Tuesday, January 7, 2020

Pohon Keramat (Banyuwangi)


Saat itu kami berlima sedang bermain ke pegunungan, bukan untuk mendaki gunung melainkan untuk refreshing saja setelah selesai menjalani ujian semesteran. Dengan mengendarai motor kami berboncengan menuju tempat ini, tidak banyak yang kami bawa kecuali jaket dan tas berisi makanan ringan, kami tidak perlu membawa tikar karena di area wisata pegunungan seperti ini ada yang menyediakan jasa sewa tikar, tidak mahal kok apalagi kami tanggung berlima.

Ini baru pertama kali kami kesini setelah mendapat informasi dari teman kampus yang kebetulan tinggal di kota tempat kami belajar. Tertarik dengan ceritanya kami memutuskan berwisata disini apalagi setelah dihitung-hitung tidak membutuhkan banyak biaya, cukup iuran bensin dan buat membayar retribusi, kami juga sengaja membawa camilan sendiri agar hemat, karena jajan di tempat wisata biasanya lebih mahal.

“Kayaknya disitu asyik buat bersantai ria nih!” seru Ana.

Kami mengikuti arah telunjuk Ana yang berujung ke sebuah hamparan rerumputan hijau dengan beberapa pohon besar di sekitarnya, sepertinya asyik juga karena cahaya matahari tertahan di dedaunan pohon-pohon yang lebat itu sehingga kami tidak akan kepanasan bila duduk disitu.

“Boleh Juga tuh!” ucap Cinta riang.

“Teman yang lain bagaimana?” sambungnya mengalihkan pandangan ke arah kami satu persatu, “Setuju nggak dengan usulan Ana?”

Budi menganggukkan kepala, aku juga demikian.

“Ya deh ikutan aja!” Doni menyahut belakangan.

Akhirnya kami berjalan bersama-sama menuju tempat yang sudah dipilih Ana.

“Disini aja ya?” tawar Cinta kepada kami, dia berhenti berjalan dan menghentak-hentakkan kakinya di tanah, “Lumayan keras dan datar, kalau menggelar tikar disini pasti nyaman buat tiduran!”

“Nggak di ujung situ... tuh, kita bisa melihat pemandangan di bawah!” usul Doni. Dia memberi pilihan untuk duduk di pinggiran tebing.

“Wah nggak berani aku! Bahaya... kalau kita tidak waspada bisa jatuh ke jurang!” tolak Cinta menanggapi usulan Doni.

“Iya... tahu sendiri kalau kita bercanda sering kebablasan, lupa tempat dan waktu, kalau tiba-tiba jatuh kan berabe!” aku setuju dengan argumen Cinta.

“Yaahhh... payah! Kalau sama cewek isinya takut melulu...” suara Doni terdengar kecewa.

“Sudahlah, kita ikutan suara terbanyak saja!” Budi menengahi.

Akhirnya kami berlima duduk di tempat yang dipilih oleh Cinta.

“Bu, sewa tikarnya satu!” ucapku kepada seorang ibu yang membawa beberapa tikar.

Sedari tadi ibu itu mengikuti kami, pasti dia tahu kalau kami membutuhkan tikar untuk duduk. Setelah membayar kami menerima sebuah tikar darinya dan menggelar di atas rerumputan.

“Numpang tanya Bu!” tanya Ana.

Ibu itu menengok ke arah Ana, “Ada apa Mbak?”

“Itu pohon kok beda sendiri sih!” serunya lagi penuh tanya, tangannya menunjuk sebuah pohon yang tumbuh diantara deretan pohon. 

Otomatis kami semua mengikuti arah tangannya, memang benar pohon itu berbeda dengan pohon yang lain. Pohon itu seperti layu dan kering, tidak ada dedaunan yang menghiasi dahan-dahannya, sedang pohon yang lain rimbun dengan daun-daun yang hijau, padahal kalau dipikir-pikir pohon itu tumbuh di areal tanah yang sama.

“Itu pohon keramat Mbak!” jawab ibu itu pendek dan terdengar datar, tapi sungguh mengejutkan kami.

“Ah... yang benar Bu!” bantah Doni tidak percaya.

“Ada penunggunya kali!” sahut Budi kalem.

“Masa pohon ada yang menunggu!” protes yang lain.

“Ada genderuwonya kali... kalau peri cantik mana mau menunggu pohon tua kayak gitu!” celetuk Budi sambil menahan tawa.

“Ngawur kamu!” sergah Ana sambil meninju pundak Budi.

“Emang ada penunggunya ya, Bu?” tanya Doni menanggapi ucapan teman-temannya. 

“Iya Mas, katanya sih perempuan...”

Belum selesai ibu itu berkata kami semua tertawa. Masa ada perempuan penunggu pohon? Berarti betul dong dengan dugaan Budi. Dia yang tahu kalau candaannya ternyata benar menjadi semakin besar kepala. Dia pun tertawa lebih keras dan penuh kebanggaan.

“Makanya jangan meremehkan ucapan kyai Budi... hahahah!”

“Tepatnya mbah dukun Budi!”

“Huuuuuu...”

“Tapi emang benar kok!” ibu itu melanjutkan ucapannya dengan raut muka serius, mau tak mau kami jadi ikut arus juga... maksudnya bisa jadi ibu itu tidak berbohong.

“Ibu pernah lihat ya?” selidik Doni.

“Belum sih... hanya kata orang...”

“Kata orang gimana?” aku tidak sabar mendengar cerita selanjutnya.

“Disitu dulu pernah ditemukan mayat perempuan muda yang menggantung diri, katanya sih putus cinta. Sejak itu pohon itu kering kerontang seakan tidak bertumbuh.”

Kami melongo mendengar penjelasan ibu itu. Sebenarnya kami kurang begitu percaya tapi suara ibu menyiratkan kejujuran.

“Jadi beneran nih ada yang mati disitu?”

“Bener Mbak! Beritanya juga masuk koran kok, tapi sudah lama sekali... dua puluhan tahun yang lalu, ibu masih kecil saat itu.”

“Maaf Mbak, Mas, ibu mau ke tempat lain, siapa tahu ada yang membutuhkan tikar!”

“Silakan Bu, terima kasih informasinya.”

Ibu itu lalu berbalik arah menuju sekumpulan remaja lainnya. 

“Kamu percaya cerita ibu itu?” tanya Cinta kepada kami sesaat duduk di atas tikar.

“Kalau beritanya sampai masuk koran biasanya sih benar!” jawabku agak merinding.

“Menurutku, peristiwa bunuh diri itu mungkin benar adanya, tapi kalau pohon itu lalu jadi keramat karena ada penunggunya aku tidak percaya. Tahayul namanya!” bantah Doni.

“Benar kata Doni!” Budi menimpali, “Biasa lah orang selalu menghubung-hubungkan segala sesuatunya! Karena matinya tidak wajar akhirnya memunculkan kabar-kabar yang di luar nalar alias tidak logis!”

“Tapi... kenapa pohon itu kering kerontang? Lihat di sebelahnya... pohon lainnya tumbuh subur dan rindang tuh!” bantah Ana penuh tanda tanya.

Sejenak kami terdiam, mata kami tertuju ke arah pohon itu. Tapi kemudian Doni memberi argumen yang bisa diterima akal sehat.

“Mungkin saja ada orang yang sengaja melakukan itu! Karena pohon itu sudah dipakai untuk sarana melakukan bunuh diri, mereka menganggap pohon itu tidak layak untuk tumbuh. Mau menebang mungkin takut makanya pohon itu dibuat sekarat alias dibikin agar mati dengan sendirinya!”

“Emang bisa ya pohon dibuat sekarat?” 

“Bisa aja... kalau disirami bensin tiap hari ya pohon itu akan mabuk... hahahahah!” gurau Budi membuat kami semua ikut-ikutan tertawa terbahak.

“Ah sudahlah... ngapain pula membicarakan pohon keramat, mendingan kita duduk-duduk disini sambil ngobrol topik yang hangat dan asyik sembari makan camilan!” Ana akhirnya menutup pembicaraan mengenai pohon keramat itu. Dia lalu mengeluarkan satu stoples makanan kecil yang dia bawa.

“Hayooo... kalian bawa apa?” serunya.

“Aku bawa keripik pisang nih!” jawab Cinta.

“Arem-arem... bisa buat mengisi perut yang lapar!” tambahku sembari mengeluarkan makanan itu dari tasku.
“Seperti perjanjian sebelumnya... aku bawa yang paling berat yaitu air minum kemasan!” timpal Budi seraya mengeluarkan lima botol.

“Doni? Kamu bawa apa hayoo?”

Doni langsung tertawa nyengir mendapat pertanyaan itu, dia lalu mengangkat bahu sambil berkata, “Aku bawa kartu buat main!”

“Lah... kok kartu! Mana enak untuk dimakan?” celetuk Ana iseng.

“Kartu tuh enak buat dimainin... bukan dimakan!” balas Doni sigap, dia seakan tahu arah pembicaraan selanjutnya, yaitu diprotes oleh teman-teman yang lain.

“Betul juga tuh... sambil makan dan ngobrol kita main kartu!” aku pikir usulan Doni oke juga. 

“Kalau main doang mana asyik... pakai taruhan dong!” saran Doni sedikit sombong.

“Hah... taruhan? Gila kamu... di tempat terbuka seperti ini... kegaruk petugas keamanan baru tahu!” sergahku sambil membelalakkan mata.

“Iya tuh... aku pernah baca di koran, ada yang main kartu pakai duit trus ditangkap... katanya sih masuk ranah perjudian!” tambah Budi meyakinkan sekali.

“Aku juga ogah main kartu...!” teriak Cinta sengit, mungkin karena terprovokasi dengan ucapan teman-temannya jadi dia sewot.

“Tuh, Don... usulmu kelewatan sih!” 
“Hahahaha...” Doni malah tertawa terbahak, dengan mimik lucu ia berujar, “Emang taruhan itu cuma pakai uang?”

“Loh... maksudmu?” aku tidak mengerti.

“Gini nih... siapa yang kalah harus menyambangi pohon sekarat... eh keramat itu lalu wajib menciumnya... Asyik nggak?” mata Doni yang sipit berkeliling memandangi kami satu persatu seperti minta persetujuan.

Kami diam sebentar memikirkan tawaran Doni yang aneh dan tidak biasanya itu tapi terus terang cukup bikin penasaran buat uji nyali.

“Aduh... nanti kalau penunggunya marah gimana?” suara Ana terdengar agak ketakutan.

“Iya nih... takut kuwalat!” Aku memperkuat pendapat Ana.

