Tuesday, October 22, 2019

HANTU PISAU CUKUR


Kisah yang dipaparkan ini adalah kejadian nyata yang sungguh-sungguh dialami sendiri oleh teman saya ustadz Abdul Karim, yang berprofesi sebagai seorang paranormal, tapi kemudian saya olah dan diceritakan dalam bentuk santai. Mudah-mudahan kisah ini akan memberi teladan dan pengajaran buat kita semua.

Beberapa tahun yang lalu (tepatnya tahun berapa, saya sudah agak lupa), tapi mungkin sekitar 10 tahun yang lalu, ada seorang kawan dari ustadz Abdul Karim yaitu pak haji Harlan, datang mengadu mengenai masalah “gangguan” di rumah adiknya yang terletak di ujung timur pulau Jawa. 

Keesokan harinya kami berdua pun bangun sebelum subuh dan bertolak dari rumah di pinggiran Tangerang ini seawal mungkin menuju ke alamat tersebut. Setelah melewati beberapa propinsi dan puluhan kabupaten, kami pun sampai juga di sana lebih kurang pukul 04.00 sore. Setibanya di sana, kami disambut oleh beberapa orang saudara pak haji Harlan. Mereka semua datang dari beberapa wilayah di Jawa Timur semata-mata untuk bisa menyaksikan proses “pemulihan rumah” yang akan dilakukan.

Seperti biasanya, sebelum masuk ke dalam rumah untuk melakukan tindakan, ustadz Abdul Karim terlebih dulu akan berjalan mengelilingi rumah tersebut untuk melihat keadaan sekitarnya dan mencari petunjuk-petunjuk yang nantinya akan membantu dalam melakukan proses “pemulihan rumah”. Setelah dirasa cukup, barulah ia masuk ke dalam rumah. 

Rumah itu didiami oleh Rusmini, yang merupakan istri dari adik pak haji Harlan bersama dengan 4 orang anaknya. Sedangkan adiknya pak haji Harlan sendiri yang tidak lain adalah suami dari bu Rusmini telah lama meninggal dunia. Turut duduk bersama mereka ialah ibunda dari pak haji Harlan yang sudah sangat renta. Rumah ini terletak di sebelah sawah padi dan berdekatan dengan sungai. Di belakang rumah ini ada sebuah pohon beringin yang sangat besar, dan tumbuh di dekat sebuah batu besar, tepat di belokan sungai.

Menurut cerita dari adik, kakak, dan beberapa kerabat pak haji Harlan, pohon beringin yang di belakang rumah itu tidak berani ditebang oleh warga kampung walaupun sudah beberapa kali minta ditebangkan, mereka semua tidak berani…

Ternyata ada kisah di balik pohon beringin yang berusia cukup tua itu. Apabila waktu tengah malam tiba, akan terdengar suara menjerit melolong dari atas pohon ini. Jeritan tersebut terdengar sangat jelas sampai ke rumah warga sekitar. Pohon itu letaknya tidak begitu jauh dari rumah warga, lebih kurang hanya 50 kaki saja dari rumah.

Suasana yang menyeramkan itu berlangsung begitu lama sehingga menimbulkan rasa takut kepada seluruh warga, terutama keluarga pak haji Harlan yang rumahnya paling dekat dengan pohon beringin itu. Suasana di dalam rumah juga menambahkan rasa ketakutan yang sudah ada.

Ibu pak haji Harlan yang sudah tua renta ini setiap kali pergi ke kamar mandi di belakang rumah; dia selalu merasa seperti dikejar sesuatu, sehingga ia buru-buru keluar dari kamar mandi. Tapi anehnya… peristiwa seram itu hanya dialami oleh ibunya tetapi tidak terjadi pada istri almarhum maupun anak-anaknya. Pelbagai usaha dan ikhtiar juga telah dilakukan untuk memulihkan keadaaan supaya kembali seperti sediakala termasuk ikhtiar yang dilakukan saudara pak haji Harlan ini yang juga seorang pedagang. Pak pedagang ini juga turut serta hadir dalam proses “pemulihan rumah” ini.

Usai shalat Isya, ustadz Abdul Karim memberi penerangan ringkas dan jelas mengenai hal-hal apa saja yang mesti dipatuhi oleh mereka yang hadir, yang ada di rumah tersebut selama proses “pemulihan rumah” itu dijalankan. Ustadz Abdul Karim juga berpesan agar apabila pak haji Harlan merasa ngeri, dan ketakutan, sebaiknya jangan lari walaupun apa yang akan terjadi.

“Anda cukup mengikuti saya di belakang sebagai penunjuk jalan ke kawasan sekitar pohon beringin itu. Bukan kenapa-kenapa sih… nanti kalau Anda lari, padahal kita berada dalam gelap sendirian, tidak boleh membawa senter atau lilin; jadi, bukannya takut bertemu hantu melainkan khawatir karena kawasan pohon beringin itu terletak di kawasan yang ditikungi air. Nanti kalau Anda ketakutan lalu lari dan kemudian terjatuh ke dalam air, wah... bisa-bisa nanti harus pulang mengenakan pakaian yang basah kuyub lah.” jelas Ustaz Abdul Karim dengan panjang lebar.

Kemudian ustadz Abdul Karim meminta kepada tuan rumah untuk mengumpulkan semua barang-barang kepunyaan almarhum (termasuk barang-barang kesayangannya) untuk didoakan dan dipulihkan lalu dibuang ke sungai. Hal ini perlu dilakukan dengan tujuan apabila semasa hidupnya almarhum ada mengamalkan sebuah ilmu yang bertentangan dengan agama, maka jin-jin atau hantu-hantu ilmu itu akan tinggal/duduk pada barang-barang pribadi milik almarhum (jin-jin itu akan taat menjaga barang-barang milik almarhum semasa almarhum masih ada ataupun ketika sudah meninggal). Oleh karenanya barang-barang tersebut harus didoakan dan dipulihkan kemudian dibuang ke sungai agar semua jin tersebut enyah dan tidak mengganggu manusia lagi.

Setelah proses pemberian doa dan pemulihan atas barang-barang milik almarhum selesai dilaksanakan dan semuanya telah dibuang ke sungai yang terdekat dengan rumah, maka semua orang pun masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.

Keesokan paginya, selepas sarapan, ustadz Abdul Karim memberikan air doa zikrullah kepada tuan rumah untuk keperluan pengobatan. Setelah ibu dari pak haji Harlan menyatakan sudah tidak ada masalah apabila masuk ke kamar mandi, maka kami pun bersiap-siap untuk pulang melalui jalur lain, kalau sebelumnya kami datang melalui jalur pantura (pantai utara), kini ketika akan pulang kami menggunakan jalur lainnya yaitu jalur pantai selatan. 

Menjelang petang, keluarga pak Haji Harlan menelepon untuk mengabarkan perkembangan yang terjadi di rumah itu setelah kepergian ustadz Abdul Karim. Ibunda pak haji Harlan memberitahukan bahwa dia masih merasa ada yang mengikuti ketika memasuki kamar mandi tengah hari tadi. 

Astaga…!! 

Hantu yang menjaga kamar mandi itu ternyata masih ada… Dan masih suka mengikuti siapa pun yang menggunakan kamar mandi tersebut. Bahkan nenek-nenek yang sudah tua pun diganggu pula oleh hantu nakal tersebut!! 

Ustadz Abdul Karim pun mencoba mengingat-ingat... rasanya semua barang-barang milik almarhum sudah “bersih” semuanya... kecuali tuan rumah tidak…

Astaga!! 

Tiba-tiba ustadz Abdul Karim teringat akan sebuah pisau cukur yang dilihatnya di kamar mandi itu tempo hari. 

Mungkin pisau cukur almarhum masih berada di dalam kamar mandi itu. Lalu ustadz Abdul Karim pun meminta keluarga adik pak haji Harlan untuk memeriksa lagi apakah pisau cukur almarhum masih berada di dalam kamar mandi… 

Ada!! Ternyata masih ada! 

Jadi itulah jawabannya!! 

Ustadz Abdul Karim pun meminta supaya pisau cukur itu diambil, kemudian direndam dalam air doa yang telah diberikan kepadanya dan kemudian membuang pisau cukur itu ke sungai. 

Keesokan harinya, keluarga pak haji Harlan pun mengabarkan bahwa rumah itu sekarang sudah kembali normal seperti dulu lagi. Begitulah setelah beberapa minggu hingga sekarang ini. Sudah tidak ada lagi gangguan dari hantu pisau cukur dan hantu-hantu lainnya. Bahkan “penyanyi” dari pohon beringin itu pun kini sudah tidak bernyanyi lagi, dan warga kampung pun kini jadi hidup lebih tenang.

Allah memang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, pada-Nya lah tempat mengadu dan tempat memohon perlindungan.

Makhluk jin dari ilmu khurafat atau ilmu salah itu akan taat kepada tuannya walaupun tuannya itu telah mati dan akan menjaga segala harta milik tuannya termasuk anak, isteri, dan barang-barang remeh lainnya, walaupun harta benda itu hanya sebuah pisau cukur.

Wallahua'lam.

PENAMPAKAN DI SIANG BOLONG (Jogja)


Apabila berpergian ke kota Jogja, pasti tidak akan lengkap apabila tidak berkunjung ke salah satu tempat yang menjadi salah satu ikon pariwisata di Jogja, yaitu Jalan Malioboro. Di lokasi wisata ini banyak sekali Factory Outlet dan juga tempat-tempat makanan khas kuliner nusantara yang enak, lezat, dan dijamin tidak mengecewakan lidah pelanggan; bahkan di hampir setiap hari, Jalan Malioboro menjadi salah satu tempat tujuan favorit untuk nongkrong di kalangan anak muda.

Selain sebagai salah satu tujuan wisata, di kawasan Malioboro ini tenyata juga menyimpan banyak cerita mitos yang cukup seram dan horor yang beredar di antara kalangan masyarakat. Berikut ini adalah cerita dari Rossana, seorang mahasiswi senior di sebuah universitas swasta di kota gudeg ini yang menceritakan pengalamannya ketika melihat penampakan hantu perempuan berkostum serba hitam di sepanjang jalan Malioboro yang dilaluinya saat hendak pulang menuju ke tempat kost. 

