Tuesday, February 15, 2022

Misteri Piano Tua


Siang itu truk baru saja tiba di depan gudang, segera kutelpon suamiku –mas Rudi– untuk segera datang. Di seberang telpon mas Rudi berpesan agar barang-barang jangan diturunkan dulu, mesti menunggu dia. Biasanya memang demikian, dia selalu mendata barang yang datang dengan nota pembelian apakah sudah sesuai atau belum. Meski tidak selalu, tapi kadang kita menerima barang yang tidak cocok, bisa jadi kesalahan administrasi atau apalah, tapi yang jelas kami mesti teliti dalam menerima barang. 

Setelah memarkir truk di halaman depan gudang, sopir itu turun dan menghampiriku. 

“Ini Bu, suratnya!” kata sopir itu seraya menyerahkan sebuah amplop coklat.

Kuterima surat itu dan berkata, “Bapak bisa menunggu di balai-balai itu, sebentar lagi mas Rudi juga datang kok.” 

Pak sopir itu mengangguk dan berjalan ke arah balai-balai yang terletak di samping kiri gudang diikuti kernetnya. Sebenarnya balai-balai itu modelnya seperti tempat tidur dengan tiga sisi yang berpagar, mungkin itu dulu buat tempat tidur anak-anak agar tidak jatuh. Oleh suamiku tempat itu difungsikan sebagai ruang tunggu para sopir yang mengantar barang. Sambil menunggu, mereka bisa tiduran sejenak melepas lelah, apalagi di atasnya kami beri bantalan dengan busa tipis, jadilah pas buat tiduran. Aku masuk ke dalam sejenak untuk mengambil beberapa botol minuman dingin dan makanan kecil, lalu kuantarkan ke balai-balai tempat sopir dan kernetnya yang sedang istirahat.

“Silakan diminum Pak,” ucapku seraya meletakkan baki di meja kecil di samping balai-balai. Mereka menganggukkan kepala sambil tersenyum, lalu beranjak mengambil minuman.

Beberapa saat kemudian kulihat mas Rudi dan beberapa orang tenaga angkut datang. Dengan mobil pick-up, kulihat ada enam orang di bak belakang. 

“Ini surat dari penjualnya Mas,” sambutku sambil menyerahkan surat itu.

“Yup, terima kasih,” jawab mas Rudi setelah menerimanya dan langsung membukanya.

“Ayo... ayo... diturunkan!” seru mas Rudi kepada para tukang angkut, mereka segera menuju truk dan membuka tali yang mengikat barang-barang di dalamnya. Dengan cekatan karena sudah terlatih dan terbiasa, mereka menurunkan barang-barang itu satu demi satu. Barang-barang itu berupa mebel bekas. Bisnis mas Rudi memang merenovasi mebel bekas dan memolesnya agar tampak bagus dan siap pakai. Meski harga jualnya tentu jauh dari yang baru tapi bisnis ini cukup menjanjikan. Lumayan banyaklah orang yang membeli barang-barang kami, mungkin karena harganya terjangkau.

Mas Rudi meneliti tiap barang yang turun dengan memberi tanda silang di nota pengantar barangnya. Dia memang selalu hapal dengan barang-barang yang dia beli.

“Barang-barang itu diletakkan berjajar di dalam gudang ya,” seru dia lagi kepada para tukang.

“Ya Pak,” jawab mereka serempak, tampaknya mereka sudah mengerti betul keinginan mas Rudi. Saat mereka sibuk menurunkan barang, aku mengambil botol minuman dingin dan makanan kecil yang lain untuk para tukang itu. Setelah urusan menurunkan barang selesai, mas Rudi menghampiriku untuk mencocokkan nota pengantar dan nota pembelian yang aku pegang.

“Semua barang sudah sesuai, Dik Yuni sudah menyiapkan uangnya?” tanya dia kepadaku. Aku mengangguk dan menyerahkan sejumlah uang ke mas Rudi untuk pembayaran jasa para tukang dan jasa truknya.

Setelah urusan pembayaran selesai, aku dan mas Rudi masuk ke gudang untuk melihat barang-barang yang sudah berjajar rapi. Dilihat dari daftar yang tadi sempat kubaca ada sekitar limabelas jenis barang. Di paling ujung dekat pintu, ada lemari brangkas besi. Tidak terlalu besar sih... tapi jelaslah kalau berat banget, tadi para tukang sampai meringis menurunkan dan memasukkanya. Sayangnya kunci kombinasinya sudah rusak, jadi mirip lemari biasa saja. Selanjutnya aku melihat sebuah meja rias oval yang cukup besar.

“Wah... meja rias ini lumayan bagus tuh,” ucapku seraya memalingkan muka ke arah suamiku. 

Dia tersenyum, katanya “Memang sih, peninggalan jaman Belanda katanya. Tapi jangan dipakai... nggak cukup buat ruang tidur kita,”

Aku tertawa kecil mendengarnya, ya aku memang kadang mengambil beberapa barang untuk dipakai sendiri. Setelah diperbaiki dan divernis ulang barang-barang itu menjadi kelihatan cantik. Meja rias yang ada di kamar kami juga aku ambil dari gudang ini. Sebenarnya meja rias oval yang ada di depanku ini lebih bagus kwalitasnya dan tampak mewah bila nanti sudah diperbaiki... aku bisa membayangkan. Mejanya berbentuk oval, ada laci-laci kecil di sebelah kiri dan kanan. Di kakinya ada ukiran sulur-sulur daun dan bunga yang senada dengan kaki pigura cermin yang menempel di sisi depan meja. Pigura itu juga berbentul oval dan bisa digerakkan maju mundur. Sayang beberapa ukiran sudah rusak dan terlepas. Cermin bevelnya pun tampak kusam dan bernoda. Juga handel di laci-lacinya sebagian juga sudah hilang. Tapi itu semua tergolong kerusakan kecil dan bisa diperbaiki. Yang pasti tidak perlu merombak terlalu banyak.

“Hayooo... mau ngambil ya?” gurau mas Rudi sambil menepuk bahuku.

“Ah, nggak lah, meja ini terlalu besar bila ditaruh di kamar kita. Aku cuma membayangkan saja, bila sudah diperbaiki pasti tampak bagus... mmhm... bisalah aku tawarkan ke teman-teman arisanku.”

“Kalau itu aku setuju!” jawabnya 

“Komisinya loh...” candaku.

“Hahaha... iyalah. Komisinya nanti gedhe... jadi bisa buat bayar tagihan listrik, pam, telp...”

“Huuuu... sama aja dong!” potongku cepat.

Kami tertawa bersama. Lalu kami melanjutkan melihat barang-barang yang lain. Ada almari pakaian yang lumayan usang, ada kursi-kursi rotan yang rotannya sudah pada rusak... juga ada sebuah piano? Aku tertegun melihatnya, beneran nih mas Rudi membeli piano bekas? Buat apa? Kayaknya selama ini mas Rudi selalu membeli barang yang fungsional alias bisa digunakan untuk rumah tangga. Kok ini piano rusak?

“Ini...” aku menunjuk piano itu dengan wajah penuh tanda tanya.

“Ooh... ya, itu piano tua yang bisa dibilang antik.” 

“Tumben Mas beli?” tanyaku setengah menyelidik.

“Aku beli karena sudah ada yang mau,” lanjutnya “Pak Warjo yang pedagang barang antik itu sudah mau membelinya. Aku kan telpon dia dulu menggambarkan bagaimana barangnya. Dan dia setuju tuh untuk mengambilnya.”

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya, ya syukurlah kalau sudah ada yang mau membeli piano ini. Karena biasanya barang yang laku adalah barang yang bisa dipakai. Kalau mau stock barang kayak piano ini... wah repot. Kata orang uang berhenti! 

Kulihat lagi piano tua itu. Sepertinya tidak ada istimewanya... atau aku kali yang tidak mengerti kriteria barang antik. Bahkan tuts-tuts nya sebagian sudah rusak dan sebagian lagi nggak ada. Memang sih secara keseluruhan piano ini tampak kokoh dan tampaknya dikerjakan dengan halus dan teliti. Kesan mewah masih bisa dirasakan meski piano itu rusak disana sini. 

“Bingung ya lihat piano rusak ini?” ledek suamiku.

“Aku juga bingung kok awalnya, bagaimana bisa pak Warjo berani menerima hanya dengan mendengar penjelasanku via telpon. Dia nggak lihat sendiri loh. Makanya piano itu aku foto melalui handphone dan kukirim ke dia... buat meyakinkan aja. Rugi lah kalau terlanjur beli tapi nggak bisa melemparnya,” panjang lebar mas Rudi menjelaskan kepadaku.

“Mmhmm..” aku bergumam.

“Terus, perbaikannya bagaimana?” tanyaku.

“Tidak perlu perbaikan. Pak Warjo maunya mentah begini aja. Takut kesan antiknya hilang. Malah kebetulan kan?” jawabnya setengah bertanya.

Aku mengangguk-angguk, seraya berkata, “Iya lah yang penting bisa jadi duit.”

“Ini pak Warjo lagi di luar kota, mungkin seminggu lagi bisa kesini buat ambil piano ini,” kata suamiku lagi, tapi aku tidak begitu hiraukan karena selain tidak tertarik dengan piano itu, mataku juga melihat sebuah box bayi cantik yang ada di sebelah piano.

“Eh lihat nih... ada box bayi... lucu ya!”

“Sayang anak kita sudah gede...” timpal suamiku setengah menyindir.

“Iya... iya... aku kan nggak bermaksud mengambilnya. Feri, anak kita kan sudah besar... Aku cuma bilang box bayi dari kayu ini lucuuuuu,” sungutku sambil memajukan bibir.

Anak kami satu-satunya memang sudah besar dan sekarang sudah kuliah semester tiga serta kost di kota lain. Mungkin kalau anak kami masih bayi... heheheh... box itu pasti kuambil.

Sambil berjalan berkeliling gudang, kami ngobrol membicarakan barang-barang tersebut. Tak terasa hari sudah menjelang petang. Hari itu hari Minggu jadi gudang sepi tanpa pekerja. Setelah mengunci pintu depan dan belakang gudang, kami berdua berjalan menuju rumah kami yang terletak di sebelahnya. 

Memang lebih enak punya bengkel kerja dekat rumah, selain mudah memantaunya juga bisa ditinggal mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain. Terlebih suamiku, kalau pas tidak banyak pekerjaan dan tidak ada janjian sama pembeli kadang dia menyelinap pulang untuk tidur sebentar di rumah. 

