Monday, December 9, 2019

Gara-gara Memanggil Arwah


Kisah ini terjadi sewaktu Hasan masih menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Bandung delapan tahun yang lalu. Waktu itu dia masih tercatat sebagai mahasiswa semester V, di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesenian (FPOK).

Ceritanya begini. 

Biasanya di malam minggu, Hasan dan beberapa teman yang masih jomblo lebih suka bersantai sambil mengobrol ini dan itu di salah satu dari kamar mereka di asrama mahasiswa yang berada di sebelah gedung olahraga milik universitas. Ketika sedang berbaring-baring santai itulah salah seorang teman yang bernama Bayu, tiba-tiba punya ide unik mengajak bermain game yaitu “Ritual Pemanggilan Arwah”. Menurut Bayu, ia memang mahir dalam hal memanggil arwah. 

“Asal aku yang memanggil, pasti arwah yang dimaksud langsung datang...” kata Bayu dengan bangga. 

Pada masa itu, oleh teman-temannya, Hasan dikenal sebagai mahasiswa yang tidak percaya dengan hal-hal yang begituan. Namun, pada malam itu ia dan dua orang teman mahasiswa yang lain yaitu Prabowo dan Zein tergoda dan ingin mencoba-coba ‘pengalaman’ baru ini.

Akhirnya mereka berempat; Hasan, Bayu, Prabowo, dan Zein sepakat untuk melakukan “Ritual Pemanggilan Arwah” tersebut, nanti setelah jam menunjukkan pukul 24.00 tengah malam.

Menjelang tengah malam, persiapan pun dilakukan. Diantaranya adalah menggelar selembar kertas putih yang telah ditulisi dengan beberapa nomor dan huruf, selain itu juga menaruh satu buah uang logam 500 rupiah, dengan posisi di tengah-tengah kertas yang digelar tadi. 

Dan ketika waktu telah menunjukkan pukul 24.00 tepat, permainan pun dimulai. 

Waktu itu keempat sekawan tersebut duduk melingkari benda-benda yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Menurut Bayu, untuk memanggil arwah ia memerlukan kerjasama semua peserta yaitu mereka semua, dengan menyumbang jari telunjuk masing-masing dan diletakkan di atas uang logam tersebut. Bayu turut memberi perintah. Selama proses ‘pemanggilan arwah’ berlangsung, tidak boleh satu orang pun di antara mereka menarik jari telunjuknya dari uang logam tadi sebelum mereka semua menghantarkan arwah tersebut pulang ke tempat asalnya. 

Untuk mendapatkan suasana yang lebih pas, mereka pun mematikan lampu kamar dan hanya menggunakan sebatang lilin sebagai penerang. 

Bayu berseru memanggil arwah melalui uang logam. Hanya dalam beberapa saat saja Hasan dan teman-temannya dapat merasakan uang logam itu bergerak sedikit demi sedikit. Bayu pun mulai berkomat-kamit membaca mantra dan kemudian mengajak berbicara kepada arwah yang ia panggil.

“Apakah kamu ada disini wahai arwah?”

Tiba-tiba uang logam itu bergerak ke arah tulisan ‘YES’ (berarti arwah itu ada). Tanpa berkedip, Hasan memandangi wajah Bayu, diperhatikannya benar-benar ekspresi wajah temannya itu. 

“Haaa... ini pasti ulah Bayu yang iseng, mau mempermainkan kami nih...!” pikir Hasan dalam hati. 

Hasan mulai curiga bahwa Bayu sengaja menggerakkan uang logam itu dengan tujuan untuk menakut-nakuti teman-temannya. Tapi menurut Bayu, dia tidak menggerakkan sedikit pun uang logam tersebut. Namun, Hasan masih merasa sangsi dengan gelagat ataupun tindak-tanduk Bayu ini, tapi mereka teruskan juga permainan memanggil arwah pada malam itu. 

Sebenarnya banyak juga pertanyaan yang mereka ajukan kepada sang arwah, sebagai contoh: 
  • Siapa di antara mereka berempat yang memakai baju dalam warna merah
  • Siapa nama nenek teman mereka yang baru saja meninggal dunia, dan masih banyak lagi pertanyaan yang aneh lainnya

Dan yang sangat mengherankan, semua pertanyaan itu dijawab dengan betul oleh sang arwah. 

“Ah, seandainya saja aku minta nomor lotere malam itu... tapi semua sudah terlambat!” gerutu Hasan agak menyesal.

 Namun ada satu jawaban yang diingat oleh Hasan hingga kini; dia (arwah tersebut) adalah seorang lelaki korban pembunuhan. 

Waktu itu Hasan merasa agak gamang dan bertanya-tanya, adakah si Bayu ini orang yang suka berbuat iseng, dan sengaja hendak menakut-nakuti teman-temannya? Walaupun Hasan sempat merasa yakin dan percaya bahwa Bayu berbuat seperti ini dengan sengaja untuk menakut-nakuti mereka, dan entah mengapa bulu romanya meremang secara tiba-tiba. Hasan pun mencoba berlagak tenang,

“Lagipula mana mungkin arwah ini betul-betul ada? Ini pasti kerjaan Bayu saja...!” gumam Hasan dalam hati. 

Untuk menguak belang penipuan si Bayu, maka Hasan sengaja memberikan beberapa pertanyaan lagi.

“Wahai arwah di dalam uang logam, apakah kamu masih berada disini?” tanya Hasan.

Sedikit demi sedikit uang logamnya bergerak ke arah kata ‘YES’.

Dan Hasan pun bertanya lagi,

“Wahai arwah di dalam uang logam, sekarang kamu berada di dekat siapa?”

Sedikit demi sedikit uang logam itu bergerak ke huruf ‘H’. 

Nama mereka berempat bermula dengan huruf Z, P, B, dan H... dimana ‘H’ merupakan huruf pertama untuk nama Hasan.

Sambil menatap wajah Bayu, di dalam hati Hasan menyumpah-nyumpah dirinya. 

“Benar-benar menyebalkan si Bayu ini, berani sekali dia mencoba menakut-nakuti aku yang memang penakut ini. Seharusnya dia sadar dan ingat untuk bertindak lebih bijaksana lagi, tidak sembrono seperti ini,” gerutu Hasan.

Merasa kesal, Hasan pun memberi lagi satu pertanyaan pamungkas,

“Wahai arwah di dalam uang logam, jika betul kau berada disini, coba pergi ke arah sana dan nyalakan lampu...!”

Begitu Hasan selesai mengajukan pertanyaan atau lebih tepatnya ‘perintah’ itu, ternyata...

Tidak ada apa-apa pun yang terjadi! Hasan, Zein, dan Prabowo langsung meledak tertawa terpingkal-pingkal bagaikan orang kesurupan. Kemudian Zein berkata,

“Bagaimana mungkin arwah bisa menyalakan lampu, dia itu kan hanya roh, mana mungkin dia dapat menekan tombol lampu seperti ini...” katanya sambil berlagak seolah-olah mencoba menekan-nekan tombol lampu. 

Kemudian serentak ketiganya mengatakan kepada Bayu bahwa arwah yang datang ini penipu.

“Baiklah, kalau begitu kita suruh arwah ini untuk kembali pulang ke asalnya...!” kata Bayu sedikit marah.

“Wahai arwah di dalam uang logam pulanglah kamu ke tempat kau berasal...!” kata Bayu.

Tetapi uang logam itu diam saja tidak bergerak sedikitpun. Bayu pun mencoba lagi.

“Wahai arwah di dalam uang logam, pulanglah segera ke tempat asalmu!” kata Bayu lagi.

Dan uang logam itu masih saja tidak bergerak. Saat itu Hasan dapat melihat wajah Bayu seperti panik dan takut. 

“Alaaa... masih sempat berpura-pura pula si Bayu ini..!” gumam Hasan dalam hati. 

