

Burhan memotong ucapan Rina dengan cara melambaikan tangan, “Terima kasih, tidak perlu, aku masih ada pekerjaan yang lain. Selamat malam!”

Dia lalu meninggalkan Rina yang masih terpaku. Rina memandangi punggung pria yang berlalu meninggalkan dirinya, setelah itu dia segera menutup pintu dan menguncinya.

“Burhan?” dia bertanya dalam hati. Kenapa dia merasa aneh dengan pria itu? Dia seperti asing dengannya tapi di saat yang bersamaan merasa terbiasa. Ah sudahlah, mungkin itu cuma perasaannya saja, kilahnya dalam hati. Kembali dia menengok ke kotak-kotak itu, malas rasanya mau membuka untuk mengeluarkan isinya, sudah malam sih... mendingan buat tidur aja, toh besok masih ada waktu, jadi nggak perlu tergesa gesa. Kalau dipaksakan mengerjakan sesuatu di saat kondisi tubuhnya lelah pasti akan berakibat kesehatannya terganggu, jadi repot nanti. Dia menyadari kalau dia sendirian di kota ini, kalau terjadi sesuatu hanya menyusahkan tetangga dan teman-temannya saja.

Setelah mematikan lampu, diapun pergi ke tempat tidur untuk merebahkan badan, diambilnya selimut di atas bantal lalu di tutupkannya ke seluruh badan. Sebelum memejamkan mata dia menatap kerah jam dinding bulat warna putih dengan angka angka berwarna hitam. Jarum menunjukkan pukul dua puluh satu lebih beberapa menit. Tidak berapa lama dia pun jatuh tertidur.

Kriingg... suara telepon terdengar keras di telinganya. Meski matanya masih terasa lengket bak dilem, tapi suara itu tetap saja membuat matanya sedikit terbuka. Siapa sih yang telepon malam-malam begini? Malas rasanya untuk beranjak dari tempat tidur hanya untuk mengangkat telepon, apalagi kalau itu ternyata cuma ulah orang iseng... gangguin orang tidur aja. Enggan menanggapi telepon, Rina kembali tidur, selimut dinaikkan lagi untuk menutupi badan dan wajahnya agar dingin yang menyergap bisa tertahan selimut itu.

Kriiinggg... suara telepon terdengar lagi, bahkan lebih keras, Rina menurunkan selimut dari wajahnya. Kok dering telepon itu terdengar lagi untuk yang kedua kali? mungkinkah telepon itu bukan dari orang iseng? Siapa tahu itu penting ada keluarga yang mau mengabarkan sesuatu? Akhirnya, meski malas Rina beranjak dari tempat tidur menunju meja di mana telepon itu berada.

“Halloo...? Siapa ini?” sapanya begitu dia mengangkat telepon. Ditatapnya jam dinding, menunjuk ke arah jam dua belas. Siapa pula tengah malam begini telepon?

“Bisa dihubungkan dengan Wawan?” suara seorang perempuan terdengar bergetar.

“Wawan? Wawan siapa? Di sini tidak ada yang bernama Wawan tuh!” Rina bingung menjawabnya, sebab memang tidak ada siapapun di rumah ini kecuali dirinya.

“Ini Bougenville nomor 21 kan?” tanya perempuan itu lagi.

 “Iyaaa... benar! Tapi tidak ada...”

“Hah... benar kan? Tolong deh panggilin Wawan! Cepat!” 

Rina terkesima mendengar suara perempuan yang tampak sangat kesal itu. Ada apa ini?
“Maaf, di sini tidak ada yang namanya Wawan!”

“Ini Bougenville nomor 21 kan?” ulangnya lagi lebih keras.

“Iya, tapi...” belum selesai Rina bicara, perempuan itu sudah memotongnya.

“Mana Wawan... cepat suruh dia angkat telepon ini!” hardiknya.
Rina jadi kesal dan naik pitam, “Kok ngotot sih... dibilangin tidak ada yang bernama Wawan masih aja nggak percaya. Sudah saya mau tidur aja, selamat malam!” Rina menutup dan meletakkan gagang telepon dengan keras. 

Kriing... kriingg... kriingg... dering telepon terdengar berulang ulang, tapi Rina sudah enggan menanggapi, dia ambil kapas dan menyumpalkannya di telinga. Sudah telepon orang tengah malam... eh marah-marah pula... gerutu nya dalam hati, lebih baik ditinggal tidur saja... toh dia juga tidak mengenal orang itu... kenapa pusing pusing amat?

Entah mengapa Rina sulit memejamkan mata, gangguan telepon tadi ternyata menancap di pikirannya, siapa perempuan itu? dan Wawan... siapa pula dia? Kenapa dia seperti pernah menyebut nama itu di waktu lalu? Bahkan nama itu kayaknya terukir di memorinya, samar dia merasa nama itu telah terucap berulang kali, dan suara perempuan itu juga acap kali dia dengar, tapi kenapa dia lupa segalanya?