Kalau aku sih cuma mengurusi administrasi ringan, keuangan dan konsumsi para pekerja. Dibantu seorang staff perempuan dan dua orang juru masak, membuatku tidak terlalu sibuk mengurusnya, masih adalah waktu luang buat diri sendiri. Hanya saja rumah dan tempat kerja yang satu lokasi membuat suasana seperti tidak sedang bekerja, apalagi usaha itu juga kami jalankan berdua.

Malam itu aku menonton sinetron kesukaanku, sedang suamiku sudah keluar untuk tugas ronda dan seperti yang sudah-sudah dilanjutkan ngobrol di pos, biasanya nanti jam dua dini hari dia pulang kembali. Malam pun merambat, aku mulai merasa mengantuk. Kumatikan televisi. Setelah mengontrol pintu dan jendela apakah sudah dikunci, aku ke kamar tidur. Kurebahkan badanku dan tak seberapa lama akupun tertidur.

Setengah mengantuk tiba-tiba aku mendengar suara denting piano, meski pelan tapi cukup terdengar. Kucoba membuka mata meski terasa berat, lalu kutajamkan telingaku, memang ada suara piano. Ah... tetangga punya piano baru kali, begitu pikirku. Gila malam-malam begini kok ya berlatih main piano. Nggak terlalu keras sih tapi suasana malam yang sepi membuat suara-suara begitu jelas. 

Kulihat jam dinding, sudah menunjuk pukul satu lebih beberapa menit. Akupun mencoba untuk tidur kembali, tapi aku terjaga lagi setelah mendengar suara pintu yang dibuka. Kuambil jaket lalu keluar kamar menuju ruang depan, benar saja... suamiku sudah masuk dan mengunci kembali pintunya.

“Loh belum tidur?” kata suamiku begitu melihatku ada di ruang depan.

“Nggak bisa tidur Mas, apalagi ada tetangga yang memainkan piano malam-malam. Emang siapa sih yang punya piano baru?” kataku.

“Piano?” seru suamiku kaget, “Kayaknya aku tidak mendengar suara piano tuh? Ah mungkin suara dari televisi yang lupa dimatikan ya?”

Aku menggeleng. Aku tahu pasti aku sudah mematikan televisi. 

“Ah... ya... mungkin saja!” jawabku pendek. Aku tidak mau memperpanjang, sudah malam. Apalagi kulihat suamiku juga sudah kelihatan lelah ingin tidur. Aku sendiri juga masih mengantuk. Kami berdua lalu berjalan menuju ruang tidur. Sebelumnya mas Rudi mencuci muka dan menggosok gigi lalu menyusulku ke ruang tidur. Entah mengapa mataku sulit sekali dipejamkan, padahal rasa kantuk mulai menyerangku. Kulihat mas Rudi di sebelahku sudah tidur nyenyak. Aku merasa yakin bahwa tadi aku mendengar suara denting piano. 

Tapi... ah entahlah.

Aku bangun, dan kulihat mas Rudi sudah tidak ada. Kudengar suara-suara yang cukup ramai dari arah gudang. Kutengok jam dinding, gilaa... aku benar-benar bangun siang. Setelah merapikan peraduan kami, aku bergegas mandi dan setelah itu mengecek dapur. Kulihat mbok Darmi dan mbok Enok sedang sibuk memasak buat tukang-tukang nanti siang.

“Masak apa Mbok?” tanyaku basa-basi karena sebenarnya aku sudah tahu menunya. Kan aku sendiri yang bikin daftar menu untuk seminggu ke depan.

“Sayur asam Bu,” jawab mbok Darmi pendek sambil terus meneruskan memotong-motong sayuran. Sedang mbok Enok sibuk mencuci potongan ayam yang akan dibuat ayam goreng.

“Ya sudahlah, aku mau menengok gudang sebentar ya!” kataku pada mereka berdua. 

Aku kembali ke kamar buat berganti pakaian yang pantas untuk urusan pekerjaan, tapi ternyata mas Rudi sudah ada di dalam kamar.

“Kirain masih tidur!” ledek suamiku sambil tersenyum.

“Semalam aku pusing Mas, jadinya nggak bisa tidur,” jawabku sedikit berbohong.

“Oh... kalau masih sakit ya tidur saja dulu dan minum obat,” lanjut mas Rudi

“Ah nggak juga... sudah mendingan kok. Tidur terus malah tambah pusing!” jawabku kembali

“Ini loh, Fitri –staff administrasi kita– sedang tidak masuk karena anaknya sakit. Aku perlu melihat daftar pembelian dari pak Suratman. Bisa bantu?”

“Tentu dong, sebentar aku ganti baju dulu nanti aku ke gudang.”

“Oke. Aku tunggu di gudang ya?”

Setelah berganti pakaian aku bergegas menuju gudang. Kulihat para pegawai sedang memperbaiki barang-barang. Aku langsung menuju ruang kantor yang terletak agak di tengah, kubuka pintunya dan kututup kembali agar debu-debu tidak masuk ruang kerja. Kutarik laci almari file dan kucari filenya pak Suratman. Kok tidak ada ya? Apa Fitri lupa mengembalikan? Kucoba mencarinya di tumpukan file di meja. Ternyata memang ada, pantesan mas Rudi memintaku mencarikan file itu... lha tidak di tempatnya sih. Suamiku itu memang paling malas mencari file administrasi. Dengan membawa file aku bergegas keluar menemuinya. Kulihat dia sedang sibuk memberi pengarahan kepada seorang tukang. Kutunggu dia sampai selesai lalu menghampirinya.

“Ini filenya Mas, memangnya ada apa sih?” tanyaku sambil menyerahkan file itu.

“Itu loh... ada barang yang mau minta tukar.”

“Lah... kan tidak boleh ada tukar barang,” protesku.

“Iya sih, tapi aku sudah terlanjur janji, untuk kursi taman ini,” jari suamiku menunjuk tulisan di nota pembelian, “Bisa ganti asal harganya sama atau lebih. Yaah pelanggan lama...”

“Ya sudah kalau memang ada persetujuan dari awal,” lanjutku, “Jadi nanti pak Suratman mau datang ya?”

“Mungkin minggu ini, kepastiannya nanti dia mau telpon dulu, sudah ini saja dulu mungkin kamu ada pekerjaan lain.”

“Yup... Aku mau ke rumah sebentar untuk lihat urusan dapur!” 

Akupun lalu ke arah depan untuk kembali ke rumah, tapi tiba-tiba mataku tertuju ke arah piano tua itu. Ada perasaan aneh menyergapku. Kuhampiri sejenak piano itu dan kuamati sekilas, aku tidak menemukan sesuatu yang tidak wajar. Lalu aku mencoba memainkannya, kutekan tuts tuts dengan jari-jari kedua tanganku. Tidak ada suara apapun bahkan ada tuts-tuts yang seperti macet tidak mau ditekan. Namun tiba-tiba tanganku seperti kaku, kurasakan seperti ada sepasang tangan yang memaksaku tidak melepas tuts-tuts itu. Semakin keras aku mencobanya semakin aku merasa kaku untuk melepasnya. Keringat dingin pun membasahi tubuhku.

“Hai... kenapa kamu?” tanya suamiku sambil melepaskan tanganku dari tuts-tuts itu.

“Eh... ah... aku... aku!” aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Piano ini tidak bisa dimainkan, kan sudah rusak,” kata suamiku.

“Ah cuma buat candaan aja kok!” jawabku menutupi kegugupanku. Sebenarnya aku ingin menceritakaan kejadian yang baru saja kualami kepadanya, tapi aku sendiri tidak yakin... itu benar ataukah cuma ilusiku semata, apalagi di gudang ini banyak orang dan di siang hari pula. Takutnya mereka tidak percaya dan malah menertawakanku.

“Tapi nggak lucu ah. Malu kan dilihat tukang-tukang!”

Aku terdiam, tapi juga merasa lega karena tanganku sudah terlepas dari piano itu.

“Masih seminggu lagi ya pak Warjo mengambil piano ini?” tanyaku berbasa-basi. Untuk mencairkan suasana.

“Nggak sih, katanya besok dia sudah pulang. Rencana keluar kotanya dibatalkan. Malah bagus kan? Lebih cepat dapat uang!”

Kami berdua tertawa. Syukurlah piano itu segera diambil. Ketika aku keluar kutengok sebentar ke arah piano itu, ada perasaan takut menyergapku.


Tiga Pocong Hadiri Pernikahan Tertangkap Kamera di Magelang

(Gambar Hanya Ilustrasi Bukan Tempat Kejadian Sebenarnya)


Sebuah pesta resepsi pernikahan biasa di Magelang mendadak jadi luar biasa. Hal ini karena resepsi pernikahan di Dusun Klodran, Desa Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu juga dihadiri tiga pocong. Tiga pocong itu ikut menyaksikan jalannya resepsi pernikahan yang digelar usai Lebaran 2012 beberapa waktu lalu. Kehadiran pocong tersebut segera menghebohkan warga sekitar yang saat itu juga hadir di acara tersebut.

Penampakan tiga pocong tersebut terekam dalam video yang diambil dari handphone salah seorang anggota keluarga yang punya hajat. Rekaman video itu pun segera menyebar dari handphone ke handphone. Nampak dari video, saat itu sedang berlangsung ritual ular-ular atau pidato nasihat kepada pengantin oleh seorang pranoto coro yang memandu jalannya upacara pernikahan. Saat ular-ular berlangsung kamera merekam penampakan tiga pocong di sekitar pesta pernikahan. Pesta sendiri diselenggarakan dan dihadiri puluhan tamu yang berada di bawah tenda atau tratak (bahasa Jawa).

1. Pocong pertama 

Pocong tersebut berdiri tepat di depan panggung atau singgasana sang pengantin. Pocong ini tepat berdiri di depan pranoto coro yang saat itu sedang memberikan wejangan atau nasihat perkawinan kepada kedua mempelai.

2. Pocong kedua 

Pocong dalam posisi sedang duduk di kursi di antara para tamu yang hadir. Namun, sang tamu yang di sebelah pocong seakan-akan tidak menyadari bahwa di sebelahnya duduk pocong dengan santainya.

3. Pocong ketiga 

Pocong memperlihatkan wujudnya lebih besar dari dua pocong yang lain. Hal ini karena penampakan pocong ketiga tepat berdiri di depan orang yang mengambil video.

Namun, karena posisi pocong membelakangi sang pengambil gambar yang menggunakan ponsel ini wajah sang pocong tidak terlihat wajahnya. Hanya bentuk sosok pocong yang sedang bersandar di meja yang akan digunakan untuk prasmanan.