Limabelas menit telah berlalu. Uang logam itu masih saja diam tidak bergerak. Hasan, Zein, dan Prabowo mulai hilang kesabaran. Mereka pun memaksa uang logam itu bergerak ke arah kata ‘home’ (yang artinya pulang).

“Huhh...! Pulang sana!” kata Prabowo kesal. 

Dan dengan serta merta mereka bertiga pun menarik jari masing-masing.

Bayu sangat terkejut dengan tindakan teman-temannya itu.

“Kenapa kalian paksa dan menarik jari kalian sebelum dia betul-betul pulang...?” teriak Bayu memarahi mereka bertiga.

“Alaaa... sudahlah Bayu! Kami tahu kalau kamu ini sedang mencoba menipu kami,” kata Zein memperingatkan Bayu sambil menyalakan lampu.

“Kan sudah aku bilang, jangan tarik jari kalian sebelum arwah itu benar-benar pulang...!” teriak Bayu masih dengan pendiriannya.

Mereka bertiga tertawa melihat sikap Bayu. 

“Huh, dasar Bayu... sudah ketahuan belangnya pun masih juga mencoba-coba untuk berlagak,” teriak Prabowo geli. 

“Ah, sudahlah Bayu jangan coba berpura-pura lagi...!” kata Zein lagi sambil melempar bantal ke arah Bayu.
Tiba-tiba, “PATSS...!” 

Semua lampu di kawasan asrama padam.

“Nah... kan, beginilah jadinya kalau tidak mau mendengar nasihat...!” Bayu berkata dengan nada menyalahkan.

“Alaa... ini kan cuma kebetulan saja, begitu saja heran!” jawab Hasan dengan cuek.

Tiba-tiba terdengar suara anjing menyalak dan melolong. Benar-benar tepat di luar jendela kamar mereka. Hasan yang penakut langsung terhenyak kaget. Namun setelah ia pikir-pikir, tidak mungkin hal seperti ini terjadi secara kebetulan juga. Para orang tua pernah bilang jika anjing melolong seperti itu artinya dia melihat arwah. Keempat sekawan itu pun langsung jadi panik dan lari tunggang langgang keluar menjauh dari kamar itu.

Namun peristiwa yang cukup aneh itu ternyata tidak membuat mereka kapok.

Malam berikutnya Hasan membawa Bayu main ke tempat temannya di komplek asrama yang satunya. Kebetulan di asrama tersebut, penghuninya sedang penuh. Hasan merasa tidak puas hati pada malam sebelumnya, jadi ia membawa Bayu ke sisi asrama yang lain untuk menunjukkan cara-cara bermain pemanggilan arwah melalui uang logam kepada teman-temannya yang lain. Malam itu banyak teman yang ikut serta. Tetapi yang dapat menyentuh uang logam itu hanya lima orang saja. Sedangkan yang lain hanya bisa memperhatikan. Permainan belum sempat dimulai, tiba-tiba... 

“PATSS!” 

Listrik di asrama tersebut terputus.

“Aah... Bisa saja ini sebuah kebetulan belaka...” ucap Hasan dalam hati.

Saat anak-anak lain sedang riuh rendah mencari senter dan lilin, tiba-tiba mereka mendengar dengan jelas suara anjing melolong bersahutan di dekat kawasan asrama.

“Gila betul...! Aku sudah mengalaminya 2 kali berturut-turut!” seru Hasan dengan ekspresi keheranan. Bahkan sampai sekarang pun ia masih sering terbayang-bayang akan peristiwa itu. 

Adakah ini sebuah kebetulan atau memang betul ada arwah yang bergentayangan di sekeliling kita? Hanya Tuhan yang tahu.

Tambal ban Siluman (Malang)


Ini adalah pengalaman pribadi saat berkendara di malam hari ke Kota Batu, Malang. Saat itu memang sedang musim hujan. Kejadiannya sendiri telah berlangsung sekitar 3-4 bulan yang lalu. Beberapa waktu yang lalu, sepeda motor yang dikendarai Rinto ban belakangnya bocor karena memang sudah agak botak. Harusnya memang sudah waktunya ganti ban, tapi Rinto malas menggantinya. Alhasil, motor itu pun beberapa kali menyiksa pengendaranya dengan tambal lagi, bocor lagi, tambal lagi, dan... bocor lagi, terutama untuk ban belakangnya.

Dan dari sinilah kisah itu dimulai... 

Memang di saat malam tiba, kadang di sekitar daerah Karang Ploso (arah ke Batu, jalan pintas ke Selecta) sering terasa begitu sepi dan dingin saat gerimis. Saat itu sekitar jam 19.00, Rinto melintas di daerah itu yang memang jalannya agak menanjak. Namun kali ini motor kok terasa kurang enak handlingnya. Dan setelah Rinto pacu terus kok malah tambah geyal-geyol. Rinto pun berhenti, dan setelah diperiksa... ternyata bannya bocor.

Wah, sudah ke sekian kali bocor lagi... bocor lagi... Sudah tekad mau ganti ban baru keesokan harinya, namun karena malam dan gelap akhirnya sepeda motor pun ia dorong. Sambil mendorong sepeda motornya, Rinto merasakan... kok sekitar jalanan disitu sepi. Dan akhirnya dengan agak sedikit merinding sampai juga di sekitar Kota Batu. Sudah pukul 21.00, cari tempat tambal ban jam segitu susahnya minta ampun, akhirnya mampir ngopi dulu di warung pinggir jalan. Sambil tanya sana sini, uh... tidak ada yang tahu tambal ban terdekat. Akhirnya setelah sekitar 1 jam istirahat dan berhenti di alun-alun, Rinto pun meneruskan perjalanan mencari tukang tambal ban.

Malam semakin larut, namun ketika mendapati ada tulisan tukang tambal ban 24 jam, hati Rinto pun girang bukan kepalang, tapi... tempatnya kok agak masuk ke dalam ya? Mana gang disitu gelap lagi... 

Tapi... ah, masak laki-laki kok penakut. Akhirnya karena terpaksa harus menambalkan ban motornya maka Rinto pun akhirnya masuk ke lokasi tambal ban tadi. Disitu ada seorang laki-laki paruh baya dengan sopan menyambut Rinto.

“Tambal ban bisa Pak?” tanya Rinto.

Terlihat orang tadi memang sedikit bicara. Ia hanya menganggukkan kepala saja. Akhirnya tanpa berpikiran macam-macam, bapak tadi menambal ban motor Rinto. Setelah selesai, Rinto membayar sejumlah 10 ribu rupiah, dan kemudian Rinto pun langsung membawa motornya meninggalkan tempat itu sambil tak lupa mengucapkan terima kasih, dan pergi dari situ tanpa ada niat untuk menoleh lagi ke belakang... karena kok lama-lama Rinto jadi merasa merinding... 

Singkat cerita, Rinto pun mengendarai motornya dalam perjalanan pulang ke rumah (sekitar 2 jam perjalanan). Sesampainya di rumah sudah jam 12 malam... sampai keesokan harinya tidak ada yang spesial ataupun aneh. Hanya saja, ketika itu Rinto sadar bahwa roda belakang motornya itu sekarang jarang bocor lagi, dan rasa penasaran pun semakin menjadi-jadi ketika Rinto mencoba mengingat-ingat ketika menambalkan ban motornya itu dimana dan tengah malam...?

Demi mengobati rasa penasarannya, maka di hari Minggu siang kemarin Rinto mencoba meyakinkan diri apakah tambal ban tadi benar-benar ada atau ghaib. Setelah “napak tilas” dan mencoba mengingat-ingat lokasi tempat ia menambalkan ban, kontan bulu kuduk Rinto jadi berdiri walau di siang bolong... karena tempat yang tadinya tempat tukang tambal ban itu ternyata adalah sebuah kuburan... 

Hiiiiiiiiiiiii...!

Sungguh aneh tapi nyata. Bahwa Rinto memang telah menambalkan ban motornya pada malam hari di Kota Batu, jam 22.00 malam dan sampai saat ini pula ban motornya belum pernah bocor lagi.