“Sewaktu saya masih duduk di TK kecil dulu, nenek saya sering menakut-nakuti agar saya tidak bandel, dan tidak pergi bermain jauh dari rumah. Katanya mahluk halus itu tidak cuma keluar atau menampakkan wujudnya pada malam hari saja, ia juga bisa keluar pada siang hari, jadi saya tidak boleh pergi jauh dari rumah agar tidak disambar makhluk halus…”

Kata Rossana sambil matanya menerawang mengenang masa kecilnya dulu… 

Awalnya Rossana tidak mempercayai sedikitpun kata-kata neneknya waktu itu. Menurutnya, bisa saja itu hanya trik atau akal-akalan nenek agar ia lebih menurut sehingga Rossana yang ketika itu masih kecil tidak pergi bermain-main di luar rumah pada siang hari pada saat jam tidur siang.

Tapi sekarang ucapan dari sang nenek itu ternyata terbukti benar, yaitu ketika Rossana mengalami suatu perisiwa aneh, peristiwa aneh yang ia alami ini terjadi ketika sehabis mengikuti kegiatan rutin di kampusnya, dan ia sedang dalam perjalanan pulang dari kampus menuju tempat kostnya.

Rossana pun mengawali kisahnya, “Waktu itu di bawah terik matahari yang panas menyengat pada hari Senin siang, saya baru saja selesai beraktivitas di kampus dan berniat untuk pulang.” cerita Rossana yang saat itu sedang menunggu di salah satu halte bus TransJogja. Dan beberapa saat kemudian, bus TransJogja yang akan ditumpanginya pun muncul tepat waktu. Waktu itu, bus yang ditumpangi Rossana berpenumpang sangat sedikit. 

Rossana duduk di bangku yang kosong, dan kebetulan tempat duduknya berada tepat di belakang pak supir, sehingga pandangannya bisa mencakup area yang cukup luas, ia sekaligus bisa mengawasi setiap orang yang keluar masuk melalui pintu bus yang letaknya berdekatan dengan tempat duduknya. 

“Mungkin karena baru mendapatkan sedikit penumpang, sang supir terus menjalankan busnya dengan perlahan. Dalam perjalanannya, sebelum mencapai lampu merah di jalan Malioboro, Rossana melihat seorang perempuan berdiri di sudut jalan, mencoba untuk mencegat bus yang ia tumpangi.

“Payah, jaman sudah maju dan serba tertib begini masih saja ada orang yang mau mencegat bus di luar halte...” gerutu Rossana dalam hati.

Karena bus yang ditumpanginya berjalan sangat lambat, maka Rossana sempat memperhatikan secara detail ke arah perempuan itu. Perempuan tengah baya itu mengenakan kostum serba hitam. Rok terusan berwarna hitam tanpa motif sama sekali, mengenakan kaca mata hitam, rambutnya yang mulai memutih panjang terurai melewati bahu, serta membawa sebuah payung yang berwarna hitam pula. Rossana tersenyum sendiri melihat penampilan dari perempuan itu, 

“Di siang hari yang sangat panas begini, kok memakai pakaian yang didominasi warna hitam, apa tidak tambah kepanasan? Bukankah warna hitam menyerap panas?” pikir Rossana penasaran.

Tapi ia merasa heran, kenapa si perempuan mencoba menghentikan bus di luar halte, padahal letak haltenya tidak jauh darinya. Setelah melewati perempuan tersebut, sang supir kemudian menghentikan bus-nya tepat di halte tidak jauh dari tempat perempuan itu berdiri, sesaat kemudian ada tiga orang laki-laki yang masuk ke dalam bus.

“Ah, mungkin perempuan itu malas berada di satu halte dengan para penumpang laki-laki yang baru masuk ke dalam bus tadi...” kata Rossana dalam hati. 

Tapi agak aneh juga rasanya, hanya beberapa meter dari halte bus TransJogja, namun perempuan itu tidak bergeming sedikitpun untuk berlari atau paling tidak berjalan secepatnya menuju bus yang ditumpangi Rossana. Rossana pun bergumam lirih, 

“Huh, sombong sekali perempuan itu, apa nggak mau capek sedikit dan berjalan mendekati bus?” 

Beberapa saat kemudian, bus TransJogja pun akhirnya pergi meninggalkannya.

Setelah berjalan beberapa saat, bus pun melewati simpang Malioboro, dan pada saat mendekati Malioboro Mall, bus yang ditumpanginya terpaksa berjalan pelan lagi karena situasi jalanan yang macet karena padatnya kendaraan yang melintas di jalan Malioboro. 

Tak jauh dari situ berdiri seorang perempuan, dan 

“Astaga… i..itu kan perempuan yang tadi?” pikir Rossana dengan keheranan. 

Ia yakin sekali bahwa perempuan itu adalah yang tadi dilihatnya sebelum lampu merah di jalan Malioboro tadi, bajunya, kacamatanya, rambutnya dan payungnya… pokoknya semuanya sama persis.

Rossana mencoba untuk meyakinkan penglihatannya dengan membuka matanya lebar-lebar, 

“Apa iya sih, apa itu perempuan yang tadi? Ah ini pasti hanya kebetulan saja…” pikir Rossana. 

“Tapi bagaimana bisa? Mukanya sama, rambut dan kacamatanya sama, pakaiannya pun juga sama dengan yang tadi dia pakai...?” gumamnya masih dengan nada keheranan.

Selama berada di dalam bus, timbul pertanyaan-pertanyaan aneh yang menyelinap dalam benak Rossana. Namun pada akhirnya ia menyimpulkan bahwa itu semua mungkin hanya halusinasi saja, karena udara yang begitu panas dan ia sendiri sudah kelelahan, sehingga menyebabkan dirinya berpikir yang bukan-bukan. 

Akhirnya bus yang ia tumpangi kembali berjalan dengan kecepatan normal setelah melewati zona padat lalu-lintas. Dan sama seperti yang ia lihat sebelumnya, perempuan itu hanya berdiri saja tidak bergeming sedikitpun untuk berusaha berlari ke halte agar tidak ketinggalan bus lagi.

Bus kemudian melewati perempatan besar dimana di situ ada gedung BI, kantor pos besar, dan ada sebuah benteng peninggalan Belanda, kalau tidak salah namanya benteng Vredeburg. Di sebelahnya lagi ada taman bermain untuk anak-anak namanya Taman Pintar.

Tak terasa bus sudah sampai di halte berikutnya. Suara berisik dari salah satu penumpang yang hendak turun membuyarkan pikirannya, saat itu juga Rossana segera memberikan jalan kepada penumpang yang akan turun. Dan seperti biasanya Rossana selalu menyempatkan diri melihat ke arah luar bus.

Tapi…

“Astaga!!!” 

Di sisi jalan dekat pagar kawat berduri, tepat di depan pintu bus yang menghadap langsung ke arahku, berdiri seorang perempuan, dan perempuan itu adalah perempuan yang kulihat tadi. Baju, rambut, dan kaca-matanya sama persis, karena berhadap-hadapan cukup dekat (tidak sampai 4 meter), maka Rossana bisa melihat dengan jelas wajah perempuan berkostum serba hitam itu.

Perempuan tengah baya itu berhidung bulat, tidak mancung, mukanya pucat pasi, dan dia tersenyum menatap ke arah Rossana. Selama beberapa detik berikutnya Rossana terkesima, ia hanya bisa diam tak bergerak dan bulu kuduknya terasa merinding disertai keringat dingin yang mulai mengucur deras.

Beberapa detik setelah itu Rossana terperanjat kaget karena merasakan ada tangan yang menepuk-nepuk bahunya, rupanya ibu yang duduk di sebelahnya telah memperhatikan dirinya agak lama. 

“Ada apa, Jeng? Kok pucat, sepertinya sedang nggak enak badan, ya?” tanya ibu itu. 

Rossana terdiam sesaat, 

“Ahhh, enggak apa-apa Bu, tapi perempuan itu…” jawab Rossana sambil menunjuk ke arah perempuan berkostum serba hitam tadi. 

Tapi… Rupanya perempuan itu telah menghilang entah ke mana. 

Rossana hanya bisa bengong dan tidak percaya dengan apa yang ia alami hari itu. Benar-benar sebuah peristiwa yang tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

ADA LELEMBUT NUMPANG


Kita pasti pernah mendengar kalau ada lelembut atau hantu yang berpindah tempat, menurut orang yang mengetahui dunia perghaiban, makhluk-makhluk itu tidak bisa begitu saja berpindah tempat seperti kita para manusia. Mereka perlu bantuan sebuah media.

Pengalaman pamanku ini bisa menjadi bukti kalau hal-hal  seperti itu bisa terjadi. Saat itu paman main ke rumah, ditemani ayah dan ibu, mereka asyik bercerita. Mereka asyik ngobrol di teras rumah dan aku yang kala itu masih kecil sedang bermain di depan rumah dekat teras, jadi aku bisa mendengar obrolan mereka. Awalnya aku kurang menghiraukan tapi ketika cerita mereka mengarah tentang hantu –aku jadi tertarik untuk mencuri dengar.

“Mas Haryo dan Mbak Nunik boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang ada sejenis makhluk halus yang suka numpang pada sepeda motor atau mobil.”

Itu kata paman Harno ketika memulai menceritakan kisah hantu itu, aku yang sebelumnya asyik bermain… langsung mengalihkan perhatian ke cerita paman, mungkin mereka tidak mengira kalau aku mendengarkan karena yang mereka lihat aku masih bermain-main sendiri.

“Wah bisa numpang pesawat sekalian dong, bisa piknik kemana-mana gratis… heheheh!” gurau ayah terkekeh.

Paman seperti tersinggung dengan ucapan ayah, dengan memasang mimik serius dia melanjutkan kisahnya, 
“Kalau itu aku nggak tahu Mas, yang pasti itu pengalamanku sendiri dan Wulan juga melihatnya!”

“Wulan? Anakmu balita juga melihatnya?” Ayah dan Ibu tampak terpengarah ketika Paman menyebut Wulan. 

Wulan itu sepupuku, dia masih berusia sekitar tiga tahun lebih sedikit, ayah dan ibu jadi tertarik untuk mengikuti cerita paman, maklum Wulan si anak balita juga ikut melihat. Balita kan masih sangat polos dan biasanya bisa melihat hal-hal seperti itu tanpa dia sadari.