“Gak usah aneh-aneh lah...!” Cinta menimpali.

“Yahhh... kalian para cewek... penakut semua! Siang-siang begini... penunggunya pada tidur lah! Hantu mah keluarnya malam hari!” Doni tidak mau kalah dalam mempertahankan usulannya.

“Betul juga kata Doni... siang-siang begini tidak perlu takut!” Budi tampak setuju dengan tantangan yang ditawarkan teman sesama lelaki itu.

Akhirnya kami berlima memungut suara, bila tiga tidak setuju maka taruhan permainan itu dibatalkan, tapi bila dua saja yang tidak mau berarti usulan Doni akan dijalankan. Kami menulis jawaban itu di balik sepotong kecil kertas yang lalu digulung dan dikumpulkan jadi satu, seperti lintingan arisan.

Tak sabar kami ingin tahu hasil akhirnya. Setelah dibuka... ternyata tiga dari kami setuju dengan taruhan usulan Doni. Bisa dipastikan Doni dan Budi menulis kata setuju, tapi satu orang lagi siapa ya? Kan ada tiga perempuan yaitu Ana, Cinta dan aku sendiri –Evi. Kami bertiga para cewek bahkan saling berpandangan satu sama lain untuk memastikan siapa yang menulis kata setuju. Kayaknya tidak satupun dari kami yang menulis kata itu, meski tidak terucap lewat mulut masing-masing tapi dari tatapan sudah terlihat bahwa kami bertiga kurang setuju. Tapi sudahlah kami tidak boleh menuduh... sesuai perjanjian, mau tak mau kami harus menjalankan kesepakatan itu.

Kami memainkan jenis yang mudah dan jenis mainan kartu yang umum. Putaran pertama ternyata si Budi yang kalah.

“Aku akan menyambangi pohon sekarat itu... hehehe...!” dia seperti tidak ada beban untuk melaksanakan hukuman taruhan, dia lalu bangkit dari tikar dan melangkah menuju pohon itu.

“Hati-hati Bud... kalau ada apa-apa teriak saja!” teriak Doni bercanda.

Budi memalingkan muka ke arah Doni dan mencibirkan mulut lalu balasnya, “Kalau ketemu peri cantik gimana? Heheheh!”

“Dibawa kemari aja... kenalin ke aku!” kelakar Doni lagi.

Kami para perempuan cuma geleng-geleng kepala, meski begitu kami semua mengawasi Budi dari kejauhan. Saat dia sampai di pohon itu pandangan kami sedikit tertahan, agak takut juga, tapi ternyata Budi malah melakukan hal yang konyol. Dia memeluk pohon itu sambil mencium cium gemas. Kami jadi tertawa melihat tingkahnya, rasa takut berubah menjadi geli.

“Gimana Bud? Ada yang aneh nggak?” pancing Doni saat Budi balik ke tempat kami berkumpul.

“Bukan aneh... tapi...!” Budi berkata dengan serius, membuat kami terpana untuk mengikuti ucapannya selanjutnya.

“Tapi apa Bud? Cerita dong!” ucap Ana seperti tidak sabar.

“Tadi seperti ada yang menyengat!” jawab Budi dengan raut muka kayak pemikir.

“Hah... jadi benar ada penunggunya dan dia marah dengan tingkahmu itu?” suara Cinta terdengar sedikit bergetar.

“Jangan nakut-nakutin dong Bud!” protesku.

“Beneran kok... ada yang menyengat karena ternyata disitu banyak semut... hahahahah!”

Huuuu... kami semua terbahak dengan penjelasan Budi. Kirain ada apa... eh ternyata cuma semut!

Kami lalu melanjutkan permainan, silih berganti kami kalah dan mesti melakukan hukuman yang telah disepakati. Namun kami sudah tidak takut dan was-was lagi karena ternyata tidak ada hal yang aneh dengan pohon yang dibilang keramat itu.

“Kita istirahat sejenak lah, main kartu terus capek juga!” Cinta meminta menghentikan permainan itu, dia mengambil makanan dari stoples dan menawarkan kepada kami.

“Iya kita break dulu! Nanti kan bisa diteruskan!” sahutku seraya mencomot sebuah kue kering dari dalam stoples.

Kartu itu lalu kami tumpuk menjadi satu dan diletakkan di tengah tengah tikar.

“Besok kita main kemana lagi? Liburan... bete kalau nggak kemana-mana!”

“Kemana-mana juga mau, asal nggak keluar uang banyak!”

“Betul tuh... main kemana gitu yang murah meriah!”

“Ke pantai aja! Sekarang kan ke gunung... nah besok ke pantai, setuju nggak?”

“Boleh, berarti kita mesti berangkat pagi-pagi sekali atau sekalian sore, ke pantai kalau siang kan bikin kulit item, cahaya matahari di siang hari juga tidak bagus buat kesehatan!”

“Iyalah siapa pula yang mau berpanas-panasan!”

“Mendingan sore, sekalian lihat sun set! Langit cerah semburat warna orange kan bagus, apalagi suasana juga mendukung karena tidak panas!”

“Aku setuju saja, teman-teman yang lain gimana?”

Ternyata kami semua menyetujui dan sepakat untuk main ke pantai. Rencana pun dimatangkan.

“Kita berkumpul di kostnya si Evi saja yang mudah dijangkau!”

Aku mengangguk, “Boleh saja!”

“Tapi pulangnya jangan terlalu malam! Biasa kost putri... ada jam malamnya! Maksimal jam sembilan mesti sudah sampai kost!”

“Ya iyalah siapa pula yang mau ke pantai malam-malam, mau lihat apa? Cuma gelap kan?”

“Sampai sinar matahari nggak terlihat kita putuskan pulang saja!”

Akhirnya rencana itu diketok palu bahwa kami sore setelah Ashar berkumpul di kost aku lalu berangkat bersama-sama pakai motor ke pantai, selepas Maghrib atau matahari terbenam kami putuskan untuk pulang sehingga kami tidak terlambat sampai kost, kalau nggak dapat pintu kan repot!

“Sudah sore nih! Pulang yuk!” pinta Ana.

“Main kartu sekali lagi aja!” tolak Doni.

“Boleh lah... buat “gong” penutup,” sahut Budi.

Kami lalu main kartu sekali lagi sebagai penutup, eh ternyata aku yang kalah... terpaksa deh aku menjalani hukuman.

“Ini pelukan dan ciuman terakhir... dihayati yah!” ledek Doni.

“Ih... kayak mau berpisah sama pacar aja deh!” jawabku kalem.

Aku kemudian berjalan santai ke arah pohon sekarat itu, tidak ada perasaan apapun kecuali ingin segera selesai melaksanakan hukuman dan segera pulang. Teman-teman yang lain tampaknya juga tidak antusias lagi menyaksikanku melaksanakan hukuman, mungkin karena sejak tadi tidak ada kejadian yang aneh-aneh. 

Sesampai disitu, kuamati lagi pohon itu, tidak ada yang istimewa kecuali terlihat sekarat karena kering kerontang, dahan-dahannya juga gundul tidak ada daun yang menempel. Kupeluk pohon itu dengan ogah-ogahan, aku bermaksud menciumnya, tapi mendadak aku merasakan energi yang kuat dan berusaha menarik diriku untuk lebih erat memeluknya, aku jadi gemetaran... kupalingkan wajahku ke arah teman-teman, aku berteriak minta tolong. Tapi mereka terlihat kurang hirau, malah menertawakanku, dikiranya aku bercanda saja. 

Aku semakin ketakutan, apalagi tarikan yang kurasakan bertambah kuat, aku jadi susah bernapas. Kuteriaki teman-temanku lagi, kali ini aku tidak bisa menahan tangis, suara tangisan yang keras pun pecah. Melihatku seperti itu, teman-temanku seperti tersadar kalau ada sesuatu dengan diriku, mereka lantas berlarian menuju ke arahku.

“Ada apa Vi? Kok kamu sampai menangis!” Cinta bertanya dengan wajah ketakutan.

“Iya nih kamu kok pucat sekali!” Ana menambahi.

Sedang Doni dan Budi segera membantuku melepaskan kedua tanganku dari pohon itu. Mereka lalu membimbingku berjalan menjauhinya.

“Ada apa sih Vi? Bikin kami semua senam jantung saja?” tanya Doni gusar. Mungkin dia mengira aku cuma main-main saja.

“Iya Vi... cerita dong! Jangan bikin kita jadi senewen!” Budi menimpali.

Akhirnya aku menceritakan kejadian yang aku alami, bahwa aku merasa ada energi yang kuat dari pohon itu dan seperti menarikku dengan kuat. Awalnya mereka tidak percaya dengan ceritaku karena sudah beberapa kali dari mereka menjalani hukuman tidak satupun yang mengalami kejadian seperti halnya yang menimpaku. Tapi karena melihatku seperti ini, gemetaran dan pucat pasi mereka jadi percaya... atau mungkin terpaksa percaya untuk menjaga perasaanku.

“Makanya kalau tidak setuju dengan taruhan yang aku tawarkan ya ditulis “TIDAK” dong!” protes Doni.

“Aku nulis “TIDAK” kok,” jawabku cepat. 

“Aku juga!” tambah Cinta tak kalah cepat.

“Apalagi aku... si penakut ini... “TIDAK” lah ya!” Ana ikutan menjawab dengan sengit.

“Nah loh... kalian kan tahu sendiri tulisan di lintingan kertas itu!” sergah Doni sewot.

“Iya... nggak usah malu lah!” Budi menambahi.

Kami bertiga saling berpandangan.

“Tapi beneran aku nulis “TIDAK” kok,” aku berkata dengan serius.

“Aku juga menulis begitu!” Ana juga sungguh-sungguh dalam mengucapkannya.

“Berani sumpah... aku menulis “TIDAK” juga,” Cinta apalagi, lebih tegas dalam pengucapannya.

“Baiklah... tidak usah diperdebatkan tapi kita buktikan saja! Sekarang kita ambil lintingan itu dan kita baca lagi, tapi kalian mesti jujur itu tulisan siapa!” Budi mencoba mencari jalan keluar.

Kami setuju dengan tawaran yang diajukan Budi, kami lalu kembali ke tikar dan mengambil lintingan yang berserakan diantara kartu dan bungkus makanan ringan, meski tidak mudah karena tercecer tapi kami akhirnya berhasil mengumpulkan.

“Ini kertas yang pertama– “YA” Tulisan siapa nih?” tanya Budi.

“Aku!” jawab Doni cepat.

