Tuesday, November 19, 2019

Foto Misterius (Malang)


Karenina adalah seorang gadis yang berprofesi sebagai fotografer alam, dan dia memiliki sebuah pengalaman yang menakutkan mengenai rekan kerjanya yang berprofesi di bidang yang sama, kisah ini berawal dari temannya yang sedang mendapat sebuah single job untuk pengambilan sebuah objek panorama hutan di malam hari. Temannya itu mendirikan sebuah tenda dan menginap sendirian selama beberapa malam di dalam hutan dan... 

Apa yang terjadi padanya?

Simak kisah selengkapnya berikut ini.

Karenina adalah seorang fotografer begitu juga dengan temannya yaitu Kiara, tiga bulan yang lalu Kiara mendapat sebuah single job dari sebuah media advertising untuk mengambil sebuah objek panorama di hutan sebagai iklan media. 

“Apakah kau menerima job itu?” tanya Karenina.

“Ya, so pasti! Aku kan sangat suka dengan alam, dan ini adalah kesempatan baik yang selalu aku tunggu...” jawab Kiara penuh semangat.

Kiara memang sangat suka dengan dunia alam dan petualangan. Terkadang ia pergi ke hutan, atau ke sebuah padang gurun untuk mengambil beberapa gambar binatang dan tanaman. 

“Kira-kira kapan kau akan berangkat dan dimana lokasi pemotretan yang kau pilih, siapa tahu aku bisa mampir berkunjung kesana,” tanya Karenina penasaran.

“Hahaha... untuk kali ini proyeknya bersifat rahasia, nanti saja kalau sudah selesai pemotretannya, aku tunjukkan hasilnya kepadamu, kau pasti akan terkagum-kagum,” jawab Kiara.

“Oke lah kalau begitu. Oh ya, ngomong-ngomong siapa pendamping yang akan ikut bersamamu nanti?” tanya Karenina penasaran.

“Entahlah, tapi sepertinya untuk proyek kali ini aku tidak akan membawa pendamping,” jawab Kiara santai.
“Ah, yang benar saja. Kamu tidak takut Kiara, tinggal sendirian di dalam hutan?” tanya Karenina.

“Kau seperti tidak mengenalku saja, aku sudah terlalu sering melakukan pemotretan di daerah-daerah terpencil tanpa ada pendamping, dan semua berjalan baik-baik saja...” jawab Kiara.

“Iya ya... Benar juga katamu. Oke lah kalau begitu, aku doakan saja semoga proyekmu sukses,” kata Karenina.

“Oke, terima kasih Nina...” jawab Kiara.

Setelah Kiara menerima single job dari media advertising tersebut, dia memutuskan untuk pergi sendiri tanpa rekan pendamping ke sebuah hutan yang sangat terpencil dan mendirikan tenda disana. Selama berada di hutan itu, ia memuaskan dirinya dengan memanfaatkan semua kesempatan untuk mengambil beberapa foto yang sangat mengagumkan, ia mengambil foto dari beberapa pohon yang tergolong unik dan beberapa satwa liar di hutan itu. Hal ini akan membuatnya mendapatkan sebuah nilai lebih, dia tidak merasa takut untuk tinggal sendirian malam hari di tendanya karena dia sudah terbiasa dan sudah sering sekali berkemah sendirian sebelumnya.

Tenda yang ia dirikan berada di dekat sebuah anak sungai yang indah dan Kiara bisa seharian menghabiskan waktunya hanya untuk mengambil sebuah foto. Selama berada di hutan itu ia telah berhasil mengambil lebih dari 400 foto dari kamera digitalnya.

Pada hari itu, Kiara berada di dalam tenda untuk melihat hasil yang ia dapat. Ia ingin melihat semua hasil fotografinya melalui laptopnya.

Dan... 

Betapa terkejutnya Kiara!

Ia melihat sesuatu yang sangat aneh dan membuatnya sangat kaget, apa yang dilihatnya dalam foto itu? Bahkan sampai saat ini dia masih sangat trauma untuk melihat kembali foto itu.

Hampir semua foto yang ia ambil di hutan itu adalah bagus dan terlihat normal, kecuali untuk empat foto terakhir di dalam satu folder. Keempat foto itu adalah foto dirinya sendiri yang sedang tidur di dalam tenda pada waktu malam hari. 

Siapakah yang mengambil fotonya di tengah malam di dalam hutan itu?

Kiara pun menjadi bingung dan ketakutan. Dengan tergesa-gesa ia kumpulkan semua barang-barang penting miliknya lalu ia kemas dalam tas ranselnya dan ia pun segera pergi meninggalkan tendanya di dalam hutan itu. Setengah berlari ia pergi tanpa berani menoleh lagi ke belakang. 

Ada yang Aneh di Buku Itu (Malang)


Ini adalah sebuah mimpi buruk paling menyeramkan yang pernah dialami oleh Ratriana sepanjang hidupnya, karena mimpi buruk itu tiada henti-hentinya mengikutinya selama bertahun-tahun, membuatnya sangat terganggu dan hampir gila. Peristiwanya sendiri terjadi ketika Ratriana masih remaja, dan ketika itu ia baru duduk di bangku SMA.

Sebagai seorang gadis yang pada waktu itu menginjak usia 17 tahun, di hari ulang tahunnya, Ratriana mendapatkan kado spesial dari orangtuanya. Mereka membelikan serial buku-buku misteri sebagaimana yang diinginkan oleh Ratriana yang di usianya kala itu sangat gemar mengkoleksi dan membaca kisah-kisah horror dan penuh misteri. Dan memang, sejak Ratriana masih kecil, sejak awal pertama bisa membaca, ia sudah sangat menyukai komik maupun cerita bergambar yang bertema horror dan misteri.

Dan mimpi buruk itu tetap menjadi sebuah misteri yang sangat menyeramkan yang menghantui Ratriana di sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa mengingat semua mimpi itu secara detail, tetapi ia akan berusaha untuk menceritakan mimpi buruk itu sebatas kemampuannya dalam mengingatnya. 

Berawal dari sebuah buku pemberian ibunya. Buku itu menyebutkan bahwa kisah-kisah yang ditulis di buku tersebut diambil dari berbagai peristiwa dan kisah nyata, dan pada waktu itu sayangnya Ratriana tidak pernah dapat mengetahui informasi lebih lanjut mengenai segala sesuatu tentang buku tersebut termasuk tentang siapa pengarangnya, penerbitnya, dan sebagainya karena waktu itu ia masih kecil dan tidak terlalu peduli dengan lain-lainnya kecuali segera membaca sampai habis setiap buku cerita misteri yang dimilikinya, sehingga wajar jika sulit baginya untuk mengetahui lebih detail mengenai buku itu. 

Bagaimana kisah yang dibacanya dari buku tersebut bisa menghantui Ratriana selama bertahun-tahun? Seberapa seramkah kisah tersebut? Ada baiknya kita simak kisah seram tersebut dan menganalisanya.

Kisahnya berawal di sebuah kota kecil, di suatu tempat di Amerika Serikat, ada pasangan muda yang telah beberapa tahun menikah dan mereka telah dikaruniai dua orang anak perempuan, ketika itu mereka sepakat untuk pindah ke sebuah rumah tua di pinggiran kota dengan pertimbangan biaya yang lebih murah.

Suatu malam, salah satu anak perempuan mereka yang bernama Jessica terbangun dari tidurnya karena mencium bau yang aneh di dalam kamarnya. Pada awalnya, dia tidak begitu yakin apakah ia sedang bermimpi atau tidak, saat itu dia hampir tidak bisa bernapas dan seluruh sudut kamar diselimuti oleh asap yang tebal. Saat ia mengedipkan matanya dan memandang sekeliling, ia menemukan bahwa kamar tidurnya tampak sangat berbeda dari sebelumnya, dinding kamarnya tampak sudah sangat tua dan catnya telah mengelupas dari dindingnya, karpet di kamarnya sudah rusak dan kotor, perabotan di kamarnya tampak sangat kuno bahkan berjamur, dan ada sarang laba-laba disana-sini. 

Saat itu Jessica sangat ketakutan sekali, dia melompat dari tempat tidurnya dan mencoba untuk masuk ke dalam kamar orangtuanya. 

Beberapa menit kemudian, tetangga yang tinggal di sebelah rumahnya mendengar suara jeritan dari luar rumah mereka dan mendengar seperti ada seseorang yang mengetuk pintu depan rumah mereka. Ketika mereka membuka pintu, mereka menemukan seorang gadis kecil yang ternyata adalah Jessica sedang berdiri disana, dia sedang menangis dan mengoceh tidak jelas, dan terus menunjuk-nunjuk ke arah rumahnya sendiri. Ketika mereka memandang ke seberang tembok kebun, mereka melihat bahwa rumah Jessica sedang terbakar.

Dengan bergegas mereka pun langsung menghubungi pemadam kebakaran setempat. Beberapa menit kemudian petugas pemadam kebakaran pun datang dan berhasil memadamkan api. Kemudian diketahui bahwa sebagian besar rumah itu ternyata habis terbakar dan di tengah reruntuhan rumah itu, mereka menemukan mayat yang sudah hangus dan mayat itu adalah kedua orangtua dan saudara perempuan Jessica. Tampaknya mereka telah terbakar hidup-hidup ketika mereka sedang berbaring di tempat tidur. Ketika polisi bertanya kepada Jessica, dia menceritakan kepada polisi sebuah kisah yang sangat mengejutkan dan sangat tidak masuk akal. 