“Bagaimana bisa Wulan melihatnya?” tanya Ibu.

“Begini Mbak, misalkan ada seorang pemotor atau pengendara mobil habis berhenti di suatu tempat untuk istirahat, buang air dan lainnya, tanpa disadari sebenarnya di tempat tersebut ada makhluk halus dan ketika mau melanjutkan perjalanan makhluk itu ikut ndompleng karena ada media yang bisa dia pakai.”

Paman menghentikan ceritanya sejenak lalu melanjutkan lagi, dua hari lalu paman sekeluarga sedang nonton TV tapi karena lapar mereka bermaksud beli makanan.

 “Mas… lapar nih!” begitu kata tante Wati –istri paman.

“Iya, wulan juga!” Wulan anak mereka yang sedang asyik main boneka ikutan nimbrung.

“Wah, malam-malam begini mana ada warung yang buka?” seru paman sambil melirik ke arah jarum jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam lebih sedikit.

Rumah paman ada di sebuah perumahan yang agak jauh dari perkotaan. Kalau mau ke kota mesti melewati hamparan sawah dulu baru masuk ke jalan. Jalan itu juga hanya ramai oleh warga sekitar sini di saat pagi sampai petang hari saja, kalau sudah malam begitu biasanya sepi, maklumlah itu hanya jalan perkampungan. Baru setelah sekitar satu kilometer akan masuk ke jalan utama menuju kota.

“Ayah… kan bisa beli ke kota, banyak warung makan yang buka 24 jam!” jawab tante Wati. “Lapar banget nih… pingin makan bakmie goreng!”

“Nggak bikin mie instant aja?” Paman sebenarnya enggan keluar malam buat beli makanan.

“Bosan, kepingin makan mie pak Sastro yang di depan toko Besi Makmur Jaya itu lho… Ayah nggak kepingin?” 

“Wulan juga mau mie!” sambil tertawa senang Wulan berlari ke arah ayahnya. Mungkin dia pikir akan diajak ke kota buat beli mie.

“Ya sudahlah, aku akan ke kota buat beli mie, tapi Wulan tidak usah ikut, ntar ngantuk lagi… kan sudah malam!”

Wulan menangis ketika tidak diajak, tante Wati segera mengambil Wulan dari kursi dan menggendongnya.

“Wulan bobok saja, nanti kalau ayah datang akan kita bangunin buat makan mie bareng!” Tante Wati mencoba menenangkan putrinya.

Akhirnya dengan mengendarai motor paman Harno berangkat ke kota buat beli mie.

“Antrian beli mie-nya ternyata panjang…!” seru paman kepada ayah dan ibu.

“Sekitar jam sebelas malam lebih baru dapat!” lanjutnya lagi.

“Trus…?” Ayah dan ibu menjadi penasaran, begitupun dengan aku yang sedang mencuri dengar.

“Setelah dapat dua bungkus mie aku segera pulang, tidak ada apa-apa saat itu. Hanya saja saat di tikungan jalan di Jalan Mawar Sari…”

“Oh… tikungan setan itu? Di situ kan banyak yang meninggal karena kecelakaan!” potong Ibu.

Paman mengangguk, “Di tikungan itu aku memperlambat laju motor, siapa tahu ada kendaraan dari arah depan yang melintas. Malam hari biasanya kendaraan merasa tidak ada saingan sehingga banyak yang ngebut, makanya aku memperlambat motorku.”

“Lalu…” tanya ibuku lagi.

“Entah kenapa motorku tiba-tiba macet, aku terpaksa minggir dulu agar kendaraan di belakangku bisa lewat. Aku mencoba menstarter motor lagi, agak lama sih… tapi berhasil juga akhirnya!”

“Lelembut itu ikutan numpang ya?” ucap Ibu.

Paman mengiyakan.

“Kalau tahu kenapa tidak kamu usir saja...?!” sergah ayah.

“Waktu itu saya tidak tahu, Mas! saya hanya merasa agak berat seperti ada yang membonceng!”

“Dari kaca spion tidak terlihat ya?” timpal ibu.

“Dari kaca spion tidak terlihat apa-apa, aku bahkan juga sempat menengok ke arah belakang untuk memastikan siapa tahu ada orang ikutan bonceng! Yang terlintas di pikiranku malah kalau ada orang jahat yang memaksa ndompleng… bukan hantu atau lelembut.”

“Tapi kamu yakin kalau boncenganmu ada ‘sesuatu’ yang ikutan?” Ibuku semakin tertarik dengan cerita paman.

“Saat ada ‘sesuatu’ yang naik, aku bisa merasakan meski tak bisa melihatnya, tapi setelah itu kondisi normal kembali. Setelah motor aku jalankan terasa ringan saja seperti tidak ada yang membonceng, makanya aku santai saja!”

“Wah… wah…!” Ibu menggeleng gelengkan kepala.

“Lelembut itu numpang sampai rumahmu ya?”

“Itu yang bikin kami sekeluarga merinding!” ujar paman.

“Beneran nih sampai rumah?” Ayah terbelalak.

“Iya, saat aku pulang ternyata Wulan masih belum tidur. Dia bersama ibunya ada di teras. Wati lagi baca majalah dan Wulan bermain boneka. 

Begini nih ceritanya:

“Ayah pulang… ayah pulang!” teriak Wulan girang, dia berlari menghambur ke arah paman, kalau tante Wati sih cuek saja tetap membaca majalah, mungkin sedang baca artikel yang bagus.

Sebagai seorang ayah tentu paman senang sekali disambut oleh anaknya. Segera setelah mematikan mesin motor, paman turun untuk menggendongnya.

“Ayah sama siapa?” tanya Wulan setelah dipeluknya.

“Ayah sendiri saja!” jawab paman pendek.

“Tuh… yang duduk di belakang?” seru Wulan sambil jari tangannya menunjuk ke arah belakang paman yang membelakangi motor karena menggendong anaknya.

Secara refleks pamanpun mengikuti arah tangan anaknya. Ya…dia melihat seorang perempuan bergaun putih panjang duduk di boncengan motor. Rambutnya panjang terurai menutup wajahnya sampai pangkuan.

“Wati… tuh temanmu ada yang ikutan nebeng!” seru paman keras. Dia pikir itu perempuan malam yang ikutan nebeng, jadi biar Wati yang menanganinya.

“Ada apa sih, Mas?” jawab Wati sambil menurunkan majalahnya dan mengalihkan pandangan ke arah paman. Tapi selanjutnya Wati berteriak.

“Hantu… hantu!” teriaknya keras sekali sambil menunjuk nunjuk ke arah motor.

Ketika paman kembali mengarahkan pandangan ke motor, dia terkejut setengah mati.

“Aku melihat perempuan itu cuek saja tidak melakukan apa-apa, hanya duduk kaku di boncengan, tapi kemudian ada asap tipis mengepul dari tubuhnya dan seketika itu juga perempuan itu menghilang.” terang paman tercekat.

“Wulan meronta dari gendongan dan tiba-tiba anak yang berumur tiga tahun itu berlari sampai di pintu pagar rumah sambil teriak-teriak, “Jangan pergi... jangan pergi.”

“Aduh… bahaya itu, Wulan masih bisa melihat lelembut itu karena dia mengejarnya!” teriak ibu sedikit histeris.

Ayah menepuk bahu ibu agar tenang, sambil mempersilakan paman meneruskan ceritanya.

“Refleks, saya mengejar anak saya dan segera mendekap erat dari belakang… terlihat anak saya matanya kosong seperti terhipnotis sesuatu!! Kemudian saya menggendongnya membawa masuk ke dalam rumah.”

“Setelah sampai di dalam rumah aku dan Wati segera membaca ayat Kursi. Setelah selesai saya usapkan air putih di mukanya. Alhamdulillah anak saya matanya kembali seperti semula.”

Ayah dan ibu menggut-manggut mendengar cerita paman. Dari wajah mereka aku melihat mereka tampak lega. Beda dengan aku, bulu kudukku berdiri dan keringat dingin membasahi tubuhku. Segera saja aku berlari ke arah orang tuaku. 

Ibu menarikku di pangkuannya. Aku merasa sangat aman di pelukan Ibu.

HANTU KILL-JOY


Kisah ini selalu saja terjadi semenjak dari aku masih kecil sampai aku menginjak dewasa. Bahkan sampai aku sudah menikah sekalipun. Semua berawal di rumah kakekku yang memang ada penghuninya dan berasal dari dunia lain. Biasalah, kakek-kakek jaman dulu. Mereka menanam entah itu roh jin tanah, mambang tanah, aku pun tidak yakin. Tapi yang jelas bukan kakekku yang berbuat hal aneh-aneh semacam itu, melainkan nenek moyang kakekku dulu.

Jadi sulitlah untuk mengeluarkan, atau membuang benda bertuah yang entah dinamakan apa itu dari area rumah kakekku, karena sudah terlanjur tertanam sangat lama di sana. Tapi mau bagaimana lagi, yang menanam maupun yang membuat benda-benda ini pun sudah lama meninggal. Jadi tak tahu harus berbuat apa. Aku pun juga kurang paham dengan benda-benda bertuah semacam itu. 

Satu hal yang menjadi misteri dari dulu hingga sekarang adalah, setiap kali anak-anak dan para cucu berkunjung dan menginap di rumah kakek, pasti terjadi sedikit kegaduhan. Tapi tidak ada seorangpun yang mempertanyakan atau memprotesnya. 

Namanya juga anak-anak. Begitu ketemu kelompoknya, pasti langsung bising dan berisik. Main kejar-kejaran lah, main gulat lah, main tembak-tembakan lah, berteriak-teriak di sana sini. Menjadi berisik tak karuan. Dan setiap kali pula pasti akan terjadi sebuah goncangan yang keras di dekat pintu samping rumah, bagaikan sedang terjadi gempa.

Selain goncangan di pintu rumah, tiang-tiang penyangga pun bergetar pula. Selain dari 2 tempat tersebut, atap rumah pun selalu ikut bergetar juga. 

“Tapi bagaimana benda bertuah itu bisa menyerang...?” pikirku penasaran. 