“Ini kertas kedua– “TIDAK” Hayo yang ini punya siapa?” tanya Budi lagi.

“Itu tulisanku,” jawab Cinta.

“Kertas ketiga–juga “TIDAK” nih!” lanjutnya.

Aku mengacungkan jari tanda itu tulisanku.

“Yang keempat– “YA”... kalau ini tulisanku sendiri!” ucap Budi.

“Nah... akhirnya kertas kelima! Pasti tulisan Ana... dan jawabnya pasti “YA” dong,” seloroh Budi sedikit gusar.

“Beneran Bud... aku menulis tidak!” teriak Ana galak.

“Baik... bukti otentik tidak bisa dilawan!” sungut Budi.

Dia lalu membuka lipatan kertas yang terakhir, tapi kami semua terbelalak melihatnya karena disitu tertulis kata “TIDAK”. Kami bengong dibuatnya, padahal tadi waktu mau memulai permainan kami melihat dengan jelas bahwa tiga diantara tulisan itu adalah “YA”. Secara refleks kami menengok ke arah pohon itu, entah mengapa rasa takut tiba-tiba menghinggapi kami semua, tergesa-gesa kami mengambil tas masing-masing lalu berlari menjauhi area itu.

Hantu Pohon Asam (Banyuwangi)


Liburan semester kali ini, kami berlima; Dian, Yati, Ratna, Sarah dan aku berencana berlibur ke rumah eyang Dian di Banyuwangi. Menurut cerita Dian, rumah eyangngnya itu terletak di pegunungan, dikelilingi kebun yang ditanami aneka tanaman. Selain itu, di kebun tersebut juga dilewati aliran sungai kecil yang membelah kebun. Wah kami membayangkan pasti asyik tuh liburan disitu.

Dari terminal kota, kami beralih ke angkot desa. Awalnya hanya kami berlima dan beberapa pedagang naik angkot itu, tapi begitu keluar dari terminal dan berjalan pelan menuju desa, satu dua penumpang mulai naik dan akhirnya angkot itu penuh. Mulai terasa deh sesaknya... mana baunya macam-macam lagi... hehehe. Setelah sekitar satu jam perjalanan kami pun sampai. Dengan membawa tas punggung masing-masing kami berjalan menyusuri jalan desa mengikuti langkah Dian. Tak seberapa lama kami pun bisa melihat rumah eyangnya Dian. Tampak bahwa rumah tua berbentuk limasan itu sangat anggun berdiri dikelilingi kebun dan pohon-pohon besar. Beberapa pohon kelapa tegak berdiri laksana barisan prajurit. Juga ada pohon asam yang menjulang di sisi kanan samping rumah. Sepertinya asyik buat memanjat. Di depan rumah, ada halaman besar yang tumbuh beberapa gerombol tanaman bunga mawar liar, ada yang berwarna merah dan ada pula yang berwarna putih. 

Dian membimbing kami memasuki rumah, setelah duduk di ruang tamu Dian masuk ke dalam, tak seberapa lama ia keluar dengan seorang nenek tua.

“Konco-koncone Dian, yo?” tanya nenek dengan logat Jawa yang kental. Kami mengangguk dan satu persatu dari kami menjabat tangan beliau.

“Yo wis, monggo menikmati dusun ini. Eyang akan menyiapkan makan malam buat kalian. Pokoknya anggap rumah sendiri, tidak perlu sungkan,” eyang Dian lalu beranjak meninggalkan kami di ruang tamu.

Setelah ngobrol sejenak dan minum teh yang disajikan oleh Dian, kami pun masuk ruang tidur Dian untuk menaruh tas-tas kami. Ruang tidur Dian besar sekali dan ada dua tempat tidur berjejer, cukuplah buat kami berlima tidur disitu. Lalu kami bergantian mengantri mandi. Kamar mandinya terletak di luar rumah, meski tidak begitu jauh kami lumayan takut kalau malam hari mesti ke kamar mandi sendirian. Tapi kami sudah sepakat untuk saling antar.

Sehabis mandi, kami berlima berjalan-jalan di sekitar rumah. Meski masih sore, hawa dingin lumayan menyergap kami. Awalnya Dian membawa kami ke kebun belakang yang ditanami aneka tanaman buah. Ada buah belimbing, papaya, mangga, jeruk dan beberapa tanaman lain.

“Besok kita bisa membuat acara rujakan nih,” celetuk Ratna girang. 

“Iya... lihat tuh buah-buahnya... segar menggoda selera,” timpal Yati.

“Asal jangan kebanyakan cabe ajah... nanti sakit perut berebut antri ke kamar mandi... kalau malam-malam mau ke kamar mandi emang kalian berani?” tanyaku.

“Kan sudah sepakat saling antar? Kalau ramai ramai mah hantunya yang takut...” ucap Sarah, lanjutnya, “Disini kan kawasan bebas hantu ya Dian?”

Mendengar pernyataan Sarah, Dian tertawa. Kami pun ikut tertawa. Tapi kami terhenyak mendengar penjelasan Dian selanjutnya. “Tapi menurut cerita eyangku, dulu... duluuuuuu sekaliiiii... ada orang Belanda yang digantung di pohon asam itu oleh tentara Jepang. Biasalah jaman perang, nyawa nggak ada harganya.” 

Namun ketika Dian melihat wajah-wajah kami yang berubah ngeri ia pun menyadari kalau cerita itu sudah membuat kami bergidik.

“Eh tapi jangan takut, itu kan cuma cerita... paling juga buat nakut-nakutin aja biar nggak keluar malam-malam... dan selama ini nggak ada hantunya kok... nyatanya eyangku tinggal disini sendiri juga berani. Masak kita berlima kalah nyali sama eyang yang sudah sepuh... malu dong!”

Kami semua pun tertawa terbahak mendengar argumen Dian.

“Iya deh... ntar kalau hantunya nongol kita kerubut saja. Satu banding lima pasti kalah kan?” ucapku seenaknya. Kami tertawa lagi, cerita soal hantu pun berlalu dan kami melanjutnya acara jalan-jalan sore kami mengelilingi kebun dan halaman rumah eyangnya Dian.

Malam itu kami berlima tidur lelap di kamar Dian, maklum seharian perjalanan membuat kami lelah, juga hawa dingin menusuk tulang membuat kami nyaman di balik selimut dan berdesak tidur. Namun tiba-tiba bahuku diguncang seseorang, setengah sadar kulihat Yati mencoba membangunkanku.

“Anterin aku dong, mau pipis nih... habis dingin banget sih jadi kepingin pipis!” Suara Yati terdengar memelas. Terpaksa deh aku bangun. Karena sudah jatahku menemaninya maka meski mata ini berat untuk dibuka dan seluruh badan serasa melayang kupaksa beranjak dari tempat tidur. Dengan dibungkus jaket tebal aku dan Yati keluar kamar menuju kamar mandi yang terletak di luar rumah.

Keluar rumah, hawa dingin segera menyergap kami, setelah menutup pintu dan merapatkan jaket kami ke badan kami pun berjalan beriring ke arah kamar mandi. Suasana desa yang sepi terpecah oleh suara angin dan tanaman-tanaman yang daunnya bergoyang-goyang tertepa angin. Jantungku berdegup kencang, ada perasaan takut menjalar ke tubuhku. Kupikir Yati juga demikian karena langkah kakinya terasa makin cepat saja.

“Eh, pintunya jangan ditutup rapat ya? Aku tunggu di luar pintu!” pintaku kepada Yati. Dia mengangguk setuju. Setelah kami bergantian masuk ke kamar mandi, kami pun berjalan kembali menuju ruang tidur Dian. Saat aku melewati pohon asam itu, meski berjarak bebarapa meter dari emperan rumah tak ayal bulu kudukku berdiri karena tiba-tiba cerita Dian soal orang Belanda yang digantung tentara Jepang itu melintas di pikiranku. Akupun merapat ke badan Yati dan kami berpegangan erat. Aku tidak berani menengok ke arah pohon itu, pokoknya jalan terus saja menuju kamar.

Setelah tiba di pintu rumah, aku merasa lega. Yati masuk duluan baru aku, saat mau menutup pintu tak sengaja mataku melirik ke arah pohon asam. Meski cuma sesaat, mataku menangkap bayangan seseorang tergantung di pohon asam itu, walau kemudian hilang ditelan gelapnya malam. Segera pintu itu kututup dan kukunci. Kami kembali ke kamar tidur dan berusaha tidur. Kulihat keempat temanku tertidur pulas, sedang aku tetap terjaga terbelenggu bayangan di pohon asam itu karena menyisakan sebuah tanya, apakah itu benar-benar bayangan orang Belanda itu ataukah cuma khayalanku saja? Ah... aku merasa malam membentang begitu lama.

Berani Melihat Hantu (Banyuwangi)


Kisah berikut ini merupakan sekumpulan peristiwa mistik yang terjadi di kantor Lastrini, seorang karyawati bagian administrasi di sebuah perusahaan distributor farmasi di Kabupaten Banyuwangi. Cerita mistik yang sudah sering kita dengar, namun cukup menarik untuk disimak dan direnungkan.

Dan berikut ini kisahnya.

Acara makan siang kantor hari ini agak berbeda. Kalau biasanya topik yang dibicarakan sambil makan siang hanya seputar cerita soal politik kantor, infotainment, atau tentang sepak bola, maka siang ini berbeda. Lastrini tidak tahu siapa yang memulai, waktu merapat ke tempat makan, seorang ibu dan dua orang bapak sudah asyik bercerita tentang penampakan di kantor mereka.

Sebenarnya bukan hal baru sih, karena rumor ini sudah ada sejak hari pertama kantor pindah ke daerah ini sekitar tahun 1998 silam. Kata orang, daerah ini dulunya adalah tempat pembuangan mayat para pejuang kemerdekaan oleh penjajah Jepang, sehingga kemudian muncullah ragam kisah horror disini. Betul atau tidaknya masih menjadi tanda tanya hingga sekarang. 

Masuk akal juga sih mengingat ketika pertama masuk ke daerah ini pada masa itu orang-orang menganggap daerah ini adalah tempatnya jin buang anak. Kuntilanak saja bisa kesurupan kalau masuk ke daerah sini. Hehehe.

Itu sih kata orang... 

Namun memang begitulah adanya. Ragam kejadian aneh yang bisa membuat bulu kuduk merinding daftarnya sudah begitu panjang sejak pertama kali kantor ini ditempati. Salah satunya adalah peristiwa berikut ini.