Isi dari cerita Jessica ialah:

“Ketika ia terbangun di malam hari, ia pergi ke kamar orangtuanya dan membuka pintu. Kemudian ia dihadapkan dengan sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Orangtuanya terbaring mati di tempat tidur dan ada dua anak laki-laki muda berkulit hitam yang berdiri di atas mereka yang sedang tidur. Salah satu anak laki-laki memegang gunting bedah yang berlumuran darah. Jessica mengatakan ia mulai menjerit ketakutan dan melarikan diri ke rumah tetangga sebelah.”

Polisi tidak percaya dengan kisah yang diceritakan oleh Jessica, dan mereka mengasumsikan bahwa malam itu Jessica pasti sedang mengalami mimpi buruk. Tetapi ketika mereka meneliti sejarah dari rumah yang ditinggali oleh Jessica dan keluarganya itu, mereka menemukan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata dulu sebelum menjadi rumah hunian, rumah tersebut adalah sebuah sekolah kedokteran untuk orang berkulit hitam, dimana pada waktu itu adalah jaman perang dan membutuhkan beberapa rumah sakit sebagai tempat pengobatan. Banyak pejuang yang sakit ataupun terluka telah dirawat di rumah sakit ini dan setelah perang berakhir, rumah sakit ini pun ditutup dan kemudian diubah menjadi sebuah properti hunian (rumah tempat tinggal). Namun tidak ada yang bisa menjelaskan bahwa apa yang dilihat dan dialami oleh Jessica di rumah itu hanyalah sebuah mimpi buruk ataukah memang benar-benar kisah nyata.

Kisah inilah yang dibaca oleh Ratriana bertahun-tahun yang lalu dan dari semua cerita-cerita hantu atau misteri, kisah inilah yang menurutnya terseram yang pernah ia baca.

Dan gara-gara kisah seram dalam buku ini pula sehingga selama bertahun-tahun Ratriana selalu dihantui oleh ketakutan. Selama hidupnya Ratriana selalu terbayang oleh isi dari buku itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuang buku itu jauh dari rumahnya dan mencoba untuk tidak mengingat-ingat kisah seram dari buku itu. Bahkan ia pun mencoba menghapusnya dari ingatan namun usahanya selalu gagal. Satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah “hilang ingatan”. Karena ia merasa sangat lelah selalu dihantui oleh kisah seram dari buku itu.

Monday, November 18, 2019

Cerita Teman Lama tentang Bis Hantu di Gianyar


Pada saat itu aku sedang pergi ke Bali naik kendaraan umum berupa bis. Biasanya dari Surabaya ke Denpasar, bis akan turun di terminal Ubung. Tapi sekarang bis malam tidak bisa langsung, melainkan turun di Mengwi di daerah Badung, Bali baru disambung ke terminal Ubung. Nah di dalam bis dari Mengwi inilah aku bertemu teman lamaku.

“Ketut Indrawan ya?” teriakku girang.

Saat itu tanpa sengaja aku berjumpa dengan salah seorang temanku masa kuliah di Surabaya dulu di terminal bus.

“Ooh... Dimas kan ini?” jawabnya tak kalah suka cita.

Kami lalu berjabat tangan dan saling memandangi satu sama lain. Bukan apa-apa, karena sudah sekian lama tidak berjumpa pasti ada perubahan paling tidak secara fisik... lebih tua...hahahah. Indra yang kulihat saat itu tidak jauh berbeda dengan ketika masih remaja dulu. Kepalanya tetap saja pelontos, perawakannya masih kerempeng, seperti halnya aku... hanya raut mukanya tampak lebih tua dibanding dulu... ya jelaslah kan memang usia kami sekarang sudah tua.. Tampaknya dia juga sedang menilaiku karena aku melihat sorot matanya yang menelusuriku dari atas sampai bawah.

“Indrawan... aku panggil Indra apa Ceking nih!” aku mencoba bercanda.

Dulu si Indrawan itu kami panggil dengan sebutan “Ceking” maklum badannya tidak bisa gemuk, malah bisa dibilang kurus abadi. Dia tidak marah disebut begitu, bahkan dia tertawa tawa saja seperti tidak ada beban. 

“Terserah kamu sajalah, dipanggil yang mana saja mau!” jawabnya kalem

“Ok Indra sajalah. Mau kemana nih?” tanyaku lagi.

“Pulang kampung, kamu sendiri?” balasnya balik bertanya.

“Loh kok sama...!” jawabku.

Indrawan terkejut, “Mmmhm... bukannya kamu asli Surabaya?”

“Hehehe bercanda saja... aku kerja di Denpasar sekarang!” 

“Oh ya? Rumahmu di Denpasar? Wah bisa sering-sering main dong kita!” seru Indrawan senang.

“Bukan... bukan rumahku yang di Denpasar, tapi aku kerja di Denpasar. Rumahku tetap di Surabaya. Aku ini harus siap ditempatkan dimana saja di seluruh Indonesia. Kebetulan saat ini aku ditugaskan di kantor cabang di Bali. Enggak lama paling satu dua tahun, jadi aku hanya kost di Denpasar.” jelasku kepadanya.

“Ah, rumah atau kost, yang jelas kamu sekarang tinggal di Bali. Kita bisa saling mengunjungi dan berbagi cerita kan?” 

Aku tertawa, “Iya deh... nurut kamu saja. Oh ya kamu sekarang kerja dimana?”

“Ah, aku cuma jualan di pasar!” jawabnya terdengar agak malu malu, “Beda sama kamu yang orang kantoran!”

“Halah... kamu tuh, aku ini masih ikut orang, karyawan rendahan saja. Kalau kamu kan jadi bos bagi diri sendiri. Wirausaha sejati gitu loh!” 

“Hahaha... bisa aja kamu! Eh tuh bisnya!” tunjuk Indrawan, “Wah, asyik ya... kita bisa satu bis!” dia lalu merangkulku dan mengajakku ke sebuah bis, dia tampak senang sekali.

Dalam hati aku juga senang, berarti ada teman selama dalam perjalanan menuju Denpasar. Bis yang kami tumpangi belum terlalu banyak penumpang, maklum sekarang bukan akhir minggu apalagi hari libur. Duduk di deretan belakang untuk kursi yang berjumlah dua dan berada dekat pintu, membuat kami berdua lebih leluasa bercerita kesana kemari.

“Kerja apa kamu Dim? Bajumu rapi amat!” seru Indrawan, matanya mengarah ke arahku.

“Karyawan biasa saja di sebuah perusahaan makanan dan minuman. Kalau kamu sendiri, katanya berjualan di pasar, jualan apa tuh?” aku ganti bertanya.

“Jualan cinderamata di pasar seni Sukawati, kalau perlu oleh-oleh buat keluarga bisa hubungi aku...!”

“Wah hebat tuh, pasar seni Sukawati kan sangat terkenal. Banyak wisatawan yang mampir ke situ?” aku jadi ingat saat adikku yang terkecil ikut wisata study tour ke Bali, dia membawa oleh-oleh yang dibelinya di pasar seni Sukawati.

 “Kamu sudah menikah ya? Sudah ada berapa anak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, agar tidak ditawari barang jualannya... heheheh... Kulihat dia mengenakan cincin kawin di salah satu jarinya. Agak kelihatan longgar sih, tampak tidak pas masuk di jarinya yang kurus itu.

Indrawan tersenyum getir, agak lama dia diam sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. Aku jadi penasaran apa yang sudah menimpanya? Biasanya orang akan bersuka cita bila ditanya soal keluarga terutama anak-anaknya. Ini kok dia tampak enggan? Jadi ingin tahu nih!

“Cerita dong... ingin mengikuti jejakmu nih! Sampai sekarang aku masih jomblo, belum laku laku!” rayuku meminta dia menceritakan soal keluarganya.

Dia tertawa meski tampak dipaksakan, lalu mulutnya bergetar mengucapkan, “Istri dan anak-anakku sudah meninggal. Mereka mengalami kecelakaan...” berhenti sebentar dia lalu melanjutkan, “Maaf, gimana kalau tidak cerita soal itu? Aku...”

 “Aku ikut prihatin.” Kutepuk bahunya pelan.

Tapi terus terang dalam hati aku bertanya-tanya, kalau keluarganya sudah meninggal kenapa cincin kawin itu masih melingkar di jarinya? Ah sudahlah, mungkin dia sangat kehilangan sehingga dia tidak mau melepasnya.
Aku jadi tidak enak hati karena sudah membuatnya bersedih, maka aku segera mencari bahasan cerita lainnya untuk mencairkan suasana.

“Kamu masih ingat teman-teman yang lain? Pernah ketemu?” tanyaku beruntun berupaya mencari topik lain yang membuat keadaan jadi lebih hangat.

“Aku pernah ketemu Naning! Itu lho teman kita yang rambutnya selalu dikucir kuda? Ingat nggak?” jawabnya, kali ini kegembiraan terpancar dari wajahnya.

“Oh... si Naning yang lugu itu ya? Dimana dia? Kapan kamu ketemu?”

“Sudah lama sih... sekitar tiga tahun lalu. Dia lagi ke pasar naik angkutan kota. Nah tanpa sengaja aku ketemu dia!” dia lalu melanjutkan, “Kamu pernah ketemu siapa?”

Aku menggeleng, “Belum pernah, baru ketemu kamu saja, ya sekarang ini!”

“Kalau ada reuni pasti asyik tuh! Setuju nggak kamu kalau ada reuni?” seruku melempar pertanyaan.

“Boleh saja, kalau bisa di Bali saja jadi sekalian berwisata!” jawabnya mengiyakan.

“Kebetulan kan, kita sama-sama di Bali! Siapa tahu nanti ketemu teman yang lain. Bikin reuni kecil juga nggak apa-apa!” timpalku bersemangat.

Kami lalu bercerita banyak tentang masa lalu, tentang teman-teman sekampus dulu dan dosen-dosen... pokoknya tentang kejadian di waktu lampau karena kupikir hanya itu topik yang menarik bagi kami berdua. Tapi ternyata Indrawan mempunyai cerita lain yang lebih menarik, yaitu tentang bis hantu.