Aku sempat merenung sejenak. Oke, benda itu menyerang apabila suasana di dalam rumah terlalu berisik, dan terlalu bising karena suara anak-anak bermain, bergurau, menangis atau bisa juga karena yang tua-tua pun tak kalah berisiknya kalau sedang bercakap-cakap. Apalagi kalau sedang membicarakan topik yang sedang heboh, pasti seru dan berisiknya minta ampun. Lagipula keluargaku memang suka berbicara keras-keras. Tak terkecuali aku. 

Suatu malam, ketika semua keluargaku sedang berkumpul di rumah kakekku tersebut, terjadi lagi peristiwa aneh itu. Ketika itu, di dalam rumah suasananya sangat bising dan berisik, tak berapa lama kemudian terjadi peristiwa itu lagi. Terjadi satu goncangan dan hentakan yang terlalu kuat sampai-sampai pintu rumah terasa bergetar hebat. Semua mur dan baut sepertinya hendak tanggal. Jadi bila sudah ada yang menggoncang-goncang pintu sekeras itu, siapakah yang berani mendekat dan membukanya langsung? Tak ada seorang pun yang berani. Bila goncangan tersebut sudah mereda selama kurang-lebih 2-3 menit, barulah ada yang berani membuka. Tapi yang aneh, ketika pintu di buka pun tidak terlihat siapapun di luar selain angin yang bertiup kencang. 

Di depan rumah kakekku memang ada kebun. Pohonnya besar-besar dan tinggi menjulang. Sekali angin bertiup kencang, maka akan tampaklah bagaimana pepohonan itu meliuk lentuk ke kiri dan ke kanan. Dan kalau angin bertiup lebih kuat lagi, maka akan terlihat bagaimana pepohonan di kebun itu bergerak seperti entahlah, aku tidak tahu cara mengatakannya. 

Seperti itulah yang kami lihat ketika membuka pintu namun tidak ada seorang pun di sana selain pepohonan saja yang bergoyang ke sana ke mari karena tiupan angin. Walaupun sebelumnya tidak ada angin kencang seperti itu.

Ibuku pernah berkata, benda bertuah itu sudah ada sejak dia masih kecil! Tapi dulu tidak menyerang pintu melainkan menyerang tiang-tiang penyangga. Di rumah kakekku memang memiliki banyak tiang di dalam rumah. Kini, bila tiba-tiba semua orang membuat kebisingan, dalam sekejap bergetarlah tiang-tiang penyangga itu. Seolah-olah ada yang menggoncangnya dari bawah. Kemudian kakekku dan almarhum pamanku (pamanku yang datang ketika aku hendak menikah dulu) turun ke bawah untuk melihat lebih dekat dan memeriksa apakah gerangan yang bergetar, namun tidak ada siapa pun selain pepohonan di sekeliling rumah yang ditiup angin kencang.

Baru-baru ini ibuku juga menceritakan suatu hal yang sedikit banyak turut memberi pencerahan atas semua masalah klenik ini. Beberapa waktu yang lalu, saat aku masih menjadi mahasiswa tingkat akhir dan sedang magang di sebuah perusahaan di luar kota, ketika itu ada acara kenduri di rumah kakekku. Saat itu aku memang tidak dapat pulang untuk menghadirinya. 

Dan seperti biasanya, setiapkali semua anggota keluarga sedang berkumpul, maka suasana pun jadi riuh-rendah, bising dan berisik tanpa henti hingga dini hari. Saat itu pukul 02.00 dini hari. Semua orang di rumah kakek sedang bergembira, dan bergurau semua. 

Tiba-tiba terdengar suara, 

“Brrraaakk!!!”

Semua langsung terdiam. Antara kaget dan heran dengan apa yang mereka lihat, hingga tercipta suasana hening yang cukup lama.

Di atas atap bagaikan dilempar dengan batu yang sangat besar dan berat dari tempat yang tinggi. Keras sekali…!! Atap itu seakan-akan hendak roboh. Aku pun bisa membayangkan seperti apakah kekuatannya, sebab aku sendiri pun dulu pernah tinggal di sana. Jadi bila ibuku bercerita seperti itu, tentu aku bisa membayangkan seperti apa kuatnya. Sesaat setelah atap tersebut terasa seperti dilempar sesuatu yang berat dan besar, tiba-tiba di luar rumah bertiup angin kencang yang berputar-putar mirip puting beliung.

Ibuku juga mengatakan, saat itu pepohonan di kebun meliuk-liuk seperti akan tercabut dari akarnya akibat diterpa angin kencang tersebut. Dahan serta daun-daunnya beterbangan tak tentu arah. Pasir di halaman rumah pun terlihat berputar-putar. Tapi semua itu terjadi hanya sekejap saja, tidak sampai 10 menit. Kemudian peristiwa aneh tersebut berhenti dengan sendirinya. Keadaan pun menjadi kembali seperti sedia kala. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Semua orang segera kembali masuk ke dalam rumah. 

Paginya, paman dan kakak iparku naik ke atas atap. Mereka hendak memeriksa keadaan atap rumah. Begitu dilihat, ternyata semuanya masih normal seperti sebelumnya. Atap itu masih terlihat cantik tanpa cela sedikitpun. Seolah-olah tidak ada sesuatupun yang menimpanya. Termasuk lokasi yang dilewati angin berputar tadi. Sedikit pun tak ada bekas dan jejaknya.

Aku jadi heran, tidak tahu motif apa yang membuat dia mengamuk tak tentu arah. Lagipula aku juga tak begitu yakin gerangan apakah yang telah menimbulkan amarah. Tapi yang pasti, benda itu akan bertindak kalau kita tengah bergembira, bergurau dan tertawa. Benar-benar “kill-joy” alias tidak suka melihat orang senang dan bahagia. Aku rasa dia ingin mengingatkan kami, supaya jangan terlalu senang dan bergembira akan sesuatu hal, dan selalu “ingat” dalam setiap perbuatan. 

Monday, October 21, 2019

HANTU PEREMPUAN GANTUNG DIRI


Dewi memandang wajah Nina yang begitu terlihat mendung, kepedihan terpancar di matanya. Keduanya duduk lesehan di atas lantai tanpa tikar dan punggung mereka menempel di tembok, awalnya Dewi tidak memperhatikan wajah temannya tapi begitu nada sesenggukan terdengar lirih, dia secara refleks memandang wajah temannya itu, barulah dia sadar kalau Nina begitu tertekan. Beberapa saat mereka berdua terdiam sampai tiba-tiba Nina mengucapkan kalimat yang membuatnya terperangah.

“Wi… kamu pernah terpikir untuk bunuh diri?” tanya Nina saat itu.

“Bubb… bubb… bunuh diri?” teriak Dewi terbata-bata, dia tidak percaya dengan yang dia dengar barusan.
Nina menggangguk, air matanya mulai menetes.

“Rasanya sudah tidak ada semangat hidup, Wi…!” 

“Kamu sudah gila…!” potong Dewi cepat.

“Paling tidak aku bisa lepas dari beban ini, dan aku menjadi orang yang bebas!!” tukas Nina putus asa.

Dewi terdiam sejenak, dia lalu teringat cerita ibunya, 

“Nin, aku pernah diceritain sama ibuku… beliau juga pernah mencoba untuk bunuh diri… kamu mau mendengar ceritaku kan?” bujuk Dewi pelan.

Nina menengok ke arah Dewi dengan terpengarah… 

“Ibumu…?” sahut Nina tak percaya.

“Tidak mungkin lah, ibumu kan shalihah sekali… beliau memakai kerudung, rajin ke masjid… ah, kamu cuma mau menghiburku ya…?” lanjut Nina setengah protes.

“Mungkin kamu tidak percaya kalau ibuku pernah berusaha untuk bunuh diri, tapi cobalah kau dengar ini…”
Lalu meluncurlah cerita Dewi.

“Ibuku sudah tiga kali mencoba bunuh diri saat aku SD dulu, dengan tujuan agar bisa menyatu dengan almarhum ayah selamanya. Ibu frustasi dengan keadaan ekonomi yang begitu berat. Ayahku wafat dengan meninggalkan beban tiga orang anak yang masih kecil-kecil.”

Dewi menghela napas sejenak, lalu melanjutkan ceritanya.

“Saat aku kelas 6 SD, ibu pernah mencoba untuk bunuh diri. Pernah loncat dari angkot, menyayat nadi, dan minum racun pembersih. Tapi anehnya selalu saja ada yang menghalangi beliau mati, mungkin belum waktunya. Saya tidak bisa menyalahkan ibu. Dia hanya ingin hidup tenang bebas dari segala masalah yang membelit hidup dan selamanya bersama mendiang ayah. Dia panik dan terpukul sekali saat ditinggalkan oleh ayah menghadap Tuhan.”

“Terus, kenapa ibumu tidak jadi bunuh diri? Dan berubah menjadi alim begitu?” 

Jawab Nina yang mulai tertarik dengan cerita Dewi, meski sebenarnya dia agak kurang percaya juga.

“Mmmhhhh… setelah pada akhirnya beliau bertemu hantu yang mati bunuh diri. Sampai sekarang tidak pernah terbesit sedikitpun kata 'bunuh diri’.”

“Bertemu hantu yang bunuh diri?” seru Nina kaget setengah mati.

Dewi mengangguk,

“Saat itu ibuku berusaha bunuh diri dengan minum racun pembersih di kamar mandi, tapi untungnya ketahuan sama nenek, meski agak terlambat, karena waktu itu ibu sudah tidak sadarkan diri. Dengan dibantu oleh para tetangga, ibu segera dibawa ke rumah sakit. Nah setelah siuman, ibu tampak seperti orang bingung dan sering berdiam diri.”

“Ibumu ketemu hantu di rumah sakit…?” cetus Nina.

Dewi menggeleng, “Bukan hantu rumah sakit.”

“Lalu… hantu apa yang ibumu bilang?” tanya Nina lagi penasaran.