Sumpah...!

Tentang tempat tadi... Rinto memang malas untuk kembali ke sana lagi. Bukan hanya karena tempatnya yang jauh (sampai 2 jam perjalanan), tetapi karena memang... 

Hiiiiiiiiiiiiiii... serraaammm...!

Jembatan Maut (Malang)


Sekitar 23 tahun yang lalu ketika Randu masih duduk di bangku kelas 2 SD telah terjadi sebuah kecelakaan yang sangat mengerikan di sebuah jembatan di wilayah Kota Malang, dimana ketika itu iring-iringan pengantar pengantin yang terdiri dari lima mobil yang sedang melaju kencang telah bertabrakan satu sama lain di atas jembatan yang hingga kini dijuluki sebagai Jembatan Maut itu, dan semua orang di dalam iring-iringan mobil tersebut tewas dan tidak ada yang ditemukan dalam keadaan hidup.

Lokasi terjadinya insiden kecelakaan tersebut, yaitu di Jembatan Maut, memang sangat terpencil dan jarang dilalui oleh para pejalan kaki karena jembatan ini hanya dilalui oleh kendaraan bermotor seperti mobil, sepeda motor dan truk. Yang sangat disayangkan adalah tidak ada seorang pun yang melihat kecelakaan itu terjadi dan kecelakaan itu sendiri masih tetap utuh sampai hari berikutnya, dan kelima mobil itu pun masih tetap berada di atas jembatan dengan keadaan yang sangat mengenaskan. 

Akhirnya, setelah malam tiba, ada seorang sopir dari perusahaan peternakan setempat yang sedang mengendarai sebuah mobilnya dan kebetulan hendak melewati jembatan tersebut. Disana ia menemukan insiden kecelakaan itu, lalu dengan panik dan tergesa-gesa, sopir itu pun melaporkannya kepada polisi setempat bahwa telah terjadi sebuah kecelakaan di atas Jembatan Maut.

Tak lama kemudian ambulans dan paramedis pun segera berdatangan ke lokasi tempat terjadinya kecelakaan. Disana para petugas kepolisian telah menemukan 12 mayat di dalam mobil, diantaranya adalah orang-orang dewasa dan anak-anak, kemudian mayat-mayat tersebut dimasukkan ke dalam mobil ambulans dan kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diteliti lebih lanjut, dimana mereka semua diidentifikasi dan setelah itu dimakamkan sesuai prosedur. 

Tragedi kecelakaan maut itu pun menjadi sangat populer di wilayah tersebut dan dengan sendirinya menambahkan insiden kecelakaan itu di dalam cerita sejarah desa yang semakin mengukuhkan betapa angker dan keramatnya jembatan maut tersebut.

Namun, tak lama setelah insiden kecelakaan tersebut, sang sopir yang telah menemukan dan melaporkan kecelakaan itu memberikan kesaksian bahwa setiap kali ia mengendarai mobilnya melewati Jembatan Maut tersebut, tiba-tiba saja mesin mobilnya berhenti tanpa sebab. Kemudian ketika mobil pick-up yang dikendarainya telah berhenti, seketika itu pula ia merasa seperti mendengar suara ketukan berjumlah 13 kali di belakang mobilnya tersebut, yang kemudian diikuti dengan suara-suara aneh, suara itu seperti suara seseorang sedang berlari dengan nafas terengah-engah.

“Hosh hosh hosh...”

Tak hanya sopir itu saja yang mengalami peristiwa aneh tersebut, melainkan juga beberapa penduduk setempat dan beberapa pengguna jalan yang kebetulan melewati Jembatan Maut pun mengatakan hal yang sama. Mereka mengatakan bahwa ketika mereka sedang mengemudi, tiba-tiba saja mobil mereka berhenti secara mendadak ketika mereka melintasi Jembatan Maut. Dan selama mobil mereka berhenti, mereka selalu diikuti oleh seseorang atau sesuatu yang mengetuk bagian belakang mobil mereka sebanyak 13 kali dan kemudian terdengar suara-suara aneh seperti suara seseorang yang sedang bernafas terengah-engah, mereka pun berpikir ini mungkin hanya perbuatan seseorang dengan kejahilannya di atas jembatan, dengan niat untuk mencuri barang-barang mereka dari dalam mobil.

 Mereka tidak pernah berani membuka pintu mobil karena sangat khawatir dengan yang mereka kira sebagai pencuri tersebut dan mereka juga khawatir jangan-jangan pencuri tersebut membawa senjata tajam untuk mengancam mereka dan kemudian mengambil apa yang diinginkan.

Beberapa warga yang mengalami kejadian itu pun mulai bertanya-tanya dan saling kasak-kusuk.

“Apakah para petugas kepolisian dan paramedis telah berhasil menemukan semua mayat-mayat tersebut?”

Warga pun mulai gundah dan juga merasa ada yang ganjil, mungkin ada sesuatu di balik kecelakaan tersebut, kemudian dengan rasa penuh penasaran mereka pun mulai menyelidikinya di kawasan Jembatan Maut tersebut dan akhirnya salah seorang dari mereka pun menelusurinya sampai ke dalam hutan di pinggir jalan. 
Setelah cukup lama berjalan menyisiri pinggiran hutan, ia pun mulai kelelahan dan putus asa, ia pun memutuskan untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon yang rindang dengan semilir angin yang tipis sepoi-sepoi. Sesaat kemudian di tengah-tengah kelelahanya, matanya tertuju ke sesuatu di balik pohon di hadapanya, sebuah objek yang aneh yang terletak tepat di bawah pohon. Karena merasa penasaran, ia pun bergegas bangkit dan memeriksa dengan penuh kewaspadaan dan bertanya-tanya apakah objek tersebut, namun betapa kaget dirinya ketika mendapati sesuatu yang sangat mengerikan, tanpa sadar ia pun berteriak. 

“ASTAGA! Ya Tuhan...!”

Apakah yang ia lihat itu? 

Yang ia lihat adalah seonggok mayat yang sudah membusuk. Mayat tersebut ditemukan tanpa lengan, lengan bagian kanannya telah menghilang dan darah berlumuran di seluruh pakaianya, sepertinya ada sesuatu yang telah mengoyak lengannya sampai putus dari tubuhnya, kemudian pada bagian wajahnya, mulutnya ternganga lebar dan dipenuhi oleh gumpalan darah yang mulai mengering dan bagian lidahnya pun juga menghilang.

Ternyata seonggok mayat itu adalah salah satu korban dari insiden kecelakaan di Jembatan Maut tersebut, namun warga tersebut masih saja heran dan penasaran mengenai mayat itu. Kenapa mayat tersebut bisa sampai berada di dalam hutan? Dan apa yang membuatnya sampai ke dalam hutan? Namun yang terpenting adalah bahwa warga tersebut telah menemukan 1 korban lagi dan jumlahnya kini menjadi 13 korban dalam kecelakaan itu. Dan menurut hasil penelitian dari para petugas medis ternyata mayat tersebut sebenarnya adalah korban yang berhasil bertahan hidup dari kecelakaan itu, namun sayang ada sesuatu yang membuat dirinya kehilangan nyawa di dalam hutan. 

Menurut laporan forensik, pada mayat tersebut telah ditemukan tindak kekerasan dan membuatnya kehilangan anggota tubuhnya seperti lengan dan lidah. Dalam laporan hasil pemeriksaannya itu, tim medis telah menemukan sebuah kuku yang sangat tajam yang menempel di bagian lenganya, dan kuku tersebut adalah milik dari seekor beruang. Sungguh sangat tragis karena waktu itu sebenarnya ia masih hidup, tetapi ia bernasib malang ketika berada di dalam hutan. Karena ada seekor beruang liar yang telah menghabisi nyawanya, beruang tersebut telah mengoyak lenganya hingga terputus dan memakan lidahnya.