Namun, tak semua orang percaya dengan kejadian tersebut. Banyak juga yang menyebut video itu hanya rekayasa, tetapi banyak orang percaya bahwa dalam video itu adalah pocong asli. Menurut paranormal asal Semarang, Subarno, penampakan ini asli alias tidak ada rekayasa.

“Tiga pocong yang hadir dalam pernikahan asli bukan video atau pocong rekayasa. Tidak mungkin orang yang melaksanakan pesta pernikahan dengan sengaja menaruh pocong apalagi merekayasa video pernikahan dengan menaruh pocong di antara banyak orang di pesta pernikahan,” tuturnya.

Menurutnya, ketiga pocong itu merupakan arwah leluhur karena pada malam hari sebelum pesta pernikahan, pihak keluarga mempelai wanita yang menggelar pesta pernikahan itu telah menggelar pajatan atau tahlilan.

“Sehingga karena disebut namanya satu-persatu saat tahlilan malam hari sebelum pesta pernikahan gawe besar anak cucunya digelar, beberapa arwah termasuk ketiga pocong itu secara tidak sengaja tertangkap kamera ponsel yang secara tidak sengaja ada salah seorang anggota keluarga yang merekam video,” ujarnya.

Kemungkinan lain, jika nenek dan kakek pengantin mempelai wanita adalah orang pintar atau paranormal yang sering dimintai tolong, tiga pocong itu mahluk halus yang merupakan teman yang –dalam dunia metafisika– dekat dengan kakek dan neneknya.

Istilahnya jin arwah atau pengikut dari kakek dan nenek mereka selama memberikan pertolongan kepada orang lain.

“Yang pasti fenomena kedatangan pocong yang terekam dalam video itu asli dan bukan rekayasa teknologi. Ketiga pocong itu hanya ingin menyaksikan orang-orang dekat mereka masuk ke lembaran kehidupan baru yang nantinya akan melahirkan dan meneruskan keturunan mereka,” ucapnya.


Monday, January 10, 2022

Penampakan Pocong di Sungai Pelus

(Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi)


Tentu kita sudah hapal dengan film-film produksi lokal yang bergenre horror alias hantu, biasanya sih berwujud pocong. Ada banyak model, dari pocong mengerikan dan dibuat menakutkan sampai pocong gaul yang bikin kita para penonton malah tersenyum simpul bahkan tertawa. 

Aku sendiri yang belum pernah melihat hal begituan secara langsung tentu berpendapat itu cuma akal-akalan para pembuat film saja agar bisa menarik penonton, tapi ternyata ada sebuah kejadian yang tidak bisa kami (aku dan teman-temanku) lupakan mengenai pocong itu.

Saat itu di hari Kamis siang aku dan beberapa temanku sedang duduk-duduk di taman kampus. Di bawah pohon rindang dan di atas bangku beton panjang kami bercengkerama bercerita kesana kemari.

“Wah nyantai dulu ah... kan ada jeda untuk jam kuliah selanjutnya!” ucap Andi.

“Iya... ngapain juga mesti pulang dulu ke kost, mendingan ngobrol-ngobrol dulu!” tambah Bella mengamini ucapan Andi.

“Enakan ngobrol apa ya? Ada topik seru nggak nih?” tanyaku menawarkan kepada teman-teman untuk membuat topik yang asyik buat bahan obrolan.

“Kalau topik bola, kalian para cewek tentu nggak ada yang tertarik!” sungut Andi sambil mencibirkan bibir.

“Kalau bola sih nggak tertarik, tapi kalau para pemainnya... baru tertarik, kan pemain bola ganteng-ganteng dan atletis!” sahut Bella kalem.

“Yaaahh... kalian tuh, bola mah yang penting gimana bisa bikin gol! Mau ganteng atau nggak yang penting prestasinya!” sergah Andi menanggapi pernyataan Bella.

“Kan asyik tuh membahas pemain bola dan pacar-pacarnya yang cantik itu, mereka...” belum selesai Bella bicara sudah dipotong Budi teman kami yang lain.

“Gossip lagi... gossip lagi!” Budi angkat bicara.

“Iya nih… cewek-cewek sukanya ngegossip aja!” Andi mendukung Budi.

“Mendingan kita cerita yang umum saja tidak bikin gossip! Kan dosa tuh kalau membicarakan orang lain!” Budi berkata dengan bijak laksana seorang uztad saja.

“Mmhmm... betul!” gumam Andi sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.

“Kita membahas kejadian mutakhir aja... yaitu k-o-r-u-p-s-i!” aku menawarkan topik dengan mengejanya.

“Wah kalau bicara angka-angka yang dikorupsi bikin kita jadi ngiler tuh! Gila... uang segitu gedenya dibagi-bagi kayak bagi-bagi permen aja!” sahut Budi cepat.

Dia memang terkenal kritis, bahkan dia itu juga paling suka kalau diajak demo. Kalau aku sih malas, panas-panas mesti jalan kaki, mendingan nyantai di rumah kan... hehehhe... tapi karakter orang memang macam-macam, bagaimanapun aku tetap menghargai karakter Budi.

“Namanya juga korupsi berjamaah!” timpal Andi bersemangat.

“Melakukan kejahatan kok berjamaah ya?” balas Ana dengan nada bertanya.

“Ya iyalah... agar ada teman nanti kalau di penjara atau di neraka... hahahah!” sahut Bella seenaknya, kami semua tertawa mendengarnya.

“Begini teman-teman!” tanpa diminta Budi mulai menganalisa, “Kalau mereka melakukannya secara berjamaah itu juga bermanfaat sebagai perlindungan bagi mereka sendiri. Bayangkan kalau kita mendapat cipratan uang masak mau melaporkan? Bunuh diri dong namanya, makanya kejahatan yang terstruktur begitu susah banget diuraikan, maklum mereka saling melindungi!”

“Wah tepuk tangan buat calon dosen kita nih...” gurauku sambil bertepuk tangan, teman-teman yang ikut-ikutan bertepuk tangan.

“Kalian tuh... diajak berdiskusi malah meledek, huuu...!” tukas Budi sambil memonyongkan bibir.

“Kita nonton film aja yuk!” tiba-tiba Ana berkata seraya menunjukkan sebuah halaman koran yang memuat jadwal film di bioskop.

“Ganti topik nih ceritanya?” seruku, mataku juga langsung tertuju ke lembar koran itu. Diikuti teman-teman yang lain, akhirnya kami berkerumun membentuk lingkaran tidak beraturan untuk melihat jadwal film tersebut.

“Wah kalau film barat ini aku sudah nonton, lumayanlah!” teriak Andi keras, jarinya menunjuk ke sebuah iklan gambar film tersebut.

“Ini aku juga sudah nonton!” Bella turut menunjuk ke koran itu tapi dengan jenis film yang berbeda.

“Kita nonton film pocong aja… tuh lihat... kayaknya serem!” seru Ana memperlihatkan sebuah film pocong yang terpampang disitu.

“Nggak takut kamu nonton film horror gituan, nanti nggak bisa tidur?’ tukas Andi meledek Ana.

“Iiih sorry ya... aku kan bukan cewek penakut, emangnya Bella dan Eni!” sahut Ana membela diri. Merasa dianggap kecil, aku dan Bella berontak.

“Enak aja... aku nggak sepenakut itu!” elakku cemberut.

“Iya nih… siapa pula yang penakut!” sungut Bella berada di pihakku.

“Oke… oke, kalau gitu, kita nonton film pocong aja...!” ucap Andi menengahi.

“Kapan?” tanyaku.

 Biasanya tuh rencana tinggal rencana, kadang semua setuju untuk melakukan sesuatu tapi dengan bergesernya sang waktu semua jadi mengendur dan tidak kejadian... ada yang malas, ada yang tiba-tiba ada acara, ada juga yang malahan lupa. 

“Nanti sepulang kuliah!” jawab Andi lugas.

“Hah... habis kuliah langsung nonton?” seruku tidak percaya.

“Iya... kan jadwal kuliah hari ini tidak padat, hanya sampai setengah hari saja!” balas Andi.

“Daripada bengong di rumah atau kost mendingan nonton film ramai-ramai... seru kan? Apalagi film tentang pocong...!” timpal Ana

“Benar juga ucapan Ana... ayolah kalau gitu!” seruku, “Gimana dengan Bella dan Budi? Ikutan nggak?”

“Ya iyalah...!” jawab Bella.

“Aku ikutan juga, biar tambah meriah!” gurau Budi.” Oh iya aku bawa mobil nih, jadi kita bisa pergi barengan.!”

“Asyik... enaknya punya teman kaya... hahahah!” gurauku.

Akhirnya selesai kuliah hari itu kami sepakat berangkat bersama ke gedung bioskop, sebelumnya kami sempatkan dulu makan siang di kantin kampus, kalau nonton film dalam kondisi lapar tentu tidak nyaman. Setelah membeli tiket, kami menunggu di ruang tunggu sambil ngobrol-ngobrol mengisi waktu.

“Habis nonton film kita mau ngapain nih?” tanya Bella membuka pembicaraan.

“Pulang lah...!” cetus Andi pendek.

“Yah... nanggung tuh... masih sore!” balas Budi santai.

“Terus mau kemana dong?” tanyaku.

“Window shopping aja... jalan-jalan di pusat perbelanjaan!” balas Bella.

“Setuju setuju...!” sambarku sumringah. Aku mengacungkan jempol ke arah Bella.

“Huuuuuu...!” berbarengan Andi dan Budi memonyongkan mulut.

“Ogah ah ke mall... males!” tambah Budi.

“Iya nih cewek... suka belanja melulu!” Andi menimpali.

“Bukan belanja! Nggak punya duit, jalan-jalan aja...!” terang Bella.

“Ngapain ke mall kalau nggak belanja, buang-buang waktu aja!” potong Andi.

“Mendingan futsal... olahraga bikin sehat!” imbuh Budi.

“Huuuuuuu...!” gentian Bella dan Ana yang mencibirkan mulut.

“Bagaimana kalau kita main ke sungai Pelus. Sungai itu dekat rumahku kok!” Ana berusaha menengahi, lanjutnya, “Sore hari menjelang petang kan asyik main-main di sungai... adem gitu!”

“Kayak anak kecil aja main air!” ternyata Bella kurang suka.

“Tapi kayaknya asyik juga tuh mengulang masa kecil... hehehehe!” balasku menyetujui usulannya.

“Benar juga tuh... buat mengisi waktu oke juga kayaknya!” Budi menyatakan bersedia.

“Mmhmm... iyalah, sesekali main air!” tambah Andi mengiyakan.

Bella pun tak berkutik karena mayoritas bersedia menghabiskan waktu buat bermain di sungai Pelus.

