Friday, March 11, 2022

Rahasia Bu Sobari



Pak Sobari dan istrinya sudah menikah selama hampir sepuluh tahun, namun hingga kini belum juga dikaruniai seorang pun momongan. Semula, di tahun-tahun pertama pernikahan mereka, hal ini sering menjadi masalah yang membuat kedua pasangan ini terlibat dalam perdebatan yang cukup sengit. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia mereka berdua, pak dan bu Sobari sudah semakin ikhlas dan pasrah. Bagi mereka kini, diberi momongan ya bersyukur, tidak pun juga tak apa.

Dan mungkin juga rasa ikhlas dan pasrah inilah yang membuat hidup mereka selama ini menjadi lebih tenang dan adem ayem saja. Hingga suatu ketika, ketenangan itu mulai goyah karena sikap bu Sobari yang mulai berubah.

Entah karena penghasilan pak Sobari yang dari dulu hingga sekarang cuma segitu saja, ataukah karena pergaulan bu Sobari yang membuat kebutuhan hidupnya serasa semakin bertambah saja. Terutama semenjak bu Sobari bergabung dengan kelompok ibu-ibu cantik-manis di komplek perumahan tempat domisilinya.

Suatu kali pak Sobari pernah mengeluh karena kekayaan tetangga kiri dan kanan ternyata mulai mengusik istrinya. Bu Sobari merasa kurang nyaman melihat bu Supri tetangga sebelah kiri rumahnya membeli sebuah mobil baru lagi. 

“Padahal bu Supri itu kan tidak mempunyai anak dan tidak bekerja, masa harus mempunyai mobil dua unit,” omel bu Sobari mengomentari mobil baru bu Supri.

Belum genap seminggu omelan bernada sirik, iri, dengki tersebut berhenti, eh… kemarin bu Sobari siang-siang menelpon pak Sobari di kantor hanya untuk mengabarkan bahwa tetangga mereka bu Iskandar juga menukar mobil lawasnya dengan sebuah mobil merek Toyota keluaran terbaru. Pak Sobari hanya menghela napas panjang seraya berujar lembut, 

“Bu, rejeki orang kan berbeda-beda, ayah belum mampu menukar mobil butut kita. Doakan saja ayah banyak rejekinya ya,” tutur pak Sobari menenangkannya.

Boro-boro tukar mobil, lha yang namanya mengecat rumah saja sudah dua tahun ini belum bisa dilakukan oleh pak Sobari yang lebih mementingkan perbaikan atap genting rumahnya terlebih dulu, apalagi sebentar lagi sudah memasuki musim penghujan. Jika masalah atap rumah sudah selesai ditanganinya, niscaya tidak akan ada lagi gangguan seperti bocor dan sebagainya yang secara tidak langsung bisa saja merusak keharmonisan rumah tangganya. Bayangkan saja biaya yang harus di siapkan oleh pak Sobari untuk memperbaiki sektor-sektor vital di rumahnya agar berfungsi normal selama musim penghujan nanti seperti perbaikan atap rumah, sampai kebersihan saluran selokan di depan rumah.

Pak Sobari kemudian terkenang akan masa lalu yang indah, dan mulai bercerita.

Bu Sobari ia nikahi 9 tahun yang lalu, tapi dulu ia memilih bu Sobari untuk menjadi istrinya karena kelembutan dan kesederhanannya, dan ketika itu bu Sobari juga sangat pengertian dan memahami dirinya. Tapi kok seiring berkembangnya waktu, bu Sobari jadi berubah? Ia kini sangat materialistis, segala sesuatu dilihat dari jumlah rupiah semata. Untung ia tak mengenal dollar Amerika, jika saja ia tahu berapa nilai tukar Dollar atau Euro terhadap rupiah mungkin ia akan berubah haluan dan mengukur segalanya dari mata uang tersebut.

Hal lain yang juga mulai menjengkelkan pak Sobari adalah kini bu Sobari sering merengek-rengek untuk meminta perhiasan tambahan karena ia malu, teman dan tetangga mereka sering berganti-ganti model perhiasan sedangkan yang dimiliki bu Sobari tak pernah berubah gaya sejak sembilan tahun yang lalu, maklumlah itu adalah mas kawin pernikahan mereka.

Tak berhenti sampai di situ, Bu Sobari juga mulai sering menelpon pak Sobari ke kantor dan meminta ijin membeli tas, sepatu atau kosmetik yang ditawarkan oleh teman-teman arisannya. Jengkel juga sih jadinya dan beberapa kali pernah pak Sobari membentak istrinya agar tidak menganggunya lagi di kantor untuk urusan seperti itu. Namun bu Sobari bersikeras dan terus-menerus merengek.

Pernah suatu ketika saat pak Sobari sedang rapat, dan bu Sobari menelponnya untuk hal-hal semacam itu lagi. Karena jenuh dengan gangguan istrinya itu, pak Sobari pun meng-iya-kan saja permintaan istrinya. Walhasil begitu pak Sobari pulang dari kantor sudah ada ibu Lasmini yang menunggunya di teras rumah sambil menyodorkan tagihan barang yang telah diambil oleh istrinya, walau bisa dikredit selama 3 bulan namun caranya benar-benar menjengkelkan perasaan pak Sobari.

Suatu hari, bu Sobari meminta ijin untuk pergi bersama teman-teman arisannya ke Jawa Timur, katanya untuk menghilangkan kejenuhan. Karena pak Sobari juga kasihan melihat istrinya terkungkung di rumah terus maka ia mengijinkannya untuk pergi beberapa hari ke Surabaya. Bahkan pak Sobari juga memberi uang saku untuk keperluan bu Sobari selama berjalan-jalan di sana.

Empat hari kemudian bu Sobari sudah pulang, ia membeli beberapa oleh-oleh berupa makanan untuk pak Sobari. Tak henti-hentinya ia berceloteh tentang pengalaman yang didapatnya selama dalam perjalanan. Namun ia juga menangis menceritakan bahwa kalung yang merupakan mas kawin mereka hilang, entah terjatuh dimana. Walaupun sebenarnya pak Sobari merasa sangat kesal karena kalung tersebut adalah satu-satunya sisa dari mas kawin mereka namun mau bilang apa lagi. 

Lagipula siapa yang mau kehilangan, coba?

Sejak kepulangan bu Sobari dari Jawa Timur, pak Sobari merasa ada yang agak aneh pada sikap istrinya itu. Sepertinya bu Sobari menjadi berubah. Karena setiap pagi-pagi sekali istrinya itu sudah pergi keluar rumah untuk jalan-jalan pagi. Katanya ingin berolahraga agar menjadi langsing kembali. Belum lagi di dapur, teronggok bunga-bungaan tujuh rupa beserta kemenyan dan rokok kretek yang diletakkan di tampah dari anyaman bambu. Malah sudah beberapa kali ini di setiap malam Jumat pak Sobari mencium bau asing yang sangat menyengat hidungnya. Ternyata bu Sobari sedang membakar kemenyan sambil membisikkan beberapa kalimat yang asing terdengar di telinga. Bahkan setiap malam bu Sobari mulai suka menyendiri di teras rumah dengan lampu yang dimatikan total, ia duduk-duduk saja, sesekali tertawa atau berkata-kata sendiri.

Tentu saja pak Sobari merasa terusik dengan perubahan aneh yang terjadi pada istrinya itu. Dan ia bersikeras tak akan membiarkan istrinya menjadi gila, maka suatu malam di saat suasana sudah sepi dan lebih tenang, pak Sobari mencoba mengajak istrinya bicara dan menanyakan perubahan yang terjadi pada dirinya. Tetapi bu Sobari diam saja dan berkilah bahwa belum waktunya ia menjelaskan. Berkali-kali pak Sobari mendesak istrinya dan ia juga menyatakan keberatannya dengan adanya bunga tujuh rupa dan bau kemenyan yang setiap malam menyengat hidung, namun bu Sobari tak bergeming. Ia hanya menunduk dalam-dalam sambil berucap, 

“Bapak tenang sajalah, nanti kalau sudah ada hasilnya bapak juga bakal berterima kasih kepadaku…”

Beberapa minggu kemudian sepulang dari bekerja pak Sobari melihat ada sebuah kotak berisi kue donat dari sebuah toko donat terkenal di Jakarta. 

“Dari siapa donat ini, Bu?” tanya pak Sobari sambil mengambil sebuah donat yang berwarna coklat. 

“Aku yang beli tadi, sekalian jalan-jalan ke mal bareng bu Iskandar yang mencoba mobil barunya,” jawab bu Sobari ketus.

Minggu depannya lagi, ada DVD, tas, sepatu, baju, lauk mewah dari restoran terkemuka dan beragam barang baru di rumah. Tentu saja pak Sobari jadi heran dan mempertanyakan dari mana asal-muasal barang-barang tersebut. 

“Ya jelas beli dari mal dong Paak… emangnya saya mencuri!!!” teriak bu Sobari dari kamar mandi. 

Dengan marah pak Sobari menggedor pintu kamar mandi dan meminta istrinya agar menjelaskan dari mana uang untuk membeli barang-barang tersebut. 

“Sumpah, aku tidak menjual diri, ini adalah uang hasil dari perjuanganku,” isak bu Sobari saat pak Sobari menampar pipinya. 

“Perjuangan seperti apa…?! Apa maksud semua ini hah…?!! Jelas sekali Ibu tidak bekerja dan kita hanya hidup dari gajiku yang pas-pasan!!” teriak pak Sobari tak kalah sengitnya.

“Aku memelihara tuyul Pak, karena aku lelah oleh kemiskinan yang mendera kita. Aku juga ingin mempunyai barang bagus seperti milik tetangga. Aku telah menjual kalung emas kita dan memberikannya kepada dukun sakti di Jawa Timur sebagai mas kawin untuk mendapatkan bantuan tuyul. Dan tuyul itulah yang mencari uang buat kita Pak,” jelas bu Sobari di sela-sela isak tangisnya.

“Tiap pagi aku harus membawa tuyul itu jalan-jalan dan di malam hari aku memberinya makan dengan bunga tujuh rupa lengkap. Aku juga harus menggendongnya jika malam tiba, makanya aku selalu melewatkan tengah malam duduk di teras rumah dan sesekali harus menyusuinya,” terangnya lagi.

Blarrr…!!!