Di pagi hari, Rina sudah mandi dan merapikan diri. Dibukanya tirai jendela untuk melihat pemandangan di luar.

“Pria itu...!” Rina melihat dengan lebih seksama... ya, bukankah dia yang tadi malam membantunya memasukkan kotak-kotak bawaannya ke dalam? Diamatinya lelaki itu dari balik jendela. Rina juga berusaha keras mengingat namanya. Kenapa jadi pikun begini, bukankah baru tadi malam dia bertemu dengan pria itu. 

“Ah lebih baik aku menghampiri pria itu, siapa tahu dia ada informasi tentang penghuni sebelum dirinya!” gumam dia dalam hati.

Setengah berlari Rina keluar dari pintu dan menghampirinya. “Hai...!” sapa Rina sambil menepuk bahu pria itu. “Kamu kan yang membantu saya memasukkan kotak-kotak tadi malam?” tambahnya lagi.

Pria itu tersenyum... datar saja.

“Nama saya Rina, kamu...”

“Burhan!” jawabnya pendek.

“Oh iya, Burhan... aduh maaf aku lupa... sudah pikun kali ya aku? Mmh... bukankah kamu yang membantu memasukkan kotak-kotak ke dalam rumahku?”

Pria yang bernama Burhan itu tertawa, lalu mengangguk.

“Kayaknya Mas Burhan ini tinggal di sekitar sini ya?” selidik Rina.

“Mmhmm... iya!” jawab Burhan.

“Kebetulan nih, aku mau tanya apa ada nama Wawan di sini, karena...”

Belum selesai dia mengutarakan maksudnya, Burhan sudah memotong sambil berkata, “Nanti jam sembilan aja ya? Dik Rina bisa menceritakan apa saja, bisa mengeluarkan uneg-unegnya!”

“Ooh... jam sembilan?” 

Burhan mengangguk, lanjutnya, “Nanti jam sembilan saya dan seorang teman akan mengunjungi Dik Rina, ok?”

Rina terpaksa mengangguk, sebenarnya dia ingin sekali saat ini juga dia mengungkapkan permasalahannya, tapi ya sudahlah... dia mesti mengalah karena dia melihat Burhan ada yang mau dikerjakan.

“Ok, sampai nanti jam sembilan. Rumahku yang itu tuh...”

“Bougenville nomor 21” ucap Burhan fasih.

Rina mengangguk penuh keheranan, Burhan kok tampak tahu betul alamat rumahnya itu, padahal dia merasa baru tadi malam berjumpa dengannya. Atau mungkin karena Burhan asli orang sini sedang dia cuma perantau yang barusan pindah ke rumah itu, tapi kalau itu benar malah kebetulan sekali... dia bisa banyak bertanya tentang orang yang bernama Wawan, mungkin dia salah satu penghuni sebelum dirinya dan perempuan yang menelpon tadi malam mengira Wawan masih tinggal di rumah itu. Ah sudahlah, toh Burhan berjanji mau menemuinya lagi, tak apalah menunggunya, Rina pun lalu kembali ke rumahnya.

Tepat jam sembilan, Rina mendengar suara ketukan pintu.

“Oh... Mas Burhan!” seru Rina senang. Burhan benar-benar datang menepati janjinya. Dia datang tepat jam sembilan dengan membawa seorang teman.

“Dik Rina, ini pak Dahlan!” Burhan memperkenalkan seorang pria paruh baya kepadanya. Rina menyambut jabatan tangan pria bernama pak Dahlan itu.

“Kata Burhan, Rina ada masalah ya?” tanya Pak Dahlan dengan suara tenang.

Rina memandang sejenak ke arah pak Dahlan, agak ragu dia untuk mengungkapkan masalahnya kepada orang yang baru dikenalnya.

“Dik Rina tidak usah takut, pak Dahlan ini ketua RT di sini, dia tahu pasti keberadaan warga yang ada di sini. Jadi nanti akan banyak membantu Dik Rina.” kata Burhan seperti memahami kekhawatriannya.

Rina tersenyum, dia lega, oh ternyata pak Dahlan ini pak RT. “Begini pak RT, saya kan belum lama pindah ke sini, di rumah ini di...”

“Bougenville no 21!” potong Burhan.

Pak Dahlan mengangkat tangannya ke arah Burhan pertanda dia dilarang memotong ucapan Rina.

“Silakan Dik Rina!” ucap pak Dahlan.

“Tadi malam ada orang menelpon saya, menanyakan seseorang yang bernama Wawan. Saya kan baru saja pindah ke sini, jadi saya kurang tahu, saya sudah bilang kalau saya tidak mengenal orang yang bernama Wawan tapi tetap saja dia ngotot minta bicara... Ya sudah telponnya saya tutup saja.”

“Dik Rina apakah mengenal pria yang bernama Wawan itu?” tanya pak Dahlan serius, dia melihat berkas yang dibawanya.