“Kamu pernah dengar cerita bis hantu di Bali?” tanyanya.

Aku menggeleng, “Kamu tuh... emang ada bis hantu? Yang naik hantu semua dong!”
“Bukan, nih dengar ceritaku.” 

Dan meluncurlah cerita tentang bis hantu dari mulutnya.

 “Kisah mistis bis hantu ini terjadi di Desa Kemenuh dari sisi barat, tepatnya di perbatasan Desa Kemenuh dengan Desa Batuan, Gianyar terdapat Telabah (sungai) Besil. Awalnya pada tahun 1960-an satu unit bus yang membawa kurang lebih 40 penumpang warga setempat, jatuh ke sungai dan menyebabkan semua awaknya meninggal dunia, kejadian tersebut menyebabkan lokasi tersebut sangat angker hingga saat ini. Kabarnya sampai saat ini bis tersebut masih bergentayangan mencari penumpang.”

“Waduh... ngeri sekali! kalau naik bis hantu itu... apakah kita tidak akan kembali ke dunia... maksudku kita akan tertahan di bis hantu itu dan tidak bisa pulang?” aku mulai merinding mendengar ceritanya.

Indrawan menggeleng, “Belum lama ini, seorang warga yang hendak pergi ke pasar Sukawati menumpang bis hantu tersebut. Kira-kira pukul 04.00 WITA, warga menunggu mikrolet. Dari timur datanglah bis. Warga mengira itu bis Sarbagita. Ia pun menaikinya. Namun setelah sampai di perbatasan barat desa, warga disuruh turun. Ia hanya menurut. Setelah turun, bis itu langsung hilang.”

“Syukurlah... jadi dia tidak tersandera di bis hantu itu!” potongku dengan lega. Ngeri juga membayangkan kalau orang itu tidak bisa kembali lagi.

“Iya, dari penuturan warga tersebut, suasana di dalam bis sama seperti bis pada umumnya. Ada yang bercengkrama, tidur, dan anak-anak bermain. Karena itulah saat di dalam bis, ia tidak memiliki firasat buruk,” imbuhnya.

Aku manggut-manggut mendengar ceritanya, nggak kebayang kalau aku yang naik bis itu... wah bisa terbayang seumur hidup nih! Maklumlah aku ini termasuk penakut... heheheh.

Wednesday, November 6, 2019

Hantu Mbok Bawon


Mitos tentang orang meninggal dan kemudian berubah menjadi hantu, sudah sering kita dengar dalam keseharian. Demikian pula dengan kisah mendiang mbok Bawon, warga Banyuwangi ini sempat menggegerkan warga di kampungnya. Konon kabarnya, saat ia meninggal, rohnya gentayangan menjadi hantu kurungan atau sangkar ayam besar berwarna putih yang menakutkan.

Cerita hantu kurungan di Banyuwangi tersebut banyak dikaitkan dengan kematian mbok Bawon, janda tua yang mempunyai ilmu kesaktian. Dan karena memiliki ilmu kesaktian itulah mbok Bawon pun jatuh sakit berkepanjangan hingga menua dan menjadi “kembange amben”, dimana semua aktivitas hidupnya dilakukan di tempat tidur, sehingga cukup merepotkan anak-anaknya. Sedangkan warga desa terus bergunjing bahwa wanita tua itu tak kunjung meninggal karena memiliki ilmu sakti yang tidak bisa dilepaskannya dan juga karena ia memiliki sejumlah prewangan. 

Cerita tentang kesaktian mbok Bawon itu juga tidak lepas dari ilmu yang dimiliki oleh almarhum suaminya yang juga dikenal sebagai dukun sakti. Namun sejak ditinggal mati oleh suaminya tujuh tahun lalu, mbok Bawon mulai sakit-sakitan. Sejumlah orang pintar dan dukun sudah dimintai pertolongannya untuk menyembuhkan penyakit yang diderita oleh mbok Bawon. Bahkan berbagai jamu dan ramuan-ramuan Jawa sudah diminumkan oleh anak-anaknya agar ia sembuh. Toh, yang terjadi malah sebaliknya, justru setiap malam mbok Bawon malah ndleming atau mengigau (meracau), berbicara sendiri tak tentu arah. 

Terkadang dia menyebut nama-nama pusaka, lalu hewan dan jenis tanaman-tanaman tertentu. Awalnya omongan aneh itu membuat anak-anaknya dan juga para tetangga bingung, namun seiring dengan bergulirnya waktu, orang-orang mengangapnya sebagai hal yang biasa saja. Genap setahun kemudian, mbok Bawon meninggal dunia setelah didahului oleh beberapa tanda-tanda aneh diantaranya adalah kicauan burung Dares selama tujuh hari tujuh malam. Karenanya ketika mbok Bawon meninggal, orang-orang desa itu pun semakin miris. Apalagi kabar yang santer beredar mengenai roh gentayangan wanita itu membuat suasana di desa itu semakin hari semakin mencekam. 

Sejak munculnya hantu mbok Bawon, orang-orang menjadi enggan keluar rumah. Anak-anak kecil yang biasanya selepas Maghrib mengaji di surau pun kini dilarang oleh orang tuanya karena takut oleh hantu kurungan. Biasanya hantu ini muncul setelah Maghrib menjelang Isya. Kurungan itu sering muncul di tempat-tempat angker di sekitar tempat almarhumah tinggal. Menurut para saksi mata yang melihatnya, kurungan itu awalnya berukuran kecil, namun lambat laun membesar dan kemudian... 

“Hlapp... Plasss!”

Hantu kurungan itu pun hilang ditelan gelapnya malam. 

Salah satu yang ketiban apes karena hantu mbok Bawon adalah bu Sukadmi, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari rumah keluarga almahumah mbok Bawon. 

Begini kisahnya... malam itu ia mengantar anak perempuannya yang bernama Sumiyati untuk mandi di sumur yang terletak di kebun jagung dekat kandang ayam di belakang rumahnya. Kamar mandi darurat tersebut terbuat dari bedengan seng, yang juga dijadikan sebagai pembatas antara sumur dan tempat madi. Tak jauh dari tempat itu, terdapat pohon jambu biji yang di bawahnya ada jublangan peceren atau tempat pembuangan akhir air comberan. Nah, pohon jambu biji ini merupakan pohon klangenan almarhumah mbok Bawon. Karenanya semasa masih hidup, mbok Bawon paling suka duduk berlama-lama di bawah pohon jambu biji tersebut. Hal itu sering dilakukannya sebelum sakit parah. 

Ketika Sukadmi mengantarkan putrinya mandi, ia hanya membawa lampu senthir atau lampu minyak. Ketika mengisi bak mandi sampai penuh tak ada peristiwa menakutkan. Sukadmi pun sebelumnya sudah bercerita kepada putrinya soal kematian mbok Bawon yang kabarnya menjadi hantu. Karenanya, Sumiyati berpesan kepada ibunya agar selama dirinya mandi ia tetap ditunggui, jangan sampai ditinggal pergi. Tapi apa mau dikata, saat Sumiyati mandi, tiba-tiba Sukadmi melihat kurungan persis di bawah pohon jambu. 

Untuk meyakinkan kalau itu benar-benar kurungan, Sukadmi mencoba melihat lebih dekat hanya dengan bermodalkan lampu senthir yang dibawanya. Setelah berhasil mendekat dan mengamati dengan seksama, ternyata... 

Oh... ternyata kurungan itu bukan terbuat dari bambu, melainkan berupa kain kafan. Awalnya, kurungan itu kecil. Tapi lama-kelamaan membesar dan kemudian... 

“Hlapp... Plasss!”

Kurungan itu pun menghilang bagai asap tertiup angin, ditelan kegelapan malam. Melihat itu semua, sontak Sukadmi kaget bukan kepalang. Lampu senthir yang ada di tangan kanannya, jatuh dan pecah. Ia pun melolong dan berteriak dengan histeris.

“Seeetttaannnnn...!” 

Sukadmi terus berteriak-teriak seperti orang kesetanan hingga suaranya habis. Dan kemudian... 

“Brukkk...!”

Tubuhnya langsung lemas, dan ia pun jatuh pingsan. Sedangkan Sumiyati yang sedang mandi menjadi kebingungan. Sesaat setelah mendengar teriakan ibunya dari bawah pohon jambu itu, maka hanya dengan pakaian seadanya dan hampir telanjang ia segera berlari menuju ke sumber suara tadi. Ternyata disana sudah ada bapaknya yang kemudian membopong ibunya untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Jasad Mbah Sastro


Cerita seram berikut ini terjadi pada pertengahan tahun 1993 bertepatan dengan malam Jum’at Legi, persisnya tanggal berapa Surya sudah tidak ingat lagi karena kejadiannya memang sudah terlalu lama. Surya hanya ingat bahwa malam itu adalah malam Jum’at Legi karena di kampungnya sangat mensakralkan malam Jum’at Legi tersebut.

Langsung saja, ketika itu Surya, Hendra dan beberapa teman lainnya sedang kumpul-kumpul sambil bermain gitar. Di kampung mereka biasa menyebut acara kumpul-kumpul seperti itu sebagai “cangkruk”. Ketika itu memang sedang liburan kenaikan kelas dimana Surya dan Hendra naik ke kelas 2 SMP, dan di masa liburan itu, waktu luang mereka sering diisi dengan cangkruk. 