Bagaikan tersambar halilintar, pak Sobari merasa sangat kaget dibuatnya. Ia pandangi istrinya tanpa berkedip, rasanya tak mungkin perempuan yang telah dinikahinya selama ini berubah drastis 180 derajat. Di mana kesederhanaan yang dahulu memikat hatinya? Di mana kelembutan yang dulu telah mencuri hatinya? Istrinya memelihara tuyul hanya karena iri dengan kemewahan yang dimiliki oleh para tetangganya. Pak Sobari tertegun cukup lama dan tak mampu berucap sepatah katapun. Ia merasa sungguh lelah lahir batin. Pak Sobari pun akhirnya memutuskan untuk meminta istrinya memilih, keluarga atau tuyul tersebut.

Mari kita hindari mencuri harta orang lain dengan memanfaatkan tuyul atau pesugihan apapun. Insya Allah urusan dunia tidak ada jalan buntu selama kita tetap gigih berusaha dan bersabar dalam menjalani hidup.


Tuesday, March 8, 2022

Wanita Cantik di Pemakaman



Ada sebuah kisah menyeramkan tentang kebangkitan arwah dari seorang wanita bernama Anasih Wiryawan. Kisah ini sangat populer di tahun 80-an, karena kisah ini memang benar-benar menyeramkan, dan juga karena kisah ini mempunyai beberapa bukti foto dari penampakan arwah Anasih yang dilihat oleh banyak saksi.

Pada tahun 1981 malam itu, ada seorang pria bernama Bambang Paulus pergi ke sebuah klub malam di kota Malang untuk bertemu dengan seseorang. Namun ketika dia sedang mencari seseorang tersebut, dia malah bertemu dengan seorang wanita yang belum dia kenal sebelumnya, dan dia sangat tertarik dengan wanita itu. Wanita itu memiliki penampilan yang sangat berbeda, ia memiliki rambut hitam yang panjang tergerai, bermata indah dan mengenakan gaun pesta berwarna putih. 

Saat itu, Bambang Paulus memberanikan diri dan mulai mendekatinya untuk meminta berdansa denganya. Wanita itu setuju dan menerima tawaran untuk berdansa, dan mereka langsung turun ke lantai dansa. Mereka menari cukup lama dan sebenarnya Bambang Paulus merasakan dingin ketika dia menyentuh tangannya, namun hal ini ia hiraukan karena ia terlanjur terpikat dengan kecantikan wanita ini. Dan wanita ini hanya tersenyum melihatnya.

Tanpa berpikir panjang, usai dansa Bambang Paulus dengan percaya diri memberikan sebuah ciuman di pipinya dan wanita itu hanya bisa tersenyum, sepertinya Bambang Paulus sudah melupakan janjinya untuk bertemu dengan seseorang dan sudah terhanyut oleh wanita itu. Bambang Paulus berkata padanya.

“Apakah aku bisa mengantarmu pulang Nona?”

Dengan mengangguk gadis itu menjawab.

“Dengan senang hati, jika kau tidak keberatan, kau dapat mengantarku pulang ke rumah. Tidak begitu jauh, hanya 45 menit perjalanan.” 

Setelah itu mereka menaiki mobil dan pergi.

Ketika mereka berada di dalam mobil, wanita itu berkata kepadanya.

“Kita harus melewati sebuah pemakaman dekat dengan gereja di Jalan Kenanga.”

Saat mereka melewati pemakaman tersebut, wanita itu mulai bertingkah sangat aneh. Wanita itu berkata kepada Bambang untuk segera menepi, tetapi Bambang tidak mengijinkannya turun di sebuah pemakaman. Setelah itu, tiba-tiba saja wanita itu nekat dan langsung melompat keluar dari pintu mobil dan berlari sepanjang jalan menuju ke salah satu gerbang pemakaman tadi. Kemudian Bambang menghentikan mobilnya dan berlari mengejar wanita itu, wanita itu terus berlari dan berlari menuju gerbang, saat itu Bambang Paulus mengalami sebuah peristiwa yang sangat aneh, dimana ketika ia mengejar wanita itu dan mendekati sebuah gerbang, tiba-tiba saja wanita itu berhenti dan menoleh ke arahnya dengan sebuah senyuman dan menghilang di tengah kegelapan. 

Saat itu Bambang sangat shock dengan apa yang ia lihat, dia terus mencari wanita itu tetapi tidak ada hasil, kemudian dia berhenti sejenak dan berpikir bahwa dia mungkin baru saja bertemu dengan hantu, mengajaknya berdansa, sampai mengantarnya pulang ke sebuah pemakaman.

Keesokan harinya, Bambang memutuskan untuk mencari rumah wanita itu, ketika dia berhasil menemukan alamat rumahnya, dia bertemu dengan seorang wanita tua dan dia berkata,

“Benar sekali apa yang kau katakan, nama anakku adalah Anasih, dan dia sudah meninggal setahun yang lalu karena sebuah kecelakaan.” 

Dan wanita tua itu memperlihatkan fotonya, ternyata foto itu adalah Anasih, wanita misterius yang ditemuinya di klub malam dan menghilang di pemakaman.

Semenjak peristiwa itu, beberapa pria telah melaporkan, bahwa mereka telah memberi tumpangan seorang wanita yang cantik bergaun putih, dan dia secara misterius menghilang ketika mobil mereka mencapai sebuah pemakaman. Menurut sebuah surat kabar lokal, seorang pemburu hantu yang bernama Rustam Hadi telah mengumpulkan hampir seratus cerita kasus seorang penumpang wanita misterius yang tiba-tiba menghilang saat tiba di sebuah pemakaman. Kasus ini sangat menggemparkan penduduk sekitar tahun 80-an.

Ada sebuah cerita yang mengatakan bahwa Anasih telah menghabiskan malamnya untuk berdansa dengan pacarnya di sebuah ballroom klub malam. Kemudian mereka bertengkar karena perbedaan sebuah pendapat, saat itu Anasih sangat kesal dengan pacarnya dan dia nekat pulang sendiri ke rumahnya di malam itu. Dia mulai berjalan sambil menangis menyusuri sebuah jalan di dekat pemakaman, tetapi saat dia menyeberang di jalan tersebut, dia ditabrak oleh sebuah mobil yang sedang melaju kencang di jalan itu. 

Sopir itu tidak memberikan pertolongan kepada korbannya tetapi malah melarikan mobilnya dan berhasil melarikan diri meninggalkan Anasih yang akhirnya tewas karena kehabisan darah di jalan tersebut. 

Kemudian orangtua Anasih datang mencarinya karena dia belum pulang ke rumah dan di tengah jalan mereka telah menemukan sosok tubuh yang berlumuran darah tergeletak di jalan, dan itu adalah Anasih yang sudah tak bernyawa. Keesokan harinya, Anasih dimakamkan di sebuah pemakaman di dekat sebuah gereja di Jalan Kenanga. Di dalam peti matinya, Anasih mengenakan sebuah gaun pesta favoritnya yang berwarna putih lengkap dengan sepatu dansanya. Sopir yang telah menabraknya sampai sekarang tidak berhasil ditemukan.


Tuesday, March 1, 2022

Misteri Sebuah Buku


 

Ini adalah sebuah mimpi buruk paling menyeramkan yang pernah dialami oleh Ratriana sepanjang hidupnya, karena mimpi buruk itu tiada henti-hentinya mengikutinya selama bertahun-tahun, membuatnya sangat terganggu dan hampir gila. Peristiwanya sendiri terjadi ketika Ratriana masih remaja, dan ketika itu ia baru duduk di bangku SMA.

Sebagai seorang gadis yang pada waktu itu menginjak usia 17 tahun, di hari ulang tahunnya, Ratriana mendapatkan kado spesial dari orangtuanya. Mereka membelikan serial buku-buku misteri sebagaimana yang diinginkan oleh Ratriana yang di usianya kala itu sangat gemar mengkoleksi dan membaca kisah-kisah horror dan penuh misteri. Dan memang, sejak Ratriana masih kecil, sejak awal pertama bisa membaca, ia sudah sangat menyukai komik maupun cerita bergambar yang bertema horror dan misteri.

Dan mimpi buruk itu tetap menjadi sebuah misteri yang sangat menyeramkan yang menghantui Ratriana di sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa mengingat semua mimpi itu secara detail, tetapi ia akan berusaha untuk menceritakan mimpi buruk itu sebatas kemampuannya dalam mengingatnya. 

Berawal dari sebuah buku pemberian ibunya. Buku itu menyebutkan bahwa kisah-kisah yang ditulis di buku tersebut diambil dari berbagai peristiwa dan kisah nyata, dan pada waktu itu sayangnya Ratriana tidak pernah dapat mengetahui informasi lebih lanjut mengenai segala sesuatu tentang buku tersebut termasuk tentang siapa pengarangnya, penerbitnya, dan sebagainya karena waktu itu ia masih kecil dan tidak terlalu peduli dengan lain-lainnya kecuali segera membaca sampai habis setiap buku cerita misteri yang dimilikinya, sehingga wajar jika sulit baginya untuk mengetahui lebih detail mengenai buku itu. 

Bagaimana kisah yang dibacanya dari buku tersebut bisa menghantui Ratriana selama bertahun-tahun? Seberapa seramkah kisah tersebut? Ada baiknya kita simak kisah seram tersebut dan menganalisanya.

Kisahnya berawal di sebuah kota kecil, di suatu tempat di Amerika Serikat, ada pasangan muda yang telah beberapa tahun menikah dan mereka telah dikaruniai dua orang anak perempuan, ketika itu mereka sepakat untuk pindah ke sebuah rumah tua di pinggiran kota dengan pertimbangan biaya yang lebih murah.

Suatu malam, salah satu anak perempuan mereka yang bernama Jessica terbangun dari tidurnya karena mencium bau yang aneh di dalam kamarnya. Pada awalnya, dia tidak begitu yakin apakah ia sedang bermimpi atau tidak, saat itu dia hampir tidak bisa bernapas dan seluruh sudut kamar diselimuti oleh asap yang tebal. Saat ia mengedipkan matanya dan memandang sekeliling, ia menemukan bahwa kamar tidurnya tampak sangat berbeda dari sebelumnya, dinding kamarnya tampak sudah sangat tua dan catnya telah mengelupas dari dindingnya, karpet di kamarnya sudah rusak dan kotor, perabotan di kamarnya tampak sangat kuno bahkan berjamur, dan ada sarang laba-laba disana-sini. 

Saat itu Jessica sangat ketakutan sekali, dia melompat dari tempat tidurnya dan mencoba untuk masuk ke dalam kamar orangtuanya. 

Beberapa menit kemudian, tetangga yang tinggal di sebelah rumahnya mendengar suara jeritan dari luar rumah mereka dan mendengar seperti ada seseorang yang mengetuk pintu depan rumah mereka. Ketika mereka membuka pintu, mereka menemukan seorang gadis kecil yang ternyata adalah Jessica sedang berdiri disana, dia sedang menangis dan mengoceh tidak jelas, dan terus menunjuk-nunjuk ke arah rumahnya sendiri. Ketika mereka memandang ke seberang tembok kebun, mereka melihat bahwa rumah Jessica sedang terbakar.