“Tidak, sama sekali tidak! Saya kan masih baru di sini! Mungkin pak RT yang lebih tahu, yang tinggal di rumah ini sebelum saya... siapa ya?” selidik Rina.

“Oooh... yang tinggal dirumah ini sebelumnya adalah seorang perempuan bukan pria!”

“Nah... itu dia, mungkin Wawan itu mantan pacar atau mantan suaminya!” Rina seperti mendapat titik terang.

“Bukan... bukan begitu, ini khusus perempuan, tidak boleh ada pria di sini.”

Rina terkejut... “Oh ya? Khusus perempuan?”

Lalu lanjutnya lagi, “Jadi kenapa perempuan yang telepon itu mencari Wawan? Kalau tidak ada pria yang boleh tinggal di lingkungan ini?”

“Apakah Dik Rina tahu? siapakah yang menelpon tadi malam?”

“Mmmh...” Rina tergagap, menyadari kebodohannya tidak menanyakan nama si penelepon.

“Besok lagi kalau perempuan itu menelepon tolong ditanyakan namanya, apa maunya! Jadi kita tahu maksud si penelepon itu!”

“Pak RT bisa bantu ya?”

“Tentu saja, kalau tahu dari siapa dan maunya apa tentu kita bisa cari data-datanya. Makanya entar kalau ada telepon lagi tolong dicatat semuanya.” Pak Dahlan lalu memberikan sebuah buku dan bolpen kepada Rina.

“Harus dicatat?” tanya Rina seraya menerimanya.

“Iya agar tidak kececer dan tidak lupa! Dik Rina kan selalu mendapat telepon tengah malam dari seorang perempuan dan menanyakan Wawan... jadi…”

“Maaf... saya baru mendapat telepon tadi malam, kenapa Pak RT bilang selalu?” protes Rina dengan nada kesal, bagaimana tidak? Bertemu dengan pak Dahlan juga baru kali ini kok bisanya dia bilang selalu.

Pak Dahlan mengeryitkan dahi, dengan sigap dia membuka berkas yang dibawa dan dibacanya dengan teliti, lalu dia manggut-manggut.

“Baiklah Dik Rina, besok jam sembilan kita akan bertemu lagi. Nanti Dik Rina bisa menceritakan semuanya, tapi ingat harus dicatat! Siapa yang menelpon, maunya apa, pokoknya semuanya tercatat, jadi kita bisa membahasnya bersama-sama!”

Rina diam sesaat, dibukanya buku yang diberikan oleh pak Dahlan lembar demi lembar, semuanya masih kosong belum ada tulisan sama sekali.

“Ingat ya? D-i-c-a-t-a-t!” kata pak Dahlan lagi menekankan kata itu.

Rina mengangguk, karena kedua tamunya beranjak dari kursi, Rina pun lalu mengantar keduanya menuju pintu.

Beberapa saat setelah meninggalkan pintu itu Burhan bertanya kepada Pak Dahlan, “Bukankah Pak Dokter sudah tahu kejadiannya?”

Burhan mengerti meski baru sekali ini pak Dahlan menemui Rina tapi dia pasti sudah membaca berkas yang ada.

Pak Dahlan tersenyum, ucapnya, “Biarkan Rina tahu dengan sendirinya, kejadian apa yang sudah menimpanya, itu membantu memori dan penyembuhannya.”

Burhan manggut-manggut, dia ingat berita di koran berapa pekan silam tentang kejadian kriminal yang menimpa seorang perempuan muda, di situ diceritakan kalau perempuan itu terluka parah di bagian kepala dan mengalami depresi berat. Perempuan itu bernama Rina, dia selalu menyebut nama Wawan. Tapi sampai sekarang belum ada titik terang tentang siapa orang yang bernama Wawan itu. Katanya masih dalam proses penyelidikan di kepolisian. Tapi dari berita itu Burhan jadi tahu kalau dia dan Rina berasal dari kota yang sama dan sama-sama orang perantauan yang bekerja di kota Samarinda. Rina bekerja di sebuah Bank terkenal sedang dia bekerja sebagai seorang perawat.

Sebelum pergi menuju tempat selanjutnya, Burhan menengok sebentar ke belakang ke arah pintu itu, di situ terpampang tulisan Bougenville no 21, itu nama salah satu pavilyun di rumah sakit jiwa tempat dia bekerja selama ini.

“Kasihan kamu Rina, nasibmu begitu tragis,” gumam Burhan getir.

Sunday, August 11, 2019

Penghuni Benteng Pendem (Ngawi

Benteng Pendem Ngawi terkenal sebagai salah satu tempat angker di Jawa Timur yang banyak diperbincangkan orang. Bangunan ini pada masa lalu sebenarnya memiliki nama Benteng Van den Bosch, sebutan Benteng Pendem diberikan karena bangunan benteng pertahanan pasukan Belanda di bawah pimpinan Johannes Van den Bosh ini dibangun di bawah permukaan tanah dan hampir seluruh bangunan tidak terlihat dari kejauhan.