Dulu liburan kenaikan kelas lamanya bisa lebih dari 1 bulan, jadi ketika mereka cangkruk yang pasti ada rasa bosan karena setiap malam selalu cangkruk dan usia mereka masih remaja dengan kondisi keuangan yang selalu minim, jadi hiburan mereka satu-satunya hanyalah kumpul dan main gitar, begitu terus. Kalaupun ada kegiatan lain mungkin hanya bakar ketela, jagung atau apalah (maklum mereka anak kampung). Oh ya, Surya tinggal di Banyuwangi daerah selatan di pinggiran hutan Purwo, jadi tidak mengherankan jika di tempat tinggalnya sangat banyak kisah-kisah seram. 

Waktu itu Hendra yang sedang merasa bosan mengajak Surya dan teman-teman lainnya untuk memancing belut di kanal, yaitu sungai buatan yang berukuran kecil dan biasanya difungsikan untuk mengairi sawah. Namun saat itu Surya menolak ajakan Hendra karena ia selalu tidak beruntung dalam hal memancing, dengan kata lain ia tidak mahir memancing.

Akhirnya Hendra dan tiga teman Surya yang lain berangkat memancing. Sampai di kanal tidak ada masalah meskipun kondisinya gelap gulita dan tidak ada satupun rumah penduduk di sekitar situ. Mereka bergerak perlahan mencari lubang demi lubang tempat belut bersarang. Lumayan... dalam dua jam mereka sudah mendapatkan banyak tangkapan sampai akhirnya alur kanal tersebut berbelok ke arah desa. 

Nah, ada beberapa rumah di pinggir area persawahan tersebut, termasuk rumah mbah Sastro. Mbah Sastro adalah seorang duda yang hidup sendirian sedangkan anaknya merantau dan tidak pernah kembali. Di depan rumah tersebut merupakan pekarangan, sedangkan di belakangnya adalah rimbunan pohon bambu. Di samping kanannya ada pekarangan juga dan di sebelah kirinya langsung berbatasan dengan kanal tempat Hendra dan teman-temannya memancing.

Pada waktu itu Hendra dan teman-teman merasa curiga karena rumah tersebut ada penerangannya, meskipun hanya dimar ublik yaitu lampu tempel berbahan bakar minyak tanah. Padahal mereka tahu kalau mbah Sastro sudah meninggal, bahkan belum sampai pada 7 harinya. Sedangkan anaknya tidak mengetahui kabar tersebut, apalagi dulu belum ada HP, telepon juga belum masuk ke kampung mereka, jadi urusan menyampaikan kabar bisa memakan waktu cukup lama. 

Rasa penasaran yang semakin menjadi membuat Hendra dan teman-temannya mencoba mengintip ke rumah mbah Sastro yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah lama sehingga sangat mudah untuk membuat lubang untuk mengintip. 

Namun begitu para remaja tersebut mengintip, mereka langsung kaget, terperanjat, dan tanpa ada komando langsung lari kocar-kacir, sampai-sampai alat pancing dan belutnya pun tertinggal.

Ternyata diantara celah lubang dinding anyaman bambu yang mereka buat, mereka melihat sebuah dimar ublik yang diletakkan di atas meja panjang dan di hadapan dimar tersebut terdapat sesosok tubuh yang terbalut kain kafan yang kotor oleh tanah dalam keadaan duduk memandangi dimar tersebut dengan tatapan kosong. Dan mereka dengan sangat jelas bisa melihat wajah di antara celah kain kafan kotor yang membungkusnya tersebut adalah... wajah mbah Sastro!

Dikuntit Genderuwo Perempuan (Banyuwangi)


Kisah menyeramkan tentang dikuntit genderuwo perempuan ini saya alami ketika berada di desa pelosok di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Waktu itu saya dapat tugas di daerah tersebut untuk beberapa hari. Pengalaman ini merupakan peristiwa yang sangat menyeramkan bagi saya terlebih kejadian ini terjadi ketika tak ada orang lain di samping saya, maklumlah saat itu saya sedang bekerja sendirian karena teman sekerja saja sedang pulang karena ada urusan keluarga.

Nama saya Hartono, seorang lulusan sarjana Pertanian yang bekerja menjadi seorang asisten peneliti di salah satu lembaga penelitian di kantor pusat Surabaya. Meskipun pekerjaan ini mengaharuskan saya jauh dari keramaian kota, namun sebagai seorang pemuda yang baru saja tamat kuliah saya sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan ini karena sesuai dengan disiplin ilmu yang saya pelajari, tidak perlu lama-lama menganggur dan yang pasti saya sangat menikmatinya.

Menurut senior-senior saya, ditugaskan ke berbagai daerah pelosok di seluruh nusantara sudah jadi hal biasa, kejadian-kejadian mistis seperti melihat penampakan pocong, genderuwo, kuntilanak dan lain sebagainya juga kerap dialami ketika tengah berada di tempat-tempat tersebut. Maklumlah biasanya lokasi kerja jauh dari perkotaan bahkan bisa dibilang berada di daerah terpencil. Awalnya itu kuanggap sebagai bumbu-bumbu humor antar para karyawan, atau bahkan hanya untuk menakut-nakuti kami para junior dalam bekerja. Namun ternyata itu semua benar adanya, saya mengalamai peristiwa yang tidak akan pernah bisa dilupakan seumur hidup.

Beberapa tahun yang lalu lembaga tempat saya bekerja mendapatkan proyek untuk melakukan penelitian di sebuah pedesaan di Banyuwangi. Sebenarnya ada dua orang yang ditugaskan di daerah itu, namun karena ada masalah keluarga dari teman saya yang satu lagi, terpaksalah untuk beberapa hari saya mesti kerja sendiri. Sudah menjadi kewajiban bagi kami para pekerja untuk tolong-menolong satu sama lain, kalau satu orang mesti ijin karena sesuatu hal maka teman yang lain yang akan menghandle pekerjaan itu, pokoknya semua harus berjalan dan laporan bisa sampai di kantor pusat sesuai tenggat waktu.

“Maaf banget ya Har... aku mesti pulang sebentar ke Kebumen, anakku sakit keras, istriku sampai menangis waktu menelpon aku!” kata Yanto, rekan kerjaku itu.

“Ah sudahlah nggak apa-apa!” balasku seperti tidak mengapa, padahal aku senewen juga karena mesti kerja seorang diri di tempat terpencil seperti ini.

“Nggak lama kok Har... paling dua hari lagi aku juga akan balik kesini!” paparnya. 

“Jangan sampai kantor pusat tahu ya kalau aku mencuri waktu!” lanjutnya dengan nada suara yang butuh support.

“Ngertilah... kita saling bantu saja!” jawabku meyakinkan dia.

“Terima kasih Har...!” ucap dia sembari menepuk bahuku pelan.

Karena hanya masih sisa waktu dua hari untuk pengumpulan data dan itu harus saya kerjakan sendiri, terpaksalah saya mesti pontang-panting seharian bekerja. Maklumlah saya harus merangkap tugas si Yanto. Maka pada hari kamis selepas shalat Subuh saya berangkat menuju salah satu desa di daerah Banyuwangi. Hanya dengan menggunakan motor butut keluaran tahun kelahiranku itulah aku berjibaku menaklukkan waktu menyusun dan mengumpulkan data. 

Saya sendiri tidak percaya kalau ternyata ada desa di daerah Banyuwangi yang masih pelosok. Meskipun akses jalan tergolong sudah baik namun keadaan curam dan berkelok serta dikelilingi perbukitan rimbun dengan pohon-pohon besar mungkin mejadi salah satu kendala melajunya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di daerah tersebut. Awalnya saya sama sekali tidak kepikiran bakal dikuntit genderuwo perempuan di tempat ini.

Setelah perijinan pada pemerintah desa selesai, langsung saja saya bergegas mencari rumah warga yang akan menjadi responden. Memasuki dusun-dusun kecil dengan rumah-rumah warga yang berjarak cukup jauh membuat kendala bagi saya menemukan rumah responden. Terlebih ketika itu warga setempat tengah memasuki masa panen dan kebanyakan berada di ladang untuk memanen singkong, tak heran jika rumah-rumah yang saya datangi banyak yang kosong.

Seharian saya mondar mandir dari satu dusun ke dusun lain rupanya masih menyisakan satu responden. Singkat cerita saya mesti menyelesaikan pada hari itu juga, padahal hari sudah menjelang senja. Tapi mau tak mau saya harus menunggu responden yang belum pulang dari ladang itu untuk melengkapi data.

Selesai shalat Maghrib di masjid pinggir jalan saya bergegas kembali ke rumah pak Sastro yang menjadi responden terakhir dengan harapan beliau sudah pulang dari ladang.

Suasana gelap dan mencekam di kampung itu memang sangat terasa selepas matahari tenggelam, lampu penerangan jalan tak satupun mampu menerangi sudut-sudut gelap di balik pepohonan nan rimbun. Ketika melintasi sebuah pohon beringin tua yang menjulang tinggi dan rimbun sebenarnya perasaan saya sudah tidak karuan

“Aduh... kenapa aku merasa ada sesuatu di belakangku ya?” bisik hati kecilku.

Ya aku merasakan sesuatu yang aneh, jantungku berdegup tidak karuan, bulu kudukku tiba-tiba merinding. Semenjak motorku melewati pohon beringin itu aku batinku mengatakan ada sesuatu yang muncul dan menguntitku. Laju motor seakan berat, alias tidak bisa dipacu dengan cepat. Ataukah itu karena ini motor tua? Ah kayaknya bukan... aku lebih merasakan kalau motor ini ada yang mencoba menahannya dari belakang sehingga tidak bisa lari kencang. 

“Bisa-bisa senam jantung nih,” seru batinku. 