Dengan bergegas mereka pun langsung menghubungi pemadam kebakaran setempat. Beberapa menit kemudian petugas pemadam kebakaran pun datang dan berhasil memadamkan api. Kemudian diketahui bahwa sebagian besar rumah itu ternyata habis terbakar dan di tengah reruntuhan rumah itu, mereka menemukan mayat yang sudah hangus dan mayat itu adalah kedua orangtua dan saudara perempuan Jessica. Tampaknya mereka telah terbakar hidup-hidup ketika mereka sedang berbaring di tempat tidur. Ketika polisi bertanya kepada Jessica, dia menceritakan kepada polisi sebuah kisah yang sangat mengejutkan dan sangat tidak masuk akal. 

Isi dari cerita Jessica ialah:

“Ketika ia terbangun di malam hari, ia pergi ke kamar orangtuanya dan membuka pintu. Kemudian ia dihadapkan dengan sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Orangtuanya terbaring mati di tempat tidur dan ada dua anak laki-laki muda berkulit hitam yang berdiri di atas mereka yang sedang tidur. Salah satu anak laki-laki memegang gunting bedah yang berlumuran darah. Jessica mengatakan ia mulai menjerit ketakutan dan melarikan diri ke rumah tetangga sebelah.”

Polisi tidak percaya dengan kisah yang diceritakan oleh Jessica, dan mereka mengasumsikan bahwa malam itu Jessica pasti sedang mengalami mimpi buruk. Tetapi ketika mereka meneliti sejarah dari rumah yang ditinggali oleh Jessica dan keluarganya itu, mereka menemukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata dulu sebelum menjadi rumah hunian, rumah tersebut adalah sebuah sekolah kedokteran untuk orang berkulit hitam, dimana pada waktu itu adalah jaman perang dan membutuhkan beberapa rumah sakit sebagai tempat pengobatan. Banyak pejuang yang sakit ataupun terluka telah dirawat di rumah sakit ini dan setelah perang berakhir, rumah sakit ini pun ditutup dan kemudian diubah menjadi sebuah properti hunian (rumah tempat tinggal). Namun tidak ada yang bisa menjelaskan bahwa apa yang dilihat dan dialami oleh Jessica di rumah itu hanyalah sebuah mimpi buruk ataukah memang benar-benar kisah nyata.

Kisah inilah yang dibaca oleh Ratriana bertahun-tahun yang lalu dan dari semua cerita-cerita hantu atau misteri, kisah inilah yang menurutnya terseram yang pernah ia baca.

Dan gara-gara kisah seram dalam buku ini pula sehingga selama bertahun-tahun Ratriana selalu dihantui oleh ketakutan. Selama hidupnya Ratriana selalu terbayang oleh isi dari buku itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuang buku itu jauh dari rumahnya dan mencoba untuk tidak mengingat-ingat kisah seram dari buku itu. Bahkan ia pun mencoba menghapusnya dari ingatan namun usahanya selalu gagal. Satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah “hilang ingatan”. Karena ia merasa sangat lelah selalu dihantui oleh kisah seram dari buku itu.


Tuesday, February 15, 2022

Misteri Piano Tua


Siang itu truk baru saja tiba di depan gudang, segera kutelpon suamiku –mas Rudi– untuk segera datang. Di seberang telpon mas Rudi berpesan agar barang-barang jangan diturunkan dulu, mesti menunggu dia. Biasanya memang demikian, dia selalu mendata barang yang datang dengan nota pembelian apakah sudah sesuai atau belum. Meski tidak selalu, tapi kadang kita menerima barang yang tidak cocok, bisa jadi kesalahan administrasi atau apalah, tapi yang jelas kami mesti teliti dalam menerima barang. 

Setelah memarkir truk di halaman depan gudang, sopir itu turun dan menghampiriku. 

“Ini Bu, suratnya!” kata sopir itu seraya menyerahkan sebuah amplop coklat.

Kuterima surat itu dan berkata, “Bapak bisa menunggu di balai-balai itu, sebentar lagi mas Rudi juga datang kok.” 

Pak sopir itu mengangguk dan berjalan ke arah balai-balai yang terletak di samping kiri gudang diikuti kernetnya. Sebenarnya balai-balai itu modelnya seperti tempat tidur dengan tiga sisi yang berpagar, mungkin itu dulu buat tempat tidur anak-anak agar tidak jatuh. Oleh suamiku tempat itu difungsikan sebagai ruang tunggu para sopir yang mengantar barang. Sambil menunggu, mereka bisa tiduran sejenak melepas lelah, apalagi di atasnya kami beri bantalan dengan busa tipis, jadilah pas buat tiduran. Aku masuk ke dalam sejenak untuk mengambil beberapa botol minuman dingin dan makanan kecil, lalu kuantarkan ke balai-balai tempat sopir dan kernetnya yang sedang istirahat.

“Silakan diminum Pak,” ucapku seraya meletakkan baki di meja kecil di samping balai-balai. Mereka menganggukkan kepala sambil tersenyum, lalu beranjak mengambil minuman.

Beberapa saat kemudian kulihat mas Rudi dan beberapa orang tenaga angkut datang. Dengan mobil pick-up, kulihat ada enam orang di bak belakang. 

“Ini surat dari penjualnya Mas,” sambutku sambil menyerahkan surat itu.

“Yup, terima kasih,” jawab mas Rudi setelah menerimanya dan langsung membukanya.

“Ayo... ayo... diturunkan!” seru mas Rudi kepada para tukang angkut, mereka segera menuju truk dan membuka tali yang mengikat barang-barang di dalamnya. Dengan cekatan karena sudah terlatih dan terbiasa, mereka menurunkan barang-barang itu satu demi satu. Barang-barang itu berupa mebel bekas. Bisnis mas Rudi memang merenovasi mebel bekas dan memolesnya agar tampak bagus dan siap pakai. Meski harga jualnya tentu jauh dari yang baru tapi bisnis ini cukup menjanjikan. Lumayan banyaklah orang yang membeli barang-barang kami, mungkin karena harganya terjangkau.

Mas Rudi meneliti tiap barang yang turun dengan memberi tanda silang di nota pengantar barangnya. Dia memang selalu hapal dengan barang-barang yang dia beli.

“Barang-barang itu diletakkan berjajar di dalam gudang ya,” seru dia lagi kepada para tukang.

“Ya Pak,” jawab mereka serempak, tampaknya mereka sudah mengerti betul keinginan mas Rudi. Saat mereka sibuk menurunkan barang, aku mengambil botol minuman dingin dan makanan kecil yang lain untuk para tukang itu. Setelah urusan menurunkan barang selesai, mas Rudi menghampiriku untuk mencocokkan nota pengantar dan nota pembelian yang aku pegang.

“Semua barang sudah sesuai, Dik Yuni sudah menyiapkan uangnya?” tanya dia kepadaku. Aku mengangguk dan menyerahkan sejumlah uang ke mas Rudi untuk pembayaran jasa para tukang dan jasa truknya.

Setelah urusan pembayaran selesai, aku dan mas Rudi masuk ke gudang untuk melihat barang-barang yang sudah berjajar rapi. Dilihat dari daftar yang tadi sempat kubaca ada sekitar limabelas jenis barang. Di paling ujung dekat pintu, ada lemari brangkas besi. Tidak terlalu besar sih... tapi jelaslah kalau berat banget, tadi para tukang sampai meringis menurunkan dan memasukkanya. Sayangnya kunci kombinasinya sudah rusak, jadi mirip lemari biasa saja. Selanjutnya aku melihat sebuah meja rias oval yang cukup besar.

“Wah... meja rias ini lumayan bagus tuh,” ucapku seraya memalingkan muka ke arah suamiku. 

Dia tersenyum, katanya “Memang sih, peninggalan jaman Belanda katanya. Tapi jangan dipakai... nggak cukup buat ruang tidur kita,”

Aku tertawa kecil mendengarnya, ya aku memang kadang mengambil beberapa barang untuk dipakai sendiri. Setelah diperbaiki dan divernis ulang barang-barang itu menjadi kelihatan cantik. Meja rias yang ada di kamar kami juga aku ambil dari gudang ini. Sebenarnya meja rias oval yang ada di depanku ini lebih bagus kwalitasnya dan tampak mewah bila nanti sudah diperbaiki... aku bisa membayangkan. Mejanya berbentuk oval, ada laci-laci kecil di sebelah kiri dan kanan. Di kakinya ada ukiran sulur-sulur daun dan bunga yang senada dengan kaki pigura cermin yang menempel di sisi depan meja. Pigura itu juga berbentul oval dan bisa digerakkan maju mundur. Sayang beberapa ukiran sudah rusak dan terlepas. Cermin bevelnya pun tampak kusam dan bernoda. Juga handel di laci-lacinya sebagian juga sudah hilang. Tapi itu semua tergolong kerusakan kecil dan bisa diperbaiki. Yang pasti tidak perlu merombak terlalu banyak.

“Hayooo... mau ngambil ya?” gurau mas Rudi sambil menepuk bahuku.

“Ah, nggak lah, meja ini terlalu besar bila ditaruh di kamar kita. Aku cuma membayangkan saja, bila sudah diperbaiki pasti tampak bagus... mmhm... bisalah aku tawarkan ke teman-teman arisanku.”

“Kalau itu aku setuju!” jawabnya 

“Komisinya loh...” candaku.

“Hahaha... iyalah. Komisinya nanti gedhe... jadi bisa buat bayar tagihan listrik, pam, telp...”

“Huuuu... sama aja dong!” potongku cepat.

Kami tertawa bersama. Lalu kami melanjutkan melihat barang-barang yang lain. Ada almari pakaian yang lumayan usang, ada kursi-kursi rotan yang rotannya sudah pada rusak... juga ada sebuah piano? Aku tertegun melihatnya, beneran nih mas Rudi membeli piano bekas? Buat apa? Kayaknya selama ini mas Rudi selalu membeli barang yang fungsional alias bisa digunakan untuk rumah tangga. Kok ini piano rusak?

“Ini...” aku menunjuk piano itu dengan wajah penuh tanda tanya.

“Ooh... ya, itu piano tua yang bisa dibilang antik.” 

“Tumben Mas beli?” tanyaku setengah menyelidik.

“Aku beli karena sudah ada yang mau,” lanjutnya “Pak Warjo yang pedagang barang antik itu sudah mau membelinya. Aku kan telpon dia dulu menggambarkan bagaimana barangnya. Dan dia setuju tuh untuk mengambilnya.”