Bangunan yang dibangun tahun 1839 dan selesai pada tahun 1845 tersebut dulunya merupakan markas besar pasukan Belanda sekaligus sebagai benteng pertahanan dari perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro. Beberapa bangunan yang terdapat di dalamnya diantaranya digunakan sebagai ruang pimpinan, pasukan, ada pula yang berfungsi sebagai gudang amunisi.

Situs peninggalan sejarah ini sekarang dijadikan oleh masyarakat sekitar sebagai salah satu obyek wisata sejarah. Lokasinya saat ini berada berdekatan dengan Taman Makam Pahlawan. Selain sejarah masa lalu tentang asal-usul Benteng Pendem, konon di lokasi ini kerap terlihat penampakan-penampakan ghaib. Bangunan yang sudah berdiri lebih dari setengah abad tersebut saat ini memang terlihat masih kokoh dan juga megah. Akan tetapi siapa sangka bahwa benteng yang berlokasi di Desa Pelem ini kerap menimbulkan kisah misteri untuk masyarakat yang berkunjung ke tempat itu. Adapun beberapa cerita horor dan penampakan ghaib yang kerap terlihat adlah:

A. Pasukan Belanda tanpa kepala
Penampakan ghaib yang menyerupai rombongan tentara Belanda sering terlihat di lokasi berdirinya benteng ini. Selain itu, yang lebih menakutkan lagi ialah adanya penampakan pasukan Belanda tanpa kepala.

B. Siluman ular
Disini juga terdapat ular berkepala manusia yang konon kerap menampakan diri di benteng tersebut. Walaupun keberadaanya ini tidak mengganggu manusia yang tengah berkunjung, akan tetapi penampakannya yang mendadak dan tiba-tiba melesat di balik lorong-lorong bangunan tentunya akan menjadikan siapa saja takut ketika melihatnya.

C. Manusia kelelawar
Tidak sedikit pengunjung yang datang kesana yang mengaku pernah melihat hantu yang wujudnya seperti kelelawar besar dan hinggap di atas bangunan benteng. Adanya sosok makhluk ghaib dengan tubuh yang hitam legam ini juga disinyalir menjadi makhluk penghuni salah satu ruangan di bangunan tersebut.

Selain terkenal angker, benteng ini juga menyimpan kisah perjuangan anak bangsa di masa penjajahan Belanda. Salah satu tokoh pejuang yang cukup terkenal dan dimakamkan di sekitar benteng tersebut adalah Kyai Muhammad Nursalim, seorang ulama besar di Ngawi sekaligus pejuang dari kubu Pangeran Diponegoro orang yang diyakini meninggal dan dimakamkan di tempat tersebut. Menurut cerita yang melegenda di masyarakat Jawa Timur, beliau adalah seorang ulama yang memiliki kesaktian kanuragan. Entah ajian kekebalan apa yang ia miliki namun banyak orang yang mengatakan bahwa beliau kebal dari senjata, termasuk senjata api. Karena itulah kemudian pasukan Belanda menangkap dan membawa beliau ke markas mereka sebagai tahanan. Tak lama terdengar kabar bahwa Kyai Muhammad Nursalim telah meninggal dalam tahanan karena dikubur hidup-hidup di salah satu bangunan utama Benteng Pendem.

Selain keberadaan makam Kyai Muhammad Nursalim, di lokasi ini juga terdapat sumur tua yang konon dulunya digunakan oleh pasukan Belanda sebagai tempat pembuangan mayat para pekerja rodi yang dimanfaatkan sebagai pekerja dalam pembangunan benteng tersebut.




Friday, August 9, 2019

Misteri Rumah Kapal (Lampung)

Destinasi penuh misteri hampir ada di setiap daerah, termasuk di Bandar Lampung. ada sebuah bangunan bernama Rumah Kapal. Desas-desusnya, banyak hantu bergentayangan di rumah angker yang tak berpenghuni tersebut. Rumah Kapal ini berada di Jl. Rasuna Said, Teluk Betung, Bandar Lampung. Sesuai dengan namanya, bangunan yang konon sudah ada sejak zaman Belanda ini bentuknya memang menyerupai kapal. Jika dilihat dari depan, Rumah Kapal seakan hanya memiliki 1 lantai. Namun, jika dicermati, ada dua lantai lagi yang dibangun di bawahnya. Area bangunan juga sebenarnya cukup luas, namun rumah ini memang terlihat tak terurus. Bangunannya sudah rusak dan penuh dengan semak belukar sehingga menimbulkan kesan horor bagi siapa saja yang melewatinya. Rumah ini memang dikenal sebagai salah satu destinasi yang menyeramkan dan kabarnya berhantu. Bahkan rumah ini pernah diliput dalam salah satu acara bertema horor di televisi swasta nasional.