Yang kupikirkan hanya satu yaitu segera sampai di rumah pak Sastro dan menyelesaikan data secepatnya. Sambil tetap melaju dan memilih jalan yang tidak berlubang tiba-tiba saya dikejutkan dengan seekor kucing yang tiba-tiba muncul dan saya hampir menabraknya, untung saya sigap dan segera menginjak pedal rem sehingga kucing itu selamat. Sejenak kucing itu terdiam di tempat dan matanya memandang tajam ke arahku. Lewat sorot lampu motor, saya bisa menangkap kalau pancaran mata dari kucing itu tidak biasanya, ada sesuatu yang menakutkan disitu.

“Payah nih si kucing!” gerutuku kencang.

Sudah jantung ini tidak karuan, eh... malah ditambah kucing yang tidak tahu jalan... nyelonong seenaknya. Padahal yang namanya kucing memang demikian, memang kucing mau tengok kanan kiri dulu kalau mau menyeberang? 

Saya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, namun belum sempat aku menjalankan motor... tiba-tiba kucing itu menghilang begitu saja dan munculah sosok perempuan yang entah datang dari mana, dia tiba-tiba saja berdiri kaku di depan saya. Perempuan itu sangat cantik, rambutnya yang panjang berkibar-kibar tertiup angin. 

“Siapa perempuan itu? Cantik sekali!” gumamku pelan.

Saya pandangi dia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sejenak saya pun terpesona, namun hati kecil saya langsung mengingatkan ada yang tidak beres dengan perempuan itu. Segera saya mengucap doa sebisa saya... benar saja sosok perempuan itu lalu menghilang dan berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Tampak seorang perempuan bertubuh tinggi besar penuh bulu dengan hanya memakai celana dalam saja, sedangkan bagian dada tidak tertutup apapun berdiri tepat di hadapanku.

“Hah... genderuwo perempuan...!” jerit saya.

Bayangkan saja... hanya dalam jarak sekitar satu meter dari roda ban motor muncul sosok genderuwo perempuan. 

Saking takutnya saya langsung tancap gas tanpa menghiraukan lagi kondisi jalan. Motor saya belokkan ke arah samping kanan untuk menghindari genderuwo itu, bahkan motorku sampai nyaris menyasak rerumputan liar yang tumbuh di sisi bahu jalan. Pokoknya saya harus segera melarikan diri secepatnya. 

Sekitar sepuluh menit akhirnya saya sampai di halaman depan rumah pak Sastro. Setelah memarkir motor saya celingak celinguk untuk melihat apakah genderuwo perempuan itu mengikuti saya ataukah tidak. Karena sepanjang saya mengendarai motor dari pohon beringin itu berada saya merasa sosok hantu tadi menguntit saya, meski dari spion saya tidak melihat apapun tapi hati kecil saya merasakan demikian. Syukur alhamdulilah semua aman, saya tidak melihat penampakannya lagi. Saya langkahkan kaki menuju pintu rumah pak Sastro, pelan-pelan pintu rumahnya saya ketuk dan mengucapkan salam. Untunglah, tak lama kemudian seorang perempuan setengah baya keluar dan menyambutku.

“Ini petugas yang mau ambil data itu ya?” sapa ibu itu sambil tersenyum dan mempersilakanku masuk.

“Iya Bu!” jawabku seraya mengikuti beliau masuk ke dalam rumah.

Lega rasanya ada manusia lain selain diriku... heheheh. Kulihat beliau masuk kembali ke dalam rumah, namun tidak seberapa lama keluar dengan membawa baki.

“Saya istrinya pak Sastro!” ucapnya memperkenalkan diri seraya memindahkan gelas berisi teh hangat dari baki ke atas meja tamu.

“Saya Hartono, petugas pengambil data!” balasku, “Pak Sastro ada, Bu?”

“Maaf Nak Hartono, pak Sastro masih ada di masjid. Katanya sih nanti setelah shalat Isya akan ada rapat sebentar dengan petugas takmir masjid...!”

“Waduh...!” tak terasa saya menyebut kata itu.

Bu Sastro yang mendengar celetukanku tersenyum, katanya, “Tidak lama kok Nak. Sebentar juga nanti pulang!”

“Jadi saya bisa menunggu disini ya, Bu?” tanyaku.

“Iya Nak... tunggu disini saja, daripada bolak-balik,” jawabnya ramah, “Oh ya, tadi lewat jalan mana kok...”

Bu Sastro tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya memandangku dengan sorot mata khawatir... sepertinya dia tahu apa yang barusan aku temui.

“Mmmh... lewat jalan desa yang ada pohon beringin besar itu Bu...!”

“Hah? Sudah Maghrib lewat jalan itu?”

Kali ini bu Sastro yang terperangah kaget.

“Loh emang kenapa Bu? Itu kan jalan desa yang seringkali dilalui banyak orang, tapi... kalau sudah Maghrib kok sepi ya Bu?” jawabku sambil bertanya.

“Aduh Nak Hartono, pohon beringin itu angker!” seru bu Sastro.

“Angker?” saya terperanjat.

“Iya... angker! Pohon beringin tua itu ada penunggunya!” paparnya dengan mimik serius.

“Jadi...” saya tak sanggup melanjutkan ucapanku, kejadian bertemu genderuwo perempuan tadi melintas kembali di benakku.

“Nak Hartono sudah diganggu ya?” selidiknya seakan tahu apa yang sudah saya alami.

Saya mengangguk pelan.

“Bukan hanya Nak Hartono kok, sudah banyak orang yang lewat jalan itu yang melihatnya. Makanya setelah Maghrib jalan itu jadi sepi karena orang tidak mau lewat situ!” terangnya. 

Ternyata sudah lama beredar mitos kalau jalan menuju kampung yang tadi saya lewati sudah terkenal akan keangkerannya. Terlebih pohon beringin tua itu, tak ada yang berani menebangnya, karena katanya ada sosok penunggu berupa genderuwo perempuan yang sangat jahil dan kerap menampakkan diri. Akhirnya saya pun menceritakan kejadian yang barusan aku alami.

“Wah berarti benar kata orang!” celetuk bu Sastro setelah aku selesai bercerita.

“Benar apanya, Bu?” aku jadi penasaran.

“Kata orang sih, genderuwo perempuan itu suka kecentilan kalau melihat laki-laki!” katanya.

Lalu meluncurlah cerita-cerita tentang hal tersebut. Masih beruntung saya tidak terpikat kecantikan perempuan jadi-jadian itu. Memang biasanya hantu itu memalsukan diri saat menampakkan di hadapan laki-laki, dia akan menjelma sebagai sosok perempuan cantik yang membuat para pria terpesona dan terpikat. 

Konon ada seorang laki-laki tetapi bukan penduduk asli kampung ini tergoda oleh sosok jadi-jadian itu. Sepeda motornya ditemukan di samping pohon beringin sedang si laki-laki alias pemilik motor itu menghilang tidak tentu rimbanya. Sudah dicari kemana-mana tapi tidak ketemu. Akhirnya oleh warga kampung dicarikan orang pintar untuk mencari keberadaanya. Dengan bantuan orang pintar itu, akhirnya selang beberapa hari pria itupun ditemukan sedang duduk santai di salah satu dahan beringin dengan tatapan kosong.

“Dia tidak mau turun, sudah dibujuk berkali-kali tetap tidak mau!” cerita bu Sastro.

Akhirnya dengan doa-doa dari pak Kyai, laki-laki malang itu seperti tersadar dan akhirnya mau turun.

“Nak Hartono tahu nggak apa yang dia ceritakan setelah dia sadar?” 

Aku menggeleng.

“Dia bercerita kalau diajak seorang perempuan cantik main ke rumahnya. Rumah itu sangat mewah bak istana. Disana hanya berisi orang-orang yang berpesta pora bersenang senang terus-menerus!”

Meski saya takut mendengar cerita itu, tapi saya berusaha tegar dan menyembunyikan ketakutan saya. 

“Itu pak Sastro sudah datang!” tunjuk bu Sastro ke arah pintu.

Saya menengok ke arah telunjuk bu Satro, memang benar ada seorang pria setengah baya berpeci hitam sedang memasuki ruang tamu.

“Maaf Nak Hartono tadi ada rapat dulu di masjid! Sudah lama menunggunya?” tanya pak Sastro sembari menghampiri diriku.

Saya bangkit dari kursi dan menyalaminya.

“Belum lama kok Pak, ini sedang ngobrol sama bu Sastro!” jawab saya.

“Nak Hartono ini, tadi diganggu sama penunggu pohon beringin itu!” ucap bu Satro.

Lalu meluncurlah cerita bu Satro kepada suaminya kejadian yang menimpa saya.

“Memang benar Nak Hartono, pohon beringin itu angker dan ada penunggunya. Sosok genderuwo perempuan. Tapi tenang saja, kalau kita diganggu kita bisa melawannya dengan berdoa. Biasanya doa akan membuat lelembut itu tidak bisa memalsukan diri, akan tampak wujud aslinya. Dan kalau masih tetap bandel menganggu kita... terus saja berdoa. Maka hantu akan menjauh karena tidak tahan dengan doa-doa yang kita lafalkan!”

Setelah bercerita sejenak tentang hantu genderuwo perempuan, kami mengobrol ke persoalan inti yaitu meminta data tentang pertanian. Singkat cerita setelah mendapat informasi serta beberapa pertanyaan terkait penelitian yang saya lakukan, saya pun berpamitan.

“Kalau Nak Hartono mau lewat jalan lain bisa kok!” pak Sastro memang memberi tahu jalur lain yang bisa saya lewati, namun katanya keadaan medan parah dan memutar sehingga butuh waktu lebih lama, setelah dipikir-pikir saya mengurungkan niat untuk mencari jalur alternatif itu. Toh ini belum terlalu malam, dan saya hanya ingin segera sampai di rumah pak Sadikun dimana saya menumpang tinggal sementara selama ada tugas di kampung ini.