Setelah itu, penduduk setempat percaya bahwa korban yang terakhir tersebut jiwanya telah menghantui Jembatan Maut. Karena ada salah satu penduduk yang telah berhasil melihatnya di malam hari, ketika ia pulang dari bekerja sekitar jam 22:00, dan melewati Jembatan Maut tersebut, tiba-tiba saja mobil yang ia kendarai mogok secara mendadak, dan ia pun menjadi sangat heran kenapa mobil yang ia kendarai tiba-tiba mogok di atas jembatan, kemudian ia bergegas keluar dari mobil dan memeriksa mesin mobil. Tiba-tiba saja ia mendengar ada yang mengetuk bagian belakang mobilnya, ketukannya berjumlah 13 kali dan dilanjutkan dengan suara desahan nafas terengah-engah seperti suara seseorang yang sedang berlari. 

Ketika ia hendak melihat apa yang terjadi di belakang mobilnya, betapa terkejutnya dia karena disana ia melihat ada seseorang yang sedang berdiri di sudut belakang mobilnya. Kemudian ia merasa ketakutan dan lari meninggalkan mobilnya.

Sebenarnya apa yang ia lihat ketika itu? 

Ternyata dia telah melihat sesosok manusia yang berlumuran darah di bagian mulut dan lengannya, sepertinya ia ingin meminta pertolongan darinya. Tetapi yang membuat dirinya lari ketakutan adalah karena ia melihat bahwa kedua kaki orang tersebut sama sekali tidak berpijak di atas tanah melainkan dalam keadaan melayang. Konon sampai saat ini hantu tersebut masih tetap menghantui di atas Jembatan Maut.

Misteri Rumah Orang Bunuh Diri (Malang)


Aku tinggal di kota Malang di sebuah perumahan yang lumayan jauh dari pusat kota, namanya juga perumahan untuk kalangan rakyat pada umumnya jadi ukurannya kecil-kecil rata-rata tipe 36 dan 45. Itu pun kebanyakan dari penghuninya membeli dengan cara menyicil melalui bank, istilahnya kredit kepemilikan rumah... hehehe. Suamiku bekerja sebagai pegawai negeri sipil jadi lumayan tidak sulit baginya untuk mengajukan kredit. Sedang aku karyawan perusahaan swasta yang belum terbilang besar, dan seperti karyawan swasta lainnya jam kerjaku dari pagi pukul delapan sampai sore jam empat, itu pun kadang ada lembur sehingga aku bisa pulang selepas Maghrib atau bahkan setelah Isya. Tapi lumayan juga uang lemburnya, jadi kami para karyawan senang-senang saja kerja lembur. Tentu saja itu diberlakukan saat padat pekerjaan dan batas penyelesaian yang mepet. Bila tidak, ya tentu saja perusahaan tidak mau rugi. 

Setiap hari aku selalu melewati sebuah rumah kosong dan menyeramkan, pagi hari saat berangkat kerja dan tiap sore atau petang tiap kali pulang. Rumah kosong itu terletak di tengah-tengah antara jalan utama dan jalan yang menghubungkan ke perumahan kami. Rumah itu berdiri di sebuah pekarangan yang cukup luas, sebelahnya kanan, kiri dan belakang rumah itu terbentang persawahan. Rumah itu selalu dalam keadaan terkunci, hanya saja kondisi rumah dilihat dari luar sudah menakutkan. Catnya sudah mengelupas disana-sini, gentingnya juga sudah ada sebagian yang melorot. Tidak ada cahaya lampu sedikit pun di rumah itu, kalau siang sih tidak terlalu terasa tapi kalau petang menjelang malam... wah... kegelapan menaunginya sehingga suasana horror semakin lengkap. 

Di depan rumah dan pekarangan depannya ada jalan kecil yang merupakan satu satunya jalan menuju perumahan kami. Jalan itu tidak terlalu besar, jadi kalau ada mobil berpapasan dari arah berlawanan, keduanya mesti sedikit menyorong ke samping agar tidak berserempetan, jadinya kami yang menggunakan motor harus menunggu.

Kembali ke rumah kosong itu, menurut kabar yang aku dengar, rumah itu bekas orang bunuh diri sehingga ketika mau dijual tidak ada yang tertarik untuk membelinya, bahkan di saat harganya sudah dititik terendah tetap saja tidak ada yang bersedia. Karena sudah bertahun-tahun tidak ada yang menempati dan rumah itu juga dibiarkan saja alias tidak ada yang membersihkan dan merawatnya jadilah rumah itu terbengkelai dan memancarkan aura horror.

Pagi itu aku berangkat ke kantor dengan mengendarai motor, aku memakai jas hujan untuk melindungi diri dari hujan. Aku paling sebal kalau hujan turun saat aku pergi atau pulang kantor, selain mesti berganti sandal –sepatu aku masukkan ke tas plastik agar tidak basah, juga dandanan di wajah jadi berantakan. Sebenarnya aku bisa naik angkutan yang melewati perumahan menghubungkan kota, tapi aku tidak sabar menunggu apalagi jamnya juga tidak bisa dipastikan. Kadang berhenti menunggu penumpang penuh... wah bisa terlambat dong. Saat melewati rumah itu kulihat beberapa pelajar pria yang duduk-duduk di teras. Motor mereka parkir di sampingnya jadi tidak kehujanan, aku yakin mereka pasti tidak berbekal jas hujan. Musim hujan begini... kok ya tidak bawa jas hujan. Atau bisa jadi itu untuk alasan mereka terlambat masuk sekolah ya? Kulihat sekilas mereka ngobrol dan tertawa.

Sesampai kantor, aku memarkir motor di tempat parkir yang sudah disediakan, lalu menutupi motor dengan jas hujan yang aku pakai tadi agar jas hujan itu kering. Kuambil sepatu dari dalam tas plastik dan kutukar dengan sandal, selanjutnya aku memakai sepatu. Setelah merapikan rambut dan mengelap wajahku yang sedikit terkena air hujan, aku berjalan menuju ruang kantor. 

Di dalam, aku duduk di ruang kerjaku. Sebenarnya bukan ruang sih, karena meja kami para karyawan berjejer memanjang, tapi ada sekat yang membatasi masing-masing karyawan, ya semacam bilik kecil-kecil, dan masing-masing juga ada pintu sorongnya –hanya sebuah papan yang bisa didorong, semacam pintu koboi itu loh. 

“Kehujanan ya?” suara yang sudah sangat aku kenal terdengar dari balik bilik, aku mendongakkan wajah ke arah suara itu, kulihat kepala Ririn nongol di atas, kedua tangannya berpegang sekat kayu bilik. 

“Kamu juga kan?” balasku begitu melihat rambutnya yang sedikit basah.

“Namanya juga musim hujan!” jawabnya kalem, sambungnya, “Aku mau dandan dulu, nih lihat riasanku berantakan... kayak kamu... hehehehh.”

Aku ikutan tertawa, setelah kepala Ririn turun dari sekat, aku membuka laci kecil di meja kerjaku, kukeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi peralatan dandan. Tidak lengkap-lengkap amat sih... cuma kebutuhan riasan dasar saja, utamanya bisa membuat wajah tidak terlalu polos. Selanjutnya aku tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.

Hari ini ternyata ada lembur, jadi selepas Maghrib baru bisa pulang. Aku dan beberapa temanku menyempatkan shalat Maghrib di kantor, kalau makan malam sudah tadi disediakan nasi kotak oleh kantor, lumayanlah buat mengganjal perut. Hujan-hujan begini membuat perut selalu kelaparan.

“Wah, hujannya kok bertambah deras sih?” protes Ririn cemberut.

“Iya nih... payah, padahal mau pulang!” tambah Ulia temanku yang lain.

Ririn, Ulia dan aku sendiri baru berada di tempat parkir untuk mengambil motor masing-masing dan bermaksud pulang. Tapi melihat hujan yang sedemikian deras kami mengurungkan niat. Bukan apa-apa, kami takut saja mesin motor kami mati karena kadang air meluap menutup jalan. Bila masuk mesin kadang bisa membuat macet.