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasannya, ya syukurlah kalau sudah ada yang mau membeli piano ini. Karena biasanya barang yang laku adalah barang yang bisa dipakai. Kalau mau stock barang kayak piano ini... wah repot. Kata orang uang berhenti! 

Kulihat lagi piano tua itu. Sepertinya tidak ada istimewanya... atau aku kali yang tidak mengerti kriteria barang antik. Bahkan tuts-tuts nya sebagian sudah rusak dan sebagian lagi nggak ada. Memang sih secara keseluruhan piano ini tampak kokoh dan tampaknya dikerjakan dengan halus dan teliti. Kesan mewah masih bisa dirasakan meski piano itu rusak disana sini. 

“Bingung ya lihat piano rusak ini?” ledek suamiku.

“Aku juga bingung kok awalnya, bagaimana bisa pak Warjo berani menerima hanya dengan mendengar penjelasanku via telpon. Dia nggak lihat sendiri loh. Makanya piano itu aku foto melalui handphone dan kukirim ke dia... buat meyakinkan aja. Rugi lah kalau terlanjur beli tapi nggak bisa melemparnya,” panjang lebar mas Rudi menjelaskan kepadaku.

“Mmhmm..” aku bergumam.

“Terus, perbaikannya bagaimana?” tanyaku.

“Tidak perlu perbaikan. Pak Warjo maunya mentah begini aja. Takut kesan antiknya hilang. Malah kebetulan kan?” jawabnya setengah bertanya.

Aku mengangguk-angguk, seraya berkata, “Iya lah yang penting bisa jadi duit.”

“Ini pak Warjo lagi di luar kota, mungkin seminggu lagi bisa kesini buat ambil piano ini,” kata suamiku lagi, tapi aku tidak begitu hiraukan karena selain tidak tertarik dengan piano itu, mataku juga melihat sebuah box bayi cantik yang ada di sebelah piano.

“Eh lihat nih... ada box bayi... lucu ya!”

“Sayang anak kita sudah gede...” timpal suamiku setengah menyindir.

“Iya... iya... aku kan nggak bermaksud mengambilnya. Feri, anak kita kan sudah besar... Aku cuma bilang box bayi dari kayu ini lucuuuuu,” sungutku sambil memajukan bibir.

Anak kami satu-satunya memang sudah besar dan sekarang sudah kuliah semester tiga serta kost di kota lain. Mungkin kalau anak kami masih bayi... heheheh... box itu pasti kuambil.

Sambil berjalan berkeliling gudang, kami ngobrol membicarakan barang-barang tersebut. Tak terasa hari sudah menjelang petang. Hari itu hari Minggu jadi gudang sepi tanpa pekerja. Setelah mengunci pintu depan dan belakang gudang, kami berdua berjalan menuju rumah kami yang terletak di sebelahnya. 

Memang lebih enak punya bengkel kerja dekat rumah, selain mudah memantaunya juga bisa ditinggal mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain. Terlebih suamiku, kalau pas tidak banyak pekerjaan dan tidak ada janjian sama pembeli kadang dia menyelinap pulang untuk tidur sebentar di rumah. 

Kalau aku sih cuma mengurusi administrasi ringan, keuangan dan konsumsi para pekerja. Dibantu seorang staff perempuan dan dua orang juru masak, membuatku tidak terlalu sibuk mengurusnya, masih adalah waktu luang buat diri sendiri. Hanya saja rumah dan tempat kerja yang satu lokasi membuat suasana seperti tidak sedang bekerja, apalagi usaha itu juga kami jalankan berdua.

Malam itu aku menonton sinetron kesukaanku, sedang suamiku sudah keluar untuk tugas ronda dan seperti yang sudah-sudah dilanjutkan ngobrol di pos, biasanya nanti jam dua dini hari dia pulang kembali. Malam pun merambat, aku mulai merasa mengantuk. Kumatikan televisi. Setelah mengontrol pintu dan jendela apakah sudah dikunci, aku ke kamar tidur. Kurebahkan badanku dan tak seberapa lama akupun tertidur.

Setengah mengantuk tiba-tiba aku mendengar suara denting piano, meski pelan tapi cukup terdengar. Kucoba membuka mata meski terasa berat, lalu kutajamkan telingaku, memang ada suara piano. Ah... tetangga punya piano baru kali, begitu pikirku. Gila malam-malam begini kok ya berlatih main piano. Nggak terlalu keras sih tapi suasana malam yang sepi membuat suara-suara begitu jelas. 

Kulihat jam dinding, sudah menunjuk pukul satu lebih beberapa menit. Akupun mencoba untuk tidur kembali, tapi aku terjaga lagi setelah mendengar suara pintu yang dibuka. Kuambil jaket lalu keluar kamar menuju ruang depan, benar saja... suamiku sudah masuk dan mengunci kembali pintunya.

“Loh belum tidur?” kata suamiku begitu melihatku ada di ruang depan.

“Nggak bisa tidur Mas, apalagi ada tetangga yang memainkan piano malam-malam. Emang siapa sih yang punya piano baru?” kataku.

“Piano?” seru suamiku kaget, “Kayaknya aku tidak mendengar suara piano tuh? Ah mungkin suara dari televisi yang lupa dimatikan ya?”

Aku menggeleng. Aku tahu pasti aku sudah mematikan televisi. 

“Ah... ya... mungkin saja!” jawabku pendek. Aku tidak mau memperpanjang, sudah malam. Apalagi kulihat suamiku juga sudah kelihatan lelah ingin tidur. Aku sendiri juga masih mengantuk. Kami berdua lalu berjalan menuju ruang tidur. Sebelumnya mas Rudi mencuci muka dan menggosok gigi lalu menyusulku ke ruang tidur. Entah mengapa mataku sulit sekali dipejamkan, padahal rasa kantuk mulai menyerangku. Kulihat mas Rudi di sebelahku sudah tidur nyenyak. Aku merasa yakin bahwa tadi aku mendengar suara denting piano. 

Tapi... ah entahlah.

Aku bangun, dan kulihat mas Rudi sudah tidak ada. Kudengar suara-suara yang cukup ramai dari arah gudang. Kutengok jam dinding, gilaa... aku benar-benar bangun siang. Setelah merapikan peraduan kami, aku bergegas mandi dan setelah itu mengecek dapur. Kulihat mbok Darmi dan mbok Enok sedang sibuk memasak buat tukang-tukang nanti siang.

“Masak apa Mbok?” tanyaku basa-basi karena sebenarnya aku sudah tahu menunya. Kan aku sendiri yang bikin daftar menu untuk seminggu ke depan.

“Sayur asam Bu,” jawab mbok Darmi pendek sambil terus meneruskan memotong-motong sayuran. Sedang mbok Enok sibuk mencuci potongan ayam yang akan dibuat ayam goreng.

“Ya sudahlah, aku mau menengok gudang sebentar ya!” kataku pada mereka berdua. 

Aku kembali ke kamar buat berganti pakaian yang pantas untuk urusan pekerjaan, tapi ternyata mas Rudi sudah ada di dalam kamar.

“Kirain masih tidur!” ledek suamiku sambil tersenyum.

“Semalam aku pusing Mas, jadinya nggak bisa tidur,” jawabku sedikit berbohong.

“Oh... kalau masih sakit ya tidur saja dulu dan minum obat,” lanjut mas Rudi

“Ah nggak juga... sudah mendingan kok. Tidur terus malah tambah pusing!” jawabku kembali

“Ini loh, Fitri –staff administrasi kita– sedang tidak masuk karena anaknya sakit. Aku perlu melihat daftar pembelian dari pak Suratman. Bisa bantu?”

“Tentu dong, sebentar aku ganti baju dulu nanti aku ke gudang.”

“Oke. Aku tunggu di gudang ya?”

Setelah berganti pakaian aku bergegas menuju gudang. Kulihat para pegawai sedang memperbaiki barang-barang. Aku langsung menuju ruang kantor yang terletak agak di tengah, kubuka pintunya dan kututup kembali agar debu-debu tidak masuk ruang kerja. Kutarik laci almari file dan kucari filenya pak Suratman. Kok tidak ada ya? Apa Fitri lupa mengembalikan? Kucoba mencarinya di tumpukan file di meja. Ternyata memang ada, pantesan mas Rudi memintaku mencarikan file itu... lha tidak di tempatnya sih. Suamiku itu memang paling malas mencari file administrasi. Dengan membawa file aku bergegas keluar menemuinya. Kulihat dia sedang sibuk memberi pengarahan kepada seorang tukang. Kutunggu dia sampai selesai lalu menghampirinya.

“Ini filenya Mas, memangnya ada apa sih?” tanyaku sambil menyerahkan file itu.

“Itu loh... ada barang yang mau minta tukar.”

“Lah... kan tidak boleh ada tukar barang,” protesku.

“Iya sih, tapi aku sudah terlanjur janji, untuk kursi taman ini,” jari suamiku menunjuk tulisan di nota pembelian, “Bisa ganti asal harganya sama atau lebih. Yaah pelanggan lama...”

“Ya sudah kalau memang ada persetujuan dari awal,” lanjutku, “Jadi nanti pak Suratman mau datang ya?”

“Mungkin minggu ini, kepastiannya nanti dia mau telpon dulu, sudah ini saja dulu mungkin kamu ada pekerjaan lain.”

“Yup... Aku mau ke rumah sebentar untuk lihat urusan dapur!” 

Akupun lalu ke arah depan untuk kembali ke rumah, tapi tiba-tiba mataku tertuju ke arah piano tua itu. Ada perasaan aneh menyergapku. Kuhampiri sejenak piano itu dan kuamati sekilas, aku tidak menemukan sesuatu yang tidak wajar. Lalu aku mencoba memainkannya, kutekan tuts tuts dengan jari-jari kedua tanganku. Tidak ada suara apapun bahkan ada tuts-tuts yang seperti macet tidak mau ditekan. Namun tiba-tiba tanganku seperti kaku, kurasakan seperti ada sepasang tangan yang memaksaku tidak melepas tuts-tuts itu. Semakin keras aku mencobanya semakin aku merasa kaku untuk melepasnya. Keringat dingin pun membasahi tubuhku.

“Hai... kenapa kamu?” tanya suamiku sambil melepaskan tanganku dari tuts-tuts itu.

“Eh... ah... aku... aku!” aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Piano ini tidak bisa dimainkan, kan sudah rusak,” kata suamiku.