Rasa takut sekaligus seram memang saya rasakan, namun apa boleh buat, satu-satunya jalan yang bisa saya lewati dengan cepat memang jalan itu. Sambil komat-kamit membaca doa, saya kembali melewati jalan yang ada pohon beringin tua itu yang tadi waktu kemari ada penampakan genderuwo perempuan. Perasaan was-was dan takut tentu saja menghinggapiku, tapi aku tegaskan diri ini untuk melaluinya, karena inilah jalan yang paling cepat untuk sampai.

Lega rasanya begitu pohon tersebut telah terlewati, namun rasa takut masih menyelimuti. Seolah di belakang saya seperti ada yang mengikuti serta memperhatikan saya, namun setiap kali saya tengok ke belakang rupanya tak ada apa-apa. Mudah-mudahan ini hanya perasaan saya saja. Apalagi saat saya melihat jarum speedometer yang menandakan bensin motor masih terlihat penuh membuat saya sedikit agak tenang. 

Sesekali saya masih menengok ke belakang karena masih merasakan seperti ada yang mengikuti. Aneh... sama sekali tidak ada apa-apa hingga akhirnya saya benahi posisi spion motor untuk membantu melihat keadaan di belakang saya.

Kejadian menyeramkan kembali saya alami ketika melihat spion kiri motor saya, ada bayangan seseorang di belakang motor. Namun begitu saya toleh ke belakang sosok tersebut menghilang entah kemana. Rasa takut serta perasaan tak karuan memaksa saya menarik gas hingga mentok, jalanan berliku serta naik turun tak lagi saya hiraukan, saya pun tak lagi berani melihat arah spion meskipun masih merasa ada sesorang yang mengikutiku dari belakang.

Ketika melewati jembatan penghubung di salah satu jalan menuju arah pulang tiba-tiba motor saya mogok. Entah apa penyebabnya, yang jelas bukan karena kehabisan bensin. Sudah saya starter berkali-kali tetap saja ngadat. Saya semakin gemetaran karena bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri dan hawa di sekitar mendadak drop menjadi dingin. Sambil memejamkan mata saya melantunkan doa-doa sebisa saya. Rupanya saran dari pak Sastro benar adanya, suasana berubah menjadi normal dan aneh bin ajaib motor pun bisa distarter dengan mudah. 

Sebelum melanjutkan perjalanan perlahan saya melirik ke arah ujung jalan yang membuat hati penasaran. Rupanya genderuwo itu masih mengikut saya, terlihat makhluk ghaib itu berada di atas semak-semak dan memperhatikan saya dari kejauhan. Segera saya berdoa lagi. Syukur alhamdulilah... makhluk itupun menghilang ditelan gelapnya malam, dan saya bisa mengendarai motor dengan tenang.

Perempuan Misterius dari Hutan Alas Purwo (Banyuwangi)




Alas Purwa merupakan taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo di sebelah selatan dan tenggara Banyuwangi. Alas Purwo atau Hutan Purwo adalah sebuah kawasan hutan yang ada di Banyuwangi dan berbatasan dengan Samudera Indonesia di pantai selatan yang diyakini memiliki arti hutan yang pertama atau hutan yang dianggap tertua di Pulau Jawa. Hal ini ditandai dengan banyaknya situs-situs yang dianggap keramat oleh masyarakat seperti Gua Padepokan ataupun Gua Istana. Di Alas Purwo juga masih banyak terdapat satwa langka seperti banteng, lutung, burung merak, ayam hutan, rusa, dan macan tutul. Selain itu Alas Purwo juga mempunyai banyak pantai indah seperti Teluk Grajagan dan Plengkung yang mempunyai satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang dan penyu belimbing.

Bagi kita orang awam, Alas Purwo cuma merupakan hutan yang lebat dan penuh dengan binatang buas. Namun tidak dalam pandangan batin, Alas Purwo merupakan keraton makhluk halus yang bermacam-macam. Berjenis-jenis makhluk halus menghuni tempat ini. Ada kuntialanak, banaspati, jin, ilu-ilu bahkan genderuwo. Memang hutan dengan luas 43.420 hektar ini seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat ghaib karena masih banyak tempat-tempat yang tersembunyi dan tidak tersentuh tangan manusia karena keangkeran dan juga kebuasan alamnya. Apalagi banyak orang yang berkunjung ke Alas Purwo bukan hanya untuk berekreasi menikmati hutan yang masih alami namun juga untuk tujuan lain yaitu melakukan ritual di sebuah gua yang ada di Alas Purwo. Keangkeran Alas Purwo ternyata juga merupakan daya tarik bagi para pelaku spiritual untuk menjalankan lelaku di tempat tersebut. Karena itu tidak aneh kalau sering ditemukan banyak orang yang melakukan semadi di segenap pelosok Alas Purwo.

Bertahun lalu, aku pernah pergi ke hutan Alas Purwo, bukan untuk bersemedi ataupun melakukan ritual tertentu, aku hanya ingin menenangkan diri karena saat itu aku sedang terbelit masalah yang sangat berat. Ada kehidupan di dalam perutku yang sebenarnya tidak aku inginkan dan aku tidak tahu mau berbuat apa. Siang itu aku duduk sendirian di bawah sebuah pohon besar sambil mendengarkan lagu-lagu sendu dari headset yang terpasang dari handphone-ku. 

Dari balik kaca mata hitam aku melihat beberapa orang yang berjalan hilir mudik di depanku, mereka itu sama sepertiku yaitu pengunjung hutan Alas Purwo. Tapi tentu saja mereka punya tujuan yang berbeda-beda. Aku tidak tahu apakah mereka hanyalah ingin menikmati alam sepertiku ataukah punya tujuan tertentu semacam semedi atau ritual lainnya. Angin yang betiup sepoi-sepoi dan hawa sejuk alam yang belum terkena polusi membuatku terkantuk-kantuk. 

Tak terasa mata ini begitu saja terpejam, hingga aku merasa ada seseorang yang duduk di sebelahku. Saat itu aku hanya ingin sendirian sehingga aku merasa kalau kehadiran seorang di sampingku membuatku tidak nyaman, akupun bermaksud pindah tempat.

“Maaf, bisa geser sedikit...!” ucapku kepada seseorang yang ternyata perempuan paruh baya itu, karena ujung jaketku rupanya tanpa sengaja diduduki olehnya.

“Ooh... saya yang minta maaf karena menduduki jaket Anda!” jawabnya ramah. Dia lalu bergeser sedikit, jaket itu pun bisa kutarik.

“Mengapa mesti pindah?” tanya perempuan itu seraya memegang tanganku seakan mau menahanku.

Tapi aku memang sedang ingin sendirian sehingga tangan itu aku tepiskan, tapi dia malah semakin kencang memegang tanganku.

“Aku tahu masalah yang kamu hadapi! Kamu bingung... ingin menggugurkannya bukan?” tanya dia kalem. 

Itu sungguh mengagetkanku, bagaimana mungkin dia tahu? Padahal usia kehamilanku masih sangat dini dan tidak terlihat? Maksudku perutku masih rata tidak terlihat seperti orang hamil?

“Jangan sok tahu urusan orang deh!” balasku ketus.

Eh dia hanya tersenyum manis, lalu dia berkata dengan lembut, “Anak yang akan kau lahirkan itu akan menjadi anugerah untukmu. Tolong putrimu nanti diberi nama “CAHAYA”, aku akan turut merawatnya kelak!” selesai berkata demikian dia lalu pergi meninggalkanku.

Tinggallah aku sendirian yang terbengong-bengong, bagaimana dia begitu yakin kalau bayi yang akan lahir berjenis kelamin perempuan?

Waktu berlalu, aku memutuskan mempertahankan isi perut ini hingga akhirnya anak itu lahir di dunia, dan ternyata... perempuan! Dan aku menamainya Dinda, aku tidak mau memberi nama Cahaya. Ini adalah anakku bukan anaknya. Entah mengapa pertemuan singkat dengan perempuan misterius itu begitu membekas di benakku, kadang saat aku memandangi bayi yang kulahirkan itu terbesit bayangan wajah perempuan yang kutemui di hutan Alas Purwo itu, namun pelan tapi pasti bayangan itu hilang dari ingatan. Berjalannya waktu aku berkonsentrasi mengurusi anakku dan hidupku sendiri.

“Dinda kok nggak punya ayah seperti mereka ya, Bu?” tanya anakku ketika masih kecil.

Saat itu dia kuajak pergi ke sebuah mall untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-empat. Kupandangi sinar matanya yang memancarkan kecemburuan melihat anak-anak kecil seusianya berjalan bareng dengan kedua orang tuanya. Mereka tampak sangat bahagia. Sebenarnya akupun ingin kehidupan seperti mereka yang lengkap, tapi realita kehidupanku memang seperti ini.

“Ayah ada kok, tapi sudah di Surga!” jawabku bohong. 

Anak seusia dia pasti tidak mengerti kalau kuceritakan yang sebenarnya. Nanti... kalau sudah waktunya tentu akan aku beberkan seluruhnya.

“Emang kalau sedang ada di Surga nggak bisa sesekali main kesini menengok kita?” tanyanya lagi dengan nada polos.

 “Tidak, Sayang...” aku tersenyum getir, “Dinda tidak usah sedih, ayah sudah dengan Tuhan!”

Dinda diam saja, mungkin dia berusaha mencerna ucapanku. Sejak dini aku berusaha mengenalkan pendidikan agama untuknya, tentu dengan materi sederhana yang mudah untuk dipahami. Aku sudah menerangkan bahwa tidak selamanya kesempurnaan itu ada, kadangkala sesuatu itu ada yang tidak lengkap. Seperti halnya sebuah keluarga. Untuk memberi contoh nyata kubawa dia ke sebuah panti asuhan jadi dia bisa melihat dan merasakan langsung, ada banyak anak yang tidak punya ayah dan ibu, namun Dinda masih beruntung karena memiliki ibu di sampingnya.