“Kita tunggu aja sampai sedikit reda,” kataku pada mereka, “Hujan deras begini kadang-kadang bisa bikin mesin motor mati,”

“Iya, dua hari lalu aku terpaksa menuntun sampai bengkel terdekat, businya kali!” sambung Ririn.

“Betul, daripada kerepotan menuntun mendingan menunggu sebentar!” tambah Ulia.

Kami bertiga lalu berjalan menuju depan, disitu ada semacam ruang runggu. Sudah ada beberapa orang yang duduk menunggu, kami bertiga lalu bergabung dengan mereka. Kami duduk dekat ruang satpam.

“Menunggu reda ya Mbak?” tanya Pak Dono –satpam kantor kami.

“Iya nih...!” jawabku

“Silakan deh, banyak juga kok yang menunggu!” katanya lagi tanpa bermaksud berbasa-basi.

“Terimakasih Pak!” jawab kami.

Cukup lama kami menunggu, aku lalu kirim sms ke mas Budi –suamiku– kalau aku pulang terlambat karena ada lembur dan terjebak hujan, jadi ini masih menunggu di kantor. Mas Budi menjawab tidak apa-apa, dia bisa mempersiapkan makan malam sendiri. Kami berdua sama-sama bekerja jadi saling memahami satu sama lain, tidak ada pembagian pekerjaan rumah tangga, siapa yang longgar dan ada waktu ya dia yang mengerjakan. Baru menjelang pukul delapan malam hujan mulai reda. Aku dan karyawan lain yang tadi menunggu menghambur keluar menuju tempat parkir.

“Pulang dulu ya!” seruku kepada Ulia dan Ririn.

“Yoi, ketemu besok!” jawab Ulia pendek.

“Daaah...” balas Ririn sambil melambaikan tangan.

Kami memang ingin segera pulang, badan sudah pegal-pegal rasanaya. Apalagi hari sudah malam, maunya langsung sampai rumah dan istirahat. Kulepaskan jas hujan dari motor dan kupakai, meski hanya gerimis kecil lebih baik akau mengenakan jas hujan, siapa tahu hujan tiba-tiba turun dengan deras lagi? Kan malah kerepotan sendiri nanti. Sepatu juga aku lepas untuk selanjutnya aku ganti dengan sandal. Setelah aku menstarter motor aku pun melenggang keluar ruang parkir. 

Sepanjang jalan dari kantor meninggalkan pusat kota, banyak pengendara motor yang juga masih memakai jas hujan. Kulihat toko-toko yang berjajar di kedua sisi jalan tampak sepi, yah hujan-hujan begini siapa juga yang mau keluar rumah? Entah mengapa ketika aku melihat warung bakso di ujung jalan perutku tiba-tiba tidak bisa diajak kompromi, padahal tadi sudah mendapat jatah nasi kotak dari kantor, kok sekarang lapar lagi? Mungkin karena aku melihat cukup banyak orang yang jajan di warung bakso itu, apalagi hujan-hujan begini... makan yang hangat hangat tentu asyik. Bayangan makanan bakso yang hangat sungguh menggoda selera, aku pun tidak jadi melanjutkan pulang ke rumah, aku berbelok dulu ke warung itu.

Setelah memarkir dan melepas jas hujan, aku berjalan menuju ke dalam warung, aku memesan satu mangkok bakso komplit dan satu gelas teh panas. Selanjutnya aku celingak-celinguk mencari kursi yang kosong.

“Hai Nana... sini...” teriak seorang perempuan menyebut namaku. 

Kucari arah suara itu, ternyata bu Wal –tetanggaku di perumahan- sedang duduk menikmati bakso. Aku bergerak menemuinya. Kulihat ada sedikit bangku yang kosong, cukup lah buat aku duduk.

“Duduk sini saja Na, cukup kok!” begitu kata bu Wal sambil sedikit bergeser.

“Terima kasih Bu!” jawabku seraya duduk di sampingnya.

Bu Wal itu beberapa tahun lebih tua dariku, dia bekerja di sebuah pabrik makanan terkemuka di kota ini. Sebenarnya satu kota sih dengan kantorku, tapi karena berbeda tempat kerja kami jarang bertemu bahkan saat berangkat dan pulang kerja. Apalagi jam kerja bu Wal yang tidak tentu karena menggunakan sistem shift. Hanya saat pertemuan warga dan kadang pas libur saja kami bertemu.

“Ini mau pulang kerja atau gimana Bu?” sapaku.

“Wah ini sih mau masuk kerja Na, aku shift malam. Nana mau pulang ya?” balasnya, sambil menghentikan sementara makan baksonya.

“Oooh... sift malam ya? Kalau aku mau pulang Bu, tapi nggak tahu kok pingin makan basko dulu,” jawabku. 

“Hehehe... tidak apa-apa makan bakso dulu, tidak terlalu malam juga kok, memang sih jalan menuju perumahan agak sepi, tapi sebelum jam sepuluh malam biasanya juga masih banyak kok yang lalu lalang, kan banyak tuh yang baru pulang kerja,” kata bu Wal panjang lebar.

“Iya Bu, lumayan sepi... apalagi sepanjang jalan hanya persawahan ya? Cuma ada satu rumah saja yaitu rumah kosong!” timpalku, bayangan rumah itu muncul di benakku. Kalau sudah petang rumah itu gelap gulita dan terasa sangat sepi, aku pernah lewat saat petang... memang sungguh senyap, hanya deru motor atau mobil yang sesekali saja terdengar. 

“Iya, rumah itu menakutkan juga ya? Apalagi pas malam hari. Sudah dikelilingi persawahan, kosong pula. Kata orang sih rumah itu...”

“Bekas orang bunuh diri ya?” potongku, aku jadi tertarik untuk mendengar ceritanya lebih lanjut, karena aku belum begitu lama tinggal di perumahan itu, beda dengan bu Wal.

Kulihat wajah bu Wal yang berubah menjadi tegang, “Menurut kabar,” dia diam sejenak, “katanya ada tragedi di rumah itu, seseorang meninggal di rumah itu dengan cara bunuh diri, katanya sih gantung diri...”

“Haahh?” aku terkejut bukan kepalang.

“Tidak perlu takut Na! Itu sudah lama kok...!” lanjutnya.

“Oohh...!” aku merasa lega. Kalau kejadian sudah lama biasanya tidak terlalu seram.

“Kenapa dibiarkan kosong ya? Kan sayang tuh rumah sebesar itu dibiarkan begitu saja,” tambahku.

“Pada takut kali!” bu Wal menjawab sekenanya.

Aku manggut-manggut, “Iya... bangunan kosong lama dan bekas orang bunuh diri... hiiiiii seraaammmm!”

Kulihat bakso pesananku sudah datang, pelayan meletakkan mangkok bakso dan gelas air teh di mejaku. Lalu kami berdua sibuk makan bakso, aku baru mulai mau makan sedang bu Wal sudah hampir habis.

“Maaf Na, aku duluan ya? Hampir jam sembilan nih...!” ucap bu Wal berpamitan seraya bangkit dari kursi.

“Oooh... iya Bu, silakan,” jawabku.

“Selamat pulang, dan hati-hati ya,” kata bu Wal lagi sambil menepuk bahuku.

Dari tempatku duduk, kulihat bu Wal keluar dan dengan motornya ia meninggalkan warung ini menuju tempat kerjanya. Akupun lalu melanjutkan makan.

Setelah selesai makan, aku membayar ke kasir dan berlalu pulang. Sepanjang perjalanan pulang memang masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan utama di kota ini. Kebanyakan naik sepeda motor menandakan para karyawan baru pulang. Mungkin mereka seperti aku yang baru bisa pulang karena terjebak hujan deras tadi.