“Nenek berusaha keras menyadarkan ibu dan memintanya bercerita… ternyata ibu selalu didatangi oleh seorang wanita yang berwajah manis, dulunya dia adalah teman dan juga tetangga ibu sebelum ibu menikah. Dia gantung diri di kamarnya akibat pacarnya tidak mau bertanggung jawab, dia kebingungan dan takut sekali. Biasanya ‘orang yang tidak sadar dan hampir mati’ bisa bersinggungan dengan dunia lain, makanya ‘mereka para hantu’ bisa mengenali orang-orang yang demikian.” jelas Dewi panjang lebar.

“Kata ibuku, seringkali Sri –nama teman yang bunuh diri itu– mendatangi dan meminta tolong. Nah, Sri yang meninggal gantung diri ini agak ekstrim. Dia mendatangi ibu untuk minta bantuan melepaskan tali di leher yang masih mencekiknya. Dengan menangis tersedu-sedu dia datang menembus pintu kamar rumah sakit, ibu ketakutan sekali tapi tidak bisa apa-apa karena beliau tidak sadar jadi tidak bisa ngomong sama nenek atau siapa saja yang sedang menjaganya di rumah sakit. Sementara Sri terus saja berbicara.”

“Tik... Titik…” Begitu dia biasa memanggil ibu saat masih kecil dulu, “…bisa bantu aku Tik…”

Meski ketakutan tapi ibu berusaha menjawabnya –tentu saja dalam bahasa batiniah yang hanya bisa dimengerti oleh ibu dan Sri temannya itu, 

“Mau dibantu apa, Sri?”

Dia menjawab, “Sesak, Tik... tolong... sesak...”

Ibu memandanginya. Kasihan, mukanya sedih pucat, seutas tambang masih menempel di lehernya, dan kedua tangannya memegangi tali tambang itu.

Dalam keadaan terengah dia terus bercerita, 

“Pacarku, kabur setelah menghamili aku, aku bingung dan takut dimarahi orang tua. Aku gantung diri agar tenang… lepas dari masalah.”

“Dari hanya memandangnya... ibu bisa merasakan rasa sakit yang diderita Sri, temannya itu. Ibu pikir dia juga sudah mati karena bisa berkomunikasi dengan Sri yang sudah meninggal tapi tidak bisa ngomong sama orang yang menungguinya alias orang yang masih hidup. Tapi ternyata salah…”

“Saya sudah mati, Sri… bagaimana cara membantumu...?” ibuku balik bertanya kepada Sri.

Sri tertawa cekikikan terdengar sangat menakutkan. 

“Sesama orang mati penasaran tidak bisa saling membantu. Mereka sibuk dengan derita masing masing!”

Ibu kaget setengah mati mendengar penuturan Sri… barulah beliau menyadari kalau masih hidup.

“Kalau begitu, mengapa kamu tidak minta bantuan orang-orang itu!” Ibu menunjuk ke arah nenek dan salah seorang kerabatnya yang menungguinya di rumah sakit.

“Tidak bisa, Tik… mereka tidak bisa melihat aku. Beda dengan kamu, kamu bisa melihat aku dan kita bisa saling berbincang!”

Ibupun mulai lupa kalau Sri itu hantu dan bertanya lagi, 

“Lalu gimana, Sri?”

Sri menangis lagi dan berkata,

“Tik… aku sudah mati hampir 15 tahun dan rasa sakit di leherku ini masih saja terasa… sesak… sesak sekali rasanya.”

Mungkin kita pernah mendengar, jika kita mati akan ada malaikat yang akan menjemput kita, namun itu tidak terjadi padanya. Tersiksa dengan perasaan sakit di lehernya seperti sakit yang dia rasakan saat nyawanya terlepas karena gantung diri. Lebih parahnya, dia tidak bisa berkomunikasi dengan hantu lainnya yang mungkin gentayangan karena penasaran juga.

Dia bertanya lagi kepada ibu, 

“Sampai kapan aku akan begini ya, Tik? Sakit... sesak di leher ini. Sri pikir dengan bunuh diri, akan lupa pada kepedihan hati...” 

Ibu yang masih kebingungan hanya menggelengkan kepala dan menjawab seadanya,

“Mungkin sampai kiamat, Sri...”

Dan dia terisak keras, suaranya mengerikan dengan nafas terengah karena tali di leher. 

“Coba bantu membuka tali ini, Tik...”

Perasaan takut mulai lewat, ibu mencoba memegang talinya. Tapi tembus lagi tembus lagi. Bahkan tangan ibu tidak bisa memegangnya. 

“Maaf, Sri, saya tidak bisa membantu… tali ini tidak bisa kupegang.”

Dia terisak... terdiam... dan dalam keadaan yang masih terengah sesak, dia meninggalkan kamar ibu sambil berkata, 

“Semoga cepat kiamat ya, Tik, kapan-kapan aku ke sini lagi ya… senang ada teman yang bisa diajak berbicara!” 

Setelah dia meninggalkan kamar, ibu hanya bisa terdiam. Cukup sedih melihat kondisi teman masa kecilnya itu, tidak ada yang bisa membantu. Sendirian menanti kiamat. Lalu ibu teringat kisah dirinya sendiri yang sudah mencoba bunuh diri… tiba-tiba ibu merasa sangat ketakutan. Bagaimana kalau dia nanti mati dan bernasib seperti Sri… merasakan sakit selamanya sampai kiamat datang? Kepada siapa dia akan berkeluh kesah? Sri bilang sesama hantu penasaran tidak bisa saling berkomunikasi dan saling membantu? Dan orang-orang yang masih hidup tidak juga bisa diajak berbicara?

Ibupun lalu berdoa sekuat hati memohon kepada Tuhan agar diberi kesempatan hidup dan menebus kesalahannya selama ini karena telah mencoba bunuh diri.

Syukur alhamdulillah doa ibu dan orang-orang sekitar dijawab oleh Tuhan, ibu akhirnya siuman. Meski beberapa saat terlihat bingung dan berdiam diri, tapi setelah dibujuk nenek dan kerabat yang lain ibu mulai membuka diri dan bercerita kisah yang dialaminya selama dalam keadaan tidak sadarkan diri itu.

Semenjak itu ibu berubah, dia menjadi lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Lebih ikhlas menjalani hidup.
Dewi mengakhiri ceritanya, dia melihat Nina yang mulai berkaca kaca.

“Wi… aku tidak mau sendirian merasakan sakit seperti Sri teman ibumu! Menderita sekali rasanya…! Aku ingin seperti ibumu saja, ikhlas menjalani hidup.”

Nina merangkul Dewi dan kemudian Nina menangis sesenggukan di bahu teman akrabnya itu. Dewi mengelus lembut rambut Nina, terbesit di hatinya: Di saat kita semua ketakutan menghadapi kiamat karena merasa belum siap, di tempat lain ada hantu-hantu yang sangat menanti datangnya kiamat. Untuk yang masih kepikiran bunuh diri, terserah. Dengan membaca cerita di atas mungkin sudah terbayang bagaimana nantinya.

KETIKA TRANSIT DI TENGAH MALAM (Surabaya)

Kisah ini merupakan pengalaman pribadiku ketika sedang bepergian ke Surabaya dengan naik bus malam. Aku berangkat dari rumahku di Kutoarjo pada jam 17.00. Waktu itu aku tidak beristirahat sama sekali sejak berangkat ke kantor di pagi hari dan pulang ke rumah jam 16.30 sore harinya. Praktis aku hanya mempunyai waktu kurang dari 1 jam untuk berbenah dan mempersiapkan keberangkatanku ke Surabaya. 

Begitulah, karena lelah setelah seharian bekerja dan kurang istirahat, sehingga begitu naik ke dalam bus, aku langsung mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiketku, menyimpan barang bawaanku di loker atas, dan segera tertidur di kursi yang lumayan empuk bagi orang yang sedang kelelahan sepertiku. 

Begitu lelapnya aku, sehingga tidak mendengar ketika pak kondektur berulang kali mendatangi kursiku untuk menanyakan tiketku, aku bahkan tidak menyadari setiap kali bus berhenti di pom bensin atau karena hal lain. Hingga akhirnya aku terbangun dengan tiba-tiba karena bus yang kutumpangi berhenti mendadak dengan bunyi rem yang terdengar sangat tidak merdu di telinga. Usut punya usut, ternyata pak sopir berusaha menghindari agar tidak menabrak seekor sapi yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.

Kala itu, jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 12:00 tengah malam. Menurut para orang tua jaman dahulu, tengah malam adalah waktu yang paling disukai para makhluk ghaib untuk keluar dan mengganggu manusia.

“Ah, jangan-jangan sapi tadi bisa saja jelmaan makhluk halus yang ingin mengganggu manusia…?” gumamku dalam hati.

Namun setelah kupikir lebih mendalam lagi, menurutku tak ada seorangpun yang bisa mengetahui kapan sebenarnya para makhluk ini akan keluar untuk mulai “beraktivitas”, pikirku sambil mengedip-ngedipkan mata karena masih mengantuk.

Ya, benar… aku memang benar-benar masih mengantuk sekalipun sudah mendapatkan “shock therapy” dari seekor sapi yang menyeberang jalan sembarangan. Apalagi ketika aku merasakan kepala mulai berdengung dan mata mulai berair, seharusnya ini adalah waktu yang tepat untuk merebahkan kepala di bantal yang empuk dan memejamkan mata. 

Tapi untunglah tak lama kemudian bus menepi dan masuk ke halaman sebuah area transit yang cukup luas dengan berbagai fasilitas pendukung yang lengkap di dalamnya. Dari balik tirai jendela bus malam yang kunaiki, sepintas aku bisa melihat bahwa di situ tersedia restoran, tempat ibadah, toilet, booth telepon, minimarket, dan free wi-fi.

Tapi satu-satunya fasilitas yang menarik hatiku adalah restorannya. Aku sudah tidak sabar untuk segera meneguk secangkir kopi hitam agar rasa kantuk dan penat yang seharian ini hinggap di badanku segera sirna.
 Dan akhirnya bus pun berhenti dan parkir tepat di samping restoran. Aku pun buru-buru turun dan segera berjalan menuju ke sana. Sampai di restoran lebih kurang jam 12:15 malam. Banyak juga yang masih belum tidur di malam yang dingin begini. 

Namun begitu menginjakkan kaki ke dalam restoran, tiba-tiba kurasakan dadaku berdebar-debar. 

“Ada apa ini?” pikirku dengan heran. 