“Dinda nggak apa-apa tidak punya ayah... kan sudah ada nenek peri cantik yang menjaga Dinda setiap saat!” tuturnya sambil lalu.

“Nenek peri?” tanyaku bingung.

“Iya nenek peri!” jawabnya santai dan tenang.

Aku tertawa, ah Dinda terlalu terbawa dengan dongeng yang aku bacakan tentang peri. Mungkin di saat malam dia tidur dia membayangkan dijaga oleh peri-peri yang ada di buku dongeng itu. Imajinasi anak memang luar biasa.

Setiap Dinda ulang tahun aku berusaha merayakannya dengan acara makan di luar dan memberinya hadiah, biasanya aku akan memberikan nominal uang tertentu dan dia bebas memilih mainan atau barang yang dia sukai, anak itu seperti mengerti bahwa ibunya juga terbatas keuangannya sehingga dia tidak pernah sekalipun meminta sesuatu yang berlebihan. Memilih barang pun pasti dia sesuaikan dengan anggaran yang aku sudah jelaskan sebelumnya. Dia tidak berkebaratan kalau pilihan barangnya kukatakan melebihi target, dia akan mengembalikan barang itu dan berganti ke yang lain.

“Dinda ganti boneka yang ini saja, tidak mahal tapi tetap cantik!” ucapnya riang.

Hadiah ulang tahunnya saat usia empat tahun dia memilih boneka kelinci warna pink dengan pita kecil di salah satu telinganya. Boneka itu dia letakkan di tempat tidurnya sebagai teman katanya. Sampai kini boneka itu masih ada.

Tahun berganti dan Dinda mulai beranjak dewasa, dia sudah berusia 16 tahun kini. Duduk di kelas satu sebuah sekolah menengah atas favorit di kota kami, dia tumbuh menjadi anak gadis yang tangguh dan mandiri. Nilai pelajarannya juga bagus meski tidak selalu masuk tiga besar. Pernah aku mencoba menceritakan tentang ayahnya tapi dia seperti enggan menanggapinya.

“Dinda, ibu ingin bercerita tentang ayahmu!” itu ucapku beberapa minggu yang lalu saat kami makan di sebuah rumah makan cepat saji, ketika itu Dinda merayakan ulang tahunnya yang ke-16.

Sudahlah, Dinda sudah ada ibu dan nenek peri kok!” jawabnya enteng, dia lalu melanjutkan makan ayam goreng kesukaannya.

“Dinda nggak ingin tahu tentang ayah...”

“Tidak Bu,” potongnya cepat, dia lalu menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya sudah kalau begitu. Tapi Dinda kan sudah besar, jangan bawa nenek peri lagi ah!” 

Dinda hanya tertawa. Aku jadi tidak enak hati untuk melanjutkan ceritaku, padahal aku sudah mempersiapkan diri berbulan-bulan sebelumnya, aku berusaha akan menceritakan kejadian itu, kupikir dia tidak akan terlalu kaget karena usianya sudah cukup dewasa, juga kelakuannya sehari-hari yang kutangkap mencerminkan kalau dia tabah menghadapinya, sudah berkali-kali orang terutama teman sebayanya menanyakan mengenai ayahnya, tapi Dinda terkesan cuek saja, dia hanya menyebutkan kalau orang tuanya ya aku, ibunya. 

“Ya sudah kalau Dinda tidak mau, tapi ibu selalu terbuka kalau kamu ingin ibu menceritakannya. Lebih baik kamu dengar langsung dari ibu bukan dari orang lain...”

Lagi-lagi dia memotongnya, “Sudahlah Bu... cukup. Dinda nggak mau cerita soal ayah lagi. Ngobrol yang lain kenapa? Yang asyik-asyik gitu!”

Aku tersenyum lagi, “Oke lah kalau itu maumu,” kuelus pundaknya dengan lembut, lalu ujarku kemudian, “Mau hadiah ulang tahun apa nih?” aku lalu menyebutkan nominal uang yang bisa dia gunakan sebagai hadiah ulang tahun.

“Uangnya sajalah! Fleksibel bisa beli macam-macam sesuai kebutuhan!”

“Oh ya?” seruku kaget. Baru kali ini dia memilih mendapatkan uang bukan barang.

“Kalau belum perlu barang kan bisa ditabung dulu!” ucapnya lagi.

Ah, ternyata anakku sudah dewasa sekarang. Kenapa aku tidak menyadarinya? Dia sudah bukan anak kecil lagi yang ngiler melihat barang-barang bagus di toko. Lalu kuambil sejumlah uang dari dalam dompet dan kuserahkan kepadanya.

“Selamat ulang tahun, Nak!” ucapku memberi selamat.

Dinda menerima uang itu dengan riang, dia menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih.

Selesai makan, aku bermaksud membayar tagihan tapi buru-buru Dinda melarangku.

“Dinda kan sudah ada uang, biar aku saja yang membayarnya!”

Aku terpana mendengar ucapannya, tak kusangka dia begitu mengerti. Tapi... entah kenapa hati kecilku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya? Segera kutepis pikiran konyol itu. Dinda sudah bukan anak-anak lagi, mestinya aku bangga bisa memiliki anak yang pintar, penurut dan patuh sama orang tua, meski awalnya aku tidak menginginkan kehadirannya tapi kini aku bersyukur sekali.

Malam itu aku merasakan hawa yang sangat dingin, kusibak tirai jendela, langit tampak hitam kelam tanpa setitik pun bintang. Angin yang sedikit kencang bertiup membuat sekeliling menjadi lebih dingin lagi. Sebentar lagi pasti hujan, itu perkiraanku. Sendirian di rumah membuatku merasa sepi dan galau. Dinda sedang pergi wisata dengan teman-teman sekolahnya. Musim hujan begini kok piknik. Aku hanya bisa berdoa semoga aman dan keselamatan menyertainya. 

Aku masuk kamar dan memeriksa catatan hasil penjualan barang hari ini. Aku memiliki warung kelontong kecil-kecilan di dekat pasar. Setiap hari dari pagi sampai sore aku ada disitu untuk berjualan. Meski warung itu kecil tapi lumayan juga hasilnya bisa menopang kehidupan kami berdua. Rejekinya selalu mengalir walaupun tidak banyak. Setelah selesai aku menutup buku itu dan menaruhnya di atas meja, aku lalu beranjak tidur. Kuambil selimut dan kutupi seluruh tubuhku agar bisa mengusir rasa dingin yang menyerang.

Aku tidak sepenuhnya dalam kondisi sadar ketika kudengar ketukan pintu dari arah depan. Aku hanya merasa kalau aku bangkit dari tidur dan berjalan menuju ruang tamu. Kubuka pintu itu ternyata ada seseorang disitu, kuamati sebentar... aku seperti mengenalnya. Dia seorang perempuan paruh baya yang cantik, tapi siapa ya? Hanya saja aku yakin kalau aku pernah melihat orang ini sebelumnya.

“Cahaya sudah besar dan cantik ya!” dia berkata dengan pelan nyaris tidak terdengar.

Aku belum sempat menjawabnya, ketika dia lalu berbalik dan pergi begitu saja.

Aku terbangun, ternyata aku sedang bermimpi. Aku masih ada di tempat tidur, selimut pun masih membungkus badanku. Mimpi yang aneh... aku lalu bangkit dari tidur dan menyalakan lampu kamar, kulihat jam dinding di tembok sebelah kanan di atas jendela, sudah menunjuk angka dua. Kudengar suara gemericik hujan memecah sepinya malam. Kuambil air lalu meminumnya, sesaat ketenangan mengalir ke tubuhku, aku duduk dengan lesu dan mencoba mengingat-ingat mimpiku tadi. Perempuan itu... aku sepertinya pernah mengenalnya.

“Siapa dia? Mengapa dia menyebut nama Cahaya?” pertanyaan itu menghujam benakku yang paling dalam.
Ah sudahlah, kan cuma mimpi? Kenapa mesti dipikirin sih?

Ini adalah hari kedua aku sendirian di rumah, besok sore Dinda baru pulang dari wisata. Seperti biasa setelah memeriksa catatan hasil penjualan hari itu, aku tidur. Seharian di pasar memang melelahkan. Aku cepat tertidur pulas karena udara dingin bercampur dengan letihnya badan, klop lah!

Di tengah tidur lelapku aku merasa seseorang hadir di kamar ini, tapi aku sedang tidur, aku duduk di kursi berhadapan dengannya. Dia adalah perempuan yang kemarin datang di mimpiku. 

“Cahaya sudah besar!” begitu dia berucap dan selanjutnya pergi menghilang.

Aku terbangun, keringat dingin mulai membasahi tubuhku! Gila... kenapa aku mimpi yang sama dua hari berturut-turut? Siapakah dia itu? Siapa Cahaya?

Esok paginya saat aku bersiap pergi ke pasar, ada tamu yang datang ke rumah.

“Maaf, ini Bu Prihatini?” tanyanya ketika aku membukakan pintu.

“Iya, saya. Ada apa ya? Anda siapa?” aku balik bertanya.

“Saya Danu Bu, bisa berbicara sebentar kan?” pintanya sopan dan halus.

Aku mempersilakannya, kami duduk diteras depan. Tidak enak kalau ada pria masuk ke dalam rumah karena aku sedang sendirian saat ini, lagipula aku juga tidak tahu siapa dia.

“Ada keperluan apa ya Pak... Pak Danu ya?”

Lelaki itu mengangguk lalu jawabnya, “Saya mewakili keluarga pak Raden Suwiryo Wikromo Sastro Manggolo...”

“Apa?” aku terlonjak mendengar nama yang dia sebutkan tadi.