Aku sampai di pertigaan jalan yang menghubungkan jalan menuju perumahan, ada papan kecil yang dipasang di ujung pertigaan yang menunjukkan arah perumahan kami. Aku berbelok mengikuti arah itu dan dari jalan utama menuju perumahan aku merasakan sepi yang mencekam. Hujan masih turun meski tidak deras, sesekali petir dan guntur bergantian menghias langit. Memang sesekali ada motor dan mobil yang lewat tapi mereka menjalankan lajunya dengan kencang, sedang aku tidak berani. Jalan ini tidak terlalu mulus, meski sudah diaspal tapi kerusakan ada disana-sini. Banyak lubang di sekujur badan jalan. Kalau tidak hati-hati bisa jatuh. Apalagi belum juga ada penerangan di sepanjang sisi jalan, kita para pengendara cuma bisa mengandalkan sorot lampu kendaraan masing-masing.

Aku memilih menjalankan motor dengan pelan-pelan, lebih baik terlambat asal selamat, begitu kira-kira semboyanku... hehehe. Entah mengapa semakin jauh dari jalan utama, jalan juga semakin senyap saja. Sudah ada sekitar lima menit tidak ada kendaraan lain yang lewat, aku jadi ketakutan sendiri. Aku berharap aku selamat sampai rumah. Aku khawatir ada orang jahat seperti berita di televisi yang mencegat dan merampas motor.

Dari jauh aku melihat rumah kosong itu meski samar, karena selain hanya lewat penerangan sorot lampu motor depan, derai hujan yang turun cukup menganggu pandangan. Sudah separuh jalan, sebentar lagi akan sampai gerbang perumahan, begitu aku menghibur diri. Tapi aku terhenyak begitu melihat pemandangan di rumah itu, meski tidak begitu jelas, mataku bisa menangkap sesosok lelaki tua duduk bersandar di salah satu tembok rumah itu. Aku menghentikan motorku sejenak dengan kondisi mesin masih hidup. Kuamati dengan seksama, benarkah yang kulihat? 

“Hey... ternyata ada orang di dalam rumah itu!” begitu aku berkata dalam hati, karena kulihat suasana rumah itu tampak terang, jendela rumah juga terlihat terbuka. 

“Ya syukurlah kalau sudah ada yang menempati!” kataku lagi dalam hati.”Jadi aku tidak perlu ketakutan lagi kalau mesti melewati jalan ini!”

Aku tersenyum sendiri, dan bermaksud akan melanjutkan perjalanan. Namun mendadak mataku seperti mau keluar karena tiba-tiba saja lelaki tua itu menggeser sebuah meja dan naik ke atasnya... lalu... lalu dia mengalungkan seutas tampar di lehernya.

“Akhk... akhk...!” suara orang yang kesulitan bernapas terdengar sangat jelas di telingaku, padahal air hujan masih mengguyur. Bahkan kedua matanya yang melotot itu seakan tertuju kepadaku.

Namun itu tidak berlangsung lama... dalam hitungan detik lelaki itu begitu saja menghilang dari pandangan dan rumah itu kembali menjadi gelap gulita. Gugup campur gemetaran aku segera memacu gas dengan kencang, aku tak peduli dengan lubang yang mengganggu jalan. Tujuanku hanya satu, segera sampai rumah.

Sunday, December 8, 2019

Cerita Hantu di Kampung Dadang


Kisah ini terjadi sewaktu Dadang duduk di kelas 2 SD... ketika itu Dadang masih bersekolah di kampung. Kampung tempat Dadang tinggal waktu kecil dulu tidak terlalu masuk pelosok, tetapi sangat mistis. Banyak peristiwa aneh terjadi di kampungnya dulu. Dan sekarang Dadang ingin berbagi pengalaman aneh yang pernah ia dengar dan alami semasa kecil dulu.

Di kampungnya dulu ada satu keluarga yang rumahnya menjadi semacam ‘perlintasan’ bagi makhluk-makhluk ghaib. Siapa yang pertama kali bilang seperti itu, Dadang sendiri pun tak tahu, tapi yang jelas banyak orang yang bicara seperti itu. Pada masa itu pula, pernah suatu ketika salah seorang kawannya yang usianya setahun lebih tua dari Dadang, kesurupan makhluk halus. Ketika itu umur Dadang baru 8 tahun. Jangan bingung ya, walaupun ketika itu Dadang masih kecil, tetapi bisa mengingat detail kisahnya karena peristiwa ini cukup terkenal di kampungnya. 

“Boleh tanya kepada siapa pun di kampungku, semua pasti tahu tentang cerita itu...!” tantang Dadang. 

Dan memang sebenarnya Dadang tahu cerita ini juga dari mulut mereka. Yang hebatnya lagi, rumah Dadang benar-benar bersebelahan dengan rumah yang menjadi Perlintasan para makhluk ghaib itu. Jadi, peristiwa itu semakin menguatkan tuduhan orang tentang perlintasan makhluk-makhluk ghaib di rumah tadi. 

Semasa kejadian itu, teman Dadang yang juga menjadi tetangganya itu mengikuti ibunya ke belakang rumah yang ingin memastikan bahwa semua ayam yang dipeliharanya sudah masuk ke dalam kandang. Ketika itu sudah mendekati senja. Dia bilang telah melihat seorang perempuan yang wajahnya mirip sekali dengan ibundanya. Jadi, singkat cerita dia pun mengikuti perempuan itu, walaupun perempuan yang sangat mirip dengan ibunya itu tidak berkata apapun kepadanya (Dadang tidak begitu ingat berapa hari temannya itu kesurupan).

Menurut temannya itu, ketika warga kampung berpencar mencari-cari dirinya, dia melihat orang-orang itu sedang melintas di depannya, tapi dia seperti tidak mampu untuk bersuara. Dan mereka pun seperti tidak bisa melihat dirinya, walaupun dia benar-benar ada di hadapan mereka.

Singkat cerita, orang-orang di kampung Dadang pun memanggil mbah dukun yang orang pedalaman asli. Kata mbah dukun itu, tak ada yang luar biasa, makhluk itu saja yang ingin bermain-main dengan teman Dadang. Besok pagi atau lusa, dimanapun, dan kapanpun, warga pasti akan menemukan teman Dadang itu asalkan mengikuti petunjuknya. 

Dan memang benar seperti apa yang dikatakan oleh mbah dukun itu, mereka pun menemukan teman Dadang tersebut. Tetapi ketika ditemukan, mata kawannya itu dalam keadaan terbelalak. Sampai hari ini, setiap kali melihat mata kawannya ini, Dadang pasti teringat akan cerita orang-orang di kampung tentang dia.

Satu lagi peristiwa aneh di kampung Dadang adalah yang terjadi kepada seorang perempuan penghuni rumah yang juga merupakan tetangga dari temannya yang kesurupan itu. Di suatu senja, perempuan itu kerasukan oleh makhluk halus. Entah jin mana yang datang, Dadang pun tak tahu. Tapi yang pasti, ketika peristiwa itu terjadi, rumahnya langsung dipenuhi dengan orang yang berdatangan dari seluruh penjuru kampung, dan hari itu banyak laki-laki berotot yang memeganginya. Yang mengherankan, tak seorang pun mampu mengendalikan si perempuan yang kesurupan itu. Benar-benar kuat perempuan itu, bahkan para pria itupun terpelanting dihempas olehnya. 

Singkat cerita, suami perempuan itu kemudian dijemput oleh mbah dukun, dan diminta untuk membantu mengendalikannya. Mbah dukun ini ternyata nyentrik juga. Dari apa yang didengar oleh Dadang, dia ini memang tidak seperti dukun-dukun lainnya. Setiap kali diminta mengobati orang, dia selalu berkata bahwa yang dia lakukan hanya berusaha saja, yang menentukan hasilnya adalah Allah. 

Kembali ke kisah tadi, mbah dukun pun kemudian berkomunikasi dengan perempuan yang kesurupan itu. Ada yang mengherankan, suara dan bahasa perempuan itu berubah menjadi kasar sekali. Mengalahkan garangnya suara laki-laki. Mbah dukun menyuruh makhluk itu keluar dari tubuh perempuan itu dan kembali ke tempat asalnya. Tapi makhluk itu tidak mau. 