“Iya deh... aku nyerah... aku ikutan aja!” akhirnya Bella menyerah.

Dan acara yang ditunggu tunggu tiba juga, akhirnya kami berlima memasuki gedung bioskop, kami sengaja memilih tempat duduk di baris paling belakang agar lebih asyik dan leluasa, terlalu dekat dengan layar juga tidak enak, bikin mata gampang capek.

Film dibuka dengan tiga orang lelaki yang di jagad hiburan sudah sering malang melintang, disitu diceritakan mereka baru ada kegiatan ronda, naasnya saat harus melewati kuburan ada pocong yang nongol dan menganggu mereka. Kisah serem bercampur konyol teramu dengan manis, kami tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memikirkan jalan cerita, karena memang tidak ada inti cerita yang bisa dipetik kecuali kesan mencekam bercampur komedi. Film yang kami tonton ringan saja.

“Yaah... filmnya kurang seru, lucu malah! Masak pocong kayak gitu!” seru Budi begitu ruangan teater kembali terang menandakan film sudah selesai diputar.

“Namanya juga horror komedi!” ucap Andi menimpali. “Pocongnya emang dibikin buat lucu-lucuan aja!”

“Pocong kok lucu... serem tahu!” sergah Bella.

“Iya, benar yang Bella bilang. Lihat make up si pocong, lumayan serem tuh!” aku membelanya karena aku juga agak takut melihat film tadi, meski sesekali aku tertawa saat ada adegan yang lucu karena si pocong ternyata gaul juga… heheheh.

“Make up-nya sih ok... tapi ceritanya kurang ada gereget!” Budi mencoba menganalisa.

“Sudahlah, ayo kita pulang, tuh kursi kursi juga mulai kosong,” pinta Ana melihat ruangan yang mulai longgar, sudah banyak penonton yang meninggalkan kursi. Kami memang sengaja duduk dulu menunggu sepi, malas rasanya mesti berdesak-desakan keluar ruangan. Toh pulang paling akhir juga tidak masalah.

Sesampai di parkiran, cuma ada beberapa motor dan mobil yang tersisa.

“Kalau longgar gini kan enak!” ucap Budi sambil menyalakan mesin mobil. 

Budi duduk di depan kemudi ditemani Andi di sebelahnya, sedang Ana, Bella dan aku duduk di kursi belakangnya.

“Eh tapi kok aku kelaparan ya?” seru Andi sambil kepalanya memutar ke belakang, ke arah kami para cewek.

“Jam nanggung begini, jam makan siang sudah kelewat... eh jam makan malam belum masuk!” sergah Bella.

“Makan melulu...! Bikin gendut tahu!” sewot Ana, diamini aku dan Bella

“Tapi kalau lapar mau gimana lagi... ini perut sudah protes nih!” Andi membela diri.

“Sudahlah... emang mau makan apa?” Budi menengahi, tampaknya dia juga ingin makan.

 “Makan bakso di warung pak Kumis aja. Gimana?” Andi tidak menyerah, sejenak dia mengalihkan pandangan ke arah Budi seperti minta persetujuan.

“Setuju... setuju!” timpal Budi membela Anton, mungkin karena sesama lelaki ya... heheheh.

“Ya sudahlah, kita ikuti kata ketua rombongan!” kata Ana mengalah.

Akhirnya kami mampir dulu ke warung bakso pak Kumis untuk sekedar melepaskan lelah sekalian menyantap bakso dan minum es teh. Sore mulai datang tapi geliat kota malah semakin ramai, banyak orang yang duduk-duduk bersantai sambil menikmati bakso atau mie ayam. 

Agaknya Budi dan Andi tahu diri, kalau terlalu lama tentu mereka tidak enak dengan kami semua. Bukankah kami berencana mau main ke sungai Pelus dan akan mengantar kami para cewek ke rumah atau kost masing-masing? Akhirnya selesai makan bakso kami langsung tancap gas menuju sungai Pelus.

Karena sudah mulai petang dan hampir Maghrib jalanan menuju sungai Pelus tidak terlalu ramai. Kebanyakan orang pulang ke rumah masing masing setelah seharian bekerja, beda dengan kami yang hanya bertujuan main-main saja.

“Tuh lihat, di samping baliho itu ada jalan masuk, kita lewat situ!” seru Ana sambil menunjuk sebuah baliho besar yang terpampang di pinggir jalan utama, disitu memang ada ruas jalan masuk. 

Budi mengikuti arahannya, “Masih jauhkan dari belokan itu?” tanyanya kemudian.

“Ah mungkin sekitar dua kilometer kok!” jawab Ana santai.

“Dua kilometer? Wow… jauh juga ya,” seru Budi lagi.

Ternyata dari belokan jalan utama tadi kami mesti melewati lahan persawahan yang membelah jalan yang kami lalui. Suasana sepi terasa sekali, meski tidak turun hujan tapi langit gelap tertutup awan mendung, membuat sore menjelang petang itu semakin mencekam. Angin bertiup sepoi sepoi dengan leluasa menggoyang goyangkan dedauanan di sekitarnya. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan ini juga seperti hidup menunjukan keperkasaanya. 

“Jalan kok sepi sekali sih? Nggak ada yang lewat kecuali kita nih!” seruku sedikit gusar.

“Iya nih, kamu nggak takut ya Ana kalau mesti pulang malam sendirian?” tambah Andi sambil memalingkan muka ke arahnya.

“Yaahhh… kalau pagi, siang dan sore jalan ini lumayan ramai, tapi kalau sudah petang begini ya siapa juga yang mau... apalagi mendung begini, mendingan di rumah kan. Aku juga belum pernah pulang malam sendirian. Orang tuaku sudah wanti-wanti kalau ada kegiatan malam harus diantar jemput kakak, kecuali sudah ada pengantar seperti saat ini nih!” urai Ana panjang lebar.

“Tentu saja namanya orang tua, pasti protektif sekali sama anaknya, apalagi anak perempuan!” Budi angkat bicara dari belakang kemudi.

“Eh, di depan ada pertigaan tuh! Ambil yang mana? Kiri apa kanan?” tanya Budi. Kami sudah melewati persawahan yang panjang, sekarang kami menemui pertigaan menuju sungai Pelus yang tadi diusulkan sama Ana.

“Ambil yang kiri, Bud!” jawab Ana cepat.

Budi pun lalu membelokkan kemudi mobil mengikuti arah jalan. Dari sini sungai Pelus sudah mulai kelihatan. Akhirnya kami sampai juga. Setelah memarkir mobil di tempat yang lapang, kami keluar dengan bertelanjang kaki dan berlarian menuju sungai.

“Wah asyik tuh... bisa main air!” celetuk Andi. Dia sudah menyingsingkan celana panjangnya sebatas lutut.

“Heheheh... adem rasanya!” tambah Budi

“Yuk kita foto bersama!” usul Ana seraya mengeluarkan handphone-nya dan bersiap memotret.

Kamipun ambil posisi untuk bergaya. Tapi mendadak Ana berteriak.

“Aaaahhh... ada... ada...!” teriaknya kencang dan keras. Kami sampai terlonjak saking kagetnya.

“Ada apa sih Ana? Bikin kaget aja!” seru Budi tidak kalah keras, dia mungkin kesal karena sudah bergaya tiba-tiba dia harus menghentikan karena teriakan tadi.

“Aku... aku... tadi... seperti lihat… lihat...!” Ana tidak mampu mengutarakannya karena dia sendiri tampaknya tidak percaya dengan apa yang dilihat.

“Lihat apa Non...?” tanya Andi penasaran.

“Anu… ehmm... po... po... pocong!” jawabnya terbata-bata.

Kamipun tertawa terbahak bahak.

“Woiii... bangun non! Filmnya sudah berakhir sedari tadi!” tukas Andi tidak percaya dengan apa yang Ana katakan.

“Sumpah… swear!!! seru Ana dengan nada tinggi, meski dia juga kurang begitu jelas dengan apa yang dilihat sebab cuma melihat sekilas.

“Ya udah kita berpencar berburu pocong, siapa tahu Ana benar-benar melihat pocong yang tadi nongol di film!” celetuk Budi santai seakan ingin menelannya dengan ledekannya itu.

 Teman-teman yang lain cekikikan, tapi mereka tidak berkeberatan dengan ide Budi. Kami lalu melihat sekeliling, mengikuti cerita Ana bahwa dia sudah melihat pocong.

 “Mana pocongnya? Sembunyi kali ya? Malu ketemu cewek!” gurau Andi sambil melirik Ana.

“Bukan malu... tapi mau ngajak pocong yang lain buat kenalan... hahahahah!” Budi tertawa ngakak.

“Apalagi ini kan mau masuk ke malam Jum’at Kliwon. Para hantu ngapel cewek pas hari itu!” imbuhku bercanda.

Kembali kami tertawa cekikikan, sedangkan Ana cemberut saja. Anehnya... angin di saat petang itu terasa dingin, segera menyergap kami, apalagi angin yang bertiup sedikit kencang, membuat hawa dingin semakin melingkupi kami semua.

“Tadi aku lihat disitu!” Ana menujukkan jari di pinggiran sungai.

“Halah, paling kamu kebawa film yang tadi kita lihat!” sergah Bella sambil tersenyum dikulum.

Ana benar-benar keki dengan ledekan teman-temannya, apakah mungkin tadi cuma pikirannya sendiri karena terbawa film yang barusan dia tonton? Dia mulai goyah dengan keyakinannya. Tapi sesaat kemudian terdengar teriakan Bella.

“Eh... apa itu?” teriak Bella terdengar bergetar seperti orang yang ketakutan. 

Kami mengikuti arah jari Bella yang menunjuk di sisi sungai. Saat itulah kami terkejut bukan kepalang. Kami melihat sosok putih dengan wujud pocong, pocong itu seperti membelakangi kami. 

Namun kami kembali dibikin terkejut saat dengan tiba-tiba pocong itu berbalik dan menatap ke arah kami, kami bisa melihat rupa pocong itu. Wajahnya pucat pasi, matanya seperti bulatan hitam tiada sinar kehidupan yang terpancar, kain putih membungkus sekujur tubuhnya dengan tali tali yang mengikatnya. 

Tiba-tiba pocong itu melompat-lompat kedepan seakan mau mendekati kami. Langsung saja kami berhamburan berlari berebut kembali menuju ke mobil, setelah semua masuk mobil, selanjutnya Budi tergesa menyalakan mesin dan langsung tancap gas.

Akhirnya kami sampai di rumah Ana. Kami juga bercerita tentang penampakan hantu pocong kepada orang tuanya, hanya saja mereka tidak percaya dengan cerita kami berlima. Meski tidak menyangkal dengan keras tapi mereka mengatakan mungkin kami terbawa film pocong yang barusan dilihat. 