Aku sempat mengentikan langkahku untuk sementara, dan setelah kurasa agak nyaman, segera kucari kursi yang terdekat dari tempatku berdiri. Dan akupun segera duduk di sana. Kusandarkan punggungku di kursi yang tidak begitu nyaman itu dan mulai memesan kopi hitam.

Sementara menunggu kopi pesananku datang, mataku mulai memperhatikan sekeliling restoran hingga ke langit-langit ruangan. Entah bagaimana, tiba-tiba mataku tertuju ke arah pintu masuk. Aneh, mengapa hatiku menjadi resah. Mungkin salah lihat tetapi rasanya aku seperti melihat sebuah botol kecil diselipkan di ventilasi di atas pintu masuk restoran itu. Tak terasa bulu romaku pun meremang.

Mataku terus memandangi sekeliling restoran lalu kembali kuperhatikan pintu masuk itu. Di situ kulihat semacam bayangan hitam yang setelah kuperhatikan baik-baik ternyata seorang perempuan berpakaian serba hitam sedang berdiri bersandar di pintu masuk restoran. Matanya memperhatikan setiap pelanggan yang datang. Sesekali tubuhnya diayun ke kiri dan kanan, sehingga terlihat seperti goyangan monyet di kebun binatang ketika dilempari kacang.

Rambutnya yang panjang tergerai dibiarkan acak-acakan, tampak kusut seperti tidak pernah keramas. Wajahnya pun gelap dan bopeng-bopeng, seakan terlalu sering terpapar sengatan mentari di siang hari. Tangannya juga terlihat seperti tongkat yang dibalut plastik tipis… sangat kurus!! 

Ia melambai-lambaikan tangannya hingga menyentuh kepala setiap pelanggan yang baru masuk. 

“Ini kopinya, Pak. Apakah Bapak ingin makan sesuatu?” 

Tiba-tiba terdengar suara pelayan restoran menyapaku. Sebuah cangkir berisi kopi hitam telah diletakkan di atas meja dan tertumpah sedikit. Suara si pelayan restoran telah membuatku menoleh ke arahnya. Di dalam hati aku merasa agak kesal dengan layanan restoran ini.

“Tidak, terima kasih.” jawabku dingin.

Setelah si pelayan pergi, mataku kembali mengerling ke arah perempuan berpakaian serba hitam tadi. Ah, rupanya ia telah pergi, entah ke mana. Aku pun jadi teringat nasehat para tetua tentang keselamatan duniawi, 
“Lidah mulai dilagakan ke lelangit” 

Yang artinya; sekiranya lelangit tidak terasa apa-apa dan lidah terasa kebas, maka sebaiknya menghindari memakan atau meminum segala yang terhidang.

Begitu juga dengan perihal merasakan sesuatu di bawah bekas minuman atau makanan. Yang artinya kurang lebih adalah; Ketika disajikan minuman panas, namun dibawah cawan atau bekas minuman itu terasa sejuk, maka sebaiknya hindari untuk meminumnya. Begitu juga sebaliknya.

Sebelum menyentuh minuman, aku sengaja membaca beberapa ayat suci, sehingga rasa berdebar di dada pun berkurang, dan pikiranku menjadi agak tenang. Kemudian aku mengulurkan tangan ke arah mug minuman. Namun tiba-tiba, 

“PRAKKK…!!” 

Cangkir kopi itu langsung retak dan terbelah begitu tersentuh oleh tanganku. 

Dalam sekejap mata kopi hitam panas mulai tumpah dan mengalir ke bawah hampir mengenai kakiku. Aneh, mataku secara spontan melihat ke arah pintu masuk restoran. Di sana kulihat bayangan hitam tadi menunjukkan diri dan berayun ke kiri dan kanan.

Suara berisik dari cangkir yang terbelah tadi membuat sang pengurus restoran yang duduk di belakang meja kasir berlari ke arah mejaku dan menyuruh salah seorang pelayan restoran untuk membersihkan pecahan cangkir beserta kopi yang tumpah. Aku pun segera mengeluarkan dompet, ingin membayar harga minuman dan segera pergi, tapi ditolak dengan alasan kopi tadi belum sempat diminum. Malah hendak diganti tanpa perlu membayar sepeserpun.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kejadian yang baru saja menimpaku. Aku harus lebih berhati-hati karena ada yang sedang memperhatikan dan menguji di restoran-restoran malam semacam ini. Aku segera beranjak hendak keluar. Apa yang barusan terjadi menimbulkan rasa kurang senang kepada pengurus restoran. Entah apa yang dikatakan, aku pun tidak tahu, tapi dari raut mukanya, rasa tidak senang memang jelas kelihatan.

Aku sempat menoleh ke arahnya seraya memberitahu agar membuang botol yang diselipkan di sela-sela ventilasi di atas pintu masuk dan kemudian aku bergegas meninggalkan restoran itu. Mungkin terperanjat dengan apa yang barusan kukatakan, pengurus restoran itu pun tak bisa berkata apa-apa. 

Ketika melangkah keluar dari restoran tersebut, aku merasa seakan-akan ada yang mengikutiku dari arah belakang. Aku menoleh sedikit ke arah belakang, dan melihat ada bayangan hitam berjubah sedang mengikuti dengan perlahan. Aku berhenti sejenak dan berpikir, kemudian aku pun memutuskan untuk tidak jadi pergi. Maka aku pun melangkah kembali ke arah restoran. Aku memesan kopi hitam sekali lagi dan meminta sebotol air mineral serta beberapa butir jeruk nipis sebagai tambahan. Kali ini aku sengaja duduk membelakangi pintu masuk restoran. 

Setelah menunggu beberapa saat, pesananku pun datang. Segera kuperaskan jeruk nipis ke dalam air mineral sambil membaca beberapa ayat suci serta doa memohon keselamatan dari kejahatan manusia maupun dari makhluk halus yang tidak kelihatan.

Setelah menghabiskan minuman dan membayarnya, aku pun melangkah keluar dengan membawa botol berisi campuran air mineral dan jeruk nipis di tangan. Ada semacam perasaan yang membuatku agak merinding. Aku sempat melirik sekilas ke arah belakang. Ahh... masih mengikut lagi rupanya. Aku pun mulai berhati-hati.

Terasa bagaikan ada tangan yang menghampiri perlahan-lahan dan ingin mencekik leherku dari belakang. Semakin lama semakin terasa dekat. Mulutku pun mulai komat-kamit membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an. Kemudian botol air mineral bercampur perasan jeruk nipis mulai kubuka dan airnya kuteguk dan kutahan sejenak di dalam mulut. Setelah dirasa sudah tepat waktunya, secepat kilat aku berbalik ke arah belakang dan serentak kusemburkan air jeruk nipis yang kutahan di dalam mulut tadi ke arah bayangan hitam yang mengikutiku. 

Mungkin karena terkejut, bayangan hitam tersebut spontan mengelak dan melompat ke arah salah satu tiang lampu yang berdiri tegak di pinggir jalan. Kuperhatikan matanya yang berwarna merah darah melotot marah ke arahku.

Dadaku semakin berdegup kencang. Mungkin merasa belum puas, ia masih mencoba mendekat ke tempat aku berdiri. Bagaikan terapung-apung, ia bergerak pelan ke arahku. 

Dalam keadaan setengah panik, aku terus saja menyemburkan air jeruk nipis ke arah bayangan hitam itu dan ia sepertinya tetap berusaha bertahan dengan terus bergayut di tiang lampu jalan. Beberapa orang pelanggan yang ada di situ mulai memperhatikan perbuatanku yang mungkin terlihat aneh.

Mataku terus saja menatap bayangan hitam yang bergayut di tiang lampu, tanpa berkedip. Rasa geram dan seram bercampur-aduk dalam hati. Rambutnya yang tergerai panjang, melambai-lambai oleh tiupan angin. Ingin aku berteriak agar dia turun. Ingin kutanyakan siapa tuannya dan kenapa ia menggangguku. Namun, aku tidak mempunyai pengetahuan tentang bagaimana berkomunikasi dan menundukkan makhluk halus semacam ini, jadi aku pun hanya diam seribu bahasa tanpa berhenti melotot ke arahnya. 

Beberapa orang pelanggan mulai bangkit dan keluar dari restoran tersebut. Mungkin mereka mulai penasaran untuk melihat “drama” siaran langsung yang tertayang di depan mata atau mungkin mereka mulai menyadari bahwa restoran tersebut menggunakan pelaris berupa makhluk halus.

Ketika mengetahui bahwa para pelanggannya keluar beramai-ramai, pengurus restoran itu pun tergopoh-gopoh keluar dan mendekatiku. Mukanya kelihatan pucat pasi. Air jeruk nipis yang masih tersisa setengah botol lagi terus saja kusemburkan ke tiang lampu tempat bayangan hitam itu sedang bergayut. Bagaikan terpaku, ia terus berdiam diri di situ.

“Bapak, jangan berbuat seperti ini dong!! Bisa berantakan bisnis saya nanti,” kata si pemilik restoran dengan kesal. 

Tanpa berkata apa-apa, aku segera berlalu ke arah bus malam-ku sambil sesekali menoleh ke arah belakang untuk melihat apakah bayangan hitam itu mengikutiku lagi atau tidak.

Sebenarnya aku tadi ingin menampar si pengurus restoran tetapi tidak sampai hati. Aku bukanlah jenis orang yang suka menghalangi rezeki orang lain, walaupun aku tahu cara yang dilakukannya itu tidak benar. Sehingga ketika aku meninggalkan tempat itu, aku masih dapat melihat bayangan hitam itu bergayut di tiang lampu. Bagus! Semoga ia tidak mengikutiku sampai masuk ke dalam bus.

Hingga bus bergerak meninggalkan tempat itu, sepanjang perjalanan, aku memasang CD ayat-ayat suci untuk memberikan ketenangan, tenaga, dan semangat untukku.

Satu hal yang membuatku tak bisa berhenti berfikir adalah, apakah mereka ini tidak percaya kepada rezeki yang diturunkan oleh Allah? Mengapa sampai harus menggunakan pelaris atau “bantuan-bantuan” dari makhluk lain kalau memang makanan dan minuman yang mereka hidangkan cukup lezat dan harganya bisa bersaing?