“Benar-benar keras kepala makhluk ini...!” gerutu mbah dukun dengan kesal.

Terpaksalah mbah dukun itu menggunakan cara kasar. Dia segera mengambil bubuk lada hitam yang kemudian ia balurkan di ibu jari kaki kanan perempuan itu, dan... 

Benar-benar mengherankan...!

Perempuan itu langsung meraung-raung kesakitan. Kemudian ia menangis sambil berteriak-teriak, tapi yang jelas bukan si perempuan, tetapi makhluk itulah yang merasa kesakitan. Sesaat kemudian makhluk halus yang bersembunyi di dalam tubuh perempuan itu pun berjanji akan keluar dan pergi dari tubuh perempuan itu dan takkan datang lagi mengganggunya. 

Dadang juga ingat akan kisah mengenai rumah yang jadi perlintasan makhluk halus itu. Jadi, cerita yang di atas itu merupakan beberapa kasus sebagai bukti bahwa tanah tempat tinggal orang itu agak ‘panas’. Perlintasan makhluk halus itu bermula di sepanjang parit kecil di belakang rumah tetangganya itu. Perlintasan itu juga melalui kawasan rumah Dadang. Tapi selama Dadang tinggal dan tumbuh besar dalam lingkungan rumahnya, tak pernah ia mengalami masalah yang aneh-aneh. Berbeda dengan adik perempuan Dadang yang pernah sampai tiga kali terkena histeria. Tapi untungnya ayah Dadang tahu sedikit-sedikit tentang ilmu ghaib, jadi dia dapat menyembuhkan adiknya itu. 

Dadang teringat kembali akan kejadian itu, ayahnya menggunakan lada yang sudah diberi doa-doa dengan ayat-ayat suci (Dadang tak ingat pasti ayat apa saja yang dibaca pada waktu itu), kemudian lada itu dikepitkan di ketiak adiknya. Ayahnya memaksa makhluk itu keluar, sedangkan adiknya terus-terusan menangis dan kemudian jatuh pingsan. Ketika dia sadar, dia bilang ada bayangan hitam yang datang mengganggunya. Yang ia maksud dengan ‘mengganggu’ itu seperti apa, Dadang pun tak tahu. Pada waktu itu, adiknya ini memang sedang sedikit lemah iman. Tapi, itu adalah terakhir kalinya adik Dadang diganggu oleh makhluk halus tersebut. Sedangkan Dadang sendiri, belum pernah sekalipun mengalami gangguan-gangguan yang seperti itu. Ia hanya berharap tidak akan pernah diganggu oleh mereka.

Haaa... penakut juga Dadang ini.

Kembali pada kisah tentang perlintasan makhluk halus tadi. Menurut cerita teman-teman Dadang yang memang punya hobi bergadang sampai pagi, mereka pernah melihat bayangan berpakaian putih berjalan-jalan di sepanjang perlintasan parit itu (sebenarnya parit itu merintangi jalan di kampung mereka). Ketika itu mereka tengah berjalan kaki hendak pulang ke rumah masing-masing. Yang membuat Dadang merinding, makhluk yang dilihat oleh mereka itu berada di kawasan parit yang bersebelahan dengan rumah Dadang (rumah Dadang memang terletak di tepi jalan). Mulanya teman-teman Dadang tidak begitu yakin dengan makhluk yang dilihatnya itu. Tetapi ketika mereka perhatikan betul-betul...

“Waduuh, gila...!” teriak mereka serempak.

Karena tiba-tiba makhluk itu berhenti lalu berpaling ke arah mereka. Walaupun muka dari makhluk tersebut tidak terlihat jelas, namun teman-teman Dadang tetap merasa ketakutan dengan sosok itu.

Sambil menjerit ketakutan, mereka lari tunggang-langgang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah badan mereka basah kuyub oleh keringat. Untunglah teman-teman Dadang ini masih memiliki sedikit rasa optimis. Kalau tidak, wah... bisa demam, panas tinggi selama seminggu penuh.

Tentang bayangan putih tadi, kakaknya sendiri yaitu bang Dudung, mengakui kalau dia sendiri pun pernah melihat makhluk seperti itu. Waktu itu masih di pagi buta, sekitar pukul 02.00 dini hari. Ketika itu dia keluar untuk buang air kecil (di kampung, biasanya toilet berada di luar rumah). Namun ketika ia hendak masuk kembali ke dalam rumah. Sekilas ia seperti melihat seseorang di kawasan parit itu. Seperti bayangan putih, mirip perempuan, berambut panjang, wajahnya tak begitu jelas terlihat. Tapi, bang Dudung ini orangnya pemberani. Dan dia terus saja memperhatikan makhluk itu bergerak sampai ke belakang rumah mereka. Sampai disitu makhluk itu pun menghilang. Dudung tak melihat dengan jelas muka makhluk itu, tapi yang pasti makhluk itu tidak menginjak tanah dan seperti melayang-layang. Setelah makhluk itu menghilang, Dudung bergegas masuk ke dalam rumah dan melanjutkan tidurnya. 

Esok paginya, dia bercerita kepada Dadang perihal makhluk yang dilihatnya tadi malam.

“Hii... takut aku... kalau jauh dari kawasan rumah sih tidak apa-apa. Tetapi yang ini dekat sekali dengan rumah kita...!” teriak Dadang ketakutan.

Yang membuat Dadang merasa tak nyaman adalah, setelah kakaknya bercerita tentang makhluk itu, setiap kali mau buang air kecil Dadang mesti mengajak ibu untuk menemaninya dan menunggu di luar toilet. 

Begitulah kisah yang Dadang ketahui dan ia ingat sampai kini. Dadang sendiri tidak mengalami langsung perihal peristiwa-peristiwa seram tadi. Tetapi ia turut berada dalam ruang dan waktu yang sama pada saat kejadian-kejadian aneh tersebut terjadi di kampungnya semasa masih kecil dulu.

Kisah Seram di Sebuah Pabrik Angker di Padalarang, Bandung Barat


Kisah ini aku alami ketika aku masih kerja di sebuah pabrik di Padalarang, Bandung Barat. Ketika itu aku baru 2 minggu kerja di pabrik tersebut. Jam kerjaku dibagi menjadi 3 shift. Waktu itu aku kebagian masuk di shift 2, yang artinya aku masuk jam 2 siang dan keluar jam 10 malam. Dari pertama masuk aku tidak merasakan hal yang aneh, biasa aja. Tapi aku dengar dari beberapa teman senior kalau di pabrik ini banyak hantunya karena dulunya merupakan bekas kuburan yang diratakan dan dijadikan pabrik. 

Ketika istirahat Maghrib kita semua makan bersama. Aku bersama dengan dua temanku makan sambil mulai cerita-cerita sampai tertawa keras. Saking hebohnya aku dan teman-temanku sempat ditegur oleh senior.

“Nanti ada kejadian aneh loh,” katanya. 

Tapi kita semua tidak ada yang percaya. Akhirnya saat istirahat pun berakhir.

Aku pun kembali bekerja, saking asyiknya bekerja sambil mendengarkan musik aku tidak menghiraukan sekitar, malah aku masih sempat bercanda dengan teman sebelahku. Saat itu mungkin sekitar jam 8, tiba-tiba aku mencium bunga melati yang sangat wangi, seperti baru ada yang menyemprotkan parfum. Aku sih cuek saja, mungkin saja itu teman di sebelahku yang memang suka memakai parfum. 

Tiba-tiba... ada sosok yang lewat di belakangku. Aku liat bagian bawahnya saja sekilas, kaki melayang memakai gaun putih. Aku langsung menegur Uci,

“Uci jangan becanda donk takut tauuu,” teriakku. 

Si Uci yang ada di depan agak jauh dari tempatku juga ikut berteriak.