“Saya cuma tahu kalau rumah itu berhantu, dan saya pun pernah diganggu. Sering ada bayangan hitam besar ketika saya lewat sini saat pulang,” ujar Hendra seorang warga Bandar lampung. Menurut Hendra, perasaan seram kerap muncul setiap melintas di depan rumah ini, apalagi saat menjelang malam hari. “Kalau lewat siang-siang sih biasa saja. Tapi kalau menjelang Maghrib memang agak-agak horor,” ucapnya.

Kabar bahwa rumah ini berhantu sudah beredar sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun, masih belum ada keterangan yang pasti mengapa rumah ini bisa ditinggal penghuninya dan berubah menjadi sarang hantu. Salah satu kabar yang beredar adalah dulunya pernah ada pembunuhan di Rumah Kapal ini.



Thursday, August 8, 2019

HANTU PENUNGGU BANGUNAN TUA (KUDUS)

Ini cerita yang pamanku dengar dari para pekerja yang membersihkan dan merenovasi bangunan berlantai 2 yang terletak di jalan Pemuda di kota Kudus. Bangunan tersebut merupakan warisan dari eyang buyut yang meninggal dunia berpuluh tahun yang lalu. Ada 6 orang yang turut membantu pamanku untuk membersihkan dan memperbaiki bangunan tersebut selama 1 minggu, dimana selama menjalankan pekerjaan tersebut, mereka menginap dan tidur di bangunan itu. 

Para pekerja tersebut tidur dengan menggelar tikar di ruang tamu yang memang cukup luas. Sejak hari pertama memulai pekerjaan, sudah ada beberapa kejadian aneh yang dialami para pekerja yang tidur di ruangan tersebut, selanjutnya terjadi pada malam berikutnya sampai seminggu mereka di sana. 

Tetapi sebenarnya yang membuat mereka sangat ketakutan adalah peristiwa yang terjadi pada malam pertama mereka menginap di rumah tersebut. Kejadian itu begitu mengerikan hingga membuat mereka menjadi terguncang. Tidak hanya satu orang yang melihatnya, tetapi semua yang ada di ruang tamu itu melihat kejadian aneh tersebut. 

Sekitar tengah malam, di ruang tamu yang tidak berlampu karena listrik masih diputus oleh PLN, dan hanya dengan beberapa lilin yang sengaja dinyalakan untuk penerangan ala kadarnya. Hampir semua pekerja sudah tertidur di tikar yang sengaja mereka gelar di lantai ruang tamu, tapi ada salah satu pekerja yang sama sekali tidak bisa tidur. Tidak tahu apa sebabnya, padahal sebenarnya badannya terasa capek dan mengantuk, tapi entahlah mata sepertinya enggan untuk dipejamkan. 

Saking galaunya tidak bisa tidur, akhirnya dia hanya tidur-tiduran sambil matanya memandangi tembok yang ada di hadapannya. Awalnya hanya bayangan-bayangan dari cahaya lilin yang ia lihat, tapi setelah diperhatikan baik-baik seperti ada sesuatu yang muncul dari balik permukaan tembok. Dari balik permukaan tembok yang keras itu tiba-tiba muncul satu tangan yang menyembul keluar kemudian masuk lagi seakan-akan permukaan tembok itu menjadi lentur seperti permukaan karet. Kemudian disusul 2 tangan lagi yang keluar masuk seperti ada orang di belakang tembok itu yang sedang bermain-main. 

Adegan seperti itu terjadi berulang-ulang dan berpindah-pindah, tetapi masih dalam tembok yang sama. Pekerja yang belum bisa tidur itu pun terheran-heran dan akhirnya ia bangun lalu duduk dan mengucek-ucekan matanya untuk memastikan apakah dia salah lihat atau tidak. Tapi kenyataannya, dia tidak berhalusinasi dan melihat semua itu dalam keadaan sadar. 

Dia pun berdiri dan berjalan mendekati tembok itu, antara takut dan penasaran, dia beranikan diri untuk meraba permukaan tembok itu. Dan memang permukaannya tetap keras, kemudian ada gerakan lagi di sisi kanannya, dalam wujud tangan yang menjulur keluar kemudian masuk lagi dengan cepat, dia pun bergeser ke arah tangan yang tadi muncul, diraba-rabanya daerah di mana tangan tersebut keluar, ya tetap saja keras permukaannya. Kemudian di sisi kanannya tangan itu keluar lagi dari permukaan tembok, dia pun segera secepatnya bergeser untuk menangkap tangan itu, tapi tidak berhasil, sampai beberapa kali. 

Akhirnya karena saking penasarannya, dia pun memicingkan matanya dan mengamati tembok itu lalu mendekatkan wajahnya ke salah satu titik di permukaan tembok itu di mana tangan tadi muncul. 

“Aduh!!!” teriaknya keras dan kesakitan sambil menjatuhkan badannya serta memegang bagian wajahnya sehingga membangunkan teman-temannya yang telah terlelap. 

Apakah yang terjadi? 

Rupanya saat wajahnya mendekati ke permukaan tembok, pada saat itulah muncul tangan yang menggenggam dan dengan keras meninju wajahnya, sehingga membuatnya jatuh terpental kesakitan. 