Tapi menurut cerita banyak orang, juga berdasarkan informasi yang beredar, lokasi di sekitar kami mau berfoto itu merupakan daerah “wingit” (angker) dan kerap terlihat makhluk halus, katanya sih banyak makhluk halus yang menghuni daerah ini yang terbentuk dari endapan lumpur sungai itu, mereka juga mengatakan, kejadian-kejadian aneh sering dijumpai warga setempat. 

Menurut kabar, konon pernah ada seseorang yang sedang berdiri di sekitar tempat itu, tiba-tiba ada sesuatu yang meniup dari belakang. Bahkan, ada orang yang sedang tiduran, tiba-tiba kakinya diangkat dan diputar, nah kalau sudah begini cerita yang beredar bisa jadi hantu pocong itu memang benar ada di sungai Pelus itu.


Monday, January 3, 2022

Misteri Patung Loro Blonyo Antik

(Gambar Hanya Sekedar Ilustrasi)


Awalnya aku juga tidak tahu apa itu Loro Blonyo, tapi setelah aku mengalami kejadian aneh beberapa tahun silam, aku jadi tertarik untuk mencari informasi tentang itu, jadi sebelum aku menceritakan peristiwa itu alangkah baiknya kalau aku berbagi informasi kepada kalian apa itu patung Loro Blonyo.

Loro Blonyo merupakan patung yang berujud sepasang pengantin Jawa yang menggunakan pakaian adat Jawa dengan atribut lengkap, menggunakan beskap untuk pengantin pria dan basahan untuk pengantin putri. Pada awalnya patung Loro Blonyo berbentuk pengantin Jawa dengan posisi duduk, namun seiring perkembangan jaman dan perkembangan seni-rupa kontemporer, patung Loro Blonyo mengalami proses perubahan bentuk. Ada yang berdiri dan ditambah aplikasi lain-lainnya, namun dalam perubahan bentuk tersebut patung Loro Blonyo tetap memperhatikan pakemnya yaitu sepasang pengantin Jawa dan bentuk pasangan pengantin Jawa tersebut adalah pakem dari patung tersebut, mengenai busananya menyesuaikan daerah setempat, yaitu gaya pakaian adat Jawa gaya Surakarta ataupun gaya keraton Yogyakarta. 

Dalam menggambarkan suatu fenomena budaya, orang Jawa senantiasa terlingkupi oleh pengaruh alam semesta yang bersifat material maupun yang tidak kasad mata. Demikianlah visualisasi Loro Blonyo terbuat dari sepasang patung dibuat dari bahan kayu, atau tanah liat, yang terdiri dari patung seorang perempuan –rara– yang didampingi seorang laki-laki dengan mengenakan busana perkawinan adat Jawa, gaya basahan dalam posisi duduk yang penempatannya pada rumah joglo, yaitu tepatnya di senthong tengah, atau di sebelah kanan, dan kiri krobongan yang berfungsi simbolis bagi pemiliknya.

Nah kisah yang terjadi adalah seperti ini. Siang itu, aku dan dua orang temanku, Yuli dan Nani, sudah siap di teras rumahku. Tas punggung mereka yang kelihatan sangat tebal diletakkan begitu saja di ujung sofa. Aku tiduran santai di atas sofa, kakiku kusilangkan di atas tumpukan tas mereka, Yuli duduk di kursi di sisi kiri, dia asyik membaca koran, sesekali dia memandang ke arah jalan. Sedang Nani, sedari tadi celingak-celinguk mengawasi jalan, menunggu dua teman kami lainnya yang belum datang.

“Ratna dan Dewi mana sih... kok belum datang juga...!” keluh Nani dengan berkacak pinggang.

“Santai kenapa? Sebentar juga nanti datang, kan tadi sudah sms kalau masih dalam perjalanan.” jawab Yuli santai.

“Huuh... tahu begini aku kan ikutan lambat!” sungut Nani lagi. Dia memang tIpe orang yang tidak sabaran. Tapi bagusnya dia memang tepat waktu, setiap kali ada janji dengan dia dijamin dia pasti sudah datang duluan.

“Yaa... sabar ajalah!” jawab Yuli pendek.

Aku menengok ke arah mereka lalu kataku, “Namanya juga numpang... hehehe!” kulihat Nani menyorongkan mulutnya sedang Yuli menendang kakiku pelan. 

Kami berlima memang berencana mau wisata ke Yogyakarta dengan menumpang mobil Ratna. Sebelumnya kami kalkulasi perkiraan jumlah pengeluaran, lalu kami bagi rata berapa iuran per orangnya, tentu saja itu khusus biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan bersama, sedang kebutuhan pribadi masing-masing ya ditanggung sendiri sendiri..

“Hei tuh... mereka datang!” teriak Nani senang, jarinya menunjuk nunjuk ke arah jalan. 

Yuli menutup koran dan meletakkannya kembali ke atas meja lalu ikut bergabung dengan Nani. Aku juga bangun dari tiduranku lantas ikut bergabung. Kulihat mobil Ratna dan Dewi beberapa meter di depan kami, setelah berhenti di depan teras, mereka keluar mobil dengan tertawa-tawa.

“Maaf... maaf...!” teriak Ratna sambil nyengir.

“Iya nih tadi mamanya Ratna menumpang sampai swalayan, jadilah kita menunggu mamanya siap dulu!” terang Dewi kepada kami.

“Kalau nggak mau ngantar mama... bisa repot aku, bisa nggak jadi wisata!” sambung Ratna setengah bercanda.

Kami menyadari itu mobil orang tua Ratna, jadi ya harus tahu dirilah.

“Tapi kita beruntung... nih!” Ratna mengangkat bungkusan plastik besar berisi aneka makanan dan minuman ringan, “Ini bekal dari mama untuk kita.”

Kami berlima tertawa, asyik juga dibekalin sama orang tuanya Ratna jadi kita bisa menghemat biaya.

“Ayo, kita berangkat sekarang!” ajak Nani.

“Bentar aku numpang ke kamar kecil dulu.” potong Dewi sambil menggandeng tanganku minta diantar ke kamar kecil.

“Iya, aku juga mesti ambil tasku... masih di dalam tuh!” kataku pada mereka sambil berjalan masuk ke dalam bersama Dewi.

Sesaat kemudian, kami sibuk memasukkan tas-tas bawaan kami ke dalam mobil, setelah selesai aku berpamitan dulu kepada kakakku.

“Kak berangkat dulu ya, pamitkan ke ayah bunda ya?”

“Yoi... hati hati ya!” jawab kak Leli. Ia keluar rumah dan menyalami kami satu persatu, lalu ia melambaikan tangan ke arah kami.

Selama perjalanan kami bersenda gurau, bergembira bersama. Ratna dan Dewi duduk di depan, Ratna yang pegang kemudi. Sedang Nani, Yuli dan aku duduk di belakang. Tiga dari kami, Ratna, Dewi dan aku bisa menyetir jadi kami bisa bergantian. Kami juga sudah reservasi penginapan di kota gudeg itu jadi kita tidak perlu repot-repot mencari hotel. Rencananya kami akan menghabiskan tiga hari berwisata di kota itu.

“Sampai Jogja kira kira jam berapa ya?” tanya Nani.

“Sabar sayang...!” canda Ratna.

“Iya nih Nani... nggak sabaran amat!” kata Dewi menimpali.

Nani cengar-cengir dikerubut tiga orang. Jawabnya, “Iya deh... aku tinggal tidur aja dulu!”

Kami perkirakan kita akan sampai di Yogyakarta menjelang malam, mungkin sekitar jam tujuh atau jam delapan malam, tergantung situasi jalan, maklum liburan begini jalan pasti ramai.

Benar juga, sampai hotel yang terletak di belakang kawasan Malioboro, jam menunjuk pukul delapan kurang beberapa menit. Setelah Ratna memarkir mobilnya, kami berjalan menuju lobby dengan membawa tas masing-masing. Di sisi kanan depan lobby kami melihat banyak penjual cinderamata menggelar barang dagangan mereka, kebanyakan produk fashion semacam kaos, baju baju batik dan sebangsanya, tapi juga ada cinderamata kecil-kecil seperti gantungan kunci, tas,dompet kecil, kipas dan banyak lagi.

Sampai meja resepsionis Dewi si ketua kelompok yang mengurus. Setelah mendapat dua kunci untuk dua kamar, dia memberikan satu ke Nani. Kami memang menyewa dua kamar untuk dua dan tiga orang. Ratna dengan Dewi di satu kamar, sedang Nani, Yuli dan aku di kamar yang lainnya. Nomor kamar kami berurutan.

“Eh teman-teman, nanti aku keluar sebentar ya, mau lihat-lihat cinderamata di depan. Bagus-bagus tuh kayaknya.” Ucapku sambil menunjuk depan lobby.

“Yaaahhhh kamu tuh, baru nyampai sudah mau belanja!” protes Yuli.

“Mestinya acara belanja tuh nanti kalau mau pulang.” sambung Nani

“Iya nih... ntar kehabisan uang baru tahu rasa tuh!” timpal Ratna sambil mencibirkan bibirnya ke arahku.

“Loh... yang mau belanja juga siapa? Aku kan bilang cuma mau lihat-lihat! Lagian daripada bengong ngantri mandi mendingan waktu dimanfaatkan buat cuci mata.” aku mencoba membela diri

“Iya... tidak apa-apa... tapi jangan lama-lama loh, nanti segera kembali ke kamar... terus mandi dan gabung dengan kita. Rencana kan mau makan malam bersama-sama!” Dewi membelaku. Dia memang pantas dijadikan ketua kelompok, bijaksana gitu loh... heheheh.

“Huuuu.” sungut teman-teman yang lain, tapi mereka tidak memaksakan kehendak. Setelah menaruh tas bawaan di dalam kamar, aku keluar seorang diri menuju depan lobby. Di situ sudah banyak pengunjung hotel yang berbaur dengan para penjual. Sebagian cuma melihat-lihat, sebagian lagi ada yang sudah tawar menawar dan melakukan transaksi. 