“Naooon?” (Apaaa?)

Aku pun kaget dan langsung lari ke arah Uci. “Lah yang tadi lewat siapa donk?” tanyaku dalam hati. 

Aku pun baru sadar kalau semua anak baru memakai baju hitam putih, atasnya putih bawahnya hitam dan celana juga. Sedangkan yang senior memakai coklat. Langsung seisi pabrik panik juga, dan katanya sih memang banyak kejadian aneh disana. 

Hantu Itu Mengikuti Dari Jalan Soekarno-Hatta (Bandung)


Namaku Dadang. Aku baru saja mendapatkan pekerjaan di bidang event organizer. Malam itu kebetulan ada satu event di daerah Jatinangor, sebuah acara besar yang berlangsung berhari-hari. Kantorku sendiri berada di tengah Kota Bandung. Jadi, beberapa hari ini aku membawa mobil hilir-mudik untuk membawa peralatan, konsumsi, atau mengantar jemput bosku. Kegiatan ini bisa berlangsung sangat pagi, dan baru berakhir ketika malam tiba.

Dalam perjalanan itu... sebenarnya ada yang sedikit membuat bulu kudukku merinding. Bila melewati Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di jalan menuju ke arah Cibiru. Setiap melewati daerah itu di malam hari pasti saja tercium bau menyan yang menyengat! Tapi, namanya juga tugas, aku jalani saja semuanya.

Di malam terakhir event itu, bosku dari Jakarta datang untuk mengawasi. la menginap di salah satu hotel yang cukup ternama di Bandung. Sekitar Maghrib aku mengantarkannya menuju lokasi event. Sampai disana kami pun melaksanakan kegiatan.

Syukurlah, acara berlangsung lancar. Namun, karena sering pulang malam, kondisi badanku saat itu mulai terasa tidak enak. Badanku pegal dan merasa sangat lelah. Selesai acara kami beres-beres dan kira-kira pukul satu dini hari kami pulang.

Aku kembali mengantarkan bosku menuju hotel. Mobilku masuk ke Jalan Soekarno-Hatta. Tak lama kemudian bau yang senantiasa muncul itu kembali tercium, kali ini sangat menusuk! Bau kemenyan yang entah dari mana asalnya itu tercium sangat tajam kali ini. Aku pikir hanya aku saja yang menciumnya, namun ternyata bosku pun bertanya,

 “Apa kamu mencium bau kemenyan ini?” 

Dengan sangat yakin aku mengiyakan, dan mengatakan hal ini memang sudah biasa. Kami pun melupakan hal itu dan terus melanjutkan perjalanan.

Aku terus berkonsentrasi pada jalanan, sementara mataku mulai terasa berat akibat tubuh yang kecapekan. Tiba-tiba... dari kejauhan—di tengah jalan tepat di depan mobilku—terlihat sekelebat bayangan putih. Aku pikir itu hanya bias cahaya lampu jalanan, namun bayangan putih itu semakin jelas, bukan sebuah cahaya melainkan sebuah sosok! Aku tidak yakin apakah bosku melihatnya juga, tapi semakin dekat mobilku dengan sosok putih itu, semakin terlihat utuh juga bentuknya. Ada warna hitam legam menggantung! lya, warna hitam itu terlihat seperti rambut yang memanjang sampai ke lutut. Mataku dengan cepat menangkap sosok itu... yang ternyata melayang tanpa terlihat kakinya!

“Ya Tuhaan...!” 

Aku langsung membuang setir ke arah kanan jalan sambil terus menancap gas! Aku terdiam. Ternyata bukan hanya aku saja yang melihatnya tapi bosku juga melihatnya! Dia menggambarkan sosok seperti wanita dengan rambut panjang baju putih yang melayang itu sambil terbata-bata! Kami pun setuju untuk mempercepat laju mobil agar segera sampai di hotel.

Sesampainya di hotel, bosku merasa khawatir melihatku yang terlihat kelelahan. Aku pun tidak diperbolehkan pulang dan diberikan sebuah kamar di hotel itu. Setelah memakirkan mobil, aku mengambil kunci kamar dan bergegas menuju kamarku. Saat itu kepala ini sudah berat sekali.

Ketika masuk, terlihatlah sebuah kamar besar yang terang oleh lampu-lampu. Aku melihat dua buah tempat tidur yang terpisah. Ya, ini adalah kamar tipe standar twin bed. Aku langsung melemparkan diri ke salah satu ranjang itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. 

“Ya, sebentar...” 

Aku beranjak lalu membuka pintu dan... tidak menemukan siapa pun disana? Hah! Aku tengok keluar, melihat ke kiri dan kanan, tapi tetap tidak ada siapa-siapa. Apa mungkin aku salah dengar? Aku pun menutup pintu dan kembali masuk.

Saat itu, lampu kamar tiba-tiba saja meredup seperti hampir mati lalu menyala lagi. “Hotel sekelas ini kok listriknya jelek, sih?” pikirku. Tanpa pikir panjang, aku kembali ke tempat tidur, masuk ke dalam selimut, dan mulai memejamkan mata.

Suhu di dalam kamar semakin lama semakin dingin dan dingin dari AC ini terasa tidak wajar. Aku mengambil remote AC, ternyata suhu ruangan sudah menunjukkan 28 derajat. “Apa mungkin rusak juga nih AC-nya? Ah, jelek banget nih hotel,” pikirku. Aku pun menarik selimutku, tapi... kenapa susah? Aku tarik selimutku sekali lagi untuk menutupi badanku, tapi seperti ada sesuatu yang menahannya. Lalu, ketika aku coba menariknya lagi... aku bisa merasakan ada yang balas menarik selimut ini dari bawah! Aku seperti tarik menarik dengan seseorang!

Aku langsung bangun dan melihat ke kolong kasur, tapi tidak melihat siapa-siapa disana. Ah, pastilah aku sangat kelelahan. Aku kembali tiduran di tempat tidur. Dan... kali ini aku mendengar suara napas seseorang terdengar jelas di sebelahku. Dari sudut mata... aku melihat ada seseorang sedang tersujud di atas tempat tidur sebelah! Badannya bergerak seperti menggigil. Aku bisa melihat rambut yang panjang terurai, ya... itu adalah sosok wanita! Wanita itu merunduk dan tangannya mencengkeram keras ke tempat tidur! Dia terus bergerak-gerak sambil menggigil... semakin lama semakin cepat!

Semua itu hanya terlihat dari sudut mataku, aku tidak berani untuk benar-benar menengoknya. Aku coba untuk bersuara, tapi rasa takut menghalangiku. Aku hanya bisa diam dan mengawasinya dari sudut mata. Air mata pun tanpa kusadari luruh. Tiba-tiba... wanita itu berhenti dan terdiam. Sampai akhirnya... dia merayap perlahan menuju arahku! Aku tidak bisa bergerak! Badanku terasa kaku! Aku bisa merasakan ia semakin lama semakin dekat! Dan...

ASTAGA! Dia memelukku! 

“AAAAHH!” Kontan aku langsung bangkit dan berlari keluar kamar!

Malam itu aku habiskan dengan tidur di lobi hotel. Sungguh pengalaman yang membuatku takut untuk tidur di hotel sendirian, apalagi di kamar dengan dua tempat tidur. Setelah menceritakan ke teman-teman, aku jadi tahu bahwa sosok wanita yang aku lihat itu berasal dari Jalan Soekarno-Hatta yang ikut naik ke dalam mobilku!

Konon, wanita dari Jalan Soekarno-Hatta akan menampakan diri dan ikut jika ada mobil lewat dan mobil itu sama seperti mobil yang menabraknya dulu sampai meninggal. Semua itu benar-benar terjadi... aku tidak akan memberitahu mobil apa yang aku gunakan, agar tidak ada orang yang sengaja mencobanya. Yang pasti, berhati-hatilah di Jalan Soekarno-Hatta, karena... mungkin saja mobilmu sama seperti mobilku.

La Planchada