Teman-temannya yang terbangun langsung mengerubunginya yang tergeletak sambil menutupi bagian wajahnya yang sakit karena kena tinju. Dan di saat yang hampir bersamaan, seperti disuguhi tontonan pertunjukkan seram, dari permukaan tembok mucullah tangan-tangan yang menjulur keluar, kemudian muncul juga wajah kakek-kakek yang menyembul di permukaan tembok itu, lalu disusul wajah dalam bentuk anjing atau serigala secara berulang-ulang. 

Para pekerja itu merasa kaget dan shock, tapi mereka tidak sampai lari ketakutan, mereka disuguhi pemandangan horror tersebut sampai beberapa menit, dan setelah itu semuanya kembali normal. Dan mereka pun kembali melanjutkan tidur. 

Keesokan harinya ada salah satu pekerja yang menceritakan kejadian tersebut kepada pamanku, tentunya mendengar cerita itu membuat pamanku agak cemas, bukan karena pamanku jadi ketakutan, tapi ia khawatir kalau ke-6 orang tersebut menjadi tidak betah lalu mengundurkan diri dan tidak melanjutkan pekerjaan mereka. 

Tapi untunglah, para pekerja tersebut bisa memaklumi situasi yang mereka hadapi, karena memang tempat ini sudah sekian lama tidak ada yang menempati, jadi wajar kalau ada “penghuni lain” yang bertempat tinggal di sini, sehingga mereka menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar kalau mereka mendapat gangguan dari sang “penghuni bangunan”. Mereka melihat hal ini sebagai risiko dari pekerjaan mereka. Dan juga mereka lebih memikirkan nasib keluarga mereka, seandainya mereka mengundurkan diri, karena artinya tidak ada uang yang didapat untuk keluarga mereka, jadi yang bisa mereka lakukan saat ini hanya memasrahkan diri dalam perlindungan-Nya. 

Pada malam kedua, ada seorang pekerja yang didatangi oleh sesosok wujud dalam bentuk bapak-bapak. Ceritanya begini.

Setelah ke-6 pekerja tersebut terlelap tidur di ruang tamu itu, seorang pekerja terpaksa bangun karena tubuhnya digoncang-goncang oleh seseorang. Awalnya dia agak malas-malasan untuk membuka matanya yang masih mengantuk, karena dia pikir ada salah satu temannya yang berbuat iseng untuk mengganggunya. 

Tetapi karena goncangan di badannya semakin sering, akhirnya dia pun bangun dan duduk dari posisi tidurnya, kemudian masih dalam keadaan mengantuk, dia mencoba melihat siapa yang secara sengaja berusaha membangunkannya, tapi ternyata teman-temannya tidak ada yang bangun, dilihatnya mereka semua pulas sekali tidur di atas tikar yang digelar di lantai. 

Sebenarnya agak jengkel juga pekerja tersebut, tapi mau marah kepada siapa, nyatanya tidak ada yang bangun, awalnya dia pikir pamanku yang berusaha membangunkannya. Tetapi tidak ada siapa-siapa di ruang tamu itu, selain dia dan ke-5 temannya. Akhirnya dia pun berbaring kembali, pada saat dia mulai terlelap, kembali badannya ada yang menggoncang-goncangkan lagi. Dan sepertinya pekerja itu sudah mulai mencium sesuatu yang tidak wajar, lalu dia pun duduk dan membuka matanya. Di saat matanya terbuka, di remang-remang cahaya lilin yang menyala di ruangan tersebut, sekitar 3 meter dari hadapannya ada sesosok bapak-bapak sedang menatapnya dengan tajam, seperti marah kepadanya. 

Pekerja tersebut terang saja kaget melihat bapak-bapak tersebut, tapi dia berusaha menguatkan dirinya untuk mengatasi kekagetannya tersebut, dan memberanikan diri untuk menanyakan siapakah bapak tersebut, karena sepengetahuannya, dia belum pernah melihatnya selama bekerja di tempat itu. Akhirnya terjadilah komunikasi, dan sosok bapak-bapak itu memperkenalkan dirinya sebagai penghuni yang sudah lama tinggal di sini, dan seperti memerintahkan dia dan teman-temannya untuk segera meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Karena keberadaan para pekerja tersebut mengganggu ketenangan penghuni rumah ini. Intinya, para pekerja tersebut harus segera pergi meninggalkan bangunan tersebut, kira-kira begitu. 

Pekerja tersebut sebenarnya agak bingung juga, siapakah yang dimaksud penghuni rumah ini oleh sosok bapak tersebut, karena rumah ini dalam keadaan kosong, tidak ada orang, dan kotor. Baru akan bertanya dan melirik kepada sosok tersebut (karena saat berkomunikasi dia menundukkan wajahnya karena segan dengan sosok tersebut), ternyata sudah tidak ada orang di depannya. Dia pun langsung berdiri melihat sekeliling ruangan, siapa tahu masih ada kelebatan badan bapak tersebut untuk memastikan ke mana arah perginya. Tapi nyata setelah dia mencari-cari ke segala penjuru ruang, sosok ghaib itu seperti lenyap tanpa jejak. 