 Suatu hari seorang staff marketing kantor masuk di hari Minggu. Dia orang pertama yang membuka pintu, maklum ketika itu hari libur. Pada saat pintu terbuka si bapak mendengar dengan jelas suara gagang telepon diletakkan dengan agak keras. Si bapak sampai berpikir mungkin ada orang yang terjebak di dalam kantor. Tapi ternyata tidak demikian, karena dia betul-betul seorang diri dan pada hari itu dia adalah orang pertama yang membuka pintu.

Nah, ada lagi cerita lainnya, suatu malam dua orang staff bagian keuangan harus bekerja lembur karena besoknya adalah hari gajian bagi staff harian. Saat sedang asyik menghitung uang dan memilah-milahnya ke dalam amplop tiba-tiba dari kamar mandi terdengar suara gebyar-gebyur seperti ada orang sedang mandi. Mereka kaget karena setahu mereka tidak ada orang lain lagi di dalam kantor itu. Setelah diperiksa, memang betul kamar mandinya kosong padahal suara gebyar-gebyur tadi terdengar begitu jelas sekali.

Satu lagi cerita tentang hantu di kantor ini. Ketika itu seorang bapak datang paling pagi dan langsung masuk ke ruangan divisi teknik. Di ambang pintu sekilas dia melihat bayangan seorang lelaki bergerak masuk ke dalam ruangan direktur yang ada di ujung ruangan. Pikirnya, itu pasti si OB yang biasanya memang datang paling pagi untuk membersihkan ruangan. Tapi ternyata bukan, karena tidak lama kemudian si OB muncul di belakangnya. Si bapak terperanjat kaget. Dia pun bergegas melongok ke ruang direktur dan betul-betul tidak ada orang disana padahal dia yakin sekali kalau tadi melihat bayangan orang dengan jelas berjalan masuk ke ruangan itu.

Cerita-cerita hantu ini mengingatkan Lastrini pada kejadian di acara rekreasi bersama di pantai Boom bersama teman-teman bagian administrasi tempo hari.

Zakia, putri bungsu bu Hamidah yang baru berumur kurang lebih 1 tahun betul-betul rewel ketika dibawa tidur di kamar. Meski sudah lelap di gendongan dia pasti langsung berontak ketika ditaruh di ranjang. Usut punya usut ternyata Zakia takut melihat penampakan seorang perempuan disana, bahkan ibunya juga sempat melihat penampakan perempuan itu yang berambut panjang tergerai sampai pantat, mengenakan jubah putih panjang sampai menutupi mata kaki, dan ia berjalan mondar-mandir di sepanjang lorong penginapan. Keterangannya itu diperkuat oleh kesaksian dari Luthfi yang katanya juga sempat melihat ada wanita yang tidak dikenalnya di tempat mereka menginap.

Lastrini percaya bahwa memang ada orang tertentu yang mendapatkan karunia Tuhan, yaitu bisa melihat langsung kehadiran para mahluk halus tersebut. Mereka yang dikaruniai indera keenam atau bahasa kerennya sixth senses. Ada juga yang sebenarnya tidak punya sixth senses tapi bisa melihat kehadiran para mahluk halus itu. Apakah itu artinya mereka sedang beruntung atau sedang sial. Entahlah... 

Bagaimana dengan Lastrini? Alhamdulillah bahwa sampai saat ini Lastrini belum pernah melihat bentuk penampakan seperti itu. Ia tidak mau takabur, tapi Lastrini mengaku termasuk orang yang tidak terlalu takut dengan hal-hal ghaib seperti itu. Ia merasa yakin bukan karena mempunyai ilmu tertentu atau beriman tebal, tapi ia yakin bahwa mereka, para makhluk ghaib itu juga agak malas mengganggunya karena mungkin mereka berpikir,

“Ngapain mengganggu sesama setan?” katanya sambil bercanda.

Tapi serius, Lastrini juga kadang merasa ngeri kalau tinggal sendirian sambil kerja lembur di kantor malam-malam dan tiba-tiba cerita-cerita horror itu mampir di kepala. Satu-satunya senjata andalan Lastrini untuk mengusir pikiran-pikiran seram itu adalah dengan memasang musik kencang-kencang untuk mengalihkan perhatian.

Lastrini sendiri percaya bahwa makhluk-makhluk ghaib itu memang ada di sekitar kita dimanapun kita berada dan mereka memang muncul sesuai asumsi kita. Semakin kita percaya pada kekuatan dan kemunculan mereka sehingga membuat kita sendiri menjadi takut maka semakin senanglah mereka dan mungkin semakin doyan juga mereka mengganggu manusia.

Makanya Lastrini selalu berusaha untuk menanamkan sugesti bahwa mereka, para makhluk ghaib itu, sebenarnya takut pada manusia dan apa yang disuguhkan oleh film-film horror yang beredar di masyarakat hanyalah penggambaran berlebihan dari sosok bangsa mereka.

Tapi kira-kira kalau bertemu langsung dengan mereka Lastrini berani nggak ya? 

Ehmm... entahlah...! 

Bagaimana dengan Anda? 

Apakah Anda percaya bahwa yang namanya hantu itu benar-benar ada? 

Kalau bertemu langsung, berani tidak? 

Kisah Seram dari Asrama Pesantren (Banyuwangi)

Gambar Hanya Sebagai Ilustrasi, Bukan tempat sebenarnya


Berikut ini adalah sebuah kisah nyata seorang santri yang pernah tinggal di asrama di sebuah pesantren ternama di Banyuwangi. Kisah ini dituturkan oleh Muhammad Sahal Surya Hadiputra. 

Muhammad Sahal Surya Hadiputra sendiri juga mantan anak pesantren. Ia juga pernah tinggal di asrama tersebut. Waktu tiga bulan pertama tinggal di asrama itu, Muhammad Sahal cukup bisa berbaur dengan anak-anak pesantren. Anak-anak tersebut rata-rata memiliki hobi yang sama dengan Muhammad Sahal, suka nongkrong di warung angkringan depan asrama ketika sedang tidak ada tugas ataupun kegiatan. Makanya mereka cukup sering bertandang rame-rame ke salah satu warung angkringan yang banyak berjejer di luar asrama selepas Maghrib, untuk sekedar minum wedang jahe.

Pada saat itu kamar Muhammad Sahal terletak di lantai tiga. Ketua lantai 3, Ikhsan, juga sering ikut nongkrong di warung angkringan dan pulang menjelang tengah malam (aturan asrama pesantren jelas-jelas melarang para santri untuk kembali ke asrama di atas jam 21.00. Tetapi anak asrama mana yang tidak pernah kembali ke asrama lewat tengah malam? Rata-rata mereka pulang ke asrama lewat tengah malam dengan menyelinap melalui pintu khusus yang hanya diketahui oleh para santri yang suka nongkrong di warung angkringan saja).

Pada musim pancaroba biasanya udara akan sangat dingin disini. Makanya para santri suka diam-diam memasak sesuatu yang hangat di dalam asrama, padahal kegiatan itu sangat dilarang. Mati lampu juga adalah hal yang lumrah disini (dan hal ini akan berkaitan dengan kisah yang akan diceritakan nantinya). 

Muhammad Sahal cukup dekat dan akrab dengan Ketua lantai 3, ditambah tiga anak asrama lainnya, yaitu Hamdani, Abdullah, dan Fauzzan. Hamdani yang sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta, punya hobi mengumpulkan berbagai informasi rahasia di pesantren. Abdullah adalah seorang teman yang pernah mempelajari ilmu menerawang alam ghaib sehingga punya pengalaman melihat makhluk-makhluk ghaib. Sedangkan Fauzzan adalah anak yang suka berkunjung ke tempat-tempat angker. Makanya Muhammad Sahal cukup beruntung bisa mendengar berbagai cerita mistik... klenik... namun asyik...!

Dan disini Muhammad Sahal akan menceritakan beberapa kisah.

Usia asrama ini tergolong sangat tua, sehingga banyak sekali kisah angker yang ada disini. Dari situ saja, Muhammad Sahal sudah mendengar setidaknya lima cerita berbeda. Ada yang di kamar mandi, ada yang di depan gerbang, dan yang paling banyak adalah mengenai lantai 3.

Salah satu kisah seram di lantai 3 yang tidak bisa dilupakan oleh Muhammad Sahal adalah kisah ini.

Waktu itu ada seorang santri yang berasal dari luar daerah yang diam-diam bersembunyi di asrama pada saat hari raya Idul Fitri demi menghemat uang, karena jika pulang ke daerah, uangnya akan habis untuk biaya perjalanan. (Biasanya pada saat hari raya Idul Fitri, santri diliburkan selama dua minggu, yaitu seminggu sebelum dan seminggu sesudah hari H, dan selama itu asrama ditutup). Tapi dalam persembunyian itu dia tiba-tiba jatuh sakit, dan karena tidak ada seorangpun yang tinggal di asrama kala itu, maka tidak ada yang merawat dan membawanya ke dokter. Akhirnya dia meninggal di tempat tidur. Baru ketika asrama dibuka kembali, hal tersebut disadari oleh Nur Hidayat, sang petugas penjaga asrama. Semenjak terjadinya peristiwa itu, di lantai tiga sering ada kejadian ketindihan atau tengah malam ada suara orang yang mengetuk pintu meminta obat.

Kemudian ada lagi satu kisah seram lainnya. Ketika itu ada seorang santri yang jatuh cinta dengan salah satu santri perempuan. Sayangnya sang gadis menyukai pria lain. Dikarenakan depresi, akhirnya dia gantung diri di lantai 3. Sebelum gantung diri, dia menggunakan sebuah meja sebagai penopangnya. Makanya terkadang di tengah malam sering terdengar suara seperti meja yang sedang digeser-geser.

Kalau tentang suara meja digeser di tengah malam sih, Muhammad Sahal sendiri pernah mengalaminya. Jadi, kebetulan ada satu teman yang tinggal di lantai 2. Sudah beberapa malam ini setiap pada pukul 23.00 dia sering mendengar suara meja yang digeser-geser di atas langit-langit kamarnya. Suaranya terdengar begitu jelas sekali. Setelah mendengar satu, dua kali, dia akhirnya mengajak kawan-kawannya bergegas ke lantai atas untuk melihat siapa yang sedang usil. Tetapi sesampainya di lantai 3 dan mencari sumber suara, mereka hanya menemukan pintu yang digembok rantai dengan kokoh dan tertutup oleh debu yang tebal. Di atas rantai ada sebuah papan bertuliskan,

“Dilarang masuk, bagi pelanggar akan dihukum!”