Aku sendiri sebenarnya cuma melihat-lihat, aku memang tidak bermaksud membeli, cuma ingin tahu harga-harganya saja. Tapi saat mataku tertuju pada pada sekumpulan patung kayu, aku jadi tergoda untuk melihat lebih lanjut. Di antara patung patung kayu itu ada yang berujud patung sepasang pengantin -lelaki dan perempuan dengan ukiran pakaian model Jawa. Patung patung itu tampak manis dengan hiasan manik-manik di bagian kepalanya laksana hiasan sanggul pengantin. Ada juga sepasang patung kayu yang kelihatan antik dengan warna memudar. Kuakui aku memang suka aneka macam boneka dari kayu. Mungkin terdengar konyol, hari gini suka boneka kayu... tapi namanya juga suka mau gimana lagi!!! Sebenarnya aku tidak bermaksud membeli, cuma sekedar melihat-lihat, setelah dirasa cukup akupun bermaksud kembali ke dalam untuk giliran mandi. Namun sebuah tangan menarik jaketku pelan, aku menengok ke belakang. Kulihat seorang perempuan muda yang tampak cemas memandangku nanar.

“Saya punya patung Loro Blonyo, milik sendiri, Mbak bisa lihat dulu!” kata dia dengan logat Jawa kental dan bibir sedikit bergetar. Sebenarnya aku malas menanggapinya. Tapi melihat dia seperti sungguh-sungguh akupun jadi tertarik, siapa tahu patung yang dia tawarkan memang istimewa?

“Patung Loro Blonyo... apa itu?” tanyaku pendek.

“Patung Loro Blonyo itu patung pengantin ala Jawa!” jelasnya pendek pula.

“Ini Mbak.” jawab dia sambil mengeluarkan sepasang patung pengantin ukuran kecil dari dalam tasnya yang lusuh.

Kuamati sebentar patung yang terbuat dari kayu itu, berukuran kecil saja. Polos tanpa manik-manik di bagian sanggulnya, mungkin tampak tidak menarik karena wujudnya patung kecil diukir laksana pengantin sederhana saja, tapi aku terkesima dengan kondisi patung itu, tampak tua dan antik. Sepertinya patung itu sudah cukup tua. Warna kayunya mulai menghitam di beberapa bagian karena faktor usia.

“Murah Mbak, limaratus ribu saja. Buat makan Mbak!” rengeknya memelas.

“Beneran patung pengantin ini punyamu?” tanyaku setengah tidak percaya, masak orang seperti dia bisa punya patung antik yang sehalus dan sebagus ini? 

“Punya nenek saya Mbak, tapi sudah meninggal dan patung ini diberikan kepada saya. Sudah saya coba jual di toko barang antik... tapi ditawar murah Mbak, padahal mereka kalau jual dengan harga sangat tinggi, apalagi kalau dijual ke pelancong, jadi mending dijual langsung ke pemakai.”

“Tiga ratus ribu ya?” tawarku sekenanya alias tidak sungguh sungguh.

Dia diam sebentar, kupikir dia tidak akan melepasnya eh ternyata dugaanku meleset.

“Iyalah Mbak...!” dia menyerahkan patung itu kepadaku, terpaksa deh aku membayarnya.

Setelah menerima uang, perempuan itu tampak tersenyum lega lalu dia beringsut dari hadapanku berjalan meninggalkan hotel. Tinggal aku sendiri yang sebenarnya agak kecewa dengan keputusanku membeli patung itu. Apakah aku membeli terlalu mahal karena aku menawar langsung diberikan? Tapi sudah terlanjur mau bagaimana lagi? Akupun kembali ke kamar.

“Yuli baru mandi ya?” tanyaku pada Nani, dia duduk kursi sedang menyisir rambut. Bunyi gemericik dari kamar mandi terdengar, pasti Yuli baru mandi..

“Iya... nanti giliran kamu.” jawabnya pendek sambil terus menyisisr rambut.

“Eh beli apaan tuh?” teriaknya mengagetkanku. Rupanya dia melihatku meletakkan patung pengantin itu di atas meja.

“Patung Loro Blonyo.” jawabku pendek sambil membaringkan tubuh di atas tempat tidur.

Nani bangkit dari duduknya dan mengambilnya, ia melihat-lihat sebentar lalu katanya, “Patung pengantin ini kayaknya sudah tua tuh?” Seperti tidak percaya ia mengamati dengan lebih teliti, “Iya nih... antik kayaknya. Mahal pasti, berapa kamu beli?” tanyanya lagi.

“Murah kok cuma dua ratus ribu!” aku berbohong, kan malu nanti diolok-olok kalau aku menyebut harga yang sebenarnya.

“Kubeli tiga ratus ribu boleh nggak?” tawar dia seperti tertarik

“Yee... antik gitu loh!” jawabku semaunya.

Nani bersungut-sungut mendengarnya, dia lalu meletakkan kembali patung Loro Blonyo itu di atas meja. Sebentar kemudian Yuli selesai mandi, dia keluar dengan handuk di atas kepalanya.

“Wah sudah datang nih... cepetan mandi sana.” ujarnya begitu melihatku. Aku bangkit dan masuk ke kamar mandi. Kunyalakan air panas dan air dingin berbarengan untuk mencari suhu yang pas untuk badanku yang capek ini, hangat-hangat kuku begitu kata orang.

Selesai mandi dan berdandan tipis, kami berlima berkumpul di lobby sebentar untuk membahas acara malam ini. Kami sepakat untuk keluar dengan berjalan kaki saja, makan di sepanjang jalan Maliobroro, lalu dilanjutkan jalan-jalan menikmati malam. Kami kembali ke hotel sekitar pukul sebelas malam, kaki kami pegal-pegal dan ingin segera tidur.

“Met tidur semua, besok jam tujuh pagi harus sudah siap loh!” Dewi, si ketua kelompok mengingatkan kami.

“Yaaaaa... bos!” jawab kami berbarengan sambil saling melambaikan tangan, lalu kami masuk kamar masing-masing.

“Wah capeknya...!” ujar Yuli sambil memijit kakinya. Dia langsung rebahan di tempat tidur. Nani juga ikut rebahan di samping Yuli, lalu berujar, “Tidur... tidur...”

“Iya... mari kita segera tidur, agar besok tidak kesiangan.” sambungku juga ikutan merebahkan diri.

Karena kami semua kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu di perjalanan, kami langsung terlelap dalam tidur, namun entah jam berapa aku tiba tiba terbangun, seperti setengah sadar, kudengar bunyi bunyi aneh yang berasal di atas meja, hidungku juga mencium bau melati yang begitu wangi. Dalam keadaan masih mengantuk aku menengok ke arah suara itu, kulihat sepasang manusia lelaki dan perempuan dalam balutan pakaian tradisional Jawa berdiri di samping meja dan bermain-main dengan patung itu, anehnya lagi mereka itu terlihat transparan, namun begitu mereka tahu aku menatap mereka, dalam hitungan detik mereka menghilang. Aku sangat kaget dan secara reflek menjerit.

Nani dan Yuli terbangun mendengar teriakanku.

“Ada apa nih... ada apa?” tanya mereka bersahutan.

“Eee... aaaa...” aku seperti sulit berkata-kata.

“Iya ada apa?” tanya mereka sedikit jengkel bercampur penasaran.

“Patung itu...” kataku tercekat sambil menunjuk ke arah kedua patung yang jatuh ke karpet.

“Lhah... cuma patung jatuh aja!” ucap Yuli sambil kembali tidur.

“Iya nih... bikin kaget aja...” timpal Nani manyun, dia juga kembali tidur.

Sedang aku duduk termangu di atas tempat tidur, aku tidak berani mengambil patung itu. Keringat dingin membasahi tubuhku. Mungkin aku akan terjaga semalamam. Kejadian tadi membuatku bergidik. 


Akhir Hayat Si Dukun Teluh



Hampir semua orang pasti sudah tahu siapa pemilik rumah besar di Jl. Kartini itu. Orang-orang menyebut pemilik rumah besar dan mewah itu sebagai mbah Gembrong. Entah itu sekadar julukan ataukah memang nama asli sejak kecil, tak seorangpun tahu. Yang jelas, semua orang tahu tahu bahwa mbah Gembrong adalah dukun kondang, yang pasiennya datang silih berganti, kebanyakan dari luar kota. Ada yang dari Solo, Malang, Boyolali, Probolinggo, Purwokerto, bahkan yang dari Jakarta dan luar Jawa pun ada juga yang datang untuk minta bantuan kepada mbah Gembrong.

Beberapa waktu yang lalu ada orang bertamu ke rumah mbah Gembrong. Tiga orang, dua pria dan satunya lagi wanita. Mengendarai mobil merk terkenal dan keluaran tahun paling anyar. Kepada salah seorang tetangga mbah Gembrong, ketiga orang tersebut mengaku berasal dari Ungaran, Jawa Tengah.

“Benar ini kediaman mbah Gembrong?” tanya tamu tadi kepada Basiran, tetangga dekat mbah Gembrong.

“Mbah Gembrong dukun serba bisa itu kan?” Basiran balik bertanya, menginginkan kepastian. 

“Ya, betul.” jawab mereka serempak

“Kalau memang itu yang Anda cari, rumah mbah Gembrong memang benar yang ini.” jawab Basiran menandaskan. 

Basiran, lelaki paruh baya dengan dua orang anak yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang buah di pasar Giwangan itu lantas mempersilahkan tamunya masuk, karena Basiran telah membantu mengetukkan pintu rumah mbah Gembrong.

“Terima kasih, Pak.” ujar si tamu sambil memarkirkan mobilnya di halaman timur rumah mewah bercat serba ungu itu.

Seperti terhadap tamu-tamu lainnya, mbah Gembrong pun tak terlalu lama melayani tamunya yang jauh-jauh datang dari Ungaran tersebut. Karena ada banyak orang yang antri untuk ditangani oleh mbah Gembrong. Otomatis masing-masing tamu jadi merasa sungkan dan tak terpuji bila terlalu lama berada dalam kamar praktik mbah Gembrong yang konon sangat menyeramkan itu.

Menurut desas-desus yang merebak beberapa hari sesudahnya, tamu dari kota Ungaran, Jawa Tengah tempo hari itu minta jasa baik mbah Gembrong untuk melenyapkan saingan bisnisnya. Tangan mbah Gembrong yang terlalu gampang untuk membunuh dengan bantuan ilmu ghaib-nya tersebut memang tempat sangat ideal untuk keperluan itu. Buktinya, lawan bisnis Mardjono, orang Ungaran tadi, beberapa waktu kemudian meninggal dunia dengan cara mengenaskan. 

Darminto, yang merupakan pesaing bisnis Mardjono, tertimpa batu sebesar kerbau manakala Darminto sedang mengawasi anak buahnya yang sedang bekerja di sebuah pabrik pemecahan batu tak jauh dari rumahnya.

Sudah puluhan tahun mbah Gembrong memang terkenal sebagai dukun tenung atau dukun teluh. Sebuah profesi yang digelutinya secara turun temurun, paling tidak, almarhum mbah Deglong, orang tuanya dulu juga kondang sebagai dukun teluh.