Dia coba melihat lantai bawah, kalau seandainya manusia pasti meninggalkan jejak kaki, pada saat sosok itu berdiri di depannya, karena belum semua lantai dibersihkan jadi masih dalam keadaan berdebu tebal. Tapi setelah diamat-amati di lokasi yang dimaksud, tidak ada apa-apa, lantainya masih tertutup debu dan tidak ada bekas jejak kaki selain bekas jejak kakinya. Baru tersadar akhirnya, kalau yang dia lihat adalah bukan manusia biasa.

Tetapi kalau mengikuti keinginan sosok tersebut, jelas tidak mungkin, apa pun yang terjadi dia dan ke-5 temannya harus menyelesaikan pekerjaan mereka di sini demi mencari nafkah bagi keluarga yang mereka cintai. Dia pun hanya bisa pasrah dan berdoa menyerahkan keselamatan dia dan teman-temannya dalam perlindungan yang Kuasa. 

Menurut pamanku, walaupun setiap malam mereka mendapat teror dari penghuni bangunan tersebut, mereka tetap bertahan sampai pekerjaan mereka selesai.

Wednesday, August 7, 2019

Hantu Wanita Pembeli Nasi Liwet (Sukoharjo)

Peristiwa ini terjadi lima tahun yang lalu, saat malam Jum’at Kliwon ketika Mak Inah seperti biasanya membuka warung lesehan nasi liwetnya. Setiap malam Mak Inah ditemani suaminya, Pak Jono, berjualan nasi liwet di pinggir jalan depan kantor kelurahan desanya. 

Malam itu, lima tahun yang lalu, tidak seperti biasanya jalanan di perkampungan tempat Mak Inah membuka warung lesehan nasi liwet terasa sepi. Sampai jam 10 malam baru 5 porsi nasi liwet saja yang terjual, padahal di malam-malam sebelumnya Mak Inah mampu menjual 20-30 porsi nasi liwet dan terkadang jam 10 sudah habis.

“Sepi sekali ya malam ini,” kata Mak Inah kepada Pak Jono, suaminya. Belum sempat Pak Jono menjawab Mak Inah, tiba-tiba ada seorang wanita bergaun putih muncul dari balik gerobak tempat nasi liwet dan aneka lauk disajikan. 

“Mak, nasi liwetnya satu ya.” pesan wanita bergaun putih itu.

“Iya, Bu,” jawab Mak Inah dan Mak Inah melihat wanita itu berdiri membelakangi Mak Inah dan gerobak nasi liwet.

“Dibungkus atau dimakan sini, Bu...” tanya Mak Inah 

“Dibungkus aja Mak.. telornya setengah.” Jawab wanita itu dengan badan masih membelakangi Mak Inah.

Mak Inah pun langsung membungkus satu porsi nasi liwet yang dipesan. Setelah selesai membungkus nasi liwet, Mak Inah menemui wanita itu... dan betapa terkejutnya Mak Inah karena di tempat dimana wanita tadi berdiri tidak ada siapa-siapa. Hanya desiran angin yang membuat bulu kuduk Mak Inah berdiri serta diiringi aroma wewangian bunga kamboja bercampur mawar. Sontak Mak Inah menghampiri suaminya, Pak Jono. Ternyata Pak Jono tengah tertidur di tikar tempat lesehan.

“Pak.. Pak..., bangun Pak” kata Mak Inah membangunkan suaminya.

“Bapak lihat wanita yang tadi memesan satu porsi nasi liwet tidak?” tanya Mak Inah pada suaminya.

“Ah dari tadi tidak ada pembeli Mak... Mak mimpi kali...” jawab Pak Jono sambil mengusap-usap matanya yang masih terlihat mengantuk.

“Tapi Bapak mencium aroma wewangian kembang kamboja dan mawar kan?” lanjut Mak Inah kembali bertanya pada suaminya.

“Tidak tuh Mak... Mak ini kenapa sih???” tanya suaminya lagi penuh heran.

“Tapi tadi... tadi... tuh lihat pak... lihat pak...” kata Mak Inah sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah balik gerobak. Spontan Pak Jono berbalik arah dan melihat ada apa di balik gerobak. Dan tiba-tiba “bruk” keduanya, Mak Inah dan Pak Jono jatuh pingsan.


***

Tuesday, August 6, 2019

Keranda Mayat Berjalan Sendiri (Magelang)

Kisah ini aku alami sepuluh tahun yang lalu, ketika aku sedang menjaga ibuku yang sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit Umum di Magelang. Ketika tengah malam tiba, aku sudah mulai merasa kelelahan dan tidak bisa tidur. Kemudian aku duduk-duduk di pinggir koridor rumah sakit sambil menyelonjorkan kaki. Ketika itulah aku mengalami hal aneh yang tidak pernah akan terlupakan, aku melihat sebuah keranda mayat yang berjalan sendiri di koridor itu. 