“Aku tidak ada urusan dengan keluarga itu, tolong Pak Danu bisa sampaikan ke mereka kalau aku sudah menutup masa lalu itu!” aku emosional sekali. Kejadian bertahun lalu seakan kembali hadir di hadapanku..

“Maaf Bu... saya hanya mau menyampaikan kabar penting. Tolong Ibu bisa mendengarkan, setelah itu terserah Ibu!”

Meski emosiku meluap karena jengkel dan marah yang bercampur aduk, tapi kubiarkan dia bercerita. Bagaimanapun rasa penasaran tetap menggelayutiku, kenapa tiba-tiba ada orang suruhannya yang datang menemuiku setelah bertahun-tahun lalu aku dilupakan?

“Pak Raden sudah meninggal Bu, sekitar dua hari yang lalu! Dia berwasiat kepada yang ditinggalkan untuk memberikan sebagian hartanya buat anak Ibu yang bernama Dinda Arum Dalu!”

Pak Danu lalu memberikan sebuah amplop, yang setelah kubuka ternyata berisi sebuah sertifikat deposito atas nama Dinda putriku dan secarik kertas yang ada tulisannya. Tulisan tangan yang acak-acakan, sepertinya orang yang menuliskannya ini mengalamai kesulitan untuk menggerakkan tangan.

“Maafkan aku!” begitu tulisan itu aku baca.

Aku tercekat membaca tulisannya. Mimpi-mimpiku yang hadir dua hari berturut-turut itu membuatku termenung sesaat. Apa hubungan perempuan di mimpiku itu dengan pak Raden yang kukenal dulu. Dia itu dulu tambun, angkuh dan gaya aristokratnya sangat kental. Mungkinkah dia meninggal karena sakit keras?

“Ini kan buat Dinda? Biar dia nanti yang memutuskan!” dengan bibir bergetar kutolak permintaannya secara halus. Kukembalikan amplop beserta isinya kepadanya.

“Tapi Bu...!”

“Biar Dinda yang memutuskan!” potongku cepat dan lugas.

Pak Danu mengangguk-angguk. “Ini kartu nama saya! Ibu bisa menghubungi saya kalau perlu informasi selanjutnya!”

Kuterima kartu nama itu. Danu Prasetyo SH. Itu namanya, rupanya dia seorang pengacara.

“Terima kasih, Bu!”

“Sama-sama! Nanti aku sampaikan ke Dinda!”

Pak Danu lalu pamit, dia kembali ke mobilnya dan pergi. Sedang aku... aku tidak jadi pergi ke pasar. Kepalaku jadi pusing, kejadian bertahun lalu seperti kembali hadir, demi Tuhan aku sudah muak dan lelah dengan itu semua. Harga diriku seperti tercabik-cabik. Kelakuan pak Raden yang nista membuatku hamil. Aku baru berumur enam belas tahun beberapa bulan saat itu –ya seusia Dinda saat ini. Eh... sudah begitu dia tidak mau mengakuinya. Bahkan dia mengusir kami dengan cara memutuskan hubungan kerja secara sepihak terhadap ibuku. 

Saat itu ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya, aku dibawa serta karena aku sekolah di kota itu biar bisa berhemat dan tidak perlu kost. Ternyata malah jadi begini nasibku.Terpaksalah ibu pergi dari rumah itu dengan membawaku.

Tahun-tahun selanjutnya mesti dilalui dengan sangat berat. Ibu bekerja apa saja asal halal, walau penghasilan yang tidak seberapa ibu bisa menghidupiku dan Dinda –cucunya, tentu saja dengan hidup di bawah garis kemiskinan. Syukurlah Tuhan selalu melindungi, sehingga kami bisa menjalani hidup yang keras ini. Bukan hanya masalah ekonomi tapi juga hinaan orang-orang. Menutup mata dan telinga, kami mencoba acuh dengan itu semua, yang penting berjalan di koridor agama dan lurus ke depan berusaha menggapai kehidupan yang lebih baik. 

Kami sudah hidup tenang sekarang, walau ibu sudah meninggal dan aku mesti berjibaku menghidupi diriku sendiri dan anakku tapi aku sudah bisa menjalaninya dengan ikhlas, apalagi Dinda ternyata tidak begitu peduli tentang keberadaan ayahnya. Meski tidak ada sosok ayah di keluarga kami, tapi kami merasakan kami berdua saling melengkapi.

Lalu kenapa si biang kerok tua itu harus muncul? Meski bukan sosoknya yang hadir karena sudah meninggal, tapi deposito untuk Dinda membuatku bertanya-tanya? Darimana dia tahu tentang anakku? Bukankah semenjak kami keluar dari rumah itu dia sama sekali tidak menjenguk. Sekalipun kami tidak pernah bersua. Jadi kenapa dia tahu nama lengkap anakku dan memberinya warisan pula? Darimana dia tahu tentang kami? Ah... kepalaku tambah pusing. Maka setelah mengunci pintu aku minum obat sakit kepala lalu tidur.

Selepas Ashar, Dinda sudah datang. 

“Ibu kenapa, kok lesu gitu sih? Dinda bawa oleh-oleh loh... buah carica kesenangan ibu! Enak kalau diminum dingin!”

Aku tertawa kecil mendengarnya, kusambut kepulangan anakku dengan cemas. Ya aku khawatir sekali. Mau tak mau aku harus menceritakannya, nanti biar dia saja yang menentukan karena deposito itu diperuntukkan baginya. Kalau aku sendiri, aku sudah tidak mau tahu, jelek-jelek begini aku masih mampu hidup dengan hasil jerih payah sendiri.

“Nanti malam, ibu akan traktir kamu makan bakso di warungnya pak Kumis!”

“Wah asyik... asyik... ada acara apa sih Bu?” meski sedikit keheranan tapi Dinda tampak sangat gembira.

Aku kemudian diam sejenak, “Nggak ada acara apa-apa kok!”

Seperti yang sudah kujanjikan aku mentraktirnya makan bakso, tapi tidak dimakan disitu. Aku membelinya dan kubawa pulang. Kukatakan kalau Dinda pasti lelah habis pergi berwisata makanya lebih baik makanannya aku bawa pulang dan dimakan bersama-sama di rumah. Dinda sih setuju meski agak heran.

“Dinda!” aku berkata dengan kaku. Sulit rasanya untuk memulainya.

“Pasti ada yang mau diceritakan sama Ibu... cerita saja! Dinda siap mendengarkan!”

Tenang rasanya mendengar perkataannya, lalu kuceritakan kejadian yang menimpaku bertahun lalu dan membuka rahasia selama ini bahwa Dinda tidak punya ayah karena hanya ayah biologis saja. Dari awal sampai akhir aku ceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Aku pasrah bila nanti anakku berbalik membenciku atau terjadi sesuatu yang di luar perkiraan. Yang penting aku sudah membuka kisahku dengan sebuah kejujuran. Aneh... Dinda seperti tenang saja mendengarnya tidak ada emosi sama sekali.

“Ini, kartu nama pengacara itu, terserah Dinda mau bagaimana!” aku mengakhiri cerita kelamku di masa lalu.
Dinda menerimanya dengan muka malas, dia tidak membacanya sama sekali. Aku bahkan kaget ketika dia malah menyobeknya.

“Dinda kamu kenapa?”

“Buat apa, Bu? Kita kan cuma hidup bertiga dan bisa melalui ini semua! Tidak perlu lah bantuan darinya! Iya kan, Bu?”

Aku bingung dengan jawabannya yang menyatakan hidup bertiga itu, bukankah ibuku atau nenek Dinda sudah lama meninggal? Segera kutepis pikirian itu, mungkin Dinda hanya salah ucap saja, apalagi aku sedang berkonsnetrasi menceritakan tentang kronologis pengacara yang datang membawa pesan ayah biologisnya, “Jadi kamu menolak bantuannya?”

“Ya jelaslah... buat apa? Kalau Ibu sendiri gimana?”

“Ibu lebih senang hidup di atas kaki sendiri, lebih nyaman dan tenteram!”

Kulihat Dinda tersenyum penuh kebanggaan.

“Dinda lelah, mau tidur!” dia lalu bangkit dari kursi duduknya dan melangkah menuju kamar.

Malam itu aku tidak bisa tidur, bayangan masa lalu kembali hadir di benakku. Wajah arogan pak Raden begitu nyata terbayang di mata, juga ketika aku merasakan beratnya hidup karena sudah hamil di saat masih belia padahal aku lagi senang-senangnya bersekolah. 

Oh iya aku baru ingat. Saat aku stress berat karena hamil, aku mengunjungi hutan Alas Purwo untuk menenangkan diri. Disitu aku bertemu perempuan misterius yang memintaku memberi nama Cahaya untuk anak yang akan aku lahirkan kelak. Tiba-tiba tubuhnku merinding... perempuan yang hadir di mimpiku itu ternyata perempuan yang dulu aku temui di hutan Alas Purwo.

Entah mengapa aku merasakan ketakutan yang luar biasa, bayangan Dinda juga berkelabat di benakku. Tergesa aku menuju ruang tidur anakku. Ketika kubuka pintu kamarnya, kulihat Dinda sedang tidur pulas... dan kulihat ada seorang perempuan yang duduk di samping ranjang. Perempuan itu mengelus lembut rambut Dinda.

“Cahaya sudah besar!” ucapnya seraya mengalihkan pandangan ke arahku.

“Dia Dinda... bukan Cahaya!” seruku sengit.

“Terserah kamu mau bilang apa! Dia tetaplah Cahaya!” balasnya dengan tenang. Matanya yang dingin menatapku tajam. Namun dalam hitungan detik dia menghilang begitu saja.

Tiba-tiba kurasakan seluruh badanku seakan luruh dan lemas.

La Planchada