“Ah cuma buat candaan aja kok!” jawabku menutupi kegugupanku. Sebenarnya aku ingin menceritakaan kejadian yang baru saja kualami kepadanya, tapi aku sendiri tidak yakin... itu benar ataukah cuma ilusiku semata, apalagi di gudang ini banyak orang dan di siang hari pula. Takutnya mereka tidak percaya dan malah menertawakanku.

“Tapi nggak lucu ah. Malu kan dilihat tukang-tukang!”

Aku terdiam, tapi juga merasa lega karena tanganku sudah terlepas dari piano itu.

“Masih seminggu lagi ya pak Warjo mengambil piano ini?” tanyaku berbasa-basi. Untuk mencairkan suasana.

“Nggak sih, katanya besok dia sudah pulang. Rencana keluar kotanya dibatalkan. Malah bagus kan? Lebih cepat dapat uang!”

Kami berdua tertawa. Syukurlah piano itu segera diambil. Ketika aku keluar kutengok sebentar ke arah piano itu, ada perasaan takut menyergapku.


Tiga Pocong Hadiri Pernikahan Tertangkap Kamera di Magelang

(Gambar Hanya Ilustrasi Bukan Tempat Kejadian Sebenarnya)


Sebuah pesta resepsi pernikahan biasa di Magelang mendadak jadi luar biasa. Hal ini karena resepsi pernikahan di Dusun Klodran, Desa Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu juga dihadiri tiga pocong. Tiga pocong itu ikut menyaksikan jalannya resepsi pernikahan yang digelar usai Lebaran 2012 beberapa waktu lalu. Kehadiran pocong tersebut segera menghebohkan warga sekitar yang saat itu juga hadir di acara tersebut.

Penampakan tiga pocong tersebut terekam dalam video yang diambil dari handphone salah seorang anggota keluarga yang punya hajat. Rekaman video itu pun segera menyebar dari handphone ke handphone. Nampak dari video, saat itu sedang berlangsung ritual ular-ular atau pidato nasihat kepada pengantin oleh seorang pranoto coro yang memandu jalannya upacara pernikahan. Saat ular-ular berlangsung kamera merekam penampakan tiga pocong di sekitar pesta pernikahan. Pesta sendiri diselenggarakan dan dihadiri puluhan tamu yang berada di bawah tenda atau tratak (bahasa Jawa).

1. Pocong pertama 

Pocong tersebut berdiri tepat di depan panggung atau singgasana sang pengantin. Pocong ini tepat berdiri di depan pranoto coro yang saat itu sedang memberikan wejangan atau nasihat perkawinan kepada kedua mempelai.

2. Pocong kedua 

Pocong dalam posisi sedang duduk di kursi di antara para tamu yang hadir. Namun, sang tamu yang di sebelah pocong seakan-akan tidak menyadari bahwa di sebelahnya duduk pocong dengan santainya.

3. Pocong ketiga 

Pocong memperlihatkan wujudnya lebih besar dari dua pocong yang lain. Hal ini karena penampakan pocong ketiga tepat berdiri di depan orang yang mengambil video.

Namun, karena posisi pocong membelakangi sang pengambil gambar yang menggunakan ponsel ini wajah sang pocong tidak terlihat wajahnya. Hanya bentuk sosok pocong yang sedang bersandar di meja yang akan digunakan untuk prasmanan.

Namun, tak semua orang percaya dengan kejadian tersebut. Banyak juga yang menyebut video itu hanya rekayasa, tetapi banyak orang percaya bahwa dalam video itu adalah pocong asli. Menurut paranormal asal Semarang, Subarno, penampakan ini asli alias tidak ada rekayasa.

“Tiga pocong yang hadir dalam pernikahan asli bukan video atau pocong rekayasa. Tidak mungkin orang yang melaksanakan pesta pernikahan dengan sengaja menaruh pocong apalagi merekayasa video pernikahan dengan menaruh pocong di antara banyak orang di pesta pernikahan,” tuturnya.

Menurutnya, ketiga pocong itu merupakan arwah leluhur karena pada malam hari sebelum pesta pernikahan, pihak keluarga mempelai wanita yang menggelar pesta pernikahan itu telah menggelar pajatan atau tahlilan.

“Sehingga karena disebut namanya satu-persatu saat tahlilan malam hari sebelum pesta pernikahan gawe besar anak cucunya digelar, beberapa arwah termasuk ketiga pocong itu secara tidak sengaja tertangkap kamera ponsel yang secara tidak sengaja ada salah seorang anggota keluarga yang merekam video,” ujarnya.

Kemungkinan lain, jika nenek dan kakek pengantin mempelai wanita adalah orang pintar atau paranormal yang sering dimintai tolong, tiga pocong itu mahluk halus yang merupakan teman yang –dalam dunia metafisika– dekat dengan kakek dan neneknya.

Istilahnya jin arwah atau pengikut dari kakek dan nenek mereka selama memberikan pertolongan kepada orang lain.

“Yang pasti fenomena kedatangan pocong yang terekam dalam video itu asli dan bukan rekayasa teknologi. Ketiga pocong itu hanya ingin menyaksikan orang-orang dekat mereka masuk ke lembaran kehidupan baru yang nantinya akan melahirkan dan meneruskan keturunan mereka,” ucapnya.


Monday, January 10, 2022

Penampakan Pocong di Sungai Pelus

(Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi)


Tentu kita sudah hapal dengan film-film produksi lokal yang bergenre horror alias hantu, biasanya sih berwujud pocong. Ada banyak model, dari pocong mengerikan dan dibuat menakutkan sampai pocong gaul yang bikin kita para penonton malah tersenyum simpul bahkan tertawa. 

Aku sendiri yang belum pernah melihat hal begituan secara langsung tentu berpendapat itu cuma akal-akalan para pembuat film saja agar bisa menarik penonton, tapi ternyata ada sebuah kejadian yang tidak bisa kami (aku dan teman-temanku) lupakan mengenai pocong itu.

Saat itu di hari Kamis siang aku dan beberapa temanku sedang duduk-duduk di taman kampus. Di bawah pohon rindang dan di atas bangku beton panjang kami bercengkerama bercerita kesana kemari.

“Wah nyantai dulu ah... kan ada jeda untuk jam kuliah selanjutnya!” ucap Andi.

“Iya... ngapain juga mesti pulang dulu ke kost, mendingan ngobrol-ngobrol dulu!” tambah Bella mengamini ucapan Andi.

“Enakan ngobrol apa ya? Ada topik seru nggak nih?” tanyaku menawarkan kepada teman-teman untuk membuat topik yang asyik buat bahan obrolan.

“Kalau topik bola, kalian para cewek tentu nggak ada yang tertarik!” sungut Andi sambil mencibirkan bibir.

“Kalau bola sih nggak tertarik, tapi kalau para pemainnya... baru tertarik, kan pemain bola ganteng-ganteng dan atletis!” sahut Bella kalem.

“Yaaahh... kalian tuh, bola mah yang penting gimana bisa bikin gol! Mau ganteng atau nggak yang penting prestasinya!” sergah Andi menanggapi pernyataan Bella.

“Kan asyik tuh membahas pemain bola dan pacar-pacarnya yang cantik itu, mereka...” belum selesai Bella bicara sudah dipotong Budi teman kami yang lain.

“Gossip lagi... gossip lagi!” Budi angkat bicara.

“Iya nih… cewek-cewek sukanya ngegossip aja!” Andi mendukung Budi.

“Mendingan kita cerita yang umum saja tidak bikin gossip! Kan dosa tuh kalau membicarakan orang lain!” Budi berkata dengan bijak laksana seorang uztad saja.

“Mmhmm... betul!” gumam Andi sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.

“Kita membahas kejadian mutakhir aja... yaitu k-o-r-u-p-s-i!” aku menawarkan topik dengan mengejanya.

“Wah kalau bicara angka-angka yang dikorupsi bikin kita jadi ngiler tuh! Gila... uang segitu gedenya dibagi-bagi kayak bagi-bagi permen aja!” sahut Budi cepat.

Dia memang terkenal kritis, bahkan dia itu juga paling suka kalau diajak demo. Kalau aku sih malas, panas-panas mesti jalan kaki, mendingan nyantai di rumah kan... hehehhe... tapi karakter orang memang macam-macam, bagaimanapun aku tetap menghargai karakter Budi.

“Namanya juga korupsi berjamaah!” timpal Andi bersemangat.

“Melakukan kejahatan kok berjamaah ya?” balas Ana dengan nada bertanya.

“Ya iyalah... agar ada teman nanti kalau di penjara atau di neraka... hahahah!” sahut Bella seenaknya, kami semua tertawa mendengarnya.

“Begini teman-teman!” tanpa diminta Budi mulai menganalisa, “Kalau mereka melakukannya secara berjamaah itu juga bermanfaat sebagai perlindungan bagi mereka sendiri. Bayangkan kalau kita mendapat cipratan uang masak mau melaporkan? Bunuh diri dong namanya, makanya kejahatan yang terstruktur begitu susah banget diuraikan, maklum mereka saling melindungi!”

“Wah tepuk tangan buat calon dosen kita nih...” gurauku sambil bertepuk tangan, teman-teman yang ikut-ikutan bertepuk tangan.

“Kalian tuh... diajak berdiskusi malah meledek, huuu...!” tukas Budi sambil memonyongkan bibir.

“Kita nonton film aja yuk!” tiba-tiba Ana berkata seraya menunjukkan sebuah halaman koran yang memuat jadwal film di bioskop.

“Ganti topik nih ceritanya?” seruku, mataku juga langsung tertuju ke lembar koran itu. Diikuti teman-teman yang lain, akhirnya kami berkerumun membentuk lingkaran tidak beraturan untuk melihat jadwal film tersebut.

“Wah kalau film barat ini aku sudah nonton, lumayanlah!” teriak Andi keras, jarinya menunjuk ke sebuah iklan gambar film tersebut.

“Ini aku juga sudah nonton!” Bella turut menunjuk ke koran itu tapi dengan jenis film yang berbeda.

“Kita nonton film pocong aja… tuh lihat... kayaknya serem!” seru Ana memperlihatkan sebuah film pocong yang terpampang disitu.

“Nggak takut kamu nonton film horror gituan, nanti nggak bisa tidur?’ tukas Andi meledek Ana.

“Iiih sorry ya... aku kan bukan cewek penakut, emangnya Bella dan Eni!” sahut Ana membela diri. Merasa dianggap kecil, aku dan Bella berontak.

“Enak aja... aku nggak sepenakut itu!” elakku cemberut.

“Iya nih… siapa pula yang penakut!” sungut Bella berada di pihakku.

“Oke… oke, kalau gitu, kita nonton film pocong aja...!” ucap Andi menengahi.