Berikut ini kisahnya.

Waktu itu, aku sedang menjaga ibuku yang dirawat di rumah sakit karena sakit liver. Saat tengah malam aku tidak bisa tidur, aku keluar kamar dan ke koridor utama Rumah Sakit Umum itu untuk menghirup udara segar. Karena tengah malam, suasana koridor sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat duduk-duduk di samping koridor. Lalu aku juga duduk di samping koridor utama itu.

Sambil duduk aku membaca buku cerita ko ping ho yang sengaja aku bawa untuk menemaniku di kala aku sendiri. Sesekali aku menoleh kiri kanan untuk sekedar melihat suasana, lalu meneruskan membaca cerita. Karena di koridor utama, sesekali aku melihat para perawat maupun dokter melintasi di depanku.

Satu jilid buku cerita ko ping ho telah kubaca habis. Beberapa saat kemudian, rasa kantuk mulai menghinggapiku. Kulihat jam tangan butut kesayanganku menunjukkan waktu 02.20 dini hari. Mataku sudah perih, sudah tak kuat melanjutkan untuk membaca sambungan cerita ko ping ho pada jilid berikutnya. Berkali-kali sudah aku menguap. Ingin rasanya aku merebahkan badan ini, tapi tak mungkin aku lakukan di koridor itu.

Karena kelelahan duduk menekuk kaki, tak sengaja aku menyelonjorkan kaki. Aku tak menyadari kalau kakiku akan menghalangi atau paling tidak mengganggu orang yang melintasi. Tiba-tiba aku melihat ada keranda mayat berjalan ke arahku. Aku tak memperdulikannya karena hal itu biasa terjadi di rumah sakit. Keranda mayat itupun melintasi di depanku. Aku cuek saja.

Setelah beberapa saat baru aku menyadari ada sesuatu yang aneh. 

“Mestinya kakiku yang terselonjor akan menghalangi jalannya keranda itu, dan orang yang mendorong keranda pasti menegurku,” kataku dalam hati. 

“Tapi kenapa keranda itu berjalan tanpa terganggu atau terhalangi kakiku?” tanyaku pada dirku sendiri.

Ya. Aku ingat, keranda mayat itu melintasi di depanku dan melindas kakiku tapi aku tidak merasakan terlindas apa-apa, dan keranda mayat itu berjalan sendiri tanpa ada orang yang mendorongnya. Mulai muncul rasa takutku, aku sedkit merinding sampai berdiri bulu kudukku. 

Lalu aku bediri dan berjalan mendekati dua orang yang juga duduk di pinggir koridor yang tak jauh diriku, lalu aku bertanya kepada mereka, 

“Maaf Pak, barusan melihat ada keranda mayat yang lewat di sini kan?”

“Nggak ada Mas, dari tadi yang lewat di sini cuma ada beberapa perawat saja, saya lihat dari tadi mas asyik baca buku sendirian di situ, kok tiba-tiba tanya keranda mayat. Memangnya ada apa Mas?” Orang yang terlihat lebih tua menjawab sambil bertanya kepadaku.

Sejenak aku bingung, “Kok mereka tidak melihat ada keranda mayat yang barusan lewat, aneh.” kataku dalam hati. 

Aku dikagetkan dengan pertanyaan orang yang lebih muda, ”Ada apa Mas, kok kelihatannya seperti orang kebingungan?” 

Akupun segera menjawab, “Nggak, nggak apa-apa, bener bapak tidak melihat keranda mayat tadi?” tanyaku kembali kepada mereka. 

“Bener Mas, saya tidak melihat, memangnya kenapa?” tanya orang yang lebih tua.

“Tadi saya melihat ada keranda mayat lewat di depan saya, kan kaki saya selonjor ke depan, mestinya kan kaki saya menghalangi rodanya, tapi keranda itu melintasi seperti tanpa terhalang apa-apa, dan kaki saya juga tidak merasa terlindas roda keranda itu. Dan lagi, keranda itu berjalan sendiri, tdak ada orang yang mendorong Pak,” kataku menjelaskan.

“Waduh, pasti hantu itu,” kata orang yang lebih muda sambil merapat ke orang yang lebih tua. 

“Ya sudahlah, nggak usah dipikir Mas, namanya juga di rumah sakit. Ada hantu di rumah sakit sudah jadi rahasia umum Mas, sudah biasa,” kata orang yang lebih tua.

“Ah, biasa bagaimana, aku nanti pagi pulang, nggak mau nginep di rumah sakit lagi, takut,” kata orang yang lebih muda. 

“Kamu ini kenapa takut, mas ini yang melihat saja tidak takut, kenapa kamu yang tidak melihat malah takut? Ya nggak Mas?” kata orang yang lebih tua.

“Ya sebenarnya agak merinding juga sih, tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga harus menjaga ibu.” jawabku.

***

La Planchada