Sepertinya sulit dipercaya ada orang yang sengaja masuk ke dalam kamar itu.

Kisah tadi merupakan secuil kisah panjang Muhammad Sahal selama dia menjadi santri di pesantren tersebut. Sebagaimana disebutkan tadi, Muhammad Sahal memiliki seorang teman yaitu Abdullah, yang bisa menerawang alam ghaib. Umumnya orang-orang seperti Abdullah ini memiliki sebuah ketrampilan mirip dengan dukun atau paranormal lainnya. Tugas utama mereka adalah menerawang alam ghaib kemudian memberi nasihat. Tidak jarang ada juga yang memberi ramalan dan mengusir roh jahat.

Kalau sudah libur, asrama disini, tidak peduli asrama putri ataupun putra, akan selalu sepi. Disini kadang memang terdengar desas-desus kisah aneh yang tidak bisa dijelaskan. Salah satu staf pengajar yang bernama Syaifullah dan tinggal di lantai 1 juga pernah mengalami kejadian aneh.

Kebetulan Abdullah cukup akrab dengan staf ini. Jadi dari dialah Abdullah mendengar beberapa cerita seram dan kemudian ia ceritakan kepada Muhammad Sahal. Akibatnya pernah suatu ketika Muhammad Sahal tidak berani pergi mandi ataupun ke toilet kalau sudah larut malam.

Sebenarnya apa yang diceritakan Abdullah kepada Muhammad Sahal sampai dia menjadi takut pergi ke toilet sendirian di tengah malam...?

Begini kisahnya...

Asrama ini memiliki sebuah tempat mandi umum. Di dalamnya ada sebuah bak. Air biasanya dipanaskan dengan menggunakan tungku besar. Disini, kamar mandi dan toilet berada di satu tempat. Di depan pintu masuk terdapat sederet wastafel dan cermin. Agak masuk ke dalam adalah dereten toilet. Dan masuk ke dalam lagi adalah tempat mandi.

Jadi ada satu cerita dimana ada seorang santri yang karena merasa gerah di tengah malam, kemudian memutuskan untuk mandi sendirian. Karena tengah malam memang tidak ada orang, maka air di bak pun sudah menjadi dingin. Pada saat sedang asyik menggosok badan tiba-tiba terdengar suara,

“Pyak... pyak... pyak...” 

Seperti suara orang sedang berlari melintasi lantai yang berair, sampai menyebabkan percikan air...! Dilihat seluruh sisi, tidak terlihat satu orang pun, bagaimana mungkin ada suara? Jadi tanpa peduli apa-apa lagi, dia langsung berlari keluar. Keesokan harinya dia jatuh sakit.

Berikutnya ada satu cerita lagi, seorang santri yang memang mempunyai kebiasaan bangun pagi. Pada saat itu musim hujan, langit masih gelap. Waktu itu dia seorang diri ke area kamar mandi untuk gosok gigi sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba, melalui pantulan di cermin, dia melihat ada seseorang berjalan melintasi dia masuk ke toilet. Tidak lama kemudian dia berjalan keluar. Beberapa saat kemudian, dia masuk lagi, lalu keluar lagi. Kejadian ini terjadi beberapa kali. Karena santri tersebut merasa keheranan jadi ketika orang itu masuk ke toilet, dia pun ikut masuk ke area toilet. Ternyata tidak ada satu orang pun disana, dan lebih herannya lagi, seluruh pintu toilet dalam keadaan terbuka... 

Satu lagi, ada kisah seorang santri yang gara-gara salah makan sehingga mengalami sakit perut. Masalahnya dia tipe orang yang punya kakus langganan, yakni kakus di toilet nomor 3. Pada saat itu, di tengah malam, santri tersebut masuk ke area toilet, dari semua toilet yang ada, ternyata toilet nomor 3 sudah dipakai orang. Mau tidak mau dia pun masuk ke toilet di sebelahnya. Di saat dia sedang duduk, dari toilet nomor 3 terdengar suara desahan nafas yang terdengar terus menerus. Pada saat itu si santri tidak menghiraukannya. Setelah selesai dia pun pergi.

Beberapa saat kemudian, santri ini sakit perut lagi, jadi dia bergegas pergi ke toilet. Ternyata toilet nomor 3 masih tetap dipakai. Dia pun mencoba mengetuk pintu toilet itu. Dari dalam terdengar suara ketukan balasan, itu berarti toilet nomor 3 tersebut memang sedang ada yang menggunakan. Mau tidak mau terpaksa ia pergi ke toilet sebelah. Dan terus menerus mendengar suara desahan nafas seperti sebelumnya.

Dan ini terjadi beberapa kali. Karena merasa kesal dia pun mencoba bertanya.

“Bro, kamu baik-baik saja?” 

Tidak ada balasan sama sekali. Karena penasaran, akhirnya setelah selesai dia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu toilet 3 itu dengan keras. Tanpa diduga pintu itu pun terbuka perlahan-lahan... 

Dan ia merasakan sebersit angin yang sangat dingin melintasi dirinya. Santri ini tambah penasaran saja, kemudian ia pun mengintip ke dalam. 

Namun apa yang ia lihat disana...?

Satu jejak orang pun tidak ada disana. Jadi yang tadi menjawab ketukan di pintu toilet nomor 3 siapa? Dan yang terus-menerus mengeluarkan suara desahan nafas itu siapa? Si santri itu akhirnya mengalami trauma psikis berkepanjangan hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari asrama pesantren dan pulang kembali ke rumah, tidak mau balik lagi ke sana.

Kemudian ada juga sebuah kejadian yang berkaitan dengan masak-memasak di dalam asrama. Gara-gara insiden itu, mau tidak mau Muhammad Sahal harus yakin dan percaya bahwa di asrama ini memang ada “sesuatunya”.

Waktu itu hari terakhir ujian. Karena pada saat semester satu mata pelajarannya lumayan banyak, jadinya mereka ujian terus sampai hari terakhir. Malam itu pun bersama anak-anak asrama yang lain mereka memasak yang serba hangat, seperti; mi instan, wedang ronde, bakar-bakar jagung, dan sebagainya. Dikarenakan besok siang asrama sudah akan ditutup, jadi yang tinggal di asrama hanya beberapa orang santri saja, yang lainnya sudah lebih dulu pulang ke rumah masing-masing.

Muhammad Sahal masih ingat waktu itu hujan gerimis, jadi udara terasa begitu dingin. Kalau sudah begini, sudah pasti ini adalah momen yang tepat untuk makan yang hangat-hangat...! Muhammad Sahal, bersama teman-teman asrama dan si Ketua (si penanggung jawab lantai), sambil makan, mereka bercanda, dan mengobrol ini dan itu. Karena pikiran terasa enteng setelah baru saja selesai ujian, ditambah kondisi udara luar yang begitu dingin, membuat mereka semakin asyik mengobrol ini dan itu, dan suara mereka pun terdengar semakin berisik, hingga tiba-tiba.

“PPETT...!”

Dan kamar pun menjadi gelap gulita...! 

Ternyata mati lampu lagi!

Salah satu teman Muhammad Sahal langsung nyeletuk.

“Asrama sudah hampir tidak dihuni orang, masih saja mati lampu!”

Muhammad Sahal tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Soalnya di sekeliling dirinya terasa sunyi senyap. Si Ketua, yang merasa ada sesuatu yang tidak beres langsung meminta semua agar jangan bersuara. Lalu di luar asrama terdengar suara anjing yang menggonggong terus-menerus. Dan belakangan, gonggongannya tiba-tiba berubah menjadi suara lolongan!

Karena kondisi di ruangan itu gelap gulita, salah satu santri merangkak ke meja belajarnya untuk mencoba mengambil senter. Namun tiba-tiba di pintu (dia kebetulan duduk di dekat pintu), muncul sebuah bayangan hitam, yang kemudian semakin jelas wujudnya menjadi sosok bayangan laki-laki tinggi dan kurus, kemudian dengan logat Madura yang sangat kental dan dengan suara yang keras menggelegar dia pun berteriak marah kepada para santri tersebut.

“Dasar anak-anak nakal! Sudah dibilang berapa kali jangan masak di dalam kamar, masih juga masak!”

Teman yang hendak mengambil senter itu pun menjawab.

“Sudah hampir selesai kok.”

Bayangan hitam itu pun kemudian menghilang secara perlahan. Anjing yang tadinya melolong-lolong di luar sana sudah tenang kembali. Lampu juga akhirnya menyala. Hanya saja Muhammad Sahal melihat wajah Ketua menjadi pucat pasi. Dia bilang dia tidak ingin makan lagi. Dia juga minta semuanya malam ini juga lebih baik pulang ke rumah masing-masing, jangan tinggal di asrama lagi. Soalnya, tadi yang berdiri di pintu itu bukanlah manusia... 

Kata si Ketua, sebelum para santri angkatan yang baru termasuk Muhammad Sahal masuk ke asrama ini, dulu ada seorang petugas yang tinggal di belakang asrama. Dia orang Madura, postur tubuh tinggi dan kurus. Dulu setiap kali ada yang diam-diam memasak di dalam kamar asrama, terus mati lampu, orang itu pasti akan marah habis-habisan. Suaranya biasanya sangat keras, sampai para santri dari lantai 1 sampai lantai 3 pun bisa mendengar suaranya.

Tapi dengar-dengar si Madura itu akhirnya meninggal sewaktu pergi ke Surabaya sana. Semenjak itu tidak pernah kelihatan lagi. Jadi, perlahan-lahan tradisi masak-masak di dalam kamar pun mulai berlanjut lagi. Hanya saja, kata si Ketua, kadang-kadang arwahnya “kembali” ke kamar tempat dia tinggal dulu. 

Mendengar penjelasan itu, para santri lantas kompak bermain kartu sampai pagi, tidak ada satupun yang berani memejamkan mata, masing-masing saling mengingatkan agar jangan sampai tertidur. Semua cemas jangan-jangan ada arwah lain lagi yang mendatangi mereka ketika sedang tertidur pulas. Keesokan harinya semua segera mengemasi barang-barang mereka dan langsung pulang ke rumah masing-masing.

Kerasukan Jin (Banyuwangi)


Masa liburan semesteran yang panjang akan segera tiba. Alex adalah seorang mahasiswa semester 4 di sebuah universitas di Yogyakarta. Bersama ketiga temannya yaitu Wisnu, Nurdin, dan Rudy, mereka berencana untuk mengisi liburan semesteran di rumah paman Alex yang bernama pak Darmadji, di sebuah dusun yang terpencil di daerah Banyuwangi. Mereka sengaja mencari tempat terpencil yang tenang dan damai untuk benar-benar memuaskan kerinduan mereka akan ketenangan setelah selama satu semester mereka menghabiskan waktu untuk belajar, belajar, dan belajar di kampus.