“Kapan?” tanyaku.

 Biasanya tuh rencana tinggal rencana, kadang semua setuju untuk melakukan sesuatu tapi dengan bergesernya sang waktu semua jadi mengendur dan tidak kejadian... ada yang malas, ada yang tiba-tiba ada acara, ada juga yang malahan lupa. 

“Nanti sepulang kuliah!” jawab Andi lugas.

“Hah... habis kuliah langsung nonton?” seruku tidak percaya.

“Iya... kan jadwal kuliah hari ini tidak padat, hanya sampai setengah hari saja!” balas Andi.

“Daripada bengong di rumah atau kost mendingan nonton film ramai-ramai... seru kan? Apalagi film tentang pocong...!” timpal Ana

“Benar juga ucapan Ana... ayolah kalau gitu!” seruku, “Gimana dengan Bella dan Budi? Ikutan nggak?”

“Ya iyalah...!” jawab Bella.

“Aku ikutan juga, biar tambah meriah!” gurau Budi.” Oh iya aku bawa mobil nih, jadi kita bisa pergi barengan.!”

“Asyik... enaknya punya teman kaya... hahahah!” gurauku.

Akhirnya selesai kuliah hari itu kami sepakat berangkat bersama ke gedung bioskop, sebelumnya kami sempatkan dulu makan siang di kantin kampus, kalau nonton film dalam kondisi lapar tentu tidak nyaman. Setelah membeli tiket, kami menunggu di ruang tunggu sambil ngobrol-ngobrol mengisi waktu.

“Habis nonton film kita mau ngapain nih?” tanya Bella membuka pembicaraan.

“Pulang lah...!” cetus Andi pendek.

“Yah... nanggung tuh... masih sore!” balas Budi santai.

“Terus mau kemana dong?” tanyaku.

“Window shopping aja... jalan-jalan di pusat perbelanjaan!” balas Bella.

“Setuju setuju...!” sambarku sumringah. Aku mengacungkan jempol ke arah Bella.

“Huuuuuu...!” berbarengan Andi dan Budi memonyongkan mulut.

“Ogah ah ke mall... males!” tambah Budi.

“Iya nih cewek... suka belanja melulu!” Andi menimpali.

“Bukan belanja! Nggak punya duit, jalan-jalan aja...!” terang Bella.

“Ngapain ke mall kalau nggak belanja, buang-buang waktu aja!” potong Andi.

“Mendingan futsal... olahraga bikin sehat!” imbuh Budi.

“Huuuuuuu...!” gentian Bella dan Ana yang mencibirkan mulut.

“Bagaimana kalau kita main ke sungai Pelus. Sungai itu dekat rumahku kok!” Ana berusaha menengahi, lanjutnya, “Sore hari menjelang petang kan asyik main-main di sungai... adem gitu!”

“Kayak anak kecil aja main air!” ternyata Bella kurang suka.

“Tapi kayaknya asyik juga tuh mengulang masa kecil... hehehehe!” balasku menyetujui usulannya.

“Benar juga tuh... buat mengisi waktu oke juga kayaknya!” Budi menyatakan bersedia.

“Mmhmm... iyalah, sesekali main air!” tambah Andi mengiyakan.

Bella pun tak berkutik karena mayoritas bersedia menghabiskan waktu buat bermain di sungai Pelus.

“Iya deh... aku nyerah... aku ikutan aja!” akhirnya Bella menyerah.

Dan acara yang ditunggu tunggu tiba juga, akhirnya kami berlima memasuki gedung bioskop, kami sengaja memilih tempat duduk di baris paling belakang agar lebih asyik dan leluasa, terlalu dekat dengan layar juga tidak enak, bikin mata gampang capek.

Film dibuka dengan tiga orang lelaki yang di jagad hiburan sudah sering malang melintang, disitu diceritakan mereka baru ada kegiatan ronda, naasnya saat harus melewati kuburan ada pocong yang nongol dan menganggu mereka. Kisah serem bercampur konyol teramu dengan manis, kami tidak perlu mengernyitkan dahi untuk memikirkan jalan cerita, karena memang tidak ada inti cerita yang bisa dipetik kecuali kesan mencekam bercampur komedi. Film yang kami tonton ringan saja.

“Yaah... filmnya kurang seru, lucu malah! Masak pocong kayak gitu!” seru Budi begitu ruangan teater kembali terang menandakan film sudah selesai diputar.

“Namanya juga horror komedi!” ucap Andi menimpali. “Pocongnya emang dibikin buat lucu-lucuan aja!”

“Pocong kok lucu... serem tahu!” sergah Bella.

“Iya, benar yang Bella bilang. Lihat make up si pocong, lumayan serem tuh!” aku membelanya karena aku juga agak takut melihat film tadi, meski sesekali aku tertawa saat ada adegan yang lucu karena si pocong ternyata gaul juga… heheheh.

“Make up-nya sih ok... tapi ceritanya kurang ada gereget!” Budi mencoba menganalisa.

“Sudahlah, ayo kita pulang, tuh kursi kursi juga mulai kosong,” pinta Ana melihat ruangan yang mulai longgar, sudah banyak penonton yang meninggalkan kursi. Kami memang sengaja duduk dulu menunggu sepi, malas rasanya mesti berdesak-desakan keluar ruangan. Toh pulang paling akhir juga tidak masalah.

Sesampai di parkiran, cuma ada beberapa motor dan mobil yang tersisa.

“Kalau longgar gini kan enak!” ucap Budi sambil menyalakan mesin mobil. 

Budi duduk di depan kemudi ditemani Andi di sebelahnya, sedang Ana, Bella dan aku duduk di kursi belakangnya.

“Eh tapi kok aku kelaparan ya?” seru Andi sambil kepalanya memutar ke belakang, ke arah kami para cewek.

“Jam nanggung begini, jam makan siang sudah kelewat... eh jam makan malam belum masuk!” sergah Bella.

“Makan melulu...! Bikin gendut tahu!” sewot Ana, diamini aku dan Bella

“Tapi kalau lapar mau gimana lagi... ini perut sudah protes nih!” Andi membela diri.

“Sudahlah... emang mau makan apa?” Budi menengahi, tampaknya dia juga ingin makan.

 “Makan bakso di warung pak Kumis aja. Gimana?” Andi tidak menyerah, sejenak dia mengalihkan pandangan ke arah Budi seperti minta persetujuan.

“Setuju... setuju!” timpal Budi membela Anton, mungkin karena sesama lelaki ya... heheheh.

“Ya sudahlah, kita ikuti kata ketua rombongan!” kata Ana mengalah.

Akhirnya kami mampir dulu ke warung bakso pak Kumis untuk sekedar melepaskan lelah sekalian menyantap bakso dan minum es teh. Sore mulai datang tapi geliat kota malah semakin ramai, banyak orang yang duduk-duduk bersantai sambil menikmati bakso atau mie ayam. 

Agaknya Budi dan Andi tahu diri, kalau terlalu lama tentu mereka tidak enak dengan kami semua. Bukankah kami berencana mau main ke sungai Pelus dan akan mengantar kami para cewek ke rumah atau kost masing-masing? Akhirnya selesai makan bakso kami langsung tancap gas menuju sungai Pelus.

Karena sudah mulai petang dan hampir Maghrib jalanan menuju sungai Pelus tidak terlalu ramai. Kebanyakan orang pulang ke rumah masing masing setelah seharian bekerja, beda dengan kami yang hanya bertujuan main-main saja.

“Tuh lihat, di samping baliho itu ada jalan masuk, kita lewat situ!” seru Ana sambil menunjuk sebuah baliho besar yang terpampang di pinggir jalan utama, disitu memang ada ruas jalan masuk. 

Budi mengikuti arahannya, “Masih jauhkan dari belokan itu?” tanyanya kemudian.

“Ah mungkin sekitar dua kilometer kok!” jawab Ana santai.

“Dua kilometer? Wow… jauh juga ya,” seru Budi lagi.

Ternyata dari belokan jalan utama tadi kami mesti melewati lahan persawahan yang membelah jalan yang kami lalui. Suasana sepi terasa sekali, meski tidak turun hujan tapi langit gelap tertutup awan mendung, membuat sore menjelang petang itu semakin mencekam. Angin bertiup sepoi sepoi dengan leluasa menggoyang goyangkan dedauanan di sekitarnya. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan ini juga seperti hidup menunjukan keperkasaanya. 

“Jalan kok sepi sekali sih? Nggak ada yang lewat kecuali kita nih!” seruku sedikit gusar.

“Iya nih, kamu nggak takut ya Ana kalau mesti pulang malam sendirian?” tambah Andi sambil memalingkan muka ke arahnya.

“Yaahhh… kalau pagi, siang dan sore jalan ini lumayan ramai, tapi kalau sudah petang begini ya siapa juga yang mau... apalagi mendung begini, mendingan di rumah kan. Aku juga belum pernah pulang malam sendirian. Orang tuaku sudah wanti-wanti kalau ada kegiatan malam harus diantar jemput kakak, kecuali sudah ada pengantar seperti saat ini nih!” urai Ana panjang lebar.

“Tentu saja namanya orang tua, pasti protektif sekali sama anaknya, apalagi anak perempuan!” Budi angkat bicara dari belakang kemudi.

“Eh, di depan ada pertigaan tuh! Ambil yang mana? Kiri apa kanan?” tanya Budi. Kami sudah melewati persawahan yang panjang, sekarang kami menemui pertigaan menuju sungai Pelus yang tadi diusulkan sama Ana.

“Ambil yang kiri, Bud!” jawab Ana cepat.

Budi pun lalu membelokkan kemudi mobil mengikuti arah jalan. Dari sini sungai Pelus sudah mulai kelihatan. Akhirnya kami sampai juga. Setelah memarkir mobil di tempat yang lapang, kami keluar dengan bertelanjang kaki dan berlarian menuju sungai.

“Wah asyik tuh... bisa main air!” celetuk Andi. Dia sudah menyingsingkan celana panjangnya sebatas lutut.

“Heheheh... adem rasanya!” tambah Budi

“Yuk kita foto bersama!” usul Ana seraya mengeluarkan handphone-nya dan bersiap memotret.

Kamipun ambil posisi untuk bergaya. Tapi mendadak Ana berteriak.

“Aaaahhh... ada... ada...!” teriaknya kencang dan keras. Kami sampai terlonjak saking kagetnya.

“Ada apa sih Ana? Bikin kaget aja!” seru Budi tidak kalah keras, dia mungkin kesal karena sudah bergaya tiba-tiba dia harus menghentikan karena teriakan tadi.