Yang ini lebih parah, sudah makanannya tidak enak, layanannya mengecewakan pula, dan harganya pun mahal. Dan mengapa harus mengelabui mata pelanggan dengan menutup pandangan pelanggan terhadap restoran pesaing dengan bantuan makhluk halus? 

Bagi mereka yang pernah menghalangi rezeki orang lain, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Terpulang kepada mereka. Biarlah mereka mendapatkan balasannnya di akhirat nanti.

Mengenai bayangan hitam berbentuk perempuan yang telah menggangguku tadi, mungkin telah kembali ke pangkuan tuannya, atau mungkin malah terkena sengatan listrik di tiang lampu tempat ia bergayut. Ah… buat apa dipikirkan, semoga saja ia benar-benar tersengat listrik, biar tahu rasa dan kapok…!!

Tuesday, October 15, 2019

Hantu Bule Korban Bom Bali


Kejadian itu terjadi saat aku ke Bali, ada tugas dari kantor untuk menemui beberapa toko pakaian di sana. Aku adalah karyawan marketing di sebuah perusahaan pakaian jadi atau lebih afdol disebut garment. Perusahaan tempatku bekerja memproduksi aneka pakaian jadi berupa atasan dan bawahan motif bunga-bunga sepatu yang eksotis dan disukai turis-turis asing, tas-tas selempang dari bahan kain dan masih banyak lagi. 

Sebagian produk adalah desain kami sendiri tapi sebagian lainnya adalah pesanan para pembeli yang membawa gambar desain mereka. Tidak masalah bagi kami untuk memproduksi barang tersebut, tapi biasanya ada kesepakatan bahwa desain itu tidak boleh digunakan selain bagi si pemesan.

“Suryawati dari PT Java-sehati!” ucapku pada seorang resepsionis hotel tempat aku akan menginap. Sekretaris di kantor sudah membuat reservasi sebelumnya.

“Oh iya. Untuk empat hari tiga malam ya, Bu!” jawab si resepsionis.

“Iya!” kataku sambil menyerahkan kartu identitas diri.

Setelah mendapat kunci aku segera bergegas menuju kamar dengan nomor seperti yang tertera. Tidak banyak barang yang aku bawa selain sebuah tas besar berisi pakaian dan sebuah tas kerja berisi katalog dan contoh pakaian jadi produksi perusahaan kami. Kamarku ada di lantai tiga, hotel tempat aku menginap memang tergolong berbintang. Ada tersedia banyak kamar dan fasilitas lainnya.

Masuk ke kamar, aku menaruh tas di dalam almari, kusibakkan gorden jendela, dari balik kaca aku bisa melihat pemandangan di bawahnya. Ada sebuah kolam renang ukuran besar di tengah tengah bangunan ini, dan banyak orang baik wisatawan nusantara maupun mancanegara yang asyik berenang di kolam itu.

Karena cukup lelah, aku putuskan rebahan dulu di tempat tidur, aku berangkat dari Yogyakarta tadi siang, karena paginya rapat dulu di kantor. Belum sempat aku memejamkan mata, handphone-ku berbunyi, aku segera mengambilnya dari dalam tas.

“Hallo!” ucapku.

“Ibu Suryawati? Ini Wanda, ada pesan dari boss, ibu diminta membuka email karena boss baru saja email ke Bu Suryawati!” terang Wanda, sekretaris kantor. “Ini Wanda hanya memberitahukan saja, Bu!” lanjutnya.

“Terimakasih Wanda!” 

“Baik Bu, saya tutup dulu telponnya. Selamat sore Bu!” balasnya sambil mematikan telepon.

Ah boss, mengapa tidak dari pagi tadi saat mengadakan rapat sih? Aku menggerutu dalam hati, setelah membuka laptop memang ada sebuah pesan masuk dan ada lampirannya juga. Ternyata boss menggaris bawahi bahwa model pembayaran harus lebih ketat lagi, maklum beberapa art shop seringkali lambat dalam hal pembayaran, itu membuat perusahaan kesulitan menjalankan cash flow-nya.

Belum selesai aku membaca email dari Wanda, ada telepon masuk lagi. Kupikir itu dari dia lagi, eh ternyata bukan. Di layar handphone tertera nama Setyawati. Dia itu adikku yang kuliah di Surabaya, dia sudah semester enam dan sekarang lagi libur. Aku bisa memprediksi kalau dia akan ikutan ke Bali.

“Hallo... Kak Surya!” sapa Setya dari seberang.

“Setya, ada apa? Aku lagi ke Bali nih ada tugas dari kantor!” terangku sambil terus membaca email.

“Yaah... ke Bali kok nggak bilang-bilang sih!” celetuk adikku itu.

Aku tersenyum, “Cuma tugas kantor, masak mesti bilang-bilang sih, kayak pejabat penting aja!” balasku setengah bercanda.

“Bukan begitu Kak Surya...! Aku kan lagi libur jadi ada waktu yang longgar kan? Aku bisa nyusul kesitu buat nemenin Kakak... heheh!” suara Setya terdengar merajuk.

Yaahhh... mulai deh, tapi kupikir-pikir tak apalah. Justru aku senang karena ada teman di sini daripada bengong sendiri di kamar. Setya juga sudah dewasa jadi dia bisa menjaga diri kalau aku tinggal bekerja.

“Boleh aja sih, tapi kakak nggak bisa menemani kamu seharian lho... kakak kan kerja...” jawabku, “Tapi sudah pamit dan minta ijin Bunda kan?” lanjutku.

“Bunda kan lagi pergi mengunjungi mas Sugeng di Jakarta, mungkin sekitar satu mingguan. Aku bengong di kost sendirian, tidak ada teman... pada mudik sih!”

“Oh jadi kamu nggak mudik karena Bunda ke rumah mas Sugeng ya? Ya udah... kamu kesini saja, aku menginap di...!”.

“Sebentar aku ambil pena.” potong Setya.

Dia mencatat nama dan alamat hotel yang aku berikan, kemudian katanya, “Ok deh, aku kesana besok sore!”

“Perlu dijemput nggak nih?” tanyaku.

“Nggak usah, aku naik taksi saja dari bandara ke hotel tempat Kakak menginap!”

Setelah ngobrol sebentar, kami memutuskan pembicaraan karena aku masih ada tugas dan Setya mesti mengemasi barang-barang serta membeli tiket ke Bali.

Ah senangnya jadi Setya, sebagai anak bungsu dia mendapat banyak kemudahan, bagaimana tidak? Kakak-kakaknya sudah pada bekerja, jadi dia sering dapat uang dari sana sini selain dari Bunda. Beda dengan aku dulu, waktu aku kuliah ada dua kakak yang juga kuliah... sehingga Bunda mesti memeras otak untuk mencukup-cukupkan hasil pensiun mendiang ayah. 

Malam itu, setelah aku mempersiapkan berkas-berkas yang akan kubawa esok aku mencoba untuk tidur, agar aku merasa segar keesokan paginya. Kalau kurang tidur, mata jadi sembab, badan kurang fit dan buat berpikir juga susah. Namun dalam kondisi setengah terjaga aku merasa ada suara tangisan lirih. 

Kucoba untuk membuka mata agar lebih bisa menangkap suara itu dan buat meyakinkaku apakah suara itu benar adanya ataukah cuma halusinasiku semata. Namun setelah aku berhasil membuka mata tidak lagi kudengar suara itu. Karena kemudian aku tidak bisa tidur akupun lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Selanjutnya aku tiduran saja di ranjang sambil menyalakan televisi, biasanya kalau melihat program acara yang tidak begitu aku suka aku akan tertidur sendiri... hahahha...

Esok paginya aku bangun karena suara alarm handphone berbunyi. Setelah mandi dan merapikan diri aku keluar untuk makan pagi yang sudah disediakan oleh pihak hotel, selanjutnya aku memesan taksi untuk membawaku keliling kota mengunjungi klien-klien perusahaan.

“Jalan Itu menuju underground ya Pak?” tanyaku kepada supir taksi.

“Iya Bu, pernah mengunjungi?” dia balik bertanya.

“Belum sih, tapi nanti setelah pekerjaan selesai dan ada waktu longgar aku akan mengunjunginya!” jawabku.

“Oh... kerja apa Bu?”

“Marketing garment, Pak. Kami memasok ke beberapa art shop di sini!” 

“Sekarang kondisi Bali jauh lebih baik Bu, dibanding saat kejadian bom bali itu!”

“Pengaruhnya besar sekali ya Pak? Aku belum kerja saat itu, aku masih kuliah!”

“Wah... Bali jadi sepi. Para wisatawan jadi takut datang kesini karena tidak aman, padahal sebagian besar dari kami warga Bali menggantungkan hidup kami dari sektor pariwisata!” terang pak supir panjang lebar.

“Mmhmm...” aku mengangguk setuju. Memang dari berita di koran yang aku baca dulu serta tayangan di televisi, kondisi Bali pasca bom Bali menjadi lesu, banyak wisatawan yang membatalkan kunjungannya, roda perekonomian pun terganggu karena Bali merupakan kota tujuan wisata, sektor pariwisata mendominasi kegiatan penduduknya.

“Semoga kejadian itu tidak terjadi lagi Pak, kita semua jadi susah!” kataku.

“Iya Bu! Bukan hanya perekonomian yang jatuh, tapi bahkan banyak kejadian mistis Bu. Setelah beberapa bulan pasca kejadian, masih ada saja kisah angker yang terjadi. Hal ini diakui oleh beberapa supir taksi di kawasan Denpasar. Mereka memilih untuk tidak mau mengantar bule dengan alasan tertentu. Konon ada seorang supir taksi yang mengangkut seorang bule dari rumah sakit ke sebuah hotel berbintang di kawasan Nusa Dua. Saat itu malam hari, dan ketika sudah dekat lokasi tujuan sang supir menyadari tak ada penumpang di belakangnya. Yang ada hanyalah bau anyir darah dan daging gosong menyengat yang mengerikan. Hiiii... ngeri Bu!” cerita supir taksi panjang lebar.

Aku yang mendengar ceritanya ikutan merinding. Dalam hati aku merencanakan akan mengunjungi underground itu bersama Setya. Ingin turut mengenang, dan berdoa semoga arwah para korban diterima disisiNya juga berharap kejadian yang merugikan diri bangsa kita tidak terulang lagi karena ulah segelintir orang mengatas namakan agama untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya jauh dari ajaran.