Acara mengisi liburan pun dirancang sedemikian matang. Mereka ingin menikmati ketenangan itu sembari lebih mendekatkan diri dengan alam pedesaan. Rumah pak Darmadji ini meski masih harus melewati jalan setapak sejauh 1 kilometer bagi mereka tidak masalah.

Singkat cerita, mereka berempat berangkat dari tempat kost dengan membawa bekal pakaian dan sebagainya masing-masing sebanyak satu tas ransel saja. Dengan naik bus, mereka akhirnya tiba di sebuah terminal angkutan kecil di Banyuwangi sekitar pukul 16.30 WIB. Dilanjutkan dengan naik ojek menuju ke dusun tempat tinggal pak Darmadji. Kemudian mereka berhenti di dekat persawahan karena sudah sampai pada jalan setapak menuju ke rumah pak Darmadji. 

Setelah berjalan kaki menyusuri jalan setapak sepanjang satu kilometer, akhirnya menjelang Maghrib mereka baru tiba di rumah pak Darmadji. Namun karena rumahnya sempit maka acara menginap dialihkan dengan bermalam di rumah pak Darmadji yang satunya. 

Rumah pak Darmadji yang ini merupakan pondok kosong peninggalan almarhum mertuanya. Pondok tersebut dinding-dindingnya terbuat dari kayu. Letaknya menyendiri di antara rumah-rumah yang bertebaran di dusun yang berada di pinggiran bukit itu. Lokasi pondok kosong itu agak menonjol, berada di dataran agak tinggi. Di sebelah pondok terdapat satu pohon beringin yang besar sekali, sepertinya usia pohon itu sudah puluhan tahun. Ketika Alex menawarkan teman-temannya untuk menginap di pondok kosong itu mereka tidak keberatan. Pasalnya pada malam liburan, keempat sekawan ini sering meluangkan waktu untuk bermain gitar bersama dan menyanyi sambil membakar jagung.

“Terserah kalian kalau mau tinggal di rumah kosong itu. Rumah itu kepunyaan almarhum orang tua bulik (tante)mu, dulu ditempati pekerja bangunan yang sedang membangun talud di desa ini tapi kemudian mereka pindah karena merasa tidak kerasan,” ujar pak Darmadji. 

Pondok kosong itu lumayan luas dengan dua buah kamar tidur dan sebuah dapur yang masih tradisional... 

Ketika malam tiba. Setelah selesai menghabiskan makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah sambil bercanda tawa dan merencanakan berbagai kegiatan untuk esok hari termasuk pergi mandi di sungai yang mengalir dari atas bukit. Selain itu, mereka juga santai-santai sambil bermain gitar. Makin lama nyanyian yang diperdendangkan semakin mendayu hingga akhirnya satu per satu dari mereka jatuh tertidur. Hanya Wisnu dan Rudy saja yang kemudian bangun dan terjaga cukup lama. Keduanya kemudian meneruskan bercengkerama dengan suara pelan, dan tidak lagi diiringi petikan gitar, agar tidak mengganggu kedua rekannya yang sudah tertidur pulas.

Keduanya membicarakan persoalan seputar kabar politik saat ini. Tiba-tiba mereka berdua yang sedari tadi terlihat termenung mendengar suara pintu diketuk. Serta merta keduanya menoleh ke arah pintu itu. Kemudian Wisnu berdiri dan membuka pintu, Ia terpaku karena tidak ada seorangpun di luar. Dia menengok ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada seorangpun juga. Tiba-tiba dia melihat sesosok bayangan yang berjalan menuju pohon beringin di samping rumah. Pelan-pelan dengan rasa penasaran, Wisnu mengikuti bayangan tersebut.

Sementara itu, Rudy yang masih berada di dalam rumah berteriak memanggil Wisnu. 

“Siapa Wis, yang datang?” 

Namun, tidak ada jawaban. 

“Wis, siapa yang datang?” Rudy mengulangi pertanyaannya dengan nada agak lebih keras lagi. Suara Rudy yang agak keras ini membuat Alex dan Nurdin terbangun. 

“Ada apa sih Rud, kok malam-malam gini teriak-teriak?” tanya Nurdin. 

“Tadi ada yang mengetuk pintu, sudah dibukakan sama Wisnu, entahlah... siapa yang malam-malam begini bertamu,” jawab Rudy. 

Dengan rasa penasaran, Rudy berdiri kemudian mencoba menyusul Wisnu yang masih berada di luar. Sampai di luar rumah, suasana tampak sepi tak ada seorangpun. Rudy mencoba memanggil-manggil Wisnu.

 “Wis... dimana kamu, Wisnu jawab, dimana kamu?” 

Rudy mencoba berjalan mengelilingi pondok, tapi tetap saja sepi tidak nampak Wisnu maupun orang lain. Kemudian dia masuk kembali ke dalam pondok menemui Alex dan Nurdin. 

“Aneh, kok di luar Wisnu tidak ada ya?” kata Rudy

“Sembunyi kali Rud, pingin ngerjain kamu... hehehe,” gurau Nurdin. 

“Tapi tadi ada yang mengetuk pintu,” jawab Rudy.

“Ayo kita lihat saja daripada penasaran,” tambah Alex. 

Pada saat ketiganya mau berdiri, tiba-tiba Wisnu masuk ke dalam pondok dengan wajah aneh. Raut mukanya nampak pucat pasi, kedua matanya memerah dan melotot. Nafasnya terengah-engah penuh emosi. 

“Pergi kalian dari sini...!” teriak Wisnu dengan suara yang keras dan menggelegar.

“Hei..! Ada apa Wis, kenapa kau ini?” tanya Alex. 

Pada saat bersamaan, Nurdin berbisik kepada Rudy.

“Rud sepertinya itu bukan suara Wisnu, jangan-jangan dia kesurupan,” bisik Nurdin. 

“Aku bukan Wisnu, pergi kalian... PERGI... sebelum aku marah..! Aku tidak suka kalian berada disini, pergi kalian,”

“Wis, istighfar Wis... istighfar..!” kata Alex. 

Sedangkan Nurdin dan Rudy hanya berdiri ketakutan sambil membaca-baca doa. 

“Pergi kalian semua... PERGI... PERGIII...!” teriak Wisnu, dengan nada yang tinggi.

Lama-kelamaan suaranya terdengah lirih serta tubuhnya mulai lunglai dan tiba-tiba... 

“Brukk...!”

Wisnu pun jatuh pingsan. 

Alex, Rudy, dan Nurdin bergegas mengangkat tubuh Wisnu yang tergeletak pingsan, dan memindahkannya ke dalam kamar. Mereka bertiga berusaha menyadarkannya. 

“Wisnu... bangun, ayo bangun Wis... sadar... sadarlah Wis,” ketiga temannya mencoba menyadarkan Wisnu.
Akhirnya seiring dengan berkumandangnya adzan Subuh, Wisnu mulai sadar. Ketiga temannya mulai tenang dan memberinya minum. 

“Ada apa kalian ini, mengapa memandangiku seperti itu dan kenapa aku harus minum air ini?” tanya Wisnu.

“Semalam kamu pingsan, sepertinya kamu kesu–” jawab Rudy, namun dipotong oleh Nurdin. 

“Sudahlah, dilanjut nanti. Sekarang ayo kita shalat subuh berjamaah dulu.” 

Selesai shalat subuh berjamaah, kembali Wisnu bertanya pada ketiga temannya.

“Kenapa sih kalian tadi memandangiku?”

“Siapa tadi malam yang ketuk pintu, dan kamu terus menghilang ke mana, kok pulang-pulang kamu langsung jatuh pingsan?” tanya Rudy.

“Oh, jadi itu? Semalam yang ketuk pintu itu seorang nenek, namanya mbah Darsiyem. Dia menangis karena tidak bisa tidur. Rupanya ketika kita bermain gitar, bernyanyi, dan bergurau semalam, suara kita terlalu keras, sehingga mengganggunya. Tapi aku sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya, dan akhirnya mbah Darsiyem pulang. Semula mau aku antar pulang sampai ke rumahnya, tapi mbah Darsiyem menolak. Cukup sampai depan pohon beringin saja, sudah dekat kok, begitu katanya. Akhirnya aku kembali masuk, dan melihat kalian bertiga sudah tidur nyenyak sekali, makanya akupun langsung masuk kamar dan tidur. Jadi siapa yang pingsan...?” cerita Wisnu. 

“Tapi...”

Belum selesai Rudy bicara terdengar pintu diketuk, ternyata pak Darmadji datang membawa singkong rebus dan satu teko teh hangat. 

“Bagaimana tidur kalian, nyenyak kan...?” tanya pak Darmadji. 

Kemudian mereka berempat mulai menceritakan kejadian aneh semalam.

“Oh... jadi itu rupanya yang menyebabkan para pekerja bangunan itu merasa tidak kerasan tinggal di pondok ini. Kalau begitu nanti malam kalian pindah ke rumah paman saja. Disini tidak ada nenek yang bernama Darsiyem. Mungkin dia jin penunggu pohon beringin besar yang berada di samping pondok ini,” tutur pak Darmadji dan langsung pamit pergi tidak melanjutkan ceritanya. 

Alex tahu tentang keganjilan itu, siang itu juga ia mengajak teman-temannya pindah ke rumah pamannya. Alex ketika itu hanya berpikir, bisa saja jin penunggu pohon beringin besar itu merasa terusik oleh kehadiran mereka.

Monday, January 6, 2020

Bersekutu dengan Bangsa Jin (Banyuwangi)



Demi masa depan kedua anaknya, Indarsih nekad memilih jalan hidup yang mungkin sangat sulit diterima oleh akal sehat. Ia rela menikah dengan bangsa jin. Hal ini ia lakukan bukan semata-mata karena ia mendambakan hidup bahagia dengan limpahan harta dari suaminya yang berasal dari dunia ghaib tersebut. Namun, sekali lagi, ia melakukannya demi masa depan kedua anaknya yang telah lama ditinggal pergi oleh ayahnya.

Tapi, bagaimana kenyataan selanjutnya yang harus ia hadapi? 

Begini ceritanya...