“Aku... aku... tadi... seperti lihat… lihat...!” Ana tidak mampu mengutarakannya karena dia sendiri tampaknya tidak percaya dengan apa yang dilihat.

“Lihat apa Non...?” tanya Andi penasaran.

“Anu… ehmm... po... po... pocong!” jawabnya terbata-bata.

Kamipun tertawa terbahak bahak.

“Woiii... bangun non! Filmnya sudah berakhir sedari tadi!” tukas Andi tidak percaya dengan apa yang Ana katakan.

“Sumpah… swear!!! seru Ana dengan nada tinggi, meski dia juga kurang begitu jelas dengan apa yang dilihat sebab cuma melihat sekilas.

“Ya udah kita berpencar berburu pocong, siapa tahu Ana benar-benar melihat pocong yang tadi nongol di film!” celetuk Budi santai seakan ingin menelannya dengan ledekannya itu.

 Teman-teman yang lain cekikikan, tapi mereka tidak berkeberatan dengan ide Budi. Kami lalu melihat sekeliling, mengikuti cerita Ana bahwa dia sudah melihat pocong.

 “Mana pocongnya? Sembunyi kali ya? Malu ketemu cewek!” gurau Andi sambil melirik Ana.

“Bukan malu... tapi mau ngajak pocong yang lain buat kenalan... hahahahah!” Budi tertawa ngakak.

“Apalagi ini kan mau masuk ke malam Jum’at Kliwon. Para hantu ngapel cewek pas hari itu!” imbuhku bercanda.

Kembali kami tertawa cekikikan, sedangkan Ana cemberut saja. Anehnya... angin di saat petang itu terasa dingin, segera menyergap kami, apalagi angin yang bertiup sedikit kencang, membuat hawa dingin semakin melingkupi kami semua.

“Tadi aku lihat disitu!” Ana menujukkan jari di pinggiran sungai.

“Halah, paling kamu kebawa film yang tadi kita lihat!” sergah Bella sambil tersenyum dikulum.

Ana benar-benar keki dengan ledekan teman-temannya, apakah mungkin tadi cuma pikirannya sendiri karena terbawa film yang barusan dia tonton? Dia mulai goyah dengan keyakinannya. Tapi sesaat kemudian terdengar teriakan Bella.

“Eh... apa itu?” teriak Bella terdengar bergetar seperti orang yang ketakutan. 

Kami mengikuti arah jari Bella yang menunjuk di sisi sungai. Saat itulah kami terkejut bukan kepalang. Kami melihat sosok putih dengan wujud pocong, pocong itu seperti membelakangi kami. 

Namun kami kembali dibikin terkejut saat dengan tiba-tiba pocong itu berbalik dan menatap ke arah kami, kami bisa melihat rupa pocong itu. Wajahnya pucat pasi, matanya seperti bulatan hitam tiada sinar kehidupan yang terpancar, kain putih membungkus sekujur tubuhnya dengan tali tali yang mengikatnya. 

Tiba-tiba pocong itu melompat-lompat kedepan seakan mau mendekati kami. Langsung saja kami berhamburan berlari berebut kembali menuju ke mobil, setelah semua masuk mobil, selanjutnya Budi tergesa menyalakan mesin dan langsung tancap gas.

Akhirnya kami sampai di rumah Ana. Kami juga bercerita tentang penampakan hantu pocong kepada orang tuanya, hanya saja mereka tidak percaya dengan cerita kami berlima. Meski tidak menyangkal dengan keras tapi mereka mengatakan mungkin kami terbawa film pocong yang barusan dilihat. 

Tapi menurut cerita banyak orang, juga berdasarkan informasi yang beredar, lokasi di sekitar kami mau berfoto itu merupakan daerah “wingit” (angker) dan kerap terlihat makhluk halus, katanya sih banyak makhluk halus yang menghuni daerah ini yang terbentuk dari endapan lumpur sungai itu, mereka juga mengatakan, kejadian-kejadian aneh sering dijumpai warga setempat. 

Menurut kabar, konon pernah ada seseorang yang sedang berdiri di sekitar tempat itu, tiba-tiba ada sesuatu yang meniup dari belakang. Bahkan, ada orang yang sedang tiduran, tiba-tiba kakinya diangkat dan diputar, nah kalau sudah begini cerita yang beredar bisa jadi hantu pocong itu memang benar ada di sungai Pelus itu.


Monday, January 3, 2022

Misteri Patung Loro Blonyo Antik

(Gambar Hanya Sekedar Ilustrasi)


Awalnya aku juga tidak tahu apa itu Loro Blonyo, tapi setelah aku mengalami kejadian aneh beberapa tahun silam, aku jadi tertarik untuk mencari informasi tentang itu, jadi sebelum aku menceritakan peristiwa itu alangkah baiknya kalau aku berbagi informasi kepada kalian apa itu patung Loro Blonyo.

Loro Blonyo merupakan patung yang berujud sepasang pengantin Jawa yang menggunakan pakaian adat Jawa dengan atribut lengkap, menggunakan beskap untuk pengantin pria dan basahan untuk pengantin putri. Pada awalnya patung Loro Blonyo berbentuk pengantin Jawa dengan posisi duduk, namun seiring perkembangan jaman dan perkembangan seni-rupa kontemporer, patung Loro Blonyo mengalami proses perubahan bentuk. Ada yang berdiri dan ditambah aplikasi lain-lainnya, namun dalam perubahan bentuk tersebut patung Loro Blonyo tetap memperhatikan pakemnya yaitu sepasang pengantin Jawa dan bentuk pasangan pengantin Jawa tersebut adalah pakem dari patung tersebut, mengenai busananya menyesuaikan daerah setempat, yaitu gaya pakaian adat Jawa gaya Surakarta ataupun gaya keraton Yogyakarta. 

Dalam menggambarkan suatu fenomena budaya, orang Jawa senantiasa terlingkupi oleh pengaruh alam semesta yang bersifat material maupun yang tidak kasad mata. Demikianlah visualisasi Loro Blonyo terbuat dari sepasang patung dibuat dari bahan kayu, atau tanah liat, yang terdiri dari patung seorang perempuan –rara– yang didampingi seorang laki-laki dengan mengenakan busana perkawinan adat Jawa, gaya basahan dalam posisi duduk yang penempatannya pada rumah joglo, yaitu tepatnya di senthong tengah, atau di sebelah kanan, dan kiri krobongan yang berfungsi simbolis bagi pemiliknya.

Nah kisah yang terjadi adalah seperti ini. Siang itu, aku dan dua orang temanku, Yuli dan Nani, sudah siap di teras rumahku. Tas punggung mereka yang kelihatan sangat tebal diletakkan begitu saja di ujung sofa. Aku tiduran santai di atas sofa, kakiku kusilangkan di atas tumpukan tas mereka, Yuli duduk di kursi di sisi kiri, dia asyik membaca koran, sesekali dia memandang ke arah jalan. Sedang Nani, sedari tadi celingak-celinguk mengawasi jalan, menunggu dua teman kami lainnya yang belum datang.

“Ratna dan Dewi mana sih... kok belum datang juga...!” keluh Nani dengan berkacak pinggang.

“Santai kenapa? Sebentar juga nanti datang, kan tadi sudah sms kalau masih dalam perjalanan.” jawab Yuli santai.

“Huuh... tahu begini aku kan ikutan lambat!” sungut Nani lagi. Dia memang tIpe orang yang tidak sabaran. Tapi bagusnya dia memang tepat waktu, setiap kali ada janji dengan dia dijamin dia pasti sudah datang duluan.

“Yaa... sabar ajalah!” jawab Yuli pendek.

Aku menengok ke arah mereka lalu kataku, “Namanya juga numpang... hehehe!” kulihat Nani menyorongkan mulutnya sedang Yuli menendang kakiku pelan. 

Kami berlima memang berencana mau wisata ke Yogyakarta dengan menumpang mobil Ratna. Sebelumnya kami kalkulasi perkiraan jumlah pengeluaran, lalu kami bagi rata berapa iuran per orangnya, tentu saja itu khusus biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan bersama, sedang kebutuhan pribadi masing-masing ya ditanggung sendiri sendiri..

“Hei tuh... mereka datang!” teriak Nani senang, jarinya menunjuk nunjuk ke arah jalan. 

Yuli menutup koran dan meletakkannya kembali ke atas meja lalu ikut bergabung dengan Nani. Aku juga bangun dari tiduranku lantas ikut bergabung. Kulihat mobil Ratna dan Dewi beberapa meter di depan kami, setelah berhenti di depan teras, mereka keluar mobil dengan tertawa-tawa.

“Maaf... maaf...!” teriak Ratna sambil nyengir.

“Iya nih tadi mamanya Ratna menumpang sampai swalayan, jadilah kita menunggu mamanya siap dulu!” terang Dewi kepada kami.

“Kalau nggak mau ngantar mama... bisa repot aku, bisa nggak jadi wisata!” sambung Ratna setengah bercanda.

Kami menyadari itu mobil orang tua Ratna, jadi ya harus tahu dirilah.

“Tapi kita beruntung... nih!” Ratna mengangkat bungkusan plastik besar berisi aneka makanan dan minuman ringan, “Ini bekal dari mama untuk kita.”

Kami berlima tertawa, asyik juga dibekalin sama orang tuanya Ratna jadi kita bisa menghemat biaya.

“Ayo, kita berangkat sekarang!” ajak Nani.

“Bentar aku numpang ke kamar kecil dulu.” potong Dewi sambil menggandeng tanganku minta diantar ke kamar kecil.

“Iya, aku juga mesti ambil tasku... masih di dalam tuh!” kataku pada mereka sambil berjalan masuk ke dalam bersama Dewi.

Sesaat kemudian, kami sibuk memasukkan tas-tas bawaan kami ke dalam mobil, setelah selesai aku berpamitan dulu kepada kakakku.

“Kak berangkat dulu ya, pamitkan ke ayah bunda ya?”

“Yoi... hati hati ya!” jawab kak Leli. Ia keluar rumah dan menyalami kami satu persatu, lalu ia melambaikan tangan ke arah kami.

Selama perjalanan kami bersenda gurau, bergembira bersama. Ratna dan Dewi duduk di depan, Ratna yang pegang kemudi. Sedang Nani, Yuli dan aku duduk di belakang. Tiga dari kami, Ratna, Dewi dan aku bisa menyetir jadi kami bisa bergantian. Kami juga sudah reservasi penginapan di kota gudeg itu jadi kita tidak perlu repot-repot mencari hotel. Rencananya kami akan menghabiskan tiga hari berwisata di kota itu.

“Sampai Jogja kira kira jam berapa ya?” tanya Nani.

“Sabar sayang...!” canda Ratna.