Nasib baik masih selalu berada di belakang keluarganya, sebab setiap ada pihak yang mau menghabisi mbah Gembrong, dengan berbagai cara, tak ada yang pernah berhasil. Termasuk ketika sedang ramai-ramainya kasus penculikan terhadap para dukun teluh beberapa tahun silam, mbah Gembrong bisa selamat. Ilmu yang dimilikinya memang cukup ampuh dalam membentengi dirinya dari serangan orang yang tidak menyukai sepak terjangnya. Tak aneh bila lelaki berambut gondrong mirip penyanyi reggae terkenal itu semakin merasa tak tertandingi. Entah sudah berapa orang yang mati secara ghaib lewat tangannya, hanya dirinya dan Allah saja yang mengetahui jumlah pastinya.

Sebagai seorang dukun senior, materi yang dikumpulkan dari uang kasih para pasiennya lumayan banyak. Bahkan dengan uang yang didapatkannya itu, ia mampu membeli rumah yang bagus, sawah, serta ladang ada di berbagai tempat. Tersebar di wilayah tempat tinggalnya mau pun di luar daerah. Jumlahnya bisa puluhan hektar plus tabungan di bank yang cukup menggiurkan jika ditunjukkan kepada orang lain.

Pekerjaan mbah Gembrong yang lain adalah tukang servis dan pendongkrak daya tarik bagi wanita-wanita nakal. Bila seorang wanita yang terjun di dunia kelam telah kurang diminati tamu langganan dan dia datang ke tempat praktek mbah Gembrong, dijamin beberapa hari kemudian wanita tadi pasti kebanjiran order. Tubuh wanita itu yang sebelumnya kusam dan tak mendatangkan selera, tiba-tiba saja bisa berubah menjadi kelihatan bahenol, sintal, cantik dan sangat mengundang birahi. Langganannya pun kembali berdatangan, dan uang pun mengalir lagi. Aliran uang tersebut sebagian tentu mengarah ke rumah mbah Gembrong sebagai balas budi. Balas budi yang klimaksnya membuat kekayaan lelaki dengan sembilan orang isteri dan sembilan orang anak tadi semakin menggunung.

Untuk membuat makin tajam dan cespleng ilmunya, mbah Gembrong harus mengadakan ritual dan persembahan kepada pembantu ghaib-nya. Di antara ritual tadi adalah meminum darah binatang, utamanya ayam berbulu hitam, berkulit legam. Orang sering menyebutnya dengan ayam cemani. Darah ayam model inilah yang pada saat-saat tertentu harus diminum olehnya. Semakin sering melakukan ritual seperti ini, semakin ampuh dan berjaya pula ilmunya. Ini diyakini betul oleh mbah Gembrong selama ini.

Manusia, bagaimanapun juga, ada kalanya di atas, ada saatnya di bawah. Keinginan dan harapan bisa melaju terus tanpa batas, namun umur tidak akan pernah bisa abadi. Dari muda menjadi tua, tidak bisa dihindari, dan setelah tua pasti akan mati. Demikian juga yang dialami oleh mbah Gembrong. Tanpa disadari, usianya pun semakin bertambah, gerak tangannya sudah semakin tak lincah lagi, hentakan kaki dan desah nafasnya pun sudah tak berirama sempurna lagi.

“Bila aku berjalan agak jauh, rasanya seperti mau berhenti nafas ini.” keluh mbah Gembrong suatu ketika pada seorang isterinya.

“Wajar, usia Bapak kan sudah lebih dari sembilan puluh tahun.” sahut si isteri yang bernama Mardiyah itu.

“Aku berencana untuk tidak memaksakan diri lagi dalam bekerja.” ujarnya dengan wajah pucat dan kusut.

“Lalu, ilmu Bapak mau dikemanakan?” tanya Mardiyah sambil duduk berjajar dengan suaminya, di bawah rindangnya pohon trembesi tak jauh dari rumahnya.

“Aku telah berusaha untuk sedikit demi sedikit membuang pengaruh ilmu itu dengan mantera-mantera yang telah kuhafal.”

“Hasilnya bagaimana, Pak?”

“Karena aku mempunyai banyak ilmu, perlu waktu lama untuk membuangnya satu per satu.”

“Tidak ada yang diwariskan Pak?”

“Anak-anak kita tak ada yang berminat.” kata mbah Gembrong setengah mengeluh.

“Kepada orang lain, bagaimana Pak?”

“Hingga saat ini belum pernah kulihat orang datang kemari untuk keperluan itu.”

“Lalu?”

“Ya sudah, memang itu risiko yang harus kutanggung, Mardiyah.” jawab mbah Gembrong sambil memandang ke alam lepas. 

Dan di atas sana, awan kelabu bergulung-gulung, bahkan berubah menjadi hitam kelam, pertanda hujan akan segera mengguyur bumi.

Beberapa hari kemudian, mbah Gembrong jatuh sakit. Awalnya hanya pusing-pusing biasa. Namun kemudian rasa pusing ini semakin parah dan berganti dengan munculnya bintik-bintik merah hampir di sekujur tubuhnya. Berbagai macam cara ditempuh untuk menghalau penyakit aneh ini. Obat modern, jamu-jamu herbal dan sudah banyak upaya lain yang ditempuh, belum juga mampu mendatangkan hasil memuaskan. Bahkan kondisi kesehatannya malah berubah semakin memburuk saja dengan tekanan darahnya yang terus melonjak-lonjak, naik-turun, tidak stabil.

Orang-orang yang sebelumnya berusaha membantu dengan caranya masing-masing, kini mulai menjauh. Mereka sudah angkat tangan. Tanpa ingin mendahului kehendak Yang Maha Kuasa, dalam hati kecil mereka sudah tertanam keyakinan bahwa akhir hayat mbah Gembrong tinggal menghitung hari saja.

“Kasihan dia.” bisik seseorang yang sempat berkunjung ke rumah mbah Gembrong.

“Sejak beberapa bulan sebelumnya, kabarnya mbah Gembrong lupa mengadakan ritual minum darah ayam. Benar demikian, Mas?”

“Aku kurang tahu masalah itu, Dik. Itu urusan mbah Gembrong dan keluarganya. Kita sebaiknya hanya ikut berdoa saja, kalau pun penyakitnya tidak bisa disembuhkan, mudah-mudahan saja Allah SWT berkenan memberikan jalan yang lapang bagi perjalanan hidup mbah Gembrong selanjutnya.”

“Ya, Anda benar Mas. Sungguh tidak baik terlalu jauh menggunjingkan keburukan dan kekurangan orang lain.”

“Ya, saya juga sependapat.”

Beberapa saat kemudian, kedua orang ini hendak beranjak pulang, karena sudah cukup lama keduanya berada di dalam ruangan tempat mbah Gembrong berbaring.

Tetapi... 

Tiba-tiba terdengar suara rintihan yang sangat memelas keluar dari mulut dukun teluh yang sudah renta itu.

“Uhhhh...!!!” hanya itu, tapi cukup membuat trenyuh hati mereka yang mendengarnya. 

Kemudian kembali terdengar suara mbah Gembrong, 

“Potongkan aku ayam dan ambil darahnya.” pinta Mbah Gembrong dengan memelas dan napas yang terdengar terengah-engah.

Salah seorang anaknya yang sedang menunggu di situ segera menuruti kehendak bapaknya. Seekor ayam cemani yang mungkin sudah lama dipersiapkan langsung disembelih dan darah segarnya diberikan kepada bapaknya. Mbah Gembrong segera meneguk darah ayam yang diwadahi cangkir kecil berwarna ungu tua itu.

Baru saja beberapa teguk darah masuk ke dalam rongga mulutnya, tiba-tiba saja Mbah Gembrong langsung menyemprotkan kembali darah itu keluar hingga muncrat, berhamburan ke segala arah, bahkan sampai membasahi baju dan wajah beberapa orang yang sedang membesuknya.

Sebelum orang-orang tersebut sadar akan apa yang musti dilakukannya, mbah Gembrong sudah berteriak histeris dan...

“Hheuweeerrrrrr...!!”

Darah kental muncrat dari rongga tenggorokannya. Sejenak kemudian tubuh dukun teluh kondang itu berputar-putar seperti ayam baru dipotong. Sebentar membujur ke arah Utara, sebentar kemudian berbalik ke Selatan, lalu ke Timur, dan ke Barat. Seolah-olah ingin mengarah ke empat penjuru mata angin.

Saking menderitanya, tubuh itu seakan ingin terbebas dari sesuatu, kejang, lalu melonjak-lonjak ke atas, ke bawah, lalu setengah berputar dan...

Bregg...!!! 

Tubuh Mbah Gembrong yang renta itupun jatuh terjerembab di atas dipan kayu berukir, tempatnya berbaring tadi.

Darah kental terus-menerus termuntahkan dari mulutnya seakan tanpa henti. Darah yang muncrat dari mulutnya pun mendarat di mana-mana. Di ranjang, selimut, sekujur tubuhnya dan lantai di bawahnya. Ada berliter-liter darah, sungguh aneh memang, tak mungkin darah yang terkandung dalam tubuh manusia bisa sebanyak itu.

Jadi dari mana asalnya darah tersebut?

Tubuh mbah Gembrong semakin lemas saja, mungkin seluruh darah di tubuhnya sudah terkuras semua. Tak lama kemudian, tubuh renta itu pun berubah pucat seperti kehabisan darah. Mereka yang duduk di kanan-kiri ranjang hanya melongo keheranan. Mbah Gembrong telah tiada. Dia meninggal dalam kondisi yang tersiksa dan sangat mengenaskan.

Itulah sebuah kisah nyata yang terjadi di wilayah Gondokusuman, Yogyakarta. Kisah seorang pemilik ilmu sesat yang semasa hidupnya gemar menumpuk harta. Menyedihkan, karena di akhir hayatnya, tak secuilpun harta yang selama ini ia kumpulkan mampu menyelamatkannya dari siksa kematian.

Kisah ini bersumber dari seorang sahabat penulis yang menyaksikan langsung peristiwa mengenaskan ini. Semoga apa yang terjadi pada mbah Gembrong bisa menjadi peringatan bagi kita semua. Amin.


Thursday, December 30, 2021

Perkantoran Bekas Kuburan



Cerita ini berawal sekitar tahun 1998 di kota Jogja, sewaktu Yudi bekerja di sebuah kantor di kota gudeg itu. Dia sebagai staf kantor. Yudi sendiri tinggal di daerah Polanharjo, Klaten. Setiap hari ia pulang pergi Polanharjo-Jogja naik angkutan. Sekali berangkat ia harus ganti tiga kali angkutan. Sebenarnya ia ingin kost di Jogja, namun karena masih baru ia belum sempat mencari kost-kostan. 