Kehidupan rumah tangga Indarsih pada awalnya sangat bahagia. Suaminya, Waskito utomo, adalah seorang pria yang sangat bertanggungjawab. Ia juga seorang ayah yang baik dan sangat menyayangi ketiga anaknya.
Suatu ketika mereka harus pindah dari Surabaya ke Bogor. Maklum saja, ketika itu Waskito dimutasi ke kantor cabang perusahaan tempatnya bekerja dengan posisi, jabatan, dan juga gaji yang tentu saja jauh lebih baik. Semula mereka berharap akan mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia lagi di tempat baru ini, namun justru di kota hujan inilah kepahitan itu berawal.

Ya, benar...!

Tragedi itu bermula dari vonis kanker otak terhadap anak ketiga mereka yaitu Hendarman Priyambodo, yang ketika itu baru berumur tiga tahun. Kenyataan ini sungguh memukul batin Indarsih dan suaminya. Sejak si bungsu divonis mengidap kanker otak, Indarsih sering melihat suaminya melamun seorang diri. Memang, dibanding kedua anaknya yang lain, Waskito jauh lebih menyayangi si bungsu. Sebab semenjak masih bayi merah, anak ini memang sering sakit-sakitan sehingga membutuhkan perhatian ekstra dari mereka. 

Mungkin karena itulah tumbuh kasih sayang yang sangat besar dari kedua pasangan ini, terutama Waskito yang pernah menyebut Hendarman sebagai “anak yang akan memiliki banyak keajaiban.”

Sebab ketika Indarsih mengandungnya, Waskito mengaku sering bermimpi ditemui seorang kakek bersorban putih mirip sosok seorang wali, yang menitipkan anak kepadanya. Namun, mimpi hanyalah mimpi. Kenyataan tetap berbicara lain.

Meski biaya pengobatan si kecil ditanggung oleh Asuransi Kesehatan (ASKES) dari perusahaan tempat Waskito bekerja, namun karena penyakit yang diderita oleh anak bungsunya tergolong relatif langka dan sulit disembuhkan, maka usaha mereka membawanya berobat ke berbagai rumah sakit ternama di Kota Bogor sepertinya hanya sia-sia saja. Bila sedang kumat si kecil Hendarman sering jatuh pingsan, dan mereka sebagai orang tua merasa bingung, tidak tahu harus berbuat apa untuk menolongnya, kecuali hanya dengan membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin untuk sekedar mendapatkan penangangan gawat darurat.

Mereka hampir putus asa menghadapi keadaan si bungsu. Puncaknya, pada musim libur hari raya Idul Fitri di tahun 2001 silam. Ketika itu mereka sekeluarga memutuskan untuk mudik ke kampung halaman Indarsih di Banyuwangi, Jawa Timur. Disamping ingin berlebaran bersama keluarga besar, rencananya kesempatan ini juga akan mereka gunakan untuk mencari cara alternatif guna mengobati penyakit yang diderita oleh si bungsu.

Namun sekali lagi, manusia hanya bisa berencana dan berusaha, sedangkan hasilnya Tuhan juga yang menentukan. Itulah yang terjadi. Seminggu setelah tinggal di rumah orang tua Indarsih untuk menikmati liburan, dan sebelum sempat mereka membawa si bungsu berobat secara alternatif, ternyata Tuhan telah memanggilnya terlebih dulu. Hendarman Priyambodo menghembuskan nafas terakhirnya dalam gendongan ayahnya.

Kepahitan ini terjadi hanya tiga hari setelah hari raya Idul Fitri. Betapa berdukanya mereka sekeluarga karena kepergian si bungsu bertepatan pada hari yang semestinya penuh dengan perayaan dan kebahagiaan. Apalagi pada malam sebelumnya si bungsu Hendarman masih sehat dan bermain-main dengan Indarsih dan Waskito. Baru menjelang subuh ia pingsan setelah lebih dulu kejang karena menahan sakit pada kepalanya, sampai akhirnya ia tak kuat lagi melawan rasa sakit itu, dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam gendongan Waskito.

Kepergian si bungsu sungguh merupakan kehilangan yang teramat besar bagi pasangan Indarsih dan Waskito. Sebagai seorang ibu yang telah merawatnya sejak masih dalam kandungan, sudah barang tentu sulit bagi Indarsih untuk mengikhlaskan kepergiannya. Waskito pun sepertinya merasakan hal yang sama. Namun sebagai lelaki, ia sudah pasti jauh lebih kuat mentalnya jika dibandingkan dengan Indarsih. Buktinya, walau masih dalam keadaan berduka, setelah selamatan tujuh hari kepergian putra kesayangannya, Waskito langsung kembali ke kota Bogor untuk melakukan rutinitasnya sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. 

Sementara itu Indarsih sendiri lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya. Demikian pula dengan kedua anak mereka yang ketika itu baru duduk di kelas satu dan kelas dua SMP. Mereka tetap tinggal di Banyuwangi, bahkan karena kedekatan dengan kakek dan neneknya, kedua anak tersebut memilih untuk pindah sekolah dari Bogor ke Banyuwangi.

Sejak kepergian si bungsu, hari-hari yang harus dilalui oleh Indarsih terasa sangat hampa. Berat pula baginya untuk kembali ke Bogor mengingat kedua putra dan putrinya juga enggan untuk menyusul ayahnya pulang ke sana. Karena keadaan inilah, maka pada akhirnya Indarsih pun lebih memilih untuk tinggal dan menetap di Banyuwangi. Suaminya cukup mengerti dengan pilihan Indarsih ini. Ia tahu pasti kalau kondisi kejiwaan Indarsih masih sangat labil.

Lima bulan telah berlalu semenjak kematian si bungsu, Waskito masih rutin mengirimi Indarsih uang untuk biaya hidup setiap bulannya. Namun di bulan ke-6 terjadilah sesuatu yang tak pernah diduga oleh Indarsih sebelumnya. Kiriman uang dari Waskito tak kunjung tiba sesuai jadwal biasanya. Mendapati kenyataan ini, Indarsih kemudian mencoba menghubungi suaminya melalui ponsel miliknya, tapi ternyata hanya masuk mailbox. Ketika ia mencoba melakukan kontak lewat telepon kantor, pihak resepsionis malah mengatakan bahwa Waskito, suaminya sudah mengundurkan diri sejak sebulan yang lalu.

Berita ini benar-benar membuat Indarsih pusing tujuh keliling. Mengapa suaminya mengundurkan diri dari pekerjaan dengan tanpa terlebih dahulu meminta pendapatnya, atau setidaknya memberitahu dirinya? Apa yang telah terjadi dengannya? Mengapa ia begitu berani mengambil keputusan yang sedemikian gegabah? Apakah ia sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih menjanjikan?

Setumpuk pertanyaan dalam benak Indarsih itu tak pernah mendapatkan jawabannya, sebab semenjak ia menerima berita tersebut, Waskito, suaminya itu seolah telah menghilang dari jagat raya ini. Tak pernah sedikitpun Indarsih mendengar kabar tentang dirinya. Berulang kali ia menghubungi nomor ponselnya, namun yang ia dengar hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi.

Betapa kecewa hati Indarsih, sebab Waskito pun sama sekali tak pernah mengontak dirinya lagi walau hanya sekejap saja.

Kemana perginya Waskito? Tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Ia telah pergi tanpa pesan. Meninggalkan Indarsih dengan dua orang anak yang masih membutuhkan biaya hidup yang sangat besar, terutama untuk pendidikannya kelak.

Di tengah keputusasaan itu Indarsih bertemu dengan sahabatnya semasa SMA dulu. Sebut saja namanya Sumiyarsih. Waktu itu Indarsih sangat terkejut melihat keadaan Sumiyarsih yang sepertinya sudah menjadi orang sukses. Ia bisa menyetir sendiri mobilnya yang bagus dan sangat mewah untuk ukuran Indarsih. Tak hanya itu, ia juga sudah berganti nama menjadi Laila dan sudah bisa pergi haji. Ia nampak cantik sekali dengan balutan busana muslimah.

Bagaimana ceritanya sampai kehidupan Sumiyarsih bisa berubah dengan sedemikian drastis? Padahal, Indarsih tahu persis bagaimana asal-usul sahabatnya ini. Ia lahir dari keluarga buruh tani yang sangat miskin. Bahkan sewaktu sekolah dulu ia sering menunggak biaya sekolah, dan kalau jajan di kantin sering kali Indarsih yang mentraktirnya.

Melihat Sumiyarsih yang sudah hidup senang dan bergelimang kemewahan, terus terang saja Indarsih merasa sangat iri padanya. Dan sahabatnya ini seolah-olah bisa membaca perasaan Indarsih. Buktinya, seminggu setelah bertemu dengannya, ia mengundang Indarsih datang ke rumahnya.

Ketika Indarsih sampai di rumahnya, kekagumannya pada sahabatnya itu semakin besar saja. Bagaimana tidak? Ia melihat rumah Sumiyarsih yang megah dan sangat mewah menurut penilaian Indarsih.

“Kemana suami dan anak-anakmu, Sum?” tanya Indarsih saat melihat suasana rumah yang sepi sekali.

Sumiyarsih tersenyum sambil menyuguhkan cemilan di hadapan Indarsih. 

“Aku sudah 5 tahun menjanda, In!” katanya.

Mendengar jawaban itu, Indarsih merasa sedikit tak enak hati. Namun, Sumiyarsih sepertinya tidak merisaukan pertanyaan dari Indarsih barusan. Buktinya ia segera menyambung penjelasannya.

“Suamiku dulu selingkuh, jadi kupikir lebih baik ya bercerai saja. Lagi pula, sekarang ini keadaanku sudah cukup mapan. Karena itu meski mantan suamiku sering meminta ingin kembali, tapi dengan tegas selalu aku tolak. Apalagi kedua anakku juga sudah besar. Mereka tidak pernah menanyakan bapaknya. Ya, beginilah kehidupanku, dan aku merasa cukup bahagia meski tanpa suami. Oh... ya, bagaimana dengan keadaanmu, Indarsih?”

Karena ditodong pertanyaan seperti itu, akhirnya tanpa tedeng aling-aling Indarsih pun menceritakan bagaimana porak-porandanya keluarganya. Sebagai sahabat, sepertinya Sumiyarsih sangat tersentuh mendengar cerita sedih Indarsih.

Ia berkata setelah menyimak ceritanya.

“Aku ini tetap sahabatmu, Indarsih. Karena itu aku juga ingin melihat hidupmu bahagia. Masalahnya, apakah kau mau melakukan solusi yang akan kuberikan, dan apakah kau akan mempercayainya?”

“Seperti apa solusi yang kau tawarkan itu, Sum?” Indarsih balik bertanya.

“Kau harus kawin dengan bangsa jin...!”