“Iya nih Nani... nggak sabaran amat!” kata Dewi menimpali.

Nani cengar-cengir dikerubut tiga orang. Jawabnya, “Iya deh... aku tinggal tidur aja dulu!”

Kami perkirakan kita akan sampai di Yogyakarta menjelang malam, mungkin sekitar jam tujuh atau jam delapan malam, tergantung situasi jalan, maklum liburan begini jalan pasti ramai.

Benar juga, sampai hotel yang terletak di belakang kawasan Malioboro, jam menunjuk pukul delapan kurang beberapa menit. Setelah Ratna memarkir mobilnya, kami berjalan menuju lobby dengan membawa tas masing-masing. Di sisi kanan depan lobby kami melihat banyak penjual cinderamata menggelar barang dagangan mereka, kebanyakan produk fashion semacam kaos, baju baju batik dan sebangsanya, tapi juga ada cinderamata kecil-kecil seperti gantungan kunci, tas,dompet kecil, kipas dan banyak lagi.

Sampai meja resepsionis Dewi si ketua kelompok yang mengurus. Setelah mendapat dua kunci untuk dua kamar, dia memberikan satu ke Nani. Kami memang menyewa dua kamar untuk dua dan tiga orang. Ratna dengan Dewi di satu kamar, sedang Nani, Yuli dan aku di kamar yang lainnya. Nomor kamar kami berurutan.

“Eh teman-teman, nanti aku keluar sebentar ya, mau lihat-lihat cinderamata di depan. Bagus-bagus tuh kayaknya.” Ucapku sambil menunjuk depan lobby.

“Yaaahhhh kamu tuh, baru nyampai sudah mau belanja!” protes Yuli.

“Mestinya acara belanja tuh nanti kalau mau pulang.” sambung Nani

“Iya nih... ntar kehabisan uang baru tahu rasa tuh!” timpal Ratna sambil mencibirkan bibirnya ke arahku.

“Loh... yang mau belanja juga siapa? Aku kan bilang cuma mau lihat-lihat! Lagian daripada bengong ngantri mandi mendingan waktu dimanfaatkan buat cuci mata.” aku mencoba membela diri

“Iya... tidak apa-apa... tapi jangan lama-lama loh, nanti segera kembali ke kamar... terus mandi dan gabung dengan kita. Rencana kan mau makan malam bersama-sama!” Dewi membelaku. Dia memang pantas dijadikan ketua kelompok, bijaksana gitu loh... heheheh.

“Huuuu.” sungut teman-teman yang lain, tapi mereka tidak memaksakan kehendak. Setelah menaruh tas bawaan di dalam kamar, aku keluar seorang diri menuju depan lobby. Di situ sudah banyak pengunjung hotel yang berbaur dengan para penjual. Sebagian cuma melihat-lihat, sebagian lagi ada yang sudah tawar menawar dan melakukan transaksi. 

Aku sendiri sebenarnya cuma melihat-lihat, aku memang tidak bermaksud membeli, cuma ingin tahu harga-harganya saja. Tapi saat mataku tertuju pada pada sekumpulan patung kayu, aku jadi tergoda untuk melihat lebih lanjut. Di antara patung patung kayu itu ada yang berujud patung sepasang pengantin -lelaki dan perempuan dengan ukiran pakaian model Jawa. Patung patung itu tampak manis dengan hiasan manik-manik di bagian kepalanya laksana hiasan sanggul pengantin. Ada juga sepasang patung kayu yang kelihatan antik dengan warna memudar. Kuakui aku memang suka aneka macam boneka dari kayu. Mungkin terdengar konyol, hari gini suka boneka kayu... tapi namanya juga suka mau gimana lagi!!! Sebenarnya aku tidak bermaksud membeli, cuma sekedar melihat-lihat, setelah dirasa cukup akupun bermaksud kembali ke dalam untuk giliran mandi. Namun sebuah tangan menarik jaketku pelan, aku menengok ke belakang. Kulihat seorang perempuan muda yang tampak cemas memandangku nanar.

“Saya punya patung Loro Blonyo, milik sendiri, Mbak bisa lihat dulu!” kata dia dengan logat Jawa kental dan bibir sedikit bergetar. Sebenarnya aku malas menanggapinya. Tapi melihat dia seperti sungguh-sungguh akupun jadi tertarik, siapa tahu patung yang dia tawarkan memang istimewa?

“Patung Loro Blonyo... apa itu?” tanyaku pendek.

“Patung Loro Blonyo itu patung pengantin ala Jawa!” jelasnya pendek pula.

“Ini Mbak.” jawab dia sambil mengeluarkan sepasang patung pengantin ukuran kecil dari dalam tasnya yang lusuh.

Kuamati sebentar patung yang terbuat dari kayu itu, berukuran kecil saja. Polos tanpa manik-manik di bagian sanggulnya, mungkin tampak tidak menarik karena wujudnya patung kecil diukir laksana pengantin sederhana saja, tapi aku terkesima dengan kondisi patung itu, tampak tua dan antik. Sepertinya patung itu sudah cukup tua. Warna kayunya mulai menghitam di beberapa bagian karena faktor usia.

“Murah Mbak, limaratus ribu saja. Buat makan Mbak!” rengeknya memelas.

“Beneran patung pengantin ini punyamu?” tanyaku setengah tidak percaya, masak orang seperti dia bisa punya patung antik yang sehalus dan sebagus ini? 

“Punya nenek saya Mbak, tapi sudah meninggal dan patung ini diberikan kepada saya. Sudah saya coba jual di toko barang antik... tapi ditawar murah Mbak, padahal mereka kalau jual dengan harga sangat tinggi, apalagi kalau dijual ke pelancong, jadi mending dijual langsung ke pemakai.”

“Tiga ratus ribu ya?” tawarku sekenanya alias tidak sungguh sungguh.

Dia diam sebentar, kupikir dia tidak akan melepasnya eh ternyata dugaanku meleset.

“Iyalah Mbak...!” dia menyerahkan patung itu kepadaku, terpaksa deh aku membayarnya.

Setelah menerima uang, perempuan itu tampak tersenyum lega lalu dia beringsut dari hadapanku berjalan meninggalkan hotel. Tinggal aku sendiri yang sebenarnya agak kecewa dengan keputusanku membeli patung itu. Apakah aku membeli terlalu mahal karena aku menawar langsung diberikan? Tapi sudah terlanjur mau bagaimana lagi? Akupun kembali ke kamar.

“Yuli baru mandi ya?” tanyaku pada Nani, dia duduk kursi sedang menyisir rambut. Bunyi gemericik dari kamar mandi terdengar, pasti Yuli baru mandi..

“Iya... nanti giliran kamu.” jawabnya pendek sambil terus menyisisr rambut.

“Eh beli apaan tuh?” teriaknya mengagetkanku. Rupanya dia melihatku meletakkan patung pengantin itu di atas meja.

“Patung Loro Blonyo.” jawabku pendek sambil membaringkan tubuh di atas tempat tidur.

Nani bangkit dari duduknya dan mengambilnya, ia melihat-lihat sebentar lalu katanya, “Patung pengantin ini kayaknya sudah tua tuh?” Seperti tidak percaya ia mengamati dengan lebih teliti, “Iya nih... antik kayaknya. Mahal pasti, berapa kamu beli?” tanyanya lagi.

“Murah kok cuma dua ratus ribu!” aku berbohong, kan malu nanti diolok-olok kalau aku menyebut harga yang sebenarnya.

“Kubeli tiga ratus ribu boleh nggak?” tawar dia seperti tertarik

“Yee... antik gitu loh!” jawabku semaunya.

Nani bersungut-sungut mendengarnya, dia lalu meletakkan kembali patung Loro Blonyo itu di atas meja. Sebentar kemudian Yuli selesai mandi, dia keluar dengan handuk di atas kepalanya.

“Wah sudah datang nih... cepetan mandi sana.” ujarnya begitu melihatku. Aku bangkit dan masuk ke kamar mandi. Kunyalakan air panas dan air dingin berbarengan untuk mencari suhu yang pas untuk badanku yang capek ini, hangat-hangat kuku begitu kata orang.

Selesai mandi dan berdandan tipis, kami berlima berkumpul di lobby sebentar untuk membahas acara malam ini. Kami sepakat untuk keluar dengan berjalan kaki saja, makan di sepanjang jalan Maliobroro, lalu dilanjutkan jalan-jalan menikmati malam. Kami kembali ke hotel sekitar pukul sebelas malam, kaki kami pegal-pegal dan ingin segera tidur.

“Met tidur semua, besok jam tujuh pagi harus sudah siap loh!” Dewi, si ketua kelompok mengingatkan kami.

“Yaaaaa... bos!” jawab kami berbarengan sambil saling melambaikan tangan, lalu kami masuk kamar masing-masing.

“Wah capeknya...!” ujar Yuli sambil memijit kakinya. Dia langsung rebahan di tempat tidur. Nani juga ikut rebahan di samping Yuli, lalu berujar, “Tidur... tidur...”

“Iya... mari kita segera tidur, agar besok tidak kesiangan.” sambungku juga ikutan merebahkan diri.

Karena kami semua kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu di perjalanan, kami langsung terlelap dalam tidur, namun entah jam berapa aku tiba tiba terbangun, seperti setengah sadar, kudengar bunyi bunyi aneh yang berasal di atas meja, hidungku juga mencium bau melati yang begitu wangi. Dalam keadaan masih mengantuk aku menengok ke arah suara itu, kulihat sepasang manusia lelaki dan perempuan dalam balutan pakaian tradisional Jawa berdiri di samping meja dan bermain-main dengan patung itu, anehnya lagi mereka itu terlihat transparan, namun begitu mereka tahu aku menatap mereka, dalam hitungan detik mereka menghilang. Aku sangat kaget dan secara reflek menjerit.

Nani dan Yuli terbangun mendengar teriakanku.

“Ada apa nih... ada apa?” tanya mereka bersahutan.

“Eee... aaaa...” aku seperti sulit berkata-kata.

“Iya ada apa?” tanya mereka sedikit jengkel bercampur penasaran.

“Patung itu...” kataku tercekat sambil menunjuk ke arah kedua patung yang jatuh ke karpet.

“Lhah... cuma patung jatuh aja!” ucap Yuli sambil kembali tidur.

“Iya nih... bikin kaget aja...” timpal Nani manyun, dia juga kembali tidur.

Sedang aku duduk termangu di atas tempat tidur, aku tidak berani mengambil patung itu. Keringat dingin membasahi tubuhku. Mungkin aku akan terjaga semalamam. Kejadian tadi membuatku bergidik. 


La Planchada