Hari pertama aku awali dengan mengunjungi lima buah art shop yang tersebar di sepanjang jalan ini, keesokan harinya aku juga akan mendatangi tiga toko yang tersisa lainnya. Jadi di hari ketiga aku bebas, ada waktu luang buat aku dan Setya jalan-jalan dan mencari oleh-oleh. 

Kegiatan di lima art shop di hari itu menghabiskan waktu seharian. Sore menjelang petang aku baru tiba kembali ke hotel. Setelah mengisi perut di restaurant hotel buat makan malam, aku kembali ke kamar. Agenda malam itu cuma satu yaitu tidur!! Aku lelah sekali setelah seharian bekerja.

Anehnya, kejadian kemarin malam terulang kembali, aku mendengar tangisan lirih itu lagi. Suara itu terdengar berasal dari dalam kamar ini, meski mengantuk berat telingaku masih bisa menangkapnya, sepertinya berasal dari arah kamar mandi. Namun kali ini aku tidak bangun, sebab aku merasa mungkin itu cuma telingaku saja yang bermasalah... paling juga pikiranku sendiri yang berkhayal karena kelelahan dan mata belum sepenuhnya terpejam. 

Akan tetapi... saat tanpa sengaja kepalaku memutar ke arah kamar mandi, secara samar aku melihat ada seorang wanita bule keluar dari kamar itu sambil menangis lirih, aku tidak bisa melihat wajahnya karena rambut pirangnya tergerai ke depan menutupi muka, hanya saja ada yang aneh dengan kondisi tubuhnya... ya tubuhnya tidak lengkap dan rusak. Aku mencoba membuka mata dan berusaha terjaga, tapi sosok wanita itu menghilang menembus dinding kamar hotel -hanya meninggalkan bau gosong dan anyir darah, jadi sia-sia saja aku memaksakan diri untuk sadar. 

Aku bingung dan heran, tidak percaya dengan yang aku lihat, apakah hal itu nyata atau hanya permainan pikiranku saja? Aku berdoa dalam hati dan memohon pada Tuhan agar aku bisa tidur dengan tenang dan nyenyak.
Keesokan paginya aku melanjutkan tugas mengunjungi sisa art shop yang kemarin belum sempat kusambangi. Kuharap sorenya semua agenda tugasku selesai. Dan rencanaku berhasil, sore hari semua sudah kelar, akupun langsung menuju ke hotel tempat aku menginap karena tadi Setya sms kalau sore ini dia akan langsung ke hotel. Dan ternyata benar sesampai di lobby saat aku mau mengambil kunci kamar, resepsionis memberitahu kalau ada seseorang yang menungguku.

“Setya...!” seruku. Kulihat dia sedang duduk di sofa lobby sambil membaca koran.

“Kak Surya...!” balasnya riang, dia lalu mengembalikan koran di tempatnya dan berdiri untuk menyambutku.
Kami berangkulan dan tertawa bersama.

“Kenapa nggak bilang kalau sudah sampai, kelamaan nunggunya nggak nih?” tanyaku sambil mengguncangkan bahunya.

“Ah belum lama kok, aku sengaja nggak telpon Kakak, takut mengganggu kerja Kakak!” jawabnya kalem.
Kucubit dia dan kuajak ke kamar, “Kita ke kamar saja biar lebih bebas ngobrol, kalau di sini mau berbicara keras kan malu...!”

“Yoi...!” balas Setya.

Kami berdua lalu berjalan bersama menuju kamar tempat aku menginap, senang rasanya ada yang menemani di sini.

“Numpang tiduran dulu ah...!” seru Setya begitu kami sampai di dalam.

“Iya silakan, aku tinggal mandi dulu ya? Gerah nih!” aku menaruh tas kerja di atas meja dan meninggalkan adikku.

Selesai mandi kuhampiri Setya, “Kamu mau mandi nggak?”

“Ya jelas dong, biar badan jadi segar!” katanya sambil diiringi tawa kecil, dia lalu bangkit dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Tak seberapa lama suara gemericik air terdengar.

“Nanti malam kita mau kemana nih?” tanyanya setelah selesai mandi.

“Kalau makan di luar aja gimana? Esoknya baru seharian kita menghabiskan waktu, aku lelah sekali nih!” jawabku dengan nada lesu, aku memang kelelahan setelah bekerja seharian. Mendingan tenaga disimpan buat esok hari.

“Aku juga capai kok, ok acara malam ini makan di luar aja lalu tidur, besok baru kita jalan!” 

Malam itu kami keluar untuk makan di sebuah rumah makan khas masakan Bali. Setelahnya kami kembali ke hotel untuk berisitirahat.

“Masakan di rumah makan tadi enak ya!” seru Setya, “Bisa buat referensi kalau ada acara wisata ke Bali!”

“Ajak dong pacarmu... buat mencicipi makanan referensimu! Lumayan kan sekalian buat promosi kalau kamu suka makan!” selorohku.

“Mestinya Kak Surya dong yang promosi ke pacar Kakak!” balasnya.

“Belum laku nih... belum ada pacar!” 

Kami berdua lalu tertawa.

“Sudahlah Kak, nanti kalau sudah waktunya pasti juga akan datang sendiri, Tuhan sudah mengatur semuanya!” urai Setya bijak.

Aku mengangguk setuju, “Doanya ya... biar cepat dapat pendamping!”

Malam itu kami tidur bersama di kamar ini, aku sangat kelelahan sehingga aku cepat tertidur dengan pulas, tampaknya sih Setya juga demikian, tapi aku kurang tahu pasti. 

Namun di saat aku terbuai tidur yang nyenyak, bahuku diguncang-guncang olehnya.

“Ehmm... eh... mhmm... ada apa?” tanyaku sambil menguap, aku masih mengantuk berat.

Dengan mata sedikit terpejam kulihat Setya yang tampak ketakutan.

“Kamu kenapa?” tanyaku lagi, kali ini mencoba untuk membuka mata.

“Aku... aku... lihat hantu...!” kata Setya terbata-bata.

“Hantu??” seruku terkejut, mulutku sampai melongo, “Beneran nih?”

Setya mengangguk cepat, dengan gemetaran tangannya menunjuk ke arah kamar mandi, “Tuh dari sana!”

“Ok, sekarang kamu cerita ya ke aku? Pelan-pelan saja, sebentar aku ambilkan minum!” aku bangun dari ranjang dan mengambil air mineral yang ada di meja, lalu kuberikan padanya. Setya minum beberapa tegukan, dia jadi agak mendingan. 

Setelah lumayan tenang dia lalu bercerita,

“Waktu itu aku lagi tidur, tapi tiba-tiba aku mendengar tangisan lirih. Kupikir aku lagi mimpi, makanya aku tidak hirau dan tetap melanjutkan tidurku. Namun karena aku kehausan aku bermaksud mengambil air mineral dari atas meja. Eeh... tanpa sengaja mataku menangkap sosok wanita bule muncul dari kamar mandi. tapi kondisi tubuhnya tidak lengkap dan rusak, dia berjalan menuju dinding dan menerobosnya begitu saja, setelah itu bau gosong dan anyir darah tercium sangat kuat... hiiii... aku takut sekali.”

Kuusap kepala Setya dengan lembut untuk menenangkannya, di benakku aku berkata, 

“Kok ceritanya mirip dengan yang aku alami? Berarti yang aku lihat malam kemarin benar adanya.” 

Tapi aku memutuskan menunda menceritakan kejadian itu, takutnya nanti Setya jadi tambah senewen, dia itu tipe cewek penakut, dia pasti nggak mau tidur di sini kalau aku ceritakan sekarang. Toh besok kita sudah akan check out.

“Sudahlah Setya, kita tidur lagi saja!” pintaku.

“Mana aku bisa tidur kalau kamar ini berhantu!” ucapnya cemberut.

Wah repot nih kalau dia minta pindah kamar, kutengok jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, masak dini hari begini mau pindahan kamar. Malas ah. Aku sendiri kurang tertarik dengan cerita hantu, bagiku dunia hantu berbeda dengan dunia kita. Tuhan pasti sudah menggariskan secara terpisah. Jadi hantu tidak akan bisa mengganggu kita, mungkin cuma penampakan penampakan kecil lalu akan menghilang dengan sendirinya. Bagiku itu bukan masalah besar, cuek saja dan ditangkal dengan doa-doa pasti akan berlalu.

“Ya sudah kalau begitu kita menonton televisi aja menunggu pagi menjelang!” usulku mencoba mencari solusi agar Setya tenang.

Tampaknya dia setuju meski hanya anggukan kecil saja. Aku lalu mengambil remote televisi dan mencari saluran yang ada.

“Ada film dari jaringan televisi asing nih! Mau lihat nggak? kayaknya juga baru mulai tuh!” aku menawarinya melihat sebuah tayangan film.

“Boleh, tapi kamu jangan tidur ya? Kita sama-sama menonton!” pintanya merajuk.

“Beres, aku juga terlanjur terjaga nih, nggak bisa tidur lagi!” hiburku kepadanya.

Lalu kami berdua sama-sama menonton film itu, kelihatannya sih Setya belum sepenuhnya bisa melupakan kejadian tadi, karena dia tampak masih sedikit risau, seringkali kali aku memergokinya menengok ke arah kamar mandi dan dinding kamar ini seolah-olah ia khawatir hantu itu akan nongol lagi. 

Dalam hati aku sendiri juga bimbang mau menceritakan kejadian yang kualami dua malam itu ataukah tidak. Kadang kita perlu sedikit berbohong agar ketenangan dapat terkendali daripada menceritakan yang sebenarnya tapi membuat kacau suasana. Apalagi menghadapi Setya yang super penakut itu. Pandangan mataku memang tertuju ke arah layar televisi, tapi pikiranku melayang ke hantu wanita bule itu? Ada kejadian apa dengannya? Mungkinkah dia korban bom bali itu dan sebelum meninggal dia sempat menginap di hotel ini? Banyak pertanyaan yang muncul tapi kucoba untuk aku tepiskan, lebih baik aku fokus dengan kehidupanku sendiri.

La Planchada