Kebetulan dalam minggu itu banyak pekerjaan yang harus dilembur, Yudi sendiri tidak mungkin setiap hari bisa pulang. Oleh atasannya Yudi disarankan untuk tinggal di kantor saja. Ada dua kamar yang bisa dipakai, selain kamar yang ditempatinya bersama teman sekerja, Jono, kamar lainnya dipakai Bu Ratmi, tukang bersih-bersih kantor.

Hari pertama tidur di kantor, tahu-tahu Yudi sudah mengalami kejadian aneh. Waktu tengah malam dia mendengar langkah kaki berat berjalan dan seperti berdiri di depan kamar. Disusul suara seperti orang berdehem. Membuat malam itu terasa gerah.

Pada pagi harinya ketika kejadian semalam ditanyakan bu Ratmi dan Jono, jawabannya ternyata pendek saja.

“Oh, rupanya pakdhe datang.” komentar mereka dengan cuek. 

Hari berikutnya terus terjadi keanehan yang sama, dan ketika ditanyakan mengenai kejadian itu dengan enteng dijawab oleh Jono bahwa yang disebut pakdhe itu genderuwo! Spontan Yudi kaget mendengar nama genderuwo.

Malam berikutnya, sekitar jam 02.00 Yudi tidur di luar karena di dalam terasa panas. Waktu tidur dia diganggu suara besi di pukul-pukul.

“Teng teng teng” 

Membuatnya terbangun untuk mencari asal suara tersebut. Sepertinya suara di lantai 2, sehingga dia menuju arah suara tersebut.

Tepat di pojok ruang di bawah remang-remang lampu dilihatnya sebentuk warna putih tegak sedang berdiri. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, sosok itu didekati, setelah jelas Yudi langsung berjingkat. Sosok yang ada di hadapannya itu ternyata pocong! Terlihat jelas sosok itu menatap ke arahnya.

Spontan Yudi lari terbirit-birit dan kembali masuk ke dalam  kamar.

“Aku melihat sebentuk pocong anak-anak tapi lama kelamaan menjadi besar. Benar-benar gila.” ujarnya kepada Jono. 

Jawaban tentang hantu-hantu yang tiap malam berkelana dalam kantor, baru dapat ditemukan pada esok harinya.

Saat jalan di belakang gedung perkantoran dia melihat di tengah tempat parkir yang di paving ada cekungan yang berderet-deret sejajar. Dia lalu bertanya pada bu Ratmi, barulah ditemukan jawaban jelas, jika kompleks gedung perkantorannya ini sebelumnya bekas tanah pemakaman. Bu Ratmi dan Jono sendiri sudah terbiasa tinggal di tempat itu, sehingga tidak begitu menggubris kalaupun ada kejadian aneh.

Setelah mendengar penuturan itu sekujur tubuh Yudi langsung lemas. Dia tidak mampu berbuat apa-apa karena kenyatannya lahan kuburan telah berganti menjadi gedung perkantoran yang megah. Menurut penuturannya hantu-hantu itu sampai sekarang masih bergentayangan. 


Monday, December 27, 2021

Bukan Halusinasi



Ini adalah sebuah pengalaman aneh yang pernah dialami oleh Nora Trisiana, seorang sekretaris di sebuah perusahaan otomotif ternama di kota Bogor. Ketika itu di malam hari ketika dimana hujan turun sangat lebat. Saat itu Nora sedang tidur di kamarnya di sebuah apartement di pusat kota. Tiba-tiba saja ia terbangun oleh suara-suara aneh yang sepertinya berada di dalam kamarnya. Nora pun membuka matanya dengan perlahan sambil melirik jam dinding yang ternyata baru menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Di dalam kamarnya, suasana cukup gelap, karena sudah menjadi kebiasaan Nora untuk tidur dengan lampu kamar dimatikan. Hanya seberkas cahaya temaram yang muncul dari balik jendela. Cuaca saat itu sangat dingin dan Nora lupa untuk menyalakan penghangat ruangan kamar, walaupun selimut setebal apapun tetap saja Nora masih merasakan dinginya suasana malam yang hujan. 

Karena dirasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Nora pun kembali melanjutkan tidurnya. Dan dalam sekejap Nora pun kembali tertidur dengan sangat pulas. Mungkin karena ia sangat lelah setelah pulang dari bekerja. Namun belum berapa lama ia tertidur, tiba-tiba saja ia terbangun lagi karena mendengar suara aneh yang terdengar sangat pelan di telinganya seperti suara-suara kerumunan serangga, dan tiba-tiba saja suara-suara itu kemudian menghilang begitu saja, saat itu Nora sempat kaget dan memperkirakan bahwa serangga-serangga itu mungkin sedang bersarang di salah satu pohon cemara yang berada di halaman apartement.

Beberapa menit kemudian terdengar lagi suara-suara aneh yang belum pernah ia kenal sebelumnya, suara ini seperti suara seseorang yang sedang bercakap-cakap, namun suara itu sangatlah aneh di telinganya. Ketika itu dengan enggan dan malas-malasan ia melihat jam dinding dengan mata sebelah tertutup, jam menunjukan pukul 02:20 dini hari. Dalam hati, Nora jadi bertanya-tanya, 

“Ini terlalu pagi untuk seseorang bercakap-cakap seperti ini, memangnya tidak ada waktu besok untuk bercakap-cakap?”

 Dan suara-suara itu pun semakin lama semakin terdengar sangat jelas, kali ini memang sangat jelas suara itu terdengar di telinga Nora, dan sepertinya itu adalah sebuah percakapan antara ibu dan anaknya. Dan masih dengan mata tertutup karena mengantuk, Nora pun terpaksa mendengar pembicaraan mereka tersebut.

Pertama ada suara seorang wanita yang berkata,

“Kau ini harus menuruti semua perintah dari ibumu ini mengerti!”, 

Kemudian ada suara anak laki-laki menjawab,

“Ibu tak pernah mengerti perasaanku saat ini, ini sudah terlalu malam, Bu!”

Saat itu keringat dingin mulai mengucur di dahi Nora.

Sungguh sangat aneh bukan? Dini hari begini masih ada pertengkaran antara ibu dan anak, sedangkan setahu Nora, selama ini ia tidak mempunyai tetangga ibu-ibu maupun anak-anak karena di sebelah gedung apartement ini adalah sebuah asrama perawat wanita, sungguh aneh bukan? 

Perasaan dan pikiran Nora mulai tidak tenang, ingin sekali ia membuka kedua matanya, namun ia sangat takut sekali, karena perasaannya semakin lama semakin tidak enak, akhirnya beberapa saat kemudian Nora langsung memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. 

Dan apa yang ia lihat? 

Sebuah pemandangan aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dimana ada bayangan seorang wanita dan seorang anak berdiri di atas meja kerjanya, nampak jelas apa yang ia lihat bayangan itu hitam legam dan berbentuk manusia dan Nora dapat melihatnya dengan jelas. Setelah melihatnya, tiba-tiba saja tubuh Nora langsung lemas dan ia pun pingsan di atas tempat tidurnya. 

Keesokan harinya, Nora terbangun karena mendengar pintu apartement digedor-gedor dengan keras. Ia pun bergegas bangun dan berjalan tergesa-gesa menuju ke pintu untuk mengetahui siapa gerangan yang datang.

Ketika Nora membuka pintu, rupanya si Wida, rekan kerjanya yang datang. Terlihat ia berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah yang kelihatan sangat shock, panik, cemas, ketakutan. Sulit digambarkan. 

Nora bertanya kepadanya, 

“Kenapa tiba-tiba saja kau datang ke rumahku? Bukankah hari ini seharusnya kau masuk kerja?”

Kemudian tanpa basi-basi Wida langsung menerobos masuk dan langsung membuka beberapa lembaran kertas foto yang baru saja ia cetak, ia beberkan semua lembaran kertas foto itu di atas meja kerja Nora, kemudian ia berkata, 

“Aku akan memperlihatkan beberapa foto yang sangat aneh dan sepertinya kamu memang harus segera meninggalkan apartement yang kamu sewa iniini, karena kamu tidak tinggal sendiri di apartement ini, ada makhluk lain yang menghuni disini. Cobalah lihat foto ini, yang ini... dan yang ini... ada bayangan hitam berbentuk seperti sebuah figur seseorang sedang berdiri di ruang tamu, dan di beberapa lokasi lain di apartement yang kamu sewa ini...”

Nora memperhatikan dengan seksama foto-foto itu, sepertinya foto-foto itu diambil dalam sebuah pesta, tapi mengapa di apartementnya? Seingat Nora, ia tidak pernah mengadakan pesta di apartementnya. Nora pun jadi tak habis pikir bagaimana Wida bisa mengambil foto di dalam apartementnya? Dan ia pun bertanya, 

“Wid, kapan kamu mengambil foto-foto ini?”

Wida pun menjelaskan,

“Bukan aku yang mengambilnya, tapi si Roland pacarnya Hani. Kamu ingat tidak sewaktu kamu ditugaskan selama lima hari ke Singapura? Kamu mempercayakan apartementmu kepada Hani bukan? Nah, ketika itulah Hani mengadakan pesta di apartementmu ini untuk merayakan ulang tahun Roland. Dan mereka memotretnya untuk mengabadikan perayaan itu...”

“Kalau mereka yang memotretnya, lantas kenapa foto-foto ini sekarang ada padamu Wid?” tanya Nora penasaran.

Wida pun menjelaskan, 

“Ini semua karena Roland dan Hani takut mengatakannya padamu, mereka merasa bersalah karena mengadakan perayaan tersebut di apartementmu tanpa minta ijin terlebih dulu,” 

“Dan ketika mereka melihat adanya keanehan dalam foto-foto yang telah mereka cetak tersebut, mereka ingin segera memberitahumu tapi karena tidak berani akhirnya mereka berdua meminta tolong kepadaku untuk mengatakannya padamu...” lanjut Wida.

Nora melihat sekali lagi foto-foto itu. Nampak sekali beberapa bayangan hitam legam berbentuk wujud manusia yang ikut terekam dalam foto-foto tersebut, bayangan hitam menakutkan persis seperti yang ia lihat semalam.

 Nora mulai merasa takut, ia menjadi trauma dan enggan untuk tinggal lebih lama lagi di apartement tersebut. Keesokan harinya ia pun bergegas pergi meninggalkan apartement itu untuk kembali tinggal bersama kakaknya di rumahnya di pinggiran kota Bogor.

 

La Planchada