Betapa terkejutnya Indarsih mendengar jawaban dari mulut mungil sahabatnya ini. Bagaimana mungkin Sumiyarsih yang sudah pernah pergi haji itu sampai tega menawarkan solusi sesat itu kepadanya?

Seolah bisa membaca keterkejutan Indarsih, Sumiyarsih buru-buru menyambung ucapannya sambil tersenyum.

“Kau jangan buru-buru berpikiran negatif! Kau pasti menyangka ini semacam pesugihan bukan? Sama sekali tidak, Indarsih! Menurutku ini adalah suatu yang halal. Kau akan dinikahkan dengan makhluk itu secara Islam. Selama kau menjadi isterinya, makhluk itu akan menafkahimu secara lahir dan batin. Bila kau sudah merasa punya cukup modal, kau bisa bercerai dengannya. Dan yang paling penting, ritual ini tidak ada tumbal macam-macam. Asal kau tahu saja, aku bisa seperti ini juga karena melakukan ritual itu. Setahun lalu aku minta cerai dari makhluk itu sebab aku sudah merasa punya cukup modal untuk bekal hidup sampai tujuh turunan. Makhluk itu bersedia menceraikanku, dan sekarang hidupku tenang sebab aku juga bisa menjalankan ibadah.”

Setelah mendengar penjelasan Sumiyarsih seperti itu, Indarsih pun mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya. Terlebih lagi kehidupan saat itu memang sangat sulit bagi dirinya. Bapaknya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga sudah berhenti bekerja karena penyakit diabetes yang merongrong tubuhnya. Belum lagi Indarsih juga harus memikirkan biaya sekolah dan masa depan kedua anaknya. Walau bagaimana pun mereka harus terus sekolah dan kuliah sampai ke perguruan tinggi.

Dengan kedua alasan tersebut akhirnya Indarsih meminta Sumiyarsih untuk mengantarkan dirinya ke rumah “orang pintar” yang katanya sudah biasa memandu ritual kawin dengan bangsa jin itu.

Singkat cerita, Sumiyarsih mempertemukan Indarsih dengan Kyai Badrun, seorang paranormal yang biasa mengawinkan manusia dengan bangsa jin. Setelah mendengarkan penjelasan tentang keinginan Indarsih yang disampaikan oleh Sumiyarsih, Kyai Badrun mengaku bersedia membantu. Namun Indarsih diminta untuk mempersiapkan semua kelengkapannya, seperti ayam cemani, kembang tujuh rupa, dan berbagai sarana lain untuk selamatan ritual perkawinan itu nantinya. Sumiyarsih bersedia membantu Indarsih menyiapkan semua keperluan ini.

Benar juga kata Sumiyarsih. Ritual perkawinan itu memang seperti halnya prosesi perkawinan dalam aturan hukum Islam. Artinya, ada saksi, penghulu, wali, pengantin, dan juga ijab kabul, bahkan juga mas kawin berupa cincin emas. Untuk wali langsung diwakilkan kepada Kyai Badrun, sebab ayah Indarsih memang tidak mungkin bisa dihadirkan. Jadi, dalam prosesi pernikahan itu Kyai Badrun bertindak sebagai wali sekaligus penghulunya.

Karena mempelai lelaki tak bisa dilihat oleh mata Indarsih, maka proses ijab kabul pun sangat janggal menurut Indarsih. Sama sekali tidak ada ucapan akad nikah, meski kemudian wali dan saksi langsung mengesahkannya.

Yang juga terasa aneh, setelah prosesi pernikahan selesai, Sumiyarsih berbisik di telinga Indarsih.

“Suamimu itu tampan sekali, Indarsih. Kau beruntung mendapatkannya!”

Tampan? Bagaimana mungkin Sumiyarsih mengatakan ini pada Indarsih, padahal Indarsih sama sekali tidak melihat keberadaan suami yang katanya tampan itu. Apakah memang Sumiyarsih bisa melihat perwujudannya sehingga ia bisa berkata demikian?

Indarsih tak tahu pasti. Yang jelas, ia meyakini kalau Sumiyarsih hanya membohonginya. Buktinya, ia mengalami ketakutan yang teramat sangat ketika di malam Jum’at Kliwon itu suami ghaibnya datang dan ingin menjalankan kewajibannya di malam pertama. 

Memang, sesuai dengan pesan Kyai Badrun, malam pertama Indarsih dengan suaminya yang merupakan bangsa jin itu akan dimulai persis pada malam Jum’at Kliwon. Dan menurut paranormal itu, setelah menjalankan kewajibannya di malam pertama, maka suaminya itu akan memberikan nafkah materinya berupa tumpukan uang dalam jumlah yang lebih dari mencukupi.

Persis di malam Jum’at itu kebetulan di kampung tempat tinggal Indarsih sedang ada acara hajatan dengan hiburan musik dangdut. Kedua anak Indarsih sejak sore sudah minta ditemani nonton. Karena ada niatan khusus, sudah tentu Indarsih menyuruh mereka pergi nonton sendiri. Yang tinggal di rumah hanya ayah Indarsih yang terbaring sakit dan ibu yang selalu setia menemaninya.

Menjelang tengah malam kedua anak Indarsih pulang, dan mereka tidur di kamar depan. Indarsih sendiri masih menunggu apa yang akan terjadi. Pintu kamar ia kunci rapat-rapat, meski udara malam itu terasa sangat panas dan gerah.

Sesuai dengan pesan Kyai Badrun, Indarsih sudah berdandan cantik dengan pakaian yang sudah diberi minyak khusus pemberian dukun itu, yang baunya sangat menyengat. Indarsih tak ubahnya seperti pengantin perempuan yang sedang menunggu kehadiran sang pengantin pria untuk menikmati bulan madu.

Menjelang pukul satu dini hari masih tetap tidak terjadi apa-apa. Indarsih pun mulai lelah menunggu. Sambil menahan kantuk ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ketika rasa kantuk sudah mulai menggayuti pelupuk matanya, antara sadar dan tidak ia dikejutkan oleh sesuatu yang terjadi di dalam kamarnya.

Aneh sekali, sepertinya ada sosok bayangan hitam yang tiba-tiba muncul dari balik dinding. Beberapa saat kemudian bayangan itu semakin mempertegas wujudnya. Ya, seorang lelaki tinggi besar, berbadan hitam dan licin berkilat. Dan yang sungguh aneh, dia sama sekali tidak mengenakan pakaian walau sehelai benang pun.

Siapakah lelaki tinggi besar ini? Apakah dia jin yang telah sah menjadi suami Indarsih? Mengapa sosoknya sedemikian menyeramkan? Padahal, Sumiyarsih berkata kepadanya bahwa suaminya ini sangat tampan. Apakah Sumiyarsih benar-benar sudah membohongi dirinya?

Berbagai pertanyaan itu mendera batin Indarsih. Sementara makhluk menyeramkan itu berdiri sambil memandangi tubuh Indarsih, membuat nyali Indarsih semakin ciut. Ia mulai merasa ketakutan. Indarsih bergidik dan berusaha menjerit, namun anehnya seketika itu suaranya seperti tercekat di kerongkongannya, dan tubuhnya berubah sangat kaku tak bisa digerakkan seperti terpasung oleh suatu kekuatan ghaib.

“Tolooong...!” 

Indarsih ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun celakanya mulutnya bagaikan tersumbat. Teriakannya hanya menggema di dalam rongga dadanya.

Tetapi Tuhan masih menyayangi Indarsih. Dalam keadaan yang sangat kritis dan menakutkan itu tiba-tiba saja mulutnya bisa berucap dengan lantang. 

“Astagfirullah... Allahu Akbar... Laa Khaula Walaa Kuwwata Illah Billah...!”

Ya, sekali ini suara itu benar-benar keluar dari mulut Indarsih. Dan yang terjadi di hadapannya sungguh sebuah kenyataan yang sulit dimengerti.

Mendadak saja makhluk menyeramkan itu terpental menjauh darinya, sambil mengerang keras seperti seekor anjing yang terluka. Bersamaan dengan itu tubuh Indarsih yang semula kaku dapat digerakkan kembali. Spontan Indarsih melompat dari tempat tidur sambil berteriak memuji kebesaran Allah.

“Laa Ilaaha Illallah... Allahu Akbar... Subhanallah...!”

Pujian-pujian itu keluar begitu saja dari mulutnya, dengan suara yang lantang. Sama seperti kejadian semula, sosok makhluk itu pun perlahan berubah wujudnya menjadi bayangan hitam lalu hilang seolah masuk ke dalam dinding.

Tak lama kemudian kedua anaknya menggedor-gedor pintu sambil memanggil-manggilnya. 

“Ibuu...”

Ketika pintu ia buka, mereka langsung berhamburan memeluk Indarsih dan langsung bertangisan.

“Apa yang terjadi, Ibu?” tanya Eko, anak sulungnya.

Indarsih hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil membiarkan air matanya mengalir deras membasahi sekujur wajahnya. Sungguh ia tak kuasa menjelaskan semua ini kepada kedua anaknya. Ia tidak ingin melukai perasaan mereka. Indarsih tidak ingin mereka menuding dirinya telah melakukan kesesatan hanya karena tak tahan menanggung kesulitan hidup.

Siang setelah malamnya mengalami kejadian aneh tersebut, Sumiyarsih datang menemui Indarsih dan mengatakan bahwa ia telah gagal dalam melakukan ritual.

“Biarlah kujalani kehidupan seperti ini, Sum...! Aku tak ingin lagi melakukan ritual kawin dengan jin itu...” jawab Indarsih setelah mendengar penjelasan Sumiyarsih.

Meski mengaku kecewa, namun Sumiyarsih cukup mengerti dengan perasaan Indarsih. Sebagai sahabat, ia juga meminta agar Indarsih tidak sungkan-sungkan meminta bantuan padanya bila ia memerlukannya. Namun sejujurnya, Indarsih tak pernah berani meminjam uang kepada sahabatnya ini walau dalam keadaan sesulit apapun. Ini semata-mata ia lakukan karena ia takut sesuatu akan terjadi terhadap dirinya.

Ketika Indarsih memutuskan untuk mencurahkan kisah ini kepada seorang ulama setempat, tak terasa sudah hampir setengah tahun peristiwa itu berlalu. Walau begitu, Indarsih masih mengalami perasaan traumatik, sebab bayangan makhluk seram dari alam ghaib itu masih sering menghantui dirinya. Ia sering datang dalam mimpinya dan menagih malam pertamanya pada Indarsih.

La Planchada